Chapter 3

=XxX=

Last Chapter :

"Ini. Ayo kita tanam." Ia tersenyum kecil lalu meraih kresek yang dipegang Uruha dan membukanya. Sebuah biji berwarna emas terlihat. Bijinya keak biji apel, sih. Tapi karena warnanya emas, maka tampak sekali kalau itu bukan biji apel melainkan BBB. Bukan Biji Biasa. *plaakk* *author ngegaje mulu, nih*

Aoi lalu memasukkannya ke dalam tanah di pot itu. Lalu mencipratkannya(?) dengan air. "Kita tunggu saja." Kata Aoi datar sambil meletakkan pot itu di jendela. "Ayo kita istirahat." Ajaknya.

"I-iya." Kata Uruha lalu beranjak. "Terimakasih."

Aoi hanya tersenyum gentle.

=XxX=

Title : the GazettE Dorama –Reita the ThumbBoy-

Author: Akiyama Kaira

Fandom: the GazettE (band), Versailles (Band), Alice Nine (Band), Thumbellina (story)

Genre: Humor

Disclaimer: Reita milik saia! Yang lain embat aja noh *plakk!* XD Thumbellina karya om Christian Anderson. Saia pinjem dulu yah, om XDD *plaakk*

Chara: Reita, Aoi, Uruha, Ruki, Kai, Yune (the GazettE) Kamijou, Hizaki (Versailles) Nao, Hiroto (AliceNine)

=XxX=

Pagi yang cerah…

Matahari masih males banget mengeluarkan energinya untuk menyinari bumi. Maleeeeessssss!

"Aoi! Aoi-kun, bangunlah!" Uruha menepuk – nepuk pundak Aoi yang masih terlelap. "Aoi…"

"Uunhh.. Ada apa, si—hah?" Aoi terkejut melihat airmata yang keluar dari kedua belah pihak(?) mata Uruha. "A-ada apa, Uruha?"

"Kita.. Kita punya anak, Aoi.. Anak.." Kata Uruha bahagia sambil mengusap airmatanya.

"A-anak? Kamu.." Aoi meraba - raba perut Uruha. "Oh, ayo kita cek ke dokter kandungan!" Seru Aoi senang. Di hutan mana ada dokter kandungan?

"…. =_=" Uruha jadi badmood. Rasanya Aoi dan dirinya udah ngga pernah konek hatinya. Uru ngomongin A, si Ao ngejawab tentang Z. Capedeh…

"Kenapa?" Tanya Aoi polos.

PLAK!

BLAAAAMM!

Uruha membanting pintu kamarnya setelah menampar Aoi. Terlalu sadis caramu~ *digaplok Afgan*

"Mommy…" Terdengar suara kecil dari arah jendela. Ada seorang lelaki kecil seukuran ibu jari orang dewasa berdiri di atas sebuah bunga dari magic seed yang semalam ia tanam. Uruha menoleh ke arahnya, lalu tersenyum dan menghampirinya.

"Ah.. kau.. kau anakku.. tapi.. kenapa… kenapa kau kecil sekali? Seperti ibu jariku? Hhh.." Uruha mengusap air matanya lagi. Entah dia bahagia atau sedih. "Ah, sudahlah. Kau harus kuberi nama." Kata Uruha lalu berpikir untuk memberikan nama yang baik untuk anak barunya.

Sementara itu, Aoi bengong dengan apa yang barusan ia dengar. Suara yang kecil imut berbincang - bincang dengan suara cempreng *plak* istrinya. Itu anakku? Kenapa cepat sekali? Ayam aja ngeramin telornya 3 minggu. Ini? Belum juga 24 jam udah muncul.

Aoi pun keluar dari kamar dan menghampiri istrinya di dekat jendela. Betapa kagetnya ia melihat seorang kurcaci(?) di atas tangan istrinya. "Itu.. siapa?"

Uruha tidak menjawab. Ia masih kesal dengan sikap Aoi. Ia terus memandangi anak itu. Memikirkan nama yang baik untuknya.

Aoi pun sama. Memperhatikan anak itu. Karena tidak terlalu jelas, ia pun memakai kacamatanya. *ayo kita bayangkan! Pasti kakkoi! XD* Dan jelaslah di matanya. Seorang anak lelaki. Rambut model kakak tua blonde. Hidung pesek… Heh? Peseeekk?

"Peseeeekkk!" Aoi mengambil gagang sapu yang entah didapat dari mana. Ia segera bersiap - siap mengarahkannya ke anak kecil itu. Anak kecil itu sudah ngacrit duluan. Uruha yang kebingungan dengan sikap Aoi cuma bisa pasang tampang polos.

"Haaaaah! Sialaaann! Gue mancuungg! Istri gue mancuungg! Kenapa anak gue peseeeeeekkkkk!" Marah Aoi sambil menghentak - hentakan sapunya ke segala arah. Sementara anak kecil tadi sembunyi di belakang tubuh Uruha.

"Aoi!" Bentak Uruha. Aoi ciut. "Untuk hari ini; jangan sentuh dia!" Uruha menatap Aoi tajam. Di belakangnya ada efek petir. DUAAARRR! XDD *plak*

Uruha pergi membawa anak kecil itu ke kamarnya. Aoi bengong. Hah? Bodoh. Seharusnya ia bersyukur. Dia sudah diberi anak. Cuma ngebayar recehan ke Hizaki, pula. "Ah, ntar juga idungnya tumbuh. Jadi lebih mancung dari gue—hah? Jadi Pinokio, dong? O.O;" Aoi nyakar - nyakar tembok saking stress-nya.

Siangnya, saat jam makan siang….

Aoi, Uruha dan anak kecil yang baru mereka temukan(?) tadi pagi duduk melingkar di pinggir meja makan. Makanannya ada di satu meja, tapi diletakkan dekat Uruha dan anak kecil itu. Aoi jadi ngga kebagian makanannya, deh~

"Ini makananmu, nak. Dimakan, ya ^^" Kata Uruha lalu menyodorkan piring mainan kecil mungil yang berisi sesendok teh nasi dan lauk seadanya. Selembar daun bayam(?).

Aoi bengong mendapati sikap Uruha. Anak kecil itu hanya tertawa senang lalu makan dengan lahap. Jadi pintar. *ditabok*

"Makananku?" Aoi memasang tampang bodoh menunjuk dirinya. Ayam jago yang ada di dalam perutnya sudah menggelar pentas seni(?).

"Ohiya, yah ^^" Uruha menepuk dahinya. Aoi lega. Uruha sudah kembali dari kepribadiannya yang semula horror(?). "Ini," Tawar Uruha sambil menyodorkan piring besar berisi sesendok teh nasi dan selembar daun bayam.

"Hah? Ini?" Tanya Aoi bengong. Makan keak gini sama aja bohong. "Kenapa porsiku disamakan dengan anak ini?" Tanyanya lagi sambil menunjuk anak kecil itu dengan wajah bodoh.

"Karena kalian laki - laki." Jawab Uruha santai sambil menyantap makanannya. Jawaban yang tidak beralasan =_=.

"…."

Hening..

Karena amat teramat kelaparan, Aoi pun menyantap apa yang ada di atas piring itu. Dalam sesuap, lenyaplah makanan tersebut. "Sudah kau beri nama?" Tanya Aoi. "Anak ini."

Uruha mengangguk. "Reita."

"Reita?" Aoi mengangkat alisnya

"Iya, Reita." Uruha meneguk teh mountea(?)nya.

"Namanya aneh." Komentar Aoi polos.

"Kalau begitu pergi saja dari rumah ini." Jawab Uruha santai.

"Eeh, tapi kalau dipikir - pikir bagus juga, kok namanya." Ucap Aoi lagi. "Dapat dari mana?"

"Dapet nyolong di pohon taoge tadi pagi."

Aoi diam. Uruha diam. Apalagi Reita yang bingung dengan kelakuan orangtuanya. Hahahahaha.. =.=

=XxX=

Setahun kemudian….

"Apa ini, ayah?" Tanya Reita polos setelah menerima pemberian Aoi. Selembar pita warna putih. Hari itu Reita berulang tahun. Namun tingginya ngga nambah - nambah. Makanya minum Procold dong, Rei! *ngawur*

"Pakai itu di hidungmu." Perintah Aoi. Reita menurutinya. Ia mengikatkan pita kecil itu di hidungnya.

"Seperti ini?" Tanyanya polos.

"Hmmh, bagus. Sebut saja itu noseband." Aoi tersenyum senang.

"Noseband? Uuunggg.. Memangnya kenapa aku harus memakai ini, ayah?"

"Yaaa.. Gimana, yaahh~" Aoi ngorek - ngorek telinganya. "Hidungmu ngga tumbuh - tumbuh, sih–"

BLETAK!

Sebuah gayung polkadot tepat mengenai jidat Aoi. Asalnya dari arah sumur.

"Jangan mengajarkan Reita yang aneh - aneh!" Perintah Uruha yang melemparkan gayung polkadot malang tadi.

"Tapi aku terlihat keren, ibu!" Seru Reita bangga sambil menunjukkan nosebandnya. "Bagaimana? Aku keren, kan?"

"Iya. Dia terlihat semakin keren, kok Uruha~" Aoi membela. Entah sebenarnya dia membela Reita atau dirinya sendiri.

Uruha menghela nafas. "Yah, baiklah… Terserah kalian saja."

"Asyiiiiikkk!" Reita senang. Ia berlari ke arah kamarnya yang berupa rumah - rumahan dari kardus berwarna pink.

"Ah, dasar.. anak itu.." Gumam Aoi pelan, lalu mengambil sepeda ontanya dan keluar dari rumah itu.

"Aoi! Mau kemana?" Tanya Uruha.

"Jalan - jalan." Jawab Aoi malas. Lalu mengayuh sepeda ontanya keluar.

Sementara itu, Reita asyik nyanyi - nyanyi sambil bernarsis ria di depan cermin. Kebelet jadi Jrocker ceritanya. Dia lompat - lompat, nge-growl, goyang trio macan(?) dan muter - muter. Suaranya keras banget. Uruha yang sedang mengepel lantai hanya menggelengkan kepalanya.

"Berisik!" Teriak seekor burung parkit kecil nan imut berpipi merah di dekat jendela. Matanya tampak masih ngantuk.

Reita yang merasa terusik menoleh ke arah burung itu. "Kenapa, heh?" Bentaknya. "Suka - suka gue, kalee!"

"Tch." Burung itu pun terbang entah kemana. Sementara Reita menjulurkan lidahnya keak ular mau nangkep mangsa(?). Lalu ia kembali berteriak - teriak ngga jelas. Tapi suaranya bagus, sih. Berirama gitu.

"Kyaaaaa! Suaranya baguuusss! /" Teriak seorang katak betina di sungai dekat rumah Reita. Kita sebut saja Hiroto.

"Tiap hari dia nyanyi - nyanyi itu mulu, tauk =3=" Kata kakaknya yang katak jantan. Sebut saja Nao.

"Masa? Tapi suaranya manly! Mukyaaaa~! /" Teriak Hiroto layaknya fansgirl. "Saia mau jadi istrinyaaa! /"

"Ah, terserah lah. Culik aja dia. Jadiin suami. Beres kan?" Usul Nao ngawur. Tapi ditanggapi Hiroto dengan sukarela (?).

"Ide bagus!"

=TBC~ ^0^ *dikeroyok rame2*=

Ohoho~ gimana gimana gimana? XDD

Oiya, saia mau reply review dulu nh :p

gomen, yak pada lum kebales 0

Darky Yo, Myuu! Aduh, itu udah kuganti jadi Hizaki gomengomengomeeenn!

Uta Masaki Iyoh, OOC banget Hizaki wkwkwk~ Uru jadi fem. gomen yaa lupa kukasi warning