CHAPTER 8

WEDDING PLAN 4 (ALMOST DONE)

Semua persiapan akhirnya selesai, dan Tifa serta Cloud akhirnya memutuskan untuk pulang ke 7th Heaven untuk beristirahat, mereka sudah cukup lelah karena dalam satu hari mereka menyelesaikan 4 persiapan sekaligus. Dan sesampainya si bar,

"Fuh, capek sekali. Cloud, kau mau minum?", tanya Tifa.

"Ah, tidak usah", kata Cloud sambil duduk di bangku bar.

"Hari ini benar-benar melelahkan ya, sekarang kita tinggal menulis siapa saja yang kita undang", kata Tifa.

"Iya...", kata Cloud, dengan raut wajah yang kecapekan.

"... Cloud, mungkin lebih baik kau istirahat di kamar, kelihatannya kau lelah", kata Tifa.

"Oh, ya...", kata Cloud sambil beranjak dari kursi.

"Sini, biar kupapah, jalanmu agak sempoyongan tuh", kata Tifa.

"... maaf, aku jadi merepotkanmu", kata Cloud.

"Tak apa... hal ini sudah seharusnya dilakukan seorang calon istri", kata Tifa sambil tersenyum.

Tifa pun memapah Cloud sampai ke kamarnya, dan setibanya di dalam kamar, Cloud pun langsung berbaring di tempat tidurnya,

"Tidurlah yang nyenyak", kata Tifa yang duduk di samping Cloud.

"Iya, kau juga", kata Cloud.

"Kita sudah mau menikah loh, kau harus bisa lebih menjaga kesehatanmu", kata Tifa sambil mengelus wajah Cloud.

"Maaf, mungkin karena akhir-akhir ini aku selalu sibuk bekerja", kata Cloud.

"Aku mengerti akan niat baikmu untuk membahagiakanku dan anak-anak, tapi kau juga harus memperhatikan dirimu sendiri", kata Tifa.

"... maaf", jawab Cloud dengan kata yang sama.

"Sudah, tidurlah... aku mau mandi dulu", kata Tifa, sambil mencium bibir Cloud, "Aku mencintaimu."

"Aku juga...", kata Cloud, yang setelah itu menyaksikan Tifa keluar dari kamarnya.

Tifa pun berjalan menuju kamarnya, dan setelah itu ia mengambil handuk dan baju ganti yang setelah itu dibawanya ke kamar mandi. Sambil melepas satu persatu bajunya, ia terus-terusan berpikir bagaimana suasana saat pernikahannya tiba nanti, bisa dibilang dia sangatlah berdebar-debar. Ia membayangkan, Denzel dan Marlene menjadi pengapit mereka, dari belakang diikuti anggota avalanche yang memakai baju resmi (kecuali RED hahaha), dan sesampainya di depan, keduanya pun mengucapkan sumpah setia sehidup semati. Akhirnya, Tifa pun terus berteriak ''kyaaaaa' selama ia mandi. Tak lama setelah itu, Tifa keluar, dan sebelum masuk ke kamarnya, ia diam-diam masuk kamar Cloud untuk melihat keadaannya, ternyata Cloud sudah tidur pulas. Melihat itu, Tifa pun tersenyum, ia pun mencium kening Cloud, "Selamat tidur, sayangku."

Akhirnya tengah malam pun tiba, Tifa pun sudah tertidur pulasdi ranjangnya, tetapi Cloud malah terjaga tiba-tiba.

"Ngh...", kata Cloud sambil bangun, masih setengah sadar.

Saat dilihat, ternyata masih jam 1 pagi, masih lama sampai jam 7 pagi, waktu biasa Cloud bangun dan beraktivitas. Lalu apa yang sebaiknya dilakukan jam segini? Begitulah pikir Cloud.

"Mungkin lebih baik aku minum saja", kata Cloud, sambil berjalan keluar kamar.

Clodu pun berjalan menuju dapur, dan dari rak ia mengambil sebungkus kopi. Sambil mengamati rembulan yang masih menghiasi langit, ia pun menikmati kopi yang baru saja ia seduh. Suasana Midgar sepi, maklumlah kan sudah jam 1 pagi, paling hanya ramai di kelab malam saja, jadinya yah... tak ada yang istimewa.

"Cloud?", tiba-tiba terdengar suara, ternyata suara Tifa.

"Tifa? Kenapa kau terbangun?", tanya Cloud.

"Tadi aku mau ke toilet, lalu aku mencium aroma kopi dari sini", kata Tifa.

"Oh, maaf, aku malah membuatmu penasaran ya?", kata Cloud.

"Tidak juga", kata Tifa sambil duduk di kursi.

"Kalau kau masih mengantuk lebih baik kau tidur lagi saja, masih jam 1", kata Cloud sambil meminum kopinya.

"Tak apa, aku mau menemanimu sebentar", kata Tifa.

"Oh... kalau begitu kau mau kopi?", tawar Cloud.

"Tak usah, aku tak suka kopi", kata Tifa, "Aku lebih suka air putih."

"Air putih ya", kata Cloud.

"Ngomong-ngomong Cloud, kapan ya kita beritahu pernikahan kita ke teman-teman lain?", tanya Tifa.

"Kapan ya? Lebih baik saat mereka mengantar pulang Marlene dan Denzel saja", kata Cloud.

"Oh, iya juga ya, malam nanti kan mereka pulang *yawn*", kata Tifa.

"Tifa, lebih baik kau tidur saja, kau menguap tuh", kata Cloud.

"*yawn* iya iya, kau juga lebih baik tidur, kau kan mau kerja", kata Tifa.

"Habis minum kopi ini aku langsung ke kamarku kok", kata Cloud.

"Bener ya? Kalau begitu aku mau tidur lagi *yawn*", kata Tifa sambil meninggalkan Cloud.

Waktu pun terus berlalu, pagi hari pun tiba. Cloud dan Tifa yang sudah absen dua hari bekerja akhirnya bekerja juga hari ini. Cloud yang langsung mengantar pengiriman paket yang selama ini tertunda, dan Tifa yang langsung sibuk menyiapkan gelas serta 'ramuan'nya untuk memuaskan para tamu-tamunya. Syukurlah, mereka belum kehilangan pelanggan setia mereka.

"Permisi! Ada kiriman!", teriak seseorang di luar.

"Oh, ya! Tunggu sebentar! Maaf, anda tunggu dulu ya", kata Tifa. Saat pintu dibuka, ternyata itu tukang pos.

"Ini ada kiriman paket untuk anda, harap distempel dan ditandatangani", kata tukang pos itu.

"O... terima kasih", kata Tifa sambil menerima sebuah kardus.

"Nona! Tambah birnya lagi!", teriak salah satu pengunjung.

"Iya! Tunggu sebentar!", kata Tifa sambil terburu-buru membawa kardus itu ke dalam.

Sementara itu, Cloud...

"Silahkan anda stempel dan tanda tangan disini tuan", kata Cloud sambil menyodorkan selembar kertas.

"Baik, terima kasih Cloud-san! Sebenarnya kenapa kemarin kau sampai memutuskan libur?", tanya si langganan, tuan Takahasi.

"Oh, saya ada urusan sebentar. Permisi, saya harus mengantarkan barang lagi", kata Cloud sambil menaiki fenrirnya.

"Hahaha, mumpung masih muda bekerja keraslah Cloud-san!", teriak tuan Takahasi. Cloud hanya membalas dengan melempar senyuman.

"Hm, selanjutnya barang untuk tuan Fukasaku, nyonya Katsura, dan nyonya Sakihara", kata Cloud sambil melihat catatannya.

Akhirnya setelah keduanya bekerja keras dalam waktu yang cukup lama, pekerjaan mereka selesai juga, dan Cloud Tifa baru bisa membahas tamu undangan pada jam 8 malam, satu jam setelah bar tutup dan Cloud pulang bekerja.

"Selain anggota AVALANCHE, siapa lagi yang harus kita undang?", tanya Tifa sambil menulis satu persatu undangan.

"Aku ingin mengundang para langganan setiaku, tuan Fukasaku, tuan Takahashi, nyonya Asuka, nyonya Katsura...", kata Cloud, yang juga sambil menulis.

"Hm... kalau begitu aku juga deh", kata Tifa.

Saat mereka sedang menulis, terdengar suara gedebak gedebuk di ruangan bar, ternyata itu...

"KAMI PULANG!", teriak semuanya, maksudnya AVALANCHE.

"Oh, hai...", kata Cloud dan Tifa.

"Kalian gimana kabarnya? Aku kangen padamu Tifaaaa", kata Yuffie.

"Aku baik-baik saja kok", kata Tifa.

"Hei Cloud! Lama tak bertemu ya!", kata Cid sambil menepuk nepuk punggung Cloud.

"Hei, hentikan itu", kata Cloud.

"Marlene, Denzel, kita main lagi yuk!", kata Caith Sith.

"Hei! Marlene tuh masih capek tahu!", kata Barret.

"...", Vincent hanya diam, memang khas dia.

"Kalian sedang apa?", tanya Red.

"Oh, ini kami sedang...", kata Tifa.

"Kami ingin memberitahu sesuatu pada kalian", kata Cloud yang tiba-tiba berdiri, "Tifa, kemari."

Tiba-tiba semua menjadi hening, mereka semua penasaran.

"Sebenarnya, kami berdua akan segera menikah", kata Cloud, yang membuat seluruh anggota AVALANCHE kaget.

"APA?", teriak semuanya, kecuali Vincent.

"Iya, sebenarnya kami memang mau menikah, tapi belum sempat kasi tahu kalian", kata Tifa.

"La... lalu kapan?", tanya Yuffie.

"Dimana?", tanya Cid.

"Memang kapan Cloud melamar?", tanya Barret.

"Dimana kalian akan menikah?", tanya Caith Sith.

"Kenapa kalian tidak memberitahuku?", kata Marlene.

"...", Vincent hanya diam.

"Baik baik! Jawabnya satu-satu! Sebenarnya Cloud sudah melamarku beberapa hari yang lalu, dan setelah itu kami melakukan persiapan secara cepat, kebetulan kami menyiapkan semua itu saat kalian membawa Marlene dan Denzel pergi. Kalau soal tempat menikah, kalian lihat saja di undangan itu, sepertinya aku juga sudah menulis nama kalian semua", kata Tifa. Yuffie langsung mengambil salah satu undangan itu.

"Lalu, kau buat acaranya seperti apa?", tanya Vincent, yang akhirnya angkat bicara.

"Kami mau yang simpel tapi berkesan...", jawab Cloud, "Meski begitu, kalian harus datang."

"Pasti! Kalau begitu aku juga akan mengajak Sherra!", kata Cid dengan semangat.

"Tentu saja Cloud! Aku akan memakai baju yang kau belikan waktu itu!", kata Denzel.

"Tapi kapan? Kau belum menjawab pertanyaanku", kata Yuffie.

"Oh iya! Barusan kami berdua sudah memutuskan, mungkin Sabtu minggu ini", kata Tifa.

"Wow, cepat sekali, tak salah tuh?", kata Yuffie.

"Yah, kami memang ingin cepat-cepat, supaya kami bisa cepat kerja lagi", kata Tifa.

"Iya, jadi kami tak sering-sering libur, cukup minggu ini saja", kata Cloud.

"Hm... begitu ya, kalian memang pekerja keras", kata Yuffie, "Baiklah! Kalau begitu kita semua harus membantu menuliskan undangan-undangan ini!"

"Hah? Kok begitu?", teriak semua, kecuali Vincent, Marlene, dan Denzel.

"Kenapa kalian malah bicara begitu? Sesama teman itu harus saling membantu!", kata Yuffie.

"Uh, malas", kata Cid.

"Iya...", kata Barret.

"Kalau aku sih, memang tak mungkin bisa menulis", kata Red.

"...", lagi-lagi Vincent hanya terdiam.

"Oke! Aku akan membantu sebisaku!", kata Marlene.

"Tuh Barret! Anakmu saja bisa lebih semangat daripada kau!", kata Yuffie.

"Ugh, iya iya, kubantu deh!", kata Barret.

"Vincent, kau juga bantu ya? Aku ingin lihat tulisanmu...", kata Yuffie, dengan mata agak memelas.

"...", Vincent hanya diam.

"Bantu ya Vincent? Ya?", kata Yuffie dengan nada agak memaksa.

"...ya", jawab Vincent, singkat.

"Kya! Vincent baik sekali deh!", kata Yuffie.

Setelah itu, semuanya membantu menuliskan undangan pernikahan Cloud dan Tifa. Cloud dan Tifa yang melihat semua itu pun tersenyum, mereka senang bisa memiliki teman yang baik seperti mereka. Dan sekarang, yang mereka tunggu hanya tinggal resepsi pernikahan mereka.

Huffff, chapter 8 selesai juga! Tetep baca ya! Maaf kalo ada typo. Please read and review!