Eka's headnote : Jarang-jarang nih saya pake headnote. Soalnya saya mau ngamuk dulu.
INDONESIA CEWEK! INDONESIA COWOK! INDO— *ditusuk bambu runcing*
WHAT THE HELL? BERARTI CERITA 'FOR THE VICTIMS OF MERAPI' SAYA BIKIN YURI! ADA HINTS MELAYUCEST DISANA! DDX
SUMPAH! DEMI APAPUN GUE BENCI YURI! SANGAT! (matiin capslock, jedukin kepala ke tembok)
Tadinya saya pingin bikin Nethernesia dan Melayucest di fic ini. Tapi berhubung Indonesia CEWEK dan Malaysia juga CEWEK (mana dia digambarin cantik lagi! XD), saya batalin bikin pair melayucest. Inget, saya benci YURI! Saya juga males TRANSGENDER! Kalo Himaruya maunya Indo cewek, terserah! (ngambek) Tapi saya gak rela kalo Indonesia digambar kayak banci gitu! (makin ngambek)
Oke, kita lanjut ke cerita! (lagi bad mood)
Air shower membasahi tubuh tegap pemuda Amerika itu. Sedikit demi sedikit beban pikirannya mulai berkurang.
Tiba-tiba, ia mendengar suara kenop pintu diputar.
Mata biru itu kembali membelalak.
"Si—Siapa itu?" tanyanya. Ketakutan mulai menyergapnya. Matanya mulai memberanikan diri untuk melihat ke arah kenop pintu itu.
Kenop pintu itu tidak bergerak.
Dirinya bernafas lega—setidaknya untuk saat ini.
'Alfred, tadi itu bukan apa-apa,' batinnya—menenangkan diri sendiri.
'Hanya halusinasi karena tugas yang menumpuk.'
Ia mengambil handuk lalu mengeringkan tubuhnya.
Ia pun menutup tubuhnya dengan handuk lalu keluar dari kamar mandi itu.
Tapi Alfred tidak menyadari bahwa sejak tadi ada mata yang mengawasinya didalam kamar mandi.
Mata milik seseorang yang selalu—
Sendirian.
#
Hetalia Axis Power © Hidekaz Himaruya
Alone's Movie © Someone who made it
Alone © Eka Kuchiki
#
Alfred melihat jam meja disampingnya, jarum pendek dan panjang menunjukkan angka 12.
Sudah tiga jam ia berkutat di depan komputernya.
Membiarkan matanya lelah dengan pantulan layar komputer.
Malam ini, ia merelakan waktunya untuk bergadang mengerjakan tugas presentasi mata kuliah manajemen. Matanya yang tinggal 5 watt ia paksakan untuk melihat data-data dalam power pointnya.
"Dosen gila," umpatnya pelan. "Tugas sebanyak ini harus dikumpulkan besok? Yang benar saja!"
Ingin rasanya ia membenturkan kepalanya ke meja—saking stressnya.
Alfred terdiam sejenak. Lalu ia melanjutkan mengetik lagi.
.
"Mati..."
Alfred berhenti mengetik. Bulu kuduk Alfred berdiri tanpa komando.
Hawa dingin menggelitik lehernya.
Suara itu terdengar pelan, namun membuatnya merinding setengah mati.
"Harus mati..."
Suara itu membuat pemuda itu merinding. Namun ia mencoba membuka suara.
"Siapa kau?" tanya Alfred. Tubuhnya gemetar karena suara itu terdengar semakin jelas ditelinganya.
"Orang yang bersalah harus mati..."
"Siapa kau?" tanya Alfred setengah berteriak. Percuma saja—si pemilik suara itu tak merespon teriakan Alfred.
"Mati..."
Bulu kuduk Alfred meremang ketika sesuatu yang dingin menepuk pundaknya. Entah apa yang merasukinya, pemuda itu memberanikan diri untuk menoleh ke belakang.
Tidak ada siapa-siapa.
Ketika Alfred menolehkan kepalanya ke depan, Dihadapannya sekarang adalah wajah pria yang berlumuran darah.
Ditangannya terdapat sebuah pisau.
Dan pisau itu kini mengoyak perutnya—tanpa perasaan.
Mengeluarkan isi perutnya secara paksa.
Hingga lolongan kesakitan—yang amat sangat memilukan— keluar dari mulut pemuda Amerika itu.
"AAAAARRRGGGHHHH..."
.
Alfred terbangun dengan nafas yang terengah-engah. Ia menatap layar komputernya yang masih menyala.
Kemudian ia bernafas lega.
'Ternyata cuma mimpi.' Batinnya.
Mata biru itu menatap jam meja yang disampingnya. Jarum pendek menunjuk ke angka 5.
'Masih jam 5 pagi,' pikirnya. 'Masih ada waktu dua jam untuk mengerjakan presentasi ini.'
Walaupun tangannya mengetik data-data dengan lincah, pikiran Alfred masih terfokus pada mimpi menyeramkan yang baru saja ia alami.
Hari ini merupakan hari sial bagi Alfred. Karena mimpi buruk itu, dia tertidur dikelas Mr. Germania dan dikeluarkan dengan tidak hormat dari kelas.
Ia mengutuki nasib kenapa pelajaran manajemen—yang berjumlah 2 sks— harus dipegang oleh dosen seperti Mr. Germania?
.
Diluar kelas, Alfred melangkahkan kakinya ke kantin fakultas. Ia terlalu lelah untuk belajar—setelah yang dialaminya semalam.
Alfred menelungkupkan kepalanya diatas meja kantin. Sementara makanannya belum disentuh olehnya.
"Hoi! Hamburger freak! Kau pasti habis begadang ya?"
Ya. Cuma satu orang yang memanggilnya seperti itu.
Arthur Kirkland.
Kini pemuda Inggris itu mendekati dirinya dan duduk disampingnya.
Hanya berjarak beberapa senti saja dari dirinya.
Alfred merasakan jantungnya berdetak lebih cepat saat dirinya berada di dekat Arthur.
Hanya bila dirinya berdekatan dengan Arthur.
"Iggy!" Alfred balas memanggil Arthur dengan panggilan 'sayang'nya yang membuat Arthur menunjukkan wajah-jangan-panggil-aku-Iggy-you-git- kepadanya.
"Ternyata kau memperhatikanku, Iggy! Aku senang!"
Sungguh, Alfred memang tidak berbakat dalam membaca ekspresi wajah.
"Bloody hell! Siapa juga yang merhatiin kamu!" sungut Arthur dengan pipinya yang merona.
Sungguh tsundere sekali dirimu, Arthur.
Alfred hanya menghela nafas. Susah juga punya kekasih macam Arthur—sulit ditebak karakternya.
.
"Alfred!" satu suara menyapanya sembari memukul punggungnya pelan.
"Antonio!" seru Alfred. Yang disapa hanya tertawa kecil.
Ternyata Antonio Fernandez Carriedo tidak sendirian. Ia membawa dua pengawalnya alias dua sahabatnya. Dasar Trio Bad Touch, mereka tidak bisa dipisahkan.
"Mon cheri, kenapa dirimu bisa tertidur dikelas?" tanya Francis Bonnefoy yang— entah sejak kapan— duduk disamping Alfred.
"Alfred, kau tadi sungguh tidak awesome! Bisa-bisanya dirimu tertidur dikelas Mr. Germania!" Gilbert Beilschmidt mulai mengeluarkan kata-kata 'awesome'nya.
Arthur merasa terganggu dengan kedatangan trio berisik ini. Siapa yang tidak merasa terganggu jika acara berduaan dengan kekasih terganggu karena kedatangan mereka?
Tiba-tiba Alfred menarik tangannya, membuat pemuda bermata hijau itu terkejut.
"Maaf nih. Aku ada urusan dulu sama Iggy," Alfred menarik tangan Arthur dan membawanya keluar area kantin. Tak peduli dengan makanannya dan Trio Bad Touch—yang sekarang menyuitinya.
"Ngapain kau membawaku ke sini?" bentak Arthur—dengan wajah memerah.
Mereka berdua berada di taman belakang fakultas Manajemen. Berbeda dengan taman yang berada di depan fakultas Manajemen, taman belakang ini cukup sepi.
Otak tsundere Arthur mencium ada yang tidak beres.
"Aku ingin bicara denganmu," Alfred menatapnya dengan serius.
Arthur memalingkan wajahnya—menutupi pipinya yang mulai semerah tomat. "Cepat katakan apa maumu!"
"Maukah kita pergi ke bioskop?" Alfred mendekatkan wajahnya ke wajah Arthur.
Wajah Arthur makin memerah, "Te—Tentu! Aku mau!"
Alfred menjauhkan wajahnya dan menepuk pundak Arthur, "Baiklah! Sehabis pameran seni kita langsung ke bioskop!" katanya sambil mengedipkan mata.
"Jangan lupa ya!" Tambahnya. Arthur mengangguk
Beberapa detik kemudian, Arthur masih termanggu melihat Alfred sampai otak tsunderenya kembali bekerja.
"HAMBURGER SHIT! JADI KAMU NGAJAK AKU KESINI CUMA BUAT NGOMONGIN HAL GAK PENTING KAYAK GITU?"
Malam ini, Alfred mengajak Arthur dan Kiku Honda—teman kuliahnya dari Jepang— untuk menonton film terbaru di bioskop.
"Mau nonton apa kita?" tanya Arthur.
"Terserah kalian saja," jawab Kiku.
"Gimana kalau kita nonton film itu," Telunjuk Alfred mengarah pada baliho sebuah film horor.
"Hamburger shit! Kau ini gimana sih!" Arthur ngamuk melihat film pilihan Alfred. "Aku gak mau repot karena kau selalu kabur setiap kali menonton film horor!" tambahnya.
"Bukannya Alfred-san takut dengan hantu?" tambah Kiku.
"Tapi aku pingin nonton itu!" kata Alfred ngotot.
Dahi Arthur berkerut, "Kau tidak sakit kan?" sindirnya.
Alfred menggeleng.
"Sungguh! Hari ini aku ingin menonton horor!" sahut Alfred. "Lagipula, Hero tidak takut dengan hantu!"
Arthur dan Kiku tak bisa mempercayai hal ini.
Alfred yang fobia dengan hantu tiba-tiba ingin menonton horor?
Keajaiban dunia ke-8!
Arthur dan Kiku hanya menatap Alfred. Mereka berdua ragu dengan pernyataan Alfred, tapi mereka luluh melihat mata biru Alfred yang menyatakan keinginan kuatnya untuk menonton film horor.
Akhirnya Arthur menyerah.
"Baiklah," katanya.
"Tapi kau harus janji tidak akan meneleponku malam-malam lalu memintaku untuk datang keapartemenmu!"
Syarat dari Arthur itu disanggupi oleh Alfred.
Di dalam bioskop, sebagian kursi telah terisi orang. Ternyata banyak juga orang-orang yang ingin menonton horor.
Kemudian, mereka bertiga memilih kursi di deretan tengah. Posisi duduk Alfred berada pinggir kanan, Arthur ditengah lalu Kiku di kiri.
"Kau benar-benar ingin menonton film ini, Alfred-san?" Kiku kembali menyakinkan Alfred—atau mungkin dirinya sendiri.
"Kenapa sih kalian tidak percaya aku ingin menonton film horor?" sungut Alfred. Ia benar-benar kesal—setelah ditanya berkali-kali apakah dirinya takut.
Arthur dan Kiku benar-benar dibuat tercengang. Alfred yang mereka kenal kini menjadi sosok asing.
Arthur menatapnya dnegan sinis, "Sejak kapan kau suka menonton horor?"
"Sejak tadi," jawab Alfred datar. Matanya tak lepas dari film yang ditontonnya. Sesekali ia menyeruput soda untuk menghilangkan dahaga.
Dan wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketakutan.
'Alfred mengalami masalah yang serius.'
Mungkin itu yang dipikirkan oleh Arthur dan Kiku.
Setelah lebih dari dua jam mendengar suara orang sebioskop berteriak, melihat semua yang mengerikan—membuat sport jantung, ditambah efek suara—yang membuat jantung melorot ke bawah, mereka bertiga memutuskan untuk langsung pulang.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh.
.
Kiku melihat seseorang menyetir mobil mendekati mereka bertiga.
"Hera-kun?" kata Kiku saat melihat siapa yang menyetir mobil.
"Kamu pasti capek hari ini," Kata Heracles Karpusi, "Makanya aku jemput kamu."
Wajah Heracles nampak mengantuk. Sepertinya Kiku tahu apa yang harus ia lakukan.
"Aku yang akan menyetir," ujar Kiku pasrah.
.
"Aku pergi dulu ya, Iggy!" Alfred melambaikan tangannya ke Arthur.
"T—Tapi, git—"
Tapi Alfred sudah pergi meninggalkannya.
"Ah, sudahlah! Nanti aku telepon saja." gumamnya.
Disebuah bar, Trio Bad Touch melepas penat mereka ditemani segelas—atau lebih—bir.
"Hei, bagaimana hubungan kau dengan Lovino?" tanya Francis kepada Antonio.
"Baik-baik saja," jawab Antonio pelan. Wajahnya mulai memerah.
"Antonio! Dasar tidak awesome! Baru tiga gelas sudah mabuk?" Gilbert menyingkirkan tangan Antonio yang sekarang menjamah tangannya.
"Mmh... Gilbert..." Antonio malah melingkarkan tangannya ke pinggang Gilbert. Membuat pemuda bermata merah itu gemas.
"Antonio! Dasar tidak awesome!"
Francis menyunggingkan senyum—mesumnya— melihat Antonio uke mode on. Ternyata orang yang mabuk tempramentalnya bisa berubah drastis.
"Gilbert, aku mau membawa Antonio sampai ke apartemennya—"
"Justru aku tak akan membiarkanmu menyentuhnya seujung jari pun, bastard!" bentak Gilbert yang sukses membuat Francis pundung di pojokan.
Rupanya Gilbert masih mengingat ketika Antonio mabuk dan dirinya membiarkan Francis membawanya ke apartemen Antonio. Tapi ia ingat kalau Antonio mabuk, ia akan menjadi uke yang penurut—dan menggoda. Dan ia salah menyerahkannya pada Francis—yang mesumnya tidak ketulungan.
Untung saja Antonio belum disemei oleh Francis.
.
Gilbert hanya menghela nafas. Sepertinya ia yang harus membawa Antonio ke apartemennya—dengan resiko digrepe Antonio dijalan.
Alfred berjalan menuju lift apartemen. Apartemennya berada di lantai 5. Dan sangat melelahkan untuk naik ke atas dengan menggunakan tangga. Kemudian ia menekan tombol lift lalu masuk ke dalam lift.
Alfred menekan tombol 5. Suasana horor terasa di dalam lift.
Apalagi dia sekarang sendirian.
.
Ia melihat pantulan dirinya di pintu lift.
Bukan—itu bukan dirinya!
Itu...
Mata yang terpantul dipintu lift itu berwarna merah.
Dan mata itu menatapnya tajam.
"AHHHH..."
Dilain tempat, Francis berjalan agak sempoyongan. matanya yang setengah terbuka berusaha untuk melihat jalan dengan baik.
Ia sampai di pintu apartemennya. Malam ini terasa dingin.
Atau itu hanya perasaannya saja?
"Mati..."
Bulu kuduk Francis meremang. Ia mencari pemilik suara tersebut.
"Harus mati..."
"Siapa kau?" serunya.
"Orang yang bersalah harus mati..."
Tubuhnya mulai gemetar, Francis tak bisa mengendalikan tubuhnya.
"Mati..."
Mata biru itu membelalak ketika melihat sosok dihadapannya. Sosok Itu berlumuran darah diwajahnya, baju kemejanya robek tak beraturan, dan wajah Itu...
Francis tak mempercayai pandangannya.
Tapi ini kenyataan.
"Kau—"
T.B.C
Eka's note : KENAPA SIH GUE HARUS MENGETIK FIC INI MALAM-MALAM? (stress berat) Gue kan jadi susah tidurnya! ( Readers : Lha? Ngapain elo nulis fic ini?)
Gyaaa! Ada setaaannn! (ngumpet) (Readers : Ni author geblek banget dah! Dia yang ngetik, dia yang ngibrit sendiri…)
Aish! Horrornya terasa gak? Apa? Kurang? Ya… maaf deh. Maklum saya gak biasa nulis horror (pundung dipojokan)
Gorenya belum kerasa ya? Ntar kayaknya di chapter depan baru muncul gore aslinya (ketawa ala psikopat)
Gomen, kemarin sempat saya ganti ratednya menjadi T karena masih prolog. Tapi kali ini saya naikkan menjadi M untuk jaga-jaga… ^^
Oh, ya. Yang request USUK saya banyakin nih! Semoga anda puas… ^^
Ya udah deh. Saya minta reviewnya. Kasih saran gimana baiknya fic ini.
Sayonara! ^^
