Sebenarnya aku masih tidak bisa melupakan sosok itu, sosok wanita yang teramat aku kagumi, sosok wanita yang lugu dan pendiam. Tapi kebaikannya dapat membuat semua pria ingin memilikinya, dan matanya yang indah dan senyum manisnya dapat membuat semua pria bertekuk lutut padanya. Aku masih ingat ketika dia tersenyum padaku saat aku merasa sendirian di dunia ini.

" Kukuruyyuk….."

Suara ayam membangunkan aku dari lamunanku. Ternyata malam telah berganti dengan pagi, sang bulan telah tergantikan dengan matahari. Aku masih malas untuk bangun dari tempat tidurku, walaupun hanya sekedar untuk cuci muka dan sikat gigi, apalagi mandi. Untung hari ini hari minggu jadi, aku tidak perlu terburu – buru untuk mandi dan sebagainya seperti hari – hari biasa.

Aku bersyukur hari ini libur, aku tidak mau bertemu dengannya, Melihat lagi senyumnya, apalagi saat ini ada sosok pria lain yang telah menemaninya. Pria itu telah memiliki dirinya, senyum indahnya yang mungkin lebih indah dan manis dari yang paling membuatku sakit hati adalah karena pria itu adalah sahabatku sendiri, sahabatku dari kecil.

" Gaara-chan, kamu sudah bangun?"

Suara Temari kakak perempuanku menyadarkanku dari lamunanku, aku hanya mengomel tidak karuan. Aku langsung mencuci mukaku dan sikat gigi dan turun kebawah tanpa menjawab pertanyaanya. Toh, kalau aku ada dibawah berarti aku sudah bangun. Aku langsung menuju ruang makan dan duduk .

" Kamu baru bangun Gaara-chan?"tanya kakak laki – lakiku Kankuro.

" Sudah berapa kali sich, aku bilang aku gak mau namaku di beri embel – embel 'chan', memangnya aku anak kecil apa?"Aku menjawab pertanyaan kakakku dengan sewot.

Kakaku hanya tertawa tanpa dosa mendengar omelanku.

Beberapa menit kemudian Temari datang, sarapan pagi ini pun telah terhidang di meja dari tadi. Aku hanya memandang makanan – makianan itu dengan malas.

" Hei, ayo makan jangan hanya di liatin aja! Tadi malam kamu juga belum makan, ada apa sich hari ini kamu kelihatan tidak bersemangat seperti biasanya?" Temari menyadarkanku dari lamunanku.

Aku hanya menggelengkan kepalaku, lalu menghabiskan makanan di piringku dengan malas. Setelah makanan itu habis aku langsung naik lagi ke kamarku. Aku malas untuk berbicara dengan siapapun, walaupun dengan kedua kakakku yang bawelnya minta ampun, apalagi jika Temari teriak, ampun dech suaranya bisa buat gendang telinga pecah. Di rumah ini sebenarnya aku tinggal berempat dengan dua orang kakakku dan ayahku. Tapi, dari kecil sampai sekarang aku tidak pernah berbicara dengannya, mungkin Beliau masih marah bakan benci padaku karena istrinya yang berarti ibuku meninggal sewaktu melahirkan aku. Menurut kakak – kakakku, Ibuku adalah wanita yang amat teramat cantik.

Kembali terlintas dalam ingatanku, Kemarin ketika peraayaan pergantian malam tahun baru, aku melihat ia dipeluk erat oleh pria itu dan yang membuatku lebih sakit hati adalah karena aku tak bisa memilikinya, karena ia yang terlebih dulu mengungkapkan perasaannya pada pria itu sebelum aku mengungkapkan perasaanku padanya. Jika dulu aku berani mengungkapkan perasaan ini, mungkin rasanya takkan sesakit ini. Yang terlintas di pikiranku sekarang adalah aku merasa teramat sangat bodoh dan otakku mengatakan bahwa aku lebih baik mengakhiri hidupku ini. Tapi aku masih ingat dengan ibuku , beliau mengorbankan hidupnya demi aku. Aku membuang fikiran ini jauh – jauh, tak terasa aku meneteskan air mataku yang tak pernah menetes sejak lama meskipun aku terluka. Ternyata patah hati sesakit ini. Aku bingung bagaimana sebaiknya aku besok apakah harus bersikap seperti biasa atau menghindar dari mereka.

"Oh, Kammi tolong aku, aku bingung dengan semua ini" Ucapku lirih

Aku terus meneteskan air mataku dan tertidur. Aku harap mimpi dapat melepaskan aku dari rasa ini walaupun untuk sekejap.

# Huach, sejak kapan gaara tinggal di konoha? Klo Gaara patah hati ma aq aza. ( di tonjok ).

Mohon bwt senpai – senpai fic ni di ripyu ya!

Akhir kata, CONTINUED