Tempat Antah Berantah... (Bagi Light) ambil sudut pandang Light
Dingin... Rasanya sangat dingin... Udara yang membuat-ku mengigil ditemani oleh angin kecil yang membuat perih. Lantai yang rasanya beku ini, lengkap sudah hal yang membuat bulu kuduk-ku berdiri juga mati rasa. Aku berusaha membuka mata sebisanya, tapi rasanya sangat berat. Lama-lama kupingku mulai mendengar suara seseorang yang sebelumnya belum pernah aku dengar sama sekali.
"Pengaruh obat tidur itu masih bereaksi ya?"
"Seharusnya sih dia sudah mulai sadar. Aku yakin telah memberinya obat itu sesuai dengan takaran untuk waktu yang kau inginkan."
"Tapi buktinya?"
"Aku yakin sebentar lagi dia akan membuka matanya."
Percakapan itu membuat-ku tak ingin membuka mata. Aku tidak mengetahui suara siapa itu. Aku tidak takut, hanya merasa tak ingin membuka mata. Tapi emakin lama waktu berlalu, entah kenapa aku semakin mempunyai keinginan untuk membuka mata. Dan entah kenapa pula aku tak bisa menhan mata ini dan akhirnya mataku terbuka begitu saja.
Dan di dekat kepala-ku, terdapat 2 pria—satu berambut pirang bop, dan memiliki bekas luka di dekat matanya, lalu yang satu lagi berambut biru donker dan membawa sebuah buku dengan judul berwarna merah dan berbahasa inggris—. Tunggu! Sepertinya aku pernah melihatnya. Bahkan aku merasa kalau aku memilikinya juga dan pernah memegangnya.
Tak lama, cowok berembut pirang bob itu menghadapku, sepertinya dia menyadari kesadaranku. Dia menggerakkan bangku-nya—tanpa berdiri dan tetap duduk—ke dekat-ku sambil tersenyum penu rasa mengejek kepada-ku—entah kenapa aku merasa sepertinya cara senyum-ku hampir sama dengan-nya dan hal ini membuat-ku kalau senyum-ku ini begitu jahat.
"Halo Yagami-kun... Bagaimana keadaan-mu?" ucap cowok itu.
"Baik kalau kau tidak menculik-ku dan kamu itu siapa juga untuk apa kau menculik-ku?" ucap-ku cuek, tidak seperti tawanan biasanya yang langsung panik.
Cowok itu tertawa, "Ya kau memang bukan orang biasa yang pasti sudah panik di keadaan seperti ini!" Setelah itu dia mengarahkan tangan-nya ke orang berambut biru donker itu seperti meminta sesuatu yang membuat cowok berambut biru donker itu mengambil coklat dan menyerahkan coklat itu ke si peminta yang langsung membuka bungkus-nya dan memakannya.
"Dan kau belum menjawab pertanyaan-ku kan?"
Si rambut bob itu tersenyum mendengarnya lalu menghentikan makan-nya, "Maksud-mu aku ini siapa dan untuk apa aku menculik-mu?"
"Kalau sudah tahu kenapa mesti menanya balik yang tidak penting seperti itu Tuan Penculik-ku 'yang menyeramkan'?" Ya, memang dia menyeramkan karena cara makan-nya dan bekas luka-nya itu, tapi aku tetap tidak takut karena aku bukan-nya anak TK juga seperti si 'mantan'—entah bisa disebut seperti itu atau tidak—adik ipar-ku itu.
"Ya, ya, tuan tidak sabar dan egois ini... Kalau kau menanyakan aku ini siapa, kalau melalui nama, aku bisa dipanggil Mello, dan kalau menanyakan status, aku hanya bisa bilang kalau aku ini adalah 'Kakak Nate Yang Tidak Dianggap'"
Aku kaget mendengarnya. 'Kakak Nate Yang Tidak Dianggap'... Kalau begitu dia kakak atau adik Lawliet? Tapi kalau kelihatannya sih, dia adalah adik Lawliet, entah dianggap atau tidak oleh Lawliet. Tapi kalau aku pikirkan lagi, sepertinya banyak yang aku tidak tahu dari Lawliet, seperti keluarga-nya, masa lalu-nya, dan hal lainnya yang seharusnya aku tahu sebagai 'mantan'—setidaknya bisa dibilang seperti itu—pacar-nya.
"Kenapa? Kaget? Dengan begini kamu tahu kan kenapa aku menculik-mu?"
"Karena apa?" bingung-ku yang sama sekali nggak punya clue untuk menjawab-nya—dan entah kenapa aku merasa bodoh akan jawaban-ku ini—.
Mello diam—karena sepertinya dia kaget—lalu langsung tertawa. "Jadi kau tidak merasa kalau Nate itu mencintai-mu, menyayangi-mu, dan menganggap-mu sebagai pacar-nya yang segala-nya baginya?"
Aku diam, entah kata-kata Mello itu benar atau tidak bagi Nate—walaupun aku merasa itu benar, tapi aku takut kalau hal itu hanya kebohongan Nate belaka—.
Sedangkan Nasib Near... Ambil sudut pandang Near
Aku—sambil tersenyum sangat sangat senang—berjalan ceria menuju rumah. Entah kenapa aku ingin melihat Light yang hari ini nggak ada kuliah secepatnya! Aku ingin melihat bagaimana mukanya begitu menyambut-ku, apa marah atau malu-malu? Biasa, dia kan tsundere yang menggemaskan!—bagiku—.
Begitu aku melihat rumah-ku telah dekat, aku langsung berlari cepat dan masuk ke dalam rumah dengan cepat pula. "Light! Aku pulang!"
Zing... Tak ada balasan... Hal ini membuat-ku membatu es karena dinginnya hati-ku ini karena tak mendengar suara Light-ku... (A/N: Near kok jadi kayak yang norak banget ya?)
Tapi aku langsung berpikir positif, mungkin dia lagi mendengar musik dengan headset pembelian-ku atau sedang tidur—kalau sedang tidur, pasti dia sangat manis. Tapi pasti dia sedang memimpikan onii!—.
Aku pun berjalan menuju kamar-ku. Sesampainya, aku tak menemukan Light, dan yang kutemukan hanya sehelai kertas juga jendela yang terbuka begitu saja membuat kamar menjadi sedikit berntakan.
"Oi Light! Kenapa kau membiarkan jendela-nya terbuka bodoh!" kesal-ku yang harus membereskan sendiri kamar ini karena Light nggak ada dan kalau aku biarin aja, nggak enak aku melihat-nya.
Setelah aku membereskan kamar sebentar, aku pun berminat dengan sehelai kertas itu lalu mengambil-nya dan membaca-nya.
Untuk Nate River-ku yang tercinta (?)
Kalau aku pikir, kau pasti belum melupakan-ku kan Nate... Dan kalau kau tahu siapa yang menulis ini, kau pasti tahu apa yang terjadi... Dan kau pasti tahu tempat yang aku suruh kau pergi dan apa yang harus kau lakukan...
With Love (?),
Mello=Mihael Kheel
"Mihael!"
