Disclaimer: Naruto punyanya… ung.. punyanya siapa ya? *plak* oh iya! Masashi Kishimoto! Kyaanng~
Warning: OOC, AU, alur cepat, gaje, miss typo :9 don't like don't read!
Summary: Hyuuga Hinata, model terkemuka yang berumur 17 tahun, mempunyai bloodline keluarganya, byakugan, Namikaze Naruto, anak yang ceria, ramah dan supel, tetapi dibalik semua itu ia adalah ninja hebat didikan ayahnya, bagaimana jika keduanya bertemu? ooc, au
A/N: CHAPTER 6! HERE WE GO! *Semangat, dilempar sandal*
My Bodyguard, My Knight in Shining Armor, My Ninja
By: Akasuna no NiraDEI Uchiha
"Sudah sampai," seru Naruto, padahal saat itu mereka masih ada di dalam mobil, dasar Naruto itu, lalu saat ia tidak mendapat jawaban, ia menoleh ke sebelahnya.
"Loh, tidur dia," kata Naruto melihat Hinata yang terlelap di bangku penumpang, aneh sekali, pantas saja dari tadi saat Naruto bercerita macam-macam sama Hinata, Hinata tidak menjawab, jadi itu alasannya.
"Ya sudah," Naruto mencangklong tas ransel putih Hinata serta tas biru Naruto, sebelumnya, gulungan yang di berikan Kaa-sannya dimasukkan terlebih dahulu dalam ransel Hinata, lalu ia menggendong Hinata bridal style dan membawanya masuk ke dalam apartemennya, Naruto tidak dapat melepaskan senyumnya ketika orang-orang yang ia lewati berbisik-bisik tentang betapa romantisnya sikap Naruto itu.
~My Bodyguard~
"Uhh," Hinata mengerjap-ngerjapkan mata lavendernya, lalu ia menatap sekeliling.
"Jam berapa ini?" gumamnya, saat ia menatap jam lavender yang tergantung di atas kamarnya ia terkejut.
"Jam 2 malam? Kok bisa? Lagipula perasaan tadi aku masih berada dalam mobil, uhh pasti Naruto-kun," Hinata tersenyum saat mengetahuinya, karena Naruto benar-benar baik padanya sehingga ia tidak ditinggalkan dalam mobil.
"Ung~," Hinata berdiri lalu mengambil tas ransel yang tergeletak di meja belajarnya, ia mengambil beberapa gulungan dari sana, setelah itu ia membukanya, terdapat beberapa tulisan kanji rumit yang membentuk lingkaran di tengah-tengahnya, kemudian Hinata mengambil gulungan yang satunya, ternyata yang satunya lagi terdapat penjelasan untuk mempelajari medic-nin, ia membacanya serta mempelajarinya.
"Oh begitu!" Hinata menggulung lagi gulungan itu ketika sudah selesai membacanya, ia tertarik sekali untuk mempelajarinya, menarik! Ia mengambil ikan mentah yang terdapat di dalam kulkas, lalu ia menaruh di gulungan yang terdapat kanji yang membentuk lingkaran itu, karena medic-nin itu cukup rumit, ia membentuk segel jurus beberapa dan meletakkan kedua tangannya di ikan tersebut, kalau berhasil ikan itu akan kembali hidup lagi.
'Srinng' sinar hijau menyelimuti tangan dan ikan tersebut, Hinata berusaha untuk berkonsentrasi, peluh sudah membanjiri lehernya, ini butuh pengendalian yang sangat tinggi, cukup lama, hingga akhirnya ikan itu menggeliat-liat kembali, ia berhasil! Kalau ia belajar dengan tekun, ia dapat melakukan penyembuhan luka dengan cepat dan tanpa segel jurus, seperti Kushina, dia dapat membuat lingkaran hijau yang berisi chakra yang lebih besar dari punya Hinata dan lebih cepat dan efektif dalam penyembuhannya.
"Aku berhasil!" seru Hinata senang, tanpa sengaja membangunkan Naruto yang masih terlelap di kamar sebelah.
"Uh! Ah," Naruto terkesiap, saat mata sapphirenya melirik jam weker yang berada di meja samping tempat tidur, ia melihat jam masih menunjukkan pukul 4 pagi, kenapa Hinata berteriak?.
Naruto segera meluncur ke kamar Hinata dan membuka kamar Hinata, alangkah terkejutnya dia ketika ia mendapati Hinata yang tersenyum senang.
"Hinata-chan, kamu kenapa malam-malam begini berteriak?" tanya Naruto masih setengah mengantuk.
"Aku berhasil, Naruto-kun!" seru Hinata, ia ingin membagi kesenangannya, lalu ia memeluk Naruto tiba-tiba, kini Naruto terbangun sepenuhnya, mukanya memerah.
"Be-berhasil apa?" tanya Naruto, Hinata menatap mata sapphire Naruto dan tersenyum.
"Aku berhasil menghidupkan ikan yang sudah mati, ini tahap awal yang kukuasai sebagai medic-nin, nanti setelah itu aku dapat menyembuhkan luka dengan cepat dan tanpa segel jurus!" seru Hinata gembira, Naruto ikut tersenyum dan membelai rambut indigo Hinata.
"Pintar, sudah, sekarang kamu harus tidur dulu, kamu pasti lelah," Hinata tersenyum, lalu ia membaringkan tubuhnya, Naruto menyelimuti tubuh Hinata, dan tak lama kemudian kedua mata lavender Hinata menutup.
"Dia pasti capek sekali."
~My Knight in Shining Armor~
"Hinata-chan, ayo kita latihan drama!" seru Matsuri ketika ia mengetahui Hinata sedang berada di dekat jendela dan apa yang sedang ia lakukan?
"Ah," Matsuri melihat tangan Hinata yang berisi burung kecil, tetapi sayapnya patah dan mengeluarkan darah.
"Kasihan sekali," kata Matsuri, Hinata mengangguk.
"Aku akan mengambilkan perban dan obat merah," Hinata menggeleng.
"Tak perlu, ia akan segera sembuh," Matsuri mengernyitkan alisnya, bagaimana bisa sembuh? Lalu tangan Hinata yang satunya lagi menempatkan diri di atas tubuh sang burung, lalu perlahan-lahan cahaya hijau keluar dari tangannya, dan luka di sayap burung itu pulih dan burung itu dapat terbang kembali, tentu saja, karena dalam 3 hari ini dia selalu belajar tentang medic-nin, dan tak lupa dengan bimbingan dari Kushina sehingga Hinata dapat menguasai medic-nin ini sepenuhnya.
"Bagaimana kau melakukan hal itu?" tanya Matsuri tak percaya, Hinata tersenyum.
"Rahasia," gumam Hinata.
"Oh, katanya aku dipanggil untuk latihan drama? Ayo!" seru Hinata menarik tangan Matsuri yang masih terbengong dengan sikap sang Hyuuga ini.
"Halo, Hinata-chan," sapa Kiba ketika melihat Hinata masuk ke dalam kelas, Hinata tersenyum sopan kepada Kiba.
"Halo, Kiba-san."
"Hei! Ayo! Segera ambil posisi masing-masing!" seru Sakura, sang sutradara kali ini, Hinata segera beranjak ke posisinya, bersiap untuk berlatih drama.
"Sakura~ aku sudah membeli ini, lalu apa yang harus ku-," ucapan sang pemuda jabrik ini terputus ketika melihat latihan Hinata.
"Second hand of time, aku mohon, ambillah waktuku sebagai pengganti waktunya, aku tidak butuh waktu ini, aku mohon agar Eliot dapat hidup lagi, aku mohon," seketika itu pula, Hinata berakting jatuh setelah mengajukan permohonan itu.
"Freedrett!" seru Suigetsu yang baru saja masuk, ia terkejut.
"Freedrett! Kenapa kau mengganti waktumu dengan waktunya? Freedrett aku hanya membutuhkanmu di sini, menemaniku, aku mohon, kembalilah Freedrett," Suigetsu memeluk tubuh Hinata yang tak bernyawa itu, sementara Naruto mengepalkan tangannya erat-erat, terbakar api cemburu.
"Cut! Kyaa! Kalian hebat sekali!" seru Sakura, Suigetsu mengulurkan tangannya pada Hinata, Hinata menerimanya dan berdiri.
"Terima kasih Sakura-chan," senyum Hinata, lalu mata emerald Sakura beralih ke sosok Naruto.
"Kamu tadi bilang apa, Naruto?" tanya Sakura, Naruto segera menghampiri Sakura dan menjelaskan apa yang di butuhkan.
"Oke, kalau begitu kamu harus merancang panggungnya, kuserahkan padamu, Sasuke, Gaara, dan Sai, berjuanglah!" seru Sakura, Naruto cemberut dan akhirnya keluar dari kelas tersebut.
"Ayo lanjut latihannya!" seru Sakura.
~My Ninja~
"Capeknya~," keluh Hinata sembari mengipasi dirinya dengan buku naskah, ia mengambil tempat duduk di dekat jendela, ia menatap langit yang berwarna biru tersebut dan melamun.
"Ah!" seru Hinata ketika tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang dingin menempel di pipinya, kemudian ia menoleh dan mendapati mata sapphire dan cengiran khas.
"Nih, Hinata-chan, kamu pasti capek," Hinata tersenyum dan mengambil sekaleng jus jeruk yang di serahkan Naruto.
"Terima kasih, Naruto-kun," ucap Hinata dan tersenyum hangat pada Naruto, muka Naruto perlahan-laha memerah.
"Latihanmu bagus sekali," puji Naruto, menggeret satu tempat duduk lagi dan duduk di samping Hinata.
"Benarkah? Menurutku biasa saja," Hinata merendahkan hatinya, Naruto mengacak-acak rambut Hinata.
"Bagus sekali kok Hinata-chan, kamu memang pantas menjadi peran itu, kamu terlihat bersinar," Hinata tersenyum sekali lagi, lalu ia menatap langit biru yang terhampar di luar jendela, lalu mata lavendernya menangkap pemandangan yang menarik.
"Ah!" Naruto menatap Hinata yang sedang menatap dua burung yang entah kenapa bercengkrama di atas langit.
"Memang kenapa dengan burung-burung tersebut?" tanya Naruto.
"Aku menyembuhkan sayap dari salah satu dari burung tersebut, ternyata ia sudah bisa terbang, syukurlah," Naruto membelalakkan mata sapphirenya.
"Jadi medic-ninnya berhasil?" tanya Naruto, Hinata mengangguk mantap.
"Sejujurnya, aku mempelajari medic-nin agar saat Naruto terluka aku dapat menyembuhkan Naruto-kun, karena saat aku melihat Naruto-kun bertarung karenaku kemarin lusa, aku jadi merasa bersalah dan tak berguna untuk Naruto-kun," Naruto tersenyum lalu menggenggam tangan Hinata, terlihat dari raut mukanya bahwa Naruto senang sekali.
"Terima kasih, Hinata-chan," muka Hinata memerah saat ia merasa tangan Naruto menggenggamnya, lalu Naruto menyandarkan kepalanya ke pundak Hinata.
"Hei yang disitu! Mesranya~," goda Ino, Sakura, dan Matsuri kepada Hinata dan Naruto.
"Na-Naruto-kun, tak enak dilihat mereka," bisik Hinata, Naruto merasa acuh tak acuh, ia masih menyandarkan kepalanya di pundak Hinata.
"Biarlah seperti ini dulu," semburat merah yang dari tadi setia menemani kulit pipi Hinata kini semakin memerah.
"Hei, bukannya aku ingin mengganggu kemesraan kalian, tapi kamu di panggil Karin," kata Gaara tiba-tiba, Naruto mendengus.
"Bisakah dia menunggu sebentar?" tanya Naruto, Gaara menggeleng.
"Lihat itu," tangan Gaara mulai berpindah, lalu ia menunjuk gadis berambut merah yang terlihat mengamuk di depan pintu kelas itu.
"Gawat, aku dalam masalah besar!" seru Naruto, lalu ia segera menegakkan badannya dan menoleh kepada Hinata.
"Hinata-chan, maaf ya, hehe, sampai ketemu nanti~," dengan ini, Naruto menghilang, atau lebih tepatnya berlari ke arah Karin, sementara Hinata sendiri tidak dapat menyembunyikan semburat merah yang semakin lama semakin jelas itu, lalu ia menenggak jus jeruknya untuk menenangkan pikirannya.
~My Bodyguard~
"Ah, selamat datang Hinata-chan," sapa sang wanita berambut merah ketika ia melihat Hinata dan Naruto menghampiri serta mendatangi rumah keluarga Namikaze tersebut.
"Selamat sore, tante," sapa Hinata sembari tersenyum pada Kushina.
"Ayo lanjut latihannya!" seru Kushina dan menggandeng Hinata menuju tempat latihan mereka.
"Aku akan bersama Tou-san," kata Naruto, dan Hinata mengangguk.
"Hei, Naruto," sapa sang kepala Namikaze itu sembari tersenyum lebar kepada anak semata wayangnya tersebut.
"Yo, Minato," sapa sang tuan muda Namikaze dan ia mengambil tempat duduk disamping ayahnya.
"Tak sopan kamu! Panggil aku Tou-san!" seru Minato dan menjitak anaknya itu.
"Aw! Sakit, Tou-san! Iya iya!" protes Naruto sembari mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa sih dengan anakku ini? Kamu tampak murung," kata Minato kepada Naruto.
"Uh, tidak, hanya saja aku sebal karena medic-nin yang di pelajari Hinata, Hinata jadi gak peduli sama aku, karena yang di pikirannya hanya ada cara penyembuhan dan lain-lain," keluh Naruto, ia meletakkan kepalanya di atas lututnya yang ia tekuk.
"Haha, sudahlah, lagipula dia kan mempelajarinya demi kamu, Naruto? Masa kamu tak membolehkan dia mempelajarinya?" komentar sang yellow flash kepada anaknya.
"Uh.. iya juga sih, aku memang gembira saat dia mengutarakan alasannya padaku, tapi tetap saja~."
"Tenang, kata Kushina sebentar lagi dia akan menyelesaikan pembelajarannya, dan dia dapat meluangkan waktunya lagi padamu, kamu menyukainya, bukan begitu?" tanya Minato sembari mengedipkan sebelah matanya pada Naruto.
"Tou-san genit, yah memang aku menyukainya, aku ingin melindunginya sekuat tenaga, aku tak akan menyesal akan memberikan nyawaku kepadanya," kata Naruto, Minato tersenyum, ia merasa bernostalgia ketika mendengar tutur kata anaknya ini, ia ingat saat ia bertemu Kushina dulu.
"Tak apa-apa, aku mengerti perasaanmu, nak."
~My Knight in Shining armor~
"Konsentrasi, Hinata!" seru Kushina, Hinata menyalurkan semua energinya kepada kedua tangannya, dan perlahan-lahan luka di tubuh sang binatang itu menutup sepenuhnya.
"Bagus sekali, Hinata! Kamu sudah menguasainya! Kamu juga dapat menyembuhkan diri sendiri kalau begini caranya," senyum sang Nyonya Namikaze ini mengembang.
"Benarkah?" tanya Hinata.
"Ya, kamu tinggal memusatkan chakra pada bagian yang terluka dan lukamu akan menutup sedikit demi sedikit," kata Kushina, Hinata tersenyum lalu memeluk Kushina.
"Terima kasih! Aku senang sekali! Dengan ini jika Naruto-kun terluka, aku bisa menanganinya," tutur sang Hyuuga.
"Kamu benar-benar anak yang baik, kamu sangat peduli kepada Naruto, aku mau bertanya satu hal, apakah kamu menyukainya?" tanya Kushina, ia melepaskan pelukan Hinata itu dan menatap mata lavender Hinata, berusaha mencari tahu perasaan sang Hyuuga.
"E-eh, aku… aku tidak tahu," muka putih Hinata memerah, ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindari kontak mata kepada sang Nyonya Namikaze.
"Tenang saja, kamu akan segera mengetahuinya, percayalah pada kata hatimu, Hinata, aku mendukungmu sepenuhnya jika kamu menjadi pacar Naruto," Hinata menengadahkan kepalanya lagi dan tersenyum hangat.
"Iya!"
~My Ninja~
"Hoahm~," Naruto menguap, ia sudah menunggu Hinata selama 2 jam bersama Tou-sannya, ia sekarang mengantuk sekali, karena yang ia lakukan hanyalah menonton TV bersama sang ayah yang seperti kembar identik dengannya, hanya berbeda kulit, panjang rambut, dan tiga goresan di pipi Naruto.
"Mengantuk, nak?" tanya Minato, ia menyunggingkan senyum tipisnya, Naruto mengangguk.
"Na-Naruto-kun, maaf menunggu lama!" seru sang Hinata ketika ia keluar dari kamar latihan bersama sang Kushina, raut muka Naruto semakin lama semakin cerah, rasa kantuknya seakan hilang entah kemana, ia segera menghampiri Hinata.
"Ya, tidak apa-apa, aku tidak keberatan kok," senyum Naruto mengembang lebar.
"Ayo pulang," ajak Hinata, dari sorot matanya ia terlihat mengantuk, sama seperti Naruto.
"Yak, aku pulang dulu ya, Tou-san, Kaa-san!" seru Naruto, Kushina dan Minato tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Permisi, om, tante," sapa Hinata, dan sesaat kemudian pintu rumah Namikaze tertutup.
~My Bodyguard~
"Bagaimana dengan latihanmu?" tanya Naruto yang sedang menyetir mobil lavender Hinata.
"Aku sudah dapat menguasainya! Kata Kaa-san Naruto-kun, aku sudah tak perlu lagi tiap hari datang ke rumahnya, aku hanya perlu latihan saja, tapi kalau ada yang ditanyakan, aku dapat bertanya padanya!" cerita Hinata dengan semangat, Naruto senang saat mengetahui Hinata gembira seperti ini.
"Ya sudah, kalau kamu senang aku juga," muka Hinata menunjukkan garis-garis merah.
"Ya, terima kasih, Naruto-kun."
~My Knight in Shining Armor~
Pemuda berambut jabrik kuning itu sedang duduk di meja belajarnya, ia tampak melamun sembari menatap buku yang kini ada di hadapannya itu, ia sedang mengerjakan PR, tetapi pikirannya entah kemana, ia hanya memikirkan sang gadis berambut indigo yang perlahan-lahan memasuki kehidupannya, tentu saja ia senang dengan itu, karena jika memikirkan gadis itu, rasa menghangat menjalar di dadanya, ia memegang dadanya itu.
"Hinata-chan… Sedang apa dia ya?" tanya pemuda itu pada dirinya sendiri, kemudian ia beranjak, meninggalkan prnya begitu saja, ia menghampiri kamar gadis bermata indah itu, tangan kekar pemuda itu kini berpindah di depan pintu kamar sang gadis, mengetuk pintu kamar itu pelan.
"Ah, ada Naruto-kun, ada apa Naruto-kun?" tanya sang gadis yang bernama Hinata ketika ia sudah membuka pintu kamarnya, semburat merah terlihat jelas di muka sang pemuda yang bernama Naruto, hatinya menghangat ketika di suguhi pemandangan di mana gadis itu tersenyum.
"Tidak apa, aku hanya penasaran, kamu lagi ngapain sih, Hinata-chan?" tanya Naruto tak lupa dengan cengiran khasnya.
"A-aku sedang belajar, Naruto-kun, lalu Naruto-kun sendiri tidak belajar?" tanya Hinata, yang mendadak gagap karena melihat cengiran Naruto.
"Aku sedang mengerjakan PR sih, tadi, tapi aku penasaran dengan apa yang kamu lakukan, hehe," Naruto kini menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, Hinata tersenyum.
"Kamu mau belajar bersamaku? Naruto-kun?" tanya Hinata dan membuka pintu kamarnya lebih lebar, memperlihatkan kamarnya yang rapi dan tertata itu.
"A-ah, kalau kamu boleh sih, tidak apa, Hinata-chan."
"Tentu saja boleh! Kenapa tidak?" tanya Hinata, Naruto segera pergi ke kamarnya, dan beberapa detik kemudian dia kembali membawa buku yang dari tadi menemaninya belajar.
"Ayo belajar! Hinata-chan!" seru Naruto, Hinata terkekeh kecil, ia mengajak Naruto masuk ke kamarnya dan menutup pintunya.
"Mau belajar apa dulu? Naruto-kun?" tanya gadis itu, ia duduk di meja persegi yang agak besar, sebenarnya tadi ia belajar di meja belajar, tetapi karena ada Naruto, ia memutuskan untuk belajar di meja persegi dan duduk dengan bantal duduk, tentu saja tidak dingin, karena kamarnya dilapisi dengan karpet berwarna lavender yang menghangatkan serta memanjakan kakinya.
"Apa saja deh," kata Naruto malas-malasan, ia duduk di samping Hinata dengan bantal duduk, mereka berdua belajar lesehan, tetapi itu lebih baik, daripada di meja belajar yang sempit?.
"Kamu tadi katanya sedang mengerjakan PR? PR apa?" tanya Hinata, Naruto menyerahkan buku fisika dan menunjukkan soal-soalnya, baru 5 dari 10 soal yang dia jawab, karena pikirannya melayang ke gadis yang kini duduk di sebelahnya atau mungkin dia yang duduk di sebelah sang gadis.
"Ini? Ah, aku sudah selesai mengerjakannya! Mau kuajari?" tanya Hinata, Naruto mengangguk, bukannya ia tidak bisa mengerjakannya sih, tetapi ia ingin melihat Hinata menerangkan.
"Jadi begini…..," Hinata mulai menerangkan materi fisika kepada sang pemuda itu, tetapi mata sapphire Naruto tidak melihat ke materi yang di jelaskan Hinata, ia lebih tertarik melihat Hinata yang sibuk menjelaskan, ia mengamati Hinata yang kini memakai baju tanpa lengan berwarna putih serta celana pendek berwarna lavender, rambut indigonya ia kucir satu di atas, dan ia menyematkan jepit bertuliskan inisial 'H' di samping poninya, ia terlihat manis sekali.
"Naruto-kun? Kamu tidak mendengarkan ya?" Hinata menatap mata sapphire Naruto itu, ia menggembungkan pipinya, pertanda ia kesal.
"Eh! Tidak kok, Hinata-chan! Siapa bilang?" dusta Naruto.
"Habis dari tadi kuperhatikan kamu mengamatiku terus, memang ada yang aneh ya?" tanya Hinata, Naruto menggeleng.
"Tentu tidak, memangnya tidak boleh? Hinata-chan?" yang di tanya kini memalingkan wajahnya, menutupi semburat merah yang menjalar ke kedua pipinya.
"Hinata-chan? Ngambek ya?" goda Naruto, Hinata tetap memalingkan mukanya.
"Hinata-chan~," goda Naruto sekali lagi, ia mendekat ke tubuh Hinata.
"Ah! Naruto-kun bodoh!" seru Hinata, tetap memalingkan mukanya.
"Hinata-chan, lihat aku dong, masa kamu mau menyembunyikan wajah cantikmu itu?" kini semburat merah terlihat jelas sekali di pipi Hinata, tangan kekar Naruto memegang pundak Hinata, Hinata sontak menoleh karena ia merasa geli, tentu saja, itu juga titik sensitifnya.
"Naru-," ucapannya terputus ketika ia sadar bahwa mukanya berada dekat sekali dengan Naruto, ia dapat mendengarkan hembusan nafas Naruto yang pelan dan hangat, Hinata membelalakkan matanya, begitu pula dengan Naruto, ia juga terkejut ketika Hinata menoleh tiba-tiba.
"Hinata-chan," panggil Naruto pelan di telinga Hinata, Hinata merasakan terpaan nafas Naruto, ia merasa geli dengan itu, ia menutup mata, pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Na-Naruto-kun," panggil Hinata, muka Naruto memerah, Hinata terlihat imut sekali, ia menatap bibir Hinata, lalu ia mendekatkan mukanya perlahan, dan perlahan juga ia menutup matanya.
Kedua bibir itu bertemu, rasa aneh terjadi di perut Hinata, seperti ada yang mengaduk-aduk perutnya, seakan terjadi alami, kedua tangan Naruto memeluk pinggang Hinata, mendekatkan tubuh Hinata ke tubuhnya, tangan Hinata juga memeluk leher Naruto, tak ingin melepaskan ciuman itu, tiba-tiba saja benda persegi panjang berwarna putih milik Hinata berdering keras, mengagetkan sang pemiliknya, dan itu semua memimpinnya ke alam sadar lagi.
Hinata melepaskan tangannya dan ciuman itu, ia hendak meraih ponselnya yang terletak di meja belajarnya, tetapi tangan Naruto tak melepasnya, seakan-akan Hinata ini sudah menjadi miliknya.
"Na-Naruto-kun, biarkan aku mengangkat panggilan itu," mohon Hinata, Naruto mengangguk dan melepaskan tangannya, Hinata segera berdiri dan mengambil ponselnya, ketika ia menemukan caller id 'Sakura-chan' ia segera meninggalkan kamarnya dan menuju kamar mandi dan menutup pintunya.
"Ha-halo," sapa Hinata, ia memegang mukanya, mukanya panas, mukanya menjadi merah sekali, ia tak percaya semua itu terjadi.
"Eh, Hinata-chan? Kamu kenapa? Kenapa suaramu terdengar begitu?" tanya Sakura, degup jantung Hinata kini tak menentu, kini tangannya memegang dadanya, agar ia dapat tenang sedikit.
"Erm, tidak kok, aku tidak apa-apa, Sakura-chan," Hinata memang tidak pandai berbohong, tetapi kalau berbohong via telepon, tak akan kelihatan kan?.
"Ya sudah, kalau misalnya si kuning jabrik itu ngapa-ngapain kamu, aku bakal memukulnya!" seru Sakura semangat, Hinata tersenyum.
"Kenapa kamu meneleponku, Sakura-chan?" tanya Hinata.
"Aku ingin mengajakmu ke Konoha Supermall besok, mau ya?" tanya Sakura, Hinata mengerutkan dahinya, besok memang dia tidak ada tugas sih.
"Siapa saja?"
"Aku, kamu, Matsuri, Ino, Gaara, Naruto, Sasuke-kun, dan Sai! Kalau perlu kamu ajak Naruto dulu," kata Sakura, Hinata berpikir sejenak, apakah ia bisa dengan normal jalan santai dan bercanda dengan Naruto sehabis kejadian ini?.
"A-ah tapi aku…."
"Aku mohon, Hinata-chan~ lagipula kita jarang keluar bareng-bareng," pinta Sakura dengan nada memelas.
"Baiklah, sehabis ini aku akan mengajak Naruto-kun," akhirnya Hinata menyerah, memang jarang sekali dapat kumpul berdelapan begitu.
"Baguslah! Ya sudah! Ada Sasuke di sini, bye Hinata-chwan!" dan seketika itu pula Sakura menutup teleponnya.
~My Ninja~
Naruto's POV
Bodoh! Apa yang tadi aku lakukan kepada Hinata? Entah, tubuhku bergerak sendiri, haha, tapi… aku kan bodyguardnya! Harusnya aku menjaganya, bukan menyakitinya, Narutooo kamu bodoh sekali sih! Aku menjambak-jambak rambut kuning jabrikku itu, tanpa aku sadari, ternyata Hinata-chan sudah masuk ke kamarnya lagi.
End of Naruto's pov
"Na-Naruto-kun," panggil Hinata, ia duduk di samping Naruto lagi, saat mendengar suara lembut itu, Naruto seakan dikuasai oleh setan kembali.
"Hinata-chan, kenapa? Mau dilanjut yang tadi?" semburat merah tampak lagi di pipi putih Hinata, Naruto ingin mencubitnya, tetapi ia menahannya.
"Um, besok kita di ajak Sakura-chan pergi ke Konoha Supermall, kita berdelapan, kamu pasti tahu siapa saja," kata Hinata, Naruto tersenyum lagi.
"Tentu! Kenapa tidak?" tanya Naruto, Hinata tersenyum, ia duduk di samping Naruto lagi.
"Baiklah, bagaimana, PRnya mau dilanjut tidak?" tanya Hinata, Naruto memeluk Hinata.
"Terima kasih, Hinata-chan, maafkan aku soal yang tadi ya?" bisik Naruto, jujur saja, Hinata tidak keberatan Naruto menciumnya tadi, bukan karena Hinata kebiasa dicium, tetapi entah ada rasa yang menginginkan Naruto kembali menciumnya lagi.
"Tidak apa, Naruto-kun, aku tak memikirkannya kok," Hinata berhak menenangkan Naruto, tetapi Naruto mengerucutkan bibirnya dan melepas pelukannya.
"Kok gak dipikirin sih, Hinata-chan? Memangnya kamu sudah kebiasa di cium gitu?" tebak Naruto, muka Hinata memerah lalu ia menggeleng.
"Tidak, sama sekali tidak, itu tadi ciuman pertamaku, Naruto-kun," Hinata malu saat mengatakan hal itu, tetapi Naruto malah tersenyum.
"Ya sudah, ayo kita lanjutkan PRnya," ajak Naruto, Hinata sudah menggenggam pensil di tangan dan siap mengerjakan.
"Ayo."
~Tu be Kontinyued~
A/N: gimana? Maaf kalo updatenya lama, banyak pr dan ulangan menunggu soalnya maklum, author ini tidak bisa membagi waktu, hoho *plakk*
Balasan review:
Acutcerewetsangat *Plakk*: gomen gomen, *evil laugh* iya gak papa dong, fitnah sedikit, lagipula aku mau Saso jadi cowok ideal kok :D iya ini udah update, makasih ya reviewnya cut
Naru luv Hina: Iyaa ini udah update makasih reviewnya! Datang lagi ya! *plak*
ZephyrAmfoter: hehe masa sih? Ya sudah, nanti aku perbaiki lagi! makasih reviewnya!
Felice a.k.a Fian: ehh? Ditunggu ya? Ini masih ditunggu gak? Hoho makasih reviewnya!
Hyuhi: Siap makasih reviewnya!
KATROK: iya! Ini udah dilanjut! Makasih reviewnya!
Sapphirelavender's: udah, udah, n udah! Hehe :D makasih reviewnya!
NARUHINA IS THE BEAST: Kibanya lagi kusuruh bersihin kandang sapi di rumah, :p iya ntar juga dilanjuut lagi kok NaruHinaKiba-nya makasih reviewnya!
SEKIAN!
Sign,
Akasuna no NiraDEI Uchiha
