Fic ini kusa persembahkan untuk eX-sErvanT renziev9x'y yang udah bersedia nyumbangin idenya untuk cerita ini...
Dan tak lupa untuk Shignorina Schiffer (semoga kesialan anda tidak berlanjut...XD)
Disclaimer: BLEACH punya Tite Kubo. Kalau BLEACH punya kusa, Gin dan Rangiku pasti orang tua Toushiro
Two Shiro
"Miau..." emerald bertemu dengan emerald. Kedua mata emerald Toushiro terpaku pada kedua mata besar dan imut berwarna emerald lainnya, yang menatapnya dengan tatapan memohon dan memelas. Itu adalah mata seekor kucing kecil berusia tiga bulan yang dibuang oleh majikannya. Anak kucing itu adalah kucing jenis anggora berbulu putih bagaikan salju, dan bermata emerald bagaikan batu jambrut yang telah diasah, berkilauan dengan indah. Tanpa pikir panjang, Toushiro mengambil kucing imut itu, memasukkannya ke dalam tudung kaos hitamnya, dan membawanya pulang.
~H~
"Miau... miau..." kucing kecil itu berguling-guling dengan imut diatas futon Toushiro, sementara sang pemilik futon bermain dengan telapak kaki pink dan sesekali mengelus-elus perutnya. Sekarang ini Gin sedang tidak ada di apartement. Kalau tidak, Toushiro tidak akan membiarkan kucing kecilnya keluar. Ayahnya pasti menyuruhnya mengembalikan kucing kecil itu ke tempat ia menemukannya kerena apartementnya melarang penghuninya memelihara hewan.
Toushiro mendengar langkah kaki menuju apartementnya, secepat kilat Toushiro mengambil kucing kecilnya dari atas futonnya, dan menyembunyikannya ke dalam lemari pakaiannya, "Shhh...jangan berisik," kata Toushiro kepada kucing kecil itu sambil meletakkan telunjukknya di depan bibirnya. Sementara sang kucing menatapnya dengan mata emeraldnya yang besar dan polos, "Mi?"
Tepat setelah Toushiro memastikan kucingnya tidak akan keluar dari dalam lemari, ayahnya membukan sambil membawa dua plastik besar berisi bahan makanan, "Tadaima," kata Gin. Lalu Toushiro berlari menyambut ayahnya ke depan pintu, "Okaerinasai," jawab Toushiro dengan sikap seakan-akan tak terjadi apa-apa.
Gin mengangkat sebelah alisnya melihat sikap putranya yang 'tidak biasa'. Ia merasakan putranya seperti menyembunyikan sesuatu darinya. Tetapi Gin tak mempermasalahkan hal itu , dan menuju dapur dengan Toushiro mengikutinya dari belakang seperti anak kucing yang mengikuti induknya.
"Otosan hari ini kita makan apa?" tanya Toushiro penasaran sambil menatap Gin yang sedang memasukkan bahan makanan kedalam kulkas, dengan mata emeraldnya yang besar dan polos. Melihat pemandangan itu, Gin seperti berhalusinasi melihat sepasang kuping kucing tumbuh di atas kepala Toushiro dan sebuah ekor kucing yang bergerak ke kiri dan ke kanan.
Gin tak tahan dengan keimutan Toushiro, dan dengan lembut ia menjawab rasa penasaran putranya, "Hari ini kita makan ikan bakar. Tadi ibu Sanae mengajarkanku membuat ikan bakar yang enak," kata Gin sambil mengelus-elus rambut Toushiro. Tapi kemudian hidung Gin mencium aroma 'aneh' dari tubuh putranya, dan menyadari ada bekas lumpur menempel pada rambut putih Toushiro dan pakaiannya.
"Tapi sebelum kita mulai memasak, kelihatannya aku harus memandikanmu dulu," kata Gin sambil memegang hidungnya, sementara Toushiro mencium bau tubuhnya. Kemudian Toushiro menyengir lebar kepada Gin setelah menyadari bau tubuhnya amat sangat tidak sedap.
~H~
"Kau kotor sekali, Shiro-chan. Hari ini kau bermain dimana?" tanya Gin sambil menarik kaos hitam putranya lewati kepala berambut putihnya. Setelah itu Toushiro melepaskan sisa pakaiannya, dan melompat masuk kedalam bak yang menyebabkan air dalam bak menyembur kemana-mana, juga membasahi Gin.
"Hari ini aku bermain sepak bola dengan Karin di lapangan dekat sungai, lalu setelah itu mendaki bukit..." jawab Toushiro sambil membersihkan bekas lumpur di wajahnya, 'dan bermain bersama Aoshiro,' tambah Toushiro dalam hati. Toushiro memberikan nama anak kucing itu Aoshiro.
Gin mengerutkan dahinya, pantas saja bau tubuh Toushiro sangat 'aneh'. Lalu Gin mengambil shampo juga sabun, dan memberi isyarat kepada Toushiro untuk keluar dari bak mandi.
Toushiro mematuhi perintah ayahnya dan duduk di bangku kecil. Gin lalu menuangkan shampo secukupnya ke atas kepala Toushiro dan mulai mencuci rambut putih putranya yang indah, sementara Toushiro membersihkan tubuhnya dengan sabun. Setelah yakin tidak ada bekas lumpur yang masih menempel di rambut putih Toushiro, Gin menyuruh putranya memejamkan matanya. Lalu ia menyiram kepala Toushiro dengan air sampai bersih dan tidak ada buih shampo yang menempel di rambutnya.
Setelah selesai, Gin menyerahkan handuk lembut kepada Toushiro untuk mengeringkan tubuhnya. ketika Gin hendak mengambilkan pakaian untuk Toushiro, putranya melarangnya dan mengatakan akan mengambilnya sendiri. Gin mengangkat sebelah alisnya curiga, tetapi ia membiarkan putranya memilih pakaiannya sendiri.
Mata Toushiro terbelalak melihat pintu lemari pakaiannya terbuka dan sebuah buntut putih bergerak ke kiri dan ke kanan dari sela yang terbuka itu.
Sambil memegang handuknya agar tidak merosot dari pinggangnya, Toushiro berlari ke depan lemari pakaiannya, dan mendorong sebuah pantat kecil masuk ke dalam lemari. Dengan gugup Toushiro melirik ke arah kamar mandi tempat ayahnya berada, dan kemudian menghela nafasnya karena ayahnya tidak melihat ekor putih tadi.
"Toushiro," jantung Toushiro hampir saja copot ketika ayahnya memanggil namanya. Lalu dengan wajah innocent Toushiro menatap Gin yang berjalan kearahnya. Perlahan Toushiro menutup lemari pakaiannya.
"Apa rambutmu rontok?" tanya Gin sambil berlutut di depan Toushiro, dan kemudian memeriksa rambut putih putranya.
"Uh'uh... tidak," jawab Toushiro polos. Rambutnya memang tidak rontok.
"Tapi aku menemukan banyak rambut putih di tudung kaos hitam yang kau kenakan tadi," kata Gin sambil menunjukan rambut putih di hadapan Toushiro.
"Entahlah..." jawab Toushiro sambil mengalihkan pandangannya ke samping. Itu adalah bulu putih Aoshiro.
'Dia mengalihkan pandangannya,' kata Gin curiga dalam hati, 'dia pasti menyembunyikan sesuatu dariku.'
"Toushiro, apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Gin dengan nada curiga. Lalu dengan panik Toushiro menggelengkan kepalanya sambil besandar pada lemari pakaiannya.
'Hm... mencurigakan,' kata Gin tambah curiga melihat reaksi Toushiro, "Kau menyembunyikan sesuatu dariku kan?" tanya Gin lagi, dia berusaha berbicara selembut mungkin dan tak terdengar seperti mengintrogasi Toushiro.
"Uh'uh... tidak..." jawab Toushiro masih tidak melihat Gin.
Belum Gin bertanya lagi pada putranya, Gin mendengar sebuah suara imut dari dalam lemari pakaian, "Miau..." mata Gin terbelalak sementara wajah Toushiro menjadi pucat, dan ingin menangis.
"Kucing?" tanya Gin.
Lalu Toushiro membuka lemari pakaiannya, dan seekor kucing kecil berbulu putih bagai salju dan bermata emerald pun keluar dari dalam lemari itu. Toushiro memeluk makhluk kecil itu di dadanya, "Aku ingin merawatnya, dan aku berjanji akan merawatnya dengan baik. Oleh karena itu tolong jangan suruh aku membuangnya lagi, kumohon..." kata Toushiro dengan wajah memohon. Mata emeraldnya terlihat berkaca-kaca.
Gin menghela nafasnya, dan mengusap-usap belakang kepalanya, berfikir bagaimana menjelaskannya pada putranya, "Toushiro, aku percaya padamu kalau kau bisa merawat anak kucing itu dengan baik. Tetapi, apartement ini melarang penghuninya memelihara hewan. Oleh karena itu kau tidak bisa merawat anak kucing itu," jelas Gin perlahan. Ia tidak mau mengecewakan putranya.
Dua pasang mata emerald menatap Gin dengan tatapan memelas, "Tapi... tapi..." mata Toushiro berkaca-kaca seperti ingin menangis, dan hati Gin berdenyuh, tak tega melihatnya. Akhirnya sebuah ide terbesit dalam kepala Gin.
"Baiklah... aku punya ide. Untuk malam ini kau boleh menyimpannya, besok serahkan semunya padaku," kata Gin sambil mengelus-elus kepala Toushiro dengan lembut. Lalu wajah Toushiro pun menjadi sangat senang.
~H~
Keesokan harinya...
Gin tersenyum melihat pemandangan di hadapannya. Gin melihat putranya tertidur dengan sangat nyenyak dengan kucing kecil putih tidur melingkar di atas selimutnya seperti bola salju.
Gin lalu menyentuh pipi Toushiro, dan dengan lembut membangunkannya, "Hei... tukang tidur, ayo bangun..." kata Gin sambil nyengir. Lalu perlahan Toushiro membuka dan menunjukan mata emeraldnya yang indah.
"Uh'uh..." kata Toushiro sambil duduk di atas futonnya dan mengusap matanya yang masih menggantuk. Lalu makhluk kecil berbulu putih yang tertidur di atas selimutnya pun ikut terbangun.
"Baiklah... segera cuci wajahmu dan gosok gigi. Setelah sarapan, kita akan menuju rumah baru untuk kucing kecilmu," kata Gin sambil membantu Toushiro bangkit.
Toushiro mengangkat sebelah alisnya kepada ayahnya. Ia tidak mengerti perkataan ayahnya, tetapi ia tetap menurut dan segera menuju ke kamar mandi.
~H~
Toushiro dan Gin berdiri di depan sebuah rumah yang memiliki klinik pribadi bertuliskan 'Klinik Kurosaki'.
Sepasang kuping kucing putih muncul dari tudung kaos Toushiro. Ia membawa kucing kecil putihnya di tudung kaosnya yang hari ini berwarna putih dengan bagian lengan dan tudung berwarna hijau daun.
Gin berencana menitipkan kucing kecil milik Toushiro kepada keluarga Kurosaki. Rumah mereka bukan apartement, tentu mereka bisa memelihara kucing kecil itu. Apakah mereka mau merawat kucing itu atau tidak, ia menyerahkannya kepada keluara kurosaki. Setidaknya ia sudah berusaha melakukan sesuatu demi putranya agar dia tidak kecewa.
Lalu Gin mengetuk pintu rumah itu, dan seorang remaja berambut orange mengenakan seragam SMA Karakura membuka pintu, "Konichiwa Kurosaki-kun," kata Gin sambil sedikit membungkukan badannya, memberi salam. Toushiro mengikuti Gin.
"Tak biasanya kalian datang berkunjung pagi-pagi," kata Ichigo sambil mempersilahkan Gin dan Toushiro masuk. Ketika Toushiro lewat di hadapannya, Ichigo menyadari ada sesuatu yang bergerak-gerak dalam tudung kaos Toushiro. Lalu 'sesuatu' itu keluar dari tudung kepala Toushiro dan memanjat kepala Toushiro.
'Toushiro tumbuh kepala lagi,' teriak horror Ichigo dalam hati melihat 'benda' putih yang bertambah di atas kepala Toushiro. Tetapi detik kemudian ia menyadari benda putih itu adalah seekor kucing kecil yang memiliki bulu yang sama putihnya dengan rambut Toushiro.
Ichigo menahan tawanya agar tidak meledak ketika melihat, ternyata bukan hanya bulu anak kucing itu yang mirip warna rambut Toushiro. Tetapi, warna mata anak kucing itu juga sama persis dengan warna mata Toushiro.
~H~
Ichigo membawa Gin dan Toushiro ke ruang makan dimana keluarganya sedang berkumpul untuk sarapan pagi.
Ketika melihat Toushiro, Karin dan Yuzu tersenyum kepadanya. Kemudian mendekatinya setelah melihat kucing putih kecil di atas kepala Toushiro, "Wah... lucu sekali," kata Yuzu dengan mata berbinar-binar sambil memegang kaki depan Aoshiro, "boleh aku memegangnya?" tanya Yuzu dengan tatapan memohon. Sementara itu, Karin tertawa terbahak-bahak melihat majikan dan hewan peliharaannya sama persis.
Yuzu memeluk Aoshiro di gendongannya, "Lucu sekali... aku jadi ingin merawat kucing juga," kata Yuzu sambil menyentuh hidung pink kucing kecil itu.
Melihat kesempatan, Gin berdehem, "Uh'hum... Kalau begitu kebetulan sekali. Bagaimana kalau kalian yang merawat anak kucing itu," kata Gin memanfaatkan moment yang ada.
"Jadi pada dasarnya kau memang sengaja membawa anak kucing itu kesini karena apartementmu tidak mengizinkan penghuninya memelihara hewan kan?" kata Isshin yang semenjak tadi tidak terlihat dalam ruangan itu dari belakang Gin.
"A... itu... benar... " kata Gin terbata-bata. Merasa tidak enak dengan aura suram yang di keluarkan Isshin.
"Tapi sayangnya kita memiliki klinik yang menuntut harus selalu bersih. Kita tidak bisa merawat kucing," kata Isshin sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya. Mendengar kata-kata Isshin, Yuzu, Karin dan Toushiro merengut.
"Tapi kita bisa merawat kucing itu di bagian rumah saja, dan memastikan kucing itu tidak ke bagian klinik kan," kata Ichigo memberi saran.
Isshin memegang dagunya dengan jempol dan telunjuknya, "Iya juga sih. Bagaimana ya..." kata Isshin sambil berfikir.
"Kumohon/Miii..." kata Yuzu, Karin, Toushiro juga Aoshiro dengan sorot mata memelas sambil memberikan kitten eyes terbaik mereka.
Melihat pemandangan itu, hati Isshin berdenyuh tak tahan dengan keimutan ketiga orang bocah dan satu ekor kucing kecil itu, "Uh'uh... Ya. kalian boleh merawatnya," kata Isshin mengalah. Toushiro, Yuzu dan Karin berteriak senang, "Demi kalian, apapun akan papa lakukan," kata Isshin kembali normal sambil melompat hendak memeluk mereka bertiga. Belum sempat Isshin memeluk ketiga bocah itu, Karin menendangnya hingga terlempar ke sisi lain ruangan.
Akhirnya... walaupun tidak bisa merawat Aoshiro di apartementnya, Toushiro masih bisa merawat Aoshiro bersama Yuzu dan Karin di rumah keluarga Kurosaki.
~H~
Hyah... gomen mina kalau ceritanya terlalu biasa dan datar... XP
Tetapi kusa bener-bener pengen nulis cerita Toushiro dan kucing kecil
Yosh... mind to review?
-kusanagi-
