Hajimemashite, Minna…
Watashiwa ~ Ruki ~ desu
Disclaimer : Tite Kubo-Sensei
Warning : OOC, AU, Typo
Pairing : IchiRuki
Rate : T
Trim'z ama semua yang udah nge'r'viu
liekichi chan_ Bukan Kaien kug, Cin. Orang'na ghi sibuk mikirin ujian… hahaha, Ichigo emank berubah noh! Dasar, Baka jeruk!
Yurisa-Shirany Kurosaki_ Gag, pha-pha, Cin^^. Ruki tau kug kesibukan kamu, *sok tau*. He'em, Ruki jadi manusia aghi, tapi gag selamanya dung… Dia kan udah mati.
SoraHinase_ Bukan Kaien, Cin. Kalo coal bersatu, agak sulit nui…^^ *becanda* thunkz dah repiu ia, Sora-Cin^^
Yupi -AkaiYuki- Kurosaki_ Rukia gag mungkin selamanya jadi manusia dung, Cin… kalo gitu, orang mati banyak iank hidup agi dunk!^^
Aizawa Ayumu_ Bukan Kaien kug, Ai-Cin… rival'na Ichigo itu loh, *nunjuk-nunjuk* Ruki seneng banget, Ai uda aktif nulis agi! Yosh! Hidupkan kembali IchiRuki di FBI.
Arlheaa_ Bukan Kaien, Cin^^. Capa hayo? Emank tuw! Mikan no baka! Baka'na minta ampun… thunkz dah repiu ia, Cin… luph u!
yuuna hihara_ Pakek badan orang iank udah mati pokok'na… kamu juja ica, Cin? Mau?^^. Iank maen tinjuan ma Ichigo bukan Kaien, Cin! Dia adalah… Autor! *plak*
Juliette Vannesa Michaelis_ Mank upu hub'na Puasa ma fic? Thunkz dah repiu ia? Semoga berkenan di hati coz uda gag puasa *ditendang masa*
edogawa Luffy_ Autor, Cin! *dengan wajah polos*… bukan kug, dia rival'na Ichigo, sahabat'na gitu… thunkz dah repiu ia? Kamu baik banget che, Cin! Makin sayang ajah… *plak*
Ichiruya Ruru Kuchiki_ Makaci' ia, Ruru-Cin… ajarin gimana, Cin? Les privat bayar 5 jt/hari, mau gag?^^ iank mukul bukan Kaien, Cin! Tapi sohib'na Ichigo, sapa ia?
So-chand cii Mio imutZ_ Tara! So-Cin salah… hohoho, dia rival'na Ichigo, Neng. Rambut'na merah, tampan, tinggi, keren, ah! Tepar daku…
Aika Ray Kuroba_ Emank, Mikan no baka! Yap, pilihan ke-2 benar. Kamu orang pertama iank berhasil menebaknya. Tapi gugur coz itu jawaban kedua kamu… Hohoho *seringai setan*
Minami Kyookai_ Wah, makasih CintaQuw, kamu mau selalu merepiu diriku…^^ yah, Rukia hidup lagi berkat Autor iank baik hati inih. *plak* thunkz, My darling.
ochibi4me_ 'Cliffhanger' itu upu, Cin? Ruki gag ngerti. Entar dijawab lewat PMS ia? Nui dah update. Enjoy, Jenk!
Kurochi Agitohana_ Hu'um, Rukia hidup agi! *bakar Rumah orang saking seneng'na* bukan Kaien kug, Cin… capa ia? Pokok'na sohib'na Si Ichi deh^^
Yuki-ssme_ Ya udah kalu benci Ichigo, saingan Ruki berkurang deh. Khu khu khu… Autor iank nonjok! Mana seratus jempol'na, Cin? *ditendang ma penonjok asli* tepar.
Shinigami Yui Kurosaki_ Hehehehe^^ kamu salah, Cin… dia rival'na Ichigo, bukan Kaien… capa hayooo? Kalu ica nebak dapet… em… dapet upu ia? Dapet tinju'na Ichi, Ichi'na jadi milikku. Hahaha^^
Jee-ya Zettyra_ Ruki juja suka ma adegan terakhir ntu… so sweet meskipun kepaksa en kasar. Makasih ya, Jee-Cin. Kamu masih mau ngerepiu fic Ruki. *Terharu mode on* luph u co much.
Nyit-Nyit_ Gag ica update Qilat, Cin… tapi ini uda update, makaci' uda repiu ia?^^
erikyonkichi_ Wah, ditengah kesibukan, Nee-san sempet-sempet'na ngerepiu Ruki. *Hiks, terharu* bukan Kaien, Eri-cin… tapi sohib'na Si Ichigo… Thunks ia? Luph u, Nee-san.
^_^ Kilas balik chap 4
Kini Ichigo telah berubah. Tanpa ragu, ia memaksa Rukia untuk berciuman dengannya, menjadi Gadis penghiburnya. Namun seseorang datang dan menolong Rukia. Siapa dia?
LAST OR FUTURE
== Ruki ==
Chapter 5
menempel sekilas dan…
Buk!
Satu tinjuan mendarat sempurna di pipi Ichigo, membuat adegan pemaksaan itu terhenti. Pelukan Ichigo pada tubuh Rukia terlepas, sedangkan tubuh Ichigo sedikit oleng ke samping dan mundur beberapa langkah.
"Cih! Jangan sentuh dia, Brengsek!"
*(n_n)*
Dengan tetap, seringai tajam terlukis jelas di wajah tampannya. Ichigo menolehkan wajah sangar tersebut tepat pada sesosok lelaki yang kini berada di depan matanya.
Lelaki dengan rambut merah, tubuh tinggi dan ya… dia lah, rival Ichigo, yang juga termasuk sebagai daftar sahabat baiknya, Ashido Kano.
Sekali lagi, lelaki berambut merah itu mengganggu kesenangannya. Tatapan tajam mulai bertautan di antara mereka. Ashido tetap saja memandang tajam Ichigo.
Ia heran, tak cukupkah Ichigo mempermainkan semua gadis yang sudah rela menjadi mainannya selama ini? Hingga gadis baik-baik pun dipaksanya untuk menghibur dirinya, Kejam.
"Kuso!" teriak Ichigo berusaha meluapkan segala kekesalan dalam dirinya.
"Apa kau bilang? Tidak tahu diri!" teriak Ashido sambil melayangkan tinjuan keduanya tepat mengenai perut Ichigo.
Bug!
Tubuh tinggi Ichigo terhempas ke belakang, terseret oleh lantai yang ia pijak sebelumnya. Ichigo hanya meringis sekilas, kemudian ia mendongak, menatap Ashido dengan tatapan dingin.
"Sial!" desis Ichigo pelan.
Di sisi lain
Nampak seorang gadis dengan rambut coklat panjang berdiri pasrah melihat pemandangan tersebut. Selalu saja, yang ia lihat hanyalah pertengkaran yang tidak berarti.
Kedua sahabat yang saling menyayangi dan saling melengkapi. Kenapa mereka harus selalu bertengkar seperti ini? Siapa yang patut di persalahkan? Mungkinkah Ichigo?
"Kenapa... Kurosaki…" kata gadis tersebut sambil menggenggam sebelah tangannya sendiri dan ia sandarkan sejajar dengan dadanya.
Ditatapnya iba sesosok lelaki berambut jingga yang masih terduduk di lantai tersebut. Ichigo tak melawan sedikit pun, padahal Inoue tahu, Ichigo takkan semudah itu dikalahkan. Ichigo hanya memaki.
Inoue mulai berpikir, munkinkah Ichigo telah sadar dengan perbuatan bodohnya? Hingga ia tak melakukan perlawanan yang berarti pada Ashido.
Dialihkannya pandangan dari sepasang iris abu-abunya ke sosok gadis mungil dengan rambut hitam. Gadis tersebut masih mematung di tempat, berdiri dengan ekspresi wajah terkejut.
Dirabanya bibir miliknya sendiri. Mungkin gadis tersebut masih belum percaya, belum percaya akan kenyataan bahwa Ichigo telah mencium dirinya. Malang sekali.
Dengan cepat Inoue membuang mukanya ke arah samping. Sekali lagi ia harus terluka melihat gadis-gadis yang telah berhasil menjadi korban dari pelampiasan Ichigo. Ia merasa amat sakit, tepat di dasar hatinya.
Di pihak lain
Perlahan Rukia mendekat ke arah lelaki berambut jingga tersebut. Ia berjalan bimbang dengan tatapan kosong. Ia bergerak dengan keyakinan di dalam hatinya, bahwa Ichigo tak seburuk itu.
Begitu sampai di depan Ichigo, ia duduk mensejajarkan dirinya dengan cara menumpu kedua lutunya di atas lantai dan memandang iba Ichigo.
Ia tak menyangka, luka Ichigo begitu dalam, mungkinkah ini semua akibat masa lalu yang dibuatnya? Ia menjadi semakin merasa bersalah pada lelaki ini.
"Kau baik-baik saja kan… Ichigo?" tanya Rukia lembut sambil menggerakkan sebelah tangan kanannya untuk menyentuh rahang Ichigo yang lebam.
Plak!
Ditampiknya kasar tangan mungil milik gadis tersebut oleh Ichigo. Ia buang muka kusutnya ke arah samping. Ichigo tak sanggup menatap wajah melas dari gadis berpawakan kecil itu. Sungguh menyakitkan baginya.
"Aku tak membutuhkanmu! Enyahlah!" kata Ichigo ketus.
Diturunkannya sebelah tangan yang telah tertolak itu oleh Rukia. Tangan mungil tersebut mengerat sempurna. Rukia nampak menahan emosi di dalam hatinya.
Ashido yang melihat adegan manis itu pun, terdorong untuk ikut mendekat pada Ichigo. Setahu Ashido, gadis itu telah disakiti oleh sahabatnya, Ichigo. Tapi entah kenapa, ia malah menolongnya, bahkan mengkhawatirkan keadaanya.
Begitu sampai di samping Ichigo, dijulurkannya sebelah tangan kanan miliknya tepat di depan muka Ichigo. Ashido bermaksud menawarkan pertolongan pada rivalnya tersebut.
"Maafkan aku," kata Ashido sambil mempertahankan uluran tangan miliknya di depan muka Ichigo.
Ichigo hanya menyeringai sekilas, dan dengan bertumpu pada sebelah tangan kirinya, ia berhasil berdiri tanpa bantuan siapa pun.
Ichigo tersenyum sejenak, tapatnya senyum merendahkan. Ia pergi menjauhi kedua orang yang telah salah mengkhawatirkan dirinya. Ichigo tak peduli pada mereka. Sama sekali tak peduli.
"Cih! Mereka bodoh," bisik Ichigo sangat pelan dengan seringai tajam khas miliknya.
Ashido perlahan menurunkan sebelah tangannya, ia juga mengalami hal yang sama dengan gadis tersebut. Ditolak mentah-mentah oleh Ichigo. Ia tertawa sejenak.
"Aku bodoh mengkhawatirkannya," kata Ashido dalam hati.
Dipandanginya gadis tersebut diam-diam. Ia dapat melihat gurat kesedihan tercermin jelas pada paras manisnya. Gadis ini terlihat begitu rapuh di depan mata Ashido.
"Kau baik-baik saja, kan?" tanya Ashido kemudian, berharap gadis itu baik-baik saja.
"…" Rukia masih enggan membuka mulutnya.
Gadis berambut hitam itu hanya terdiam dan masih terduduk di lantai. Setitik air mata turun hingga menganak di pipi meronanya. Ia menangis?
Dengan cepat gadis itu berdiri. Ia hanya memandang arah bawah, yaitu lantai. Ashido dapat melihatnya dengan jelas, gadis tersebut nampak sangat sedih.
"Sial!" maki Ashido dari dalam hati, menatap tajam punggung Ichigo yang mulai menjauh.
Dengan cepat gadis itu berlari, mengejar jejak langkah kaki Ichigo yang masih berada dalam satu lantai dengannya. Ia terus berlari sekuat mungkin. Ada sesuatu yang harus ia sampaikan.
"Tunggu!" teriak Rukia memecahkan konsentrasi Ichigo untuk menatap persegi panjang dari bentuk pintu di depannya.
Dengan gerak lambat Ichigo berhenti dan membalikkan badannya. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku sekaligus. Menatap Rukia datar yang kini tengah berlari ke arahnya. Berdiri angkuh.
Begitu sampai, nampak Rukia masih terengah-engah setelah berlari cukup kencang mengejar Ichigo beberapa detik yang lalu. Ditatapnya sepasang mata musim gugur itu dengan sedikit mendongakkan kepalanya, mata yang menatapnya dengan sorot kebencian.
"Ada yang tertinggal," kata Rukia kemudian.
"Hn?" tanya Ichigo ketus.
"… ini…" kata Rukia dengan jeda yang cukup lama.
Dengan gerak cepat, ditariknya kemeja putih dari seragam yang Ichigo kenakan saat ini. Ia tarik dengan kedua tangan mungil miliknya, hingga tubuh Ichigo merendah dan wajahnya dapat sejajar dengan Rukia.
Kejadian tersebut begitu cepat. Dan sekarang wajah Rukia bergerak lambat menuju ke arah wajah tampan Ichigo yang persis berada di depannya. Dan…
Cup...
Bibir mereka bertemu. Mata Ichigo melebar sempurna, Rukia menciumnya? Apa-apaan ini?
Dengan gerak cepat dikeluarkannya sepasang tangan kekar miliknya dari dalam saku. Didorongnya kedua bahu milik gadis mungil tersebut kemudian.
Namun, Rukia tetap berusaha untuk mempertahankan posisi tersebut. Dengan cara menarik lebih kuat kemeja Ichigo agar lebih mendekat ke arahnya.
Semua mata tertuju pada kedua insan tersebut, Ashido sangat terkejut, begitu juga dengan Inoue. Sungguh tak dapat dipercaya, gadis yang sebelum ini menolak mentah-mentak ciuman itu, saat ini malah ia lah yang melakukannya.
Dicengkramnya erat kedua bahu gadis tersebut. Dan didorongnya dengan tenaga lebih kuat oleh sepasang tangan kekar Ichigo.
Dan berhasil, Rukia sempat terhuyung ke belakang dan hampir terjatuh oleh dorongan kuat tersebut. Namun ia masih tetap berdiri sekarang, menatap datar wajah terkejut Ichigo.
Masih belum percaya dengan apa yang ia alami sebelum ini. Dirabanya bibir miliknya sendiri… nyatanya, ciuman itu masih terasa. Rukia benar-benar telah menciumnya.
"K-kau…" kata Ichigo terputus-putus.
Rukia hanya tersenyum. Sepertinya ia senang dengan hasil kerjanya saat ini. Ia nampak tak keberatan sama sekali.
"Aku bersedia menjadi Gadis penghiburmu… itu kan, yang kau inginkan?" kata Rukia dengan nada mantap.
Ichigo masih tak bersuara, ia masih sangat terkejut dengan semua yang baru saja terjadi. Ini gila!
"Kau terlalu tinggi mencium gadis penghiburmu ini, seharusnya akulah yang menciummu seperti mereka, benar kan?" kata Rukia dengan wajah yang dibuat semanis mungkin.
Wajah Ichigo berubah, ia nampak marah dengan apa yang Rukia ucapkan beberapa detik yang lalu, 'Gadis penggoda'? 'Menciumnya'? Dia bukan gadis murahan! Begitulah pikir Ichigo saat ini.
Dicengkramnya kuat-kuat kedua bahu Rukia, menatapnya tajam. Ia merasa sedikit terluka oleh perkataan 'Gadis penghibur' itu, Rukia tak pantas menyebut dirinya seperti itu.
"Kau! Apa maksudmu?" teriak Ichigo tepat di depan wajah Rukia.
Rukia hanya tersenyum dan menjawab santai pertanyaan Ichigo.
"Itu kan, yang kau minta?" kata Rukia datar.
Melihat wajah tenang Rukia, Ichigo pun tak dapat melakukan apa-apa lagi. Dihemapaskannya tubuh mungil itu hingga sedikit terdorong ke belakang, ditatapnya sinis wajah gadis yang ada di hadapannya.
"Kau bukan Rukia," kata Ichigo datar sambil pergi, melangkahkan kaki menuju pintu keluar.
Rukia hanya menatap punggung lebar itu, wajah manisnya berubah, tidak dengan ceria, apalagi senyuman. Ia nampak sedih.
Linangan air mata mulai menetes kembali dari pelupuk matanya. Sedari tadi ia telah sukses menahannya, namun kali ini ia tak sanggup lagi, ia menangis dalam diam.
Brak!
Sesosok lelaki tinggi dengan rambut hitam muncul dari balik pintu yang terbuat dari seng itu. Ia tatap Ichigo tengah berjalan angkuh menuju ke arahnya, atau lebih tepat, pintu di belakangnya.
"Ichigo?" kata Kaien tepat saat Ichigo berada 2 m di depannya.
Lelaki itu tak menjawab, tetap melangkah dengan tatapan kosong. Sekilas Ichigo menabrak sebagian kecil dari bahu Kaien.
Terlihat sekali bahwa lelaki ini tengah memikirkan sesuatu yang membuatnya tak dapat berkonsentrasi dengan baik. Pikirannya jauh melayang pada sesuatu, tidak di sini.
"Sial!"
Hanya itu yang dapat Kaien dengar dari bibir Ichigo setelah berhasil melewati dirinya. Kaien tahu, Rukia pasti akan langsung menemui Ichigo setelah ini. Dan itu hal yang salah.
"Aku terlambat," kata Kaien lirih.
Segera dialihkannya fokus kedua iris hijaunya pada gadis yang kini tertunduk tak jauh dari jangkauannya. Kini Kaien berlari ke arah Rukia.
"Apa yang terjadi?" tanya Kaien yang kini sampai di depan Rukia.
Rukia tetap saja terdiam di tempat. Dialihkannya pandangan kedua matanya pada sosok Ashido dan Inoue yang kini mendekat ke arahnya. Sepertinya, ia takkan mendapatkan jawaban langsung dari Rukia.
"Ashido, apa yang terjadi?" tanya Kaien datar.
Mereka juga diam seribu bahasa. Dan kini hanya mampu menatap Rukia dengan tatapan sedih, kasihan atau cemas?
Diangkatnya oleh Kaien, sepasang tangan hangatnya untuk menyentuh wajah Rukia. Kaien dapat melihatnya sekarang, gadis itu menangis.
"Rukia… Kau, menangis?" tanya Kaien tepat di depan wajah Rukia, menatapnya cemas.
Bibir gadis tersebut bergetar, ia menahan isakan yang begitu mendorong dirinya untuk meneriakkan kesedihannya.
Air mata terus mengalir lembut dan terus saja memenuhi pelupuk matanya. Sudah Kaien duga, Ichigo pasti akan menyakitinya.
Dengan gerak lambat, dipeluknya tubuh mungil tersebut. Isakan itu semakin jelas terdengar oleh pendengaran Kaien. Rukia menangis kencang dalam dekapan hangat dada bidang Kaien.
Pelukan itu memberi ketenangan tersendiri bagi gadis tersebut. Panasnya tubuh mereka yang saling berhimpitan pun membuat suasana sedih tersebut berangsur sirna. Rukia merasa tenang.
Disisi lain Ashido hanya memasang wajah terkejut di tempat. Rukia? Nama itu begitu tak asing lagi baginya. Mungkinkah gadis ini…
"Kak, Kaien… jadi, gadis itu…" kata Inoue mendahului Ashido bertanya pada Kaien.
Kaien hanya menganggukkan kepala miliknya. Ashido nampak syok, begitu juga dengan Inoue. Jadi… gadis yang selama ini menjadi penyebab Ichigo hancur adalah gadis ini, gadis yang telah meninggal 3 tahun yang lalu? Tak dapat di percaya, bahkan mustahil.
"Dia... hidup?" tanya Ashido di dalam hati.
Wajah Inoue berubah menjadi murung. Gadis itu, gadis yang begitu berarti bagi Ichigo, lelaki yang diam-diam telah dicintainya semenjak SMP.
Kenapa ia kembali lagi? Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Inoue tak ingin Ichigo kembali lagi pada masa lalunya. Di lain pihak Inoue berharap Rukia dapat merubah Ichigo.
Sungguh perang batin yang membuatnya sakit sendiri. Mungkinkah kesempatannya untuk menjadi 'sesuatu' bagi Ichigo menghilang? Karena gadis ini telah kembali. Dan mungkin saja akan membawa Ichigo ke dalam pelukannya.
"Tidak mungkin…" kata Inoue dari dalam hati.
*(n_n)*
Kediaman Kurosaki
Diam-diam Rukia kini mendiami lemari berukuran sedang yang terletak di kamar Kaien. Semenjak dirinya terlihat, Rukia harus ekstra hati-hati dalam menampakkan wujudnya di kediaman Kurosaki ini.
Ia bingung harus tinggal di mana, sedangkan Kaien memaksanya untuk tetap berada di rumahnya. Maka ia pun terpaksa memutuskan untuk tinggal di tempat ini.
Keputusan itu menandakan, ia akan sering melihat Ichigo. Karena dirinya kini telah bebas, layaknya manusia pada umumnya, tak terikat oleh bros yang kini hanya Rukia simpan saja di salah satu laci kecil di samping lemari tidurnya.
Digesernya pintu lemari tersebut secara perlahan, gadis tersebut nampak berhati-hati dalam melakukannya. Takut seseorang yang kini berada satu kamar dengannya terbangun.
Begitu terbuka, ia bisa melihat wajah damai Kaien yang tengah tertidur pulas di dalam selimut berpola bendera Canada tersebut.
Dengan sekali lompatan lembut, kini Rukia berhasil menginjak lantai kamarnya. ditatapnya jam dinding berukuran sedang tak jauh dari dirinya. Jam tersebut menunjukkan pukul 2 pagi.
Entah kenapa, Rukia merasa haus dan ingin segera minum sekarang. Ia langkahkan sepasang kaki mungilnya perlahan menuju ke arah pintu, membukanya dan menutupnya kembali dari luar.
"Fiuh… akhirnya keluar juga," kata Rukia yang kini behasil keluar dari ruang lingkup kamar Kaien.
Pandangan iris violet itu beralih pada sebuah pintu di samping kamar Kaien, sebuah pintu dengan gantungan nomor 15 di tengahnya. Ia tahu, ini adalah kamar dari Ichigo.
Nampak menggoda, ia tergoda untuk memasukinya. Apa yang ia rasakan adalah rindu? Entahlah, Rukia tak mempedulikan hal itu, karena saat ini gadis itu telah berhasil memutar kenop pintu dan pintu tersebut terbuka, meskipun hanya sedikit.
Nampak sosok lelaki tinggi terbaring dengan bertelanjang dada saja. Rukia sempat blushing di tempat.
"Apa-apan dia?" bisik Rukia sangat lirih dengan wajah memerah.
Dibukanya lebar pintu tersebut, dan setelah ia berhasil memasukinya, ditutupnya perlahan hingga menimbulkan decitan lirih. Ditatapnya makhluk dengan rambut jingga tersebut.
Berjalan mendekat dan berhenti tepat di samping ranjang kecilnya. Selimut yang awut-awutan, rambut yang berantakkan dan kerutan kekal di dahinya. Ia nampak sangat pulas.
Rukia memandang ke sekeliling meskipun sekilas. Di samping bantal tidurnya terdapat sebuah kantung plastik yang transparan, berisi…
"Pil?" kata Rukia dari dalam hati, menatap bulatan kecil berwarna putih yang kini berada dalam genggamannya.
"Di… dia nge-fly? Mengkonsumsi ini?" tanya Rukia dengan voleme lebih keras karena terkejut.
Ditatapnya lelaki tampan tersebut kemudian. Rukia tak dapat mempercayai ini, terlalu banyakkah masalah di dalam otaknya sehingga ia harus memakan benda tersebut?
Benda yang konon dapat membuat kita merasa lebih baik bahkan seperti terbang melayang. Dan yang pasti, Rukia takkan mungkin mengetahuinya lebih jauh, ia bukan termasuk dalam golongan orang yang putus asa.
"Hei, kau..." kata Ichigo lirih.
Rukia terkejut setengah mati. Ichigo sedikit membuka matanya dan kini berhasil mencengkram sebelah tangan Rukia yang digunakan untuk menggenggam bungkusan tersebut. Alhasil, benda itu jatuh dan berserakan di lantai.
Masih dalam posisi tidur, Ichigo menyeringai dan menarik tangan Rukia mendekat. Lutut Rukia terbentur dengan ranjang Ichigo dan ia jatuh tepat di atas Ichigo. Tapi tentu saja ditahannya dengan salah satu telapak tangannya.
"Kau… kenapa kau meninggalkanku…?" kata Ichigo setengah sadar tak sadar, ia terlihat ngelantur.
Rukia terpaku di tempat, sungguh nada bicara Ichigo membuatnya terhenyuh. Dibenarkannya posisinya saat ini. Duduk tepat di samping Ichigo dengan tangan yang masih digenggam erat oleh lelaki tersebut.
"Kau… membuatku hancur… Rukia…" kata Ichigo menatap kabur gadis di depannya, Ia menangis.
Rukia tertegun, Ichigo mengeratkan genggaman tangannya pada pergelangan tangan Rukia. Lelaki itu menangis di depan matanya. Sungguh hati Rukia sampai dibuat berdesir oleh penampakan itu.
Dielusnya lembut rambut jingga lelaki yang tengah bertelanjang dada tersebut. Jantung Rukia sampai berdegup sangat kencang. Dan ia yakin, suara jantungnya dapat didengar jelas oleh Ichigo.
"Tidak, itu tidak benar…" kata Rukia lembut.
Ichigo masih saja menampakkan wajah sedihnya, otaknya sedikit terganggu oleh obat-obatan itu. Mana mungkin seorang Kurosaki Ichigo menangis di depannya? Lagi pula bukankah Ichigo membencinya?
"Kau meninggalkanku…" katanya lirih.
"Tidak, aku kan tetap di sini… untukmu…" kata Rukia sambil merengkuh Ichigo.
Gerak yang sama sekali tak pernah terpikirkan oleh otaknya. Sebelah tangan Rukia kini tergerak memeluk lengan kekar Ichigo. Matanya terpejam, berharap bisa menenangkan Ichigo dan dapat mengerti perasaan Ichigo saat ini.
Ichigo pun memeluk Rukia, dilingkarkannya sebelah tangannya yang bebas untuk melingkar tepat di pinggang mungil gadis tersebut. Awalnya Rukia terkejut, namun melihat keadaan Ichigo yang menyedihkan, Rukia pun membiarkannya.
Keduanya masih terdiam, saling merasakan kehangatan dari detik ke detik. Nampaknya mereka sangat menyukainya.
*(n_n)*
Sinar mentari pagi menyorot kedua insan yang tengah terlelap tersebut. Sepertinya mereka begitu nyenyak dengan tidur mereka semalaman penuh.
Perlahan kedua pasang mata tersebut terbuka secara perlahan. Menyipit karena pengaruh cahaya yang menyeruak masuk ke dalam kamar itu. Kedua mata yang memiliki warna berbeda tersebut pun segera beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya. Begitu terbuka sempurna,
"Kyaaa…!" teriak Rukia.
"Waaa…!" teriak Ichigo.
Keduanya secara serentak berteriak bersamaan. Dengan cepat Rukia menarik selimut dan menutupi tubuhnya, begitu pula dengan Ichigo. Mereka saling menutup badan mereka masing-masing.
"K… kau… telanjang! Dasar mesum!" teriak Rukia sekencang-kencangnya.
T`B`C`
Ruki ngetik nui fic sambil dengerin ending Bleach iank judul'na Echoes, Suer! bagus banget. Gag keitung deh berapa kali, coz semua trek di Winamp Ruki isi'na Echoes aja... Ck, ck, ck...*gila*... Jadi keinget Video'na... Mengharukan... u_u"
Arigatou and Mata Ashita "^_^"
R P
E L
V E
I A
E S
W E
