Hajimemashite, Minna…

Watashiwa ~ Ruki ~ desu

Disclaimer : Tite Kubo-Sensei

Warning : OOC, AU, Typo(s)

Pairing : IchiRuki

Rate : T


Trim'z ama semua yang udah nge'r'viu


Loonatic Aqueous

Mikan kuchiki

choCo purple

bl3achou4ro

erikyonkichi

Yurisa-Shirany Kurosaki

Chappy Ruru

Yupi Akayuki Kurosaki

Sayuukyo Akira Recie vold

Kurosaki Mitsuki

Jee-ya Zettyra

Yuuna hihra

Yuki-ssme

Nana Naa

Minami Kyookai

Edogawa Ruffy

SoraHinase

Liekichi chan

Aizawa Ayumu Oz Vessalius

Aika Ray Kuroba

Ochibi4me


LAST OR FUTURE

== Ruki ==

Last Chapter


Rukia's P.O.V

Seperti saat ini… Aku terdiam kembali, hanya ditemani oleh hembusan angin pagi. Kutulis kembali, untukmu. Kau tahu? Aku sangat menyukai angin, angin Musim Gugur yang sangat menyejukkan, atau bahkan menyakitkan.

Aku sungguh mengingatnya, saat pertama kali kita berjumpa. Bisa dikatakan bukan yang pertama kali, namun kesekian kalinya.

Mungkin aku bukanlah seseorang yang dapat kau anggap ada. Tapi inilah aku, aku ada di sampingmu meskipun kau tak memperhatikannya. Bahkan semua temanmu tak pernah mempedulikanku.

Mungkin dalam benakku pernah bertanya, "Untuk apa aku hidup di dunia?" Jawabnya ialah "Untukmu, untuk hidupmu." Itulah satu-satunya jawaban yang bisa kukatakan untuk menjawab pertanyaan itu.

Dengan goresan tinta sederhana, aku akan memperkenalkan diriku padamu. Aku, Rukia Kuchiki, pengagum rahasiamu. Mungkin kau terkejut atau bahkan benar-benar tak percaya. Aku selalu ada untukmu, tapi kau tak selalu bahkan tak pernah ada untukku.

Itulah kenyataan yang harus kuketahui, kuakui dan kuterima sejak aku dan kau berada dalam satu gedung bersama. Aku adalah salah satu dari ratusan temanmu saat kita masih menjadi penghuni tetap SMP Karakura.

Gadis yang tak menonjol dan biasa-biasa saja. Dan… Baiklah, aku memang salah satu siswi berprestasi di sekolah saat itu, tapi itu sangatlah buruk bila kujadikan salah satu daya tarikku padamu.

Kau tahu? Aku selalu melihatmu, saat itu adalah pertandingan sepak bola. Aku selalu melihatnya, senyumanmu. Aku bisa merasakan, semua yang ada pada dirimu begitu menyukai permainan itu, dan berkat itu pulalah, aku tersenyum untukmu.

Suatu saat nanti, aku ingin sekali menjadi salah satu dari ribuan kebahagiaan bagimu, termasuk sepak bola yang kau sukai. Aku ingin menjadi salah satu yang berarti untuk sekedar kau pedulikan. Tapi rasanya itu terlalu sulit kugapai.

Awalnya, aku merasa bahwa kita bisa menjadi sahabat? Teman? Atau bahkan orang yang dapat kau akui kehadiranku. Tapi apa daya, detak jantungku selalu tak terkendali saat berada di dekatmu. Membuatku pusing, dan entah kenapa terasa sangat sesak di dadaku.

Kuucapkan selamat tinggal saat kau melangkah pergi meninggalkan sekolah. Kulihat punggung tegapmu. Ku lihat kau sama sekali tak berpaling. Aku kehilaganmu saat hari dimana aku harus menjalani study baruku di SS. Dan aku tak tahu dimana dirimu setelahnya.

*(u_u)*

Setahun setelahnya, aku kembali ke Karakura. Kau tahu apa yang terjadi padaku saat itu? Aku terdiam dan bertanya-tanya,

"Bagaimana kabarmu?"

"Apa kau baik-baik saja disana?"

"Mungkinkah kita bisa bertemu lagi?"

Aku meringkuk, tergeletak lemah dalam ruangan itu. Bau obat menyengat, putih dan membosankan. Sudah sebulan lebih aku berada di sini. Mungkin karena penyakitku kambuh lagi.

Asal kau tahu, aku mulai muak dengan penyakitku yang satu ini. Selain memang tubuhku yang lemah, aku juga menderita infeksi akut pada lambungku. Dan tak tahu kenapa malah semakin menyakitkan akhir-akhir ini.

Terkadang hanya perlu waktu 3 hari saja aku harus tinggal di tempat membosankan itu. Tapi dokter berkata, sampai 2 bulan ke depan aku harus tinggal disana. Bukankah ini gila?

Mungkin saja sesuatu telah mereka rahasiakan padaku. Tapi aku tidak peduli. Yang lebih kupedulikan saat ini adalah hatiku. Hatiku yang meraung-raung meminta kehadiranmu, disini… sekarang.

Mungkin aku merasakan rindu yang berlebihan, tapi itulah yang kurasakan saat itu. Lagi pula kian hari kian sakit saja lambungku ini. Sampai-sampai aku menjerit-jerit dibuatnya. Bahkan kedua orang tuaku pun sampai ketakutan. Hahaha…

*(u_u)*

Dan saat itu, tepatnya sehari sebelum aku diizinkan untuk meninggalkan rumah sakit. Aku mengendap-endap, setidaknya aku ingin mencari udara segar, tepatnya, mencari tempat untukku merenung dan melihat kembali dunia luar yang aku rindukan. Aku senang sekali.

Tepat di situ, aku kembali bertemu denganmu, Kurosaki Ichigo, pria yang kukagumi. Dengan wajah panik kau berusaha menghentikanku, memangnya aku salah berdiri santai di geladak itu?

Mungkinkah kau menganggapku akan bunuh diri? Kurasa aku bukanlah orang bodoh yang akan mengakhiri hidup hanya karena sesuatu yang konyol. Kau tahu? Kau terlihat berbeda saat itu, lebih tepatnya pucat atau semacamnya.

Pada saat itu aku tersenyum lembut padamu, sesaat setelah kau meneriakiku, "Tunggu!". Tapi yang membuatku kecewa adalah, kau sama sekali tak mengenaliku atau menyebutkan namaku. Sungguh tak dapat kupercaya. Mungkin memang benar, selama ini kau tak pernah menganggap kehadiranku.

Dan di waktu bersamaan, aku merasakan pusing yang amat sangat, dan tanpa kuduga sebelumnya, aku tercebur ke dalam danau besar itu. Sial! Padahal baru saja aku bisa bertemu denganmu lagi.

Sesaat aku terdiam di dalam air, aku tersenyum dan memejamkan mata, mengingat ekspresi terkejutmu saat melihatku terjun ke dalam danau. Membuatku ingin tertawa… tapi…

Byur!

Aku mendengar suara, suara sesuatu menghantam danau dan itu… kau! Tapi… kau tidak bisa berenang? Sungguh konyol sekali. Dan mau tak mau aku harus menolongmu. Kau sangat berat saat itu.

"Dasar bodoh!" itulah kalimat pertama yang kuucapkan padamu. Aku tak menyadarinya, itu semua meluncur begitu saja dari mulutku.

Dan pertengkaran kecil pun terjadi diantara kita. Dan akulah yang terpaksa mengalah dan pergi meninggalkanmu dengan harapan kita dapat bertemu kembali. Ternyata kau menarik juga saat berbicara denganku, kau tersipu, sungguh manis.

*(u_u)*

Hei, kau berada satu ruangan denganku! Dan yang paling kutakutkan, kenapa kau dirawat disini? Ini adalah salah satu ruangan khusus untuk penderita penyakit dalam akut atau bahkan parah.

Mungkinkah kau mengidap suatu penyakit yang berbahaya? Atau bahkan mematikan? Aku sungguh ngeri memikirkan apa yang ada di dalam benakku saat itu.

Sejak aku tahu kau akan tinggal lama disini, aku mutuskan untuk lebih lama bertahan di dalam ruangan membosankan itu, setidaknya kau akan selalu ada di sampingku untuk sekedar kulihat.

Saat kulihat kau terbengong saat itu, aku memberanikan diri untuk menyapamu, dan sekali lagi kupanggil kau 'Bodoh'. Dan kau berkata kau disini untuk menunggu… kematian?

Tidak! Jangan katakan itu! Aku ingin kau hidup dan tinggal disini bersamaku, tak buruk kan? Aku membentakmu, itu semua di luar kendaliku. Kau mengatakan seolah-olah suatu kematian adalah hal yang begitu enteng dan mudah. Aku tak bisa menerimanya.

Dan dimulai sejak saat itu, aku diberi kesempatan kedua untuk mengenalmu lebih jauh. Mengobrol bersama, dan ini sangat membuatku bahagia, sangat!

Aku menemukan satu hal baru darimu, kita berulang tahun di hari yang sama! Sungguh kebetulan sekali. Tapi kau berkata, hidupmu tak jauh dari waktu 2 bulan lagi, membuatku sedih.

Padahal kita sudah berjanji akan bertukar kado saat hari itu tiba. Dan apa kau tahu yang kupikirkan saat itu? Salah satu dari kita harus hidup, dan aku menginginkan, kaulah yang harus hidup.

20 hari sebelum tenggang hidupmu diramalkan usai, aku telah mengambil sebuah keputusan. Kutulis sepucuk surat sederhana untukmu dan keluargaku. Dan juga sebuah bingkisan indah yang akan menjadi penepat janjiku padamu. Kau sudah tahu kan, apa isinya? Bros salju itu.

Tekatku sudah bulat, aku ingin memberikan sesuatu padamu, dan yang paling tepat adalah hidupku untukmu. Aku ingin menjadi sesuatu dalam ingatanmu. Setidaknya, aku berguna bagimu.

Saatnya tiba, kulihat kau baru saja masuk ke dalam ruangan dengan membawa 2 botol cola. Aku berpikir, apa kau gila membawa cola untuk dua orang yang sama-sama pesakitan?

Aku berdiri lesu pada pembatas balkon ruangan kita. Aku melihatmu tapi tiba-tiba, kau terlihat pucat dan perlahan kau tersungkur di lantai dengan darah segar memenuhi bahkan keluar dari mulutmu. Aku masih terdiam.

Saat itu dadaku terasa sakit, sangat sakit melihatmu menderita tepat di depan mataku. Aku tersenyum kecut padamu. Oh Tuhan, kenapa semua ini harus terjadi pada kami?

Aku harus cepat, itulah pikirku saat itu. Dengan segera kupanjat pembatas balkon itu, waktumu dan waktuku tak banyak. Aku harus cepat dan mengakhiri semua ini. Dan masih samar-samar aku bisa mendengar kau berusaha memanggil namaku.

Tidak, aku tidak boleh goyah. Aku harus melakukan sesuatu sekarang. Dengan senyum lepas kutatap lantai jauh di bawah sana, terasa mengerikan. Tapi… aku yakin, ini akan sangat membantumu.

Aku pun terjun dan berbisik, "Aishiteru, Ichigo." kututup erat mataku, aku takut, sangat takut.

*(u_u)*

Persaanku kacau! Kau membenciku? Kenapa kau membenciku? Padahal aku telah berkorban untukmu. Aku tidak bisa menerimanya. Bertahun-tahun aku menjadi hantu gentayangan karena perasaan bencimu padaku. Dan kau membuang bros itu? Ini tidak mungkin.

Sampai suatu hari kau menerimanya kembali, dan yang pasti dengan sedikit tipuan aku berhasil mendekatimu. Dengan satu langkah awal ini, aku berharap akan mendapatkan kata maaf darimu.

Tapi… saat kau tahu aku adalah Rukia yang bunuh diri di depan matamu, kau menjadi sangat membenciku. Oh, tidak! Bukan ini yang kuharapkan. Aku ingin kau memaafkanku, karena hanya dengan itulah aku bisa tenang meninggalkanmu.

Dan hari itu pun tiba, saat dimana kau berkata untuk memaafkanku dan menyuruhku pergi. Aku bahagia sekaligus sedih. Dan juga kecewa karena kau, orang yang sangat kusayangi menolakku mentah-mentah saat itu. Bahkan kau mengusirku, tepatnya menyuruhku pergi.

Memang aku telah bersalah… bunuh diri, melanggar janji dan berbohong padamu. Tapi semua itu kulakukan hanya untukmu. Tapi sudahlah, aku berharap, setelah kau membaca surat ini, kau mau merubah perasaanmu padaku.

Setidaknya ingatlah aku yang telah menjadi teman terburukmu, akuilah keberadaanku. Hanya itu, aku hanya ingin jujur saat semua benar-benar kau putuskan. Dan keputusanmu disaat terakhir adalah membenciku selamanya. Aku terima itu.

Dan aku mohon padamu, di kehidupan barumu ini, carilah seseorang yang benar-benar berarti untukmu. Seperti aku yang menganggapmu sangat berarti melebihi apa pun.

Hati yang kudonorkan padamu bukanlah sesuatu yang bisa kau anggap enteng, kau harus hidup dan bahagia di dunia ini. Karena itulah yang kuinginkan.

Tetaplah tersenyum seperti mentari pagi yang menyejukkan, dan jadilah angin yang selalu menghembuskan kebahagiaan untuk semua orang.

Terima kasih,

Rukia


*(u_u)*

Normal P.O.V.

Lelaki itu kini tengah berdiri kokoh di atas sebuah geladak rapuh, dimana begitu sarat akan kenangan yang dimilikinya. Saat dimana ia bertemu kembali dengan seorang gadis bernama Rukia Kuchiki.

Hatinya terasa galau, dan… menyesal. Mungkinkah ia bersikap salah, atau bahkan terlalu tak peduli dengan apa yang ada di sekitarnya, ia tak peka. Menganggap sesuatu selalu sederhana, dialah Ichigo Kurosaki.

Air mata yang membasahi pipinya kini telah mengering sempurna. Dirematnya penuh rasa amarah lembaran-lembaran kertas manis bertuliskan ribuan kenyataan. Dimana semua kebodohannya terungkap.

"SIAL!" sudah kesekian kalinya, lelaki itu, Ichigo, berteriak, mencoba melampiaskan segala tekanan dalam hatinya.

Tubuhnya jatuh, lututnya menabrak kasar geladak yang terbuat dari kayu rapuh itu. Ia bersujud, menyesali. Bahkan ia kembali mengerang dan menangis. Ini terlalu berat untuknya. Tapi tentu saja, semua telah terlambat.

"Maafkan, aku… Rukia…" sepatah-patah kalimat berhasil diucapkannya. Hanya itu yang bisa ia katakan. Permohonan maaf yang terasa sangat tak berguna. Karena ia telah terlambat, sangat terlambat.

Flashback

Keduanya secara serentak berteriak bersamaan. Dengan cepat Rukia menarik selimut dan menutupi tubuhnya, begitu pula dengan Ichigo. Mereka saling menutup badan mereka masing-masing.

"K… kau… telanjang! Dasar mesum!" teriak Rukia sekencang-kencangnya.

Ichigo terdiam sesaat, dipandanginya sinis gadis yang secara terang-terangan telah mengganggu kehidupannya, ia terlihat muak.

"Apa yang kau lakukan disini? Ini kamarku!" kata Ichigo dengan nada akhir yang ditekan kuat.

Rukia terdiam dan memalingkan wajahnya yang kini telah memerah sempurna. Ia tak sanggup melihat lelaki di hadapannya tengah bertelanjang dada ria serta menatapnya setajam itu.

"Cih! Asal kau tahu? Kau yang menyuruhku untuk disini semalam," kata gadis itu begitu lancar tanpa beban.

Ichigo melebarkan matanya, ia terkejut. Ia masih tak percaya, berani-beraninya ia meminta gadis itu untuk menemaninya. Ini di luar kesadarannya atau bahkan keinginan terpendam yang seharusnya tak diketahui siapa pun, terkhusus Rukia sendiri.

"Aku mengigau, aku tidak mungkin memintamu untuk bersamaku, karena aku sangat membencimu," kata lelaki tersebut sangat datar dan kini mengambil posisi berdiri bersiap meninggalkan ranjangnya.

Rukia hanya mendengus kesal, diliriknya lelaki yang kini telah berjalan santai menjauhinya. Terlihat begitu angkuh dan sangat tak peduli. Lelaki itu membuat Rukia harus bersabar sekarang.

Dan lirikan Rukia berubah menjadi sebuah lototan saat dengan live ia melihat Ichigo dengan santainya menurunkan celana yang ia pakai dan kini hanya menyisakan celana boxer pendek berwarna hitam saja.

"Ap-apa yang kau lakukan? Da-dasar bo-bodoh!" teriak Rukia gugup dengan wajah yang ia tolehkan 180 derajat dari posisi Ichigo berada.

Dengan muka yang teramat malas Ichigo menatap Rukia yang masih membuang muka padanya, ia tersenyum sekilas dan berkata, "Aku ingin kau pergi sekarang, ini wilayah pribadiku."

"Baiklah! Aku akan pergi! Sekarang!" teriak Rukia yang langsung turun melompat dari ranjang dan berlari menuju pintu dengan muka memerah.

Brak!

Suara bantingan pintu tersebut kembali membawa kamar Ichigo dalam kesunyian. Dalam hati ia tersenyum namun entah kenapa wajahnya selalu nampak dingin dan seolah tak membutuhkan apa pun.

"Sial," desisnya.

*(u_u)*

"Kenapa sulit sekali mendapatkan kata maaf dari Ichigo ya?" kata Rukia pelan untuk dirinya sendiri.

Saat ini gadis berpawakan mungil tersebut tengah berjalan santai melewati trotoar jalan raya. Baru 5 menit yang lalu jam sekolahnya telah usai dan begitu bel berbunyi, ia langsung beranjak meninggalkan sekolah tersebut.

Dengan membawa tas jinjing sekolahnya, gadis tersebut berjalan santai sambil menolehkan pandang ke kanan dan ke kiri. Keramaian membuat bibirnya tersenyum lebar.

Sudah sekian lama, ia tak dapat menjalani hidup layaknya manusia yang hidup di atas bumi. Ia sangat senang, sampai…

"Apa itu... Ichigo?" bisik Rukia begitu melihat sesosok lelaki yang begitu dikenalnya.

Lelaki itu, Ichigo, kini tengah berjalan mesra dengan seorang gadis manis berkuncir kuda ke atas dengan mata berwarna orange terang. Sangat manis dan terlihat begitu periang.

Pandangan Rukia terpaku, namun sepasang kakinya terus melangkah tanpa arah. Ia tak dapat mempercayainya, atau lebih tepatnya tidak terima dengan apa yang dilihatnya.

Hatinya terasa amat sakit, jantungnya berdetak dengan gelisah, tapi bibirnya terbungkam rapat, pandangannya berubah menjadi sayu dan…

"Rukia?" begitulah arti gerak bibir Ichigo yang berjalan berlawanan arah dengan Rukia di sebrang jalan.

Sepasang iris musim gugurnya bertemu langsung dengan sepasang mata violet yang sayu itu. Dengan cepat Rukia mengalihkan pandangannya, ia tertunduk sedih. Dilanjutkannya gerak sepasang kakinya untuk terus melangkah, tanpa melihat ke arah lelaki itu lagi.

Gadis itu merasakan sakit, tepat di dasar hatinya. Didongakkannya kepala miliknya menatap langit biru yang begitu cerah saat itu, gadis itu tersenyum kemudian memandang ke arah samping kanan dari dirinya.

Dilihannya saat ini, sebuah bus berwarna biru terang tengah melaju kencang menuju ke arahnya. Gadis tersebut berhenti tepat di tengah jalan. Dipeluknya erat tas jinjing yang ia bawa saat itu. Dipejamkannya sepasang mata violetnya secara erat.

Ia merasa hidupnya tak berarti, malah sangat salah bila harus menerima kenyataan di depan matanya. Sangat menyakitkan. Dan memang tak seharusnya, ia hidup di atas dunia lagi, ini salah.

Ckiiittt!

Suara decitan rem membahana di sekitar mereka, dua sejoli yang tengah berpelukan, tepatnya seorang gadis yang dipeluk erat oleh seorang lelaki tampan dan bertubuh tinggi dengan rambut mencoloknya.

Sebelah tangan kanan lelaki itu terangkat dalam posisi menyetop dengan telapak tangan yang nyaris menyentuh bagian depan bus. Sedangkan tangannya yang lain memeluk erat tubuh gadis tersebut, begitu sarat akan tujuan hanya untuk melindunginya.

Perlahan dibukanya sepasang iris violet tersebut, ditatapnya saat ini, dada bidang lelaki tersebut sudah dapat membuatnya mengerti, dia adalah Kurosaki Ichigo.

"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Ichigo begitu sepasang matanya menatap suatu keganjilan di kedua mata Rukia.

Keheningan menyelimuti atmosfer di sekitar mereka. Ingin rasanya, gadis itu berkata, "Aku mencintaimu," tapi…

"Aku ingin kau memaafkanku, Ichigo… itu saja, aku tidak akan mengganggumu lagi," kata gadis tersebut sambil tertunduk lesu menatap aspal yang ia pijak.

Pelukan tersebut telah terlepas, bibir lelaki tersebut mulai terbuka dan berkata, "Aku memaafkanmu, sejak dulu aku sudah memaafkanmu. Tapi tolong… jangan mengangguku lagi,"

Terkejut? Tentu saja, gadis tersebut melebarkan matanya, dan terdiam di tempat. Ichigo hanya bermuka datar dan meninggalkan gadis tersebut sendiri.

And flashback

Disekanya secara kasar tetesan air mata yang telah mengalir membasahi pipinya. Sudah kedua kalinya Ichigo harus menangis karena kebodohannya. Ditinggalkan seseorang yang sangat berharga sebanyak dua kali adalah pengalaman buruk dalam hidupnya.

Kembali diingatnya segala, senyum yang diberikan Rukia kepadanya, tapi kenapa? Dirinya sendiri malah menolak kehadiran gadis tersebut secara terang-terangan. Sangat sulit untuk dipahami.

Lembaran-lembaran surat tersebut kini telah dilepaskannya dan berhasil diterbangkan jauh oleh sang angin, seluruh kata di dalamnya telah terekam sempurna di dalam benak Ichigo. Ia tak membutuhkan lagi surat tersebut, yang ia inginkan saat ini adalah Rukia, hanya Rukia.

Dilangkahkannya sepasang kaki miliknya, terlihat begitu rapuh dan putus asa. Sepasang mata musim gugurnya memandang kosong arah depan. Sedetik kemudian ia tersenyum, bahkan sedikit tertawa.

"Aishiteru yo, Rukia…" lelaki tersebut berkata.

Ia terjun, sosoknya menghilang. Takkan ada seorang pun yang mengerti, bahkan mengetahuinya. Tubuhnya menghilang di tengah danau luas itu. Tak berjejak sama sekali.

*(u_u)*


Tetaplah tersenyum seperti mentari pagi yang menyejukkan, dan jadilah angin yang selalu menghembuskan kebahagiaan untuk semua orang. Aku akan selalu bersamamau, Ichigo. Karena itulah janjiku. Aku takkan mengucapkan kata berpisah, Sampai jumpa…

Rukia,


Ichigo's P.O.V. - Komunitas Roh

Aku melihatnya! Ia membelakangiku, gadis itu… dengan memakai terusan manis berwarna merah jambu lembut. Aku ingin menyampaikan sesuatu dan aku harus menyampaikannya sekarang. Bagaimana sebenarnya isi hatiku, dan bagaimana kenyataan yang sesungguhnya.

Aku terus berlari, awan biru menemani langkahku menuju padanya. Ingin kusampaikan, betapa aku sangat mencintainya, dan takkan pernah kubiarkan ia pergi untuk ketiga kalinya. Aku membutuhkannya, sangat menginginkannya.

"Hosh… hosh… hosh…" kuhela napas secara rakus, dia memalingkan wajah dan tersenyum.

"Aku sudah menunggumu, terima kasih." katanya begitu lembut.

Apakah ini mimpi? Bahkan ia sama sekali tak terkejut melihatku. Tapi sudahlah, aku tersenyum dan memandangnya lembut. Aku rindu padanya.

"Aku juga menci…" kataku namun terputus.

"Aku tahu," katanya dan kini sebelah tangan hangatnya menggenggam erat sebelah tanganku. "… aku tahu, kau tak perlu mengatakannya," lanjutnya dengan senyum yang begitu sangat kurindukan.

Aku tersenyum mendengar apa yang ia katakan padaku, setiap kata yang terucap dari bibir itu membuatku merasa bahagia, sungguh.

"Lihatlah langit biru itu," katanya sambil menatap ke depan dan mendongakkan kepalanya untuk menatap langit.

Aku mengikuti geraknya. Kutatap langit cerah di atas kami dengan perasaan heran, apa maksudnya?

"Terima kasih, Aku senang bisa melihatmu lagi," katanya pelan.

Aku hanya tersenyum sambil terus menatap langit. Kaos hitam yang kukenakan tetaplah sama saat aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku dan mengejarnya. Ini membuatku bahagia, sangat.

Kami memandang langit itu bersama. Tak perlu melihatnya lagi, karena dengan merasakan eratnya genggaman tangan kami, aku bisa merasakan, kami akan bahagia setelah ini. Dengan bersamamu, pengagum rahasiaku, dan juga… kekasih sepanjang hayatku.

T`A`M`A`T`


Ok, Photo endingnya terpampang di `AvAtAr Profil RuKi PeRiOdE 5`... kalian bisa lihat bagaimana keadaan akhir dari fic ini dalam bentuk gambar.


Arigatō en Sayōnara "^_^"


R P

E L

V E

I A

E S

W E