Summary: Cerita Aku no Meshitsukai series alias Servant of Evilnya Vocaloid, tapi dijadiin versi Naruto. Sakura's point of view.
Disclaimer: Naruto sama Vocaloidnya udah jelas bukan punya Saku!
.
Murasaki Sakura Presents:
MIDORI NO MUSUME: INTRODUCTION
.
.
~oOo~
.
Mukashi mukashi aru tokoro ni
Bouryaku uzumaki kuni no naka
Heion no kachi wo shiru wa
Sunda ryokuhatsu no machi musume
.
~oOo~
.
Green Kingdom terletak di sebelah Blue Kingdom. Meskipun kecil, Green Kingdom adalah tempat yang sangat makmur dan tentram. Dipimpin oleh seorang raja muda yang bijak, namun kondisi kesehatannya buruk. Raja muda itu bernama Kakashi. Karena kesehatannya yang sering kali memburuk, Kakashi memimpin Green Kingdom dengan bantuan keponakannya, Sakura, dan orang kepercayaannya, Iruka.
Green Kingdom memiliki hubungan cukup baik dengan Blue Kingdom. Namun pemimpin Green Kingdom dan Blue Kingdom jarang sekali bertemu. Kakashi pun sepertinya tak memedulikan tentang pertemuan, toh tubuhnya yang lemah memang tidak mengijinkannya. Sedangkan Iruka dan Sakura sudah merasa puas asalkan kerajaan kecil mereka aman dari bahaya peperangan.
.
.
Putri Sakura saat ini berumur 15 tahun. Empat belas tahun yang lalu, Sakura dipungut oleh Kakashi. Kakashi menemukannya menangis di dalam sebuah keranjang di Red Kingdom. Lalu karena merasa kesepian karena tak memiliki seorang anak pun, Kakshi lalu menjadikan Sakura keponakan angkatnya.
Sakura adalah anak yang baik hati dan penyayang. Rambutnya berwarna pink dan kulitnya seputih porselen. Matanya yang sewarna dengan batu emerald selalu memancarkan kasih sayang dan keceriaan. Bibirnya pun tak pernah lelah untuk menyunggingkan senyum sehangat mentari. Meskipun umurnya baru 15 tahun, Sakura tergolong gadis yang cerdas dan cepat dalam mengambil keputusan. Karena kedua hal itulah Kakashi memercayainya untuk membantu Iruka dan dirinya memimpin Green Kingdom. Selain itu, sifat dan kepribadiannya yang terkenal cerdas dan baik hati membuatnya dihormati di kalangannya, meskipun tak banyak penduduk Green Kingdom yang mengetahui wajahnya.
.
~oOo~
.
Nozomare umareta kono inoshi
Heiwa no tame to ii kikase
Owari no tame ni enjiteru
Boukoku no tame no sujigaki wo
.
~oOo~
.
Sejak dulu putri Sakura memang cerdas, sampai-sampai sering kali Iruka dan pamannya kewalahan karena aksinya kabur dari Istana. Sakura kecil memang sering pergi jalan-jalan keluar Istana tanpa pengawal. "Untuk melihat kerajaannya tercinta," itulah alasannya saat ia ditanya oleh Iruka dan pamannya.
Sampai suatu hari Kakashi kewalahan dengan kelakuan Sakura yang sering bolak-balik keluar-masuk Istana tanpa pengawalan. Dan di ulang tahun Sakura yang ke-12, Kakashi memberinya sebuah pondok sederhana di sebuah desa kecil di dekat Istana yang bisa ditempatinya—tentu saja dengan beberapa orang pelayan. Sakura yang mengetahui hal ini sangat senang, karena akhirnya ia bisa keluar dari Istana semaunya.
.
.
Tiga tahun kemudian, Sakura telah tumbuh menjadi anak yang mandiri dan baik hati. Dia hanya tinggal berdua dengan pelayan pribadinya, Matsuri, di pondok pemberian Kakashi, karena para pelayang yang lain lebih memilih untuk bekerja di Istana
Sakura juga tak pernah lupa pada pamannya tercinta, setiap minggu dia selalu mengunjungi pamannya itu. Namun keadaan Kakashi semakin hari semakin memburuk, dokter kerajaan pun tak bisa menyembuhkannya sepenuhnya. Meskipun begitu, Sakura tetap menyayangi pamannya dan setia mengunjunginya.
"Paman Kakashi! Selamat siang," sapa Sakura riang sambil membuka pintu kamar Kakashi yang bernuansa hijau
"Sakura?" tanya Kakashi yang terbaring lemah di kasurnya. Gadis berambut pink itu tersenyum dan menghampiri pamannya
"Sakura bawa buah pir kesukaan paman." Sakura menunjukkan keranjang berisi beberapa buah pir hijau yang masih segar
"Maaf selalu merepotkanmu, Sakura." Kakashi membetulkan posisinya dan tersenyum lemah
"Tidak apa-apa kok. Paman kan sama sekali tidak merepotkanku."
Kakashi menyibak selimutnya yang sewarna dengan daun pohon cemara.
"Paman mau apa? Biar Sakura yang ambilkan," tanya Sakura dengan cemas
"Hanya mau minum," jawab laki-laki berambut silver itu. Setelah mendengarnya, Sakura langsung mengambilkan gelas yang berada di atas meja kecil. "Ini,"
Kakashi tersenyum kecil dan meneguk air dari gelas itu dengan perlahan. Setelah selesai, dia memberikan gelas itu pada Sakura, dan Sakura menyimpannya kembali di tempat semula. Kakashi membaringkan tubuhnya di kasurnya yang bersprei hijau lembut dengan bantuan Sakura. Lalu Sakura menyelimutinya lagi.
"Tidak usah," Kakashi membuka selimutnya lagi sampai sepinggangnya
"Tapi nanti paman tambah sakit." kata Sakura
"Paman tidak apa-apa kok," kata Kakashi dengan senyum yang dipaksakan, "Pakai selimut di siang hari membuatku kepanasan." imbuhnya
"Baiklah kalau begitu,"
"Ngomong-ngomong bagaimana dengan kabarmu, Sakura?" tanya Kakashi memulai topik baru
"Sangat baik. Akhir-akhir ini Sakura sedang senang berjalan-jalan di hutan dekat pondok yang paman berikan padaku itu." jawab Sakura riang
"Benarkah? Katakan, apa hutannya indah?"
"Ya, sangat indah! Di sana ada banyak hewan-hewan lucu serta bunga-bunga indah. Tapi yang paling Sakura suka adalah pohon besar yang ada di sana. Sepertinya usianya sudah ratusan tahun, habisnya ukurannya benar-benar besar!" jelas Sakura dengan mata yang berbinar
"Wah… Sepertinya sangat bagus, paman jadi ingin ke sana." kata Kakashi
"Tentu saja boleh. Tapi nanti, kalau paman sudah sembuh!" kata Sakura sambil mengedipkan sebelah matanya
"Hahahahaha…" Kakashi hanya tertawa mendengar pernyataan keponakan angkatnya itu
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, "Yang Mulia, ini saya, Iruka,"
Sakura memandang Kakashi, lalu Kakashi mengangguk. "Masuklah,"
Seorang pemuda berambut cokelat yang diikat tinggi seperti nanas dan memiliki bekas luka yang melintang di hidungnya memasuki ruang tidur Kakashi. Jasnya yang berwarna hitam sangat serasi dengan dasi hijau tuanya dan rompi cokelatnya. Di dadanya tersemat sebuah bros perak imitasi dengan motif burung dan bunga lili. Dengan langkah tenang, pemuda bernama Iruka itu menghampiri Sakura dan Kakashi.
"Saatnya makan siang, Nona." katanya sambil memandang Sakura, "Anda ingin makan di ruang makan atau di sini?" tambahnya
"Bawa saja ke sini. Aku ingin makan dengan paman." jawab Sakura
"Baik," Iruka membungkuk, lalu menghilang di balik pintu kamar Kakashi.
.
~oOo~
"Aa… gomenasai…"
.
Ao no ouji ga oshinobi de
Kono machi e to kuru naraba
Guuzen yosooi chikazuite
Kokoro ni mo nai egao
.
"Ara, hajimemashite?"
.
~oOo~
.
Beberapa hari kemudian, Sakura sedang berjalan-jalan di jalan utama di Green Kingdom. Gadis bermata emerald itu tengah asyik melihat-lihat aksesori yang dijual di pinggir jalan. "Gelang ini benar-benar indah." katanya mengambil sebuah gelang dari untaian kerang.
"Pilihan yang bagus nona. Gelang itu memang sangat pantas untuk nona," kata si pedagang sambil mengacungkan jempolnya dan tersenyum lebar, menampakkan giginya yang bersinar
"Benarkah?" tanya Sakura senang
"Ya! Tentu saja. Gelang ini sangat cocok untuk gadis secantik Anda!" si pedagang menggaruk rambut bermodel bobnya
"Baiklah, kalau begitu aku beli ini," kata Sakura, lalu menyerahkan uangnya
"Terima kasih, Nona!" si pedagang kembali tersenyum lebar, menampakkan gigi bersinarnya untuk kedua kali. Sakura membalas senyumannya dan pergi meninggalkan pedagang itu.
Gadis itu tersenyum sambil memandangi gelang di tangannya dan sedikit bersenandung. Tiba-tiba dia menabrak seseorang dengan cukup keras. "Aduh!"
"Maaf!" kata Sakura spontan. Orang yang ditabrak Sakura menoleh kearahnya. Sakura menatapnya. Laki-laki berambut biru tua bermodel emo dengan mata onyx dan kulit putih. Dia mengenakan pakaian putih dengan ornamen-ornamen biru tua dan syal biru tua yang senada. Pemuda itu menatap Sakura balik.
"Aaa… Maafkan aku… Aku tidak sengaja."
"Bukan masalah,"
"Umm…" Sakura mengangguk. Saat ia membalikkan tubuhnya, tangan pemuda itu mencegahnya.
"Eeeeh? A-ada apa?" tanya Sakura gugup
"Namamu." kata pemuda itu. Sakura menatapnya bingung
"Siapa?" sambung si pemuda
"Sakura." jawab Sakura singkat
"Nama yang indah," puji si pemuda. "Aku Sasuke,"
"Eeeeh… Salam kenal…" kata Sakura dengan senyumnya. Pemuda bernama Sasuke itu hanya mengangguk singkat sebelum menghilang di balik orang-orang yang memadati jalan utana Green Kingdom. Sakura menatap ke tempat pemuda misterius tadi dengan pandangan aneh, 'Jarang sekali ada pemuda se'biru' itu di Green Kingdom' pikir gadis bermata emerald itu.
.
~oOo~
.
Aku no hana karen ni saku
Tsukurareta irodori de
Mawari aware na yabou e no
Aa ishizue tonari kuchite yuku
.
~oOo~
.
Beberapa hari kemudian Sakura sedang memetik bunga di pinggir hutan yang ada di dekat Istana. Di tangan gadis itu terdapat keranjang berisi beberapa buah pir dan strawberry. Saat itulah dia melihat seorang pemuda dengan rambut emo berwarna biru tua berjalan di jalan setapak. 'Bukankah itu pemuda bernama Sasuke yang waktu itu?' kata Sakura dalam hati. Namun, karena tidak merasa yakin akan pendapatnya, Sakura tidak memedulikan pemuda berambut emo itu dan melanjutkan aktifitasnya sambil bersenandung.
PLOK
Tiba-tiba Sakura merasa ada yang menepuk pundaknya. Gadis itupun menoleh dengan spontan. Didapatinya pemuda misterius bernama Sasuke tengah berdiri di hadapannya. Sasuke menatapnya dengan mata onyxnya yang gelap. Sakura membalas tatapannya dengan takut.
"Kau Sakura?" Sakura mengangguk
"Sasuke?" tanyanya ragu. Pemuda berambut emo itu mengangguk dan tersenyum kecil, "Senangnya kau masih mengingatku," Sakura hanya tersenyum mendengar pernyataan Sasuke dan kembali memetik beberapa tangkai bunga.
"Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini?" tanya Sasuke
"Seharusnya pertanyaan itu kuajukan terlebih dahulu padamu," sahut Sakura tanpa menolehkan kepalanya
"Kenapa?" tanya Sasuke penasaran
"Karena kau pasti bukan penduduk Green Kingdom kan?" Sakura menoleh pada Sasuke. Setelah mendengar perkataan Sakura, Sasuke hanya sedikit menyeringai
"Kau benar. Dari mana kau tahu?"
"Melihat penampilanmu pun langsung ketahuan kan? Tidak ada orang yang se'biru' kau di Green Kingdom. Jadi kurasa kau berasal dari Blue Kingdom," tutur Sakura
"Hahaha… kau benar. Aku memang berasal dari Blue Kingdom, tepatnya aku adalah pangeran Blue Kingdom."
"Jadi apa yang kau lakukan di sini?" potong Sakura cepat
"Hanya ingin berkunjung ke kerajaan tetangga. Kudengar akhir-akhir ini Raja Kakashi dalam kondisi tidak baik. Tapi aku sempat menjenguknya." Sasuke mengangkat bahunya. Sakura hanya terdiam mendengar jawaban Sasuke
"Hei, kau belum menjawab pertanyaanku. Sedang apa kau di sini?" Sasuke mengulang pertanyaannya
"Aku sedang memetik bunga, untuk pamanku." kata Sakura
"Hn," Sasuke hanya ber'hn' ria sambil memerhatikan Sakura
"Pamanku badannya lemah. Beberapa tahun yang lalu paman terkena penyakit hepatitis, sekarang sudah sampai stadium B. Selain itu penyakit jantungnya memperparah keadaan. Dokter bilang kemungkinan sembuhnya sudah tidak ada." jelas Sakura panjang lebar dengan lirih
"Begitu ya…" kata Sasuke. Sakura mengangguk dan tersenyum, "Tapi aku sangat sayang sama paman. Hari ini aku membawakannya buah pir kesukaannya dan strawberry yang baik untuk flu-nya."
"Flu? Pamanmu kena flu juga?" tanya Sasuke heran sambil mengangkat alisnya. Sekarang dia merasa penasaran dengan laki-laki yang diceritakan Sakura yang adalah pamannya.
"Ya, baru tiga hari yang lalu, makanya hari ini aku belikan strawberry. Paman juga sedikit demam sih…" kata Sakura
"Hn… Boleh aku ikut menjenguknya? Aku jadi penasaran dengan pamanmu." tanya Sasuke
"Tentu! Ayo!" ajak Sakura dengan bersemangat
.
.
Sasuke merasa sangat bingung saat dirinya dan Sakura memasuki gerbang Istana Green Kingdom. 'Apakah paman Sakura bekerja di Istana?' tanya Sasuke dalam hati. Karena takut menyinggung perasaan Sakura, dia mengunci mulutnya dan membiarkan pertanyaan itu disimpannya dalam hati. Sakura yang tidak menyadari perubahan ekspresi Sasuke terus melangkah di depan Sasuke, memimpin jalan mereka berdua.
Sakura dan Sasuke melewati lorong-lorong Istana Green Kingdom yang dicat sewarna dengan batu emerald. Karpet yang dihamparkan tidak sampai menutupi seluruh lantai lorong itu. Karpet itu terbuat dari beludru dengan warna turquoise lembut, sedang lantainya terbuat dari batu marmer berwarna putih. Lukisan-lukisan bertema tumbuhan dan hewan, beberapa foto, lampu dinding, dan kain dengan berbagai ukuran dan lambang menghiasi dinding lorong yang teduh itu. Kusen jendela-jendela di lorong itu dicat putih, sehingga menambah suasana tenang di sana. Tanpa disadarinya, Sasuke tersenyum kecil.
Sasuke semakin bingung saat mereka berdua sampai di sebuah pintu besar. Sakura mengetuk pintu itu tiga kali.
TOK
TOK
TOK
Ketukannya lambat, tapi cukup nyaring. Tak lama kemudian terdengarlah jawaban dari sang penghuni kamar, "Siapa?"
"Ini Sakura,"
"Masuklah," sahut seseorang dengan suara berat dari balik pintu. Sakura memutar kenop pintu dan membuka pintunya secara perlahan. Menampakkan kamar bernuansa hijau yang sangat besar dan rapi. Karpet beludrunya berwarna sehijau daun pohon cemara, dindingnya dicat dengan warna hijau laut, furnitur kayunya dicat warna putih bersih. Di sudut kamar terdapat sebuah jendela besar yang terbuka lebar, menampakkan langit biru dan awan putih yang tipis.
Sakura menghampiri seseorang yang terbaring di kasur. Orang itu—atau laki-laki itu menarik selimutnya sampai menutupi wajahnya. Sekilas Sasuke dapat melihat rambut berwarna silver yang menyembul dari balik selimutnya.
"Paman… Sakura bawa pir kesukaan paman dan strawberry. Kata Matsuri strawberry bagus untuk orang yang flu. Oh! Sakura juga memetik bunga tadi!" kata Sakura penuh semangat. Sasuke hanya memerhatikan Sakura dari belakang.
"Terima kasih, Sakura. Tapi sepertinya lagi-lagi paman merepotkanmu. Maaf ya," laki-laki yang terbaring itu berkata dengan suara parau dari balik selimutnya
"Hahaha sama sekali tidak kok! Paman tidak usah merasa seperti itu." Sakura menggelengkan kepalanya dan menoleh ke arahku, "Ngomong-ngomong, Sakura bawa seseorang yang ingin ketemu paman loh! Katanya dia mau menjenguk paman," tambah Sakura
Sasuke maju beberapa langkah hingga dirinya kini ada di sebelah Sakura. Laki-laki berambut silver itu menyibak selimutnya dan menampakkan wajah yang cukup familier di mata onyx Sasuke.
"Paman Kakashi?" seru Sasuke kaget
"Kau… Anak Fugaku… Sasuke?" tanya Kakashi masih dengan suara parau
"Ya," Sasuke mengangguk, lalu menoleh ke arah Sakura yang berdiri santai di sebelahnya
"Apa maksudnya ini? Jadi pamanmu adalah Raja Kakashi?" tanya pemuda bermata onyx. Sakura menganggukkan kepalanya dengan polos
"Lalu kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Sasuke lagi
"Kan kau yang bilang kalau kau mau menjenguk Paman Kakashi, lagi pula kau bilang kau penasaran dengan pamanku. Jadi kau kubawa ke sini." jawab Sakura
"Hn…" Sasuke hanya ber'hn' ria
"Ehm, jadi kau ke sini untuk menjengukku, Sasuke?" Kakashi tiba-tiba membuka topik baru. Sasuke mengangguk, "Ya,"
"Ah, begitu… Katakan, bagaimana kabar kakekmu?" tanya Kakashi sambil menyibak selimutnya sampai sepinggang
"Dia baik-baik saja." jawab Sasuke datar
"Kakek?" Sakura menatap Sasuke dan Kakashi bergantian
"Kakekku, Madara. Meskipun sudah sangat tua, entah kenapa masih sangat sehat." sahut Sasuke
"Oooh…"
Setelah itu mereka bertiga berbincang-bincang tentang berbagai topik sampai malam.
.
Keesokan harinya, Sasuke kembali ke Blue Kingdom. Sakura pun berniat kembali ke pondok pemberian Kakashi, tapi ia tak tega melihat paman kesayangannya itu terbaring sakit. Maka gadis berambut pink itu memutuskan akan tetap tinggal di Istana sampai demam dan flu pamannya sembuh.
.
.
Setelah kurang lebih lima hari merawat pamannya, akhirnya Sakura bisa sedikit bernafas lega, karena flu dan demam pamannya sudah sembuh. Pamannya pun terlihat sedikit lebih segar. Maka Sakura memutuskan akan memberitahu Sasuke atas kesembuhan pamannya.
.
Siang harinya, Sakura menunggangi kuda cokelat muda ke Blue Kingdom yang terletak di sebelah Green Kingdom. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Blue Kingdom memang tidak lama, mungkin hanya dua atau tiga jam mengendarai kuda. Maka saat matahari sudah condong ke barat, Sakura sudah sampai di Istana Blue Kingdom.
Sakura sedang mengamati interior ruang kerja Sasuke yang serba biru saat seorang pelayan berambut orange masuk. "Tuan Sasuke akan ke sini sebentar lagi. Mohon maaf karena membuat Anda menunggu," wanita muda itu membungkuk
"Ah, tidak apa-apa kok." kata Sakura santai. Pelayan muda itu keluar dari ruang kerja Sasuke dan menutup pintunya.
Sakura kembali mengamati ruangan itu. Hanya ada satu kata yang muncul di kepala Sakura saat gadis itu pertama masuk ke ruang keja Sasuke, BIRU. Ya, hampir semua barang yang ada di sana berwarna biru, mulai dari karpet, dinding, hiasan dinding, lampu dinding, dan alat tulis.
Karpet beludrunya sewarna dengan laut, dindingnya dicat dengan warna biru langit, sofa dan kursi yang ada di sana sewarna dengan rambut Sasuke, tiga buah lukisan tertempel di dinding, satu lukisan bergambar empat ekor burung camar yang memandang laut dari atas karang, satu lukisan dengan gambar Istana Blue Kingdom dengan latar belakang langit sore, dan satu lagi lukisan abstrak dengan berbagai warna. 'Birunya benar-benar seperti pemilik ruangan ini…' pikir Sakura sambil sedikit terkikik.
Sakura melangkah ke meja kerja Sasuke, dan mendapati ada lima buah figura kecil yang berisi foto. Foto pertama adalah foto empat orang—lelaki paruh baya, wanita paruh baya berambut panjang, remaja yang memiliki kerutan di kedua sisi pipinya dan sangat mirip Sasuke, yang terakhir anak laki-laki yang sepertinya adalah Sasuke. Foto kedua adalah foto dua orang—Sasuke dan remaja yang di pipinya ada kerutan. Foto ketiga juga foto dua orang—lelaki paruh baya bersama dengan wanita paruh baya berambut panjang. Foto keempat adalah foto tiga orang—remaja yang di pipinya ada kerutan, Sasuke, dan wanita paruh baya berambut panjang. Terakhir foto kelima adalah foto tiga orang—Sasuke, seorang kakek-kakek berambut rancung, dan remaja yang di pipinya ada kerutan.
Tiba-tiba pintu terbuka, Sakura dengan cepat langsung duduk di sofa dan memainkan jarinya. Sakura menoleh kea rah pintu, mendapati Sasuke sedang menutup pintu itu di belakagnya. Pemuda berambut emo itu berjalan ke meja kerjanya, lalu duduk di kursinya.
"Jadi, ada apa?" tanya Sasuke
"Aku hanya ingin bilang, Paman Kakashi sudah sembuh." Sakura menatap Sasuke
"Hn…"
"Mungkin kau ingin menemuinya?" tanya Sakura
"Mungkin…" kata Sasuke menerawang
"Hanya itu saja yang ingin aku sampaikan. Aku… pulang dulu." Sakura membungkuk dan segera berdiri dari sofa yang nyaman itu.
"Sakura, tunggu dulu,"
"Ya?"
"Ada yang ingin kutanyakan," kata Sasuke. Sakura menatap onyx hitamnya, 'Dia gugup?' batin Sakura
"Ada apa?" tanya Sakura
"Apa… kau… percaya pada cinta pada pandangan pertama?" tanya Sasuke dengan wajah bersemu merah
"Eeeh? A-apa?" Sakura sangat kaget karena pertanyaan Sasuke
"Ya, apakah kau percaya pada cinta pada pandangan pertama?" ulang Sasuke
"Mungkin…" kata Sakura ragu-ragu, "Ya, aku percaya," tambah gadis itu cepat
"Baguslah," Sasuke membuang nafas lega
"A-ada apa?" tanya Sakura
"Sepertinya aku menyukaimu."
"A-apa?" Sakura tidak percaya pada pendengarannya
"Yah, sejak kau menabrakku waktu itu, kurasa aku menyukaimu." Sasuke menggengam tangan Sakura
"Ah… Aku… kurasa… aku juga," kata Sakura dengan pelan
"Benarkah?" tanya Sasuke bersemangat. Sakura mengangguk
"Terima kasih, Sakura…" Sasuke memeluk Sakura. Sakura hanya tersenyum kecil.
.
.
TO BE CONTINUED
TO MIDORI NO MUSUME: TRAGEDY
.
.
Akhirnya chapter 2 selesai juga… *long sigh* Chapter kali ini tuh ceritanya dari Sakura's point of view, jadi ceritanya tentang Green Kingdom. Gomen ne… Padahal judulnya aja Midori no Musume, tapi yang jadi 'Midori no Musume'nya malah Sakura… Gomen ne… T^T
Aaaaah…. Saku emang aneh, gaje, ga becus bikin fic, dan kacau. Tapi Saku mau bilang 2 hal..
1. "MAKASIIIIIIIIIIIH" sama orang-orang yang udah mau baca fic aneh ini, juga sama orang-orang yang review.
2. "MAAAAAAAAAF" karena banyak kesalah dan kekurangan! Saku masih newbie nih, jadi pastinya masih belajar dan masih punya banyak kekurangan. Saku janji Saku bakal lebih banyak belajar sama Author lain yang lebih senior.
.
Ngomong-ngomong, ini balesan reviewnya…
Deidara' Katsu-himeUn – Makasih… Hiyaaaaa maaf… Saku ga maksud bikin Deidara pake baju se'lusuh' itu. Maksud Saku tuh Deidaranya pake baju sederhana aja, kalau soal gaun… yah, Saku juga sebenernya ga enak nulisin gitu, tapi apa boleh buat…
Deidei Rinnepero – Iya, ortunya Deidara sama Ino udah meninggal ceritanya (maaf Saku ga nulisin tentang itu). Maaf juga buat yang adegan hukumannya… Saku ga bisa nulisin detail, soalnya kasian ngebayangin Deidara kaya gitu.
It'sMeRyuki – Waaaaa… Makasiiiih….
Akasuna no NiraDei Un – Makasiih…. Tapi sebenernya ini dari salah satu lagunya vocaloid (kaya yang udah Saku tulis di Summary) judul lagunya Aku no Meshitsukai.
