Light jatuh pingsan dengan keadaan yang sangat mengenaskan, lubang belakang-nya berdarah dan air liur-nya dan Tota juga 'cairan' mereka berceceran di badan Light. Sedangkan Tota hanya melihatnya dengan wajah sedih dan membelai wajah Light yang sangat kelelahan. "Light... Maaf... Dan aku masih belum puas akan ini karena kau tidak bahagia dan tidak mencintaiku—kau hanya ereksi satu kali sedangkan aku berkali-kali—."
Light membuka mata-nya dengan perlahan. Dia melihat kiri dan kanan, di sana tidak ada Tota. Dia ingin bangun, tapi nggak bisa, pinggul-nya terasa begitu sakit. "Ryuk... Apa kau sama sekali nggak bisa menolong ku?" ucapnya dengan suara sangat pelan.
"Bagaimana aku bisa?"
Light menghela nafas. Dia pun berdiri dengan susah payah dan menuju kamar mandi dengan cara jalan yang aneh. "Hahaha! Cara jalanmu jelek sekali!"
"Diam kau Ryuk!"
Light menyalakan shower. Di saat air turun, Light menangis. Rasa dekapan L yang terakhir diberikan dua bulan yang lalu telah di hapus oleh Tota. Light membersihkan lubang belakang-nya dan semua yang di keluarkan Tota kemarin keluar. "Sial!" teriak kesal Light sambil memukul tembok.
Light telah bersiap untuk berangkat kuliah walaupun pinggang-nya masih sakit. Ketika dia ke ruang makan, dia menatap Tota dengan dingin dan tersenyum ke Sayu. "Kudengar dari Tota, katanya kemarin kau menginap di rumah teman-mu, tapi kok sekarang kamu udah berada disini pagi-pagi Sayu?"
"Tadi aku pulang pagi-pagi banget. Aku kepikiran dengan kalian berdua kalau ditinggal di rumah cuman dua-an, pasti akan ada adu mulut yang menghebohkan. Jadi aku memilih untuk pulang sebelum hal itu terjadi!"
Dan acara sarapan itu hanya di meriahkan oleh obrolan Sayu yang selalu ditanggapi oleh Light sambil pura-pura tersenyum. Sedangkan Tota hanya terdiam sambil memakan makanan dengan perlahan.
Light berjalan menuju kampus-nya dengan perlahan, hanya memikirkan satu orang yang selalu berada di hatinya.
"Oi Tuan Yagami!"
Light melihat ke sumber suara, Near. Melihat wajah Near yang cuek dan menyapanya itu membuat Light menghela nafas lalu tersenyum. "Kau sudah menyelidiki kasus?"
"Misa Amane? Kau menduga kalau orang itu yang membunuh kelima top model Jepang itu?" ucap Near sambil berjalan menuju kampus bersebelahan dengan Light yang mengecek info-info tentang korban. "Ya, setidaknya kita memiliki satu calon tersangka sekarang." ucap Light sambil memberikan kembali kertas itu ke Near.
"Wah! Pacar sendiri dijadiin tersangka seperti itu jahat sekali!" ucap Ryuk yang hanya di dengar oleh Light.
Near penasarandan memperhatikan mata Light yang terlihat berbeda. "Light, kau habis menangis?" bingung Near.
"Tentu saja tidak bodoh! Lagian aku menangis karena apa? Oh ya, makasih ya kemarin!" ucap Light mengalihkan pembicaraan dan berjalan cepat menuju kampus meninggalkan Near di belakang yang masih berpikir. "Kemarin? Untuk apa? Oh! Buat bayar minuman ya!"
"Memangnya mata-ku terlihat seperti habis menangis?" tanya Light ke Ryuk dengan suara sangat pelan di kamar mandi yang tidak ada orang. Dia memperhatikan mata-nya di cermin. "Bukannya biasa aja?"
Ryuk pun memperhatikan. "Yah, kalau orang itu sudah sangat mengenali-mu dan sering melihat mata-mu, pasti akan menyadari perbedaannya. Ya, matamu sedikit kuning dari biasanya, orang yang nggak sering memperhatikan-mu nggak akan sadar kok."
"Kalau begitu Near memang sering memperhatikan gerak-gerikku supaya kalau ada yang mencurigakan bisa langsung dia analisis."
"Hey Matsuda-sensei!"
Tota langsung menghadap kebelakang dan menemukan Near yang memanggilnya di situ. "Ada apa Near? Baru kali ini kau memanggil-ku atau menyapa-ku saat tidak bersama Light." ucap Tota yang saat mengucapkan nama Light terlihat sedih.
"Ya, ya, aku hanya ingin menanyakan sesuatu kepadamu."
"Apa? Tentang pelajaran? Kau yang sejenius ini mau menanyakan pelajaran nggak mungkin kan! Lagian kalau kau menanyakan tentang pelajaran berarti kamu kalah dari Light." kali ini juga ketika Tota menyebutkan nama Light, dirinya terlihat sedih.
Near pun jadi penasaran. "Jadi yang membuat Light menangis itu kamu ya?"
"Ah...?"
Near menghela nafas. "Tadi saat aku melihat mata-nya, mata-nya terlihat sedikit lebih kuning dari biasanya, seperti telah menangis. Itu gara-gara kamu kan... Habisnya tadi setiap kamu mengucapkan nama Light, wajah-mu terlihat sedih."
"Jadi Light menangis ya..." sedih batin Tota. "Kamu nggak sopan banget sih memanggil sensei dengan 'kamu'!" ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Sekarang bukan masalahnya sopan nggak sopan, tapi apa kamu yang bikin nangis kakak ipar-mu sendiri itu?"
Shht... Light lewat di tengah-tengah mereka. "Hei Near! Kita mau memecahkan kasus kan! Kenapa kamu malah berbincang-bincang nggak jelas make muka serius gitu dengan adik ipar-ku ini?" ucapnya berhenti sejenak lalu melanjutkan perjalanan.
Near pun mengikuti Light sambil melihat Tota dengan wajah sinis. Tota menghela nafas lega, tapi dia jadi kepikiran tentang Light nangis.
Near memperhatikan mata Light lagi.
"Oi Near! Kamu naksir aku bukan? Kok perhatiin aku terus sih?" kesal Light yang dari tadi ngomong kayak nggak di dengerin..
"Idih! Ngapain coba aku naksir sama kamu! Aku cuman penasaran aja, tuan sinis dan cool kayak kamu bisa-bisanya nangis... Kamu di bikin nangis sama adik ipar-mu kamu yang menyebalkan itu kan?"
Light hanya diam meminum kopi pesanannya. Wajahnya terlihat sedih yang membuat Near yakin dengan dugaannya. "Memangnya apa yang dia lakukan terhadap-mu?"
Sekali lagi Light diam. Tak lama dia tersenyum sedih lalu mengangkat bahunya, "Bukan urusan-mu kan?" Setelah itu, dia berdiri dan meninggalkan Near.
Near menghela nafas. "Kalau gini terus sih, kasus nggak akan terpecahkan dan aku terus yang membayar apa yang kita beli!"
Pelajaran Tota berlangsung tanpa adanya suara yang keluar dari Light dan Near. Tota-nya juga tidak menanyakan sesuatu kepada mereka berdua.
"Hey Matsuda-sensei, kasus itu bukan diselesaikan tahun 2002! Tapi belum diselesaikan!" Kata Near dan Light.
"Ke...ke..kenapa kalian mengetahuinya?" Kata Tota terbata-bata setelah tersentak.
"Masa kau tidak tahu kalau ayahku dan L yang menyelesaikannya?" Light memasang muka sedih begitu mengucapkan nama L.
Near yang menyadarinya bingung melihat ekspresi muka Light.
Pulang sekolah...
"Light, kesini sebentar!" Kata Tota saat Light merapikan bukunya. Light menatap sinis kepada Tota. "Ada apa adik iparku ter'cinta'?" Kata Light sambil tersenyum mengejek.
"Light, ke...ke...kamu ci...ci...cinta sa...sama si...siapa?" Tanya Tota. Light menghela nafas, lalu meninggalkan Tota. Near mengikutinya.
"Oy, kakak iparnya Tota!" Teriak Near. Light kesal mendengarnya, lalu membentak Near, "Kenapa kau selalu menggaguku? Bisa tidak kau meninggalkanku sendirian?"
"Bukannya kita rekan?"
"Oh, cukup tahu aku."
"Light, apakah kau mencintai onii?" Tanya Near dengan muka penasaran dan jijik. Light tersentak lalu air matanya keluar. Ia teringat saat-saat ia bersama L."Ini bukan urusanmu!" Teriak Light sambil berlari.
"Kerjaanmu hanya bilang 'ini bukan urusanmu' ya." Kata Ryuk.
Near terdiam dan terpesona melihat Light menangis yang membuatnya 'keras'. "Light... sebenarnya aku mencintaimu." Gumam Near yang melihat Light yang semakin menjauh dengan ekspresi sedih.
Di rumah, Light berbicara dengan Ryuk.
"Ryuk, apakah kau bisa menolongku?" Kata Light.
"Yes, my lord." Kata Ryuk sambil berpura-pura membungkuk dan menutup mata meniru Sebastian dari Kuroshitsuji.
"Kau mau menjadi pelayanku Sebastian?" Tanya Light sambil duduk dan mengangkat kakinya ke kepala Ryuk..
"Tentu saja tidak."
"Kau masih ingat Misa?"
"Yang sangat mencintaimu? Yang lebih mencintaimu daripada Tota tapi tidak seperti L? Tentu saja ingat"
"Kau bisa memata-matainya? Kau kan tidak kelihatan." Kata Light.
"Kalau ia tidak mempunyai Death Note, tentu saja." Kata Ryuk sambil terbang.
Misa sedang membuka-buka album fotonya. Ia melihat foto-fotonya saat ia bersama Light dan dia mengingat masa itu. "Light, aku masih mencintaimu. Aku masih menyimpan benda-benda darimu. Apakah kau masih mencintaiku?" Gumam Misa sambil mengangkat cermin pemberian Light dengan muka sedih dan mata-nya sudah di kuasai oleh titik air. Saat menatap cermin, ia melihat bayangan Ryuk.
"Ryuk, kenapa kau disini? Aku merindukanmu!." Teriaknya sambil memeluk Ryuk dengan erat melepas rindunya.
"Uh-oh." Ryuk tersentak. Misa mengambilkan Ryuk sebuah apel. Ryu langsung memakan apel tersebut.
"Kau masih bersama Light kan? Bagaimana kabarnya? Dia padahal baru saja bertemu denganku kemarin."
"Kenapa kau bisa melihatku? Bukannya kau tidak punya death note lagi?"
"Kau ini, ngaco aja!" Kata Misa sambil memukul Ryuk. "Death note Rem masih ada di aku. Dan aku mempunyai 2 death note. Mungkin yang ini punyamu." Lanjutnya sambil menyodorkan death note milik Ryuk.
"Oh, iya! Aku lupa kalau aku menjatuhkannya." Katanya sambil menggaruk kepala. Ia membuka-buka death notenya, dan menemukan nama yang pernah disebut-sebut oleh Light mati dalam sebuah kasus."Misa, aku pulang ke Light dulu ya, kalau nggak aku kena marah tuan emosional itu! Kau mau menitip salam kepada Light?" Kata Ryuk.
"Aku mencintaimu Light! Sampaikan salam-ku padanya!" Teriak Misa.
"Light, coba lihat death note ini." Kata Ryuk tergesa-gesa. Light membukanya. Ia menemukan nama-nama yang terdapat dalam kasus yang ia kerjakan.
"Kalau begitu memang Misa kan yang membunuh mereka... Tapi kalau Misa dipenjarakan, aku tidak bisa memanfaatkan dirinya lagi. Berarti aku harus memikirkan cara supaya ada pengganti Misa untuk di penjara..."
"Kenapa tidak adik ipar-mu yang bodoh itu? Kau bisa membuang sampah itu ke penjara kan?" ide Ryuk.
Lalu Light tertawa menyeramkan, "Ide-mu bagus juga Ryuk!" Dan Light pun menelpon Near, "Near, aku telah menemukan pelakunya."
Malamnya, Near datang ke rumah Light. Tota membukakan pintu. Tota tersentak saat melihat mobil Near yang sangat keren dan terlihat sangat mahal.
"Malam, Matsuda sensei." Kata Near.
"Untuk apa kau kesini?" penasaran Tota.
"Menyelesaikan tugas darimu dengan kakak iparmu yang telah kau buat menangis." Kata Near sambil menatap sinis. Light datang.
"Cepat masuk Near!" Kata Light sambil tersenyum.
Near mengikuti Light. Tota menatap sinis kepada Near.
