CHAPTER 3: MASA PACARAN

Cerita kali ini membahas mengenai Cloud dan Tifa yang sudah memasuki masa pacaran! Read n Reply please

Setelah Cloud 'menembak' Tifa di Forgotten Capital tadi, setelah momen berharga tadi, status keduanya pun selangkah lebih maju, yaitu 'Pacaran'! Ya, akhirnya dua insan yang sudah lama berada di mabuk cinta ini bisa bersatu juga(hahaha). Setelah mereka berdua berciuman, keduanya pun melepaskan ciuman itu masing-masing, kalo kelamaan kan entar gak bisa nafas hehehe, yang pasti kisah mereka di Forgotten Capital ini masih berlanjut, dan saat ini, mereka sedang duduk di pinggir danau, berduaan, seolah-olah dunia hanya milik berdua.

"Cloud...", kata Tifa sambil menyenderkan kepalanya di pundak Cloud.

"Ya?", jawab Cloud.

"Kau tahu? Rasanya aku bahagia sekali hari ini", ucap Tifa sambil tersenyum.

"Ya, kau sudah mengucapkannya beberapa kali tadi", balas Cloud sambil memeluk Tifa.

"Aku tahu, hanya saja, aku benar-benar bahagia, dan tak kusangka hari ini akan datang", kata Tifa.

"Begitukah? Kau tahu? Aku sudah lama menginginkan momen seperti ini muncul", kata Cloud sambil tersenyum.

"... Aku juga Cloud, mungkin kau memang tidak menyadarinya, tapi aku sudah tertarik denganmu sejak usia kita masih belasan", ucap Tifa, Cloud hanya diam mendengarkan.

"Mungkin lebih tepatnya, sejak kau berjanji kepadaku bahwa kau akan datang kepadaku jika aku dalam bahaya... seperti waktu kau datang kepadaku saat aku diserang oleh Sephiroth", kata Tifa.

"... Tifa, aku tak ingin membicarakan itu", ucap Cloud yang murung.

"Hm? Kenapa Cloud?", kata Tifa yang tiba-tiba heran.

"Karena... aku tak dapat menyelamatkanmu saat itu", kata Cloud. Mendengar itu, Tifa memegang pipi Cloud dan menghadapkan wajah Cloud ke wajahnya.

"Aku tidak mempermasalahkan soal itu, lagipula setelah itu, kau kan sudah sangat sering menyelamatkanku", kata Tifa, Cloud masih murung.

"Cloud... kau tak perlu murung begitu, waktu Bahamut menyerang Midgar dan aku nyaris tertimpa bangunan, kau kan langsung datang menyelamatkanku dan Denzel. Sebenarnya kau sudah sering menyelamatkanku kok", kata Tifa sambil menyemangati Cloud.

"Tifa... terima kasih, karena kau selalu mendukung dan menerimaku, kurasa aku takkan bisa menemukan orang lain sepertimu...", kata Cloud yang mulai tersenyum lagi.

"Untuk apa berterima kasih padaku? Sudah seharusnya kan aku melakukan hal itu pada orang yang sangat berharga bagiku", kata Tifa, sambil tersenyum seperti biasanya.

Mereka berdua pun bermesraan disana, dan mereka lupa kalau mereka meninggalkan Denzel dan Marlene di bar.

KRINGG! HandPhone Cloud pun tiba-tiba berbunyi, saat dilihat ternyata itu dari 7th Heaven.

"Halo?", jawab Cloud.

"Cloud, kenapa kau tak pulang-pulang?", ternyata yang menelpon itu Marlene.

"Oh iya, Marlene maaf, kita berdua akan segera pulang..", kata Cloud, "di bar tak terjadi apa-apa kan?"

"Tidak... tapi aku lapar, dan aku capek...", kata Marlene.

"Maaf... maaf, nanti aku dan Tifa akan segera pulang", kata Cloud.

"Sungguh? Ya sudah, cepat ya Cloud!", kata Marlene sambil menutup teleponnya.

"Marlene ya?", tanya Tifa.

"Iya... mungkin kita sudah saatnya pulang", kata Cloud.

"Baiklah, lagipula kita sudah cukup lama disini, ayo kita pulang... anak-anak bisa kelaparan nanti", kata Tifa sambil tersenyum.

"Iya, ayo...", kata Cloud.

Kemudian mereka berdua pun bangkit berdiri, dan yang kali ini baru mereka lakukan lagi adalah... bergandengan tangan! Saat berjalan menuju fenrir, Cloud langsung menggenggam tangan Tifa, Tifa sempat kaget namun ia langsung menanggapinya, toh Cloud yang sekarang kan merupakan kekasihnya, jadi hal itu wajar untuk dilakukan.

"Ayo Tifa... kau naik", kata Cloud.

"Ng!", kata Tifa.

Suasana pulang kali ini berbeda jauh dengan saat datang tadi, suasana pulang kali ini begitu hangat, karena Tifa selalu memeluk tubuh Cloud sepanjang perjalanan, Cloud hanya tersenyum sambil memegang tangan Tifa dengan tangan kirinya, kenapa tangan kiri? Ya tangan kanannya kan buat nge-gas hehehehe, "Tifa, aku sungguh mencintaimu", kata Cloud dalam hati.

Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya Cloud dan Tifa sampai juga di 7th Heaven. Saat Tifa hendak turun, Cloud memegang tangan Tifa dan membantunya untuk turun, sebuah hal yang tidak biasa dilakukan oleh pria tampan tapi pemalu ini.

"Kau mau berubah jadi pria romantis ya Cloud?", kata Tifa yang menggoda.

"Entahlah, aku hanya merasa kalau aku harus melakukan ini untukmu", jawab Cloud sambil tersenyum.

"Tak usah Cloud, aku kan bisa turun sendiri", ucap Tifa.

"Sudahlah Tifa, tanganmu sudah terlanjur kupegang", kata Cloud.

Akhirnya meski sebenarnya hal ini tak perlu dilakukan, Cloud membantu Tifa turun sambil memegang tangannya, Tifa menjadi malu-malu sendiri. Dan saat mereka membuka pintu pun, mereka berdua masih berpegangan tangan dengan mesranya.

"Tadaima!", ucap Cloud dan Tifa berbarengan.

"Okaeri! Loh...", tiba-tiba Marlene terfokus pada sesuatu, ternyata ia terfokus pada tangan Cloud dan Tifa yang saling berpegangan.

"Kenapa Marlene?", tanya Tifa.

"Cloud! Kau berhasil!", teriak Marlene sambil memeluk Cloud.

"Iya Marlene, semua ini berhsil juga berkat bantuanmu", kata Cloud sambil mengelus kepala Marlene.

"Terima kasih Marlene, kalau tak dibantu olehmu aku juga takkan bisa mengutarakan perasaanku selama ini", kata Tifa.

"Masa? He he he", kata Marlene.

"Kau sudah lapar kan? Aku akan memasak sekarang, kau mau makan apa?", tanya Tifa.

"Apa saja boleh Tifa, aku sudah lapar nih", kata Marlene sambil manyun.

"Baik-baik, aku akan membuatkan makanan untuk kau dan Denzel", kata Tifa.

"Oh Tifa, biar kubantu", kata Cloud.

"Tak usah Cloud, lebih baik kau temani Denzel dan Marlene saja... tenang saja aku akan cepat memasaknya", kata Tifa sambil berjalan menuju dapur.

"Baiklah, Marlene, kau ajak Denzel kesini", ucap Cloud.

"Ng!", setelah itu Marlene langsung menaiki tangga menuju ke kamarnya untuk memanggil Denzel.

Lauk yang dimasak Tifa hari ini adalah Nikkujaga, Misosiru, dan Tamagoyaki. Marlene dan Denzel sungguh kaget melihat masakan Tifa yang bisa dibilang saat itu cukup banyak.

"Wow! Tifa, semua ini tampak enak!", kata Marlene.

"Wah! Tifa, kau memang hebat dalam memasak!", kata Denzel.

"Tentu saja! Masa kalian baru tahu hal itu?", kata Tifa sambil melepaskan celemeknya.

"Oke, kita ma...", kata Denzel dan Marlene yang hendak mengambil makanannya.

"Eits! Tunggu dulu!", tiba-tiba Tifa meng-stop mereka.

"L... lho, kenapa?", Denzel dan Marlene pun menjadi kecewa.

"Kalian harus cuci tangan dulu, tangan kalian kan kotor", kata Tifa.

"*sigh* iya", Marlene dan Denzel pun menghela nafas, tanda kecewa.

"Cloud, temani mereka gih, kau sekalian cuci tangan juga", kata Tifa sambil mencuci tangannya di wastafel.

"Oke, ayo Marlene, Denzel. Kita cuci tangan", kata Cloud.

Setelah cuci tangan, (tentu saja) mereka makan malam.

"Itadakimas", ucap semuanya.

"Hm... Tifa, enak banget rasanya!", kata Denzel sambil mencoba Tamago-nya.

"*munch* *munch* coba Nikkujaga ini Denzel! Ini juga enak", kata Marlene yang tak kalah hebohnya.

"Hei, nanti kalian tersedak loh", ucap Cloud yang geli melihat tindakan mereka.

"Habisnya ini enak sekali Cloud *munch*", kata Denzel.

"Hahaha, kau ada-ada saja Denzel", kata Tifa.

"Ini sungguhan kok Tifa!", kata Marlene yang juga lagi seru-serunya(makan).

"Sudah, sudah, nanti kalian tersedak sungguhan loh, nih kalian minum ini", kata Tifa sambil menyodorkan air putih ke Marlene dan Denzel.

Saat Tifa memperhatikan Cloud makan, tiba-tiba Tifa mendekatkan kursinya ke Cloud, membuat Cloud agak bingung dan menatapnya.

"Kenapa Tifa?", tanya Cloud.

"Ini, ada nasi di pipimu", kata Tifa sambil mengambil sebutir nasi di sekitar mulut Cloud dan melahapnya, "makannya yang rapi sedikit dong."

"Ah, iya", kata Cloud yang malu.

Baru saja Tifa merapikan makanan di pipi Cloud, tiba-tiba setelah Tifa minum Misosiru, Cloud mendekatkan kursinya ke kursi Tifa.

"Tifa, sini", kata Cloud.

"Ng? Kenapa Cloud?", tanya Tifa.

Tiba-tiba wajah Cloud mendekati Tifa, dan mulutnya menjilati sup yang ada di sekitar mulut Tifa, Denzel dan Marlene yang melihatnya sampai kaget dan melotot.

"He... hei Cloud! Ada anak-anak di depan!", kata Tifa yang mukanya memerah.

"Kau sendiri juga makannya tak rapi... jadi ya kubersihkan", kata Cloud sambil tersenyum.

"Ah... kau ini!", kata Tifa sambil mendorong Cloud, "Ini kan bukan tontonan anak-anak!"

"Hmp", kata Cloud.

"Um... Tifa, Cloud, aku dan Denzel sudah selesai", kata Marlene yang mukanya memerah.

"I.. iya, kami ke atas dulu ya", kata Denzel yang mukanya juga memerah.

"Oh, iya... taruh saja disitu, nanti aku akan mencucinya", kata Tifa, setelah itu Marlene dan Denzel pergi ke kamar mereka.

"Tifa, kau mau jalan-jalan keluar?", tanya Cloud.

"Malam ini?", tanya Tifa.

"Iya, malam ini, aku ingin mengajakmu ke memorial statue", kata Cloud.

"Oh... boleh-boleh saja kok, tunggu aku merapikan piring dulu ya, tapi anak-anak bagaimana?", kata Tifa.

"Kurasa mereka sudah tidur, malam-malam begini mereka tidak akan kemana-mana, kau kunci saja pintunya", kata Cloud.

"Hmm... oke deh", kata Tifa sambil merapikan piring dan gelas.

Setelah itu, Tifa mengunci pintu depan bar dan berjalan kaki dengan Cloud, ya jalan kaki, tanpa menaiki fenrir. Dan sambil bergandengan tangan juga tentunya, inilah percakapan mereka selagi jalan-jalan.

"Cloud, tumben kau tak menaiki fenrir", kata Tifa.

"Iya, aku ingin berjalan berdua saja denganmu soalnya", kata Cloud.

"Begitu ya, kenapa kau tiba-tiba kau ingin mengajakku jalan-jalan pas malam Cloud?", tanya Tifa.

"Oh.. kalau soal itu, aku memang ingin sekali membicarakannya denganmu", kata Cloud.

"Oh ya? Memang apa sebabnya?", tanya Tifa.

"Kau tahu? Sebelum aku menyatakan perasaanku padamu, aku sungguh iri melihat pasangan lain yang dapat bermesraan di sepanjang jalanan Midgar saat malam seperti sekarang ini", kata Cloud.

"Masa? ", kata Tifa yang sempat terheran.

"Aku serius Tifa, waktu itu aku benar-benar iri dan berpikir, kenapa aku tak seperti mereka...", kata Cloud sambil menatap langit.

"Cloud... maafkan aku, andai aku bisa mengutarakan perasaanku lebih cepat", kata Tifa. Cloud tersenyum mendengarnya.

"Tak usah minta maaf Tifa, buktinya sekarang kita bersama, dan akhirnya kita berdua berhasil mengutarakan perasaan masing-masing, kau tahu? Aku sangat bahagia", kata Cloud sambil menatap Tifa.

"Cloud... jadi seluruh impianmu sudah terwujud ya?", tanya Tifa, tiba-tiba langkah Cloud terhenti.

"Belum, ada hal lain yang ingin kuwujudkan", kata Cloud.

"Apa itu?", tanya Tifa. Tiba-tiba, Cloud menatap Tifa sambil tersenyum.

"Aku ingin menciummu di samping memorial statue ini", kata Cloud.

"Cloud! Oh, jadi ini rencanamu ya untuk membawaku kesini?", kata Tifa.

"Begitulah, kau mau kan?", tanya Cloud.

"Ya...", kata Tifa.

Cloud pun mendekati wajah Tifa, matanya yang berwarna biru muda terus menatap mata Tifa yang berwarna coklat. Tangan Cloud mulai memeluk tubuh Tifa. Keduanya saling memejamkan mata. Dan sambil disaksikan oleh Memorial Statue dan sinar bulan, keduanya pun berciuman dengan mesranya. Sambil berpikir, "Aku mencintaimu."

HUFF... Akhirnya selesai juga, mohon kritik saran ya