Yoo,,akhirnya chap tiganya update. Sebelumnya Miki mohon maaf sebesar-besarnya atas keleletan Miki mengupdate cerita ini. Maaf,,maaf,maaf yah...*ngebungkuk dalam-dalam* And then...I hope you like this chapter...! R&R please...!

24 WISHES

(Disclaimer : Masashi Kishimoto)

"Maaf, yah! Kau jadi membelikanku semua ini,"ucap Hinata bersalah pada laki-laki yang ditemuinya di taman. Beberapa bungkus roti dan minuman kaleng yang terbungkus dalam plastik putih teronggok di pangkuannya.

"Akh, tidak apa-apa,"balas Naruto dengan riang. "Lagipula ini tidak seberapa."

"Bagaimana pun, aku sangat berterima kasih padamu."

Hinata tersenyum lembut dan membuat Naruto jadi salah tingkah demi menutupi semburat merah di wajahnya.

"Oia, namaku Uzumaki Naruto. Kau?"

"...! Eh..a...aku...Anezaki Hinata,"jawab Hinata cepat sebelum Naruto menyadari kalau dia sedang mengarang nama.

"Lalu...apa yang terjadi padamu sampai tidak punya uang?"

"I...itu... A...aku baru saja tiba di sinii dan di tengah jalan seseorang menjambret tasku,"karang Hinata.

"Eh,Benarkah? Berani sekali dia melakukan itu pada gadis manis sepertimu!"ucap naruto lancang. Tanpa sadar, ia telah menambahkan kata 'manis' yang terdengar seperti godaan. "Lalu bagaimana sekarang?"

"Aku sudah menghubungi paman untuk segera menjemputku. Kami sudah janji di suatu tempat."

"Baguslah kalau begitu. Lain kali kau harus lebih berhati-hati,"ucap Naruto sok menggurui.

"Ia!"balas Hinata seraya tersenyum. "Naruto sendiri sedang apa di sini?"

"Em...aku..."tiba-tiba nada Naruto melemah.

"...?"

"Aku...sedang menyadari betapa bodohnya aku yang tidak tahu apa-apa tentang sahabatku sendiri. Teman macam apa aku ini."

Saat melihat wajah murung Naruto, Hinata jadi teringat sesuatu di masa lalunya. Tentang seseorang yang dulun berwajah murung saat bicara dengannya.

"Maaf yah, Hinata!"

"...?"

"Sekarang pun masih belum terlambat untuk tahu lebih banyak'kan?"

"...?"

"Karena dia teman Naruto, lama-lama Naruto akan mengerti. Ku pikir hanya soal waktu sampai kalian saling memahami."

"Hinata..."

Sementara itu di kediaman keluarga Hyuuga...

"Lalu apa yang akan kita lakukan, Tuan?"tanya pelayan pada Hiashi yang terus saja mengarahkan pandangannya pada labirin kosong itu. Di sanalah selama 8 tahun ini, ia mengorbankan hidup dan kebebasan putrinya untuk terkurung di dalam labirin sempit itu. Hanya seorang diri di sana dan terus berharap dikeluarkan, bahkan gadis itu pun tak pernah diberitahu untuk apa ia di dalam sana.

"Nona Hinata adalah aset berharga kita. Bagaimana pun, kita tidak boleh kehilangan Nona demi tujuan itu."

Hiashi menutup matanya dalam-dalam. Mempertimbangkan segala hal, namun memorinya justru memutar ulang setiap permohonan dan keinginan Hinata padanya.

"Bolehkah aku keluar sekarang?"

"Lalu...lalu kapan?"

"Aku mohon. Ijinkan aku keluar sebentar saja, walau hanya hari ini. Aku mohon!"

"Tuan...?"panggil pelayan itu lagi.

'Maaf, kau masih harus bersabar, Hinata...'

"Lakukan pencarian Hinata diam-diam!" Dengan berat hati, Hiashi akhirnya mengeluarkan perintah itu.

"Baik, Tuan!"

Dan kini, di tempat Sasuke berada. Sasuke sudah mulai tenang walaupun ketidakpercayaan masih menyesakkan dadanya. Entah kenapa di dalam dirinya terasa perasaan yang lebih menggebu daripada perasaan terluka mengetahui kakaknya terancam lumpuh, membuat giginya bergemelutuk, tangannya terkepal kuat, dan menuntutnya untuk tahu apa yang terjadi.

Anko-senpai yang bersedia memberitahunya menarik napas panjang sebelum memulai penjelasannya.

"Hari itu beberapa robot tempur yang tidak dikenal tiba-tiba datang dan melakukan penyerangan pada kami yang saat itu sedang melakukan penjagaan. Entah apa tujuan mereka, tapi beberapa dari mereka berusaha menerobos masuk ke dalam sana. Semua anggota lalu diturunkan untuk menghentikan mereka, termasuk kakakmu. Tapi jumlah mereka lebih dari kami semua. Kakakmu dan kami pun tak sanggup melawan mereka. Sampai sini, kau sudah bisa menebak apa yang terjadi'kan, karena itu kurasa tidak perlu ku jelaskan lagi. Lalu saat ini, pihak kami sedang mencari tahu dalang dari semua ini,"Anko-senpai pun menutup penjelasannya.

"Itu artinya...kalian hanya perlu cukup orang kalau mereka tiba-tiba menyerang lagi. Benar'kan?"

Anko-senpai merasa ada yang aneh dengan pernyataan dingin Sasuke. Ia pun menatap serius ke arah laki-laki yang wajahnya tertunduk itu.

"Memangnya apa yang ingin kau lakukan?"

Nada Anko-senpai begitu terdengar serius, sampai Kakashi dan Shizune yang juga ada di sana mulai merasa tegang.

Sasuke mulai menyadari perasaan menggebu dalam dirinya saat ini. Campuran perasaan marah dan benci yang membuatnya ingin mengepal tangan sekuat-kuatnya. Ini...

"Ijinkan aku bergabung dengan kalian!"

BALAS DENDAM...!

Bersambung...!

Next of 24 Wishes...

"Jangan berpikir kau bisa melakukan apa-pun sekarang hanya karena saat ini kau dipenuhi rasa ingin balas dendam!"

"Maafkan aku, Ayah!"

"Bahkan jika harus menembakmu habis-habisan?"

"Apapun jika perlu!"