Hajimemashite, Minna…

Watashiwa ~ Ruki ~ desu

Disclaimer : Tite Kubo-Sensei

Warning : OOC, AU, Typo

Pairing : IchiRuki

Rate : T


Trim'z ama semua yang udah nge'r'viu


eri-lovekyosohma_ ia uda mati, Cin! Sedi Quw…

Hatsune juLie Michaelis_ ia, Yachiru manusia kug, rival'na Ichigo cowo' berambut merah, Cin! Rukia semacam jin kali ia? Pokok'na dia penunggu tu bros de, Say.

Jee-ya Zettyra_ emank Fantasy, Cin. Tapi uda Quw ganti Hurt/Comfort, cuz kata'na sedi gitu cerita'na. Rukia itu kaya upu ia? Semacam jin kali y? hohoho Ruki ugha gag tau.

So-Chand 'Luph pLend'_ ia, nui Update. Makaci' Cin dah merepiu fic edan Quw nui…

minami kyookai_ Yachiru orang kug, Minami-Cin. Muncul kug, tapi gag Ruki munculin, entaran aja mungkin. Ichigo gag cuka karena Ichigo benci cuz mirip masa lalu'na.

Arlheaa_ entar ada waktu'na Ruki kasih tau, Cin! Salah semua, Cayank, disini di sebutin kug, Rukia iank ini gag icha di lihat orang, cuma Ichigo, tapi suara agak bisa di dengar orang, kalu keras.

Yuki-ssme_ ia, buat ultah seseorang cual'na… jadi terpaksa buat de…

bl3achtou4ro_ ia, tapi mau Ruki ganti Hurt/Comfort aje, Cin. Cuz menjurus ke sana dari pada Fantasy. Dia itu semacam jin kali ya? Quw ugha gag paham tu, hehehe.

Zheone Quin_ konflik'na jelas gag sama, Cin. Seperti'na sie, nui menjurus lebih ke 'sedih'. Jadi genre'na mau Ruki ganti. Kalu coal Taruhanmu Milikku masih bingung mau di lanjutin ato gag. Cuz niat'na emank Oneshot.

Aika Ray Kuroba_ Rival'na Ichigo pria berambut merah pokok'na.

MaSkicHy ZaoLdyEck_ owh, ia, makaci masukan'na. Bakal Quw pakek buat ke depan'na. Ia, Rukia mati.

Yurisa-Shirany Kurosaki_ salah mua, Cin. Pokok'na orang keren sedunia en rambut'na merah.

Liekichi chan_ makasih uda nyempetin hijrah ke Bleach en ngerepiu fic Quw, Cin! Nui dah update.

Aine Higurasi_ Ruki ntu semacam jin kali ia, bukan jin lampu tapi jin bros. Iank muncul itu seseorang berambut merah. Kalu Inoue sapa'na Ichigo ia? Ruki ugha maci bingung, Cin!

yuuna hihara_ itu jin bros, Ichigo masih sayang tapi ugha benci. Nui dah update, Cin!

secret aRs_ wkwkw, seperti biaca comen Ruki cuma icha tertawa aja. Makasih ucapan'na ia, Cin! Luph you. Emuach!

aRaRaNcHa_ wah, makaci, Cin! Quw makin sayank ma kamu… Emuach! *What?* takdir Rukia harus mati. Hiksu!

edogawa Luffy_ ia, Rukia jin bros. makasi, Cin dah ngucapin. Quw tambah cayank ma kamu, Emuach deh!

Kurochi Agitona_ ia, dia sahabat paling berarti *nyontek di Bleach Movie 3* gag pha-pha meskipun terlambat. Luph you! Emuach! *geje*

Sorayuki Nochan_ ia, Rukia uda mati. Makaci uda ucapin, Say! Luph you puol! Emuach! Buat traktiran kiss jauhan aja ia? *mutah*


^_^ Kilas balik chap 1


Ichigo diberi sebuah bros salju oleh seorang gadis yang meninggal di depan matanya. Bros itu memiliki penunggu dan ia begitu mirip dengan masa lalunya.


LAST OR FUTURE

== Ruki ==

Chapter 2


"Kau sedang melamunkan siapa? Pacarmu? Cih! Itu semua hanya membuang waktumu, Bodoh! Membuatmu lemah!" kata seseorang tersebut menatap tajam Ichigo.

Ichigo segera berdiri dari keterkaparannya, menatap lelaki tinggi di depannya dengan sangat tak bersahabat. Ichigo kemudian berkata,

"Selamat pagi, Rivalku!"

Dengan segera lelaki berambut merah tersebut membantu Ichigo berdiri, kemudian menepuk bahunya sekilas. Ia tersenyum.

"Ku harap kau baik-baik saja setelah hari itu," kata seseorang berambut merah itu pada Ichigo.

Lelaki tersebut mengingatkan hari sialan itu lagi, tepatnya hari dimana ia lahir. Hari yang tak sempat untuk ditepati, dan itulah yang membuatnya benci akan hari itu.

"Mengerti apa kau tentangku, Bodoh?" kata Ichigo sangar dan langsung berjalan dengan wajah kaku melewati lelaki tersebut.

"Cih! Kenapa dia selalu begitu?" kata lelaki dengan sebutan Ashido, ya, dia bernama Ashido Kano.

*(n_n)*

Angin sepoi kembali mengajak lelaki dengan rambut jinga itu tertidur dalam nyamannya hamparan rumputan hijau segar. Ia tidak sendiri, gadis dengan rambut panjang indah berwarna coklat itu terus menemani lelaki yang bisa dikatakan seseorang yang paling ia sayangi.

Gadis itu tidak berbicara sepatah kata pun, ia hanya melihat dari kejauhan. Melihat Ichigo yang tak pernah melihatnya. Meskipun dekat, gadis itu merasa sangat jauh.

"Apa-apaan majikanku ini? Tidur? Tidak bisa dibiarkan!" kata seseorang dengan dress pendek berwarna putih, peliharaan Ichigo.

Dengan gerak cepat ia menusuk-nusuk lengan atas lelaki berambut jingga itu dengan usil, sambil berkata,

"Hei, Tuan! Bangun!" kata gadis tersebut sambil tetap menusuk-nusuk lengan kekar Ichigo dengan jari telunjuknya.

Merasa usahanya tak berhasil, gadis tersebut semakin mendekatkan mulutnya tepat di depan telinga lelaki tampan tersebut, ia berteriak,

"Tuan! Bangun!"

Sekali lagi, seolah angin yang berhembus, teriakannya sama sekali tak di hiraukan oleh Ichigo. Gadis itu mulai kesal. Ia amati terus wajah yang tengah tertidur pulas tersebut.

Setiap lekuk wajahnya, ekspresi tidurnya, hal itu berhasil membuat sang gadis terpaku sekaligus terpukau. Dengan jari telunjuk yang masih menempel pada lengan Ichigo, gadis itu masih terfokus pada objek di depannya.

"Dia sangat… tampan," kata Rukia lirih.

Dengan gerak lambat sebelah tangan Ichigo menjalar ke samping, mencoba menggapai sesuatu yang tak bisa dilihatnya, namun bisa sangat ia rasakan.

Digenggamnya erat pergelangan tangan mungil itu. Semakin erat dan erat. Ichigo mencoba untuk menahan, menahan sesuatu yang sangat dan begitu bergejolak di dalam hatinya. Ia masih terlalu bingung.

"Rukia?" hanya itu yang tersebut dalam hatinya.

Gadis itu terdiam, ia merasakan kehangatan dari sentuhan itu. Membawa jantungnnya menunjukkan reaksi ketegangan.

Deg!

"Ah, aku berdebar!" kata gadis itu dalam hati.

Perlahan sepasang iris musim gugur itu terbuka, menampakkan sorot mata tajam dan angkuh. Ditatapnya kembali wajah tampan di depannya. Entah mengapa detak jantung itu malah semakin kencang sekarang. Gadis itu merasa sedikit lemas.

"Jangan sentuh… aku," kata Ichigo tanpa melihat ke arah gadis di sampingnya.

Terkejut, gadis yang sebelumnya hanyut dalam suasana itu kini mulai syok. Lelaki ini sangatlah dingin, begitu misterus. Kenapa gadis itu begitu sangat dibenci olehnya?

Gadis itu masih terdiam, membiarkan Ichigo melepas pergelangan tangannya. Lelaki itu mengambil tempat untuk duduk di samping gadis tersebut.

Awalnya memang berwajah muram, gadis itu lumayan sedih dengan reaksi tuannya, namun dengan cepat gadis itu tersenyum.

"Ah, tuan ini! Pemarah sekali!" kata gadis itu kemudian dengan wajah ceria.

Ichigo masih terdiam, di dalam hatinya ia menjerit,

"Apa yang sebenarnya terjadi padaku?"

Lelaki itu masih terlalu menganggap rumit jalan pikirannya sendiri. Sungguh naas, gadis tersebutlah yang menjadi pelampiasannya.

"Maafkan aku… kau terlalu membuatku tak nyaman, " kata Ichigo begitu saja.

Entah kenapa Ichigo sendiri pun tak mengira, bahwa ia akan berkata seperti itu pada gadis tak berdosa di sampingnya, ia merasa galau.

Tak lama kemudian datanglah seorang gadis yang sejak lama memperhatikan lelaki tersebut. Wajahnya nampak sangat sendu.

"Apakah masih terlalu berat, Kurosaki?" tanya gadis itu lembut seraya duduk tepat di samping kiri Ichigo.

Gadis dengan drees putih yang duduk di sebelah kanan Ichigo hanya menatap gadis berambut coklat itu heran.

"Siapa gadis ini?" tanya Rukia ragu dengan suara yang amat lirih.

Mengapa lirih? Karena ia tidak ingin Inoue dapat mendengar suaranya.

"Sangat berat, bahkan terlalu berat," kata Ichigo menjawab pertanyaan Inoue tanpa memperdulikan gadis di samping kanannya.

"Aku tahu, memang tak mudah. Berbagilah semua hal padaku, aku pasti akan berusaha membantumu, Kurosaki," kata gadis cantik tersebut sambil menatap Ichigo dengan tatapan yang sangat teduh.

"Di… dia… menyukai Ichigo," kata Rukia begitu saja, kata itu meluncur tanpa perintah otaknya.

Ichigo tersenyum miris, perlahan ia tutup kedua matanya erat-erat. Kemudian ia berkata,

"Dia kekasihku, Rukia…" kata Ichigo kemudian.

Gadis bermata violet itu terkejut, Ichigo menolehkan pandang pada gadis di samping kanannya, seorang gadis pendek yang mau tidak mau harus ia terima dalam kehidupannya. Seorang gadis yang begitu mirip dengan masa lalunya.

Gadis berambut hitam pekat itu menatap lekat sepasang mata musim gugur Ichigo, mencoba mencari suatu kebenaran. Tapi apa yang didapatnya, kesedihan.

Dengan cepat Rukia tersenyum dan…

Buak!

Seseorang menendang Ichigo tepat di punggungnya, orang itu tak lain dan tak bukan adalah seorang lelaki yang telah disebut rival oleh Ichigo, dia Ashido.

"Hei, jangan mendekat pada kekasihku!" katanya angkuh.

Roh gadis yang ingin disebut Rukia itu memandang Ashido angker. Ia sangat heran, siapa orang ini? Beraninya dia menendang tuannya seperti itu.

Inoue diam, dia tidak memprotes, bahkan saat Ichigo mengatakan,

"Dia kekasihku, Rukia…"

Inoue hanya tersenyum kecut.

Ichigo segera membenarkan posisi tersungkurnya dengan berdiri dan mulai mendatangi Ashido.

"Apa yang kau lakukan? Sial!" kata Ichigo dengan muka yang sangat dekat dan dengan suara yang amat keras.

Dicengkramnya kuat-kuat kerah baju Ashido, seakan berusaha untuk mencekik dan membunuhnya.

"Hahaha, apa yang aku lakukan? Seharusnya aku yang bertanya! Apa yang kau lakukan disini dengannya?" kata Ashido sambil menunjuk Inoue.

Ichigo hanya tersenyum sinis kemudian melepas cengkraman tangannya pada kerah baju Ashido. Ia berbalik.

"Aku hanya ingin di hibur oleh seorang gadis," kata Ichigo sambil tertawa.

"Dan seharusnya kau tahu! Gadis itu bukan Inoue!" kata Ashido membentak lelaki yang tengah membelakinya tersebut.

Ichigo berbalik dan menatap Ashido kembali, ia terseyum sangat manis, tepatnya mengejek.

"Apa pedulimu? Dia menyukainya," kata Ichigo dengan santai dan tanpa beban.

"Kau! Brengsek!" kata Ashido mulai mendekat, berusaha menyerang Ichigo.

Ichigo hanya diam, ia tahu satu hal. Ashido takkan bisa menyentuhnya lagi.

"Cukup!" teriak Inoue yang sudah tidak tahan dengan apa yang ia lihat.

Ashido berhenti, ia menghentikan langkahnya untuk mendekat pada Ichigo. Sedangkan Ichigo, ia tersenyum sinis, ia tahu ini akan terjadi. Inoue akan melindunginya.

Dengan cepat Inoue menuju ke arah Ashido dan menariknya pergi. Tanpa satu pun kata, tanpa satu pun tatapan. Mereka berdua meninggalkan Ichigo sendiri.

Tidak, dia tidak sendiri, seseorang masih menemaninya, dan tidak ada seorang pun yang tahu soal itu, kecuali Ichigo seorang, karena hanya dia yang bisa merasakan kehadirannya.

"Dia terlalu rumit, dasar aneh!" kata gadis yang tak nampak itu kemudian.

"Apa? Kau juga ingin meninggalkanku seperti mereka? Silakan!" kata Ichigo yang kini telah kembali berbaring di atas rerumputan dan memejamkan matanya erat.

Gadis bermata violet itu hanya mengela napas lelah, kemudian mengambil langkah untuk mendekat pada tuannya dan duduk di sampingnya.

"Aku tidak akan meninggalkanmu, selama kau masih memakai bros itu," kata gadis itu kemudian menatap wajah Ichigo yang sepertinya sedang menahan sesuatu.

"Sial, kau pembohong!" kata Ichigo pada gadis itu.

"Tidak, aku berkata jujur," kata Rukia kemudian.

Lelaki tersebut kini telah membuka matanya, memposisikan tubuhnya untuk duduk. Ia menatap gadis di sampingnya dengan begitu dalam, kedua mata musim gugurnya berkaca-kaca.

Hal ini begitu cepat dan tak terduga. Ichigo memeluk gadis itu, memeluknya sangat erat. Gadis itu sangat terkejut. Bahkan kedua tangannya masih belum memiliki inisiatif untuk membalas pelukan sepihak itu.

"Aku kesepian," kata Ichigo berbisik pada telinga kanan gadis itu.

Sangat terlihat. Lelaki ini begitu banyak menyimpan beban dalam masa lalunya. Sangat menyedihkan.

Dirasakannya, setiap huruf yang terucap dari bibir lelaki itu mampu membuatnya berdebar. Kenapa bisa begitu? Ini terlalu dekat, bahkan suhu tubuh Ihigo dapat ia rasakan begitu nyata.

"Untuk itu aku ada di sini, tersenyumlah," kata gadis itu sambil menuntun tangannya sendiri untuk membalas pelukan Ichigo, melingkarkannya pada pinggang Ichigo.

"Terima kasih, Rukia…" kata Ichigo tulus.

Di benamkannya semakin dalam wajah tampan itu pada bahu gadis yang dipeluknya. Aroma tubuh gadis itu dapat dihirupnya dengan mudah. Membuatnya lebih tenang dengan kehangatan yang tercipta akibat sentuhan tubuh mereka. Ichigo tersenyum.

*(n_n)*

"Tuan, cepat bangun!" kata Rukia yang kini menggoyangkan tubuh Ichigo dengan sekuat tenaga.

Tetap, lelaki itu sama sekali tak bergerak. Rukia mulai lelah dengan usahanya yang sia-sia itu. Ditariknya sekuat tenaga kedua kaki Ichigo. Sangat kuat, hingga sedikit demi sedikit mulai bergeser menuruni kasurnya.

"Apa yang kau lakukan, Bodoh?" kata Ichigo menanggapi usaha Rukia yang terlalu memaksakan.

Dengan cepat ia lepaskan sepasang kaki itu dari tangannya kemudian ia mulai tersenyum garing. Menatap Ichigo dengan muka memerah. Merasa malu dengan semua yang ia lakukan sedari tadi.

"Hahaha, maafkan aku, Tuan. Anda sangat sulit dibangunkan," kata Rukia sambil menunduk.

Ichigo hanya menggaruk-garuk kepalanya, kemudian menatap gadis di hadapannya dengan datar. Bahkan tak berekspresi.

"Sekarang hari Minggu, Bodoh!" kata Ichigo mulai berdiri dan menuju ke arah kamar mandi.

"APA?" teriak Rukia sangat keras.

Dengan cepat Rukia menuju ke arah Ichigo kemudian bersujud memohon maaf.

"Maafkan aku, Tuan! Maafkan aku!" kata Rukia sambil membentur-benturkan kepalanya sendiri ke lantai dan masih dalam berposisi sujud.

Ichigo terkejut bukan main dengan tingkah gadis di hadapannya.

"Hei, hei, apa yang kau lakukan?" kata Ichigo datar sambil mengangkat bahu Rukia untuk berdiri.

"Tidak, aku harus di hukum, Tuan!" kata Rukia yang masih bersikeras mempertahankan posisinya.

"Ah, aku tidak mengerti maksudmu, cepat berdiri!" kata Ichigo tetap menarik bahu Rukia dengan sedikit menundukkan badannya.

Rukia masih juga bersikeras mempertahankan posisinya. Ia tidak mau bangun.

"Ah, kau ini keras kepala sekali!" teriak Ichigo tak sabar.

Brak!

Terdengar suara pintu terbuka dengan kasarnya. Rukia yang menyadari itu kini mengangkat tubuhnya sendiri untuk berdiri, dan karena Ichigo masih menariknya, tubuh Rukia secara otomatis ikut tertarik merapat pada Ichigo hingga tubuh mereka berdua merapat tanpa jarak.

Hening menyertai mereka, hidung Rukia menempel persis pada permukaan dada bidang milik lelaki tersebut. Membuat Ichigo dapat merasakan tubuh lain merapat tanpa batas pada dirinya.

Mereka tak bergerak sedikit pun karena terkejut. Dengan jelas Rukia dapat mendengar detak jantung lelaki itu. Ia tidak menyangka akan berdiri sedekat ini dengan Ichigo.

Ia bisa merasakan bau khas lelaki di hadapannya. Menimbulkan perasaan yang aneh, perasaan yang ingin selalu dekat seperti ini, hingga…

"Kenapa Kak Ichi berisik sekali sih?" kata Karin sambil melipat tangan di depan dada dengan angkuh.

Rukia tersadar oleh suara itu, kemudian menjauhkan diri dari tubuh tinggi Ichigo. Tubuh yang berhasil menghipnotisnya.

"Ma-maaf," kata Rukia singkat kemudian berjalan menuju ke arah jendela, menatap ke arah luar, ia terlalu malu.

Karin mulai mendekat dan menggoyangkan tubuh kakaknya yang tak menghiraukannya. Ichigo nampak belum sadar sepenuhnya.

"Kak? Kau tidak apa-apa kan?" tanya Karin kemudian.

Dengan cepat Ichigo mengalihkan pandang menuju ke arah Rukia yang masih membalikkan badan ke arah jendela. Menatap pemandangan dunia luar dengan kikuk. Ia terdiam sejenak kemudian menatap Karin yang tengah berusaha untuk menyadarkannya.

"Sudah kukatakan, ketuk pintu dulu, mengerti?" kata Ichigo pada adiknya tersebut, sedikit galak memang.

"Iya, iya… Habis, Kak Ichi berisik sekali!" kata Karin kemudian pergi meninggalkan kamar kakaknya.

Ichigo menghela napas beratnya kembali, kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke kamar mandi.

*(n_n)*

SMU Karakura

Hari ini akan diadakan pertandingan untuk tim basket di sekolahnya. Ichigo yang menduduki ketua tim tengah bersiap-siap di ruang klub basketnya. Sekolah itu pun kini tengah ramai dengan 2 kubu pendukung, yang diantaranya terdiri dari SMU Karakura melawan SMU Kyushu.

Kini ia tengah mengganti seragam SMU miliknya dengan sebuah celana longgar selutut bawahnya berwarna hitam dan sebuah kaos longgar tanpa lengan berwarna sama yaitu hitam dengan pinggiran merah di bagian lengannya yang berhenti hingga bau tegap miliknya.

Sebuah logo sekolah terpampang sedang di pemukaan kaos tersebut tepat di sebelah kanan. Sebuah gelang berwarna putih dengan lebar 5 cm menghiasi pergelangan tangan kiri Ichigo. Membuatnya sangat sporty.

Dibuangnya secara sembarangan setelan seragam miliknya di dalam sebuah loker dengan nomor 15. Namun sebelum itu, ia mengambil sebuah bros salju yang melekat pada kemeja putih seragam sekolahnya.

Seolah-olah menimbang sesuatu. Apa ia harus memakainya? Begitulah pikir Ichigo dalam hati. Ia tengah berpikir keras hingga ia pun mengambil satu keputusan.

Diletakkan dengan cepat bros itu kembali ke dalam loker sempit miliknya, kemudian ia berlari keluar ruangan, menemui teman-teman setimnya yang sudah beberapa kali memanggil nama Ichigo yang terlalu lama berada di dalam.

Tanpa Ichigo sadari sepasang mata tajam telah mengawasi gerak-geriknya sadari tadi. Seseorang itu segera mendekati loker tersebut, loker berwarna hijau dengan nomor 15 di pintunya.

Ia mengecek keadaan sekitar dan dengan cepat dibukanya dengan mudah loker yang tak terkunci tersebut. Lelaki itu menemukan sesuatu, tepatnya sebuah bros. Ia tersenyum kemudian mengambilnya dengan segera dan dengan cepat ia masukkan ke dalam sakunya.

Di sisi lain

Pertandingan telah usai, tim Ichigo beruntung dapat menang kali ini. Peluh mulai mendominasi tubuhnya yang memang telah kelelahan. Dengan cepat ia menuju ke arah lokernya, mengganti baju dan ia ingin segera pulang saat ini.

Kriek!

Dibukanya lemari berukuran kecil itu dengan sebelah tangannya. Ichigo terkejut, dengan cepat ia acak semua isi dari loker itu. Menghilang, bros itu menghilang.

"Yo, Ichigo! Kau terlihat pucat," kata Ashido yang merangkul Ichigo dari samping.

Ashido adalah salah satu anggota timnya. Dan mereka selalu pulang bersama seusai membereskan setiap lawan basketnya. Meskipun sering bertengkar, mereka adalah teman baik. Tepatnya rival.

"Bros… bros itu…" kata Ichigo lirih dan masih tak bergerak.

"Bros?" tanya Asido yang kini menatap Ichigo heran.

Dengan cepat Ichigo menampik rangkulan Ashido dan mencengkram kaos olahraga yang ia kenakan. Ashido terkejut buka main. Selalu saja, mendadak Ichigo berbuat kasar padanya, kepribadian yang aneh.

"Bros itu! Bros itu hilang! Kau yang menyembunyikannya kan?" teriak Ichigo penuh emosi.

Kini seluruh orang yang berada di dalam ruang klub menatap Ichigo heran. Ashido yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa menaikkan sebelah alisnya pertanda ia tidak mengerti maksud Ichigo.

"Bros? Bros yang selalu kau pakai itu?" tanya Ashido kemudian dengan datar.

"Rukia, dimana? dimama dia?" kata Ichigo tak terkendali menatap tajam Ashido seolah dia adalah seorang pencuri, pencuri sesuatu yang menjadi miliknya.

"Apa maksudmu? Kau gila!" kata Ashido keras.

Nadanya nampak sangat marah, ia tersinggung.

Ichigo segera melepas cengkramannya dengan kasar kemudian berlari keluar ruangan dengan sangat bingung. Ashido yang melihat kejadian itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Rivalnya sungguh menyedihkan.

"Ichigo… kau sakit." kata Ashido dengan tatapan iba.

*(n_n)*

Dengan masih menggunakan seragam olahraganya, Ichigo terus berlari menelusuri setiap jalan yang ia lalui sebelum ini. Berharap dengan begitu ia bisa menemukan sesuatu yang di carinya. Setidaknya ia bisa melihat sosok yang di rindukannya.

"Sial!" hanya itu yang dapat Ichigo katakan.

Ia berhenti pada sebuah danau besar, tepatnya pinggiran danau besar yang pagi lalu sempat ia lewati. Entah kenapa ia merasakan inilah tempat yang harus ia kunjungi.

Seharusnya memang tidak boleh, karena ia telah berjanji akan melupakannya. Disini juga adalah tempat dimana ia selalu bersama dengan gadis itu, tepatnya 5 tahun yang lalu.

Lelaki itu masih menatap hamparan danau luas di depannya, pikirannya sangat kosong.

"Mencari sesuatu, Ichigo?"

Suara yang tak asing lagi oleh Ichigo. Ia menggeser tubuhnya untuk menghadap ke arah samping.

Terlihat saat ini seorang lelaki dengan muka angkuh sekaligus tampan. Ia tengah memamerkan sesuatu. Sesuatu yang Ichigo cari-cari selama ini. Ia tersenyum sinis, atau lebih tepatnya ia menunjukkan ekspresi kemenangan. Karena rencananya berhasil.

"Aku heran, kenapa kau selalu mengenakan barang rongsokan ini?" kata lelaki tersebut datar.

Ichigo menatap lelaki di depannya dengan sangat tajam. Ia masih memilih untuk diam saat ini. Ia tengah mengumpulkan seluruh emosi untuk membunuhnya.

"Kau juga sering menyebut nama itu, Apa ini pemberian darinya?" lanjut seseorang tersebut sambil tersenyum sinis pada Ichigo.

"Kembalikan padaku," kata Ichigo datar.

"Santai saja, aku hanya…" kata lelaki tersebut sambil sedikit memainkan bros di tangannya.

Ichigo segera memotong ucapan seseorang itu.

"Kau tuli? Kubilang, kembalikan padaku!" kata Ichigo dengan nada membentak.

Seseorang itu kemudian tersenyum tulus. Ia langkahkan sepasang kakinya mendekat pada Ichigo. Seolah-olah mendekat untuk mengantar bros salju tersebut. Tapi apa? Ia mempermainkan Ichigo.

Ketika tangan Ichigo mulai meraih bros di depannya, dengan mudah lelaki tersebut melempar bros itu ke samping, dan itu berarti danau. Lelaki itu membuang bros tersebut ke arah danau luas di sampingnya.

Mata Ichigo melebar, tangannya mengerat sempurna oleh amarah. Dengan gerak cepat, dilayangkannya tangan tersebut untuk menghajar lelaki di hadapannya.

Buak!

Berhasil, lelaki itu jatuh tersungkur di tanah, namun apa yang ia lakukan? Ia hanya tersenyum dan berkata,

"Kalau kau anggap dia berarti, kenapa kau tidak menyelamatkannya?" katanya kemudian.

Ichigo melebarkan matanya kembali, kata-kata itu kembali di dengarnya. Seberkas bayangan akan masa lalu terpantul lagi di depan matanya.

Ichigo akui, ia memang bodoh. Mengapa ia tak menyelamatkan bros itu sesegera mungkin? Mengapa ketika seseorang menyuruhnya ia baru bertindak?

"Sial!" kata Ichigo sambil mengambil langkah cepat menuju ke arah danau.

Langsung saja Ichigo terjun ke dalam danau tersebut. Cipratan air mencuat ke udara akibat tubuh Ichigo yang kini tenggelam memasuki danau besar itu. Sosoknya lenyap, dan tubuhnya pun menghilang di dalam air.

T`B`C`


Ruki sengaja mengganti genre'nya menjadi Romance & Hurt/Comfort. Memang Fantasy tapi lebih kental ma Hurt/Comfort'nya...

Meskipun terkesan sedih, Cintaquw tetep ngereviu ia... Soal'na reviu kalian berarti buat Ruki. Hohoho, makasih Cintaquw mua. Love you all (n_n) Emuach!


Arigatou and Mata Ashita "^_^"


R P

E L

V E

I A

E S

W E