Disclaimer:
Masashi Kishimoto
Pair:
SasufemNaru
Bugh
Bugh
"Teme brengsek!"
Bugh
Bugh
"Naruto, sedang apa kau nak?"
Dihampirinya sang anak yang kini sedang melampiaskan kekesalannya dengan memukul pohon besar yang ada di halaman rumahnya. Sebagai seorang ibu, Kushina pun langsung berusaha menghentikan Naruto untuk memukuli pohon tersebut dengan tangannya ketika dilihatnya darah segar mengalir dari kedua tangan sang anak. Naruto yang merasakan kahadiran Kushina pun langsung berhambur kepelukannya dan terisak.
Kushina yang tak tahu-menahu tentang masalah yang dihadapi Naruto hanya membalas pelukannya erat dan membawa Naruto masuk kedalam rumah dan mengobati luka ditangannya.
XOXOXOXOXO
Setelah melihat Naruto tertidur nyaman dikasurnya, Kushina pun keluar dari kamar bernuansa kuning tersebut yang sebelumnya member kecupan dikening Naruto.
"Apa Naru sudah tidur, kaasan?" Tanya Deidara kepada Kushina yang baru saja mendudukkan dirinya disofa.
"Sudah, sebenarnya Naruto ada masalah apa, Dei? Apa ada kaitannya dengan Sasuke?"
"Iya kaasan, ini semua karena si Uchiha pantat ayam itu!" ingin rasanya Deidara berbicara seperti itu pada Kushina, namun hal itu hanya ia katakan dalam hati karena Deidara tak mau mencampuri urusan sang adik. Bukan karena Deidara acuh atau bukan kakak yang baik, hanya saja dia tak mau menjadi kambing hitam karena masalah Naruto dan Sasuke juga belum begitu jelas baginya.
"Aku tak tahu, un. Naruto belum bercerita," akhirnya kata-kata itulah yang keluar dari mulut pemuda cantik itu.
'Ugh, apa yang sudah kau lakukan lagi pada Naruto, Sasuke,' batin Deidara sambil mengepalkan tangannya yang berada diatas pahanya.
XOXOXOXOXO
Pagi ini tak secerah hari-hari sebelumnya karena sepertinya sang matahari sedang malas untuk menyinari bumi ini, sehingga tergantikan oleh awan mendung yang siap mengeluarkan rintik-rintik hujan kapan pun dan dimana pun.
Saat ini gadis berambut pirang yang diikat dua itu tengah berjalan memasuki sekolah ketika seorang pemuda berambut raven datang menghampirinya.
"Naruto."
"Ah, gomen, Teme. Aku ada urusan."
"Dobe, sepertinya kau menghindariku, ada apa?" digenggamnya tangan tan yang tengah diperban itu, membuat sang pemilik meringis kesakitan.
"Tanganmu kenapa, Dobe?" Tanya Sasuke khawatir.
"Tak apa, Teme. Sudah ya, aku mau ke kelas dulu. Jaa..Teme."
Ditatapnya kepergian Naruto dengan tatapan sedih, entah kenapa Uchiha bungsu ini merasa hubugannya dengan gadis berambut pirang itu mulai merenggang.
XOXOXOXOXO
Bel istirahat telah berbunyi, semua murid-murid Konoha High School mulai berhamburan keluar kelas masing-masing untuk mengisi perut mereka. Namun tidak dengan pemuda raven tersebut, saat ini dia tengah berjalan menuju kelas sang kekasih.
Naruto yang mulanya tak ada niatan untuk meninggalkan kelas mulai merubah pikirannya ketika dilihatnya pemuda bermata onyx yang dikenalnya berjalan menuju kelasnya.
"Hinata-chan, maukah kau menemaniku ke kantin?" Tanya Naruto kearah seorang gadis berambut biru panjang yang tengah membaca sebuah novel.
"Ah, te-tentu saja," ditutupnya novel yang tadi dibacanya dan berjalan beriringan dengan Naruto menuju kantin.
"Naru, kita harus bicara," ujar Sasuke ketika berpapasan dengan Naruto didepan kelas 3b tersebut.
"Aku mau ke kantin," ujar Naruto dingin.
"Kalau gitu, ayo kita ke kantin," ujar Sasuke sambil menggenggam tangan tan Nruto, namun Naruto langsung menepis tangan berkulit putih tersebut.
"Aku mau pergi dengan Hinata," tanpa buang-buang waktu lagi, Naruto pun langsung menggenggam tangan Hinata dan pergi meninggalkan Sasuke.
XOXOXOXOXO
Setelah pergi menjauh dari Sasuke, Naruto pun langsung mendudukkan dirinya ditanah dan menyenderkan punggungnya ke pohon sakura dibelakangnya, kemudian menekuk lututnya dan menyembunyikan wajahnya sambil mengatur napasnya yang tak beraturan. Hinata yang melihat hal tersebut hanya bisa menatap Naruto dengan tatapan bingung. Setelah diam beberapa saat, ahirnya Hinata pun mendudukkan dirinya disamping Naruto dan memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Na-Naru, apa ki-kita tak jadi ke kantin?" Tanya Hinata.
"Aku sudah tak bernafsu untuk makan,Hinata," jawab Naruto masih menyembunyikan wajahnya. Selama beberapa menit mereka hanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Setelah menimbang-nimbang untuk berbicara atau tidak, akhirnya Hinata pun memutuskan untuk brrbicara pada gadis disampingnya.
"Na-Naru, maafkan aku, ga-gara-gara aku, kau dan Sasuke jadi bertengkar," ujar Hinata dan sukses membuat Naruto mengangkat wajahnya untuk menatap gadis pemalu disampingnya.
"Maksudmu apa Hinata?" Tanya Naruto bingung.
"A-aku yang memberitahu Sasuke waktu kau berkelahi, go-gomen Naru," ujar Hinata sambil menundukkan wajahnya.
"Pfft, hahahaha…ini semua tak ada hubungannya dengan hal itu, Hinata. Tapi karena," mengingat kedekatan Sasuke dan Sakura membuatnya kembali bersedih.
"Jika kau tak mau me-menceritakannya padaku juga tak apa, Naru-chan," ujar Hinata sambil tersenyum kearah Naruto.
"Ah, gomen, Hinata-chan."
"Tak apa, Naru-chan," ujar Hinata sambil tersenyum dan membuat Naruto juga tersenyum karenanya.
XOXOXOXOXO
"Halo, manis," ucap seorang pemuda yang kepada Naruto dan Hinata yang baru saja keluar dari sekolah dan hendak pulang ke rumah.
"Apa mau kalian?" Tanya Naruto sambil meningkatkan kewaspadaannya dan merentangkan tangannya untuk melindungi Hinata dibelakang tubuhnya.
"Uh, galak sekali dirimu, haha," ujar pemuda itu lagi kemudian tertawa dan diikuti oleh tiga orang temannya, "Tentu saja kami kemari untuk membalaskan dendam kami kepadamu karena dirimu telah berani-beraninya menghajar adikku."
"Na-Naru, sebaiknya kita lari saja," bisik Hinata ketakutan.
"Tidak Hinata, aku akan melawan mereka. Sebaiknya kau pergi dari sini."
"Ta-tapi Naruto."
"Cepat Hinata!" mendengar nada suara Naruto yang tegas, Hinata pun berlari meninggalkan tempat itu. Namun, Hinata tak pergi meninggalkan Naruto untuk pulang. Tidak, dia tidak akan melakukan hal seperti itu pada Naruto, maka dari itu saat ini dia berlari untuk menemui seseorang yang dirasanya dapat membantu.
"Wah, ada yang kabur. Biar aku yang mengurus nona Hyuuga itu," ujar salah satu dari mereka kemudian mengejar Hinata. Naruto yang melihat itu pun langsung mengejar orang yang mengejar Hinata, namun langkahnya dihentikan oleh pukulan yang mengenai pipi tannya. Dengan geram, Naruto pun membalas memukul orang tersebut tepat diwajahnya, namun bukan orang tersebut yang merasa kesakitan, melainkan tangan Naruto yang berdenyut, itu diakibatkan tangannya yang tengah terluka.
Melihat Naruto yang kesakitan, mereka pun mulai melayangkan pukulan bertubi-tubi kearah Naruto. Karena kedua tangannya yang terasa sakit dan kakuatan yang tak seberapa karena dia mulai mengurangi konsumsi makannya, sehingga yang bisa dilakukannya saat ini hanya melindungi wajah dan dadanya dari pukulan orang-orang tersebut.
Sementara Naruto tengah bertahan dari pukulan-pukulan tersebut, Hinata saat ini tengah berlari sekuat tenaga untuk kembali ke sekolah dengan seorang pemuda yang mengejarnnya dari belakang.
Namun belum sempat Hinata memasuki sekolah, dirinya terjatuh karena tersandung oleh kakinya sendiri.
"Haha, percuma saja kau berlari dariku," diketinya perlahan tubuh Hinata dihadapannya dan membuat Hinata memundurkan tubuhnya setiap pemuda tersebut melangkahkan kakinya.
"Aaah, lepaskan tanganku!"
"Lepaskan? Kita bermain dulu, baru kau kulepaskan," ujar pemuda itu sambil menyeret tubuh Hinata.
Bugh
"Beraninya kau memegang nona Hinata dengan tangan kotormu itu," ujar Neji geram.
"Cih, ternyata bodyguardmu sudah datang menjemputmu, bahkan seorang Uchiha Sasuke sudah turun derajat menjadi seorang bodyguard."
Ingin rasanya pemuda berambut raven itu memukul pemuda yang telah menghinanya. Namun gerakannya terhenti ketika Hinata menghalanginya dan membicarakan Naruto. Mendengar nama Naruto disebut, firasat buruk mulai dirasakannya.
"Ada apa dengan Naruto?" Tanya Sasuke khawatir.
"Na-Naruto dipukuli di-" mendengar kekasihnya dipukuli, Sasuke pun berlari meninggalkan Neji dan Hinata bersama pemuda itu tanpa mendengar penuturan Hinata secara tuntas.
Betapa kagetnya Sasuke, ketika dilihatnya tubuh Naruto yang meringkuk ditanah sambil menutupi wajah dan dadanya sambil menerima pukulan dan tendangan dari ketiga pemuda itu. Dengan amarah yang meluap-luap, Sasuke pun menghajar ketiga pemuda yang telah memukuli Naruto dengan membabi buta. Setelah mereka semua kabur dari hadapannya, Sasuke bergegas kearah dimana Naruto terbaring. Diangkatnya kepala sang gadis keatas pangkuannya.
"Naruto!"
"Sa-Sasuke," ujar Naruto, kemudian tersenyum kearah pemuda dihadapannya dan dengan perlahan menutup matanya.
"Naruto," ujar Sasuke sambil mengguncang tubuh tersebut. Namun pemilik mata sapphire itu masih tak mau membuka matanya. Dengan kekhawatiran memenuhinya, Sasuke akhirnya menggendong Naruto dengan bridal style dan berlari menuju rumah sakit terdekat.
XOXOXOXOXO
Setelah selama tiga puluh menit mata itu menutup, akhirnya gadis berambut pirang itu pun membuka matanya perlahan-lahan, menampilkan birunya langit di bola mata itu.
Melihat sang kekasih yang mulai sadar, Sasuke pun berjalan mendekatinya dan langsung menggenggam tangan tan yang tengah terbalut perban itu dengan sangat lembut karena Sasuke tak ingin menyakiti gadis yang tengah mengumpulkan kesadarannya itu.
"Sa-Sasuke," ujarnya lirih.
"Hn, Dobe," ujar Sasuke sambil mengelus rambut pirang Naruto. "Kau tahu, Dobe. Aku sangat menghawatirkanmu," lanjut Sasuke.
"Hehe, gomen, Teme," ujar Naruto sambil tersenyum manis kearah Sasuke.
"Hn."
"Teme, apa kita bisa pulang sekarang?"
"Apa kau sudah tak apa?"
"Iya, aku mau pulang sekarang, Teme~"
" Hn," digendongnya lagi Naruto dengan bridal style, membuatnya menjadi pusat perhatian dan sukses membuat wajah gadis manis itu merona dan memilih untuk menenggelamkan wajahnya kedada bidang sang kekasih untuk menutupi wajahnya.
Setelah memasukkan Naruto kedalam mobil yang dibawakan Neji untuknya, Sasuke pun melajukan mobil port hitamnya untuk mengantar Naruto pulang.
XOXOXOXOXO
Ditengah perjalanan, Sasuke membelokkan mobilnya menjauhi jalan yang seharusnya mereka lewati untuk mencapai rumah Naruto dan membuat Naruto bingung.
"Teme, kau mau membawaku kemana?"
"Sudah Dobe, kau diam saja."
Setelah lima belas menit dari pembicaraan terakhir mereka, akhirnya Sasuke mulai memelankan laju mobilnya sebelum benar-benar berhenti.
Melihat sang kekasih menuruni mobil, Naruto pun akhirnya mengikuti Sasuke untuk menuruni mobil. Dan Naruto semakin dibuat bingung oleh Sasuke ketika pemuda berambut raven tersebut mengajaknya memasuki kedai itu dan memesan semangkuk ramen beukuran besar.
"Dobe, kenapa kau diam saja. Ayo dimakan."
"Ini untukku?"
"Iya, tentu saja. Kau pikir aku membelikannya untuk siapa?"
"Hn. Baiklah, selamat makan," setelah beberapa suapan memasuki mulutnya, Naruto pun segera menghentikan acara makannya.
"Aku sudah selesai," ujar Naruto membuat Sasuke bingung dan menaikkan sebelah alisnya. Bagaimana tidak, Uzumaki Naruto yang dia kenal selama ini akan lansgung menghabiskan ramen berukuran besar itu dalam waktu yang sangat singkat dan akan merengek untuk minta nambah, namun kali ini dia seperti bukan bersama Uzumaki yang dia kenal karena dia hanya memakan beberapa suap dari ramennya, yang bahkan bagi seorang Uchiha sepertinya, hal tersebut belum bisa dikatakan makan.
"Kenapa makanmu sedikit sekali, Dobe. Pantas saja kau tak bisa melawan tiga orang tadi."
"Huh, aku sedang tidak bernafsu, Teme."
"Kau, bohong,"
"Tidak."
"Iya," didekatinya wajah sang gadis dehapannya.
"Tidak."
"Iya," kini jarak mereka sudah sangat dekat, hal itu terbukti dengan dapat dirasakannya napas hangat Sasuke yang menerpa wajah tannya dan membuat rona merah menghiasi kedua pipi yang memiliki tiga garis halus dikedua pipinya itu.
"Gah. Iya, aku berbohong. Aku tak ingin gemuk, kalau aku gemuk kau pasti akan meninggalkanku," ujarnya yang mendapat sentilan kecil dari pemuda yang kini telah menjauhkan wajahnya dari Naruto.
"Dasar bodoh, kau tak akan gemuk, Dobe. Lihat tubuh saat ini, masih tetap kecil meskipun kau makan berpuluh-puluh mangkuk ramen," ujar Sasuke.
"Ah, benar juga, ya."
"Hn, sekarang kau habiskan ramenmu. Atau aku akan benar-benar meninggalkanmu," ancam Sasuke. Mendengar ancaman tersebut, Naruto pun akhirnya memakan ramen yang telah dipesankan oleh Sasuke.
"Ah, kenyangnya~" ujar Naruto sambil menepuk perutnya yang agak membesar.
"Ayo Teme, kita pulang."
"Hn."
Setelah membayar enam mangkuk ramen berukuran besar itu, Sasuke pun melanjutkan kembali perjalanannya untuk mengantar Naruto pulang.
XOXOXOXOXO
Setelah lima belas menit, akhirnya mereka tiba juga didepan rumah mewah yang didominasi warna putih itu.
"Teme, terima kasih kau sudah traktirku," ujar Naruto sambil tersenyum kearah Sasuke.
"Hn."
"Ya, sudah, aku masuk, ya."
"Tunggu, Dobe!"
"Ada apa?"
"Ini untukmu."
"Untukk? Apa ini?"
"Buka saja, Dobe," dibukanya kotak berwarna kuning tersebut, bingung yang tadi menghampirinya berubah menjadi kebahagiaan ketika dilihatnya kalung pemberian sang kakek yang kemarin dicarinya. Saking senangnya, tanpa sadar Naruto pun memeluk Sasuke dan mengucapkan terima kasih. Sasuke yang mendapat pelukan tiba-tiba itu hanya tersenyum dan membalas pelukan sang kekasih.
"Hn, sebaiknya kau sekarang masuk, Dobe, sebelum aku diledakkan oleh Dei-nii," dan terlihatlah sang kakak yang memberikan tatapan membunuh kearah mereka-tepatnya kepada Sasuke-, setelah memberikan kecupan dipipi putih tersebut, Naruto pun turun dari mobil sang kekasih.
Setelah melihat Naruto sudah memasuki rumah bersama sang kakak, Sasuke kembali menghidupkan mesin mobilnya untuk pulang.
XOXOXOXOXO
Pagi ini matahari sangat bersemangat untuk menghangat bumi ini. Begitu pula dengan gadis berambut pirang yang kini tengah bersiap untuk pergi sekolah. Setelah semuanya siap, Naruto mulai melangkahkan kakinya untuk pergi ke sekolah yang sebelumya menghabiskan sarapannya sehingga membuat kedua orang tuanya tersenyum melihat keceriaan sang anak.
Setelah berjalan selama tiga puluh menit, akhirnya Naruto tiba di sekolahnya dan langsung berjalan menuju ruang OSIS untuk menemui sang kekasih. Namun yang didapat Naruto hanya sebuah ruangan kosong dengan segala benda didalamnya yang tersususn rapi. Melihat itu, Naruto pun berpikir bahwa Sasuke belum datang, kemudian memilih untuk masuk ke kelasnya.
Grek
"Ohayou, minna," teriak Naruto dan membuat seluruh murid menutup telinganya sebelum mereka menjadi tuli mendadak.
"Naruto!" Teriak Ino dan beberapa siswa.
"Hehe, gomen," ujar Naruto sambil berjalan menuju tempat duduknya
"O-ohayou, Naruto," sapa seorangg gadis berate lavender yang kini mendudukkan dirinya disamping Naruto.
"Ohayou, Hinata."
"Na-Naru maafkan aku, gara-gara melindungiku kau jadi luka-luka," ucap Hinata merasa bersalah.
"Ah, itu bukan salahmu, Hinata. Kita kan teman, dan sudah sewajarnya sebagai teman saling membantu. Lagipula aku tak apa-apa kok," ujar Naruto sambil tersenyum dan membuat Hinata juga tersenyum karenanya.
Teeeeeet
"Kakashi-sensei datang!"
Mendengar seruan tersebut, semua siswa 3b mulai menghentikan acara mengobrolnya dan berhamburan untuk kembali ketempat duduknya masing begitu pun dengan Naruto dan Hinata.
XOXOXOXOXO
Bel istirahat telah berbunyi, saat ini gadis berabut pirang itu sedang berjalan menuju kelas sang kekasih. Namun tetap saja, Naruto tak menemukan Sasuke. Setelah bertanya dengan salah satu teman sekelas sasuke, diketahuilah bahwa sang kekasih tak masuk hari ini karena ada urusan keluarga.
Dengan terpaksa Naruto pun berjalan menuju kantin untuk makan siang tanpa kehadiran sang kekasih.
XOXOXOXOXO
"Neji, apa besok malam kau datang kepertunangan keluarga Uchiha dan Haruno?" Tanya Kiba kearah Neji yang kini tengah menghabiskan rotinya.
"Hn, tentu saja. Aku tak mau mendapat pukulan dari Sasuke, jika aku tak datang," ujar Neji sambil memasukkan potongan terakhir rotinya.
"Ah, benar juga, ya. Hei Neji, kau mau kemana?" diikutinya Neji yang berjalan meninggalkannya.
'Sa-Sasuke dan Sakura bertunangan?' batin gadis itu yang tak sengaja mendengar obrolan kedua pemuda itu sambil mengepalkan tangannya erat menahan air mata yang akan segera jatuh dari matanya.
TBC
Bagaimana, minna-san? Gomen kalau masih ada typo m(_ _)m
Hmm, langsung aja kebalasan review
Yami sang fujoshi
Maunya sih seperti itu, tapi aku ga tega~, gomen m(_ _)m
Makasih sudah mereview
Naru3
Sabar naru3, sasu itu memang gila kok *innocent face**dichidori*
Makasih sudah mereview, ini sudah diupdate
Uchiha-namikaze Yui
Hai juga Yui-chan^^
Saskura sapanya Sasuke? Menurutmu?
Makasih sudah mereview, ini sdah diupdate
Delta Alpha
Uhm, sebelumnya chira minta maaf karena review dichap sebelumnya belum bisa chira bales, kerena entah kenapa reviewnya baru masuk setelah chira publish, sekali lagi gomen m(_ _)m
Wah, Delta-san jangan monyongin bibir nanti bisa-bisa dicium Sasu loch, hihih
Makasih sudah meriview, ini sudah diupdate
Rosanaru
Huwaa, jangan donk. Kalau Sasuke dibom terus mati, siapa donk yang jadi pacar Naru T.T
Makasih reviewnya, ini sudah diupdate
Azura Pink Ruezi
Huwaa..pink-chan nangis, ini tissue untukmu.
Tapi, jangan lupa dibayar ya, satu lembar tissue harganya lima ribu.
Pertunangan siapa? Menurut pink-chan?
Makasih sudah mereview, ini sudah diupdate ^.^
Tsuki no Akaiichi
Hai juga ichi-san^^
Ah, kalau requestnya seperti itu, sepertinya tak bisa, kalau seperti itu nanti ceritanya berubah, gomen m(_ _)m
Makasih sudah mereview, ini sudah diupdate.
Salam kenal juga ^.^
Tulip
Iya, di sini Narutonya perempuan Tulip-san.
Kenapa? Anda tak bisa menerima kenyataan saya menggunakan Naruto versi cewek ya?
Kasihan
Uchiha Kecebur
Hai baachan, dirimu aneh sekali, mana ada seorang Uchiha kecebur =.=''
Hmm, Naruto cengeng? Sepertinya, tapi tenang saja, nanti aka nada saatnya dimana Naru menjadi hyperaktif lagi kok ;)
Makasih sudah mereview, ini sudah diupdate ^.^
Dallet no Hebi
*tutup telinga mendengar teriakan Dallet-san*
Sakura pasangan siapa? Menurutmu?
Hmm, dichap ini sudah kukasih tahu apa yang Naruto cari.
Makasih sudah mereview, ini sudah diupdate
Makasih untuk minna-san yang sudah meluangkan waktunya ntuk membaca dan memberi review
O ya, sepertinya chira tak perlu untuk menulis "Don't Like Don't Read" karena chira pikir minna-san sudah mengerti aturan tak tertulis disini. Dan pasti dapat berpikir dengan dewasa untuk tidak membaca apa lagi mereview fic ini jika tak suka dengan Naruto versi cewek yang chira gunakan. Karena jika anda tetap membaca ,itu artinya secara tidak langsung anda menyukai fic chira karena tidak mungkin tidak suka jika anda menyempatkan untuk membacanya apalagi sampai meluangkan waktu untuk menulis sebuah review, dan jika ada kembali datang mereview itu artinya anda memang benar-benar menyukai fic ini. Nyahaha *evil laugh*
Bagaimana minna-san? Harus dilanjut atau berhenti disini?
~RnR please~
