A/N : Yeah… ( ´ ▽ ` )ノ Lanjutan OBiS akhirnya datang juga! Gomen banget m(_ _)m UP DATE-nya lamalamalam T^T padahal ultah LenRin aja udah lewat sejak 4 bulan lalu! Maklum~ komputer bolak-balik rusak! Ini aja aku pake laptop punya Kakakku yang pelit puooollll. Eh, malah curhat lagi. Yeah, sebelum lanjutin fic…. Mau review reply dulu deh~ soalnya aku ga bales lewat PM. Mohon maaf bila ada kesalahan dalam membalas review reply! O(≧A≦)O
In-Chan Sakura : Pe…pendek? ∑(O_O;) padahal sudah sampai 2000+ words lho~? Ya…. Aku juga ga rela kok Len sama Neru! Jadi, tenang aja… Tak akan ada apa-apa di antara mereka~ yep, sudah UP DATE! Makasih review-nya, In-chan! (・∀・)
Ruuya ruu-chan : Hahaha…. Neru jamban~~? Iya, ya… Len emang gitu! Munafik *road rollered * Kya…~ Vash kok ke sini? XD yak…. Makasih review-nya, Ruu-chan~!
Kurara animeluver : Kurara-chan suka? Waiii~ makasiii~ aku tersanjung~ Neru memang tsundere pada orang-orang yang disukainya :3 aku baca keterangannya di otakuzone~ iya... two-shots dan sekarang telah complete~ Makasih review-nya :D
Suzuru Seiyo : Hello juga~(^-^*)/ oh? Aku makin aneh? Memang! Hei…? Kamu ga mudeng tokohnya? Σ(゚Д゚|||) ayo… cepet cari sana di wikipedia~! *plak* typo? Sudah jelas lah… Namanya juga manusia *plak lagi* Wah? Untuk twincest juga cari aja di Wikipedia… Makasih review-nya, Kyo-chan~
Little-Rosette : Hu…. Dianggap apa saia ini Kakak aneh? Makasih uda review (pendek banget bo!)
SweetAoi : Ga pa-pa kok ga login eheh? Typo? Kesalahan tulis? (・_・?) *baca ulang chap 1* OH NOOOOOOOO! Saya begooooooo! Pemberitahuan yang berharga… Saya jadi belajar! NeruxLen? Cuma dikit kok? Ya 'kaaan? Lagipula cuma sepihak aja. Makasih review-nya, Rissa-chan… (Benar sekali! Nama kami sama!)
ArutoChii-Latte : Benar Chika… Ini karyaku =3= kamu bilang mau bunuh orang yang bikin fic ini. Ayo cepet kalo berani! *plak* hohoho… Ini uda lanjut…. Makasih review-nya, Chii :3
Yak, yak. Aku sudah selesai membalas review~ semoga berkenan ya… Dan maaf kalau nanti juga akan ada typo yang tak sengaja terketik! Saya itu manusia yang tak luput dari yang namanya kesalahan… Untuk chapter ini pun aku membuatnya sepenuh hati… Jadi mohon beri review lagi ya :D
Oke, happy reading~?
Warning : a lil bit of LenxNeru and RinxRinto. Twincest for LenxRin.
Disclaimer : Yamaha corp and/or Crypton corp
Our Birthday is Sucks
Chapter 2
Rin's PoV
"Waw…. Kue ini enak sekali, Rinto~!" Aku berseru senang sambil memegang kedua pipiku yang memerah. Di mulutku berisi kue jeruk yogurt yang sedang kukunyah, terasa benar-benar lembut di mulut. Rinto yang melihatku memakan kue traktirannya hanya tersenyum-senyum. Dasar aneh. Kuenya—yang jenisnya sama denganku, masih utuh, tanpa tersentuh. Dia sedari tadi hanya memperhatikanku. Aku mengernyit, tapi perhatianku masih tertuju pada jemariku yang penuh dengan krim. Tanpa pikir panjang aku menjilatnya. Rinto yang melihat perbuatanku malah tertawa.
"Kau seperti anak-anak saja Rin." Komentar Rinto.
"Huh, kau gender bend-ku! Pasti tidak berbeda dariku!" Aku menanggapinya dengan wajah yang memerah. Rinto berhenti tertawa dan mengembangkan senyumnya padaku. Dia mengeluarkan sapu tangan berwarna kuning dari sakunya dan meraih kedua pipiku dengan kedua tangannya. Setelah sudah agak dekat dengannya dia mengusap sapu tangannya pada krim di sekitar bibirku. Aku mengerjapkan mata memperhatikan Rinto. Wajahnya maskulin. Benar juga, walau dia gender bend-ku tapi kami 'kan berbeda. Programnya pun berbeda. Setelah Rinto selesai membersihkan bibirku aku tersenyum padanya. Aku mencoba melepaskan kedua tangan Rinto dari pipiku namun tak juga dilepaskannya.
"Ri…Rinto…. Sudah bersih 'kan? Lepaskan pipiku dong…" Aku berkata agak memelas. Rinto masih saja tersenyum, namun siluetnya berbeda dibanding yang sebelumnya. Oh, tidak! Wajahnya semakin mendekat! "Rinto!" Rinto yang wajahnya sudah semakin dekat membuat wajahku memerah karena malu, sekarang aku hanya bisa menutup mataku!
.
.
.
… Tidak ada yang terjadi? Aku kembali membuka kedua mataku untuk melihat. Di sana terpampang wajah Rinto yang menahan tawa, tangannya pun sudah terlepas dari pipiku tanpa kusadari. Waa-?
"Buh-huhu…. Rin…. Wajahmu seperti gurita. Kau pasti… Hemp, mengira aku…. Aku akan menciummu 'kan? Ahahahaha!" Rinto tertawa lepas. Dia mentertawakanku! Aku menggembungkan pipiku untuk menunjukan rasa kekesalanku. Tapi sebenarnya di dalam hati, aku pun mentertawakan kebodohanku sendiri. Karena Rinto masih saja tertawa, tak kuasa akhirnya aku pun ikut terbawa juga.
"Ahahahaha!" kami tertawa bersamaan dengan volume yang keras. Orang-orang yang sedang menikmati makanan mereka memperhatikan kami, tapi tetap saja kami tak menggubris. Seorang maid mendekat dan menegur kami yang masih tertawa kesetanan.
"Mohon tenang Tuan, Nona, ini café keluarga." Kata maid itu sopan. Kami dengan wajah memerah dan air mata yang menetes memperhatikan maid itu dan berhenti tertawa, "Terima kasih pengertiannya, permisi…" setelah maid itu berlalu aku dan Rinto pun kembali bertatapan.
"Eh, Rin… Memang apa yang lucu ya?"
"Eh…. Apa ya…? Entahlah, aku sudah lupa."
.
.
…. "AHAHAHAHA!"
End of Rin's PoV
—
Len's PoV
"Terima kasih telah membeli produk dari kami."
Neru yang baru saja kubelikan sepasang kalung terlihat senang. Matanya yang kuning terlihat berbinar memperhatikan kalung perak yang sedang ia kenakan. Sementara aku hanya menimang-nimang kalung yang sepasang dengan Neru di tanganku. Terasa dingin. Aku bingung apakah harus memakainya atau tidak, kalau kupakai, nanti bisa-bisa harus kembaran dengan Neru. Tapi kalau tidak dipakai akan dicurigai. Kembar dengan orang lain terasa janggal… Hal yang jarang.
"Terima kasih, Len. Aku menyukai kalung ini." Kata Neru tiba-tiba, sehingga aku tersadar dari pikiran-pikiranku. Neru yang selama ini berbicara ketus, tumben bisa berterima kasih seperti itu. Tapi ucapannya terdengar tulus. Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum pada Neru. Pikiranku masih saja tertuju pada Rin. Huh… Pasti dia masih ngambek. Kuperhatikan jam di etalase toko baju, sekarang jam menunjukan pukul 12 siang. Wah, sudah cukup lama aku bersama Neru. Lebih baik aku pulang dan minta maaf pada semuanya karena seenaknya meninggalkan pesta.
"Neru, sepertinya aku harus pergi sekarang…"
"Eh, tapi…"
"Aku sudah cukup senang kau mau berterima kasih dengan tulus padaku." Kataku jujur. Ya, benar. Aku senang karena pada akhirnya Neru bisa bersikap lembut dan jujur pada dirinya sendiri. Terlihat dari wajahnya selama ini kalau dia bertingkah tanpa memikirkan perasaannya. Dan sepertinya aku pun melakukan hal yang sama pada diriku. Setelah Neru menganggukan kepalanya barulah aku bisa tenang, "Sampai nanti, Neru. Terima kasih sudah mengingat ulang tahunku."
Samar-samar kulihat Neru tersenyum padaku, aku tak dapat melihatnya dengan jelas karena sekarang yang ada di kepalaku adalah kembali ke rumah dan berkata yang sejujurnya pada Rin. Bahwa aku benar-benar ingin merayakan ulang tahun kami hanya berdua.
End of Len's PoV
—
"Tadaima~!" Len yang baru sampai rumah bergegas menuju kamar Rin dengan suara berisik. Menyebabkan seisi rumah merasa terganggu, terutama Miku yang asyik memperhatikan Kaito sedang memakan aisu-nya tercinta. Karena Len masih meneriakan nama Kakaknya dengan keras membuat Miku menyerah dan menghampiri Len yang kebingungan. Miku sudah bisa menebak Len sedang berada di kamar Rin dari asal suaranya.
"Okaeri, Len. Cari siapa?" Miku bertanya dengan basa-basi. Len terlihat agak kaget karena Miku yang muncul tiba-tiba, namun karena rasa penasarannya tentang keberadaan Rin maka dia mengesampingkan kekagetannya.
"Miku-nee, Rin… Ke mana dia?" tanya Len pada Miku yang sedang menaikan kedua alisnya. Tanpa disadari Len, Miku menyeringai.
"Eh… Tadi dia pergi dengan Rinto. Cowok itu mengajak Rin untuk jalan-jalan tuh. Tapi aku tak tau ke mana." Miku menjawab dengan sejujur-jujurnya. Mendengar jawaban Miku, membuat jantung Len terasa akan meloncat keluar. Padahal dia pulang untuk menemui Rin, tapi ternyata Rin malah pergi. Dengan cowok lain pula. Len hanya bisa terpaku kaku, pikirannya mengatakan bahwa semua ini terjadi karena karma, meninggalkan janji begitu saja hanya karena gengsi. Miku yang dapat membaca situasi segera menyusup keluar kamar dan kembali ke dapur untuk kembali memperhatikan Kaito. Namun yang ada di dapur hanyalah Meiko yang sedang diam-diam meminum sake-nya di pojok ruangan.
"Huh… Kaito ke mana sih…" Ternyata bukan hanya Len yang sedang mencari pujaan hatinya.
—
"Rinto! Kau kalah! Kalah! Kalah! Kalaaaah!" Rin berteriak frustasi. Tidak terima karena dirinya dikalahkan oleh Rinto bermain 'Game Dance' di Game Center. Rinto tertawa melihat reaksi Rin yang sudah dikalahkan ke-4 kalinya. Rin menggembungkan pipinya kesal turun dari stage permainan. Rinto mengikuti sambil masih terkikik. Rin memutar tubuhnya agar bisa menghadap ke arah Rinto, kedua lengannya terlipat di depan dada.
"Aku sedang tidak mood. Jadi kalah terus…" ujar Rin pelan. Matanya menampakan sebersit kesedihan. Mata birunya yang seharian tadi terlihat bersinar menjadi terlihat agak keruh. Rinto menghela nafas, sambil mengacak rambutnya perlahan dia mendekati Rin yang kini wajahnya tertunduk. Rin merasakan kepalanya yang dibelai lembut oleh Rinto. Gadis itu menengadah.
"Ini ulang tahunmu, Rin. Hari di mana kau ada di dunia ini. Hari yang benar-benar membuatku senang…" Kata Rinto.
"Kenapa ini adalah hari yang bisa membuat Rinto senang?" Tanya Rin dengan polosnya, kepalanya dimiringkan ke samping. Rinto tersenyum sejenak sebelum akhirnya dia mendekatkan gadis di hadapannya ke dalam dekapan lembutnya.
"Bukan karena apa-apa kok."
Rin tertawa pelan. Suaranya terdengar manis di telinga Rinto. Betapa dia sangat merindukan gadis yang berada di dekapannya ini. Sudah lama sejak Rinto terakhir bertemu dan mengobrol dengan Rin seperti ini. Rin biasa disibukkan oleh pekerjaannya membuat atau menyanyikan lagu. Kalau pun Rinto bertemu dengan Rin. Gadis itu pasti hanya memberi salam ringan, lalu setelah itu akan berlalu. Bersama dengan adiknya yang selalu menempel dengannya. Rinto merasa tidak ingin melepasan Rin dari pelukannya. Tak akan pernah.
"Rinto… Aku…aku harus pulang." Gumam Rin pelan yang setelahnya dapat Rinto rasakan tangan Rin yang menempel pada dadanya kemudian mendorongnya agak menjauh, "Terima kasih atas semuanya, Rinto! Aku senang sekali lho hari ini~ Sekarang sudah sore, dan aku ada janji dengan Len."
Rinto merasa di dalam dadanya ada perasaan sakit. Rin akan pergi meninggalkannya. Untuk kesekian kalinya. Untuk kembali pada adiknya. Kembali menghabiskan waktu berdua saja dengan adik kembarnya.
"Rin… Masih ada yang harus kukatakan padamu! Aku sesungguhnya—"
"Cukup, Rinto. Rin aku ambil kembali." Rin merasakan lengan seseorang melingkar di sekitar lehernya. Rinto menelan kata-katanya kembali melihat sosok yang tiba-tiba memeluk Rin dari belakang. Len. Wajahnya memerah dengan nafas yang tersengal-sengal, seperti habis berlari.
"Len-kun! Kenapa kau ada di sini?" Pekik Rin kaget. Len tidak menjawab, tatapannya lurus tertuju pada Rinto. Dengan tetap tidak berkata apa-apa, Len berbalik dengan tangan Rin yang ada pada genggamannya. Rin mau tidak mau ikut berjalan mengikuti Len.
"L-Len-kun! Kita tidak bisa begitu saja meninggalkan Rinto!"
"Sudahlah, Rin. Sebentar lagi salju akan turun lagi."
"Memangnya kenapa? Toh, kita bukan manusia yang akan merasakan dingin."
"Aku tau!" Bentak Len tiba-tiba. Mata Rin membulat karena kaget, tidak pernah Len membentaknya sampai seperti itu. Len melepaskan genggamannya dari tangan Rin, matanya yang terlihat miris menatap ke arah Rin dalam-dalam. Rin hanya bisa membatu tanpa tau apa yang harus ia katakan.
Len memutuskan kontak mata dengan Rin dan memilih untuk menatap jauh ke depan dengan pandangan nyaris kosong. Dihirupnya udara lalu kembali dihembuskan. Len kembali menatap Rin yang menampakan wajah kebingungan. Len tersenyum. Senyum kesedihan.
"Walau kita, para Vocaloid tidak merasakan dingin. Bagaimana dengan perasaanku? Apa perasaanku—yang seorang Vocaloid ini adalah sesuatu yang juga dibuat oleh pencipta kita?"
Rin berdebar mendengar kata-kata yang keluar dari bibir mungil adiknya itu. Dia tidak tau mesti berpikir apa. Apakah harus menanggapi dengan candaan seperti biasanya? Tidak. Ini adalah sesuatu yang lebih kompleks dari biasanya sehingga membuat Rin bahkan tidak mampu merespon kata-kata ambigu dari Len. Melihat reaksi Rin yang tidak menampakan emosi apa-apa membuat Len memutuskan untuk melanjutkan kalimatnya,
"Perasaan yang kumaksud adalah perasaan hangat dan perasaan bahagia saat bersamamu Rin… Aku ingin bersamamu seharian ini. Tapi ternyata tidak bisa! Ulang tahun kita tahun ini payah!"
"L-Len-kun. Aku—"
"Tidak perlu berkata apa-apa Rin… Sejujurnya aku takut. Apa yang kurasakan ini adalah ilusi. Perasaan takut ini sama seperti saat aku pertama kali membuka mataku. Tepat pada hari ini. 27 Desember! Tapi, perasaan takutku itu segera pupus setelah tau… Ada seseorang yang bersamaku. Di sampingku, saat aku terbangun. Ada kau, Rin! Ada kau yang sedang menggenggam tanganku! Walau aku tidak merespon senyummu saat itu. Tapi aku tau itu 'kau' karena perasaanku yang terasa hangat… "
"Len-kun. Apa yang kau rasakan… Semuanya pun aku rasakan. Ka…karena kita adalah satu."
Rin mengulurkan tangannya agar dapat menggenggam tangan Len sepenuhnya. Berbagi kehangatan yang dihasilkan oleh tubuh Vocaloid-nya itu. Berharap kehangatan masih dapat tersampaikan walau bukan dalam bentuk yang terlihat. Len mengusap matanya yang berair sambil kemudian memeluk Rin dengan erat. Kedua kakak-adik itu menarik perhatian orang di sekeliling mereka. Namun tanpa mempedulikan siapa pun Len mulai membagi kehangatan kepada Rin lewat bibirnya yang diterima langsung oleh Kakaknya. Len menarik wajahnya dari kecupan singkat yang diberikannya.
"Otanjoubi omedetou, Nee-chan… Aishiteru."
"Otanjoubi omedetou, Otouto-kun… Aishiteru…"
~OWARI~
Omake : Rinto after that?
"Aku tidak bisa berkata apa-apa saat Rin dibawa pergi. Ahhh. Aku memang cowok payah…"
"Ya, kau itu cowok payah yang meninggalkanku sendirian…"
"Siapa? Eh… Lenka?"
"Kau ke mana saja, Rinto?"
~Owari*?*~
A/N : GajeGajeGajeGaje dan panjangpanjangpanjangpanjang~ *plak* XD akhirnya selesai! Kyaaaaaa! Aku telah menghembuskan nafas lega~ eh, kalau dipikir-pikir belum sih. Soalnya masih ada tanggungan fic sequel 'Orange Special' OAO oh…. God. Tolong berikan ide kepadaku…. TAT fic rated T+ apakah bisa kubuat dengan baik? Semoga. By the way, kata-kata Otouto-kun terasa janggal ya? Tapi memang itu yang terlintas di benakku sih ;D oh ya, reviews and critiques are welcome~ terima kasih dan maaf kalau ada salah, MAAF SEKALI~ TTATT once again, thank you sooooo much!
