Chapter 4
=XxX=
Last Chapter :
"Ah, terserah lah. Culik aja dia. Jadiin suami. Beres kan?" Usul Nao ngawur. Tapi ditanggapi Hiroto dengan sukarela (?).
"Ide bagus!"
=XxX=
Title : the GazettE Dorama –Reita the ThumbBoy-
Author: Akiyama Kaira
Fandom: the GazettE (band), Versailles (Band), Alice Nine (Band), Thumbellina (story)
Genre: Humor
Disclaimer: Reita milik saia! Yang lain embat aja noh *plakk!* XD Thumbellina karya om Christian Anderson. Saia pinjem dulu yah, om XDD *plaakk*
Chara: Reita, Aoi, Uruha, Ruki, Kai, Yune (the GazettE) Kamijou, Hizaki (Versailles) Nao, Hiroto (AliceNine)
=XxX=
Malamnya….
"Oyasumi, Reita-kun~" Ucap Uruha dan Aoi bersamaan.
"Oyasumi~" Reita membalasnya, lalu berlari masuk ke dalam rumah kardusnya dan bersiap untuk tidur. Uruha dan Aoi tersenyum. Mereka segera masuk ke kamar mereka berdua.
"Serius, nih mau nyulik tuh noseless? -.-" Tanya Nao dari jendela.
"Seriusss! Ntar, deh. Liat aja. Tunggu dia tiduuurrr!" Jawab Hiroto antusias. Udah kebelet pengen nyulik Reita.
Akhirnya, kedua katak itu pun menunggu dengan sabar di jendela. 5 menit… 10 menit.. 20 menit… 40 menit.. Satu jam… Reita belum juga tidur. Kedua katak itu justru udah ngantuk banget. Sabar, ya Hiroto~
"Aaarrrr kenapa ngga tidur, sih?" Kesal Hiroto. Dia pun segera mengeluarkan jaring yang entah didapat dari mana. Lalu mengarahannya ke arah rumah kardus itu dan menjaring Reita. Sebenarnya Author juga bingung caranya gimana =.=a. Yasudahah, ikuti saja kemauan Hiroto. *maksa*.
"Apa ini? Hiyaaaaa! Jaring! Kenapa ada jaring?" Reita teriak – teriak ribut. Tapi ngga ada yang nolong, apa lagi ngebantu. Hiroto ketawa setan. Sedangkan Nao justru menguap bosan. Ngga peduli sama Hiroto apalagi ngebantuin.
Singkat cerita, Nao dan Hiroto membawa Reita menjauhi sungai dekat rumahnya. Hingga akhirnya mereka sampai di depan sebuah gua kecil di mana banyak sekali katak berkeliaran.
Reita merinding. Ia tidak tahu arah rumahnya yang mungkin amat teramat jauh dari sini.
"Nao! Hiroto! Darimana saja kalian?" Seorang katak betina besar membentak mereka. Kita sebut Yune.
"Aku membawa dia, ibu.." Jawab Hiroto kepada ibunya sambil menunjuk Reita. "Calon suamiku.." Hiroto tersenyum bangga.
"Haaahh?" Reita terkejut. Sebegitu tenarkah ia hingga seekor katak ingin menikahinya? "Tidaaaaakkk! Aku tidak akan menikah dengan katak jelek sepertimu! Tidak!" Teriak Reita marah. "Aku hanya akan menikah dengan spesiesku!" Katanya lagi. Menikah dengan katak? Bagaimana caranya?
"Aku mau tidur. Jya ne~" Kata Nao malas lalu pergi ke kamarnya. *adegan ngga penting* *abaikan*
"Sepertinya ia masih nervous, ibu.." Kata Hiroto. "Kita harus menempatkannya di kamar 'spesial' kita." Usulnya dengan senyum tipis.
"Fufufufu~ baiklah. Selama ia berada di kamar terapung kita, ia tidak akan bisa lari. Lalu kita akan siapkan pesta pernikahan untuk besok." Kata Yune menyetujui usul putrinya. Lalu menoleh ke arah Reita. "Ayo, nak. Akan kutunjukkan kamar spesialmu. Khukhukhu.."
Yune menarik paksa Reita. Awalnya Reita memberontak, tapi akhirnya ia pasrah juga. Reita dilemparkan begitu saja di atas daun teratai di tengah sungai. Dari palang(?) yang terpasang di dekat sungai, Reita dapat melihat—lebih tepatnya membaca tulisan "Amazon River". Jadi dia ada di sungai Amazon? Buset, jauh amat. *abaikan*
Esok paginya….
"Ohayou, Reita-kun~" Uruha menyapa Reita. Biasanya Reita akan segera terbangun oleh suara cempreng *plak* ibunya. Lalu ia akan segera keluar dari rumah kardusnya. Namun ditunggu berapa lama pun, Reita tidak muncul batang hidungnya. Mungkin karena pesek? *author kabur*
"Reita-kun?" Uruha melongok ke dalam rumah kardus Reita. Namun hanya ada ratusan bakteri(?) di sana. "Astaga, Reita-kun! Dimana kamu, nak?"
"Apaan, sih berisik aja =3=" Aoi keluar dari tempat ia bermimpi semalam sambil mengorek - ngorek(?) kuping. Ia menghampiri Uruha yang tampak khawatir.
"Reita mana?" Tanya Uruha begitu melihat Aoi. "Kau tahu dia?"
"Mungkin sedang bermain?"
"Tapi biasanya dia selalu ijin jika keluar rumah! Lagipula ini masih pagi!"
"Dia kan anak laki - laki. Wajar saja jika ia tidak ijin sekali - kali." Urai Aoi.
"Tapi…"
"Tenanglah, setidaknya Reita tahu jalan pulang ke sini." Aoi menenangkan Uruha dengan tersenyum gentle.
Sementara itu, Reita yang sedang berada di tengah sungai hanya lingak - linguk kebingungan. Si noseband itu tidak tidur semalaman. Bagaimana bisa tidur jika pijakan yang ada di kakinya tidak pernah datar?
"Hoeeeeeekkkk! Uuuggghh-" Ternyata Reita mabuk sungai(?). Ia merasa amat pusing. Sebenarnya semalaman ia terus - menerus mengeluarkan isi perutnya. "Uuugghh.. Perutku.."
"WOY, PESEK!"
"Hoh?" Reita mendongak ke asal suara si atasnya. Ada seekor burung parkit yang tempo hari meneriakinya dengan kata 'BERISIK!' dan sekarang ia muncul lagi? "Apaan?" Tanya Reita inosen.
"Ngapain lu disitu, sek?" Tanya burung itu. Ia masih enak - enakan terbang di atas. Sementara Reita udah mual banget.
TING!
Sebuah lampu petromak yang udah usang muncul di atas kepala Reita. Untung ngga jatoh. Wkwkwk~ sepertinya Reita baru saja mendapatkan ide. Bagus, Rei. Kecil – kecil cabe rawit XD.
"Woi, lu bisa terbang, kan?" Tanya Reita.
"Ya bisa lah! Gue kan burung! Punya sayap!" Jawab si burung sombong.
"Anterin gue pulang, dong! Gue kesasar(?) nih!" Kesasar. Hahaha~
"Hah? Lu udah bisa ke sini kenapa bisa nyasar?" Tanya burung itu dengan tatapan bodoh.
"Karena gue kesasar, begoo!" Sembur Reita.
"Makanya gue tanya kenapa bisa kesasar?"
"….." Reita merengut kesel.
"Ternyata lu ngambekan, yah sek. Wkwkwk~" Cibir burung itu, lalu mendekat ke arah Reita. "Cepetan naik, gue anter pulang deh."
"Bener, nih?" Reita tersenyum lebar. Matanya nge-clingg - clingg gitu. Si Parkit jadi sweatdrops dibuatnya.
"Ee—I—Iya." Jawabnya ragu - ragu.
"Hee? Jawaban lu keak ngga meyakinkan, deh =3= ikhlas ngga, nih?"
"HEH banyak bacot lu! Mau pulang ngga? Mau gua terima; nggamau yaudah" Gantian si burung yang merengut.
"I-iya iya iya O.O;"
Reita pun dengan terburu - buru naik ke atas punggung burung putih itu. Dalam hati ia mengakui, burung itu imyuuuttt banget. "Siapa namamu?" Tanya Reita.
"Ruki." Jawabnya datar. "Dan kau?"
"Aku Reita."
"Ooh. Gue kira nama lu pesek."
"Jangan panggil gue pake nama itu lagi!" Sembur Reita kesal sambil melayangkan tamparannya ke kepala Ruki pelan [dengan penuh kasih sayang *digiles Reita*].
=XxX=
Mwooohohohooo~ quick update~ XD XD XD
nyaa~ gimana? 8D
Oiya, setuju ngga kalau di akhir cerita nanti saia kasih chapter khusus "Meet & Greet Reita the Thumb Boy Character"?
Isinya gaje2an doang sih lololol *plakk!
Review? kritik? saran?
tampung dengan klik di bawah ini!
