Reita the Thumb Boy
Chapter 2
=XxX=
Last Chapter :
Ceklek. Begitulah bunyinya saat pintu rumah yang penuh dengan boneka itu terbuka. Di baliknya muncul seorang… wanita bergaun eropa yang tersenyum manis. Kulitnya putih pucat. Tapi ngga keak mayat, sih.
"Bo—Boneka hiduuuppp!" Teriak Aoi sambil menunjuk - nunjuk wanita di balik pintu tadi.
=XxX=
Title : the GazettE Dorama –Reita the ThumbBoy-
Author: Akiyama Kaira
Fandom: the GazettE (band), Versailles (Band), Alice Nine (Band), Thumbellina (story)
Genre: Humor
Disclaimer: Reita milik saia! Yang lain embat aja noh *plakk!* XD Thumbellina karya om Christian Anderson. Saia pinjem dulu yah, om XDD *plaakk*
Chara: Reita, Aoi, Uruha, Ruki, Kai, Yune (the GazettE) Kamijou, Hizaki (Versailles) Nao, Hiroto (AliceNine)
=XxX=
"Maafkan suami saya!" Uruha langsung menundukkan badannya ketika masuk ke dalam rumah itu. Sementara Aoi daritadi menundukkan kepalanya.
"Ah, tidak apa - apa. Santai saja. Mau minum?" Tanya wanita itu dengan suara BASS. Iya, suara bass. Suara cowok.
Uruha dan Aoi bergidik. Dia cewek atau cowok, sih? Cewek kok suaranya bass? Cowok kok cantik banget gini?
"Maaf, kalian mau minum?" Tanya wanita itu lagi. "Ah, aku lupa. Silahkan duduk dahulu kalau begitu." Katanya sambil tersenyum dan menunjukkan sofa di dekatnya. Kemudian ia masuk ke dalam.
Uruha dan Aoi duduk bersebelahan. Mereka duduknya dempeeeeeett banget. Keak nggamau kepisah satu sama lain. Apalagi tangan mereka saling menggenggam hingga muncul cairan yang biasa disebut keringat dingin.
Beberapa saat kemudian, wanita itu datang kembali dengan sebuah nampan berisi 3 gelas teh. Ia menaruhnya di meja di depan Aoi dan Uruha lalu duduk di depan mereka.
"Silahkan diminum.. Ah, sudah lama sekali tidak ada yang datang ke tempatku. Aku senang sekali saat ada yang datang ke sini." Katanya lalu meneguk segelas teh. "Jadi? Apa yang kalian cari?"
Setelah meneguk tehnya sedikit, Aoi membuka suaranya. "Saya ingin meminta anak." Katanya dengan mantap.
"Hah? Maaf, saya belum menikah dengan siapapun.." Kata wanita tadi dengan raut sedih.
"Eeh? Bu—bukan itu maksud saya~!" Kata Aoi panik. Uruha udah pasang death glare di dalam mind-nya.
"Biar aku yang bicara!" Kata Uruha horror. Aoi mengangguk – angguk takut.
"Uungg.. Eetto… Kami sudah lama sekali menikah, tapi belum dikaruniai seorang anakpun, apakah anda bisa membantu kami?" Tanya Uruha lebih sopan.
"Ooohh.. Jadi itu maksud kalian, yaa.. Aku kira tadi maksudmu adalah memberikan anakku padamu. Tentu saja tidak bisa, aku kan tidak melahirkan. Aku kan lelaki, hehehe.." Katanya inosen.
Ngeeekk? Lelaki dia bilang? Aoi dan Uruha cengok. Lelaki.. Lelaki.. Lelaki.. Lelaki.. Lelaki..
"E—eeh? A—apa perkataanku tadi salah? Maafkan aku!" Kata wanita—err.. lelaki itu.
"Ti—tidak, kok! Sama sekali tidak!" Uruha dan Aoi bersamaan menggelangkan kepala mereka.
"Ah, syukurlah… Ngg… Ohya, kita belum memperkenalkan diri, ya? Namaku Hizaki."
"A-Aku Aoi. Dan ini istriku.. Uruha."
"Se-senang bertemu denganmu.."
"Terimakasih juga telah berkunjung kemari ^^"
Mereka semua terdiam. Suasananya kok jadi aneh gini, yah… =.=
"A—anoo.. tentang permintaan kami tadi.." Aoi berusaha mencairkan suasana.
"Ah? Eh? A-astaga, oh iya, yah. Maafkan sayaa~! " lagi – lagi Hizaki meminta maaf. Dia keak penyihir yang ngga profesional, deh =.= " T-tolong tunggu sebentar! Sungguh, maafkan saya! "
"Ba—baiklah.."
Lalu Hizaki masuk ke dalam lagi. Lamaa.. banget. Terdengar suara barang – barang dilemparkan dan suara "Tidak! Bukan Ini! Ini juga bukan! Aduh, dimana, ya~?"
Aoi dan Uruha saling pandang. Berharap tidak akan terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan.
"Ma—maaf menunggu lama.. Sungguh, maafkan saya! Sudah lama sekali saya tidak menerima kunjungan!" Kata Hizaki tiba - tiba setelah kembali ke ruang tamu.
"Ah, ti-tidak. Sama sekali tidak apa - apa. Lagipula kau tidak bersalah." Kata Uruha sopan.
"Ah, benarkah? Terimakasih. Kau baik sekali." Hizaki tersenyum manis. Tadinya Aoi memandanginya terus, tetapi segera dijitak oleh Uruha.
"Uungg.. Ini.. Ini yang terakhir. Sepertinya yang lain sudah habis. Ditanam, ya…" Urai Hizaki sambil menyodorkan kresek kecil.
Tanam? Ditanam? Tadi ia bilang ditanam? Emang itu taneman, harus ditanem? Lagian covernya ngga ngenakin banget. Kresek hitam yang amat sangat lusuh. Begitulah suara hati Aoi dan Uruha. Mereka bingung sekali. "Kenapa ditanam? Memangnya ini apa?"
"That's a magic seed. Just plant it. And see what happens." Kata Hizaki sambil menjentikkan jari tangan kanannya. Itu bukannya adegan author pas story telling Thumbellina, ya? =.=
Aoi dan Uruha garuk - garuk kepala bingung. Mereka kan orang pedalaman. Jadi ngga ngerti apa yang Hizaki ucapkan dalam bahasa inggris tadi. "Aa.. Ma—maksud anda? Maaf, kami tidak mengerti apa yang anda maksud-"
"Maksud gue ini biji ajaib, taoookkk! Cepetan ditanem sana! Hussh! Husshh!" Hizaki mendadak bertampang horror dan mengusir kedua tamunya dengan cara mengangkat tinggi - tinggi gaunnya untuk memamerkan kaki berbulu lebat dan otot kekarnya (lol). Aoi dan Uruha segera berlari tumpang-tindih(?) lalu menggotong(?) sepeda ontanya setelah menerima kresek itu, berterimakasih dan meninggalkan uang recehan dengan terburu - buru.
"Hah? Kenapa cuma uang recehan? Woooyy! Anjiiirrrr!" Hizaki ngamuk - ngamuk sambil ngangkat - ngangkat gaunnya lagi. Namun percuma saja. Yang diteriaki sudah kabur entah kemana…
=XxX=
"Aku nggamau kesana lagi!" Tangis Uruha sesampainya di rumah. Aoi yang baru saja memarkirkan sepedanya di dapur menjadi heran.
"Kenapa? Padahal tadi dia cantik, lho~ fufufufufu~"
Bletak!
"Ittai…" Ringis Aoi. Tadi Uruha melemparnya dengan pisau dapur, tapi cuma kena bagian kayunya doang.
"Dia itu lelaki, tahu!" Uruha cemberut. "Jangan - jangan kau maho, yah?"
"Heeeeee? A-aku? Maho?" Aoi histeris meraba - raba tiap bagian tubuhnya. Apaan coba maksudnya?
"….."
"A-aku.. Maho? Benarkah?"
"…."
"Uruha?"
"Ayo kita makan siang saja." Kata Uruha lalu berjalan gontai ke meja makan. Beruntung tadi pagi ia menyiapkan makanan berlebih untuk dimakan siang harinya.
"Ah, baiklah~!" Seru Aoi riang. "Itadakimasu~!" Ia pun melahap makanan yang ada di meja. Lahap. Jadi pintar. *ngiklan* *digampar*
=XxX=
"Doko ka? Doko ka?" Uruha tampak bingung banget menyusuri seisi rumahnya. Aoi yang sedang tiduran di karpet jadi terusik.
"Nyari apaan?"
"Kresek yang tadi siang dikasih Hizaki mana, yah?"
"Lho, tadi kan kamu yang pegang."
"Tapi ngga ada, Aoi~ T_T"
"Di toilet?"
Uruha Terdiam. Di toilet? Mana mungkin?
"Ngasih clue-nya ngga elit, deh.."
"Cari dulu, dong"
"Iya.." Uruha pun berjalan gontai ke toilet. Si Aoi itu…
"Ada?" Tanya Aoi.
"A-ada. Kok ada disini, yah?" Uruha bingung. Kenapa ada di toilet?
"Nggatau. Kamu mungkin lupa narohnya."
"Iya.. Aku akan lebih hati – hati kalau begitu."
"Baguslah."
Hening~
Hening sekali. Aoi memejamkan matanya. Tapi Uruha tahu, Aoi tidak mungkin tidur di atas karpet. Dingin, sih.. Sedangkan Uruha memandangi kresek yang tidak elit itu. Ditanam.. Ditanam.. Ditanam.. Ditanam.. Iya, ditanam.. Begitulah yang Uruha teriakkan di dalam hatinya.
"A-aoi…"
"Hnn?"
"Kita.. Tanam… ini… ya...?" Pinta Uruha terbata - bata keak batu bata(?).
"Sekarang?"
"…."
"Baiklah. Kuambilkan media tanamnya dulu, ya." Kata Aoi lalu berdiri dan berjalan keluar.
"Ah, terima kasih." Uruha tersenyum lebar. Dan tidak perlu menunggu lama, Aoi sudah kembali membawa sebuah pot kecil dengan tanah dan pupuk di dalamnya.
"Ini. Ayo kita tanam." Ia tersenyum kecil lalu meraih kresek yang dipegang Uruha dan membukanya. Sebuah biji berwarna emas terlihat. Bijinya keak biji apel, sih. Tapi karena warnanya emas, maka tampak sekali kalau itu bukan biji apel melainkan BBB. Bukan Biji Biasa. *plaakk* *author ngegaje mulu, nih*
Aoi lalu memasukkannya ke dalam tanah di pot itu. Lalu mencipratkannya(?) dengan air. "Kita tunggu saja." Kata Aoi datar sambil meletakkan pot itu di jendela. "Ayo kita istirahat." Ajaknya.
"I-iya." Kata Uruha lalu beranjak. "Terimakasih."
Aoi hanya tersenyum gentle.
===TeBeCe dulu, yaaa~ ^0^===
Yop, Minna! Kelupaan update nih fanfic hohoho~ XDD *dikeroyok rame2*
Gomen kalo gaje banget
review? Comment? Kritik? saran?
Klik aja tombol di bawah...
