Eka's headnote : Gila! Idul Adha motong hewan kurban, pas banget gue lagi bikin gore! Dibayangan gue, saat hewan disembelih membayangi niat gue untuk bikin gore! Maklum, saya lagi stress nih, pemirsa! #abaikanomonganoranggiladiatas
Ampun! Ini akibat otak error saya yang dibebani tugas plus presentasi! Maafkan saya jika chapter ini aneh! m(_ _)m
Dan seharusnya saya membuat background surat pengantar buat acara Tossaka UI! Saya malah ngelanjutin fic ini! *digampar Jendral Pubdok*
Saya udah mulai tenang kok. Sebenarnya saya sih gak masalah Indonesia digambar cewek atau cowok. Tapi saya cuma merasa… Indonesia kayak banci ya? Saya kepingin Indonesia (kalau bener dia bakal dibikin cewek) lebih cantik dari Hungary atau Belarus! *ditimpuk bang Hide*
Ada macam-macam pairing disini. Yang pasti pairing disini dikenal oleh semua fans Hetalia! ^^
Warning : Rated M for gore, Horror, OOC, AU, human name, mouth Arthur and Lovino, shounen-ai, character death, etc.
Oke, lanjut ke cerita...
"Pergi!"
Suara Francis terdengar serak. Sejumlah ketakutan kini telah bergumul di dadanya.
"Pergi kau setan!" Francis mencoba mengumpulkan keberaniannya—mengalahkan semua ketakutannya.
"Seharusnya kau sudah mati!"
Sosok mengerikan itu mendekati dirinya dan mengacungkan sebilah pisau dengan olesan darah.
"Kau harus mati..."
Dengan cepat, Francis mendorong pintu dan langsung masuk ke dalam apartemennya.
Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya.
Ruang tamu dalam apartemennya gelap,
Kemudian tangannya meraba—mencari stop kontak.
Lampu menyala. Suasana seram mulai sedikit berkurang.
Tapi ia merasakan sesuatu yang dingin merambati tangannya.
Dan ia kini melihat sosok itu dihadapannya—memegangi tangannya.
Dan mata merah itu menatapnya dengan penuh kebencian.
"AAAAAHHH..."
#
Hetalia Axis Power © Hidekazu Himaruya
Alone's Movie © Someone who made it
Alone © Eka Kuchiki
#
Pemuda Prancis itu melepaskan tangannya dan berlari secepat mungkin.
Francis berlari menuju ruang tamu, berusaha menahan tubuhnya agar tetap seimbang.
Agar ia bisa selamat dari setan itu.
Setan yang kini makin mendekati dirinya.
Mengincar nyawanya.
.
Francis mengambil pistol yang terpajang di dinding. Ia menembaki tubuh setan itu.
Tidak ada pengaruhnya bagi setan itu. Peluru hanya menembus, tapi tak melukai tubuhnya.
Karena setan tidak mempan dengan senjata manusia, bukan?
Ia berlari menuju kamar lalu mengunci pintunya. Kemudian ia merasakan hawa dingin mencekik lehernya.
"Mati..."
Setan itu kini berada dibelakangnya—semakin mendekati dirinya.
Membuat dirinya tak bisa lari kemana-mana lagi.
Karena pintu kamarnya tidak bisa dibuka.
'Gawat!' Batinnya panik.
Kunci kamarnya hilang.
Tak ada jalan lagi baginya.
Sang malaikat maut tersenyum kepadanya.
Siap menjemput ajalnya.
"AMPUNI AKU, MATTHEW!" jeritnya.
Sosok mengerikan yang dipanggil Matthew itu mendekati dirinya. Sebilah pisau berkilat diiringi dengan seringai Matthew.
Siap merobek tubuhnya.
"Kau telah membuat dosa kepadaku," dengan tatapan matanya, Matthew mengunci pergerakan Francis. Membuat Francis tak bisa bergerak.
"AKU TAK BERMAKSUD BEGITU! MAAFKAN AKU MATTHEW!"
Tangan Matthew memegang leher Francis dengan erat—membuat pemuda itu sesak nafas.
Tak ada lagi jalan bagi Francis untuk melarikan diri.
Saat itu, malaikat maut tersenyum padanya.
Sama seperti senyum makhluk mengerikan yang akan mencabut nyawanya sekarang.
"Tak ada kata maaf bagimu…"
"MAAFKAN AKU! JANGAN BUNUH AKU!"
"Mati..."
.
CRASH!
Darah segar menggenangi lantai dengan cepat.
"ARRRGGGHHHH..."
Tubuh Francis terkulai di lantai seiring dengan lepasnya nyawa dalam tubuhnya.
Dengan sadisnya, Matthew merobek kulit dari jantung hingga perut. Memperlihatkan isi dada dan perut pemuda Prancis Itu.
Darah segar tergenang memenuhi lantai putih yang kontras dengan warna darah Itu.
Amis darah menguar di kamar Francis.
.
Mata merah Matthew kini menatap mata biru laut yang membelalak itu.
Ia mencongkel mata biru laut itu—tanpa perasaan.
Mengeluarkan bola mata dari tengkorak mata.
Kemudian dirinya menghilang.
Meninggalkan sebuah pesan kematian bertinta darah.
'THIS DEATH FOR PAY THE SINS TO SOMEONE WHO STAYS ALONE'
Kematian ini untuk membayar dosa kepada seseorang yang sendirian.
Pagi ini nampak cerah, seperti tak ada bencana apa-apa.
Seperti Gilbert yang hari ini datang bersama dengan Antonio menuju apartemen Francis.
"Francis!" Gilbert mengetuk pintu apartemen dengan tidak sabar.
"Francis!" kali ini Antonio yang memanggil Francis.
Tak ada jawaban dari Francis.
Sepuluh menit mereka menunggu Francis, berteriak-teriak di depan pintu apartemen.
Tak ada jawaban dari dalam apartemen Francis.
"Francis! Sungguh gak awesome membiarkan aku yang awesome ini menunggumu!"
"Gilbert, sudahlah!" kata Antonio. "Kita dobrak saja pintunya!"
"Kau gila ya, Antonio?" seru Gilbert. "Jangan—"
Terlambat, pintu apartemen terbuka. Dasar Spainard!
"Antonio! Kan sudah kubilang—"
"Pintu apartemennya tidak dikunci," potong Antonio. "Aku mencium ada yang tidak beres disini. Tidak biasanya Francis seteledor ini."
"Sepertinya aku mencium bau darah," ujar Gilbert. "Apa cuma perasaanku saja?"
"Makanya ayo kita cek dulu!"
Kedua remaja itu segera memasuki apartemen Francis.
.
"FRANCIS!" Mata Gilbert dan Antonio terbelalak.
Sahabat mereka…
—mati ?
Dengan darah menggenang—yang telang mengering.
Dengan usus terburai,
Dengan jantung dan paru-paru tanpa kulit pelindung.
Keji! Tak bisa dimaafkan!
Siapa pembunuh keji—dan tak memiliki hati— yang tega melakukan hal ini?
Siapa dalang dibalik ini semua?
Tak ada waktu untuk berdiam sekarang!
Gilbert segera menghubungi kantor polisi. Sementara Antonio memanggil pemilik apartemen.
Meminta pertolongan secepat yang mereka bisa.
Pagi ini suasana berkabung di universitas Michigan. Banyak mahasiswa dan dosen mengenakan pakaian hitam setelah mendengar berita duka cita.
Sebagian besar dari mereka mengantarkan seorang remaja ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Pengumuman telah dikumandangkan di seluruh lingkungan universitas.
Telah meninggalnya seorang mahasiswa universitas Michigan.
Francis Bonnefoy.
.
Sekarang ia terbaring dengan tenang didalam peti mati.
Diiringi air mata dari teman-temannya dan sahabatnya.
Sey menangis saat tubuh kaku itu mulai dikubur. Betapa hancur hati Sey saat tubuh kekasihnya kini menyatu dengan tanah, membiarkan hewan-hewan tanah menggerogoti tubuhnya.
Gilbert masih meneteskan air mata, membiarkan mata berwarna merah darah itu tergenang air mata.
"Bruder, menangis tak akan mengembalikan semua yang lalu," nasihat Ludwig sambil mengusap bahu Gilbert.
"Apa aku salah menangis ketika tahu sahabatku meninggal dalam keadaan menggenaskan?" Kata Gilbert setengah berteriak.
"Tapi Bruder—"
"Tinggalkan aku sendiri, West," nada bicara Gilbert sedikit melunak. Mata merahnya menghindari tatapan mata biru sang adik. "Tinggalkan aku sendiri!"
Ludwig hanya menghela nafas. Ia tak bisa memaksa kakaknya yang berkepala batu itu.
Lagipula ia juga harus menenangkan Feliciano yang menangis terus-menerus—merasa kehilangan Francis.
.
Mata hijau Antonio masih berlinangan air mata. Lovino sampai tak tega hati melihatnya.
"Tomato bastard, jangan menangis terus!" kata Lovino—berusaha menghibur tapi gagal.
"Aku tak apa-apa, Lovi," mata hijau yang sembab itu menatap mata amber Lovino dengan lembut.
"Aku—hanya belum bisa menerima kepergian Francis." senyum dipaksakan terulas dibibir Antonio. "Ini—terlalu cepat bagiku—"
"Jangan tersenyum seperti itu, Spainard bego!" semburat merah muncul di wajah Lovino. "Jangan memaksakan diri tersenyum hanya un—"
"Terima kasih, Lovi." Antonio mengelus pipi Lovino dengan lembut. Membuat pipi pemuda Italia tersebut kini semerah tomat.
"Sama-sama, bastard," jawab Lovino pelan—meninggalkan sifat tsunderenya sesaat— karena tak tega melihat kesedihan Antonio.
Diam-diam ia pergi meninggalkan Antonio dan Gilbert.
Ia membiarkan Antonio dan Gilbert bersua dengan sahabat mereka.
Yang kini telah terbaring untuk selama-lamanya.
Sepulang dari pemakaman Francis, Arthur mencari seorang pemuda berkacamata bernama Alfred.
Akhirnya ia berhasil menemuinya di sebuah danau kecil.
Mata hijau Arthur menatap mata biru laut Alfred. Lingkaran hitam menghiasi mata birunya. Sepertinya ia kurang tidur beberapa hari ini.
Seharusnya Alfred terlihat tampan jika melepas kacamatanya—seperti saat ini.
Namun Arthur hanya melihat sosok Alfred yang terkena depresi. Sepertinya ia bermimpi buruk lagi.
"Kematian Francis tidak wajar," gumam Alfred. Gumaman itu terdengar jelas ditelinga Arthur.
"Ia bukan dibunuh oleh manusia." Lanjutnya—yang membuat mata Arthur membelalak.
"Maksudmu, ia dibunuh oleh—setan?" tanya Arthur.
Alfred hanya menganggukkan kepalanya. "Mungkin sejenis itu,"
Arthur semakin penasaran, "Darimana kau mendapat pemikiran seperti itu?" tanyanya. "Kau kan tidak tahu seperti apa keadaan Francis saat ditemukan di apartemennya."
"Justru aku mendapat pesan kematian dalam mimpiku! Dan pesan itu sama dengan pesan kematian Francis!" Jawaban Alfred sukses membuat Arthur terkejut.
"Maksudmu, pesan 'Kematian ini untuk membayar dosa kepada seseorang yang sendirian?'"
Alfred mengangguk pelan.
"Jangan pernah percaya dengan mimpi, git!" bentak Arthur. "Mimpi itu tidak selalu sama dengan kenyataan!"
"Tapi kau sendiri percaya dengan hantu, Iggy!" balas Alfred—tidak nyambung.
Tiba-tiba, Alfred tersenyum simpul. Ia seperti mendapatkan pencerahan.
Alfred menarik tangan Arthur. Tiba-tiba perasaan Arthur menjadi tidak enak.
"Apa kau mau menginap di apartemenku?"
"APA? DASAR HAMBURGER SHIT GILA!" Sifat tsundere Arthur keluar. "AKU TIDAK MAU!"
"Ayolah Iggy! Sekali ini saja…" Alfred memasang wajah puppy eyes yang membuat pemuda Inggris itu ingin muntah.
"Tidak!"
"Ayolah…"
Arthur hanya menghela nafas.
"Baiklah, Alfred! Aku ikut!" kata Arthur menyerah. "Hentikan memasang tampang menjijikan seperti itu!"
Alfred melompat senang—tak peduli dengan semua cemooh Arthur tadi.
"Ayo, Iggy!" Alfred menarik tangan Arthur dan otomatis membuat semburat merah muncul di pipi Arthur.
"I—Iya! Tapi gak usah tarik-tarik tanganku, git!"
Mereka berdua sudah berada di apartemen Alfred. Sebuah apartemen yang cukup luas, dengan ruangan yang tak lepas dari berbagai aksesoris Amerika, seperti patung Liberty dan bendera US.
Arthur sebenarnya sudah pernah datang ke apartemen Alfred—sering datang malah.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Mengapa hawa ruangannya terasa sangat dingin?
"Disini terasa dingin," kata Arthur sambil menggosokkan kedua tangannya. "Kau menyalakan AC temperatur berapa sih?"
"20," jawab Alfred pendek. Ia meninggalkan Arthur di ruang tamu.
"Aku ingin mengambil kamera," tambahnya.
'Dua puluh?' Batin Arthur bingung. 'Harusnya tidak sedingin ini!'
.
Arthur menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Ia memperhatikan semua yang ada di ruang tamu.
Mata hijau Arthur membelalak ketika ada seorang anak perempuan—kira-kira berusia tujuh tahun— berlari didekatnya.
Sejak kapan Alfred membawa anak perempuan ke dalam apartemennya?
Karena rasa penasarannya, Arthur mengikuti anak perempuan itu.
Sampai anak itu berlari menuju dapur, lalu bersembunyi didalam sebuah lemari.
"Hei, apa yang kau—"
"Ssst! Kakak, jangan bilang-bilang ya kalau aku bersembunyi disini," potong anak perempuan itu. "Nanti teman-temanku tahu…"
Arthur menatap wajah anak perempuan itu, lalu mengangguk pelan.
"Makasih kak!" ia menutup lemari itu.
Sejenak Arthur mengingat apakah Alfred mempunyai sanak saudara atau tidak.
Seingatnya, Alfred tidak mempunyai keponakan ataupun sepupu. Satu-satunya saudara Alfred adalah Matthew yang meninggal setahun yang lalu.
Lalu—itu siapa?
Arthur membuka pintu lemari itu.
Kosong.
Tak ada siapa-siapa.
Senyum tipis tersungging di bibir Arthur.
"Jadi sekarang apartemen ini makin ramai, huh?"
Malam menjelang, sinar bulan purnama menembus masuk lewat jendela kamar Alfred.
Sudah jam setengah 12—harusnya dia sudah tidur sekarang.
Tapi Alfred masih menimang buku diary berwarna coklat maple milik Matthew.
Entah apa yang mendorongnya untuk membaca diary milik adik kembarnya. Yang jelas, harus ada yang ia cari didalam buku itu.
Tentang kematian adiknya.
Ditempat lain, Antonio menggandeng tangan Lovino—yang berkali-kali memberinya kata-kata 'mutiara'.
"Mi tomato," Antonio merangkul bahu Lovino, "Kita mau pergi kemana?"
"Kemana aja, tomato bastard!" bentaknya.
"Tapi kan aku yang menyetir mobilnya, masa aku tidak tahu kita mau kemana?"
"Nanti aku kasih tau jalannya, Spainard bego!"
Antonio hanya bisa menghela nafas dengan sikap Lovino kali ini.
Sebenarnya Lovino ingin mengajak Antonio pergi ke tempat dimana Antonio akan melupakan sejenak kesedihannya.
Walaupun Antonio bisa bersikap ceria seperti itu, namun Lovino merasa itu hanya kamuflase.
.
Dijalan, Antonio mulai murung. Sikap cerianya yang tadi lenyap entah kemana.
"Kenapa kau?" tanya Lovino.
"Akh, tidak ada apa-apa Lovi!" Antonio menepis wajah murungnya.
'Bodoh!' pikir Lovino. 'Memangnya aku tidak tahu apa yang kau pikirkan?'
Mereka kini berada di suatu jalan yang sepi—tak ada mobil yang melintas.
Lovino sedikit merinding melihat jalanan yang sepi. Tapi apa boleh buat, jalan ini satu-satunya jalan pintas.
.
Tiba-tiba, seseorang menyebrang dengan tiba-tiba didepan mobil mereka.
BRAK!
Mobil bertabrakan dengan orang itu lalu membuatnya terpental tak jauh dari mobil itu.
"Spagna!" Jerit Lovino dengan wajah pucat. "Kenapa kau menabraknya?"
"A—aku tidak tahu, Lovi!" jawab Antonio ketakutan. "Tiba-tiba saja dia menyebrang dan aku tidak bisa mengerem mobilnya!"
Akhirnya Antonio keluar dan memeriksa keadaan orang yang ditabraknya.
"Lho? Bukannya tadi dia jatuh disini?" gumam Antonio. "Kemana dia?"
"Hoi, Spagna! Gimana keadaannya?" tanya Lovino—yang masih di dalam mobil.
"Aku tidak tahu," jawab Antonio. "Dia menghilang!"
"Jangan menakut-nakutiku, bastard!"
"Aku tidak menakut-nakutimu!" bentak Antonio, "Orang itu—dia benar-benar tidak ada!"
Bentakan Antonio membuat wajah Lovino menjadi murung—membuat Antonio merasa bersalah.
Antonio mendekati Lovino, lalu mengelus kepalanya, "Maafkan aku, Lovi, tadi aku sedikit emosi."
Lovino tidak menjawab. Ia hanya terdiam.
"Maafkan aku, sayang," ucapnya sambil mengelus rambut coklat Lovino—yang membuat pipi pemuda memerah.
"Ya," jawab Lovino pendek.
Sikap tsundere Lovino tidak berlaku untuk kali ini.
Antonio masuk ke dalam mobil lalu mengemudikan mobil.
Tanpa mereka sadari, orang yang mereka tabrak kini telah berdiri tegak. Wajahnya berlumuran darah.
Ada sebilah pisau di tangan kanannya.
Dan kini ia menghilang.
#
T.B.C.
#
Eka's note : Aih! Demi apapun! Gue baru bikin gore! (teriak gila) Sial! Kenapa gue ngelanjutin fic ini saat malam-malam! Gue kan jadi gak bisa tidur (lagi)! (ngejerit lagi)
Eh, ini mah udah gak mirip film Alone lagi! Adegan horornya udah campur-campur. Dan… ada scene dari film lain yang muncul! Bagi anda yang bisa menebak judul film apa yang ada scene dimana Arthur bertemu dengan anak perempuan yang lagi main petak umpet, saya munculin pair favoritnya di chapter depan! (ketahuan author lagi bokek). Petunjuknya, film itu merupakan salah satu film horor yang udah lama ada di Indonesia. Udah pernah ditampilin beberapa kali di layar kaca. (kayaknya gampang ketebak deh)
Saya mengucapkan selamat kepada Apple-Mint Inversion yang benar menebak siapa setan yang menghantui Alfred. Selamat, Mint-san!^^
Saya minta maaf karena telah membunuh Francis dengan sangat kejamnya. Habis saya gak tau siapa yang harus dibunuh oleh setan Matthew! *dibunuh fans Hetalia*
Oke, satu orang terbunuh. Anda bisa menebak siapa kira-kira korban selanjutnya. Alasan mengapa Matthew membunuh Francis akan saya jelaskan di chapter selanjutnya.
Makasih buat yang sudah membaca dan mereview cerita ini. I love you all… ^^
Akhir kata,
Review please?
