Satu minggu kemudian...
"Bagaimana keadaan Sayu sekarang Light? Dia masih sedih dengan kehilangannya terhadap Tota?" tanya Near penasaran.
"Dia sudah mulai tersenyum dan bergaul bersama teman-temannya lagi. Sekarang-sekarang dia sering menginap di rumah teman-nya dan aku ditinggal sendiri begitu saja di rumah..." ucap Light dengan senyum bahagia.
"Lalu siapa yang membayar uang kuliah-mu dan sehari-harimu bersama Sayu?"
"Uang dari asuransi ayah-ku, Tota, dan sumbangan dari kepolisian bisa mencukupi-nya beberapa saat..."
"Kedepan-nya?"
"Selama aku masih kuliah mungkin aku dan Sayu akan part time sebanyak-banyaknya—kalau bisa—agar kami berdua bisa hidup."
Near menghela nafas mendengarnya, "Itu kan mengganggu kuliah-mu."
Kali ini Light yang menghela nafas. "Dan dengan cara apalagi aku dan Sayu bisa hidup Near? Kami bukan tuan muda sepertimu yang kaya raya—walaupun aku lebih pintar darimu setidaknya—." ucapnya sambil sempat-sempatnya mengejek Near.
"Kau itu ya! Tidak berhentinya mengejek-ku 'tuan yang telah bebas dari adik ipar-nya yang menyebalkan itu'..."
"Itu bukan ejekan Near, tapi kenyataan..." tenang Ligt sambil meminum kopi pesanan-nya yang membuat Near menghela nafas lagi memikirkan bagaimana perasaan Light kepada Tota sebenarnya. "Dan dengan keadaan-mu sekarang ini, jika kau mau apa-apa—walaupun dari kemarin-kemarin itu jika kau membeli sesuatu denganku aku selalu yang membayar—kau bilang saja kepadaku dan pasti akan kukabulkan selama aku mampu."
Light tertawa, "Kau kira aku apaan sih? Dimana muka dan harga diriku kalau apa-apa selalu meminta kepadamu Near?"
"Di keadaan seperti ini aja muka-nya dan harga dirinya masih dia jaga baik-baik ya?" batin Near dan Ryuk berbarengan. "Kalau begitu kenapa kau dan Sayu tidak tinggal di rumah-ku saja? Rumah-ku besar dan mempunyai banyak kamar yang tidak diisi. Rumah yang kau tinggali sekarang itu kau jual untuk keuangan-mu. Lagipula rumah itu hanya akan menyisakan kenangan sedih dan rasa sakit kepada Sayu." tawar Near.
"Tapi rumah-mu itu yang akan membuatku sedih dan merasa sakit..." batin Light dengan muka sedih yang membuat Near merasa bersalah. "Ku harap kau memikirkannya. Demi kebaikanmu dan Sayu..." ucap Near tidak memaksa. "Maaf Light, walaupun aku tahu ini pasti akan membuat-mu merasa sedih, tapi ini demi kehidupan-mu kedepan..." batin Near.
Ligth dan Sayu menunggu kedatangan Near di depan rumah mereka. Mereka telah membereskan barang-barang yang akan dibawa ke rumah Near. Light memutuskan untuk pindah ke rumah Near walaupun dia tahu kalau dia akan merasa sedih, tapi ini demi Sayu.
Lalu datanglah mobil di depan mereka dan tak lama Near keluar dari mobil tersebut. "Uwah! Mobil-ya keren banget!" kagum Sayu.
"Kalau begitu kenapa kau tidak dibelikan mobil ini saja ke onii-mu."
Light kesal mendengarnya, "Bukannya kau tahu bagaimana keadaan ku sekarang Near? Apa kau pikir aku bisa membelikannya mobil semurah apa pun?"
Near tersenyum meledek, "Ya, ya, tuan miskin..."
Light ingin menjitak Near, tapi Sayu menghentikan, "Sudah, sudah! Sekarang kita masukan saja barang-barang kita ke mobil itu onii. Terimakasih Near-san."
"Sama-sama."
"Terimakasih Near..."
Near tertawa mendengarnya. "Aku baru tahu kalau kau bisa mengucapkan terimakasih." ucap Near berbarengan dengan Ryuk.
Lalu Light menaruh tasnya ke bagasi dan saat Near mau mengambil koper-nya yang berisi uang di bagasi, tak sengaja tangan mereka bertemu. "Ah maaf..." ucap Light sambil melanjutkan pekerjaannya.
Near menatap tangan-nya sambil tersenyum manis. Sayu yang melihatnya hanya menahan tawa. "Ada apa Sayu?" bingung Light. "Tidak, tidak ada apa-apa."
Light menatap kosong ruang tamu. Dimata dan diotaknya, di sofa L duduk sambil tersenyum menyambutnya. Near yang melihat ekspresi itu, menjadi sedih lalu menepuk pundak Light. "Kenapa kau terlihat sedih? Rindu dengan rumah-mu? Dasar! Kau sama saja seperti anak kecil..." senyum Near agar Light juga tersenyum—harap-nya—.
Light menghela nafas. "Ya, ya, meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan buruk..." kata-kata ini membuat Sayu sedih dan menghela nafas, "Bagi onii seperti itu, tapi bagiku rumah itu penuh dengan kenangan manis."
"Terserahlah!" ucap Light sambil melihat sekeliling. Sudah lama dia tidak ke rumah ini lagi semenjak meninggal-nya L.
"Hey Light, Sayu! Kalian mau kamar yang di lantai berapa?" tanya Near sambil menuju ke dapur dan membuka kulkas, dia mengambil sebuah snack.
Light menyusulnya lalu merebut snack itu. "Aku terserah, dimana aja... Kalau Sayu sih kasih aja di lantai satu dekat dapur agar dia bisa memasak dengan mudah!"
Sayu yang mendengarnya kesal, "Kan ada pembantu! Kenapa aku masih tetap harus memasak! Dasar onii jelek!"
"Ya, kamu tidak menghargai tugas pembantu..." ucap Ryuk.
"Ya kalau begitu Sayu di lantai satu dekat kolam renang saja, agar kamu bisa bersantai dengan mudah. Light, kamu di kamar-ku saja, kamar yang kedua paling besar setelah kamar onii yang akan aku tempati mulai dari hari ini."
Mendengarnya, Light kehilangan kendali emosi dan tidak bisa menahannya sama sekali dan tidak memikirkan kalau ada Sayu juga disitu, "Kenapa? Biarkan saja kamar itu kosong tanpa ada yang menempati!"
Sayu yang melihatnya menjadi bingung dan kaget, sedangkan Near tersenyum licik, "Jadi kau mau menempati kamar itu?"
Light menghela nafas dan mulai untuk mengatur emosinya. "Bukan begitu maksudku bodoh! Apa kau tidak bisa mencerna kata-kataku yang jelas seperti itu? Aku kan sama sekali tidak bilang atau menunjukan kalau aku mau menempati kamar itu!"
"Yah, yah, tapi untuk apa kau emosi begitu mendengar kalau aku akan menempati kamar itu menggantikan onii?"
Light pun melihat Sayu. Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya di depan Sayu begitu saja. "Yah, aku hanya ingin kamar itu menjadi kenangan L... Kau tahu kan kalau aku dan L itu adalah rekan baik?"
Near tersenyum licik kembali. "Ohhh? Apakah ini alasan yang sebenarnya Light?" bisik Near pelan sambil melewati Light menuju kamar L.
Light menatap sinis kamar L yang sedang diisi oleh Near. Lalu dia menghela nafas untuk mengatur emosinya dan membuka kamar yang tidak di kunci itu.
"Ada apa Light? Mau mengenang masa lalu?" ejek Near.
Light pun kesal dan mendekatinya yang duduk di kasur. "Apa maksudmu? Memangnya ada yang salah dengan itu?"
Near tersenyum menang, "Apa yang kamu katakan ini menambah rasa yakin-ku atas hubungan-mu dengan onii Light..."
Light kaget mendengarnya. "Jadi kau tahu?"
"Kau ingin kuberitahu bagaimana aku mengetahui akan hubungan-mu dengan onii?" tawar Near sambil membaringkan badan.
Light menghela nafas, "Memangnya bagaimana?"
"Kau ingat saat aku ke rumahmu? Kalau kau tidak ingat, sebaiknya kau kembali ke taman kanak-kanak lalu memeriksa kepala-mu itu ke rumah sakit dan segera membetulkannya." ejek Near dengan nada merendahkan.
"Tentu saja aku ingat. Dan kepala-ku bukan di betulkan, tapi disehati bodoh! Memangnya aku alat? Kau yang cocok di kembalikan ke TK!" Kata Light dengan geregetan.
"Yah, yah... Kau tahu bahwa kau tertidur?" Tanya Near memancing rasa penasaran Light. "Tentu saja, dan dengan mimpi yang indah kan?" lanjut Near.
"Aku sudah melupakan mimpiku pada waktu itu. Kau kira aku menyimpan mimpi selamanya?" Light berbohong.
"Aku tahu itu mimpi yang paling nikmat yang pernah kau nikmati." Terang Near. "Dan asal kau tahu, kau mengigau..." Near menghela nafas. "Lawliet, aku merindukanmu."
"Ya...ya...ya... kau akhirnya mengetahui semuanya." ucap Light dengan muka sedih. "Jika kau ingin memukul-ku, silakan memukul-ku..."
Near langsung mendorong Light ke kasur dan Light bersiap-siap terkena pukulan dengan menutup mata, tapi...
"Kau kira aku bisa memukul-mu yang menunjukan wajah sedih-mu itu Light..." ucap Near yang lalu mencium Light.
Light kaget dan langsung mendorong Near, "Apa yang kau lakukan? Ini menjijikan! Jika kau ingin membalas dendam kepada-ku, tidak usah memakai cara sepeti ini! Lebih baik kau memukul-ku sampai aku babak belur daripada kau melakukan ini Near! Kamu sama saja dengan Tota bodoh!"
"Tapi Light, apakah kau menyadari... bahwa... aku mencintaimu... seperti onii mencintaimu?" Kata Near dengan mata mendung.
Light pun kaget mendengarnya, tapi dia malah menjadi sedih, mengingat saat L menyatakan cinta kepadanya dengan ekspresi yang sama. "Hei bodoh! Kau adalah kau! Lawliet adalah Lawliet! Kau dan Lawliet itu berbeda Near!"
"Kalau begitu, kau akan memasang muka apa ketika kau pergi ke makam onii karena kau telah berciuman denganku di kamarnya, di kasurnya lebih tepatnya?" Tanya Near dengan muka sinis sekaligus mengasihani Light.
Light yang kesal langsung bangun dan keluar dari kamar L, meninggalkan Near yang masih bermata mendung.
"Omong-omong Light..." Kata Near yang membuat Light tersentak dan menghentikan langkahnya. "Kau mau tidak tidur di kamar onii denganku? Kau pasti kangen dengan baunya kan?" Tambah Near.
"Kau tidak akan melakukan sesuatu kan? Tidak seperti tadi, ataupun yang sejenis, apalagi lebih dari itu!" Kata Light dengan curiga dan mata sinis.
"Tentu saja tidak. Aku tidak sebodoh Tota yang langsung melakukan tersebut denganmu." Kata Near dengan nada mengejek.
Light pun berpikir, "Iya juga sih kalau aku kangen dengan bau Lawliet, tapi..." Light menimbang-nimbang kembali dan memustuskannya, "Baiklah, aku mau."
"Light, maaf aku telah membuatmu..." Kata Near.
"Membuatku apa? Kaget? Shock?" Light berusaha membentak, tapi tidak bisa.
"Ya... begitulah." Kata Near.
"Aku tidur dulu. Selamat malam Near." Kata Light.
"Jangan memanggilku Near. Panggil aku Nate, Nate River." Kata Near sambil tersenyum manis dan menatap indahnya langit malam yang berbintang terang itu.
"Keluargamu suka memakai nama samaran ya?" Kata Light dengan nada mengejek, begitu juga dengan ekspresi-nya.
"Kenapa? Kau tidak suka?" Tanya Near. Light diam saja dan tertidur.
"Light, maafkan aku telah mengagetkanmu. Tapi, mukamu lucu saat tidur ya..." Kata Near sambil mulai 'merangkak' di atas Light. Namun, dia terpikir ide yang lebih licik. Ia pun mengambil kamera.
"Suatu saat kau akan melakukan'nya' dengan-ku dengan sepenuh hati-mu..." Katanya sambil mencium Light dengan lembut tapi memainkan lidah-nya.
Light pun terbangun, "Apa yang kau lakukan Ne, eh Nate!"
Near hanya tersenyum lalu memeluk Light dengan lembut, "Maaf... Aku hanya tidak tahan melihatmu yang manis banget waktu tidur..."
Pipi Light pun memerah yang membuat dirinya terlihat manis. Near pun tak tahan melihatnya, tapi dia langsung mengontrol, "Bodoh! Kalau kau bermuka manis banget kayak gitu, bagaimana aku bisa nahan nggak melakukan sesuatu..."
Light yang mendengarnya hanya tersenyum lalu memegang pipi Near, "Kalau kau berwajah seperti itu juga, mana mungkin aku menghentikan-mu..."
"Kau! Jangan menyesal ya telah mengatakan itu!"
Near pun mencium Light sekali lagi, lalu mencium leher Light—juga membuat hickey—dan beralih ke putingnya—lalu dia menghisap dan menggigitnya—. Lalu Near memasukan jarinya ke lubang belakang Light yang membuat Light teriak.
Near mengecup pipi Light, "Teriakan-mu seksi sekali Light."
Setelah memasukan ketiga jarinya, Near memasukan penis-nya ke dalam lubang belakang Light dengan cepat lalu mengkeluar masukkan.
"Ahh... Nate... Ini terasa nikmat..."
"Light... Di dalam-mu sangat sempit dan nyaman... Panas yang nikmat... Kau membuat-ku meleleh Light..." ucap Near sambil memencet-mencet penis Light yang sudah mencapai climax-nya. "Ahhh... Nate!"
Near pun tersenyum dan tetap memencet-mencetnya dengan tangan kanan, memainkan puting Light dengan tangan kiri, dan mulutnya melumat mulut Light—penis-nya semakin dalam di lubang belakang Light—.
Lalu Near mengeluarkan penis-nya. "Kau mau minum Light? Pasti tenggorokan-mu udah kering karena dari tadi kau teriak melulu."
Light yang bermuka merah ini—pokok-nya mukanya manis banget!—langsung memasukan penis Near ke mulut-nya. Light memainkan lidah-nya yang membuat Near ereksi. Light menelan cairan lengket itu dengan susah payah yang membuatnya tersedak.
Near yang menyadarinya pun menarik lembut dan pelan kepala Light dan mengangkat badan-nya menjadi dirinya berhadapan dengan Light. Near mencium Light dan memainkan lidah-nya. "Mulut-mu lengket dan penuh dengan cairan-ku Light."
Mereka pun berciuman sampai tertidur.
