Disclaimer:
Masashi Kishimoto
Pair:
SasufemNaru
Dengan langkah gontai disertai wajah lesu, gadis berambut pirang itu memasuki rumahnya dan langsung meletakkan tasnya dilantai dan menghempaskan tubuhnya disofa ruang keluarga yang didominasi oleh warna hitam dan merah itu.
"Lesu sekali, un," ujar seorang pemuda yang juga memiliki perawakan yang sama dengan gadis yang kini tengah berbaring disofa sambil menutupi wajahnya dengan tangan kanannya.
"Hei, Naruto! Aku sedang berbicara denganmu, un," Deidara berujar dengan suara yang sedikit meninggi saat dirinya merasa diabaikan. Naruto yang masih shock setelah mendengar pertunangan itu membuat moodnya buruk dan tidak ingin berbicara sekali pun dengan sang kakak. Manghindari adu mulut dengan sang kakak, Naruto pun memutuskan untuk pergi kekamarnya sambil menyeret tasnya dan mengacuhkan Deidara yang saat ini terlihat sangat kesal dan kini mencopot salah satu sandal yang dipakainya.
Bugh
Langkah Naruto terhenti ketika sebuah sandal berhasil mencium kepala bagian belakangnya. Naruto pun membalikkan badannya dengan senyum manis terkembang dibibirnya.
"Dei-nii~" dan sedetik kemudian tas digenggaman Naruto melayang kearah pemuda cantik itu dan berhasil mencium paras cantiknya.
"Naruto!" Dan tak terelakanlah perkelahian kakak beradik yang berbeda jenis kelamin tersebut yang para pelayan yang mendengar perkelahian itu tak mampu dan tak berani untuk memisahkan keduanya.
XOXOXOXOXO
"Hhh, kalian itu kakak adik, seharusnya kalian menunjukkan kasih sayang layaknya kakak adik, tapi kenapa kalian malah bertengkar," keluh Minato pada kedua anaknya yang kini duduk disofa dihadapannya dengan kepala tertunduk dengan lebam yang kini menghiasi wajah serta tangan mereka dengan rambut yang terurai berantakan. Sementara Kushina sendiri sedang menenangkan Minato agar tidak semakin emosi dengan kedua anaknya. Bagaimana seorang Minato tidak emosi, jika sewaktu pulang dengan keadaan letih setelah bekerja yang didampingi istrinya mendapati ruang keluarga yang berantakan bak kapal pecah dengan bantal-bantal kursi yang saat ini menghilang entah kemana dan ada beberapa yang robek sehingga isinya berhamburan diruangan itu serta guci-guci yang telah dikumpulkannya pecah begitu saja diatas lantai dengan seorang gadis dan seorang pemuda tengah berbaku hantam saling berlomba untuk menorehkan lebam ditubuh masing-masing.
"Sudahlah Minato, kalau kakak beradik bertengkar itu wajar," ujar Kushina menenangkan sang suami yang kini terduduk disofa sambil memijit pelipisnya. Ya, sebenarnya pertengkaran mereka sudah biasa dikeluarga ini sehingga lebam-lebam ditubuh kakak adik itu tidak hanya berasal dari perkelahian mereka diluar sana, tetapi juga berasal dari pertengkaran mereka yang berasal dari hal sepele yang sering kali membuat ruangan dirumah itu berantakan dan membuat Minato harus mengeluarkan banyak uang untuk merenovasi rumahnya akibat pertengkaran mereka. Namun karena keadaan yang letih membuat Minato naik darah juga.
"Maafkan kami tousan, ini semua salah Dei-nii ka-"
"Salahku? Jelas- jelas ini semua salahmu, un," ujar Deidara tak mau kalah.
"Memang ini salah Dei-nii!"
"Tidak, ini semua salahmu, un!"
"Salah Dei-nii!"
"Kau, Naruto!" Pertengkaran pun kembali terjadi, membuat Kushina bingung bagaimana menghentikan kedua anaknyya.
"Diaaam!" Mendengar bentakan yang keluar dari mulut sang ayah membuat kakak beradik itu pun langsung menghentikan pertengkaran mereka dan kembali tertunduk.
Setelah menarik napas dalam-dalam, Minato pun mulai memberikan hukuman bagi kedua anaknya.
"Sekarang kalian harus membereskan ini semua sampai bersih seperti semula. Dan hukuman tambahannya, selama seminggu tak ada ramen untuk Naruto dan tak ada kumpul-kumpul dengan Akatsuki untukmu, Dei." Baru saja kakak beradik itu ingin protes akan hukuman tambahan mereka, namun Minato segera memotongnya.
"Tak ada kata protes. Tak ada merengek pada Sasuke maupun tak ada alasan untuk menjenguk Tobi yang selalu sakit saat kau dapat hukuman, Dei," imbuhnya, kemudian pergi meninggalkan kedua anaknya yang kini menggembungkan pipinya.
"Hhh, tak bisa melarikan diri(un)," ujar mereka bersamaan.
"Jika kalian tak segera menyelesaikannya, hukuman kalian akan tousan tambah," ujar Minato dari atas tangga yang munuju kamarnya didampingi oleh sang istri.
Mendengar hukuman tambahan, mereka pun langsung membersihkan ruangan itu bersama-sama.
XOXOXOXOXO
"Hhh, capek~" kini kakak beradik itu saling menyenderkan punggung mereka untuk melepas penat setelah selama setengah jam mereka membereskan ruang keluarga yang berantakan akibat ulahnya. Minato yang melihat hasil kerja kedua anaknya pun tersenyum mendapati ruang keluarga yang tadinya berantakan menjadi rapi kembali meskipun ada barang-barang yang menghilang karena telah rusak.
"Hei, cepat bersihkan diri kalian. Tousan dan kaasan tunggu dimeja makan."
"Baik, tousan."
"Dei-nii, aku capek, gendong~"
"Tak mau, un. Aku juga capek," tolak Deidara kemudin pergi meninggalkan Naruto. Setelah diam beberapa saat, akhirnya Naruto pun beranjak dari ruang keluarga menuju kamarnya.
XOXOXOXOXO
Setelah makan malam bersama dengan keluarganya yang tentu saja mendapat ceramah tentang sikapnya dan juga sang kakak, Naruto pun memutuskan untuk kembali kekamarnya.
"Neji, apa besok malam kau datang kepertunangan keluarga Uchiha dan Haruno?"
"Hn, tentu saja. Aku tak mau mendapat pukulan dari Sasuke jika aku tak datang."
"Aaargh, kenapa aku mengingat hal itu lagi," ujarnya seraya mengacak-acak rambut pirangnya sehinga rambut pirang panjang itu menjadi sedikit berantakan. Untuk menghilangkan rasa sakit dikepalanya akibat memikirkan masalah pertunanan itu, Naruto pun menghempaskan tubuhnya dikasur king size itu. Diambilnya sebuah pigura yang berada diatas meja disamping tempat tidurnya yang menampilkan sosok sang kekasih yang tengah dipeluknya disebuah taman.
"Teme, apa kau benar-benar mencintaiku?" ujarnya sambil memeluk pigura itu dan memejamkan matanya. Sedetik kemudian dengkuran halus keluar dari bibir gadis pirang itu.
XOXOXOXOXO
'Eengh dimana ini?'
'Ah, itu Sasuke. Sasuke!' kulangkahkan kakiku mendekatinya dengan setengah berlari. Namun langkahku terhenti melihat Sasuke yang mencium Sakura dan saling menyatakan cinta.
Tanpa sadar kuremas dadaku dengan sebelah tanganku, entah kenapa rasanya sakit sekali didalam sini.
'Sasuke,'
'Ah, Naruto, kau melihatnya, ya. Karena kau sudah tahu semuanya, jadi mulai sekarang kita berpisah, kau sungguh membosankan, Naruto. Dan aku tak mau berhubungan dengan wanita jadi-jadian sepertimu, ayo Sakura." Sasuke pun pergi meninggalkanku sambil memeluk pinggang wanita berambut pink itu.
"Tidak, Sasuke jangan tinggalkan aku, aku bisa berubah untukmu. Sasuke!"
Entah kenapa rasanya sulit sekali menjangkaunya meskipun aku sudah berlari sekuat tenaga untuk mengejarnya, dan akhirnya aku pun terjatuh karena tersandung dengan kakiku sendiri. Aku pun hanya bisa memanggil namanya sambil menatap punggungnya yang semakin menjauh dengan air mata yang entah sejak kapan telah menetes dari mataku.
'Sasuke!'
XOXOXOXOXO
"Sasuke!" Naruto pun segera terbangun dari mimpinya dengan peluh yang membasahi piyamanya.
"Hosh, hosh, hanya mimpi buruk, hosh, hosh," ujarnya menenangkan dirinya, tapi meskipun dia sadar jika yang dialaminya hanyalah mimpi buruk tetap saja dadanya terasa sesak melihat kejadian itu dan membuatnya meremas dadanya untuk menghilangkan rasa sesak itu.
"Tidak, hhh, tidak boleh menyerahkan Sasuke padanya. Tapi bagaimana caranya?" ujarnya lirih sambil memeluk kakinya dan menenggalamkan wajahnya. Namun, sedetik kemudian, Naruto kembali mengangkat wajahnya dan menghapus air mata yang turun dari mata sapphirnya.
"Tak boleh menangis. Aku harus berjuang untuk mempertahankan Sasuke!" tekadnya. Senyum pun kembali menghiasi bibirnya ketika otaknya mendapatkan sebuah ide yang menurutnya sangat brilliant.
"Ah, lihat saja besok. Aku pasti berhasil menggagalkan acara pertunangan mereka dan mendapatkan Sasuke kembali."
XOXOXOXOXO
Sinar matahari telah menyusup kedalam kamar bernuansa kuning itu melalui jendela yang tak tertutup tirai itu. Membuat suasana kamar menjadi cerah karena sinarnya. Dan terlihatlah seorang gadis berambut pirang tengah mengikat rambutnya seperti sang kakak. Setelah dirasanya sudah rapi, gadis dengan seragam KHS itu pun beranjak dari cermin dan melangkahkan kakinya untuk sarapan bersama keluarganya.
Setelah menghabiskan sarapannya dan melakukan perdebatan kecil dengan sang kakak yang merasa sang adik mengikuti style rambutnya dan berakhir dengan ancaman sang ayah tentang hukuman tambahan, Naruto pun bergegas pergi menuju sekolahnya setelah memberikan kecupan pada kedua orang tuanya serta untuk sang kakak tercinta.
XOXOXOXOXO
Sesampainya disekolah-tepatnya dikelasnya-Naruto pun mulai melakukan ritualnya yang tentu saja mendapat death glare dari teman-temannya yang selalu dibalas dengan cengiran yang membuat tiga garis halus dimasing-masing pipi itu terlihat semakin jelas.
"Sepertinya hari ini kau bersemangat sekali Naru-chan," ujar Ino.
"Dan tumben sekali rambutmu dikuncir tinggi seperti Ino," tambah Tenten.
"Ah, aku hanya sedang ingin saja. Aku bersemangat karena aku akan memberikan Sasuke sesuatu."
"O ya, apa itu?" Tanya Ino dan Tenten bersamaan.
"Ah, itu rahasia. Hehe."
"Ya, terserah padamu saja, Naruto," ujar Ino.
"Semoga saja tak memalukan," tambah Tenten yang disetujui dengan anggukan dari Ino. Naruto yang mendengar itu hanya bisa memberikan cengiran rubahnya.
'Ya, mungkin ini akan sedikit memalukan, terutama untuk diriku,' batin Naruto.
XOXOXOXOXO
Sementara itu keluarga Uchiha dan Haruno tengah sibuk mempersiapkan acara pertunangan yang akan diadakan malam ini disebuah hotel berbintang lima di kota Konoha.
"Hei, Haka-chan, bagaimana perasaanmu?" Tanya pemuda berambut raven itu kepada gadis berambut pink yang kini tengah melakukan perawatan tubuh untuk mempersiapkan acara yang sangat penting malam nanti.
"Entahlah, Sasuke. Sepertinya semua rasa bercampur menjadi satu. Tapi yang pasti aku sangat bahagia, karena sebentar lagi aku akan menjadi bagian keluarga Uchiha," jawabnya dengan senyum dibibirnya yang menandakan betapa bahagianya ia saat ini.
"Hn, tapi tetap saja kau belum resmi, karena ini baru pertunangan, Haka-chan."
"Iya aku tahu," ujar Sakura sambil melihat wajah Sasuke dari cermin dihadapannya. "Tapi, setidaknya aku sudah selangkah lebih maju," tambahnya.
"Hn."
XOXOXOXOXO
Setelah bel sekolah berbunyi, Naruto pun langsung bergegas untuk pulang ke rumahnya dan menyiapkan semua barang-barang yang diperlukannya untuk atraksinya malam nanti.
"Tumben sekali kau pulang secepat ini."
"Apa aku tak boleh pulang cepat?" Tanya Naruto kepada sang kakak.
"Tentu saja boleh, un. Hanya saja ini tak seperti biasanya. Hmm…pasti kau melakukan sesuatu ya?" selidik Deidara.
"Itu bukan urusan Dei-nii," Naruto pun pergi meninggalkan Deidara menuju kamarnya meninggalkan Deidara yang mengendikan bahunya melihat kelakuan sang adik.
XOXOXOXOXO
Setelah membersihkan dirinya, Naruto pun mengeluarkan sebuah tas ransel untuk memasukkan barang-barang yang hendak dibawanya. Setelah mengendap-endap measuki kamar orang tuanya untuk mengambil barang yang akan dibawanya dan memasukkannya kedalam tas yang telah ddipersiapkannya, Naruto pun pergi untuk melaksanakan aksinya.
"Dei-nii, aku pergi dulu, ya."
"Hei, Naruto, tunggu dulu, un," cegah Deidara, namun usahanya sia-sia karena sang adik sudah pergi jauh.
XOXOXOXOXO
"Dei ayo cepat, nanti kita telat," ujar Kishina yang telah siap dengan gaun hitam yang membalut kulit putihnya.
"Iya, kaasan, aku siap, un" jawab Deidara yang kini tampak berbeda dengan jas berwarna kremnya serta sebuah sepatu yang senada dengan pakaian yang dipakainya dengan rambut yang tetap diikat tingi.
"Naruto mana, Dei?" Tanya Minato yang juga memakai sebuah tux berwarna krem dengan sepatu yang juga senada dengan tuxnya.
"Tadi dia pergi, un."
"Apa kau tak memberitahunya tentang pertunangan ini, Dei?"
"Hehe, waktu aku mau memberitahunya, dia sudah pergi duluan, tousan."
"Ya sudah, kita berangkat saja sekarang."
XOXOXOXOXO
Pesta pertunangan putra keluarga Uchiha dan putri keluarga Haruno terlihat meriah, banyak pengusaha terkenal yang datang keacara tersebut, tak lupa para teman dekat dari kedua keluarga turut hadir memeriahkan acara pertunangan itu serta beberapa wartawan di kota Konoha juga turut memeriahkan acara tersebut.
Mereka semua mengenakan pakaian yang terbilang mewah, tak heran karena sebagian besar dari mereka berasal dari kalangan teratas. Dikerumunan orang-orang tersebut juga hadir beberapa teman-teman Sasuke yang diundangnya seperti Hyuuga Neji yang menggunakan tux berwarana putih serta sepatu hitam yang membungkus kakinya menggandeng seorang gadis bercepol dua dengan gaun malam berwarna merah dengan gambar seekor naga merah dibagian bawah gaunnya. Dan juga ada Kiba yang memakai tux hitam dan menggandenga Hyuuga Hinata bersamanya yang mengenakan gaun berwarna biru serta ramput yang terurai menambah keanggunannya. Dan jangan lupa anggota Akatsuki yang datang menggunakan tux hitam dengan aksen awan merah dibagian dada kiri jasnya terkecuali Deidara yang harus mengenakan tux krem.
Setelah acara pembukaan yang menurut Sasuke membosankan, akhirnya acara puncak pun telah tiba. Namun gerakan tangan Sakura yang akan memasangkan cincin kejari manis putra Uchiha itu terhenti oleh sebuah keributan.
"Sasuke! Sasuke!"
Mendengar namanya dipanggil, Sasuke pun melangkah maju untuk melihat siapa orang bodoh yang telah merusak acara yang telah disusunnya. Namun betapa terkejutnya dia ketika melihat sang kekasih yang ternyata menjadi sumber keributan itu. Namun yang membuatnya menautkan alisnya heran adalah penampilan sang kekasih. Tak ada sebuah gaun indah yang membungkus kulit tan itu melainkan sebuah daster sedengkul dengan perut yang membesar, rambut yang tetap terikat dua serta lebam yang terdapat diwajah tan itu sehingga membuatnya seperti korban KDRT yang dianiaya oleh suaminya. Dan kini semua mata tertuju padanya, bahkan para wartawan itu mulai menyorot Naruto dengan kamera mereka.
"Hei, lepaskan aku!" berontak Naruto pada dua orang petugas keamanan hotel itu memegang lengan Naruto. Setelah mendapat perintah dari Sasuke, kedua orang itu pun melepaskan pegangannya dan pergi meninggalkan aula. Minato dan Kushina yang melihat sang anak langsung bergegas mendekati Naruto, begitu pun dengan Deidara.
"Kenapa kau berpakaian seperti itu, Naruto?" Tanya Sasuke seraya berjalan mendekatinya.
"Kau tak boleh bertunangan dengannya, Sasuke. Kau harus bertanggung jawab padaku."
"Naruto, kenapa kau berpakaian seperti ini, nak?" Tanya Kushina ketika sudah berada disamping Naruto.
'Ah, kenapa harus ada kaasan dan tousan dan Dei-nii. Aduh, bagaimana ini, apa aku mundur saja? Ah tak boleh, sudah ini sudah setengah jalan. Aku harus mempertahankan Sasuke,' tekadnya.
"Bertanggung jawab apa, Dobe?"
"Tentu saja atas apa yang kau perbuat. Kau sudah membuatku hamil dan sekarang kau mau bertunangan dengan dia," ujarnya sambil menunjuk tak sopan kearah Sakura yang kaget karena namanya dibawa-bawa."Kau jahat sekali, Sasuke," lanjutnya.
"Kau itu bicara apa, Naruto. Ayo ikut tousan."
"Sudah paman, biarkan Naruto menyelesaikan penjelasnnya," cegah Sasuke.
"Jadi, aku menghamilimu?"
"Iya," jawab Naruto setengah mati menahan malu.
"Hahaha, Naruto, kau lucu sekali," ujar seorang pria dengan rambut hitam panjang yang diikat dengan mata onyx yang kini tengah mengenakan tux berwarna putih dan menjadi sorotan dari para tamu undangan. "Yang bertunangan itu bukan Sasuke, tapi aku, Naru-chan."
"Gah, Itachi-nii tak usah membela Sasuke seperti itu."
"Aku tak membelanya, Naruto. Tapi memang aku yang bertunangan."
"Iya Naruto, kau salah paham," ujar Mikoto turut menjelaskan pada Naruto.
"Iya Naruto, aku bertunangan dengan Itachi, bukan Sasuke. Lagipula Sasuke hanya mencintaimu, Naru, jadi tak mungkin dia selingkuh, apalagi denganku," ujar Sakura turut menjelaskan pada Naruto.
"Benarkah?"
"Tentu saja benar," ujar para tamu undangan serempak yang mendengar perdebatan mereka. Naruto yang menyadari kebodohannya langsung meminta maaf sambil membungkukkan badannya dengan wajah merah padam menahan malu sehingga membuat orang-orang tertawa atas tingkah Naruto.
"Ah, maafkan aku, Itachi-nii, kalau begitu aku pulang saja. Permisi."
Namun gerakannya terhenti ketika pemuda berambut raven itu menggenggam tangannya.
"Enak saja, kau pergi. Karena kau sudah datang, jadi kau harus ikut memeriahkan pesta ini, Dobe."
"Tapi, Teme, aku malu. Masa berpakaian seperti ini."
"Salahmu, siapa suruh memakai pakaian seperti itu."
Mendengar hal itu, Naruto pun langsung memasang puppy eyes, namun sepertinya tak ada yang mau membantu Naruto begitupun kedua orang tuanya dan sang kakak. Namun Naruto tertolong dengan bantuan yang ditawarkan Sakura untuk mendandaninya sehingga ia terbebas dari rasa malu atas perbuatannya sendiri.
XOXOXOXOXO
Setelah lima belas menit berlalu, akhirnya pintu itu kembali terbuka. Bukan sosok seperti korban KDRT, yang saat ini adalah sosok seorang gadis yang mampu membuat seorang Uchiha Sasuke tak mampu berkedip saat memandangnya. Seorang gadis dengan gaun berwarna gold dengan motiv mawar dibagian dadanya dengan rambut pirangnya yang diikat sebagian membuatnya terlihat seperti seorang putri cantik serta wajah yang tadinya penuh dengan lebam itu tertutupi dengan bedak yang digunakannya sehingga menambah kesempurnaannya .
Sasuke pun berjalan untuk menjemput sang kekasih dan Naruto pun berjalan mendekatinya perlahan. Namun Naruto yang tak terbiasa dengan sepatu berhaknya langsung terjatuh karenanya, jika saja Sasuke tak segera menangkap tubuhnya, mungkin saja kini dia telah terjatuh dengan tidak elitnya.
"Hei, ini pertunanganku dengan Sakura. Tapi, kenapa sepertinya kalian yang mendapat sorotan."
"Ah, maaf Itachi-nii."
Akhirnya pertunangan sempat tertunda karena ulah Naruto kembali dilanjutkan dan berjalan dengan sukses.
XOXOXOXOXO
Setelah acara pertunangan itu selesai, Sasuke dan Naruto pun pergi meninggalkan tempat pesta itu. Dan disinilah mereka sekarang, disebuah taman tak jauh dari hotel, duduk berdua sambil memandangi langit berbintang.
"Jadi, kenapa kau berpikiran aku akan bertunangan dengan Sakura?"
"Hmm, entahlah. Mungkin sejak aku melihatmu dengan Sakura bermesraan dalam kamar, kemudian waktu bertemu denganmu di pusat kota Konoha, lalu mendengar percakapan Neji dan Kiba tentang pertunangan Uchiha dan Haruno" jawab Naruto tanpa menoleh kearah pemuda disampingnya.
Bletak
"Ittei, Teme. Kenapa kau memukul kepalaku?"
"Tentu saja, karena kau bodoh. Harusnya kau bertanya padaku dulu, Dobe."
"Harusnya kau mengerti perasaanku, Teme," ujarnya sambil menggembungkan pipinya.
"Hn," dinggenggamnya tangan tan sang kekasih, membuatnya mengalihkan pandangannya kearah pemuda disampingnya dan membuat kekesalannya menghilang ketika melihat tatapan lembut pemuda bermata onyx itu.
"Bagaimana aku bisa mengerti perasaanmu, jika kau lebih sering meluangkan waktumu untuk berkelahi dari pada bersamaku, Naruto," diletakkannya tangan kirinya untuk membelai lembut pipi gadis dihadapannya.
"Berjanjilah dengan sungguh-sungguh, kau tak akan berkelahi, Dobe."
"I-iya, Teme. Aku berjanji. Kau juga, berjanjilah untuk tidak meninggalkanku."
"Tentu saja," ditempelkannya dahinya dengan dahi gadis bermbut pirang itu, membuat mereka dapat merasakan napas hangat menerpa wajah mereka, "hingga kita bertunangan, menikah, memiliki anak, bahkan hingga rambut pirangmu memutih, aku tak akan meninggalkanmu hingga maut memisahkan kita," lanjutnya dan sukses membuat Naruto bersemu mendengarnya. Sasuke pun mulai meniadakan jarak diantara mereka dan mulai mencium lembut bibir gadis dihadapannya.
THE END
Huwaa~ akhirnya tamat juga salah satu fic multichapnya, tapi masih ada dua lagi yang harus diselesaikan. Fyuuh~
Hmm, bagaimana minna? Apa endingnya aneh? Chira tau fic chira masih banyak kekurangan, makasih buat yang udah kasih dukungan buat chira dan saran yang udah dikasih, meskipun sepertinya chira belum bisa melaksanakannya *pundung* tapi jangan capek untuk memberi saran ya^^
Balasan review:
Rosanaru
Iya, rosa. Itu ga benar.
Jangankan dirimu, aku ja ga rela klo Sasuke tunangan ma Sakura..Nyahaha
Makasih sudah meriview selama ini, ini udah diupdate
Uzumaki Andin
Wah..wah..a-chan, dirimu ngajak tanding.
Ayo, klo gitu *minjem bazooka Hiruma*
Ah, salahkan tanganku yang mengetik seperti itu..
i-iya, kamu bener a-chan, yang tunangan itachi bukan sasuke..
makasih sudah meriview selama ini, ini sudah diupdate
Delta Alpha
i-iya kamu bener kok, yang tunangan itachi ma sakura..
makasih sudah mereview, ini sudah diupdate
n0fr1 kitsune no sh1ru-Run4
Hei..hei..kenapa kalian jadi bertengkar ==''
i-iya kalian bener, yang tunangan itachi ma sakura..
makasih sudah mereview, ini sudah diupdate
Mei chan
Huwa~ jangan guncang'' tubuhku ==''
Iya, bukan Sasuke kok..
Makasih sudah mereview, ini sudah update
Dallet no Hebi
*nyiapin kapas*
*ngelepas kapas dari kuping*
Ah, Sasunaru kok^^
Iya, bukan Sasuke kok, aku jga ga tega buat naru nangis terus *padahal dlm hati beda*
Makasih sudah meriview, ni sudah update
Namikaze Hana
Makin keren? Benarkah? Makasih *hugs*
Makasih sudah mereview, ni sudah update
Vii no Kitsune
Iya, ga pa'' kok..
Ah, makasih sudah bilang bagus *hugs*
Apa ini sudah panjang?
Makasih reviewnya, ni sudah diupdate
Shinokazeryu zuki the dark knight
Hai..salam kenal juga^^
Hmm..teman'' yang lain ya, pengennya sih dimunculin tapi aku jadi bingung mau munculin mereka dimana. Ja yang dipake Cuma sedikit. Gomen..
Iya itu Itasaku bukan Sasusaku..
Makasih sudah mereview, ni sudah diupdate
Expert cheater
Hmm..iya anda benar..hohoho
Makasih sudah mereview
Meikakuna no onyxshappire
Iya tak apa baru review juga, ah, tidak seperti itu jga sih..
Ah, alurnya kecepatan, ya, hehe gomen
Hmm..iya tunangannya Itachi kok..
Makasih sudah mereview, ini sudah diupdate
Uchiha-namikaze Yui
Hai Yui-chan…
Ah, gomen. Sangat menyenangkan menyiksanya..Nyahaha#plak
Kenapa ga mungkin Sasuke ma Sakura? Tapi tenang ja, itu bukan Sasuke kok ^.^
Makasih sudah mereview, ini sudah diupdate
Uchiha Kecebur
Huwa~ baachan kenapa kau mereview pake akunku? Aku jadi seperti orang bodoh, masa iya mereview fic sendiri *pundung*
Apa itu udah ceria?
Ah, gomen tak jadi memunculkan Kakashi, aku bingung~ hehe
Makasih sudah mereview, karena ini udah chap terakhir jangan minta lagi ya..Nyahaa
Naru3
Yakin pengen berhenti baca? Tanggung loch, ini kan chap terakhir. Hihihi
Iya, makasih juga sudah mereview, sampai jumpa
Mayyurie Zala
Hai yurie-san..
Iya, taka pa kok..
Ja-jadi belum dapat feelnya, ya *pundung*
Huwaa~ gomen klo deskripsinya kurang banget, chira memang lemah disitu *pundung*
Oh, kalau soal memar chira berpikir karena ada adegan Naru dipukuli dia kan melindungi dengan tangannya jadi otomatis sudah dipastikan ada memar jadi tak chira tulis mendetail..hehe
Hmm..kalau masalah keluarga dan sasuke yang sepertinya cuek, itu karena naru sudah sering babak belur dipukuli jadi reaksi mereka biasa aja..tapi sepertinya chira belum mencantumkan alasan ini kedalam cerita, ya*nginget''*
Iya, makasih sarannya, chira akan berusaha lebih baik lagi..jangan berhenti beri kritik dan saran padaku, ya. Gomen klo sampai saat ini yurie merasa sarannya ga chira ikuti dan ga da perubahan dalam fic chira, tapi chira sudah berusaha dengan baik untuk chap terakhir ini..hehe
Makasih review dan sarannya, ini sudah diupdate
xxx
Iya, ini tidak dihentikan kok..
Makasih reviewnya
Tsuki no Akaiichi
Aku panggil akai saja ya^^
Iya ga bisa, gomen..
i-iya Akai, yang tunangan Itachi, bukan Sasuke *takut lihat senyum Akai*
ini sudah ga patah hati lagi, kok^^
makasih sudah mereview, ini sudah diupdate
Hiks..kenapa kalian tak terkecoh? Kenapa? *ditabok*
Bagi yang sudah menjawab Itasaku bisa membawa pulang hadiahnya *menyodorkan Sasuke**dichidori*
Hmm..karena ini last chap buat yang belum pernah mereview, ayo direview dan yang sudah pernah mereview jangan lupa mereview lagi, ya.. V(0.0)V
Sekali lagi makasih buat yang sudah baca dan meluangkan waktunya untuk mereview fic chira..Sampai jumpa minna-san..
Adakah yang bersedia mereview?
~RnR please~
