CHAPTER 7

WEDDING PLAN 3

Setelah membeli baju pengantin yang pas untuk mereka, akhirnya Cloud dan Tifa hanya perlu memutuskan 3 hal lagi, yaitu konsumsi, tempat, serta undangan. Jika semua itu sudah ditentukan, berarti mereka hanya menentukkan tanggalnya saja. Kalo gak selesai-selesai kan ceritanya juga gak tamat-tamat hehehe.

"Cloud, sekarang kita harus menentukkan apa lagi?", tanya Tifa sambil membawa sebuah tas yang isinya gaun miliknya.

"Hm... apalagi ya?", kata Cloud sambil berpikir.

"Oh ya, kita harus memikirkan bagian konsumsi, kita kan juga harus menyediakan makanan dan minuman untuk tamu-tamu nanti", kata Tifa.

"Konsumsi? Oh, benar juga ya", kata Cloud, "Berarti kita harus mencari restoran atau tempat makan."

"Kupikir, lebih baik kita mencari yang tidak terlalu mahal, untuk baju dan perlengkapan kita berdua saja sudah hampir 10 juta", kata Tifa.

"Hmp... iya-iya", kata Cloud sambil tertawa kecil.

"Cloud, kau yakin bisa mencukupi semua ini? Modalnya besar sekali loh, meski sudah dibantu dengan tabunganku, tetap saja pengeluarannya besar", kata Tifa.

"Oh, soal itu kau tak perlu cemas. Aku sebenarnya sudah memperkirakan hal ini", kata Cloud.

"Oh ya? Maksudmu kau punya uang lebih?", tanya Tifa.

"Yah, berhubung aku sudah menabung di bank Midgar selama hampir 9 tahun akhirnya beberapa hari lalu saat aku mau menambah tabunganku, aku mendapatkan hadiah", kata Cloud.

"Menabung selama 9 tahun? Lalu hadiahnya apa?", tanya Tifa.

"Mereka akan menanggung biaya apapun yang seharusnya kutanggung dengan batas 500 juta gil, tapi hanya sekali ini saja. Dan makanya itu, aku langsung terpikir untuk segera menikahimu, mumpung uangnya ada", kata Cloud, yang tak biasanya bicara panjang lebar.

"Begitu, ternyata ada juga ya bank seperti itu", gumam Tifa. Buat pembaca, sebenarnya bank kayak gitu tuh gak ada, ini hanya bentuk harapan semoga bank kayak gitu bisa ada suatu saat nanti hahaha.

"Iya, jadi kita tak perlu cemas, nah sekarang ayo naik, kita cari pihak yang akan mengatur konsumsi kita", kata Cloud sambil menaiki fenrirnya.

"Oh.. iya", kata Tifa.

Akhirnya mereka berdua pun kembali mencari, memang repot sekali ya kalau mengurus yang seperti ini, harus rela bolak balik kesana kemari, karena itu pembaca jangan bosen ya, hehehe. Sebenarnya restoran itu ada banyak di Midgar, hanya saja mencari yang berkualitas itu susah. Ada yang murah, tapi kurang enak rasanya. Ada yang enak, tapi mahal harganya. Ada yang murah, tapi rasanya tak enak. Ada juga yang mahal, rasanya tak enak pula (gak usah jualan aja itu mah). Hal itu membuat Cloud dan Tifa bingung, kok susah amat ya mencari yang pas?

"Huff...", Cloud pun kelelahan.

"Capek ya? Nih, minum dulu", kata Tifa sambil menyodorkan minuman yang baru dibelinya.

"Oh, terima kasih", kata Cloud.

"Hei Cloud, kayaknya susah sekali ya mencari tempat makan yang bagus", kata Tifa.

"Iya", kata Cloud.

"Hahhh...", kata Tifa menghela nafas.

Saat Tifa sedang minum, tiba-tiba mata Tifa tertuju pada sebuah restoran yang sedang melakukan promosi besar-besaran, saat Tifa perhatikan lebih teliti lagi, ternyata restoran itu sedang mempromosikan mengenai paket untuk pernikahan!

"Cloud, kau lihat restoran itu? Restoran yang pelayannya sedang berteriak teriak promosi", kata Tifa sambil menunjuk restoran itu.

"Yang mana? Oh, yang itu", kata Cloud.

"Iya, tampaknya dia sedang promosi, kita kesana yuk", kata Tifa.

Kemudian Tifa dan Cloud pun mendekat ke restoran itu, saat dilihat ternyata restoran itu memang sedang melakukan promosi mengenai wedding buffet. Tertulis di brosurnya ada 3 paket, paket A dengan 4 jenis makanan seharga 4 juta gil, paket B dengan 7 jenis makanan seharga 5,8 juta gil, dan yang terakhir paket C dengan 10 jenis makanan seharga 7,7 juta gil. Cloud dan Tifa pikir, sepertinya bagus juga nih.

"Ng, maaf tuan", kata Tifa.

"Ya nona? Oh! Apakah anda berminat dengan paket yang kami tawarkan ini?", tanya pelayan itu.

"Eng anu... iya", kata Tifa.

"Oh! Kebetulan sekali! Silahkan masuk!", kata pelayan itu dengan bersemangat. Cloud dan Tifa hanya saling bertatapan dan memasuki restoran itu.

"Nah, silahkan kalian berdua melihat brosur ini, jika kalian sudah menentukan paket yang mana silahkan beritahu kasir yang disana. Saya mau kembali bekerja dulu", kata pelayan itu.

"Hm... pelayan yang aktif sekali", kata Cloud.

"Hei Cloud, kira-kira kita akan undang berapa orang ya?", tanya Tifa.

"Hm? Siapa saja ya? Kurasa tidak terlalu banyak, paling hanya avalanche dan tetangga", kata Cloud.

"Kira-kira sampai 200 orang?", tanya Tifa.

"Hm... mungkin, aku tak terlalu hafal, dan lagi kan kau yang lebih sering di rumah", kata Cloud.

"Tapi menurutku memang seharusnya paling banyak 200 orang, tetangga juga tidak kenal semua, paling aku mau mengundang langganan juga", kata Tifa sambil bergumam.

"Kalau begitu, kita pilih paket B saja, sepertinya lebih sesuai", kata Cloud.

"Hm... benar juga, oke, kita sepakat ya memilih paket ini?", tanya Tifa. Cloud hanya membalas dengan mengangguk.

"Permisi, saya mau memilih paket B ini untuk wedding buffet", kata Tifa kepada petugas kasir.

"Oh paket B ya... baiklah", jawab petugas kasir itu.

Setelah mengurus pembayaran, akhirnya urusan konsumsi pun beres. Kali ini yang harus mereka cari adalah... tempat!

"Oke, tinggal sedikit lagi maka persiapan kita sudah selesai semua!", kata Tifa sambil berjalan keluar restoran.

"Kali ini yang harus kita cari adalah tempat untuk resepsi kita", kata Cloud.

"Tempat ya? Iya juga...", kata Tifa.

"Kalau kau bilang lebih baik tempat kita menikah dimana?", tanya Cloud.

"Hotel?", Tifa mengeluarkan salah satu usulannya.

"Kurasa jangan, terlalu biasa", kata Cloud.

"Pantai?", keluarlah usulan lain lagi.

"Terlalu jauh", lagi-lagi Cloud menolak usulan kekasihnya.

"Bar kita?", inilah usulan ketiga.

"Jangan, terlalu kecil, meski sebenarnya aku juga menginginkan itu", kata Cloud, yang lagi-lagi menolaknya.

"... bagaimana kalau taman? Kurasa taman cocok untuk menampung banyak orang", kata Tifa yang mengeluarkan usulan keempat.

"Taman ya? Hm...", Cloud pun kembali bergumam.

"Iya, taman. Dan lagi, di agen pernikahan Midgar kalau tak salah menawarkan resepsi pernikahan di sana", kata Tifa.

"Kau yakin tidak?", tanya Cloud.

"Aduhh... kau selalu menanyakan 'kau yakin tidak' berkali-kali", kata Tifa.

"Aku hanya takut kau tidak suka, atau mungkin kau ada pilihan lain", kata Cloud.

"Tidak juga sih, tapi kurasa taman memang pilihan yang tepat", kata Tifa.

"Begitu ya? Ya sudah, kita ke agennya saja sekarang, kau tahu tempatnya dimana?", kata Cloud.

"Tahu kok, tak terlalu jauh dari sini", kata Tifa.

Setelah memutuskan hal itu, Cloud dan Tifa pergi ke Midgar Wedding Organizer untuk mengurus tempat yang akan menjadi resepsi pernikahan mereka. Waduh, kayaknya cerita ini jadi kayak pengarahan bagi yang mau menikah saja ya? Hahaha, tapi jujur saja authornya gak bermaksud gitu kok, kebetulan aja ide ini terpikir. Di Midgar, bisnis masih belum begitu berkembang dan sukses seperti Shin Ra Company, makanya perusahaan besar di Midgar itu bisa dibilang sedikit, salah satunya ya perusahaan Wedding Organizer ini, hanya ada satu di Midgar. Jarak Wedding Organizer dengan restoran tadi memang tidak jauh, paling-paling dengan fenrir jarak yang ditempuh hanyalah 15 menit, apalagi Cloud kan ngebut bawa motornya. Dan sesampainya disana, wow gedungnya bisa dibilang mewah untuk ukuran di kota ini, dengan papan besar yang bertuliskan 'MIDGAR WEDDING' dengan moto 'we guarantee that your marriage will be great and unforgotable'. Panjang ya motonya?

"Hei Tifa, benar disini?", tanya Cloud.

"Ya, seharusnya sih iya", kata Tifa.

"Yah, baiklah, ayo kita masuk", kata Cloud.

Setelah itu Cloud memarkirkan fenrir miliknya di tempat parkir dan setelah itu memasuki gedung bersama Tifa. Saat masuk, dekorasinya bagus sekali, udaranya pun sejuk karena sejuk (authornya norak ya? Hahaha) yah... namanya juga gedung mewah, tak heran kalau isinya begini.

"Maaf, saya ingin mengurus tempat resepsi pernikahan, dimana kira-kira kami bisa mengurusnya?", tanya Tifa kepada customer service.

"Silahkan anda ke staff kami yang bernama Akihara, di meja itu", kata customer service itu, sambil menunjukkan tangannya.

"Oh, terima kasih. Cloud, ayo sini", kata Tifa sambil menarik tangan Cloud.

"Ah, hei!", kata Cloud.

Tifa menarik Cloud sampai ke meja orang yang bernama Akihara itu, lalu...

"Selamat datang, silahkan duduk", katanya.

"Oh, terima kasih", kata Tifa, diikuti dengan Cloud.

"Ada yang bisa saya bantu?", tanya staff itu.

"Begini, saya ingin memilih tempat yang tepat untuk resepsi pernikahan kami nanti. Pilihan kami jatuh ke taman, bagaimana menurut anda?", tanya Tifa.

"Taman sebenarnya merupakan pilihan yang cukup bagus, selain hijau, lebih hemat, dan suasananya juga nyaman. Anda berdua memilih taman?", tanya staff itu.

"Iya, apa anda mempunyai pilihan yang bagus?", tanya Tifa.

"Oh, ada. Ini... silahkan lihat di buku ini", kata staff itu sambil memperlihatkan sebuah buku.

"Wow, desainnya bagus-bagus. Cloud, lihat deh!", kata Tifa.

"Hm... iya ya", kata Cloud.

Keduanya pun mencari-cari pilihan yang tepat. Banyak sekali variasi taman yang tersedia. Ada yang di dekat danau, ada yang desainnya simpel, ada juga yang tidak terlalu luas, dan lain sebagainya. Namun, pilihan Cloud dan Tifa ternyata jatuh pada sebuah taman yang lokasinya dekat dengan danau, kira-kira lokasinya mirip dengan padang bunga tempat Cloud melamar Tifa sebelumnya.

"Jadi, anda berdua memutuskan untuk memilih lokasi ini?", tanya staff itu.

"Iya, kami berdua menyukainya", kata Tifa.

"Oh ya, apakah anda berdua mau sekalian mengurus undangannya? ", tanya staff itu.

"Oh iya ya, nyaris saja lupa. Boleh deh, bisa kami lihat daftarnya?", tanya Tifa.

"Silahkan", kata staff itu sambil menyerahkan buku yang lain.

Akhirnya keduanya mencari-mencari lagi deh. Tapi biarlah, lebih baik diselesaikan hari ini juga biar bisa cepat selesai. Seperti biasa, variasinya banyak, tapi Cloud dan Tifa bisa dengan tepat menentukkan pilihan mereka. Dan pilihan mereka untuk undangannya adalah undangan berwarna putih yang bagian depannya ditempeli kristal, desain yang cukup simpel, memang Cloud dan Tifa banget.

"Wah, kalian memang selalu kompak dalam menentukkan pilihan", kata staff itu.

"Ah, tidak juga", kata Tifa, Cloud hanya tersenyum.

"Baiklah, karena kalian sudah menentukkan pilihannya, kira-kira mau dicetak berapa lembar", tanya staff itu.

"Hm... 200 lembar", kata Tifa.

"200 ya, baiklah, nanti undangannya akan kami kirim ke rumah anda, silahkan anda isi data di kertas ini", kata staff itu sambil menyodorkan selembar kertas, yang langsung diisi oleh Tifa, dikirimnya sih sudah pasti ke 7th Heaven.

"Baiklah, terima kasih telah menggunakan jasa kami, silahkan anda mengurus administrasi disana. Dan... satu lagi, bagaimana dekorasinya?", tanya staff itu.

"Dekorasinya? Hmm...", Tifa pun harus kembali berpikir.

"Kami minta yang simpel saja, tapi berkesan", kata Cloud, yang akhirnya angkat suara.

"Hmm... simpel tapi berkesan ya? Baiklah, tak masalah. Dan jika anda sudah menentukkan tanggalnya, anda bisa menghubungi ke nomor ini", kata staff itu sambil menyodorkan selembar kartu nama, "Nah, silahkan anda berdua mengurus administrasi."

"Baik, terima kasih", kata Tifa sambil bangkit berdiri.

"Tifa, sebentar lagi...", kata Cloud sambil tersenyum.

"Ya, sebentar lagi...", balas Tifa, yang juga tersenyum.

Aaaaaa, akhirnya selesai juga chapter 7 nya! Maaf ya kalau ceritanya kurang bagus, saya tunggu kritik dan sarannya! Karena 2 hal itu sangat membantu saya, thanks .