Eka's headnote : Saya mau ngegalau bentar! Bentaaaarrr ajaaaa...

OH, YEAH! INDONESIA MASUK FINAL! AYO INDONESIA, TUNJUKKAN KEPADA MALAYSIA KALAU KAU ITU LEBIH JANTAN DIBANDINGKAN DIA! *dilempar panci*

Gomen, saya lama mengupdate fic ini dikarenakan UAS dan ada faktor eksternal yang bisa anda baca di note bawah... *dilempar ember karena banyak alasan*

Yosh! Tanpa banyak bacot, kita lanjut ke cerita.

Warning : AU, gore, OOC, OC male!Indonesia dan male!Malaysia, Shounen-ai, chara death, gore, dsb.


Mata rubi itu membelalak ketika melihat satu sosok yang berdiri dihadapannya.

Matanya tidak salah melihat, kan?

Sosok itu… MATTHEW?

Mantan kekasihnya yang sudah meninggal?

Bagaimana bisa?

Ia telah berkali-kali mengucek matanya—untuk memastikan apakah penglihatannya salah.

Tapi penglihatannya tidak salah.

Sosok itu—Matthew— hanya menatapnya, namun tatapan itu membuat nyali pemuda itu ciut.

Dengan bergegas, kaki pemuda Jerman berambut putih itu berlari menuju ke dalam rumah sakit.

Fisaratnya mengatakan hal yang tidak awesome.

"Mati..."

Suara itu jelas berdengung di telinganya setiap kali ia melewati ruangan rumah sakit.


#

Hetalia Axis Powers (c) Hidekaz Himaruya

Alone Movie (c) Someone from Thailand!

Alone (c) Eka Kuchiki

#


Gilbert menutup pintu toilet pria. Ia mengatur nafasnya yang memburu. Tubuhnya kini bersandar dibalik pintu.

Sepi. Tidak ada seorang pun di dalam toilet.

'Tenang, Gilbert! Dirimu yang awesome ini tidak takut dengan hantu!' batinnya menenangkan diri.

Setelah dirinya mulai merasa tenang, ia menatap dirinya di cermin wastafel. Ia membasuh wajahnya yang awesome, berharap basuhan air membuatnya tenang.

Beberapa detik kemudian, ia mendongakkan wajahnya ke cermin wastafel.

Tapi, ia tak melihat pantulan dirinya. Melainkan pantulan sosok pria dengan darah yang melumuri sebagian wajahnya.

"HUWA!" jerit Gilbert. Ia memejamkan matanya—berharap kemudian membuka matanya.

Harapannya terkabul, tak ada sosok menyeramkan itu di cermin.

'Tempat ini sungguh tidak awesome!' batinnya. 'Aku harus cepat kabur dari sini!'

Pemuda berambut putih itu membuka pintu toilet itu. Tapi tidak bisa.

Pintu itu terkunci!

Sementara bulu kuduknya mulai berdiri mendengar suara gaib itu lagi.

"Mati..."

Gilbert menelan ludah. Mengapa suhu disini terasa dingin?

Dengan ragu, ia menoleh ke belakang. Berharap ia tak menemukan apapun yang mengganggu jiwanya.

Ternyata Tuhan berkehendak lain. Sepertinya ini waktunya kematian menyapanya.

Sosok pemuda itu mengacungkan sebilah pisau dengan penuh darah.

"M—M ATTIEU?" seru Gilbert. Mata rubinya jelas menunjukkan rasa terkejut.

"Lama tidak berjumpa," pemuda yang dipanggil 'Mattieu' oleh Gilbert itu mendekati dirinya, "Mantan kekasih..."

"Ke—kenapa kau bisa berada disini?"

Matthew tidak menjawab. Mulutnya menyeringai keji—seperti bukan ekspresi yang dikenal Gilbert. Pisau yang tergengam ditangannya sudah cukup memberinya jawaban.

"Kau—ingin membunuh diriku yang awesome?" ternyata Gilbert masih saja bisa bernarsis disaat dirinya diujung maut.

"Ini semua salahmu."

"Mati..."

Dengungan kata-kata itu membuat tangan Gilbert makin bernafsu untuk membuka pintu kamar mandi itu. Sial! Mengapa pintu itu macet dan tak bisa dibuka?

"JANGAN MENDEKAT!" jerit Gilbert histeris. Suaranya makin serak ditambah dengan suhu toilet yang menurun drastis.

Tentu saja hal itu tidak akan terjadi. Matthew tetap mendekati dirinya dan membuat tubuhnya terpaku dengan lantai.

"JANGAN—"

CRAT!

Terlambat, pisau itu menancap di jantung Gilbert. Darah segar mengalir ke lantai putih. Begitu kontras. Begitu indah di mata violet itu.

Sekontras dengan wajah tanpa dosa Matthew—yang kini membalaskan dendamnya.

Ia begitu menikmati setiap aliran darah yang keluar dari jantung yang dikoyak paksa. Setelah puas mengoyaknya, ia menarik paksa jantung itu.

Jantung berwarna merah segar kini menancap di pisaunya.

Dengan tidak sabarnya, ia mengoyak jantung itu. Bau amis menguar begitu cepat ditoilet. Bagaikan tidak mempunyai hati.

Setan memang tidak punya hati, bukan?

.

Mata violetnya kini hanya menatap tubuh tak bernyawa itu. Jantung telah terkoyak dan darah yang mengalir disekitar tubuh pemuda yang dulu ia cintai.

Ya, saat ia masih hidup.

Ia menorehkan sebuah kalimat dengan tinta darah di cermin wastafel sebelum ia melenyapkan dirinya sendiri. Sebuah pesan kematian yang sama dengan Francis.

THIS DEATH FOR PAY THE SINS TO SOMEONE WHO STAYS ALONE


Pagi hari menjelang. Jam kini menunjukkan waktu tujuh pagi.

Seorang petugas cleaning service bersiul sambil membuka pintu toilet pria. Ia melakukan hal rutinitas sehari-hari di rumah sakit

"My godness!" jerit cleaning service itu. Ia bergidik melihat apa yang ada dihadapannya sekarang, sungguh menyeramkan!

Dihadapannya tergeletak seorang pemuda berambut putih yang sudah tak bernyawa dengan tubuh bersimbah darah. Dan yang paling mengerikan adalah bagian dada itu terkoyak dan jantung yang juga terkoyak terletak di sebelah mayat itu.

Petugas cleaning service itu langsung berlari untuk memanggil pihak rumah sakit.


Di tempat pemakaman, ada sebuah makam yang masih baru. Makam itu ditaburi berbagai macam bunga. Banyak orang berbaju hitam disekitarnya. Nisan putih marmer itu bertuliskan.

Rest in Place

Gilbert Beilschmidt

Ludwig hanya memandangi batu nisan itu dengan hampa, ia tak bisa.

Dan Bahkan seorang Roderich sampai menitikkan air mata karena kepergian Gilbert. Ia tengah memeluk Elizaveta yang menangis tersedu-sedu.

"Ludwig-san, kau tidak apa-apa?" tanya Kiku. Ia menepuk pundak sahabatnya di fakultas Ekonomi.

"Aku tidak apa-apa," jawab Ludwig datar. "Aku hanya tidak merelakan kepergian bruder dengan kondisi menggenaskan."

Kiku bersumpah bahwa dia mendengar nada penuh dendam dari mulut Ludwig.

"Aku harus mengetahui siapa pembunuh itu!" geramnya. "Siapapun pembunuhnya, ia harus bertanggung jawab atas semua ini!"

"Ya. aku mengerti, Ludwig-san." jawab Kiku pelan.

.

Di sisi lain, Alfred memandangi kerumunan orang berbaju hitam tersebut dengan tatapan kosong. Disampingnya, Arthur menepuk pundak sahabatnya.

"Tidak ada saksi mata atas kejadian itu," kata Arthur. "Pembunuh itu juga meninggalkan pesan yang sama seperti pembunuhan Francis."

"Aku tahu," jawab Alfred lemah. "Kemarin aku mimpi buruk lagi, sama seperti mimpi saat kematian Francis."

Arthur tahu itu. Ia bisa melihat sorot mata sayu dari mata biru langit itu. Lingkaran hitam dimata Alfred juga belum berkurang. Diam-diam, terbersit rasa empati dihati arthur.

"Pulanglah," Arthur menepuk pundak Alfred. "Kau harus istirahat."

Alfred mengangguk singkat, "Ya. Kau benar, Artie."

"Aku antarkan kau sampai ke apartemen," Arthur menarik tangan Alfred untul masuk ke mobil miliknya.

Alfred menyunggingkan senyum jahilnya, "Kau ternyata perhatian juga, Iggy!" ujarnya sambil memeluk Arthur.

"Bloody git! Lepaskan aku, you git!" Arthur memberontak dari pelukan Alfred. "Jangan berpikir yang macam-macam! Aku hanya takut kau tertidur dijalan dan menimbulkan kekacauan!"

Alfred, terima saja nasibmu mempunyai sahabat tsundere yang isi hatinya bertentangan dengan mulutnya. Percuma, mereka tidak akan mengakuinya.


Diapartemennya, Alfred berjalan gontai menuju kamarnya. Hari ini ia merasa lemas karena kurang tidur.

Setiap kali ia tidur, selalu saja dibayangi oleh mimpi buruk.

Alfred mengambil handuk bendera US miliknya yang tergantung di pintu kamar. Sepertinya mandi adalah pilihan yang tepat untuk dirinya yang sedang dilanda stres.

Bagaimana ia tidak stres setelah menyaksikan adiknya mendatangi dirinya ditengah malam kemarin?

Belum lagi pembunuhan Gilbert yang berakhir sama dengan Francis. Pembunuh berdarah dingin yang selalu menuliskan pesan kematian dengan tinta darah. Dan sama seperti pembunuhan Francis, ia juga merasakan hal yang sama

Sepertinya berendam di bathub adalah solusi yang terbaik—setidaknya untuk melepas penat sejenak.

Kakinya melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan menyalakan keran bathub.

.

Setelah menanggalkan bajunya satu per satu, ia merendam tubuhnya di dalam bathub itu. Aroma citrus menambah ketenangannya saat berendam.

Tiba-tiba sepasang tangan mencengkram tubuhnya ke dasar bathub. Alfred melawan cengkraman itu dengan berpegangan pada pinggir bathub dan berusaha menarik badannya untuk ke atas.

Semakin keras ia berusaha untuk melepaskan diri, semakin kuat cengkraman itu. Dada Alfred mulai sesak karena kesulitan bernafas di dalam air.

Hingga cengkraman tangan itu melemah dan ia berhasil menarik badannya keluar dari bathub. Alfred terbatuk-batuk memaksa air keluar dari mulutnya, kemudian mengatur nafasnya.

"Sudah cukup!" jerit Alfred. "Aku tidak tahan lagi!"

Ini sudah diluar batas kemampuannya.


Kring...

Terdengar suara telepon.

Arthur menggerutu, kenapa sih semua anggota keluarga di rumah ini malas mengangkat telepon?

Arthur mengangkat telepon itu, "Halo, disini kediaman keluarga Kirkland,"

"Artie, ini aku!" kata Alfred setengah berteriak.

"Bloody hell! Ngapain kau nelepon ke rumah! Kalau sampai ketahuan Scott gimana?" seru Arthur panik.

"Salahmu," cibir Alfred. "Siapa suruh handphone tidak diaktifkan!"

Arthur menyadari kesalahannya, ponselnya memang sedang lowbatt. Tapi berhubung dia tsundere akut, tentu saja dia tidak mau mengakui kesalahannya.

"Bodoh! Handphoneku sedang lowbatt tahu!"

Alfred—yang sangat mengetahui sifat tsundere Arthur— menghiraukan perkataan arthur.

"Artie, kau tahu tidak peramal atau siapapun yang bisa mengusir setan yang ada di dekat rumahmu?"

Mata Arthur membelalak,"Kau ingin pergi ke peramal?" tanyanya tidak percaya.

Arthur tertawa keras dibalik telepon. Alfred misuh-misuh mendengar tawaan pemuda Inggris itu.

"Hahaha! Sorry, Alfred! Tapi orang sepertimu mau pergi ke peramal? Dunia seperi mau kiamat!"

"Ini sudah diluar batas!" seru Alfred kesal. "Aku hampir gila dengan semua teror ini!"

"Baik, aku mengerti," kata Arthur mulai serius. "Kau tahu Nor?"

"Nor? Siapa itu? Teman perimu?"

"Bloody hell! Dia itu senior kita di jurusan manajemen, you git!" jawab Arthur setengah berteriak. Diam-diam ia menyesal mempunyai keka—ralat— teman seperti Alfred yang lambat koneksinya.

"Eh, emangnya si Nor bisa melawan setan?"

"Dengar-dengar, dia punya troll, tapi tidak tahu juga. Dia jago meramal dengan kartu tarot. Selain itu, dia senior di perkumpulan peramal."

Alfred facepalm mendengar pernyataan dari Arthur. 'Baru tahu aku kalau ada perkumpulan seperti itu.' batinnya.

"Kalau tidak mau dengan Nor, kau bisa bertanya kepada Putra. Dia juga lumayan paham mengenai hal spiritual." Arthur menawarkan jasa ramal-meramal rupanya. Alfred tidak menyangka kalau keka—ralat— sahabatnya

"Terserah kau saja!" jawab Alfred pasrah.


"Ada perlu apa kalian?" tanya Nor dingin.

"Sebenarnya yang membutuhkan bantuanmu itu dia," Arthur menunjuk Alfred. Alfred menunjukkan cengiran khasnya di hadapan pemuda Norwegia itu.

"Jadi kau yang ingin diramal?" Nor melihat wajah Alfred penuh selidik.

"Yup. Semua kejadian mengerikan itu membuatku gila!"

"Aku melihat sesuatu yang berbeda denganmu," kata Nor. "Sepertinya kejadian yang kau berkaitan dengan kasus pembunuhan Francis dan Gilbert."

Pemilik mata biru itu membelalak, begitu juga pemilik mata hijau disampingnya.

"Maksudmu?" tanya Alfred dan Arthur kompak.

Nor tidak menjawab pertanyaan mereka—hanya tersenyum tipis.

"Kalau mau tahu jawabannya, sekarang kita ke apartemenmu," jawab Nor sambil menepuk pundak Alfred.

"Nor!" seseorang menghentikan langkahnya.

"Sudah kubilang panggil aku 'kakak', Ice!" bentak Nor pelan pada pemuda berambut pirang keputihan didepannya. Ice hanya mendengus pelan.

"Kau mau kemana?" tanya Ice dingin. Ia tak memedulikan wajah kakaknya yang makin menekuk karena tidak dipanggil 'kakak'.

"Mau ke apartemen Alfred, memangnya kenapa?"

"Memangnya kau mau apa kesana?" selidik Ice.

"Ice—" Nor tidak menyangka adiknya seposesif ini.

"Nor!" sebuah suara menyentak mereka berempat.

"Si anko uzai itu," gerutu Nor pelan. Ice menekuk wajahnya melihat seorang pemuda Denmark menghampiri mereka.

"Nor!" pemuda Denmark itu memeluk Nor. Ice merengut kesal melihat kakaknya dipeluk oleh pemuda serampangan itu. Sementara Arthur memasang tampang 'WTF'.

"Wah, Mathias! Kau bersemangat sekali!" seru Alfred. Pemuda Amerika satu ini memang tidak peka dengan keadaan sekitar.

"Lepaskan aku, anko uzai!" bentak Nor. "Kau mau aku kirimkan Troll lagi ke apartemenmu?"

Wajah Mathias langsung pucat mendengar kata 'Troll'. Ia teringat ketika pulang kuliah sebulan yang lalu, apartemennya hancur lebur seperti ditabrak pesawat. Sepertinya Nor mengirimkan Troll untuk menghancurkan apartemennya.

"Tidak, terima kasih," Mathias melepaskan pelukannya dengan sangat tidak sukarela.

"Sebaiknya kau jauh-jauh dari kakakku, atau kau akan menyesali akibatnya!" ancam Ice.

"Diam kau, bocah!" bentak Mathias. Mata birunya mendelik tidak suka. Ice membalasnya

"Jangan membentak Ice, anko uzai!" bentak Nor. Mathias hanya bisa bersungut-sungut dalam hati. Tentu saja ia tak mau membuat Nor semakin marah.

Ice meleletkan lidahnya ke arah Mathias dan membuat pemuda berdarah Denmark itu memberikan death glare kepada Ice.

Alfred dan Arthur facepalm melihat adegan ketiga pemuda itu. Benar-benar mirip dengan coretcinta segitigacoret Putra, Razak dan Williem. Oh, Tuhan! Betapa sempitnya dunia ini!

Akhirnya pertemuan yang tidak jelas tadi ditutup dengan perginya Nor tanpa membawa kedua sem—coret— adik dan temannya.


Di apartemen Alfred, Nor melihat sekeliling apartemen Alfred. Kemudian, wajah pemuda Norwegia itu memucat.

"Aku merasakan kehadiran seseorang disini," kata Nor sambil menatap ke Alfred. Alfred menggelengkan kepalanya—tanda tidak setuju.

"Tapi aku tidak merasakannya, iya kan Iggy—" Alfred menghentikan kata-katanya ketika melihat ekspresi wajah Arthur mirip dengan Nor.

"Aku juga merasakan sesuatu," potong Arthur. "Sepertinya dia penghuni apartemen ini."

"Kalian berdua jangan bercanda!" bentak Alfred. "Aku kan tinggal sendirian disini!"

"Siapa yang bercanda!" balas Arthur dan Nor bersamaan. Mereka mendelik kesal ke arah Alfred.

"Sekarang aku ingin bertanya padamu," Nor menatap tajam Alfred, "Apa kejadian ini sudah berlangsung lama?"

"Sebenarnya semenjak Mattie meninggal, aku seperti merasakan kehadirannya," Alfred memutus kalimatnya untuk menghela nafas, "Tapi aku hanya merasa kalau dia selalu ada setiap malam untuk mendampingiku, hanya itu..."

Alfred menundukkan kepalanya, "...Tapi tiga hari belakangan ini, aku terus-terusan diteror dengan penampakan roh halus, bahkan penampakan adikku sendiri. Dan yang terakhir," nada bicara Alfred terdengar enggan mengatakannya, sepertinya ia merasa berat untuk menceritakannya.

"...Aku nyaris mati kehabisan nafas karena ditarik ke dalam bathub."

Kedua pasang mata membelalak ketika mendengar pernyataan Alfred.

"Sampai seperti itu? Kenapa kau tidak membicarakannya ditelepon?" tanya Arthur gemas. Raut wajah panik mulai tergambar diwajahnya.

"Tadi kau tidak menanggapiku serius di telepon." sinis Alfred.

Arhur hanya menundukkan kepalanya. Mungkin ia merasa menyesal setelah sahabatnya mendapat teror sedemikian kejinya, ia malah menertawakannya.

"Ehem!" Nor berdehem—meminta kedua orang itu agar serius. Akhirnya, Alfred dan Arthur tidak lagi membahas soal telepon tadi.

Mata violet nor berpaling ke Alfred, "Alfred, bisakah kau menceritakanku tentang Matt— siapa tadi?"

"Matthew, Mathew Jones."

"Iya! Siapapun itu! Kau bisa menceritakannya padaku? Sampai ia bisa meninggal?"

Sebenarnya ia enggan menceritakan masa lalunya dengan Matthew. Namun... ia sudah tidak tahan lagi!

"Kita duduk dulu," Alfred menghempaskan tubuhnya di sofa dan diikuti oleh Arthur dan Nor. Ia mengambil nafas dan menghembuskannya perlahan.

"Aku akan menceritakan sedikit tentang masa lalu adikku."


#

Malam itu, kedua saudara kembar bersiap untuk tidur. Mereka berdua memakai baju piyama mereka dengan rapi. Kedua anak yang sama-sama berusia 5 tahun itu

"Kakak," anak kecil bermata violet itu menatap seseorang bermata biru disampingnya.

"Ada apa, Mattie?" tanya anak bermata biru itu. "Apakah kau memerlukan bantuan HERO?"

Anak yang dipanggil 'Mattie' itu mengamit tangan kembarannya dengan erat, membuat pemilik mata azure itu membelalak.

"Jangan pernah meninggalkanku, kak," anak bermata violet itu makin mengeratkan tangannya ke lengan saudara kembarnya. "Jangan pernah meninggalkan aku sendirian."

Bibir merah muda itu bergetar, "Aku—takut sendirian..."

Pemilik mata biru itu termangu sebentar, lalu ia menatap adik kembarnya lalu memeluknya dengan erat.

"Aku tidak akan meninggalkanmu, Mattie."

"Apapun alasannya?"

"Apapun alasannya, hero tak akan meninggalkan adik tercintanya sendirian!" senyum tulus terukir di bibir anak bermata biru itu.

"Janji?" anak bermata violet itu mengangkat jari kelingkingnya.

"Janji! Hero tidak akan mengingkari janji!" kembarannya menautkan kelingkingnya dengan kelingking miliknya.

Air mata dari pipi mulus itu mengalir dari mata violetnya. Itulah janji antara kakaknya dengan dirinya.

.

Semakin bertambahnya umur, jurang perbedaan makin memisahkan mereka berdua. Alfred—anak laki-laki bermata biru itu— begitu berisik, urakan, namun ia memiliki banyak teman. Sementara Matthew—kembarannya— tidak memiliki banyak teman, sering menarik diri dari pergaulan...

...Dan selalu sendirian.

Sebenarnya pemuda bermata biru itu masih memperhatikan adik kembarnya, namun ia tak bisa selalu bersama dengannya setiap saat, bukan?

Terlebih lagi saat kakaknya mulai mengenal pemuda berambut pirang berantakan dan alis tebal yang hampir menyita seluruh perhatian kakaknya. Hal itu terjadi saat mereka duduk di bangku SMA.

Arthur Kirkland.

Ya, kakaknya kembarnya mulai berpaling dengan Arthur dan mulai menjauhi dirinya. Meninggalkan dirinya sendirian.

.

Disaat itulah, ia mulai mengenal pemuda berambut putih yang tak pernah absen menyebutkan kata 'awesome' disetiap kalimatnya.

Gilbert Beilschmidt.

Awalnya hubungan mereka tidak disetujui oleh Alfred, namun dirinya memaksa bahwa Gilbert tidak pernah meninggalkannya. Sampai Alfred menyerah dan berusaha percaya pada pemuda albino itu.

Sampai suatu saat Alfred menemukan adik kembarnya sering bermurung diri.

Apakah ada masalah dengan adiknya? Apa yang membuatnya bermurung diri dan selalu terdiam di kamarnya?

Seminggu kemudian, Ia baru mengetahui bahwa adiknya putus dengan Gilbert. Beraninya ia menyakiti kembarannya!

Ia ingat ketika dirinya meninju wajah awesome Gilbert sampai akhirnya dihentikan oleh Matthew. Itu terjadi sebulan sebelum hari kelulusan.

Dua hari setelah hari kelulusan, ia melihat sosok adiknya tergantung tak bernyawa.

Dunia begitu kejam! Begitu kejamnya dunia menrenggut kebahagiaan seorang anak manusia yang begitu lembut dan penyayang. Merenggut kebahagiaan adiknya.

#


"... Jadi begitulah," Alfred menutup ceritanya. Kedua pasang mata itu membelalak. Motifnya kini terlihat jelas dimata mereka.

"Alfred, sepertinya roh adikmu berperan dalam pembunuhan sadis itu," kata Nor. "...Dan motifnya adalah balas dendam."

"Kenapa kau menuduh adikku?" tanya Alfred tidak suka. "Lagipula, bagaimana caranya ia bisa membunuh Francis dan Gilbert? Dia kan sudah men—"

"Kau tidak usah banyak tanya," potong Nor dingin. "Sekarang akan aku buktikan apakah adikmu berperan dalam pembunuhan itu atau tidak."

Nor mengeluarkan satu pak kartu tarot dari saku celananya. Ia membuka kotak lalu mengeluarkan semua kartu. Tangannya begitu cepat mengocok kartu-kartu tersebut. Bunyi kocokan kartu tersebut membuat Alfred merinding, sepertinya kartu itu membawa fisarat buruk baginya.

Kemudian Nor mengambil empat buah kartu dengan posisi terbalik. Ia meletakkan keempat kartu dimeja, lalu mendekatkan kartu-kartu itu dihadapan Alfred.

"Pilih salah satu."

Alfred mengambil kartu paling kiri. Mendadak tangannya gemetar saat menarik kartu itu.

Ia membalik kartu tersebut lalu melihat gambar yang menyeramkan pada kartu tarot itu.

Dibawahnya tertulis kata 'DEATH'.

Nor mengangguk singkat. Arthur menarik kartu itu dari tangan Alfred, dan mata emeraldnya membelalak melihat kartu pilihan Alfred.

"Apa itu pertanda buruk?" tanya Alfred.

Nor hanya mendesah, "Sudah kuduga kau akan memilih kartu itu," Nor membalik tiga kartu yang tidak dipilih oleh Alfred.

"Kartu pertama menggambarkan saudara kembarmu," Nor menunjuk gambar dua anak kembar di kartu pertama. "Kemudian kartu kedua menggambarkan pembunuhan," telunjuk Nor menunjuk gambar pisau yang berlumuran darah.

"...Kartu ketiga menggambarkan teror oleh makhluk halus," Alfred melihat telunjuk Nor menunjuk pada gambar setan dan hantu. "...Dan kartu yang kau pilih menggambarkan kematian."

Mata biru langit itu mendelik, "Jadi maksudmu, aku akan mati setelah ini?"

Nor ingin marah melihat ekspresi Alfred yang meragukan ramalannya, tapi kemarahannya diinterupsi oleh Arthur.

"Aku punya pendapat lain mengenai kartu-kartu itu."

Alfred dan Nor terdiam. Mereka berdua memasang telinga untuk mendengar penjelasan dari Arthur.

Arthur menghela nafas pendek, "Aku menangkap arti terselubung dari kartu itu, dan sepertinya aku juga harus menginap diapartemenmu malam ini."

Alfred membelalakkan matanya, "Apa maksudmu, Artie? Mengapa kau harus menginap segala?"

"...Karena Matthew akan datang malam ini."


#

T.B.C

#


Eka's note : Oke, JANGAN BUNUH SAYA! Saya menyesal telah membunuh Gilbert! Entah mengapa saya seperti mendapat dilema. Tadinya saya tidak ingin membunuh Mr. Awesome itu, tapi karena tuntutan cerita yang sudah memasang rated 'M' saya terpaksa nulis adegan gore ini. Adegan gorenya udah maksa, horornya kagak mantep pula! Ceritanya tambah gaje lagi! Tidak! *jedukin pala ke tembok*

Saya juga mengalami dilema pas ngetik suasana pemakaman Gilbert. Soalnya saya bukan kristiani, dan tidak tahu proses pemakaman orang kristen seperti apa. Dan sumpah, itu ngapain ada acara ngeramal-ramal segala? Itu musyrik! *merinding* (readers : Tau gitu, ngapain elo ketik, bego!) Dan... karena saya gak tahu cara main (?) kartu tarot, saya cuma ngasal aja ngasih komennya si Nor. Gapapa kan? *dilempar ke Segitiga Bermuda*

Gomen, dilema-dilema inilah yang membuat saya lama dalam pengupdatetan. m(_ _)m

Nah, udah tau kan alasan mengapa saya memberikan judul 'Alone' pada fic ini. Ya, karena pada dasarnya kejadian horor dalam fic ini bermula dari kesendirian Matthew. Bisa dilihat pada flashback (yang bertulisan miring). Lupa bilangin! Nor itu Norway, Mathias itu Denmark, dan Ice itu Iceland.

Saya salah ngasih informasi. Ternyata film Alone itu dari Thailand, bukan dari Jepang. Gomenasai! Saya gak bisa ngasih tau ceritanya kayak gimana, pokoknya anda searching aja di Google. #authorgabertanggungjawab *digampar bolak-balik*

Oh, iya. Ini sudah mendekati anti klimaks yang artinya... fic ini akan selesai! Yey! (jejingkratan) Nantikan chapter terakhirnya ya... ^^

Balas review anon!

nyasar-tan males login : Gapapa kok, say... *plak* Iya, saya suka sama yang clueless sama tsundereness! ^^ Udah diupdate nih... jangan lupa review ya...

Akhir kata,

Review please?