Reita teh Thumb Boy
Chapter 6
=XxX=
Title : the GazettE Dorama –Reita the ThumbBoy-
Author: Akiyama Kaira
Fandom: the GazettE (band), Versailles (Band), Alice Nine (Band), Thumbellina (story)
Genre: Humor
Disclaimer: Reita milik saia! Yang lain embat aja noh *plakk!* XD Thumbellina karya om Christian Anderson. Saia pinjem dulu yah, om XDD *plaakk*
Chara: Reita, Aoi, Uruha, Ruki, Kai, Yune (the GazettE) Kamijou, Hizaki (Versailles) Nao, Hiroto (AliceNine)
=XxX=
"Ruki-kuuunnnn~ TT^TT" Reita ngosek - ngosek(?) di bawah pohon kelapa. Entah bagaimana caranya ia turun. Pokoknya dia udah ada di bawah pu'un kelapa. *author maksa*
"Ruki-kuunn~ kalau keak gini gue pulang sama siapa.. Emak nunggu di kampong halaman, nee.. TT^TT" Tangis Reita sambil mukul - mukul tanah.
"Masa gue harus ngesot ke kampuang nan jauh di mato itu? Orang gila, kalee" Curhat Reita pada tanah yang digenggamnya. Moga - moga aja ngga sarap *author dicekek pake nusben*
"Mana gue harus ngubur Ruki pula.. TT^TT"
"Siapa yang dikubur?" Tanya seseorang yang berdiri di depan Reita.
Reita menjawab namun ia masih menunduk. "Temen bantet nan cebol gue, namanya Ruki.. HIKS" Cengeeengg~ *author dihajar massa*
Orang yang mengajaknya bicara tadi ngga respon. "Kalau gue, gue punya temen pesek. Namanya Reita."
"Hoh?" Reita bengong dengernya. Dia natep orang di depannya dan setelah disadari bahwa dia adalah RUKI….
"Rukimiiiiiiinnn~~" Sambut Reita dengan extra-hugsnya. "Gue kira lu udah matek, Ru~"
"enak aja! Gini – gini gue kuat, tau! =3=" Ruki nempeleng Reita pake sayap kirinya. "Yeah.. sayap kanan gue keserempet peluru dikit, sih~ ^^;"
"Aa—Chotto!" Reita segera melejit mencari – cari sesuatu di sekitar hutan itu.
"Are? Nani yo? 0.0a"
30 menit 27 detik 98 milidetik kemudian….
"Hoaaaahhmm~" Ruki
"Ini, Ru! Gue obatin, yaa~ " Reita nyodorin selembar(?) daun yang berwarna hijau *yaiyalah!* kemudian membalut luka di sayap ruki dengan daun itu.
"Ittaaaaaiii! w Itu daun apaan, Rei?"
"0.0 sakit, yah? Ini daun.. nggatau juga, sih. Kata emak(?) gue ini bisa nyembuhin luka ."
"Awas aja kalau tambah parah =_=#"
"Tenang aja, chibi~"
PLAAAKKK!
Tampar Ruki pada Reita hingga Reita terjengkang di batang pohon kelapa di depannya. "Jangan panggil gue CHIBI!"
"Hee? O.o Nandeeee~?"
"Aaaaaaarrrggghhh pokoknya jangaaaannn! Atau gue manggil lu PESEK tiap hari!"
"Nggapapa, yang penting gue bisa manggil lu CHIBI~" Ledek Reita sambil monyong - monyongin(?) bibirnya.
"Peseeeekkk!"
"Chibi~~"
"Peseeekkk!"
"Chiii~~ Bii~~"
Yah, begitulah… Author jadi bingung sendiri -_- Kita persingkat waktu aja deh~
=XxX=
Akhrinya, setelah beberapa hari berjalan kaki….. Reita dan Ruki pun sampai di tempat tujuan mereka. Apalagi kalau bukan negeri di mana buanyaaaaaakkk banget manungsa - manungsa mini seukuran Reita. Dan karena mereka (ReitaRuki) adalah orang - orang yang beriman memiliki jiwa kedisiplinan(?) yang tinggi, sebelum memasuki gerbang itupun mereka segera mengurus paspor, SIM, KTP, STNK, Kartu Keluarga, Surat Asuransi, Pajak, Credit Card dan sebagainya. *abaikan*
"Hohoho~ selamat datang orang asiing~ ^0^" Sambut seseorang berjubah(?) layaknya ksatria baja karatan. "Fufufu~ perkenalkan, saya raja di negeri nan mungil ini. Nama saya Kamijo Yutaka~" Katanya sambil menggigit sebatang mawar merah dan memasang tampang sok romantis.
CROOOOOTTTT!
Ruki dan Reita mimisan dan muntah darah di tempat. *abaikan* Mereka ngga habis pikir, rajanya aja keak gini gimana rakyatnya? -.-
"Ayah! Sudah kubilang, kan? jangan buat korban lagi, dong!" Cerocos seorang gadis berkulit putih dan berlesung pipi yang tiba - tiba saja datang entah darimana.
"Lho? Apa aku kurang romantis, yah? Oh tidaaaaaakk~!" Teriak Kamijo histeris dan segera kabur dari TKP dengan lebaynya. Gadis tadi hanya berdecak kesal.
"Eeh, kalian tidak apa - apa? Maafkan ayahku, yah " Katanya sambil membantu Ruki dan Reita. "Ngg.. Namaku Uke yutaka. Panggil saja Kai. Hehehe~ ^^" Kata gadis itu sambil mengajak kedua lawan bicaranya berjabat tangan.
"Ee—aku.. Ruki. Lalu ini temanku, Reita. Panggil saja pesek."
DUAAAGGH
"Jangan panggil PESEK!"
=XxX=
"Hoo.. Jadi Reita dan Ruki, yah ^^" Kamijo meminum habis bir di tangannya. Sekarang mereka ada di ruang makan istana. Sebagai putri kerajaan yang baik, tentu saja Kai harus memperlakukan tamunya dengan baik, bukan? Bahkan dia sendiri yang memasakkan makanan untuk mereka.
"I-iya. Ungg… Kamijo-sama."
"Fufufu~ tidak perlu seformal itu. Panggil saja aku Yuta-kun. Hahahahaha!"
"Ayah, kau mabuk~ x_x" Kata Kai.
"Ah, mana mungkin ayahmu yang baik hati, rajin menabung dan tidak sombong serta patuh pada perintah orang tua, nenek-kakek, buyut serta cicit ini mabuk, putriku sayang~?" Ucap Kamijo ngasal sambil senyum - senyum najong. "Aku tidakk-"
BRUUUUKKK
Kamijo tiwas terkapar di tempat dengan kepala di bawah kaki di atas.
"Kamijo-sama!" Beberapa maid berpakaian kebaya *wkwkwk* segera menggotong(?) Kamijo dengan seluruh kekuatan mereka hingga titik darah penghabisan *lebay*.
"Ah, maafkan ayahku. Dia memang suka mabuk…" Kata Kai.
"Eeh? Tidak apa - apa, kok." Ruki tersenyum. Sementara Reita lahap banget makan sayur asem plus tahu-tempe bacem bikinannya Kai. Wakwakwak~
=XxX=
"Gochisosama~" Ucap Reita setelah menghabiskan 3 porsi sayur asem dan belasan potong tahu dan tempe bacem. *sugoooii =_=d*
"Kau suka makananku?" Tanya Kai. "Aku memasaknya sendiri, lho ^^"
"Eh? Ini masakan buatanmu? O.o"
"Iya ^^ sebagai wanita tentu saja aku harus bisa memasak, kan?"
"….." Reita
"A-apa ada yang salah dengan kata - kataku barusan? O.o" Tanya Kai gugup.
"Ti—tidak. Tidak ada kan, Rei?" Ucap Ruki.
"Eeee-…" Reita
"?" Kai
"….." Ruki
[AN (Author Ngebacot) : gomen, ide abis m(_ _m)]
=XxX=
Sore yang adem - adem panas(?) di empang belakang istana Kamijo….
"Kai-chaaaaann~ ( /^0^/)" Kamijo meluk - meluk putri tersayangnya yang lagi bengong di depan jamban *plaakk* empang. "Apa yang kau lakukan disini, nak?"
"Aaaaarrrggghhhh lepaskan aku, ayaahhh!"
"Hohoho~ gomen gomeeenn~ ^0^" Ucap Kamijo setelah melepas pelukannya. "Kau masih imut seperti dulu, sih~"
GUBRAK Author
"Urrggghh, pokoknya jangan peluk aku seperti itu!"
"Kenapaaa~? TT-TT kau kan anakku, Kai-chaann~"
"….. 3" Yah, Kai ngambek.
"Fufufu~ baidewaibaswei, ayah punya calon buat kamu, lho~"
"…. =_="
"Hee? Ekspresinya jangan gitu, dong~ yang ceria dikit~" Kamijo nowel - nowel pipi Kai.
"…..Calon babu?"
"Bukan~ T_T"
"Jadi?"
"Tentu saja calon suami, sayaangg~ ^0^"
GUBRAK Author
DUAAKK
Begitulah soundeffect(?) nya ketika Kai meninju Kamijo dengan penuh perasaan *halah*. "Nggamau!"
"Heeeeeeee~?"
"Kemarin - kemarin ayah bilang mau ngasi calon suami pangeran tetangga sebelah buat Kai! Tapi ternyata itu pangeran kodok yang bener - bener dari spesies kodok sawah! Terus minggu lalu calonnya malah ketuker sama calon babu! Terus bulan lalu ada pangeran tetangga seberang ngelamar. Ternyata dia itu cuma bisa nge-lipsynch lagu macapat! Abis itu belum lagi pas ayah ngasi calon dari Indonesia(?), tapi ternyata dia itu om - om ganjen yang suka senyum najong di perempatan lampu merah! Sekarang apa lagi?" Kai ngomongnya tanpa titik koma apalagi samadengan, tanda tanya atau tanda seru.
"Tidak benar, Kai~ calonmu ini lebih baik dari calon yang kemarin - kemarin~"
"Dia suka senyum najong di depan kantor polisi gitu?"
"Tentu saja bukan. Hohoho~"
"…. =3="
"Heihei, kau masih ingat Reita, kan? Kayaknya bagus tuh kalau jadi menantu ayah. Fufufu~"
Blush~
Pipi Kai memerah. "Eeh? Re-Reita? O/O"
"Hohoho~ pipi kamu merah~ kalo gitu tiga hari lagi kita adakan pestanya~" Ucap Kamijo santai lalu melenggang masuk ke dalam istana sambil memainkan setangkai mawar merah yang entah didapat darimana. Sementara Kai hanya menatap punggung besar ayahnya bengong.
=TBC~ XDD=
TBC lagee~ XDDDDDDD
Kayaknya satu atau dua chapter lagi selesai nih. Ufufufufu~
Review? Komen? Curhatan? Kritik? Saran?
Klik tombol di bawah ini
No flame please~
Regards,
Akiyama Kaira
