Disclaimer: Naruto punyanya Masashi Kishimoto, bukan punyaku, dan selama-lamanya tidak akan menjadi punyaku *evil laugh*
Warning: OOC, AU(always), Typo(s) gaje, abal, amatiran saya~
Summary: Hyuuga Hinata dan Namikaze Naruto kini kian bertambah dekat, akankah kedekatannya itu akan bertambah atau hanya sebatas itu saja? Cekidot!
A/N: Lama update! KYAAAA! *dikejar readers + reviewers* maaf maaf! Mohon maaf dengan sangat me-maaf maafnya! Aku gak ada ide TwT dan prku menumpuk! Hueee, maaf sekali lagi! m(_ _)m
My Bodyguard, My Knight in Shining Armor, My Ninja
By: Akasuna no NiraDEI Uchiha
"Ah, Hina-chan! Kamu dari mana saja? Kita kebingungan tahu," seru Matsuri ketika Hinata baru saja menampakkan batang hidungnya di lokasi, lokasi mereka ada didekat bukit, settingnya pun sama persis seperti festival musim panas, Hinata terheran-heran, sudah gitu ia tidak selokasi dengan Sakura.
"Maaf, tadi aku yang membuatnya telat," kata Naruto santai dari belakang Hinata.
"Baiklah, sekarang kamu harus cepat ganti, Hina-chan!" seru Matsuri, memberikan satu potong pakaian untuk Hinata, Hinata sesegera mungkin masuk ke mobil untuk ruang ganti.
"Kamu… kalau sampai gaji Hina-chan dipotong gara-gara ini, selanjutnya kepalamu yang kupotong," geram Matsuri kepada Naruto, Matsuri dalam hal pekerjaan memang tidak pernah main-main, makanya itu dia dapat menjadi manajer yang hebat.
"Baik, bu manajer!" seru Naruto, dan kemudian ia terkekeh geli.
"Matsu-chan, hari ini memang temanya apa sih?" tanya Hinata, ia memakai kimono berwarna biru tua yang bercorak bunga lili hanya dibagian bawahnya, obinya berwarna putih, sangat senada dengan kulit Hinata.
"Ah, tema pemotretan hari ini adalah festival musim panas!" seru Matsuri, Naruto mengangguk-anggukkan kepalanya, ia tersenyum melihat Hinata yang cantik dalam balutan kimono.
"Kalau begitu sini! Kamu akan kurias!" seru Matsuri, Hinata dengan langkah terburu-buru mendekati Matsuri dan duduk di kursi rias.
"Pejamkan matamu ya, Hina-chan," Hinata menuruti apa yang disuruh Matsuri, Naruto memperhatikan dengan seksama, perlahan-lahan Naruto tersenyum.
"Hei, kamu kenapa senyum-senyum?" tanya Matsuri, yang tanpa sengaja menoleh ke Naruto, Naruto menggelengkan kepalanya.
"Tak apa-apa," kata Naruto, Matsuri menghela nafas, sementara Naruto masih tersenyum, ia sadar, ia benar-benar menyukai Hinata.
"Selesai!" seru Matsuri, Hinata segera bangun dari tempat duduknya, Naruto memandangnya dari atas ke bawah.
Kimono yang Hinata kenakan memeluk lekukan tubuhnya sangat tepat, seperti kimono ini terbuat hanya untuk dia, kimono itu hanya mencapai setengah pahanya, dan memperlihatkan kakinya yang putih dan jenjang, paras wajahnya yang cantik juga menjadi point utama sang model ini, Naruto menelan ludah, Hinata benar-benar sangat cantik saat ini.
"A-ada yang aneh, Naruto-kun?" tanya Hinata, karena ia melihat dari tadi Naruto menatapnya dari atas ke bawah, Naruto menggeleng, ia menghilangkan hasrat untuk memeluknya.
"Tidak, tidak ada yang aneh, selamat bekerja, Hinata-chan!" Naruto mengepalkan tangannya dan tersenyum, Hinata tersenyum balik.
"Iya, Naruto-kun!" Hinata segera berlari ke tempat pemotretan, Naruto melihat orang yang akan menjadi lawan pemotretan Hinata, dua orang, yang satu berambut merah agak berantakan dan bermata coklat kegelapan, yang satunya lagi berambut kuning pendek, tetapi entah kenapa poninya menutupi sebagian wajah bagian kiri, setelah melihat dengan seksama, mata orang itu berwarna aqua marine.
"A-ah, selamat malam, Sasori-kun, Deidara-kun," sapa Hinata malu-malu, ia baru pertama kali bekerja dengan top model agensi akatsuki saat ini, tentu saja setelah mereka ada Hinata dan Sakura di posisi ketiga.
"Selamat malam, Hinata-chan, kamu cantik sekali," Deidara menebarkan senyumnya, ia memakai yukata berwarna biru muda dengan obi berwarna biru tua, Hinata tersenyum sopan.
"Terima kasih, Deidara-kun," lalu Sasori menepuk kepala Hinata, Sasori mengenakan yukata berwarna coklat tua dengan obi berwarna hitam, Hinata menoleh pada Sasori.
"Bekerjalah dengan baik, Hinata-chan," Hinata tersenyum, baru kali ini dia dipanggil –chan oleh Sasori.
"Iya!" setelah itu, Hidan menyuruh mereka untuk memasang pose untuk difoto, tema kali ini selain festival musim panas juga 'cinta segitiga'.
Sasori menarik tangan Hinata dan Hinata jatuh dalam dekapan Sasori, Deidara kemudian menarik tangan Hinata yang satunya, seakan tidak mau kalah, muka Hinata bingung, Sasori memeletkan lidahnya pada Deidara, sedangkan muka Deidara tampak marah.
'JPRET' satu..dua…tiga…enam foto sudah diambil, kemudian Hidan menyuruh ganti pose lain, Hinata mengambil topeng dan diikatkannya ke samping kepalanya, setelah itu, Sasori dan Deidara memegang tangan Hinata dan meletakkan tangan Hinata ke dada mereka, muka heran Hinata menoleh ke Sasori yang lebih tinggi darinya.
'JPRET' satu pose terambil lagi, Naruto yang melihat ke-professionalisme Hinata tampak tertegun, tetapi ia juga memiliki rasa cemburu melihat Sasori, Deidara, dan Hinata begitu akrab, seandaikan ia dapat menggantikan posisi Sasori atau Deidara saat ini, ia pasti senang.
Pose selanjutnya, Hinata membawa satu es lilin yang ada stiknya dua buah, ia mematahkannya, lalu memberinya pada Sasori dan Deidara, tangan Sasori dan Deidara hendak menangkapnya, muka mereka sama-sama memerah, karena Hinata tersenyum lebar, bahkan, Naruto sendiri tidak tahu penyebab muka memerah mereka, apakah muka mereka memerah asli karena melihat senyum Hinata?.
'JPRET'
Pose mereka semua sangat alami, tanpa komando dari sang fotografer pun, mereka dapat melakukannya dengan baik, kini sudah mencapai pose ke-5.
Hinata membawa apel yang sudah dicelup caramel, lalu secara serempak, Deidara dan Sasori menggigit apel caramel yang ada di tangan Hinata, muka Hinata memerah sekaligus kaget.
'JPRET'
"Nah, bagus sekali! Sekarang, kembang api akan dinyalakan dari arah sana!" seru Hidan, menunjuk lereng gunung yang lumayan curam, Hidan segera member kode untuk siap dan menyiapkan kameranya.
Deidara dan Sasori menggandeng tangan Hinata, menggenggamnya erat, Sasori menunjuk kembang api yang kini sudah mulai nampak, Deidara hanya tersenyum kecil, Hinata tersenyum hangat ketika melihat kembang api yang besar itu, ia benar-benar menunjukkan ekspresi aslinya saat ini, karena ia sangat kagum dengan cahaya warna-warni yang berpendar-pendar di atasnya.
'JPRET'
"Yak! Bagus! Sekarang pose terakhir," seru Hidan, Deidara dan Sasori segera bergerak tanpa aba-aba, Sasori dan Deidara sedikit menundukkan tubuh mereka, tangan Sasori dan Deidara menggenggam erat masing-masing tangan Hinata, dan kemudian, mereka mencium pipi Hinata, muka Hinata memerah, asli.
'JPRET'
"Selesai! Terima kasih atas kerja samanya!" seru Hidan, Sasori dan Deidara melepaskan bibir mereka dari pipi Hinata, kemudian Hinata menatap keduanya bergantian.
"Kenapa kalian pasang pose terakhir itu sih, Deidara-kun, Sasori-kun?" tanya Hinata, Deidara dan Sasori hanya mengedikkan bahu mereka.
"Hanya ingin saja," sergah Sasori, ia menyeringai kepada Hinata, Naruto saat ini benar-benar merasa panas, selain pegangan Sasori dan Deidara tak lepas dari tangan Hinata, juga mereka terlihat akrab sekali, Naruto segera beranjak dari tempat duduknya dan melepaskan gandengan mereka berdua, serta memposisikan Hinata berada di belakang Naruto, mukanya beringas sekali, mata sapphirenya menjadi warna merah menyala dan bekas luka semakin terlihat.
"Lepaskan dia," tinggi Naruto menyamai tinggi Sasori dan Deidara, tatapan tajam Naruto menusuk, Sasori menghela nafas.
"Ya sudah, sampai bertemu besok, Hinata-chan!" seru Deidara, ia menggeret Sasori untuk bersamanya, ia tahu jika Sasori tidak ia paksa pergi dari sana, maka mungkin akan terjadi perang mulut.
Mata merah Naruto perlahan-lahan berubah menjadi sapphire kembali, warna yang dapat menenggelamkan siapa saja yang menatap matanya, Hinata menatap heran Naruto.
"Kenapa Naruto-kun mengusir mereka?" tanya Hinata, Naruto menelan ludahnya, apa yang harus ia jawab? Karena ia cemburu? Tidak, sepertinya ini bukan waktu yang tepat.
"Aku hanya takut mereka mengganggumu Hinata-chan, hanya sekedar berjaga-jaga saja," Hinata mengangguk, tetapi ia tahu bahwa ada sorot mata kebohongan dalam mata Naruto, tanpa menggunakan byakuganpun, ia dapat melihatnya.
"Ya sudah, setelah aku selesai berganti baju, kita akan langsung pulang, Naruto-kun," perintah Hinata, Naruto mengangguk, saat Hinata memasuki mobil untuk ruang ganti, Naruto menyentuh kepalanya dan mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Tadi, hampir saja aku menggunakan jurus kepada mereka berdua, padahal itu kan tidak boleh," gumam Naruto, menggunakan jurus kepada orang lain yang tidak mengganggu kliennya adalah hal yang sangat dilarang di dunia perninjaan.
"Naruto-kun," Naruto kenal suara ini, ia menoleh ke belakang dan mendapati Hinata sedang berjalan ke arahnya, ia memakai tank top lavender dan dilapisi jaket putih, kemudia ia mengenakan celana pendek berwarna hitam dan sepatu casual.
"Hi-Hinata-chan?" muka Naruto bersemu kemerahan, apapun baju yang dipakai Hinata, pasti cocok dan pas sekali di badannya.
"Kenapa mukamu merah, Naruto-kun? Kamu lagi demam ya?" tanya Hinata, ia memegang kening Naruto, Naruto tersenyum lebar.
"Kamu polos sekali sih, Hinata-chan," Naruto memeluk Hinata erat, muka Hinata berubah menjadi merah lagi.
"Bagus sekali, Hinata-chan!" seru Matsuri berlari kepada Hinata dan diikuti Gaara dibelakangnya.
"Ma-masa sih? Matsu-chan?" Matsuri mengangguk mantap, Gaara hanya memasang muka seperti biasa, tak berekspresi.
"Kamu itu tidak bisa tersenyum sedikit ya? Gaara-kun?" Hinata mengerutkan alisnya ketika melihat Gaara sama sekali tidak berekspresi.
"Jangan begitu! Gini-gini dia selalu memperlihatkan ekspresinya ketika bersamaku," kata Matsuri menatap mata jade Gaara, Gaara tersenyum kecil lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Matsuri.
"Iya, iya Matsu-chan, iri deh melihat kalian berdua, ya sudah, ayo pulang, Naruto-kun," Hinata menggandeng tangan Naruto, sebenarnya Naruto juga ingin sekali melingkarkan tangannya ke pinggang Hinata, tetapi ia tidak cukup berani karena Hinata bukan apa-apanya saat ini.
"Hari ini aku yang menyetir," rengek Hinata, Naruto mengerutkan alisnya.
"Eh, tidak bisa, aku yang seharusnya nyetir, aku kan cowok," seru Naruto hendak mengambil kunci mobil dari tangan Hinata, tetapi Hinata menggenggam erat kunci mobil itu.
"Eh, sekali-kali dong, boleh ya, Naruto-kun?" pinta Hinata, Naruto tetap menggeleng keras, karena itu mempertaruhkan harga dirinya sebagai lelaki.
"Tidak! Sekali tidak ya tidak," kata Naruto, kemudian ia membentuk segel jurus dan kemudian kunci mobil Hinata sudah ada di tangan Naruto, Naruto tersenyum penuh kemenangan.
"Ehh! Curang! Naruto-kun! Kembalikan!" terlambat, Naruto sudah berlari secepat mungkin, Hinata mengejarnya.
~My bodyguard, my knight in shining armor, my ninja~
"Na-Naruto-kun! Stop! Aku sudah tidak kuat!" seru Hinata dari belakang, tanpa ia sadari ia sudah berada di hutan yang gelap tanpa penerangan sekalipun, ia berhenti mengejar Naruto, nafasnya memburu, ia sudah sangat capai karena ia belum istirahat dari tadi pagi.
"Hahh~ dimana sih Naruto-kun? Aku kan takut berada di sini sendirian," gerutu Hinata, ia duduk bersandar di bawah pohon untuk beristirahat.
'Kresek'
"Eh?" Hinata menoleh ke belakanganya, terdapat banyak semak-semak, Hinata mengaktifkan byakugannya, terlihat sosok seseorang, tetapi ia tidak tahu siapa, yang pasti itu bukan chakra Naruto, Hinata ketakutan.
"Si-siapa itu?" tanya Hinata, sesaat kemudian keluarlah sosok lelaki tak dikenal, ia mempunyai rambut hitam panjang dengan lidah yang menyulur-nyulur seperti ular, Hinata hendak bangkit dari duduknya, tetapi tiba-tiba saja ia terjatuh lagi, lututnya tidak mampu menumpu berat badannya.
"Aku adalah orang yang mengirimimu surat-surat serta bunga itu," kata sang penguntit, Hinata bergetar ketakutan.
~With Naruto~
"Aduh, aku lari terlalu jauh, aku takut Si Hinata kenapa-kenapa," Naruto menelusuri jalan yang tadi ia lewati.
"Bahkan aku tidak sadar kalau dia sudah tidak mengejarku, bodohnya aku! Harusnya aku sadar!" rutuk Naruto kepada dirinya sendiri.
"Eh? Itu bukannya Hinata?" Naruto melihat siluet sesosok gadis, tetapi siapa itu? Kenapa ada sosok orang yang lain lagi? Bahkan Hinata terlihat ketakutan, ia menggigit bibir bawahnya dan air mata tampak tergenang di pelupuk matanya.
"Hinata-chan! Kamu bersama siapa?" tanya Naruto, tetapi langkahnya terhenti seketika.
"Na-Na-Naruto-kun, dia yang menerorku dengan surat serta bunga itu," kata Hinata menunjuk lelaki itu.
"Menerormu? Tidak, aku tidak berniat menerormu, aku hanya fansmu saja," kata cowok itu, tetapi saat ia berkata itu lidahnya menjulur, mengerikan, Naruto segera menempatkan diri di depan Hinata.
"Pergi kau! Jangan ganggu Hinata-chan lagi!" seru Naruto, mata sapphirenya berubah menjadi merah.
"Untuk apa? Ayolah, aku benar-benar menyukainya, setidaknya aku ingin bermain bersamanya" kata sang lelaki itu.
"Orang yang mengganggu Hinata harus dilenyapkan," kata Naruto, seketika itu pula, sosoknya menghilang, lalu tanpa di sadari ia sudah berada di belakang lelaki itu, ia menaruh kunainya di leher sang lelaki.
"Huh, ninja ya? Masih ada juga ternyata," sang lelaki itu menggenggam lengan Naruto dan mempelantingkannya di tanah, namun sebelum tubuh Naruto bersentuhan dengan tanah, ia sudah mendorong kakinya dan ia melompat ke atas sang lelaki.
"Lantas kenapa kalau masih ada? Dan asal tahu saja, jika orang yang bukan klien mengetahui hal ini, maka ia harus di lenyapkan!" seru Naruto, ia menendang kepala lelaki tersebut, tetapi sebelum Naruto mendaratkan kakinya, sang lelaki itu menampik kaki Naruto.
"Haha, apa kamu berpikir dapat mengalahkanku? Teruslah bermimpi, bocah," sang lelaki atau lebih tepatnya Orochimaru itu lantas mengeluarkan beberapa shuriken dan melempar ke arah Naruto yang masih terpelanting ke belakang, sesaat itu juga Naruto mengeluarkan beberapa shuriken dan melemparkan ke arah shuriken Orochimaru itu.
'Trang trang trang trang'
Satu per satu shuriken berjatuhan, dan Naruto tidak tergesek shuriken itu satupun, Hinata menghela nafas lega, dari tadi ia tegang karena melihat pertarungan seseru itu, dan juga ia takut Naruto terluka karenanya, tetapi bukankah ini memang seharusnya? Ia kan bodyguard Hinata.
"Jurus seribu bayangan!" seru Naruto, lalu tampaklah dua Naruto yang muncul bersamaan, Hinata terkejut, ada tiga Naruto di depannya.
"Rasakan ini!" seru Naruto, entah yang asli atau yang tidak, lalu Naruto yang satunya lagi tampak sibuk membentuk sesuatu di tangan Naruto yang asli, apa itu? Bulatan? Hinata hanya terduduk, lalu, kemana Naruto yang satunya lagi? Bukannya tadi ada 3 Naruto? Entahlah, Hinata terlalu bingung, lalu tanpa ia sadari ada tangan yang merengkuh Hinata.
"E-eh!" tangan itu membekap mulut Hinata, ketika Hinata melihatnya, itu ternyata adalah Naruto.
"Ssht! Diam, aku akan membawamu ke tempat yang aman," Naruto itu melompat ke dahan pohon yang cukup jauh dan tidak memungkinkan Orochimaru untuk melihat, karena ia dari tadi sibuk melihat Naruto.
"Rasengan!" Hinata membelalakkan matanya tidak percaya, di tangan Naruto terdapat bulatan berwarna biru, lalu dengan gerakan yang lincah, ia menabrakkan bulatan itu ke perut Orochimaru hingga ia terpelanting ke belakang.
"Aduh," gumam Orochimaru, ia mengelap darah yang mengalir dari mulutnya, lalu ia menyeringai.
"Kamu serius ya?" tanya Orochimaru, lalu tiba-tiba saja ia menghilang, kedua Naruto itu mengerutkan alisnya, lalu tanpa mereka sadari sudah ada kunai yang menembus tanah dan hendak mengenai kedua perut Naruto-Naruto itu, yang satu terkena telak, dan ia menghilang, lalu yang satunya lagi reflek menghindar dari tusukan sang kunai itu.
"Eh? Hilang?" gumam Hinata tidak percaya, sementara Naruto yang kini mendekapnya menjelaskan.
"Itu adalah bayangan, tenang saja, aku yang asli tidak terluka," kata Naruto sembari menunjuk Naruto yang asli itu.
Tanpa mereka sadari, Orochimaru yang kini tengah menyeringai melemparkan beberapa shuriken ke arah Hinata dan Naruto berada.
"Awas!" seru Naruto mendekap Hinata lebih erat, saat shuriken itu menancap punggungnya, Naruto itu berubah menjadi asap, kini Hinata terduduk di dahan pohon sendirian.
"Hinata-chan! tenang di situ! Aku akan melawannya!" seru Naruto, Hinata mengangguk.
"Iya! Aku percaya padamu, Naruto-kun!" seru Hinata, lalu Orochimaru menghilang lagi, Hinata segera mengaktifkan byakugannya, chakra yang amat kuat berada di belakang Hinata, Hinata membelalakkan matanya ketika ia melihat Orochimaru mengacungkan kunai padanya, hendak menyerangnya, tetapi jika di lihat dari byakugan, semua itu terlihat seperti slow motion, sehingga Hinata menghindarinya dan Orochimaru terpelanting ke bawah pohon tempat Hinata berada.
"Ja-jadi ini kekuatannya selain melihat dalam jarak jauh," gumam Hinata, Orochimaru tampak bangkit kembali kemudian ia melemparkan shuriken ke arah Hinata, Naruto hendak mencegahnya, ia mengambil kunai dari sakunya dan melompat ke tempat Hinata berada.
'Trang trang trang'
Semua shuriken berhasil ditangkis tanpa terkena Hinata atau Naruto sedikitpun, Hinata membelalakkan matanya, Naruto yang sekarang terlihat sangat keren.
"Kamu di sini dulu ya, Hinata-chan," Hinata megangguk lemah, kemudian Naruto segera pergi ke arah Orochimaru dengan kunainya, Orochimaru pun mengambil pedang kusanagi, lalu terjadilah perang di antara mereka.
'Trang trang trang trang' terdengar suara besi yang bertemu mengisi malam itu, Hinata hanya dapat melihatnya, ia tahu Naruto bersusah payah melawan Orochimaru, seandainya saja ia dapat membantu.
"Auch!" erang Naruto, ternyata lengannya terkena sabetan kusanagi, Hinata membelalakkan matanya, Naruto terluka!.
"Mendokusei," desis Naruto, lalu sesaat kemudian chakranya berubah menjadi berwarna merah, bukan biru lagi, matanya terlihat lebih ganas dengan mata merah membara, lalu Naruto menyerang Orochimaru dengan kecepatan yang tak dapat dilihat mata telanjang, tetapi beda dengan mata byakugan Hinata, Hinata terperangah melihatnya.
Orochimaru terlihat kewalahan dengan berbagai tendangan dan pukulan Naruto, dan akhirnya ia pingsan dengan luka yang berat, Hinata hendak turun dari pohon, tetapi ia tidak tahu bagaimana caranya, ia ingin sekali mendekap Naruto yang terlihat emosi itu, Naruto seperti belum puas menghajarnya, ia masih menatap Orochimaru penuh benci, gawat! Ia bisa saja mematikan Orochimaru saat ini, Hinata tidak ingin itu terjadi, lalu ia melompat dari dahan pohon, dan tentu saja gagal.
"Kyaa! Aduh," Hinata mengaduh kesakitan, Naruto seakan tersadar karena suara itu, ia menoleh ke belakang mendapati Hinata yang hendak berdiri dan sepertinya kesakitan, mata merah Naruto perlahan menjadi sapphire dan chakranya kembali normal.
"Hinata-chan! Kamu tak apa?" tanya Naruto yang segera beranjak menemui Hinata untuk membantunya.
"I-iya, ba-bagaimana dengan luka Naruto-kun?" tanya Hinata, Naruto tersenyum, bisa-bisanya ia mengkhawatirkan orang lain sementara dirinya terluka.
"Sini kubantu," Naruto mengulurkan tangannya, Hinata menerima uluran tangan itu, tetapi baru setengah berdiri, Hinata merasakan sakit yang amat sangat pada kaki kirinya, lalu ia terjatuh kembali.
"Hei hei Hinata-chan! Kakimu cedera!" seru Naruto, Hinata megangguk.
"Iya, tadi aku terjatuh dari pohon," tanpa aba-aba lagi Naruto menggendong Hinata ala bridal style.
"Naruto-kun! Ta-tapi tanganmu!" seru Hinata, Naruto menunjukkan cengiran khasnya.
"Hanya luka kecil," Hinata mengerucutkan bibirnya, apanya yang luka kecil? Dari tadi darah tak henti-hentinya mengalir dari luka Naruto.
"Ayo, kamu harus segera kubawa ke Kaa-sanku," tunggu! Untuk apa? Memang Kaa-san Naruto itu apa? Setahu Hinata Kaa-san Naruto bukan dokter ataupun semacamnya deh?.
"Sudah kamu akan tahu nanti," kata Naruto ketika melihat ekspresi muka Hinata, Hinata memutuskan untuk diam.
~My Bodyguard~
"Hei Minato, bagaimana keadaan Naruto sekarang ya?" tanya Kushina, ia agak khawatir kepada anaknya ini.
"Tenang saja, lagipula mau bagaimana lagi? Aturan juga sudah mengatakan kalau ninja harus tinggal bersama kliennya," kata Minato tenang dan menyeruput tehnya.
"Tapi aku punya firasat tidak enak, aku ma-," tiba-tiba kalimatnya terputus ketika ia mendengar bel pintu rumah berbunyi, Kushina menggerutu, siapa sih yang datang malam-malam begini?.
"Kaa-san! Syukurlah! Tolong Hinata-chan!" seru Naruto, Kushina menautkan alisnya, tetapi ia langsung tahu ketika Hinata digendong Naruto ala bridal style, Kushina tersenyum.
"Iya, baiklah, masuk dulu," kata Kushina, lalu Hinata di dudukkan di sofa berwarna merah milik keluarga Namikaze tersebut.
"A-ano, sebaiknya Naruto-kun dulu yang di periksa, lukanya dalam," kata Hinata ketika Kushina hendak meletakkan tangannya, tetapi saat Kushina melihat luka yang ada di lengan Naruto, ia terkesiap.
"Naruto! Kamu itu! Kok bisa luka seperti ini sih?" seru Kushina, Naruto hanya tersenyum tak berdosa, kemudian Kushina meletakkan tangannya di atas luka Naruto dan perlahan-lahan cahaya hijau tampak disana dan luka Naruto menutup.
"Wah, itu apa?" tanya Hinata tak percaya.
"Ini adalah medic-nin, jurus untuk menyembuhkan luka dengan mengalirkan chakra kita ke dalam luka tersebut," jelas Kushina tersenyum kepada Hinata.
"Ta-tapi Anda bukan ninja, kenapa bisa melakukan hal tersebut?" tanya Hinata, Kushina masih memasang senyum manisnya.
"Setiap orang memiliki chakra, kamu pun juga punya, jadi paling tidak hanya sedikit belajar dan berusaha, kita dapat melakukannya kok, kamu mau kuajari?" tanya Kushina, Hinata mengangguk kecil, ia ingin berguna bagi Naruto.
"Tapi, kita sembuhkan lukamu itu ya," kata Kushina, Hinata tersenyum.
~My Knight in Shining Armor~
"Ya! Seperti itu Hinata!" seru Kushina ketika Hinata berusaha untuk mengalirkan chakranya, tetapi Hinata belum maksimal, yahh ia kan masih pemula.
"Sudahlah Hinata-chan, sampai sini dulu, kamu pasti juga capek kan, kamu dari pagi belum istirahat lho," kata Naruto yang sibuk bermain catur bersama Minato.
"Ah! Sudah jam 9! Iya ya!" pekik Hinata.
"Ya sudah, kamu pulang dulu saja, Hinata, besok ke sini lagi kalau kamu tak sibuk, oke? Dan ini gulungan agar kamu dapat belajar sendiri," kata Kushina, menyerahkan gulungan kepada Hinata, setelah menerimanya, Hinata mengangguk mantap.
"Pasti! Terima kasih," Hinata tersenyum lembut kepada Kushina, lalu Naruto menggandeng Hinata dan pergi.
"Aku pergi dulu, Kaa-san, Tou-san," Kushina melambaikan tangannya tepat setelah Naruto menutup pintu rumahnya.
"Dia… Hyuuga Hinata, pantas saja matanya seperti itu, tetapi ia anak yang ramah," kata Kushina megingat ia tahu seluk beluk klan ninja yang terkemuka.
"Ya, Klien Naruto ini menarik sekali," kata Minato setuju dengan ucapan istrinya tersebut.
~My Ninja~
~To Be Continued~
A/N: Selesai! Chapter 5 ini selesai! Uwaa! Banzai! Banzai! Maaf kalau kalian menunggu lama lagi, benar-benar minta maaf saya huweee~ TwT insyaallah chapter 6 ga lama updatenya, karena author lagi libur karena guru-guru author lagi pergi ke muntilan~~~ senangnya~ *nebar confetti*
Balasan review:
Felice: hehehe, apakah fic ini masih ditunggu anda? Makasih! Ini udah update! Thanks reviewnya!
Acut: ah kamu emang selalu protes! Akatsuki? Tuh udah muncul,,, :p ht situ hubungan tanpa status…
Chimari Sakura: uwee Cuma kayak gini sih… mungkin akan kutambah lagi! thanks reviewnya!
Naru Luv Hina: Udah kuupdate! Gimana gimana? Thanks reviewnya!
Crunk Riela-chan: Sip! Udah!
Viyuki-chan: hehe, umm Kiba gak begitu sih sekarang, mungkin aka nada saingan baru? Thanks reviewnya!
UZUMAKI YUKI: Hwat? Bersegi-segi? Ada idekah? Thanks reviewnya!
Magrita loves Naruhina: hehehe, kalau Naruto yang jadi elliotnya gak seru, tapi liat aja ntar thanks reviewnya!
Reno: ihm, maaf saya tak bisa memunculkan GaaMatsu, tapi kuusahakan di chapter 7! Thanks reviewnya!
Dwi93Jun Takahashi Chan: hehe, iyap TTM, uwaaahhh gak bakal kok! Tunggu aja chappie depan!
Zephyramfoter: eheeehee gak kok, Kiba bukan ninja :p thanks reviewnya!
Uyung: ini udah dilanjut, :D thanks reviewnya!
Ichaa Hatake Youichi: iya! Udah dilanjut! Thanks reviewnya!
Anak baik: hehe, kapan ya? Aku juga bingung, :p thanks reviewnya!
Hinata lovers: kamu tahu namaku? KYAAA! Hehe, iyak! Aku emang Cuma bisa bikin fic Hina doang, heheehe thanks reviewnya!
M. Kurozuki: MAAF! Aku gak bsa update kilat, huhu TT tapi ini udah ku update kok
Hinata-Naruto-Lover: ituuu hubungan tanpa status! Thanks reviewnya!
A/N: udah ah capek, hehehe thanks ya reviewnya! Love you~
