Summary: Cerita Aku no Meshitsukai series alias Servant of Evilnya Vocaloid, tapi dijadiin versi Naruto. Ino's point of view. Chapter ini hampir penuh dengan flashbacknya Ino.
Disclaimer: Naruto sama Vocaloidnya udah jelas bukan punya Saku!
.
Murasaki Sakura Presents:
THE REGRET MESSAGE
.
Warning! Di chapter ini ada banyak banget flashback. Jadi, kalau tulisannya di 'italic' (alias dimiringin), artinya itu flashback
.
Bulan bersinar terang di langit malam yang penuh dengan gemerlap bintang. Suara ombak memecah karang memenuhi pendengaran gadis berambut pirang itu. Jubah cokelatnya berkibar-kibar tertiup angin laut yang berhembus di sekitarnya. Untuk kesekian kalinya, ditengadahkannya kepalanya ke langit. Tangan kanannya menggenggam erat jam saku tua milik saudara kembarnya. Buku-buku jarinya sudah mulai memutih karena ia menggenggam jam saku itu dengan sangat erat.
"Maafkan aku, Deidara…" ucapnya lirih untuk kesekian kalinya.
.
~oOo~
.
Machi hazure no chiisana minato
Hitori tatazumu shoujo
Kono umi ni mukashi kara aru
Hisokana ii tsutae
.
~oOo~
.
Seorang gadis berambut pirang terlihat sedang berdiri di sebuah dermaga tua. Rambut pirangnya terlihat dipermainkan oleh angin laut, tapi dia tidak keberatan. Mata sapphirenya sama sekali tidak dialihkannya dari laut yang terbentang luas dihadapannya. Dihirupnya udara laut yang asin. Lalu diselipkannya anak rambut pirangnya yang berada di depan wajahnya.
Ya, gadis itu adalah Putri Ino.
Ino berjalan menuju pantai berpasir putih yang sunyi. Ia berjalan ke arah laut. Gadis itu sama sekali tidak menghentikan langkahnya sampai lututnya basah oleh air laut. Setelah merasakan air laut mulai membasahi celananya, Ino berhenti dan menatap ke depan.
"Kau tahu Dei, sekarang aku ada di laut, loh." kata Ino sebelum memejamkan matanya.
.
~oOo~
.
"Putri Ino!" sebuah suara memanggil dari kejauhan. Seorang anak perempuan menoleh mendengar panggilan itu. "Ada apa Dei?"
Anak lelaki yang dipanggil Dei itu berdiri sambil mengatur nafasnya. "Hah… Apa… hah… yang Anda… hah… lakukan… hah… di sini?" tanya anak lelaki berambut pirang itu
"Tidak ada," jawab Ino singkat sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke laut. Deidara tersenyum singkat melihat tingkah saudari kembarnya. Kemudian dia pun melangkah ke depan dan berdiri di sebelah saudari kembarnya itu.
"Apakah Anda pernah mendengar tentang hal ini?" tanya Deidara
"Apa?" Ino balik bertanya. "Dan tidak usah bersikap terlalu formal, tidak ada siapa-siapa di sini." tambahnya
"Apa yang kau inginkan?" sekali lagi anak lelaki bermata sapphire itu bertanya
"Apa sih maksudmu?" Ino menoleh ke arah kembarannya itu
"Kau tahu, laut bisa mengabulkan keinginanmu." Deidara tersenyum
"Hahahaha kau lucu sekali, Dei." Ino menyikut Deidara pelan, "Kau tahu, laut tidak akan bisa mengabulkan keinginan kita!" tambah anak perempuan itu
"Apa kau mau mencobanya?" tanya Deidara
"Untuk apa? Tentunya hanya akan buang-buang waktu!" seru Ino
"Un…" Deidara hanya terdiam
"Maksudku…" Ino merapatkan dirinya pada Deidara, "Bukankah semua keinginanku akan kau kabulkan, Dei?"
Deidara terkekeh mendengar pertanyaan Ino sebelum mengangguk singkat.
.
~oOo~
.
"…Negai wo kaita youhishi wo
Kobin ni irete
Umi ni nagaseba itsu no hika
Omoi wa minoru deshou…"
.
~oOo~
.
Ino memasukkan jam saku pemberian Deidara ke saku celananya dan mengeluarkan sebuah benda lain dari saku celananya yang satu lagi. Sebuah benda bening berisi selembar kertas. Tepatnya sebuah botol yang tertutup rapat yang berisi selembar kertas yang penuh tulisan.
Ino menatap botol yang ada di tangannya itu, lalu tersenyum.
.
~oOo~
.
"Kau tahu, cukup masukkan keinginanmu ke dalam sebuah botol kaca—seperti ini," kata Deidara sambil menunjukkan sebuah botol kaca yang berisi sebuah kertas yang digulung rapi
"Lalu?" tanya Ino malas
"Cukup hanyutkan ini di laut." lanjut Deidara sambil menghanyutkan botol kaca yang tadi dipegangnya. "Kalau botol ini bisa hanyut dan menghilang dari pandangan kita, maka suatu hari nanti keinginan yang kita tuliskan bisa menjadi kenyataan." Deidara menutup penjelasnnya dengan senyum. Ino hanya menatap Deidara dengan malas.
"Memang apa yang kau inginkan?" tanya Ino
"Aku ingin Nona Ino memiliki dada yang besar," jawab Deidara
"A-apa?" seru Ino. "Deeeeeiii!" Ino memukul-mukul lengan Deidara hingga keduanya terjatuh di atas pasir pantai yang putih
"Hahahahahahahahaha… Aku hanya bercanda," Deidara mencoba menghalau pukulan-pukulan Ino sambil tertawa-tawa. Sedangkan Ino masih belum berhenti memukul-mukul lengannya. Deidara menangkap kedua tangan Ino dan menghentikan gerakan anak perempuan berambut pirang itu.
"Yang kuinginkan adalah, kebahagiaanmu," kata Deidara. Ino menatapnya dengan bingung
"Aku ingin Nona Ino selalu bahagia…" jelas Deidara dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Aaaa…" Ino sedikit tergagap mendengar jawaban Deidara. Pipinya sedikit bersemu merah. "K-kalau begitu, tetaplah berada di sisiku!" seru Ino sambil melipat tangannya di dada. Sapphire Deidara menatap sapphire Ino.
"Karena aku akan merasa sangat sangat bahagia kalau Dei ada di sisiku." jelas Ino
"Benarkah?" tanya Deidara. Ino mengangguk dan tersenyum menatap saudara kembarnya
"Kalau begitu, baguslah…" Deidara menutup kedua matanya. "Karena aku akan selalu ada di sisimu…"
.
~oOo~
.
"Kau bohong, Dei!" seru Ino sambil memukul air laut yang ada di sekitar lututnya, membuat percikan-percikan air membasahi bagian atas bajunya. Tapi Ino tidak berhenti. Gadis itu terus memukul-mukul air yang ada di sekitar lututnya dan semakin membuat bajunya kebasahan.
"Kau bilang kau akan selalu ada di sisiku!" seru Ino
"Tapi kau bohong!" Ino memukul air dengan sangat keras, membuat semakin banyak percikan air. Mata sapphire gadis itu mulai berkaca-kaca
"Kau…" Tak terasa air mata mulai mengalir di kedua pipi gadis bermata sapphire itu.
"Kau pembohong, Dei!" air mata mengucur deras dari sapphire Ino. Tapi Ino sama sekali tidak menyekanya, dia hanya membiarkan air matanya membuat sungai kecil di pipinya kemudian menetes ke laut dan terlarut dalam asinnya air laut.
"Dei…" Ino terisak
.
~oOo~
.
Nagarete iku GARASU no kobin
Negai wo kometa MESSEEJI
Suiheisen no kanata ni
Shizuka ni kieteku
.
~oOo~
.
Ino membiarkan botol yang dipegangnya perlahan-lahan dihanyutkan oleh gelombang air laut. Gadis itu hanya menatap botol itu terombang-ambing dipermainkan air laut. Dia tidak melakukan apapun, selain membiarkan air matanya meleleh tanpa suara. Ino hanya berdiri menatap botol itu dengan mata berkaca-kaca. Tak ada satu kata pun yang lolos dari bibirnya, kecuali satu kata,
"Deidara…"
.
~oOo~
.
Kimi wa itsumo watashi no tame ni
Nandemo shite kureta no ni
Watashi wa itsumo wagamama bakari
Kimi wo komarase teta
.
~oOo~
.
"Kau selalu melakukan apapun yang kuminta. Kau selalu mematuhi perintahku tanpa mengeluh. Kau akan melakukan apapun untukku. Hanya kaulah yang bisa berbagi kebahagiaan denganku. Hanya kaulah yang bisa menghiburku. Hanya kaulah yang selalu ada di sisiku…"
"Tapi… apa yang kulakukan? Aku tak pernah bisa membalas semua kebaikan yang pernah kau berikan padaku. Karena aku hanya bisa menjadi anak kecil yang egois! Anak kecil yang selalu meminta bantuanmu!"
"Bahkan, bukannya membalas kebaikanmu, aku hanya akan menimbulkan masalah untukmu. Tapi kau tak pernah mengeluh… Kau hanya akan tersenyum padaku dan berkata bahwa tidak ada yang harus kukhawatirkan."
"Apa yang sudah kulakukan, Dei?"
.
~oOo~
.
Ino sedang duduk di singgasananya sendirian. Di tangannya, terdapat foto seorang pemuda berambut raven dengan model pantat ayam—foto Pangeran Sasuke dari Blue Kingdom. Pangeran yang terkenal karena sifatnya yang dingin dan ketampanannya. Ino menatap foto itu sambil sesekali menghela nafasnya. 'Kenapa Pangeran Sasuke selalu menolakku?' tanya Ino dalam hati. Teringat kembali saat dimana Pangeran Sasuke menepis tangannya dan menolaknya. Hal itu membuat mata gadis berambut pirang itu mulai berkaca-kaca. Saat itulah Deidara masuk ke ruang singgasana Ino.
"Ada apa?" tanya Deidara lembut. Ino terkesiap, ia buru-buru menghapus air mata yang sudah siap meleleh dari matanya.
"Tidak ada apa-apa," kata Ino tegas
"Un…" Deidara menghampiri Ino
"A-apa?"
Deidara akhirnya sampai di hadapan Ino. Dengan cepat Ino berdiri. "Apa?" tanyanya
Deidara langsung memeluk Ino, "Kalau ada apa-apa, kau bisa cerita padaku." kata Deidara lembut
"A-aku…" Ino tergagap. Deidara melepaskan pelukannya dan tersenyum pada Ino.
"Ingatlah, aku akan selalu ada untukmu." Deidara menepuk pundak Ino singkat, "Aku kan kembaranmu." sambung Deidara sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Aaa…"
Deidara berjalan keluar dari ruang singgasana Ino, meninggalkan Ino yang sedang kehabisan kata-kata. .
~oOo~
.
Negai wo kanaete kureru kimi
Mou inai kara
Kono umi ni watashi no omoi
Todokete morau no
.
~oOo~
.
Ino masih berdiri di laut, meskipun kini air sudah pasang dan mencapai pahanya. Ia tetap berdiri di sana. Air mata masih mengalir dari kedua sapphirenya, meskipun tidak sederas tadi. Dan gadis itu masih dapat melihat botol kacanya dipermainkan air laut. Dia mengeluarkan jam saku pemberian kembarannya dari saku celananya yang sudah basah dan menggenggam erat jam saku itu.
"Kau bilang kau akan selalu berada di sisiku… Kau bilang kau akan selalu menemaniku…" gumam Ino
"Tapi sekarang? Di mana kau, Dei?" seru Ino sambil kembali memukul air laut. "Kau sudah tidak berada di sini!" seru Ino lagi. Dia menggenggam erat jam saku pemberian Deidara dengan kedua tangannya. Lalu ditempelkannya kedua tangannya ke dadanya. Untuk beberapa saat, gadis itu terisak dengan posisi seperti itu.
"Kalau kau pergi… siapa yang akan memenuhi keinginanku? Siapa yang akan berada di sisiku? Siapa yang akan menemaniku? Siapa yang akan menceritakanku berbagai hal? Siapa yang akan menghiburku?" Tangisnya kembali pecah. Ino terus menangis dan menangis, membiarkan laut menghiburnya. Mendengarkan cerita dan penyesalannya, juga segala hal yang ada di pikirannya.
.
~oOo~
.
Nagarete iku chiisana negai
Namida to sukoshi no RIGURETTO
Tsumi ni kizuku no wa itsumo
Subete owatta ato
.
~oOo~
.
Deidara menggenggam tangan Ino erat-erat. Dia tidak membiarkan saudari kembarnya itu terpisah darinya di kerumunan orang yang memenuhi jalan ini. Sesekali kunciran rambut Deidara bergoyang-goyang saat anak lelaki itu menoleh untuk memastikan bahwa saudari kembarnya baik-baik saja. Terkadang Ino terkekeh melihat kekhawatiran saudara kembarnya yang sering kali berlebihan. Tapi terkadang Ino menikmati hal itu.
Saat ini mereka berdua sedang berjalan di jalan utama di Blue Kingdom yang penuh sesak dengan orang-orang yang berlalu-lalang. Deidara mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Ino. Mereka berdua terus berjalan menuju kastil Blue Kingdom. Saat tiba-tiba iris sapphire Ino menangkap sosok yang dikenalnya tengah menggandeng seorang gadis berambut pink yang mengenakan baju terusan sederhana yang berwarna hijau. Ya, sosok itu adalah Pangeran Sasuke dari Blue Kingdom yang sedang menggandeng tangan Sakura.
Hati Ino terasa seperti ditusuk-tusuk saat melihat pemandangan itu. Dengan tanpa sengaja gadis itu mengeratkan genggaman tangannya pada tangan saudara kembarnya. Bulir-bulir air mata mulai meleleh dari matanya dan mengalir di pipinya. Deidara menoleh kea rah saudari kembarnya saat dia merasakan genggaman tangan Ino tiba-tiba menjadi lebih erat. Betapa terkejutnya Deidara ketika mendapati Ino tengah berurai air mata. Kekhawatiran langsung terpancar dari wajahnya dan mata sapphirenya. "Ino, ada apa?" tanya Deidara lembut pada saudari kembarnya itu.
Tapi Ino tidak menjawabnya. Gadis itu terlalu sibuk menahan air matanya agar tidak keluar. Sayangnya usahanya tidak berhasil, jadi dia menyeka air matanya dan menggeleng untuk menjawab pertanyaan Deidara. Deidara menatap Ino, lalu mengeluarkan sapu tangannya. Kemudian anak lelaki itu menyeka air mata saudari kembarnya menggunakan sapu tangannya. Ino sedikit kaget dengan perlakuan Deidara, tapi ia tidak menepis tangan Deidara. Ia malah diam dan membiarkan tangan lembut saudara kembanya membuantunya menyeka air mata yang terus keluar dari matanya.
.
~oOo~
.
"Maafkan aku, Dei…" ucap Ino lirih
"Seandainya aku tidak egois, pasti kau masih hidup… Seandainya aku tidak menyuruhmu membunuh gadis itu, pasti kau masih hidup… Maafkan aku, Dei…"
"Mengapa penyesalan selalu datang di akhir? Kenapa aku tidak menyadari dosa yang telah kubuat ini sejak awal? Kalau itu terjadi, kau pasti tidak harus mati…"
"Maafkan aku, Dei…"
.
~oOo~
.
"…Moshimo umare kawareru naraba…"
.
~oOo~
.
"Seandainya kita bisa terlahir kembali, aku ingin saat itu kita bisa bermain kembali…"
.
~oOo~
.
"Kau benar, Dei… Seandainya kita bisa terlahir kembali… Aku tidak ingin mengulangi perbuatanku dan aku ingin kita bisa kembali bersama… Ya kan, Dei?"
Perlahan-lahan botol kaca berisi kertas yang dihanyutkan Ino mulai menghilang dari pandangan gadis itu. Botol itu semakin jauh… jauh… dan jauh terbawa arus, meninggalkan seorang gadis berambut pirang sendirian di gelapnya malam. Ino tersenyum melihat pemandangan itu.
'Semoga suatu saat nanti harapanku ini terkabul… Wahai lautan, kabulkanlah harapanku ini dan bawalah air mata serta penyesalanku ini pada Deidara…'
.
Angin berhembus kencang, menerbangkan anak rambut Ino yang berada di wajahnya serta membawa aroma laut yang asin. Ino mengingat saat-saat dia dan Deidara berdiri di pinggir pantai, saling berbagi cerita sambil mencium aroma laut yang asin. Dadanya terasa sesak mengingat kenangan itu.
"Tenanglah, Ino… Aku akan selalu bersamamu…"
Terdengar suara yang dikenal Ino, suara kembarannya, Deidara. "Dei?"
Ino mencari ke segala arah, namun tetap tidak menemukan sosok saudara kembarnya itu. Ino menutup kedua matanya dan tersenyum simpul. "Dei…"
.
~oOo~
.
TO BE CONTINUED
TO SHIRO NO MUSUME: A MEETING
.
.
.
WAAAAAAIIIIII! Ga kerasa Aku no Monogatari ini udah sampai chapter 5! Ah, senangnya… ^o^ (padahal Red Meets Blue udah sampai chapter 8… -_-)
Jujur aja, chapter ini menurut Saku nulisnya tuh sedikit susah—tapi entah kenapa Saku seneng nulisnya. Dan entah kenapa rasanya chapter ini rada maksa (semoga hanya pendapat Saku aja)
Seperti yang biasa, Saku mau bilang MAKASIIIIH buat Readers yang udah mau baca fic ini (apalagi Readers yang udah mau review…). Plus GOMEN juga kalau ternyata fic ini payah banget dan masih banyak kekurangan…
.
Ini dia balesan reviewnya…
Miku Hanato – Itu masih Midori no Musume… Ini udah di update, semoga Miku-san suka
Rinne – Waaaa gomen… Deidara kan ngebunuh Sakura gara2 disuruh sama Ino (ada di chapter 1) penyebabnya juga ada di chapter 1
It'sMeRyuki – Gomen… Saku tau pasti responnya bakal pada bilang ga puas… Akh, maafkan Saku… Semoga chapter ini lebih baik dan lebih panjang dari chapter sebelumnya…
fuyugami ryo – Gomen Ryo… Semoga chapter ini cukup panjang buat Ryo, ya… Iya mas, Deal Fallen tuh Deal Iftikhar alias si Dillan. Hahaha gomen… mungkin perjanjiannya bakal aku langgar, abis aku kasian sama dia. Pokoknya tunggu aja deh Red Meets Bluenya, Saku usahain bakalan cepet di update! (ngomong2 makasih udah setia nunggu Red Meets Blue… ^^)
