Hajimemashite, Minna…
Watashiwa ~ Ruki ~ desu
Disclaimer : Tite Kubo-Sensei
Warning : OOC, AU, Typo
Pairing : IchiRuki
Rate : T
Trim'z ama semua yang udah nge'r'viu
Kurochi Agitohana
Yupi -AkaiYuki- Kurosaki
Aine Higurashi
liekichi chan
bl3achtou4ro
Zheone Quin
Astrella Kurosaki
Aizawa Ayumu
Nyit-Nyit
Aika Ray Kuroba
Yuki-ssme
Arlheaa
So-chand cii Mio imutZ
minami kyookai
Jee-ya Zettyra
yuuna hihara
chappynk ichiruya
erikyonkichi
Yurisa-Shirany Kurosaki
Eka Kuchiki
aRaRaNcHa
^_^ Kilas balik chap 2
Seseorang membuang bros salju milik Ichigo. Ichigo kini terjun ke dalam danau untuk menyelamatkan masa lalunya, mungkinkah Ichigo berhasil?
LAST OR FUTURE
== Ruki ==
Chapter 3
Langsung saja Ichigo terjun ke dalam danau tersebut. Cipratan air mencuat ke udara akibat tubuh Ichigo yang kini tenggelam memasuki danau besar itu. Sosoknya lenyap, dan tubuhnya pun menghilang di dalam air.
*(n_n)*
Lelaki tersebut mengelap bibirnya sekilas. Dialihkannya fokus kedua lensa hijaunya ke arah permukaan air yang masih bergelombang akibat tubuh Ichigo yang baru saja menghantamnya.
Ia garuk sekilas rambut hitam kebiruan miliknya. Dengan segera lelaki itu berdiri. Membersihkan celana miliknya yang terlanjur kotor oleh daratan yang ia pijak saat ini.
"Tak kusangka, Ashido benar," kata lelaki tersebut kemudian.
Desah napas ringan dihembuskannya sejenak, sebagai respon rasa prihatinnya saat ini. Ia mulai jengah.
"Ternyata Ichigo masih memikirkan gadis itu. Bodoh!" lanjut lelaki itu diikuti gerakan kedua tangan ke arah saku celananya, berposisi angkuh seperti biasa.
Lelaki berpostur tubuh tinggi, rambut hitam kebiruan, sepasang iris hijau segar yang tajam. Lelaki tersebut nampak membenci kenyataan di depan matanya.
Dan saat ini ia tengah berpikir, sepertinya ia melupakan sesuatu. Ya, sesuatu yang penting. Tapi apa?
"Sial! Si bodoh itu tidak bisa berenang!" teriaknya begitu mengingat sesuatu yang penting tersebut.
Dengan gerak cepat lelaki itu segera mencopot sepasang sepatu cats berwarna hijau miliknya, kemudian ia berlari menuju ke arah danau.
Di sisi lain
Lelaki tinggi berambut jingga itu terus menyelam, menyelam menjauhi permukaan danau. Ia tengah mencari sesuatu yang kini telah menjadi bagian terpenting dari hidupnya.
Ia tidak peduli, tekatnya yang kuat membuat dirinya lupa diri… Ia tidak bisa berenang.
"Sial! Aku tidak bisa menemukannya!" kata Ichigo dalam hati.
Gelap, semakin dalam semakin gelap. Sepasang mata Ichigo semakin pedih, napasnya semakin pendek.
"Sial!" umpat Ichigo sekali lagi.
Tak lama kemudian, nampaklah sehelai pita berwarna putih transparan. Melayang-layang di depan mata Ichigo. Redup, kadang terlihat, kadang menghilang. Dengan segera tubuh Ichigo tergerak untuk mendekatinya.
Tak peduli beratnya tubuh untuk terus menyelam, tak peduli sesaknya dada untuk bernapas. Tubuh itu tergerak dengan sendirinya, dengan tujuan untuk mencari sesosok gadis, gadis yang begitu mirip dengan masa lalunya, Rukia Kuchiki.
Tergerak lemah, gadis mungil dengan terusan putih bersih yang kontras dengan gelapnya nuasa di sekitarnya. Tubuh itu nampak lemah dan terombang-ambing, melayang diantara partikel air di sekitarnya.
Sepasang mata lebar yang tertutup erat, seulas senyum hangat juga tersungging di bibir manisnya. Tidak, sekali lagi Ichigo melihat ekspresi seperti itu, sangat menyakitkan.
Dan penampakan tersebut berhasil membuat dada Ichigo sesak. Semakin dipercepatnya gerak sepasang kaki dan tangan miliknya. Ia ingin segera menggapai tubuh itu.
Gerak arus membuat ujung rok gadis itu terkesingkap ke arah samping, menampakkan kaki indah di balik rok putihnya. Dengan cepat Ichigo menggapai bahu gadis tersebut. Segera di tahannya rok itu dengan sebelah tangan miliknya yang lain. Mendekap sempurna kedua paha di depannya.
Tak ada waktu lagi untuk berpikir, segera ditariknya lebih maju leher gadis dalam dekapannya tersebut. Membuat wajah sang gadis semakin mendekat ke arah wajahnya. Semakin dekat, semakin erat dan semakin hangat.
Lelaki yang tengah kehabisan oksigen untuk bernapas itu kini telah memejamkan matanya. Gelembung-gelembung besar mulai keluar dari dalam mulutnya.
Ia ingin berbagi. Berbagi sedikit kehidupan kepada gadis tersebut. Membagi sedikit napas yang ia miliki. Napas yang memang sudah sangat minim itu ia hembuskan tepat saat kedua bibir itu saling bertemu, dalam hati Ichigo berkata,
"Jangan tinggalkan aku lagi, Rukia…"
Dialalah satu-satunya sahabat yang berarti dalam masa lalunya.
Di lain pihak
Lelaki dengan rambut hitam kebiruan itu terus menerawang menyusuri setiap inci bawah air yang diselaminya. Dipicingkannya sepasang iris hijau itu, berharap dengan melakukan hal tersebut, ia dapat menemukan lelaki yang nekat terjun tanpa bakat, Ichigo, adiknya.
Tak lama setelah itu sepasang mata hijau itu berhasil menemukannya. Sesosok lelaki dengan rambut jingga. Gelembung-gelembung udara besar mulai gencar keluar dari mulut Ichigo. Sebelah tangannya membekap mulutnya sendiri dan yang satu lagi ia biarkan melayang dalam keadaan menggenggam sesuatu.
Habis, napasnya telah habis sempurna. Mungkinkah kakak tersebut dapat menolong adiknya tepat waktu?
5 tahun yang lalu
Kurosaki Ichigo, itulah namaku. Bocah dengan rambut super mencolok, Ya! Itulah aku. Dan… teman? Memiliki teman adalah hal yang sulit kudapatkan. Apa karena rambut jinggaku ini?
Ck! Aku tidak peduli. Terserah mereka mau berteman dengan aku atau tidak, toh hidupku tidak lebih dari 2 bulan lagi.
Kau tahu? Hari ini aku di nyatakan mengidap penyakit Liver kronis. Dan kau tahu apa artinya itu? Dipastikan aku akan mati! Adakah orang yang mau mendonorkan sebuah hati untukku? Bila ada, orang itu gila!
Dalam 2 bulan ke depan, aku harus tinggal disini. Bangunan tinggi, berjajar, dan putih. Bau obat yang menyengat, dan pasti membosankan.
Saat ini ayahku, Isshin Kurosaki tengah mengurus kepindahanku dari rumah ke tempat ini. RS Karakura... jujur saja, aku tidak menyukai hal ini, meninggalkan sekolah dan hidup di atas tempat tidur dan memakan obat-obatan setiap hari. Lebih baik aku mati saja, benar kan?
Sebelum kutinggalkan kehidupan nistaku menjadi sangat nista, kusempatkan diri mengunjungi danau yang letaknya lumayan dekat dari rumah sakit ini. Disanalah tempat yang selalu dapat membuatku tenang. Kenanganku bersama almarhum ibu terpatri kekal disana.
*(n_n)*
Masih tetap, aku memandang hamparan danau berwarna kehijauan itu dengan sorot mata teduh. Kulangkahkan kaki untuk medekat, tapi tunggu dulu…
Seorang gadis dengan baju serba putih tengah berdiri lesu di ujung geladak yang terbuat dari rentetan kayu rapuh, membentuk sebuah jembatan tumpul di tengah danau.
Kulihat setiap gerak yang di buat gadis itu. Sepertinya ia sebaya denganku, kurang lebih 13 tahunan. Kulihat gadis itu bergerak semakin maju. Kulitnya nampak pucat dan langkahnya seperti orang pesakitan, apa yang ia lakukan?
Saat sampai di ujung jembatan, ia berhenti. Kemudian ia langkahkan kaki kirinya ke arah depan, mengawang tanpa pijakan.
"Tunggu!" teriakku reflek begitu saja.
Ia berhenti, segera ditariknya kembali kaki melayang itu. Diikuti semilir angin lembut, dibarengi kibaran rambut hitamnya yang indah, ia berbalik dan kini tersenyum lembut padaku.
Aku heran, ia malah tersenyum begitu manisnya ke arahku. Aku terpaku, sosoknya sangat indah namun terlihat sangat rapuh. Dengan gerak lambat kulihat ia terhuyung ke belakang dan…
Byur!
Mataku melebar sempurna. Gadis itu hilang dalam genangan air luas di depannya. Dengan segera aku berlari. Kupijak kuat rentetan geladak rapuh di depanku. Sesampainya di bagian paling ujung, aku berhenti dan mulai panik.
"Hei! Jawab aku! Hei!" teriakku sekuat mungkin sambil terus mengamati air.
Tidak ada jawaban. Entah rasa apa yang mendorongku saat itu. Tanpa pikir panjang kuceburkan diriku sendiri, berharap aku bisa menemukannya, menyelamatkannya…
*(n_n)*
Di dalam air kulihat gadis itu tersenyum dengan sepasang mata yang terbuka dan menatapku yang ada di atasnya dengan sorot mata datar. Apa dia mempermainkanku?
Kutatap terus sepasang matanya, violet. Warna yang indah… Ah! Tunggu! Aku tenggelam! Aku mulai panik di dalam air, kugerakkan kedua tangan dan kakiku secara tak beraturan. Sial! Aku tidak bisa berenang.
Mataku terpejam erat, dadaku sesak. Terus saja kuminum air disekitarku, berharap dengan begitu aku akan selamat.
*(n_n)*
"Huah!" kataku begitu sampai di permukaan air.
Kuhirup kuat-kuat udara yang telah kurindukan. Untunglah aku selamat.
"Dasar bodoh!" kata seseorang tepat disampingku.
Gadis tadi. Saat ini ia menatapku tajam.
"Kau ingin mati? Bodoh sekali," makinya untuk yang kedua kalinya.
"Kau yang bodoh! Terjun seenaknya," kataku diiringi langkah sepasang kaki milikku untuk bergerak menginjak daratan.
Gadis itu masih terdiam di dalam air. Namun tiba-tiba ia tersenyum. Dengan perlahan gadis itu keluar dari dalam air. Rambut dan bajunya yang basah mengganggu mataku. Segera kubuang wajahku ke samping, ku akui aku malu saat itu.
"Kau ingin menolongku? Yang ada, akulah yang menolongmu," katanya dengan nada bangga.
Aku hanya diam, karena itu 100% benar adanya! Sial! Aku di permalukan.
"Hei kau! Bocah jeruk, siapa namamu?" tanya gadis itu dengan nada kasar. Cih! Aku salah menilainya.
"Aku bukan jeruk! Namaku Ichigo, Kurosaki Ichigo!" jawabku dengan membentak.
Gadis itu hanya tertawa ringan dengan reaksiku barusan. Apa ada sesuatu yang lucu? Aneh!
"Baiklah, Ichigo. Perkenalkan namaku Kuchiki Rukia. Aku menyukaimu," jawabnya lepas tanpa beban.
Blush!
Sial! Wajahku terasa panas. Apa aku tidak salah dengar? Baru kali ini ada orang yang mengatakan bahwa ia menyukaiku. Dia pasti bercanda.
"Ck! Aku tidak sudi di sukai olehmu!" kataku tegas.
"Oh ya? Tapi, kenapa aku merasa kalau kau sangat mengharapkannya ya?" kata gadis itu sambil berjalan pergi menjauhiku.
"Kau!" kataku dengan penekanan.
"Sudahlah, sampai jumpa, Ichigo!" teriaknya lantang dan tubuhnya pun menghilang di balik pepohonan.
Aku tersenyum saat itu. Dan mungkin sejak saat itu aku mulai menyukainya.
*(n_n)*
Saat ini aku tengah berjalan menuju kamar inap yang akan kutinggali 2 bulan ke depan, lebih tepatnya seumur hidupku.
Cklek!
Pintu berwarna putih bersih itu kini telah terbuka setelah ayahku menarik ke bawah knop pintunya. Desah napas panjang mulai kuhembuskan saat pertama kali kupijakkan kaki di tempat terkutuk ini, sungguh membosankan.
"Ichigo, mulai hari ini kau akan berobat disini, dan dia adalah teman sekamarmu," kata ayahku datar.
Teman? Buat apa teman? Bukankah aku disini untuk menunggu kematian? Sial! Kenapa aku sesantai ini?
Dengan tampang lesu dan ogah-ogahan, kulirik seseorang yang ayah maksud itu. Gadis dengan rambut hitam sebahu, dan mata itu…
"Hei, Bodoh! Kita bertemu lagi!" sapanya sok akrab.
Wajahku nampak syok saat itu. Bukankah dia gadis yang menolongku beberapa saat yang lalu? Memang, dunia ini sangatlah sempit.
Kulihat wajah itu nampak pucat pasi, selang infus menancap kekal di pergelangan tangannya, ia nampak sangat lemah. Apakah dia sakit? Tapi wajahnya nampak ceria, Aneh!
Dengan langkah berat, kini tubuhku telah terbaring santai di atas kasur sedang berseprai putih. Jarum infus telah tertancap sempurna di pergelangan tanganku. Benar-benar seperti orang pesakitan.
"Kenapa kau ada disini?" tanya gadis itu heran.
"Menunggu kematian, 2 bulan lagi," kataku cuek.
"Oh, begitu… baguslah," katanya santai dan di buangnya wajah miliknya ke arah samping.
"Sial, apa maksudmu?" bentakku tak terima.
"…" gadis itu masih diam.
"Hei!" teriakku mencoba menyadarkannya.
"…" masih diam tak bereaksi.
"Kau tul…"
"DIAM!" bentaknya kencang memutus kalimatku.
Aku terkejut bukan main. Ada apa dengannya?
"Seenaknya saja kau berbicara soal kematian! Tahu apa kau tentang itu?" katanya judes tanpa melihatku.
"Apa-apaan kau…"
"Ku bilang diam!" teriaknya lagi dan untuk kedua kalinya ia memotong kalimatku.
"Hargai hidupmu, jangan sok kuat mengatakan kematian di depanku! Kau menyedihkan!" katanya tegas.
Mataku melebar sempurna karena terkejut. Ada apa dengan gadis ini? Apa dia bisa membaca pikianku? Sial! Aku tertangkap basah.
"Maaf…" kataku penuh sesal.
Dan sejak saat itu, mungkin aku mulai menyayanginya.
*(n_n)*
"Kurang 2 bulan lagi!" katanya semangat.
Ya, 2 bulan lagi adalah hari ulang tahun kami. Entah kenapa ia nampak begitu senang, padahal hidupku hanya tinggal 1 bulan lagi.
"Tidak akan sampai, aku akan mati," kataku lesu sambil menatap aliran infus yang mengalir di dalam selang kecil di sampingku.
"Kalau kau mengatakan hal itu, aku akan mendahuluimu. Aku akan mati 2 minggu lagi," katanya dengan senyum tulus.
"Hei!" kataku protes.
Aku tidak ingin ia mengatakan itu. Selalu saja, ia berargumentasi seperti itu. Mungkinkah ia ingin mati mendahuluiku? Bodoh sekali!
"Maka dari itu, kau harus yakin, kita pasti dapat merayakan ulang tahun bersama. Bukankah kita telah berjanji untuk bertukar hadiah?" katanya yakin.
"Tidak, aku tidak pernah berkata seperti itu," kataku acuh.
"Terserah kau saja, yang pasti aku sudah menyiapkan hadiah khusus untukmu," katanya dengan senyum mengembang.
Kenapa dia selalu membuatku tenang? Apa tujuannya?
Tanpa kusadari… sejak saat itu, ia mulai berarti untukku.
*(n_n)*
Dengan masih memakai piyama khas pasien, aku pergi keluar kamar rawatku. Entah kenapa, aku ingin sekali meminum segelas cola hari ini. Kuseret tiang infus yang menyatu dengan tanganku.
Sejenak kutatap gadis di ranjang sampingku. Ia masih tertidur pulas. Aku hanya bisa tersenyum menatap wajah damainya. Kuhela napas panjang, hidupku tidak kurang dari 20 hari, kecuali mukjizat datang menolongku.
Cklek!
Dengan membawa 2 kaleng cola di tanganku, kubuka pintu di depanku dengan susah payah. Memang sedikit pusing, padahal aku hanya perlu berjalan 5 meter untuk sampai di mesin minuman kaleng itu. Ya, mau bagaimana lagi, ajal memang semakin dekat untuk mencabut nyawaku.
Entah kenapa, saat kusentuh knop pintu tersebut, perasaanku menjadi tak nyaman. Tubuhku seakan menimbulkan reaksi yang misterius. Begitu ku buka lebar pintu itu, angin kencang menyambut kehadiranku kembali.
Kulihat Rukia tengah berdiri lesu di depan balkon pembatas kamar kami yang terletak di lantai 5. Ia nampak bercahaya oleh pantulan sinar matahari pagi. Ia nampak mempesona dan sangat bersinar di mataku.
"Rukia, aku membawakan ini untukmu," teriakku dari depan pintu.
Dengan gerak lambat tubuh itu berbalik seratus delapan puluh derajat. Aku bisa melihat wajahnya sekarang, kerena sebelum ini ia membelakangiku. Haaahhh… mungkinkah aku bisa selalu melihatnya seperti ini?
Degh!
"Ukh!"
Tiba-tiba saja jantungku berdetak hebat. Pandanganku kabur. Dadaku sakit, sangat sakit. Apakah ini saatnya? Kulihat samar-samar Rukia masih menatap ke arahku. Jangan melihatku! Aku tidak ingin dilihat selemah ini. Ia menatapku sayu.
Perlahan seulas senyum tersungging manis di bibirnya. Sedangkan aku? Sesuatu seakan ingin keluar dari dalam mulutku, darah. Darah segar membanjiri tangan kananku yang telah berupaya menahan bibirku untuk tidak terbuka. Sial! Aku tidak ingin mati sekarang.
Senyuman Rukia semakin memudar, hentikan ekspresi wajah seperti itu! Aku baik-baik saja! Sungguh aku baik-baik saja! Tersenyumlah, kumohon. Ingin aku berteriak seperti itu, tapi sayang, aku tidak mampu melakukannya.
Tunggu… Apa yang dia lakukan? Di panjatnya dengan perlahan pembatas balkon di depannya, dia gila! Apa yang akan dia lakukan?
"Ru… ki… a…" kataku tercekat oleh aliran darah yang semakin deras mengalir.
Tubuhku ambruk di lantai, tatapanku semkain gelap sekarang. Darah segar terus membanjiri lantai di bawahku. Tidak! Apa yang dia lakukan?
"Tu… tung… gu…" kataku sekuat mungkin.
Sial! Aku tidak bisa mencegahnya. Pandanganku telah gelap sempurna dan hal terakhir yang dapat kudengar adalah…
Brug!
*(n_n)*
Tubuhku serasa amat berat. Ck! Apa-apaan ini? Hidungku terhubung dengan selang kecil yang aneh. Pandanganku sedikit kabur, bibirku tak dapat bergerak. Aku hanya bisa mendengar sayup-sayup suara di sampingku.
Tiiit… Tiiit… Tiiit…
Mesin itu mengganggu sekali. Sial! Apa yang terjadi padaku?
"Ayah! Dia sadar!" teriak seseorang tepat di sampingku.
Dia adalah kakakku, Kaien. Ia nampak senang meneriakkan kalimat itu. Dan seketika itu juga beberapa orang berhamburan masuk ke dalam kamar rawatku.
Pelukan, sentuhan, mulai dapat kurasakan. Kulirik dengan susah payah ranjang di sampingku, hasilnya kosong. Tak ada seorang pun yang tidur di sana.
"Ru… i… a…" kataku tercekat.
Seketika itu juga semua terdiam. Semua menatapku sendu. Dan aku membencinya!
"Kau tidak sadarkan diri sejak 2 bulan lalu," kata Kaien datar.
Apa? 2 bulan? Ck! Kenapa aku masih hidup? Sial!
"Selamat ulang tahun, Kurosaki. Meskipun terlambat 2 minggu, kuharap kau mau menerima hadiah dariku," kata seorang gadis dengan rambut coklat sebahu, seingatku dia adalah gadis pendiam, ia bernama Inoue Orihime, teman sekelasku.
Aku tidak bisa mengatakan apa pun, aku tidak memiliki semangat untuk berbicara atau melalakukan hal selain diam. Kulihat ia meletakkan sebuah bingkisan di meja samping kasurku. Aku masih bingung, diamana Rukia?
"Ru…" kataku namun terputus cepat.
"Dia menitipkan ini," kata Ayahku setelah berhasil menyela kalimatku.
Aku heran, tangan ku tergerak dengan sendirinya, terangkat menggapai sepucuk surat berwarna violet itu. Jantungku berdebar hebat, mungkinkah dia…
Untuk Kurosaki Ichigo
Hai, Ichigo. Kau baik-baik saja kan? Mungkin saat kau membaca surat ini aku sudah tidak ada di sampingmu. Maafkan aku, aku tidak bisa menepati janji kita untuk hidup hingga 7 Agustus. Tapi kumohon jangan membenciku karena aku sudah memberimu sebuah kado di dalam kotak violet itu, aku tidak ingkar janji kan?
Hahaha… sampai saat ini aku tidak mengerti, kenapa aku mati? Kumohon lanjutkan hidupmu. Dan maafkan aku yang pergi mendahuluimu. Aku akan memberimu sepucuk surat lagi saat kita berumur 17 tahun. Kuharap kau masih mau menerimaku sebagai teman. Selamat ulang tahun untuk kita.
Kuchiki Rukia
Sial! Aku menangis. Kenapa gadis itu harus melakukan hal ini padaku? Bunuh diri di depan mataku. Aku tidak bisa mencegahnya, padahal dialah yang membuatku mengerti 'Apa itu hidup', MUNAFIK.
"Ini, titipan darinya." kata Ayahku sambil menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang dengan warna violet dan pita jingga.
Ck! Kuremas secarik kertas di genggamanku. Dengan langkah cepat kuraih kotak itu dan kulempar ke arah jendela, dan kotak itu pun menghilang seketika dari ruangan ini. Semua terkejut atas tindakanku. Aku tidak peduli, aku membencinya.
"Per-gi," kataku dengan nada menekan.
Mereka semua mengalah. Kini aku hanya sendiri di ruangan ini. Kuingat kembali sebagian memoriku saat bersamanya. Sakit, aku merasa sebagian dari hidupku lenyap. Sial!
Mungkin… sejak saat itu aku menyadari satu hal, aku mulai mencintainya.
*(n_n)*
Operasi cangkok hati akan dilakukan hari ini untukku. Sejak 2 minggu yang lalu aku hanya diam. Aku tidak ingin memakan sesuap nasi pun. Aku tidak mati, karena cairan infuslah yang selalu menopang hidupku.
Haaahhh… aku lelah hidup seperti ini. Aku ingin segera mati sekarang juga. Kupejamkan mataku saat obat bius mulai mengaburkan pandanganku. Aku lelah…
*(n_n)*
Aku, Kurosaki Ichigo, 16 tahun. Operasi pencangkokan hati telah usai, aku dinyatakan hidup dan sembuh total setelah 2 tahun koma. Aku berjanji, saat aku membuka mata, akan kuhapus semua ingatanku di masa lalu.
Cih! Aku bisa memasuki SMU Karakura karena kejeniusanku. Dalam waktu sekejab hidupku berubah. Aku memiliki banyak teman dan menjadi siswa populer. Padahal 3 tahun sudah aku meringkuk bagai mayat hidup di RS Karakura.
Mereka bilang, hidupku penuh keberuntungnan dan dapat dikatakan sempurna dengan perubahanku saat ini. Ck! Mereka tidak tahu, aku telah kehilangan satu orang yang paling berharga dalam hidupku…
Sahabatku yang paling berarti… Itulah kesimpulannya, hidupku takkan pernah sempurna.
And flashback
"Puah!"
Dengan langkah lemas Kaien menyeret tubuh adiknya menuju ke daratan. Di telentangkannya tubuh yang tak bergerak sedikit pun tersebut di atas tanah. Ditepuknya dengan sedikit keras kedua pipi Ichigo.
"Woi, Ichigo! Woi! Bangunlah!" teriak Kaien keras.
Tak bergerak, Ichigo sama sekali tak menunjukkan suatu reaksi yang berarti. Di tekannya perlahan dada bidang lelaki berambut orange tersebut.
"Kumohon Ichigo, sadarlah." kata Kaien dalam hati.
T`B`C`
Arigatou and Mata Ashita "^_^"
R P
E L
V E
I A
E S
W E
