Disclaimer: Naruto punya sayaaa.*kicked*, ehm maksud saya punya Mister Masashi Kishimoto nan hebat *gak rela* *MK nyengar-nyengir gaje*, terus ada lagi! Drama Ice and Snow owned by Yukiru Sugisaki

Warning: this fic full of OOC, AU, abal, gaje, typo(s) yang bertebaran

Pairing: Namikaze Naruto dan Hyuuga Hinata

My Bodyguard, My Knight in Shining Armor, My Ninja

By: Akasuna no NiraDEI Uchiha

"Hoahm," Hinata menguap, ia sangat lelah hari ini, ia mengira hari ini ia libur, ternyata tidak, sepertinya kegiatannya masih akan berlanjut dan mungkin malah ia tambah sibuk, Hinata menghela nafas, setidaknya hari ini Naruto akan ke rumahnya, kemudian ia tersenyum membayangkan wajah Naruto, entah kenapa di benaknya selalu saja terngiang-ngiang suara Naruto dan senyumnya.

'Citt' Hinata menghentikan mobilnya, ia sudah sampai di apartemennya yang tergolong mewah ini.

"Tadaima," Hinata memasuki kamarnya, lalu saat ia menyalakan lampu apartemennya ia terkejut mendapati pria berambut kuning sedang tertidur di sofanya, ia tersentak.

"Oahmm, ah ada Hinata-chan, okaeri," gumam Naruto, ia mengucek matanya dan meregangkan ototnya, lalu menghampiri Hinata yang masih bengong.

"Tadi aku ke sini jam 5 sore, aku mengetuk pintumu tapi tidak ada yang membukakan, lalu dari pada aku diluar apartemenmu aku masuk saja dan aku ketiduran, maaf ya Hinata-chan," jelas Naruto, Hinata tersenyum.

"Ah tidak apa-apa, bagaimana Naruto-kun bisa masuk kemari?" tanya Hinata, Naruto membelai rambut Hinata.

"Aku kan ninja, wajar saja dong, Hinata-chan," kata Naruto, menyeringai kepada Hinata.

"Maaf ya Naruto-kun, aku jadi membuatmu menunggu lama," pinta Hinata, ia memasang air muka sedih atas perbuatannya, Naruto menghela nafas dan tersenyum.

"Tak apa-apa kok Hinata-chan, justru aku yang minta maaf malah masuk apartemenmu seenaknya," Hinata tersenyum, kemudian mengangguk pelan.

"Ya sudah, kamar Naruto-kun ada disitu ya," kata Hinata menunjuk kamar kosong disamping kamar Hinata.

"Aku lihat dulu ya Hinata-chan," kata Naruto melangkahkan kakinya ke kamar yang ditunjuk, ia terkejut mendapati kamar yang rapi, memang agak sempit tapi cukup rapi, di pojok kiri ada tempat tidur single bed dengan sprei berwarna biru lembut, kemudian disampingnya ada pintu kaca yang menyambungkan dengan balkon di apartemennya, lalu ada satu meja belajar, satu sound system, satu lemari yang lumayan besar, dan lantainya adalah karpet berwarna merah marun.

"Bagus sekali, Hinata-chan," kata Naruto.

"Biasa saja kok Naruto-kun, dimana barang bawaan Naruto-kun?" tanya Hinata, Naruto menunjuk satu tas ransel dan tas travel bag.

"Bawaanmu sedikit sekali, Naruto-kun," kata Hinata, untuk Hinata bawaan segitu tergolong sangat sedikit.

"Tidak juga, memang biasanya bawaan Hinata-chan seperti apa?" tanya Naruto, Hinata berpikir sejenak dan menjentikkan jarinya.

"Bawaanku minimal itu 1 koper dan 1 travel bag," kata Hinata.

"Yah, Hinata-chan kan tergolong model, pasti bawaannya banyak," kata Naruto, lalu ia melihat ke jam dinding yang ada pada ruang keluarga.

"Sudah jam 10, kamu tidak tidur Hinata-chan?" tanya Naruto, Hinata menggeleng.

"Nanti saja, aku masih mau belajar dulu Naruto-kun," Naruto ber-oh ria kemudian melangkahkan kakinya.

"Ya sudah, aku juga akan belajar di kamarku, oyasumina Hinata-chan."

"Iya, oyasumina Naruto-kun," kata Hinata, ia melangkahkan kakinya ke kamarnya, saat mencapai kamarnya, disana terdapat karpet yang berwarna biru muda dengan ranjang double bed putih yang sangat halus dan empuk, satu meja belajar berwarna putih juga, satu rak buku berwarna putih, dua pintu yang masing-masing menuju kloset dan kamar mandi, satu pintu kaca yang menyambung kepada balkon yang tertutupi oleh tirai berwarna putih, dan juga dipercantik dengan cat tembok berwarna krem muda yang hampir terlihat berwarna putih.

'Tik tik tik' jam terus berdetak tanpa henti, sama dengan Hinata, ia masih terjaga pada jam yang sudah tergolong malam ini.

"Hm, lalu ini begini dan begitu," gumamnya, ia masih saja belajar pada jam yang sudah menunjukkan waktu 12 malam tersebut.

"Hoahm," Naruto menguap, ia mengedipkan matanya berkali-kali dan segera bengkit dari tempat tidurnya.

"Hm," Naruto keluar dari kamarnya, ia ingin mengambil air putih, setelah ia melewati Kamar Hinata ia tertegun karena lampu kamar itu belum dimatikan.

"Apakah Hinata-chan masih?" gumam Naruto, ia membuka pintu kamar Hinata sedikit karena takut Hinata akan menyadarinya, ia melihat Hinata yang serius belajar.

"Hinata-chan?" tanya Naruto, ia masuk ke dalam kamar Hinata, Hinata menoleh sebentar dan tersenyum melihat sosok Naruto.

"Naruto-kun, ada apa kesini malam-malam begini?" tanya Hinata, sebenarnya ia senang melihat Naruto masih terbangun.

"Aku terbangun dan melihat lampu kamarmu masih menyala, aku melihatmu sedang belajar Hinata-chan, kamu sedang belajar apa?" tanya Naruto.

"Aku belajar matematika, sebentar lagi kan ujian, dan aku harus belajar untuk menggantikan pelajaranku yang tertinggal saat aku izin kerja Naruto-kun," kata Hinata.

"Ah begitu ya, ya sudah aku tidur duluan ya Hinata-chan," Hinata mengangguk kecil dan membiarkan Naruto kembali ke kamarnya.

NARUTO'S POV

"Ayo berangkat, Naruto-kun!" seru Hinata, aku mengangguk dan segera menuju tempatnya sekarang bersama kunci mobil yang ia bawa.

"Kamu mau naik mobil, Hinata-chan?" tanyaku, aku benar-benar tidka tahu bahwa Hinata dapat menyetir mobil.

"Tentu saja, aku bukan model yang manja, Naruto-kun," Hinata menyunggingkan senyumnya, tentu saja ia bukan model yang manja, ia sudah lama tinggal sendiri, setidaknya aku mengetahuinya.

"Baiklah baiklah, tapi ijinkan aku yang menyetir, oke?" kataku dan merebut kunci mobil dari tangan Hinata yang ehm, putih dan halus.

"Naruto-kun! Yah apa boleh buat," katanya, kemudian ia mengikutiku, tetapi sebelumnya ia mengunci pintu kamar apartemen kita.

"Yang mana mobilmu?" tanyaku ketika melihat banyak sekali mobil di parkiran di lantai dasar apartemennya, kemudian Hinata menunjuk mobil yang berwarna lavender.

"Itu mobilmu?" tanyaku, Hinata mengangguk, aku segera membuka pintu penumpang dan mempersilakan Hinata untuk masuk, mukanya terlihat merah ketika aku menyuruhnya masuk ke dalam mobil.

"Jangan memperlakukan aku seperti putri, Naruto-kun," rengeknya, satu catatan lagi untukku, Hinata tidak suka diperlakukan seperti putri, aku menyeringai dan menutup pintu mobil dan segera ke bangku pengemudi.

"Sudah siap, putri?" godaku, Hinata kemudian memukul pelan pundakku.

"Sudah kubilang jangan panggil aku seperti itu," katanya, aku hanya menyeringai dan mulai menyalakan mobil dan mengebut agar cepat sampai di sekolah.

"Ja…jangan ngebut Naruto-kun!" seru Hinata, tetapi justru aku menikmati saat-saat menggodanya, itu adalah hiburan bagiku.

"Iya Hinata-chan," dalam waktu 10 menit kita sudah sampai di sekolah kita tercinta, SMA Konoha.

"Eh ada apa itu ramai-ramai?" tiba-tiba Hinata tanya padaku, kemudian aku melihat arah pandangannya, terlihat di pintu masuk ke sekolah banyak sekali murid-murid berkumpul.

"Aku tak tahu, ayo coba kesana," aku segera keluar dari mobil, diikuti Hinata, kemudian aku menggandeng tangan Hinata hingga kerumunan itu, aku tidak mau ia tersesat.

END OF NARUTO'S POV

HINATA'S POV

Hangat…. Itulah kesan pertama yang kudapat saat Naruto menggenggam tanganku, rasanya nyaman sekali, aku tidak pernah digandeng oleh cowok sebelumnya, atau memang karena ini sudah memasuki musim dingin ya? Biasanya kalau musim dingin suhu badanku relative rendah.

"Aw!" pekikku, ada yang menginjak kakiku, dan itu sangat menyakitkan, aku jarang berdesak-desakan bersama orang banyak seperti ini.

"Ada apa Hinata-chan?" tanya Naruto, sepertinya ia menyadari pekikanku yang tenggelam dalam suara-suara bising lainnya.

"Tidak, tidak apa-apa, Naruto-kun," kataku, aku menahan sakit yang masih berdenyut di kakiku.

"Ya sudah, kalau ada apa-apa bilang padaku ya Hinata-chan," hah, suara itu benar-benar menenangkanku, walau begitu aku tidak dapat melihat apa-apa, bahkan bernafaspun aku susah, aku sedikit mempunyai claustrophobia, aku tidak dapat berada dalam ruangan yang sempit, dan aku takut tidak dapat keluar dari situ, benar saja, pandangan mataku mulai kabur dan kakiku hampir tidak dapat menahan berat badanku, namun tiba-tiba saja pandanganku berubah, yang dari tadi aku hanya melihat orang yang berdesak-desakan kini aku melihat langit.

"Hinata-chan! Kamu tidak apa-apa?" aku mendengar suara yang berat, kemudian aku melihat Naruto, dan aku melihat sekeliling, tanpa sadar ternyata aku digendong dia dan sekarang kami ada di atap.

"Kamu mengantarku kesini dalam beberapa detik, kenapa bisa cepat…," tiba-tiba saja Naruto memotong perkataanku.

"Aku menggunakan jurus ninja!" seru Naruto, oh jadi seperti ini ya jurus ninja itu, praktis sekali, aku turun dari gendongan Naruto dan berdiri disampingnya.

"Aku tidak apa-apa Naruto-kun, aku mempunyai sedikit claustrophobia, itu saja, terima kasih," aku memeluk Naruto, aku senang sekali memiliki lelaki seperti dia yang selalu ada disampingku.

"Sama-sama, Hinata-chan," Naruto kembali memelukku, benar saja, hangat sekali, jika tangan saja sudah hangat apalagi tubuhnya.

"Menarik sekali ya jadi ninja itu Naruto-kun, dulu aku juga ingin menjadi ninja," kataku, setelah melepaskan pelukanku di Naruto.

"Jadi ada yang menjadi ninja juga ya di keluargamu?" tanya Naruto sepertinya ia tidak percaya.

"Ya, tapi aku hanya tahu para lelaki dalam keluargaku di Suna dulu menjadi ninja, makanya aku sedikit tidak percaya ada ninja di Kota Konoha ini," kataku, memang benar, dulu saat aku kecil aku selalu melihat kakak sepupuku berlatih ninja.

FLASHBACK

"Hina-chan! Hina-chan! lihat ini!" Neji, kakak sepupuku yang berumur 7 tahun memperlihatkan padaku jurus ninjanya, sekali ia memukul pohon, pohon itu langsung rubuh.

"Hebat sekali Neji-nii!" seruku, di keluargaku perempuan tidak boleh menjadi ninja, padahal menurutku, itu keren sekali!.

"Iya! Terima kasih! Aku berjanji akan selalu menghiburmu Hina-chan, aku tidak mau kamu sedih karena tidak dapat menjadi ninja," kata Neji, itu benar, aku sempat sedih karena tidak dapat menjadi ninja, tetapi Neji selalu menghiburku dan aku sangat bersyukur atas itu.

5 tahun kemudian Neji menjadi sangat sibuk, ia hanya dapat menemaniku sebentar lalu ia pergi menjalankan tugasnya, kata Tou-san tugasnya banyak sekali, aku hanya dapat menghela nafas dan mengejar cita-citaku, menjadi model, aku kecewa karena tidak dapat menjadi ninja, lalu saat aku melihat majalah, aku tertarik pada wanita cantik yang terpajang disana, kemudian cita-citaku menjadi model terkemuka.

END OF FLASHBACK

"Oh begitu ya, Hinata-chan," kata Naruto, yah aku hanya tersenyum.

"Ya, sebenarnya aku mempunyai kekuatan warisan dari keluargaku, Naruto-kun," kataku, itu benar, aku dapat melihat jauh dengan mengeluarkan jurus itu, yang katanya semua klan Hyuuga juga mempunyainya.

"Apa itu Hinata-chan? Bolehkah aku melihatnya?" kata Naruto, antusias, aku meletakkan kedua tanganku didepan dadaku, membentuk sebuah segel jurus dan bergumam.

"Byakugan," pandanganku kini mulai dapat melihat sejauh apapun, beginilah untungnya mempunyai doujutsu keturunan keluarga yang mau ataupun tidak mau pasti akan terwariskan didalam darahku.

"Hebat sekali! Mata itu dapat melihat sejauh apapun ya Hinata-chan?" tanya Naruto, ia memandang mataku dalam, kemudian mataku dalam jarak pandangan normal, aku menonaktifkan byakuganku.

"Iya, itu dapat melihat sejauh apapun, tetapi aku jarang menggunakannya," kataku, menjelaskan sedikit demi sedikit fungsi mata ini kepada Naruto.

"Wah, kalau misalnya aku butuh contekan aku dapat menanyakan kepadamu dong Hinata-chan," kata Naruto, aku mencubit tangannya.

"Kalau contekan jangan minta ke aku! Aku tidak pernah menyontek menggunakan byakuganku," kataku, memang dari dulu aku tidak pernah mencontek, aku sudah dididik oleh Tou-sanku agar tidak pernah mencontek jika ingin menjadi orang sukses.

"Bagus Hinata-chan, kamu memang perempuan yang jujur," Naruto membelai rambutku, rasanya nyaman sekali, tetapi semua rasa nyaman itu berlalu ketika aku mendengar bel.

'Ting tong ting tong' aku membelalakkan mataku dan segera menarik Naruto bersamaku, kita harus cepat.

"Hei, santai saja, Hinata-chan," kata Naruto, aku melihatnya dengan tatapan asing, bagaimana bisa santai? Kelas kita berada di gedung B dan kita ada di gedung A, itu sangat jauh.

"Pegangan yang erat, Hinata-chan," Naruto memelukku, aku memegang kemejanya, apa yang akan dia lakukan?.

"Apa yang akan kamu lakukan? Naru…," saat aku berkedip sekali lagi, pandangan yang terlihat bukan awan-awan biru yang terhampar luas, melainkan koridor sekolah.

"Ini..," kataku, seperti tadi, kita sudah mencapai depan kelas.

"Ya, aku menggunakan jurus ninjaku, kalau begitu aku pergi dulu ya Hinata-chan!" Naruto meninggalkanku termangu disana, lalu aku segera beranjak ke kelasku, syukurlah gurunya belum datang.

"Hina-chan!" seru Sakura, ia segera mengampiri tempatku berdiri.

"Ada apa? Saku-chan?" tanyaku, muka Sakura sangat cerah hari ini, lalu ia menunjuk papan tulis, ketika aku melihat papan tulis mataku membelalak.

'Drama gabungan kelas 3-4 dan 3-3, drama version, ice and snow,

Pemeran utama:

Hyuuga Hinata: Freedrett

Inuzuka Kiba: Eliot

Suigetsu: Kyle

Dst,'

Aku? Menjadi pemeran utama? Mulutku perlahan terbuka, aku tidak percaya.

"Kamu hebat Hina-chan!" seru Matsuri dan menghampiriku, ia memelukku.

"Tunggu! Aku tidak mengetahui bahwa ada drama gabungan! Memang drama untuk apa?" seruku, karena dari kemarin juga tidak ada pemberitahuan drama, dan sekarang tiba-tiba saja ada.

"Untuk festival kebudayaan! Tadi kan ditempel didekat pintu gerbang!" seru Ino, ah iya, aku ingat, tadi aku pergi ke atap bersama Naruto gara-gara claustrophobiaku kambuh.

"Oh, tapi kenapa AKU!" aku masih saja tidak percaya, seandainya pemeran utamanya Naruto pasti aku mau! Tetapi Kiba, siapa lagi itu Kiba? Dan Suigetsu? Siapa lagi itu?.

"Sudahlah, terima saja, eh kamu sudah tahu cerita ice and snow belum Hina-chan?" tanya Matsuri, aku menggeleng, ice and snow berarti es dan salju, apa nanti di drama itu akan banyak saljunya? Atau jangan-jangan Freedrett itu manusia salju? Atau manusia es? Lalu Eliot itu seperti apa perannya? Pikiran itu berkecamuk didalam hatiku.

"Begini," Sakura melancarkan aksinya, ia mendudukkanku di bangkuku dan berdehem.

"Ini adalah cerita yang tragis, tetapi ini termasuk cerita yang romantis, Freedrett, Kyle, dan Eliot sering bermain bersama, sejak kecil, tetapi Eliot memiliki kasta yang lebih tinggi dari pada Kyle dan Freedrett, ia adalah anak dari kepala desa, saat itu anak yang memiliki kasta tinggi itu adalah bangsawan, tetapi mereka sama sekali tidak mempedulikan kasta mereka, tetapi tanpa sadar Eliot dan Freedrett sudah menjalin cinta saat mereka beranjak dewasa, Kyle yang mengetahui hal itu tersulut emosinya karena ia sudah memendam rasa cinta kepada Freedrett lama sekali," Sakura menghela nafas kemudian bercerita lagi, menurutku, dari awalnya saja sudah tragis begini.

"Saat itu Eliot diutus untuk pergi ke medan perang, Freedrett yang mengetahui hal itu memberikannya pedang yang bernama 'Wedges of Time', Eliot segera pergi untuk melindungi desanya termasuk Freedrett, Eliot menitipkan Freedrett kepada Kyle, ia memintanya untuk menjaga Freedrett, setelah Eliot berangkat, ia segera pergi ke tempat keramat, disana ada peti yang berisi benda magis, bernama 'Second Hand of Time', symbol desa tersebut, ia mengajukan permohonan agar Eliot mati di medan perang, untuk memisahkannya dari Freedret, permohonan terkabul, punggung Eliot tertembus panah, dia bersimbah darah, panah itu bukan berasal dari lawan maupun kawan, panah itu terbuat dari baja, seperti jarum jam raksasa, Fredrett yang mendengar hal itu bergegas mengajukan permohonan pada Second Hand of Time 'Ambillah waktuku sebagai pengganti waktunya'" Aku merasa air mata menetes dari mataku, sungguh kisah yang romantis, pikirku, tetapi Sakura belum menyelesaikan ceritanya, ia bercerita lagi.

"Kyle yang terlambat datang sangat terkejut melihat Freedrett tercintanya menukar nyawa dengan Eliot, berkat permohonan Fredrett, Eliot bangkit, darah tadi berubah menjadi kelopak bunga yang banyak, kemudian ia kembali ke desanya, semua sudah berubah, semua penduduk lenyap, Freedrett yang mempertaruhkan nyawa baginya juga sudah tiada, Eliot memeluk raga Freedrett dan berkata 'Dengan pelitanya selembar, nyawaku ini bangkit kembali, akan kukembalikan pelita ini padanya,' dengan itu, Eliot menikam diri dengan pedang yang diberikan Freedrett untuk melindunginya, tapi meski second hand of time dapat menukar waktu namun waktu yang sudah terhenti, tidak dapat digerakkan lagi," Sakura mengakhiri ceritanya, aku tersenyum, sungguh cerita yang romantic dan tragis, benar sekali.

"Benar-benar cerita yang bagus, apakah kalian yakin aku dapat memerankannya dengan baik?" tanyaku kepada seluruh murid yang ada dikelas 3-4, mereka bersorak.

"Tentu saja Hinata! Kami akan mendukungmu sepenuhnya!" seru teman-teman yang lain.

"Terima kasih," aku tersenyum, ternyata festival kebudayaan akan menjadi semenarik ini.

END OF HINATA'S POV

~To be Continued~

A/N: satu kata, pendek! Gak menarik! Tapi aku suka drama Freedretnya ahhahah *LOL* hmm maaf ya kalau updatenya lama, kalau soal actionnya masih nanti-nanti dulu oalnya aku rencana ikin fic multichap ini agak panjang, gak Cuma 1 atau 2 chapter, tapi ya gak tahu bisa 10 chapter apa gak, yaudah review please!

Balasan Review:

Pik pik: yahh seperti yang sudah aku utarakan diatas, actionnya bakal ada *semoga aja* tapi masih di chap selanjutnya *kalau bisa* makasih reviewnya!

Deidei Rinnepero: yah emang kau kan editor saya, belum kuberitahu? Kan udah! *walau malemnya* waa namanya Haruno Sasori itu girly banget! Aku gak suka, yaudah keep review ya Mbak Editorr

Naru Luv Hina: Makasih! Makasih! Cuma itu satu kata buat reiewnya! Hehehe :9

ZephyrAmfoter: iya maaf gak bisa lightning speed hiksuu, tapi kuusahakan bakal ada actionnya! Thx reviewnya~

Magrita loves NaruHina: yaa iyaa iyaaa! Maaaf tapi kalau lama updatenya! Ini udah kubanyakin Narutonya, gimana? Thanks udah review~

Kira Shinji Amane: iya! Insyaallah ada actionnya, makasih reviewnya~~

Viyuki-chan: yes yes! Udah aku banyakin, *malah fic ini hampir full NaruHina* arigato for reviewnya! *jepang, inggris, indo*

Astrea Fortine: Uaa makasih! *tepuk tangan juga(?)*, hmm terlalu singkat ya? Maaf yaa, iya! Ini belum selesai kok ceritanya! Tunggu ya, thanks reviewnya!

Crunk Riela-chan: tak apoo, makasih reviewnya!

Maaf! Maaf kalau aku udah ngecewain kalian smua, hiks,

Review please

Best Regards,

Akasuna no NiraDEI Uchiha