CHAPTER 4 : WISH FOR OUR PICTURE
It's My First Love...
What I'm dreaming of
When I go to bed
When I lay my head upon my pillow
Don't know what to do
Jika kita bernostalgia ke kisah-kisah sebelumnya, potongan lirik dari lagu Nikka Kosta-First Love ini cocok untuk Tifa dan Cloud, ketika keduanya masih tak bisa melakukan apa-apa, tak terbayang deh jika Marlene tak membantu Cloud. Tapi itu dulu, kalau sekarang kisah Cloud dan Tifa mirip seperti lagu ini,
I see a light in the sky
Oh, it's almost blinding me
I can't believe
I've been touched by an angel with love
Let the rain come down and wash away my tears
Let it fill my soul and drown my fears
Let it shatter the walls for a new, new sun
A new day has...come (Celine Dion - A New Day Has Come)
Ya, kali ini Cloud dan Tifa telah menikmati hari-hari baru mereka. Hari-hari baru yang berbeda dari sebelumnya. Hari-hari baru yang menghapus keraguan dan kekecewaan pada hari-hari yang lalu. Hari-hari baru yang juga mendatangkan cinta, serta kebahagiaan. Ah, kalau bicara tentang hal yang puitis kayak gini nanti takkan ada habis-habisnya. Yang pasti, Cloud dan Tifa masih berpacaran hingga kini, malah hubungan mereka semakin mesra semenjak ciuman di Memorial Statue barusan. Dan lagi di cerita ini, kencan mereka masih berlanjut,
"Cloud, bulan hari ini sangat indah", kata Tifa sambil menunjuk bulan.
"Ya...", kata Cloud.
"Cloud, aku jadi ingat waktu itu, saat kau berjanji padaku kalau kau akan melindungiku", kata Tifa.
"Ya, saat itu kita berdua juga sedang melihat bulan disini", kata Cloud.
"Bukan hanya bulan, tapi juga bintang", kata Tifa.
"Bintang ya...", kata Cloud.
"Iya, bintang. Cloud, apakah kau percaya kalau bintang dapat mengabulkan permohonan kita?", tanya Tifa.
"Entahlah, aku belum pernah mencobanya", kata Cloud.
"Kau mau mencobanya? Katanya kalau ada bintang jatuh dan kita membuat permohonan, maka permohonan kita akan terkabulkan", kata Tifa.
"Tapi kapan? Kita kan tak tahu kapan ada bintang jatuh", kata Cloud.
"Memang sih...", kata Tifa yang sedikit kecewa.
"Tifa, kau sudah mau pulang? Sudah jam 11, aku takut anak-anak terbangun dan mencari kita", kata Cloud.
"Oh... iya juga ya, ayo kita pulang", kata Tifa.
Setelah itu mereka berdua berdiri dan karena sudah malam, Tifa jadi menggigil kedinginan.
"Kau kedinginan ya?", tanya Cloud.
"Iya sedikit brrrr...", kata Tifa sambil menggesek-gesek kedua tangannya.
"Tifa, sini", kata Cloud.
Kemudian Cloud merangkul Tifa dan mendekatkan tubuh Tifa ke tubuhnya, dengan maksud untuk membuatnya merasa lebih hangat(tentunya).
"Gimana? Sudah lebih hangat?", tanya Cloud sambil tersenyum.
"Ng... ya", kata Tifa.
"Ayo kita pulang", kata Cloud.
Ketika mereka berdua berjalan pulang berdua, mereka bagaika diiringi oleh lagu Cascada – Everytime We touch, tapi yang mellow version, terutama di bagian lirik,
Cause everytime we touch, I get this feeling
And everytime we kiss, I swear I could fly
Can't you feel my heart beat fast?
I want this to last
I need you by my side
Atau mungkin juga lagunya Martina Mcbride yang judulnya My Valentine, atau mungkin juga... ah, cukup cukup. Setelah berjalan sambil menahan dingin, akhirnya mereka berdua sampai juga di 7th Heaven, Tifa membuka kunci pintu, dan mereka berdua pun akhirnya masuk,
"Rasanya sayang momen hari ini berakhir", kata Tifa.
"Kau mau lebih lama lagi?", tanya Cloud sambil tersenyum.
"Kalau bisa sih aku mau", goda Tifa balik.
"Lain kali jika aku mengajakmu lagi, kuharap bisa lebih lama", kata Cloud.
"Sudahlah! Jangan menggodaku lagi", kata Tifa sambil mengunci pintu lagi, Cloud hanya tertawa kecil.
"Selamat malam... dan selamat tidur Cloud", kata Tifa.
"Selamat tidur juga... Tifa", kata Cloud. Setelah itu, keduanya menuju ke kamar masing-masing.
Di kamar tidur keduanya, mereka tidak langsung tidur, mereka malah duduk di kursi sambil memandangi bingkai-bingkai foto yang ada di meja. Di meja itu ada foto Marlene dan Denzel, foto Cloud bersama seluruh 'party' membernya, ada juga ukiran kayu berbentuk chocobo. Sebenarnya Cloud dan Tifa memiliki harapan yang sama, mungkin bukan harapan yang besar, tetapi yang mereka harapkan dan inginkan adalah... foto mereka berdua yang dibingkai, dan dipajang di meja mereka, "Kapan foto ku dan dia bisa ada disini?", kata keduanya.
Baru saja berkata begitu, tiba-tiba diluar ada sebuah bintang jatuh, Cloud teringat akan ucapan Tifa yang mengatakan jika kita membuat permohonan pada bintang jatuh, maka permohonan kita pasti akan terkabulkan. Sementara Tifa, ia langsung refleks memejamkan mata sambil memohon, "Semoga aku dan Cloud bisa berfoto bersama", sementara Cloud, dia hanya memandang bintang itu karena dia tak terlalu percaya akan hal itu.
Pagi hari pun tiba, Tifa yang terbangun langsung ngulet, ""Hoahhmmm, tidurku nyenyak", kata Tifa. Saat Tifa melihat jam, ternyata waktu menunjukkan pukul 7 pagi, waktu biasa Tifa bangun untuk melakukan ritual pagi hari, seperti mandi, gosok gigi, ganti baju, dan yang pasti adalah... bersiap siap untuk membuka bar. Apalagi Tifa punya langganan yang selalu 'nongkrong' di barnya dari pagi hingga malam, jadinya, harus ekstra kerja keras.
"Ternyata pagi ini sama saja dengan pagi biasanya", kata Tifa sambil menggaruk kepalanya.
Setelah itu, Tifa membuka jendela kamarnya, terlihat di luar pemandangan yang selalu sama, anak-anak yang sudah mulai bermain-main, seorang ibu yang sedang menyapu, ada juga seorang ibu yang sedang menjemur pakaian, sampai-sampai pemandangan aneh seperti kakek tua yang sedang kencing di pinggir jalan (hahaha).
"Hai Tifa", tiba-tiba terdengar suara dari samping, ternyata Cloud. Dia malah ikut-ikutan membuka jendela pas pagi hari.
"Hai... tidurmu nyenyak?", tanya Tifa.
"Begitulah, kau tidak beres-beres di bawah?", tanya Cloud.
"Nanti dulu ah, aku masih ingin menikmati pemandangan luar", kata Tifa.
"Menikmati? Pemandangan di luar kan sama saja", kata Cloud.
"Biarlah... toh, aku tetap suka. Kok tumben kau membuka jendela pas pagi? Biasanya kau langsung turun ke bawah dan minum kopi, ikut-ikutan ya?", tanya Tifa.
"Memang tidak boleh? Aku hanya mau menyapamu kok", kata Cloud.
"Kau ini... sudahlah, aku mau ke bawah dulu", kata Tifa.
Kemudian Tifa berjalan menuju pintu kamar, dan saat pintu dibuka ternyata sudah ada Cloud di depannya.
"Cloud... kau ini", kata Tifa.
"Aku ingin minta sesuatu darimu", kata Cloud.
"Minta apa?", tanya Tifa.
"Hal yang tidak sulit kok...", kata Cloud.
"Apa itu?", tanya Tifa yang semakin terheran.
"Ciuman selamat pagi", kata Cloud sambil tersenyum.
"Hmp, jadi suami istri saja belum tapi kau sudah minta ciuman selamat pagi", kata Tifa sambil tertawa kecil.
"Boleh tidak?", goda Cloud.
"Iya iya, sini", kata Tifa.
Setelah itu Tifa mendekatkan wajahnya ke Cloud dan mencium bibirnya (andai adegan ini ada di FF VII *kecewa*)
"Kau mau apa lagi?", goda Tifa balik.
"Eng... sebenarnya begini, kau mau ikut denganku jalan-jalan nanti?", tanya Cloud.
"Jalan-jalan? Kapan?", tanya Tifa.
"Jam 4 sore... seperti biasa nanti aku yang akan kesini", kata Cloud.
"Boleh-boleh saja kok, memang ada apa? Sudah beberapa hari ini kau mengajakku jalan-jalan terus", tanya Tifa.
"... Nanti kau akan tahu sendiri", kata Cloud sambil tersenyum, "Aku kerja dulu ya."
"Eh, tunggu dulu, kau belum sarapan kan? Ayo makan dulu, aku akan membuat sarapan sekaligus untuk Marlene dan Denzel", kata Tifa.
"Tak usah... aku langsung pergi saja", kata Cloud.
"Hei hei hei, inilah kebiasaan burukmu yang selalu ingin kuubah. Kalau tak sarapan, lama-lama tak baik tubuhmu, sini", kata Tifa sambil menggandeng tangan Cloud.
"H... hei, jangan ditarik terlalu kencang", kata Cloud.
"Kalau tak dipaksa, kau pasti tidak akan sarapan lagi, ayo sini, kau kan sudah kuberi ciuman selamat pagi", kata Tifa.
"Baik... baik", kata Cloud, menyerah.
Setelah sarapan, akhirnya seperti biasa, Cloud dan Tifa bekerja. Tapi akhirnya malah balik seperti di chapter 1, Tifa jadi kepikiran akan rencana Cloud (yang sepertinya) diam-diam lagi. Tapi yah, berhubung mereka sudah berpacaran, Tifa jadi tak terlalu mikirin itu(padahal entah apa hubungannya), "Tuan Takeshi! Ini minumannya!", kata Tifa.
Jam 4 sore pun tiba, seperti biasa Tifa menitipkan barnya ke Marlene dan Denzel. Tapi saat Tifa keluar bar, ternyata sosok Cloud dengan fenrir belum muncul, Tifa pikir, kok tumben Cloud telat. Akhirnya Tifa memutuskan untuk bersandar sambil menunggu.
5 menit...
7 menit...
10 menit...
15 menit...
BRMM! Akhirnya Cloud muncul juga.
"Tifa, maaf aku telat", kata Cloud.
"Kok tumben kau telat?", tanya Tifa.
"Oh, soalnya aku meminjam ini...", kata Cloud sambil menunjukkan tas hitam yang di bawanya.
"Apa itu?", tanya Tifa.
"Kau akan tahu nanti, ayo kau naik", kata Cloud.
Tifa menurut saja seperti biasanya. Tifa kira dia akan dibawa ke Forgotten City lagi, tapi ternyata tidak, kali ini dia dibawa ke tempat lain. Tifa yakin akan itu, karena kali ini Cloud melewati jalan gunung yang rindang, yang di sekelilingnya terdapat padang bunga, "indah...", pikir Tifa. Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, akhirnya Cloud dan Tifa berhenti di suatu tempat, sebuah padang bunga yang sangat luas, dan juga terlihat danau di belakangnya.
"Wow...", Tifa pun terpesona.
"Kau suka kan?", tanya Cloud.
"Kau mengajakku kesini untuk menunjukkan tempat ini?", tanya Tifa.
"Bukan hanya itu kok", kata Cloud sambil mengeluarkan isi dari tas itu, ternyata sebuah kamera!
"Kamera? Jadi...", kata Tifa.
"Iya... selama ini di bar ada foto kita sekeluarga atau bersama dengan anggota Avalanche lainnya. Karena itu, aku ingin memiliki foto bersamamu, kau bersedia kan?", tanya Cloud.
Awalnya Tifa seperti tak percaya, namun akhirnya dia bersedia untuk berfoto dengan Cloud, lagipula mana mungkin sih dia tak bersedia? Dan setelah itupun momen foto-foto dimulai.
Banyak sekali foto yang mereka kumpulkan, mulai dari berpelukan, bergandengan tangan, tertawa bersama, bahkan sampai foto berciuman mereka. Jika dihitung-hitung, ada puluhan.. bahkan seratus lebih foto yang mereka kumpulkan sehingga satu albumpun rasanya takkan cukup. Tetapi hal itu taklah penting, karena yang terpenting adalah : harapan Tifa kepada bintang sudah terkabul, yaitu harapan untuk memiliki foto bersama kekasihnya, Cloud Strife.
