Chapter 5
=XxX=
Last Chapter :
"Ah, terserah lah. Culik aja dia. Jadiin suami. Beres kan?" Usul Nao ngawur. Tapi ditanggapi Hiroto dengan sukarela (?).
"Ide bagus!"
=XxX=
Title : the GazettE Dorama –Reita the ThumbBoy-
Author: Akiyama Kaira
Fandom: the GazettE (band), Versailles (Band), Alice Nine (Band), Thumbellina (story)
Genre: Humor
Disclaimer: Reita milik saia! Yang lain embat aja noh *plakk!* XD Thumbellina karya om Christian Anderson. Saia pinjem dulu yah, om XDD *plaakk*
Chara: Reita, Aoi, Uruha, Ruki, Kai, Yune (the GazettE) Kamijou, Hizaki (Versailles) Nao, Hiroto (AliceNine)
=XxX=
"Kenapa kau mau pulang ke rumah orangtuamu yang manusia itu?" Tanya Ruki ketika mereka sedang beristirahat di sisi sungai yang lain.
"Uuunggg… Karena itu tempat tinggalku. Kenapa kau selalu menanyakan sesuatu yang aneh - aneh, sih?" Tanya Reita kesal.
"Ah, tidak. Maaf. Tapi aku rasa aku pernah lihat manusia berukuran sepertimu di suatu tempat."
"Eeh? Benarkah?"
"Iya. Itu sebabnya aku heran saat kau memintaku mengantarkan ke rumah orang tuamu."
"Aah, tapi bagaimana pun, mereka memang orangtuaku yang selalu membesarkanku sejak aku kecil…"
"Tapi mereka berbeda darimu." Jawab Ruki. "Biarpun mereka yang merawatmu sejak kecil, mungkin saja suatu saat mereka akan mencelakakanmu."
"Itu tidak benar, Ruki!" Ucap Reita. "Mereka bukan orang yang seperti itu!"
"Mereka manusia, Rei! Kau tahu, manusia selalu saja merusak alam dan tidak pernah bertanggung jawab!"
"Tetapi mereka tidak pernah seperti itu!" Reita mulai kesal dengan ucapan Ruki yang menurutnya terlalu lancang mengingat mereka baru beberapa jam yang lalu berkenalan.
"Mungkin saja mereka hanya berpura - pura, Rei! Tidak ada manusia yang baik di dunia ini!"
"Apa maksudmu, Ruki?" Reita mulai menarik bulu di kepala Ruki saking kesalnya. "Kalau begitu buktikan kalau mereka jahat!"
"Kau sudah tahu, Rei. Mereka membiarkanmu terlantar di tengah hutan!"
"Itu hanya kecelakaan, Ruki! Kau tidak tahu apa - apa! Itu hanya perbuatan katak - katak jelek itu!" Sembur Reita lagi. Muncrat nih, Rei.
"Katak? Ha! Jadi ceritamu tadi pagi tentang kesasar itu hanya bualanmu?"
"…" Reita terdiam lalu melepaskan genggamannya. Ia melayangkan pandangannya ke tanah yang ia pijak. Seakan tidak ada lagi objek yang menarik di matanya selain tanah itu.
"Baiklah, maafkan aku." Pinta Ruki. "Kau mau mendengarkan ceritaku, kan?"
"Eeh?" Reita mendongakkan kepalanya ke arah Ruki. "Cerita apa?"
"Manusia. Gara - gara mereka… Mereka merampas keluargaku." Urai Ruki lalu menengadahkan kepalanya ke langit yang mulai gelap.
"Merampas?"
"Iya. Mereka.. Mereka dengan kejamnya menangkap semua anggota keluargaku. Ayahku… Ibuku… Teman - temanku…" Ceritanya lagi sambil menitikkan air mata. "Mereka menangkap mereka hanya untuk dijadikan pajangan di rumah mereka, Rei! Mereka egois! Mereka seakan pura - pura tidak tahu kalau binatang juga punya perasaan! Egois!" Tangis Ruki.
"…." Reita memeluk leher Ruki dengan tangannya yang terlalu kecil untuk itu. "Maafkan aku kalau begitu telah membentakmu tadi…"
=XxX=
"Kita bermalam di sini saja. Hari sudah gelap." Kata Reita setelah Ruki berhenti menangis. Ruki hanya mengangguk.
"Kau lapar?" Tanya Ruki.
"E-eeehh?"
Kruyuuuukk~
"Sepertinya kau lapar, hahaha." Tawa Ruki. "Biasanya kau makan apa?"
"Uungg… Sayur asem sama tempe bacem.." Jawab Reita inosen.
"….."
"Eeh? Ada yang salah dengan perkataanku?"
"—Ah, tidak. Lalu kau mau makan apa sekarang? Di sini tidak ada jenis makanan seperti itu."
Reita terdiam. "Eeh, entahlah. Kau tahu makanan apa yang bisa dimakan oleh manusia disini?"
"Di sini semuanya bisa dimakan, Reita." Jawab Ruki gemas. "Bahkan jika kau tidak sabar, bisa saja kau membakarku hidup - hidup dan memakanku." Canda Ruki.
"Eeh? Tapi aku tidak akan seperti itu, kok! Aku kan baik hati, tidak sombong dan rajin menabung serta taat pada perintah orangtua!" Lah, si Reita malah nyerocos gitu.
"Hahaha, kau ini XD" Ruki tertawa pelan. "Kalau begitu akan kucarikan kau buah segar. Tunggu disitu dan jangan kemana - mana!"
"Ba- baik…"
Reita pun menunggu di tepi sungai itu. Ia duduk memeluk lututnya. Matanya memandangi bayangan di sungai, namun pikirannya masih tertuju pada kata – kata Ruki barusan.
'aku rasa aku pernah lihat manusia berukuran sepertimu di suatu tempat' 'aku rasa aku pernah lihat manusia berukuran sepertimu di suatu tempat' 'aku rasa…' Kata - kata itu terus menerus mengganggu Reita. Apa ada lagi manusia berukuran mini seperti dirinya di suatu tempat? Lalu mengapa ia tinggal bersama manusia normal pada umumnya?
"Aaaaaaggghhhhh!" Reita mengacak - acak rambut kakaktuanya. Ia bingung. Ia ingin kembali ke rumah orangtuanya. Tapi ingin pergi ke tempat itu juga.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?" Tanya Ruki yang baru saja datang entah darimana. Ternyata ia memperhatikan Reita yang bertingkah aneh.
"Eh? Ehehehehe~" Reita nyengir kuda.
"Ini makananya. Aku cuma menemukan beberapa buah kelengkeng(?) saja! Habiskan ya!" Kata Ruki setelah memberikan beberapa buah kelengkeng pada Reita.
"Ee—Iya. Terimakasih, Ruki. Kau baik sekali ^^"
=XxX=
Esok siangnya, Ruki dan Reita melanjutkan perjalanan mereka. Reita memutuskan untuk mengunjungi tempat yang Ruki maksud kemarin. Tempat yang berisi makhluk mini keak Reita~
"Hahaha, kukira kau tidak akan mau ke tempat itu." Tawa Ruki. Reita yang berada di punggungnya melayangkan tamparannya lagi dengan pelan namun penuh kasih sayang *dilempar batok kelapa*.
"Aku hanya penasaran! Lagipula setelah kita ke sana aku ingin pulang ke rumah orang tuaku lagi!" Sembur Reita kesal sambil merengut.
"Yeeee.. Berarti kau memanfaatkan aku sebagai kendaraan hidupmu, dong =3=" Protes Ruki.
"Ee? Bukannya kemarin kau yang menawarkan jasa transportasi(?) untukku, yah?"
"Tapi kan ngga gitu - gitu juga kalee! 3"
"Piss ah Ru~ wkwkwk~"
"Uuh! Kau harus mencarikan aku makan!"
"He? Emang makananmu apaan?" Tanya Reita inosen.
"Ulat bulu."
"Hiiiiii~ Ogyyaaaaaahhhh! Ke Indonesia aja sono lagi musim ulat bulu!"
Begitulah perjalanan mereka. Dipenuhi canda tawa dan terkadang baku hantam(?) yang biasanya dimulai oleh Reita. Tentu saja dengan penuh kasih sayang.
"Ee—Ruki-kun. Jadi burung itu enak ngga, sih?" Tanya Reita sambil tiduran dengan santai di punggung empuk Ruki. Hiduup tu indah~ *dipatok(?) Ruki*
Ruki yang mendengar pertanyaan Reita tersenyum setan. "Enak banget loh, Rei! Pokoknya enaaakk enaak enaaaaaaakkk!" Cerocos Ruki.
"Ngejawabnya keak ngga jujur, deh =_=" Komentar Reita seraya menyikut Ruki untuk yang kesekian kalinya.
"Sekali lagi kau menyikutku atau menamparku; kujatuhkan kau dari gunung Everest!" Ancam Ruki dingin.
"He? Gunung Everest? Apaan tuh?" Reita duduk pasang tampang inosen yang tentu saja tidak bisa dilihat Ruki.
=_= Ruki
0.0a Reita
"Gunung Everest apaan, sih? Gunung yang di Arab, yah?" Tanya Reita lagi.
"Bukan. Di Indonesia =_="
"Ooh…" Reita menggut - manggut sok ngerti.
DUAAARR!
"Hieeeee~ apa itu?" Reita terkejut menggenggam bulu di leher Ruki.
"Jangan cekek gueeee! Gue juga ngga tau peseeeekkk!" Jawab Ruki sambil mempercepat laju terbangnya.
DUAAAAARRRR!
"Jangan panggil gue peseekkk!"
"Cih, dasar nggatau kondisi dan suasana! Kita diserang, peseekkk!" Kata Ruki yang mulai mengetahui keadaan. Mereka ditembak sekelompok pemburu.
"Apapun kondisi dan suasananya, jangan panggil gue peseeeekkkk!"
"Arrrrrggghhh gue nggatau lu itu emang bego atau apa! Tapi sekarang kita diserang manusia, peseeekkk!" Teriak Ruki sambil menghindari beberapa tembakan.
"Tapi gue nggasuka lu manggil gue pesek!"
"Bego! Cuma nama itu yang gue inget!"
"Nama gue REITA! Tanpa ada imbuhan(?) PESEEEKK!"
"Berisik!"
DUAAAAAAAAARRRRR!
"Shit! Reita! Kalau kita mendekati pohon, kau langsung lompat, ya!"
"Hoh?" Reita menatap Ruki inosen. Tapi dia ngerti maksudnya Ruki. Dan ketika Ruki mendekat ke pohon kelapa(?) nan tinggi setinggi monas, Reita pun melompat ke ranting(?)nya. Sedangkan Ruki terus terbang menjauh, namun Reita dapat melihatnya.
DUAAAARRR!
Reita dapat memandang tubuh Ruki yang jatuh ke dalam semak belukar. "Rukiiiiii!"
===TBC~ ^0^===
Ohohooo~ gimana? gimana?
udah pada tau gimana kira - kira ending-nya? XD
ayo tebak! lol
Review, kritik, saran, unek - unek(?), curcol atau apa saja silahkan klik tombol di bawah ini lalu isi form yang tersedia :)
-Akiyama Kaira-
