CHAPTER 6

WEDDING PLAN 2

Setelah itu, Cloud dan Tifa pun tiba di 7th Heaven, sambil membawa sebuah bungkusan kecil yang berisi cincin yang dibeli mereka. Tetapi saat mereka hendak masuk, tiba-tiba hujan deras pun turun dan membasahi mereka.

"Uwa! Ayo Tifa! Kita masuk!", kata Cloud sambil membawa bungkusan cincin itu.

"Ah! I.. iya!", kata Tifa sambil menutupi kepalanya dengan tangannya.

Tapi usaha mereka jadi sia-sia, tetap saja mereka jadi basah kuyup karena hujan, tapi tak apalah, yang penting cincinnya selamat . Saat Tifa masuk, Tifa heran karena suasananya gelap, dan lagi, tidak terdengar suara Marlene dan Denzel yang sedang bermain.

"Marlene! Denzel! Dimana kalian?", teriak Tifa sambil memasuki rumah.

Saat Tifa mengecek satu persatu ruangan, mata Cloud tiba-tiba tertuju pada selembar kertas memo di atas meja bar. Cloud pun langsung mengecek kertas memo itu dan membaca isinya.

Untuk Tifa dan Cloud,

Tadi ayah tiba-tiba datang ke bar bersama yang lain, dan ayah mengajakku untuk pergi mengajakku dan Denzel untuk menginap di tempatnya, jadi aku dan Denzel akan menginap selama 2 hari disana. Tenang saja, tamu hari ini tak banyak kok, dan aku sudah mengunci bar seperti yang Tifa selalu pesankan. Jadi, jangan cemas ya.

Dari Marlene

"Um, Tifa!", kata Cloud.

"Kenapa Cloud? Kok mereka berdua tidak ada ya?", tanya Tifa sambil menuruni tangga.

"Mereka pergi menginap di tempat Barret", kata Cloud.

"Hah? Kau tahu dari mana?", tanya Tifa.

"Ini, baca ini", kata Cloud sambil menyerahkan memo itu.

"Ng? Apa ini?", tanya Tifa sambil membaca isi memo itu.

"Pesan dari Marlene...", kata Cloud.

"Hm... ternyata Barret seenaknya membawa Marlene tanpa menghubungiku", kata Tifa.

"Yah, setidaknya Marlene masih berinisiatif untuk memberi tahu kita", kata Cloud sambil memegangi rambutnya yang basah.

"Hei Cloud, lap rambutmu dan ganti baju sana, kau basah kuyup tuh", kata Tifa.

"Oh? Iya, aku ganti baju dulu. Kau juga jangan lupa ganti", kata Cloud.

"Tenang saja, kita bareng saja deh kalau gitu", kata Tifa sambil menggandeng tangan Cloud.

"Ng... bareng?", kata Cloud.

"He... hei bukan ganti bajunya! Maksudku kita naik bareng-bareng", kata Tifa yang mukanya memerah.

"O... oh", kata Cloud, yang sedikit kecewa juga.

Setelah itu keduanya berjalan menaiki tangga, dan dari luar bisa terdengar suara hujan yang semakin deras, suara anginnya pun juga kencang. Cloud dan Tifa pikir mungkin di luar itu ada hujan badai, lalu sesampainya di depan kamar,

"Aku masuk dulu ya", kata Cloud.

"Iya, selamat malam, Cloud", kata Tifa.

Keduanya pun memasuki kamar masing-masing, kemudian Tifa segera mengambil baju gantinya dari lemari dan mengganti bajunya yang basah, setelah itu ia pun langsung bebaring di tempat tidur miliknya. Sementara Cloud, ia memilih untuk tak pakai baju, hanya pakai celana panjang saja, habisnya dia merasa panas meski diluar hujan. Malam dan waktu pun terus berjalan, dan hujan pun juga semakin deras, sampai-sampai suara halilintarnya terdengar sangat keras dan semakin sering terdengar. Dan parahnya, Tifa takut petir, dia jadi ketakutan untuk tidur sendiri.

"Uh...", kata Tifa sambil mendekam di dalam selimut.

Tifa mencoba untuk tidur, tapi tetap tidak bisa, suara petir itu sangat mengganggunya. Akhirnya dia jadi ketakutan sendiri.

"Ah... takut ", katanya sambil menutup telinga.

Karena sudah tidak tahan, akhirnya Tifa bangun sambil memeluk gulingnya dan keluar. Kemanakah dia? Ke kamar Cloud! Karena Tifa takut, dia jadinya ingin ditemani, biasanya sih Tifa kabur ke kamar anak-anak (yang juga takut petir), kalau sama anak-anak kan bisa berlagak kuat, dalam arti gengsi. Karena sekarang anak-anak tak ada, Tifa tak bisa lagi berlagak kuat (hahaha).

TOK TOK TOK (suara Tifa mengetok pintu kamar Cloud)

"Cloud? Kau sudah tidur?", tanya Tifa dibalik pintu.

"Ngh...? Tifa?", kata Cloud yang terbangun.

"Maaf aku membangunkanmu, tapi bolehkah aku masuk?", kata Tifa.

"Oh... tunggu sebentar", kata Cloud sambil bangun dari tempat tidur dan membukakan pintu tak lama kemudian.

"Ah!", Tifa pun terkejut ketika melihat Cloud yang telanjang.

"Ha? Oh maaf, panas soalnya", kata Cloud, "Kau mau masuk?"

"Ng.. iya, panas?", kata Tifa yang malu-malu.

Tifa pun memasuki kamar Cloud, saat dilihat ternyata kamar Cloud rapi juga, tidak berantakan seperti bayangan Tifa sebelumnya.

"Maaf, aku mengganggumu tidur", kata Tifa sambil duduk di ranjang.

"Tak apa, memang kenapa?", tanya Cloud sambil duduk di sebelah Tifa.

"Aku... aku takut petir", kata Tifa.

"Kau takut petir?", kata Cloud yang agak heran.

"I... iya, sejak kecil aku takut", kata Tifa yang malu-malu. Cloud pun tersenyum.

"Ya sudah, kau disini saja, kau tidur di ranjangku saja", kata Cloud.

"Lalu kau tidur dimana?", tanya Tifa.

"Aku bisa tidur di sofa sana", kata Cloud. 'sana' yang dimaksud tuh maksudnya di depan ranjang.

"Ah! Ja.. jangan! Kita tidur bareng saja!", kata Tifa yang kelepasan mengucapkan kalimat yang bisa bikin salah sangka, "Ah..."

"Ba... bareng?", Cloud pun kaget.

"A... a.. a... maksudku, aku takut tidur sendirian sekarang", kata Tifa yang malu-malu, "... kau mau kan?"

"Anu... aku", Cloud pun jadi salah tingkah.

"Bu... bukan dalam arti aneh-aneh kok! Aku hanya mau ditemani saja", kata Tifa, sambil memegang tangan Cloud.

"... baiklah", kata Cloud yang akhirnya setuju juga.

Akhirnya keduanya tidur di ranjang yang sama, tapi hanya tidur bareng kok, gak melakukan 'itu', lagipula ini kan cerita buat remaja hehehe, atau bayangin aja sendiri :p. Selama di tempat tidur, Cloud dan Tifa sama-sama salah tingkah dan malah jadi tak bisa tidur, terutama Tifa. Karena sama-sama tak bisa tidur, akhirnya Tifa memutuskan untuk memulai pembicaraan, berhubung wajah mereka juga saling berhadapan.

"Kau belum tidur Cloud?", tanya Tifa.

"Belum, aku mencemaskanmu, jadi lebih baik aku menunggumu tidur", kata Cloud.

"Tak usah sampai begitu, kau tidur saja jika memang ngantuk", kata Tifa, "Kok kau bisa-bisanya tidak pakai baju saat diluar hujan kayak gini?"

"Oh, soalnya aku merasa panas", kata Cloud.

"Panas? Harusnya sih orang normal merasa dingin di saat begini", kata Tifa.

"Jadi aku tak normal?", tanya Cloud sambil tersenyum.

"Yah, sedikit. Oh ya Cloud, kira-kira besok kita cari apa lagi ya?", tanya Tifa.

"Untuk pernikahan?", tanya Cloud.

"Iya, kita kan sudah beli cincin, sekarang beli apa lagi?", tanya Tifa.

"Apa ya? Baju?", kata Cloud.

"Baju? Um.. boleh saja sih. Ngomong-ngomong kau masih mau kerja juga besok?", tanya Tifa.

"Sepertinya tidak, aku ingin fokus dulu untuk persiapan pernikahan kita nanti", kata Cloud.

"Oh... kalau begitu aku juga akan libur besok, supaya bisa pergi fitting", kata Tifa.

"Makanya itu, sekarang kau tidur saja, ada aku disini, kau tak perlu takut", kata Cloud.

"Ng, tapi...", kata Tifa.

"Tidurlah, biar kita bisa bangun pagi besoknya", kata Cloud, yang setelah itu mencium kening Tifa.

"... iya", kata Tifa yang perlahan memejamkan matanya.

Melihat Tifa yang sudah tenang, Cloud pun tersenyum. Setelah itu ia memeluk Tifa dengan tangan kanannya, seperti yang dulu Zack lakukan padanya menjelang kematiannya. Tifa yang mengalaminya hanya tersenyum dan memeluk Cloud, jadi malam itu mereka berdua tidur sambil berpelukan, dan yang lebih penting, Tifa tidak lagi menghiraukan suara petir yang terus menghantui dan menakutinya.

...

...

...

...

Suasana tiba-tiba berubah, tiba-tiba Tifa berada di dalam sebuah ruangan, bukan, bukan ruangan.

"Gereja?", gumam Tifa.

"Tifa, kau tampak cantik hari ini", tiba-tiba terdengar suara, suara Cloud.

Tunggu, Cloud? Lalu ini dimana? Bukannya tadi aku masih tidur? Kok sekarang aku ada di tempat lain? Dan dia bilang apa? Cantik? Begitulah isi pikiran Tifa yang kebingungan. Saat Tifa melihat dirinya, ternyata ia sedang mengenakan gaun pengantin berwarna putih model kemben dengan rok yang bagian depannya membelah dua seperti sayap, lengkap dengan bulu-bulunya. Dan lagi, ia juga mengenakan sepatu bot yang berwarna putih juga. Sementara rambutnya tetap digerai, hanya dipasangi mahkota dan tudung transparan (pastinya ya)

"Di... dimana ini?", kata Tifa.

"Jangan bercanda Tifa, kita kan mau menikah", kata Cloud, yang saat itu terlihat sangat tampan. Saat itu Cloud mengenakan jas berwarna putih, begitu pula dengan sepatu, kemeja dan celana panjangnya, sementara dasinya berwarna silver.

"Tifa, aku akan membahagiakanmu seumur hidup", kata Cloud sambil memegang tangan Tifa.

GUBRAK!

"(hosh)... (hosh)", Tifa tiba-tiba terbangun, ternyata semua itu mimpi, "Mi... mimpi?"

"Ng... Tifa? Kenapa kau terbangun?", kata Cloud yang terkejut.

"Ma... maaf, aku barusan bermimpi", kata Tifa.

"Mimpi? Mimpi buruk?", tanya Cloud.

"Tidak sih, tapi... eh tunggu! Sudah pagi ya?", kata Tifa. Ternyata memang sudah pagi, tepatnya jam 7, "Kita bangun yuk, aku akan membuatkanmu sarapan, kau mandi saja dulu."

"Tak usah terlalu buru-buru begitu", kata Cloud.

"Tak apa-apa, lebih cepat lebih baik", kata Tifa sambil bangun, "Pokoknya kau mandi dulu sana, biar bisa gantian."

"Iya iya...", kata Cloud sambil bangun dan membereskan selimut.

Tak lama kemudian, Cloud pun pergi mandi sementara Tifa menyiapkan sarapan di bawah. Selagi memasak, Tifa terus memikirkan mimpi itu dengan wajah yang memerah.

"Yang barusan itu... sungguhan?", gumam Tifa.

Tifa terus memikirkan hal itu, sampai-sampai tak sadar nasi goreng yang dimasaknya hampir gosong.

"Tifa, gosong tuh", kata Cloud yang muncul dengan tiba-tiba.

"Ah! Maaf-maaf!", kata Tifa yang terkaget.

"Kau kenapa? Sejak tadi kayaknya kau agak aneh", kata Cloud sambil duduk di meja makan.

"Ma... masa?", kata Tifa.

"Iya, cara bicaramu juga jadi sering gagap", kata Cloud.

"Ah... tidak kok, i...ini sarapannya! Aku mandi dulu!", kata Tifa, sementara Cloud Cuma berpikir sepertinya ada yang aneh dengan kekasihnya itu.

Di dalam kamar mandi saat sedang berendam, Tifa cuma bisa menghela nafas sambil berkata 'tenang, tenang' pada dirinya, meski dalam hati dia sangat berharap mimpi itu akan jadi kenyataan. Yah, masa iya sih dia gak berharap? He he he.

Kita skip ya, setelah sarapan, mandi, dan mengunci pintu bar, Cloud dan Tifa akhirnya mencari persiapan kedua, yaitu pakaian! Kini saatnya Tifa dan Cloud mencari baju untuk pernikahan mereka. Dan kebetulan, di Midgar baru saja dibuka toko baju pengantin, sehingga mereka tak perlu repot-repot lagi mencari-cari. Dan sesampainya disana,

"Wow, tokonya lumayan besar", kata Tifa.

"Begitukah?", kata Cloud sambil memarkir fenrirnya.

"Menurutku sih begitu, kita masuk yuk", kata Tifa.

Lalu, mereka berdua pun berjalan memasuki toko itu. Karena toko itu baru, di dalamnya nyaris tidak ada pembeli. Paling hanya ada 4-5 pasangan yang sedang melihat-lihat dan fitting.

"Tifa, kau suka gaun yang seperti apa?", tanya Cloud.

"Apa saja, yang penting aku menyukainya", kata Tifa, "Bagaimana denganmu?"

"Aku? Aku tak begitu mengerti hal seperti ini, tak tertarik juga", kata Cloud.

"Kalau begitu biar aku yang pilihkan untukmu, kau mau kan?", tanya Tifa.

"Tentu saja aku mau", kata Cloud sambil tersenyum.

Ketika mereka berdua sedang bercakap-cakap, seorang pramuniaga datang menghampiri mereka.

"Selamat datang tuan dan nona, apakah ada yang bisa saya bantu?", kata pramuniaga itu.

"Ah iya, tolong bawa saya melihat-lihat seluruh gaun dan jas", kata Tifa.

"Baiklah, mari ikuti saya", kata Cloud.

Setelah itu, mereka berdua pun diajak melihat-lihat seluruh gaun, jas, serta asesoris lainnya. Gaunnya bermacam-macam, ada gaun yang dilapisi kristal, ada gaun yang berlengan panjang, bahkan ada juga gaun berleher panjang. Tetapi tiba-tiba mata Tifa tertuju pada gaun yang sama persis seperti di dalam mimpinya, dan entah mengapa, Tifa langsung menyukai gaun itu.

"Maaf, bisa tolong keluarkan gaun itu? Yang ada bulunya", kata Tifa sambil menunjuk.

"Oh, tunggu sebentar", kata pramuniaga itu sambil mengeluarkan gaun itu, "Gaun ini model terbaru."

"Bisakah saya mencobanya?", tanya Tifa.

"Tentu saja, silahkan ke kamar pas disana", kata pramuniaga itu.

"Cloud, jangan ngintip ya", kata Tifa bercanda, Cloud hanya tersenyum.

Dan tak lama kemudian, wush! Keluarlah Tifa dengan gaunnya.

"...", Cloud pun terkejut bukan main melihat kekasihnya itu.

"Ng, bagaimana menurut kalian?", tanya Tifa.

"Wow, bagus sekali nona!", kata pramuniaga itu, "Gaun itu cocok sekali denganmu"

"Begitukah? Lalu bagaimana menurutmu Cloud?", tanya Tifa.

"Kau... kau sangat cantik", kata Cloud, yang membuat Tifa memerah.

"Oh iya, gaun ini sebenarnya sudah 1 set dengan asesoris dan sepatunya", kata pramuniaga itu, sambil menunjukkan 1 setnya ituyang terdiri dari sepatu bot, mahkota dan sarung tangan, yang semuanya juga sama persis dengan mimpi Tifa.

"Wow", kata Tifa tak percaya, seolah dia seperti diberi ilham untuk hal ini.

"Lalu untuk tuan?", tanya pramuniaga itu.

"Oh1 Biar aku pilihkan!", kata Tifa.

Dengan gaun itu Tifa berjalan menuju ke arah busana pria, dan lagi-lagi ajaibnya, dia menemukan satu set jas yang sangat persis dengan mimpinya! Jas berwarna putih dengan dasi berwarna silver. Ia pun langsung mengambilnya.

"Cloud! Coba ini!", kata Tifa.

"Oh.. i...iya", kata Cloud sambil menuju ke kamar pas.

Dan 10 menit kemudian, keluarlah sosok Cloud dengan jas itu, yang sungguh-sungguh membuat keduanya terpana.

"Ng, bagaimana menurutmu Tifa?", tanya Cloud.

"Pas sekali Cloud! Aku sangat menyukainya!", kata Tifa.

"Begitukah?", kata Cloud sambil melihat lihat dirinya memakai baju itu.

"Iya! Kita beli saja baju ini", kata Tifa.

"Hm... ya sudahlah, yang penting kau juga suka", kata Cloud.

"Oh ya, apakah anda ada rekomendasi sepatu yang cocok dengan jas ini?", tanya Tifa.

"Hmm... sepatu ini?", kata pramuniaga itu sambil menunjukkan sepatu berwarna putih.

"Hm... coba kau pakai deh Cloud", kata Tifa.

"Iya, tunggu", kata Cloud sambil mencoba sepatu itu, dan ternyata... PAS!

"Pas sekali loh Cloud...", kata Tifa.

"Hm... iya juga", kata Cloud.

"Jadi, kalian sudah sepakat?", tanya pramuniaga itu.

"Iya! Kita beli dua baju ini!", kata Tifa.

"Tifa, kau sudah mantap? Tak mau melihat-lihat lagi?", kata Cloud.

"Jangan khawatir, aku tahu yang aku pilih kok, aku tahu yang terbaik untuk kita berdua", kata Tifa sambil tersenyum.

"Baiklah, kami beli baju dan sepatu ini!", kata Cloud.

Persiapan kedua yaitu gaun pengantin pun akhirnya selesai, kira-kira apakah yang akan disiapkan selanjutnya? Tetep baca ya!