CHAPTER 5
WEDDING PLAN 1
Setelah berfoto-foto sampai puas, Cloud dan Tifa mengambil kameranya dan melihat fotonya satu persatu, sambil duduk di tepi danau.
"Hei Cloud, foto-foto ini sangat bagus", kata Tifa.
"Foto yang mana?", tanya Tifa.
"Semuanya!", kata Tifa dengan gembira.
Momen foto-foto tadi memang menjadi kenangan berharga bagi keduanya. Mereka berdua pun selalu asyik mengutak atik kamera digital itu. Sambil duduk di padang bunga di depannya terdapat danau yang luas.
"Cloud, terima kasih karena kau sudah membawaku kesini, tempat ini sangat indah", kata Tifa sambil meletakkan kepalanya di pundak Cloud.
"Kau suka tempat ini ternyata", kata Cloud.
"Tentu... aku harap aku bisa mengajak anak-anak kesini", kata Tifa.
"Anak-anak ya, tapi, aku ingin berdua saja denganmu disini...", kata Cloud.
"Untuk saat ini sih, aku juga hanya ingin berdua denganmu", kata Tifa.
"Tifa, sebenarnya aku membawamu kesini juga karena aku ingin membicarakan sesuatu denganmu", kata Cloud, yang tiba-tiba jadi serius.
"Ng? Tentang apa?", tanya Tifa.
"Kurasa kita tak mungkin berpacaran terus kan?", tanya Cloud yang membuat Tifa kaget.
"A... apa? Ja... jadi kau mau...", kata Tifa yang tergagap-gagap.
"Iya, aku... aku mau kita", kata Cloud yang (juga) tergagap-gagap.
"Kau mau putus?", tanya Tifa. *gubrak!*
"Bu... bukan! Bukan itu maksudku!", kata Cloud yang panik.
"Hoooh, kukira kau mau putus. Jadi kau mau apa?", tanya Tifa lagi.
Cloud pun terdiam sejenak... mukanya terlihat memerah.
"Mukamu memerah loh...", kata Tifa.
"Anu... sebenarnya, apakah kamu...", kata Cloud yang malu-malu.
"Ya...?", tanya Tifa yang penasaran.
"Itu... anu", muka Cloud pun jadi semakin memerah.
"Apa? Apa? Jangan membuatku penasaran dong", kata Tifa.
"Eng, anu... kau mau kan? Em...", kata Cloud yang masih saja malu-malu, membuat Tifa sedikit kesal juga.
"Cloud, ayo dong katakan!", kata Tifa.
"Tifa... mungkin sudah seharusnya kita menikah", kata Cloud.
JRENG! Sepatah kalimat itu membuat Tifa seolah membeku karena tak percaya, Tifa benar-benar kaget setengah mati mendengar lamaran(?) dari kekasihnya itu.
"K.. kau serius?", tanya Tifa.
"Tentu saja aku serius! Aku.. aku sudah lama ingin melamarmu, kita kan sudah 8 bulan pacaran", kata Cloud.
"Ternyata waktu berjalan dengan cepat ya... tak kusangka sudah 8 bulan", kata Tifa.
"Jadi... kau mau kan kita segera menikah?", tanya Cloud sambil menggenggam tangan Tifa.
"Cloud... tapi, memangnya kau sudah siap untuk hal ini?", tanya Tifa.
"Secara material dan mental, aku merasa kalau aku sudah siap untuk menikahimu, dan juga sudah lama aku memikirkan hal ini, seharusnya tak ada masalah", kata Cloud.
"Sungguh? Tetapi, merajut kehidupan rumah tangga bersamamu memang impianku sejak dulu, bahkan semenjak kita belum berpacaran seperti ini", kata Tifa.
"Jadi jawabanmu?", tanya Cloud.
"Ya... aku mau menikah denganmu", kata Tifa sambil tersenyum.
Setelah itu, keduanya pun berciuman lagi, sambil diiringi oleh suara angin yang berhembus, dan suara burung yang berkicau. Keinginan Cloud selanjutnya pun akhirnya terwujud, yaitu melamar Tifa. Tak bisa dibayangkan sebahagia apa Cloud saat ini, begitu pula Tifa.
"Cloud, apa kau sudah menentukkan dimana kita akan menikah?", tanya Tifa.
"Sejujurnya, belum...", kata Cloud.
"Kau belum menemukannya?", tanya Tifa.
"Iya, soalnya aku sibuk, jadi tak sempat untuk melihat-lihat...", kata Cloud.
"Lalu cincinnya?", tanya Tifa.
""... Belum juga", kata Cloud.
"Ternyata memang belum siap seutuhnya ya", kata Tifa.
"Yah... aku baru saja memikirkan hal itu pagi tadi, jujur saja, aku ingin sekali bisa membahagiakanmu seumur hidup", kata Cloud sambil menggenggam tangan Tifa.
"Cloud... ", kata Tifa.
"Dan juga, aku ingin bisa membahagiakan anak-anak kita nanti", kata Cloud, membuat Tifa kaget.
"A... anak-anak?", kata Tifa sambil terkaget-kaget.
"Iya, jika kita menikah, pasti kita punya anak juga kan? Dengan begitu, kita bisa memberikan sepupu untuk Marlene dan Denzel", kata Cloud yang mantap.
"Um... tapi, kita menikah saja belum", kata Tifa.
"Karena itulah Tifa, aku sebenarnya juga ingin kita bisa bersama-sama menentukkan tempat yang cocok", kata Cloud.
"Um... kapan?", tanya Tifa.
"Kau mau sekarang? Mumpung kita lagi diluar... jadi sekalian", kata Cloud.
"Boleh.. ayo, kita jalan sekarang", kata Tifa.
Setelah keduanya sepakat, Cloud dan Tifa menaiki fenrir dan berjalan menuju ke arah kota Midgar, untuk mencari tempat dan kepentingan pernikahan lainnya. Apakah semuanya berjalan lancar? Yah, kita baca saja ya ceritanya . Pertama-tama, mereka berdua mencari cincin terlebih dahulu, banyak sekali toko cincin yang ada di Midgar, sampai-sampai Cloud dan Tifa bingung mau memilih toko yang mana. Dari toko yang namanya biasa saja seperti "Gold Wedding" sampai toko yang namanya aneh seperti "Marry Me!" pun ada di kota ini. Sebenarnya sih Cloud dan Tifa tidak mau desain cincin yang terlalu 'rame' alias glamour, mereka lebih menyukai cincin yang simpel tapi tak usang dimakan waktu, karena toh, yang penting kan cintanya, bukan cincinnya.
"Hei Cloud, kira-kita toko yang mana ya?", tanya Tifa.
"Yang mana ya? Aku juga tak tahu, aku tak pernah pergi ke toko emas sebelumnya", kata Cloud sambil melihat ke kanan ke kiri.
"Begitu juga aku... banyak sekali toko emas di Midgar, sampai-sampai aku bingung mau memilih yang mana", kata Tifa sambil celingak celinguk juga.
"Hmm... lebih baik kita tetap melihat-lihat", kata Cloud.
Cloud dan Tifa pun melanjutkan celingak celinguk mereka, dan tiba-tiba mata Tifa tertuju pada sebuah toko yang bernama 'King & Queen Jewel' dengan spanduk sebuah cincin emas putih yang desainnya simpel namun memberikan kesan yang sangat elegan. Tifa pun langsung memberi tahu Cloud.
"Hei Cloud, bagaimana kalau kita ke toko itu?", kata Tifa sambil menepuk-nepuk pundak Cloud.
"Ng? Yang mana?", kata Cloud.
"Yang itu loh, yang ada kata-kata King dan Queen nya", kata Tifa sambil menunjuk.
"Ng? Oh... yang itu, kau mau kesana? Kan masih ada lagi toko yang lain", kata Cloud.
"Aku suka dengan desain cincinnya... Cloud, bisakah kita kesana?", kata Tifa.
"Oh... baiklah", kata Tifa sambil mengendarai fenrirnya menuju toko tersebut.
Sesampainya di toko itu, Cloud sempat merasa bahwa toko ini tak begitu mewah dan bagus, malah bisa dibilang biasa saja, Cloud juga sempat berpikir kenapa Tifa bisa terpikir untuk memilih toko ini.
"Selamat datang tuan dan nona..., ada yang bisa saya bantu?", tanya pemilik toko itu.
"Um... saya menyukai desain cincin yang ada di spanduk depan toko ini, apakah saya boleh melihatnya?", tanya Tifa, langsung.
"Oh, tunggu sebentar ya", kata pedagang toko itu.
"Tifa, kau sudah langsung memilih tanpa melihatnya dulu?", tanya Cloud.
"Aku sudah melihatnya kok, dan makanya itu sekarang aku memilihnya", kata Tifa.
"Maksudmu?", tanya Cloud.
"Maaf menunggu, ini cincin yang anda maksud?", kata pedagang toko itu sambil memberikan sebuah kotak, yang isinya sepasang cincin yang sama dengan spanduk di depan.
"Ya! Ya!", kata Tifa sambil melihat-lihat cincin itu.
"Ng Tifa, kau serius ingin memilih itu?", tanya Cloud.
"Iya, kenapa Cloud?", tanya Tifa.
"Um... apakah tak terlalu sederhana untukmu?", tanya Cloud sambil berbisik.
"Oh ya? Aku justru senang yang seperti ini, tidak terlalu mewah, tapi memberi kesan yang dalam", kata Tifa sambil mengamati cincin itu.
"Begitukah?", kata Cloud.
"Yap! Kau tidak menyukai desain ini?", tanya Tifa.
"Justru, aku malah mengira kau yang tidak suka, ternyata tidak ya", kata Cloud.
"Aku sangat menyukainya, Cloud, kita beli ini ya?", kata Tifa.
"Baiklah, kalau kau suka, aku tak masalah. Maaf, berapa harganya?", tanya Cloud.
"Oh, harganya 400.000 gil, terima kasih", kata pedagang itu.
Akhirnya satu persiapan pun selesai, yaitu cincin pernikahan! Untuk desainnya, bayangkan saja yang simpel, tapi tidak terlalu sederhana dan memberikan kesan yang elegan, dan yang pasti terbuat dari emas putih . Pembaca bayangin sendiri ya hehehe.
"Wah, sudah sore ternyata", kata Tifa.
"Iya, lebih baik kita pulang sekarang", kata Cloud.
"Kalau begitu, kapan kita melanjutkan pencarian kita Cloud?", tanya Tifa.
"Hmm... jika kita sempat saja, sekalian menambah penghasilan", kata Cloud sambil tersenyum.
"Begitu ya? Baiklah, ayo kita pulang!", kata Tifa sambil menaiki fenrir.
Akhirnya mereka berdua pun memutuskan untuk pulang, sambil memikirkan apa yang akan mereka cari untuk melengkapi pernikahan mereka nanti. Selanjutnya, apakah yang akan dicari oleh mereka? Tetap baca ya! Maaf kalau saya update nya kelamaan.
