Hajimemashite, Minna…

Watashiwa ~ Ruki ~ desu

Disclaimer : Tite Kubo-Sensei

Warning : OOC, AU, Typo

Pairing : IchiRuki

Rate : T


LAST OR FUTURE

== Ruki ==

Chapter 1


Lelaki dengan rambut jingga itu kini tengah memandang langit. Angkasa biru yang begitu luas dan menenangkan. Rumputan hijau bagai permadani itu terus melambai mengikuti gerak rambut lelaki tampan yang tengah kesepian.

Penyesalan, karena penyesalan itulah, kini lelaki berwajah tampan itu berada di sini. Di tempat yang sangat dan sarat akan kenangan, kenangan akan dirinya dengan seseorang.

Seorang gadis kecil dengan rambut hitam berpola aneh, namun begitu menarik baginya. Seorang gadis kecil yang berwatak kesatria dan berjiwa teguh akan pendiriannya.

"Haaahhh..."

Lelaki tersebut menghembuskan napas beratnya. Berharap dengan begitu segala beban akan hilang dari otaknya. Samar-samar ia bisa mengingatnya, sayup-sayup ia bisa mendengarnya.

Dengan segera ia buang pikiran itu. Dia adalah masa lalu dalam hidupnya. Biarlah sahabat yang paling berarti itu menjadi memori dalam ingatannya.

Semua telah berlalu, semua telah terlewatkan. Tak baik memikirkan sesuatu yang telah menjadi luka terdalam. Keinginan untuk menolong, keinginan untuk membantu. Semua lenyap.

Bukan hal mudah menerima kesalahan di masa lalu. Tepat hari ini, 7 Agustus, adalah hari dimana kesalahan itu terkenang, sesuatu yang sudah menua sejak 5 tahun yang lalu, mendarah daging dalam lubuk hatinya.

"Sudah cukup,"

Lelaki tersebut kembali berkata, mencoba menepis. Ia berjanji, mulai dari detik ini, ia akan lari. Akan lari dari semua masa lalu, ia akan menuju ke masa depan.

Masa lalu adalah kenangan dan sekarang adalah waktunya ia menatap masa depan. Lelaki itu masih bingung, Last Or Future? Pilihan yang sulit.

"Maafkan aku, Rukia..."

Lelaki itu memilih masa depannya, namun hati itu masih bimbang. Hati tersebut terbelah menjadi dua, antara kenangan dan masa depan.

Lelaki bermata musim gugur itu kini memejamkan matanya. Mencoba mengontrol sanubarinya untuk berkata, " Biarkan saja, lupakan saja." sungguh pengecut.

"Hap!"

Tiba-tiba saja sebuah telapak tangan lembut menyentuh sekaligus menutupi kedua mata lelaki berwajah tampan tersebut. Lelaki itu tersenyum datar, ia tahu siapa pemilik telapak tangan tersebut, ia mulai membuka mulutnya dan berkata,

"Kau tahu aku ada di sini, Inoue?" kata lelaki tersebut lembut.

Perlahan kedua telapak tangan tersebut terangkat, menampakkan sepasang iris coklat tajam, begitu terlihat angkuh namun begitu hangat.

"Tentu saja, Kurosaki. Kau sedang memikirkan gadis itu kan?" kata Inoue pada lelaki bernama Kurosaki Ichigo tersebut. Nada gadis itu tampak tenang.

"Ya, aku lelah..." jawab Ichigo yang kini telah mengambil duduk dari tempat ia tidur sebelumnya.

Terlihat begitu jelas, wajah lelaki tersebut nampak lesu dan lemah. Gadis berambut coklat panjang itu terbawa akan suasana hati lelaki di sampingnya, ia ikut bersedih.

"Sudahlah, Kurosaki. Aku tahu, kau tidak bersalah..." hibur gadis cantik itu kemudian.

"Mungkin... Tapi tidak untukku." jawab lelaki tersebut lesu.

Lelaki berambut jingga itu kembali menatap langit biru. Tampak siluet wajah dari gadis yang sejak dulu telah mengganggu hidupnya. Gadis yang sudah 5 tahun menjadi kenangan terburuknya.

Lelaki berpostur tinggi itu kembali mengingatnya. Gadis itu pernah berkata,

"Wah, kita berulang tahun di hari yang sama!" kata gadis itu sangat semangat.

"Lalu?" jawab seorang lelaki berambut jingga di sampingnya.

"Bagaimana kalau nanti kita bertukar kado? Aku yakin ini akan menarik!" kata gadis itu sedikit menggebu-gebu.

"Kau tahu? Hidupku akan berakhir 2 bulan lagi," kata lelaki tersebut lesu.

"Aku tidak peduli, karena hidupku akan berakhir 7 hari lagi," katanya yakin.

"Hei!" kata lelaki bermata musim gugur tersebut memprotes.

"Sudahlah, kau harus yakin. Kita pasti dapat hidup hingga 7 Agustus nanti, berarti... satu... dua... tiga... empat..." kata gadis tersebut menghitung urutan bulan dengan jari tangannya.

"Lima! Lima bulan lagi kita akan genap berumur 12 tahun!" kata gadis berambut hitam itu kemudian.

"Aku tidak yakin," kata lelaki itu pasrah.

"Karena aku yakin, aku pasti akan menyiapkan hadiah untukmu. Kau juga ya?" kata gadis itu sambil menyenggol sedikit lengan lelaki di sampingnya.

"Entahlah..." lelaki itu tak berani menatap gadis itu, ia ragu.

Bayangan percakapan itu terputus oleh suatu sentuhan lembut di punggung tangan kiri Ichigo.

"Tenanglah, aku akan selalu bersamamu..." kata Inoue lembut.

"..." Ichigo masih membisu, ia tersenyum miris.

"Selamat ulang tahun, Kurosaki..." gadis berambut coklat itu berkata dengan senyum termanisnya.

*(n_n)*

Nampak seorang lelaki berambut jingga dengan muka kusut tengah menjinjing sebuah tas di tangan kanannya. Ia angkat ke atas dan di sampirkan begitu saja di punggung tegap miliknya. Ia hanya sendiri ditemani sang fajar yang mulai bersembunyi.

"Kakak! Kakak!"

Tiba-tiba seorang gadis kecil berlari ke arah Ichigo dengan sempoyongan. Gadis kecil dengan rambut merah muda sebahu.

"Kakak, cepat ikut aku ke sana," kata gadis tersebut sambil menarik sedikit kemeja putih Ichigo yang keluar.

Tanpa berbicara sepatah kata pun, Ichigo mengikuti langkah kecil gadis tersebut. Keduanya berhenti di sebuah taman luas yang lumayan sepi. Dilihatnya gadis itu dengan pandangan penuh akan tanda tanya.

"Kakak, tolong tangkap kelinci Yachiru," kata gadis kecil tersebut sambil menunjuk seekor kelinci putih di sekitar semak-semak.

Ichigo tersenyum sekilas, kemudian melangkahkan kaki menuju tempat yang ditunjukkan gadis tersebut. Dengan mudah Ichigo menangkap hewan berdarah dingin itu, dan dengan segera ia menuju kembali ke arah si gadis kecil.

"Ini, milikmu," kata Ichigo sambil memajukan kelinci tangkapannya tepat di depan muka Yachiru.

"Terima kasih, Kak," kata gadis kecil itu dengan senyum terbaiknya.

"Tak masalah,"

Dengan senyum ringan Ichigo berbalik dan mengambil langkah untuk pergi dari tempat itu.

"Tunggu!" teriak Yachiru tiba-tiba.

Ichigo segera berbalik dan kini menatap heran Yachiru.

"Apa Kakak percaya keajaiban?" tanya Yachiru dengan senyum datar.

"Tidak, aku tidak percaya itu," kata Ichigo cuek.

"Oh, begitu..."

Tampak jelas bahwa gadis kecil tersebut kecewa akan jawaban dari Ichigo. Namun dengan cepat ia merogoh sakunya, mencari sesuatu dari kantung mini tersebut.

"Ini, untuk Kakak!" kata Yachiru sambil mengajukan sesuatu pada Ichigo.

"Hn?"

Hanya itu komentar Ichigo. Dilihatnya kini oleh Ichigo, sebuah bros yang sudah tak bisa di bilang bagus lagi tergelar sempurna di sepasang telapak tangan kecil Yachiru.

Sebuah bros berwarna putih salju, bros dengan pola partikel salju, mirip sebuah bunga, bukan bunga namun sekumpulan garis pembentuk struktur salju es. Manis, berwarna putih kebiruan, namun warna itu sedikit pudar, mungkin sudah lama termakan oleh waktu.

Gadis kecil tersebut semakin memajukan tangannya, berharap tangan Ichigo akan tergerak untuk menjamahnya. Dengan desah napas panjang, Ichigo memungut bros itu dengan terpaksa.

"Jaga baik-baik ya, Kak?" kata Yachiru senang.

"Baiklah..." jawab Ichigo malas namun tetap senyum datar tersungging untuk menyenangkan gadis kecil tersebut.

Gadis berambut merah muda itu segera berlari dari hadapan Ichigo, dengan menggendong kelinci putihnya, ia meninggalkan Ichigo dengan beberapa lompatan di setiap langkahnya.

Ichigo segera menaruh bros tersebut ke dalam saku kemeja miliknya. Ia berbalik dan segera melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu. Namun suatu suara berhasil menghentikan langkah ketiganya.

Brak!

Reflek Ichigo langsung membalikkan badannya ke arah sumber suara. Jalan itu kini nampak ramai, banyak orang berlarian menggerumbuli satu titik di jalan itu. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Ichigo segera berlari. Berlari ke pusat keramainan itu.

*(n_n)*

Mata Ichigo membulat sempurna, gadis itu, Yachiru. Ia mengeluarkan banyak darah dari mulut dan telinganya. Gadis itu menatap Ichigo yang baru saja datang, ia tersenyum kemudian menutup mata.

Senyum itu, sekali lagi Ichigo melihat senyum menakutkan itu, dengan tampang terkejut Ichigo sedikit demi sedikit memundurkan badan tingginya.

Ia terlalu syok, bayangan Rukia tergambar lagi dalam otaknya. Ichigo memejamkan kedua matanya erat-erat. Dengan segera ia berlari meninggalkan tempat itu, ia merasa takut.

Kediaman Kurosaki

Dihempaskannya tubuh lelah lelaki itu di atas kasur berseprai biru miliknya. Hari ini sungguh hari yang penuh dengan kejutan. Ia tidak menyangka gadis kecil itu akan meninggal di depan matanya.

Segera Ichigo merogoh kantung kemejanya, mengeluarkan sebuah bros yang beberapa menit yang lalu berhasil di dapatkannya.

Bros yang tidak dapat dikatakan baru, malah bisa dikatakan kumal karena banyak noda yang mengotorinya, membuat keindahannya tertutupi sempurna oleh noda-noda itu.

Ichigo merasa ngeri sendiri menatap bros tersebut. Segera ia tepis rasa tak nyaman itu. Dengan segera Ichigo bangun dari kasurnya, diletakkanya bros sederhana itu tepat di atas meja belajar miliknya. Lelaki tersebut segera menyambar handuk di balik pintu dan berlari kecil menuju kamar mandi.

*(n_n)*

Langit senja itu telah lenyap, digantikan oleh gelap gulitanya angkasa dengan beberapa bintang dan satu bulan yang bersinar terang berbentuk bulat sempurna, sungguh indah.

Nampak seorang gadis dengan gaun putih bersih, membalut tanggung hingga di atas lututnya. Dress yang bergelombang pun mengikuti deruan angin malam dari jendela itu. Gadis tersebut menatap heran sekelilingnya. Sebuah mata yang mencerminkan kesedihan.

Dari kedua sisi pinggangnya, tergerai dua buah pita panjang berwarna putih transparan, pita yang tergerai karena terlepas dari simpulnya. Menari-nari tersapu angin malam.

Gadis tersebut berjalan mendekati pusat pasokan oksigen di ruangan tersebut. Sepasang jendela berukuran sedang menampakkan suatu luasan hitam dengan sedikit bercak putih bersinar melengkapinya. Gadis tersebut tersenyum dan menghela napas dalam-dalam,

"Indahnya..." kata gadis itu dengan pancaran sinar mata kebahagiaan.

Kriek!

Suara decitan dari sebuah pintu itu berhasil membuat gadis tersebut menolehkan wajahnya. Lelaki dengan rambut jingga basah, bertelanjang dada dan... menatap gadis di depannya dengan ekspresi terkejut, ia mematung tak bergerak, ia terpaku.

"Ru... Ruki... Rukia?" kata lelaki tersebut tak percaya.

Tanpa menunggu lebih lama, tanpa memberi kesempatan si gadis untuk menunjukkan reaksinya, Ichigo langsung berlari dan memeluk secara mendadak sosok gadis anggun ber'dress putih tersebut.

Keduanya masih terdiam, hingga...

"Hwaaa...! Tolong! Aku akan diperkosa!" gadis itu berteriak sangat kencang hingga Ichigo terkejut setengah mati, dengan segera Ichigo melepas pelukan sepihak itu.

Brak!

"Siapa yang berteriak?" dengan suara menggelegar Isshin masuk ke dalam kamar Ichigo setelah berhasil menendang pintu kamar lelaki tersebut.

Keringat dingin perlahan mulai menetes menjelajahi dahinya, jantung Ichigo pun tak kalah tegangnya saat ini.

"A, aku… bi, bisa jelaskan..." kata Ichigo sambil menatap Isshin dan gadis itu bergantian.

"Suara siapa itu tadi? Kau juga mendengarnya kan, Ichigo?" tanya Isshin yang kini telah berjalan mendekati Ichigo hingga sampai di depannya.

Ichigo hanya menatap Isshin heran, dalam hati ia berkata,

"Apa dia tidak bisa melihat gadis di belakangku?"

Dilihatnya gadis tersebut oleh Ichigo. Gadis itu hanya tersenyum, tak mengatakan sepatah kata pun untuk menjawab kebingungannya.

"Ah, sudahlah… Kau! Cepat pakai bajumu!" kata Isshin galak sambil berjalan menuju pintu.

Brak!

Hening, berjuta pikiran dan asumsi terbayang dalam benak Ichigo. Dengan cepat lelaki tinggi tersebut menatap gadis misterius di belakangnya, mereka saling bertatapan heran dan…

"Wah! Akhirnya aku mendapatkan majikan baru!" kata gadis tersebut setengah berteriak.

Ichigo hanya terheran-heran. Ternyata gadis ini bisa bersikap normal. Dan tunggu, gadis ini sangat mirip dengan Rukia, sahabatnya yang sangat berarti.

"Saya adalah penunggu dari bros langit itu. Aku adalah keajaiban dari musim dingin. Mulai hari ini dan seterusnya, Saya akan berada di sisi Tuan sebagai pengikut," jelas gadis tersebut sopan.

Di dalam lubuk hati Ichigo yang terdalam ia sungguh bahagia, 'Rukia' bisa kembali bersamanya… Tapi, tunggu dulu! Dia bukan 'Rukia' dan lelaki itu telah berjanji akan membuangnya, membuang kenangan bersama gadis tersebut. Ini salah.

"Tidak, aku tidak membutuhkanmu!" kata Ichigo sambil membuang muka.

Gadis tersebut syok, ia nampak sedih dengan jawaban ketus Ichigo. Air mata bening mulai menetes dari kedua iris violetnya.

Dengan gerak lambat dan lesu, gadis tersebut berjalan mendekati jendela. Diangkatnya kaki sebelah kanannya hingga menginjak dasar dari bingkai jendela tersebut, ia akan melompat.

"Hei, apa yang kau lakukan?" tanya Ichigo dengan nada datar dan wajah cuek.

"Dari pada aku dibuang oleh Tuan. Lebih baik aku bunuh diri saja! Aku tidak mau terkurung dalam bros sialan itu! Aku juga tidak ingin menjadi hantu gentayangan!" kata gadis tersebut dengan nada lirih namun tegas.

Gadis tersebut terdiam sejenak, tak ada lagi reaksi dari Ichigo, dengan segera ia condongkan tubuhnya lebih ke depan, ia siap untuk melompat sekarang.

"Hei! Baik… Baiklah… Kau bisa tinggal disini…" kata Ichigo dengan nada tak ikhlas.

Seketika itu juga gadis itu berbalik dan menatap Ichigo dengan mata berbinar-binar, hingga Ichigo silau dibuatnya. Dengan gerak cepat gadis itu berlari dan melompat memeluk Ichigo, hingga kedua pasang kakinya melayang dari lantai.

"Wah! Terima kasih, Tuan!" kata gadis itu berteriak tepat di telinga kanan Ichigo.

"A, aku tercekik, bodoh!" kata Ichigo tercekat.

Ichigo hanya mendesah lelah setelah gadis tersebut berhasil turun dan melepaskan cekikannya. Sungguh sial nasib Ichigo hari ini. Dia benci pada gadis tersebut.

"Siapa namamu?" tanya Ichigo kemudian.

"E… Aku tidak punya nama. Tuan bisa memanggil saya dengan sebutan apa saja. Tapi aku suka saat Tuan memanggil saya 'Rukia' seperti tadi," jawab gadis pendek itu dengan ceria.

"Baiklah, kau yang memintanya. Kau akan menjadi orang yang paling ku benci. Ingat, aku akan bersikap dingin padamu!" kata Ichigo sambil berbalik membelakangi gadis tersebut.

Gadis dengan rambut hitam itu hanya mencucutkan bibirnya,

"Sepertinya, aku salah memilih majikan…" kata gadis tersebut sambil menatap Ichigo yang telah menidurkan tubuh tingginya di atas kasur.

"Sial!" kata Ichigo lumayan kencang.

"Apa salahku?" tanya gadis itu pada dirinya sendiri.

"Tapi… selamat ulang tahun, Rukia…" lanjut Ichigo dalam hati.

*(n_n)*

Pagi hari

Dengan rambut yang masih acak-acakan, Ichigo mengubah posisi tidurnya menjadi duduk di atas kasur. Ia menatap sekilas sekeliling kamarnya kemudian sedikit mengejap-ejapkan kedua iris musim gugurnya.

Lelaki tersebut tengah mengingat-ingat, mengingat semua yang baru saja terjadi padanya.

"Ah, mimpi yang aneh!" kata Ichigo saat ingatan akan gadis misterius mirip almarhum sahabatnya terlintas dalam otak miliknya.

Dengan cepat Ichigo menepis ingatan tersebut kemudian menggeser kakinya untuk diturunkan ke arah lantai.

"Aw!"

Suara itu mengejutkan Ichigo, saat lelaki tinggi itu melihat ke arah lantai. Ia melihat seorang gadis tengah meringis kesakitan memegangi perutnya.

"Waaa! Ma-maafkan aku!" teriak Ichigo langsung menaikkan kedua kakinya ke atas kasur.

Gadis itu tak bergeming, dengan mata yang masih terpejam , ia berjalan mendekati Ichigo. Ichigo hanya diam dan semakin memundurkan duduknya karena gadis itu telah naik ke atas kasur dan semakin mendekat pada Ichigo.

"He-hei! Kau membuatku takut, Bodoh!" kata Ichigo sedikit tergagap.

Gadis itu tetap semakin mendekatkan diri pada Ichigo, lebar kasur Ichigo menyudutkannya. Gadis itu telah sampai di atas setengah dari badan tinggi Ichigo, kemudian…

Bruk!

Gadis itu jatuh tertidur menimpa Ichigo dan kepalanya tepat bersandar di dada bidang Ichigo.

"E-eh! Apa yang kau lakukan?" tanya Ichigo panik.

Deg!

Jantung Ichigo berdetak 3 kali lebih cepat saat ini. Bibirnya tak dapat bersuara bahkan tubuhnya terbujur kaku.

Deg! Deg! Deg!

"Ah! Mengganggu!" teriak Rukia dengan kerutan di dahi.

Buk! Buk! Buk!

Gadis itu merasa terganggu dengan suara detak jantung Ichigo yang sangat jelas dapat di dengarnya saat ini. Ia pukul berulang kali dada Ichigo. Ichigo hanya bisa berteriak-teriak mencoba menyadarkan igauan gadis di atasnya.

"Sakit bodoh! Woi!" teriak Ichigo sangat keras.

Brak!

Tiba-tiba saja Yuzu masuk ke dalam kamar Ichigo. Seperti biasa, tanpa permisi. Dilihatnya saat ini, Ichigo hanya terdiam tak bergerak sambil kedua tanganya terangkat menahan sesuatu. Yuzu hanya menatap heran kakaknya itu, sangat aneh!

"Kak Ichi, sedang apa?" tanya Yuzu semakin mendekat.

Dengan cepat Ichigo menopangkan kedua tangannya ke samping untuk berdiri dan…

Bruk!

Gadis itu berhasil jatuh dari kasur, dan tubuhnya membentur lantai. Ichigo terbebas.

"Ha-hanya olahraga ringan, tenang saja…" kata Ichigo sambil meringis.

"Baiklah, sarapannya sudah siap, Kak Ichi cepat turun ke bawah." kata Yuzu kemudian keluar dari kamar Ichigo.

"Dasar! Gadis merepotkan!" kata Ichigo yang kini tengah geleng-geleng kepala melihat gadis tersebut yang masih saja tertidur di atas lantai.

SMA Karakura

Di sepanjang perjalanan, Ichigo hanya berkomat-kamit ria. Kenapa bisa begitu? Kini detik-detik hidupnya mulai sedikit kacau. Ya, karena kehadiran seorang gadis misterius yang ingin dipanggil 'Rukia' itu. Sungguh merepotkan.

Dan juga bros ini, Ichigo dipaksa untuk selalu memakai bros salju itu, gadis itu memaksa Ichigo dengan membawa pisau di kedua tangannya, bagaimana ia bisa menolaknya? Menakutkan sekali.

Buak!

Dengan sekali tendangan, Ichigo tiba-tiba tersungkur di lantai setelah sebelumnya berhasil terbentur dinding kelasnya.

"Cih, kenapa kau lamban hari ini, Kurosaki Ichigo?" kata seorang lelaki yang tiba-tiba datang dan berhasil menumbangkan Ichigo dengan sekali tendangan di perut.

"Kau sedang melamunkan siapa? Pacarmu? Cih! Itu semua hanya membuang waktumu, Bodoh! Membuatmu lemah!" kata seseorang tersebut menatap tajam Ichigo.

Ichigo segera berdiri dari keterkaparannya, menatap lelaki tinggi di depannya dengan sangat tak bersahabat. Ichigo kemudian berkata,

"Selamat pagi, Rivalku!"

T`B`C`


Ok, fic nui Ruki buat untuk Pipy yang berulang tahun pada tanggal 7 Agustus. Selamat ya, Pi... Moga kamu mendapat nasib yang lebih baik lagi di umur kamu yang ke-17 ini.

Semoga semuanya semakin mudah, dan dapat kamu jalani dengan baik. Tetap semangat dan jangan menyerah!


Arigatou and Mata Ashita "^_^"


R P

E L

V E

I A

E S

W E