CHAPTER 9
WEDDING CEREMONY
Setelah melakukan persiapan selama beberapa hari terakhir, akhirnya tibalah hari yang telah dinanti-nanti. Hari apa? Tentu saja hari pernikahan Cloud dan Tifa. Hari dimana Cloud dan Tifa akan mengikat janji sebagai suami istri. Hari dimana Cloud dan Tifa akan bersatu sebagai sebuah keluarga. Sekarang, keduanya sedang bersiap-siap untuk pergi ke resepsi nanti. Tifa sedang bersiap-siap dengan Yuffie dan Marlene, sementara Cloud bersama dengan anggota AVALANCHE yang pria. Pertama, kita baca dulu keadaan Tifa, yuk mari...
"Wow Tifa, kau sungguh cantik!", kata Yuffie, yang saat itu mengenakan dress mini berwarna putih.
"Sungguh?", tanya Tifa sambil mengenakan gaun pengantinnya.
"Betul! Ya kan Marlene?", tanya Yuffie.
"Iya! Kau cantik sekali Tifa!", kata Marlene yang mengenakan gaun berwarna putih juga.
"Haha, terima kasih ya, semua ini juga berkat kalian yang membantuku memakaikan gaun ini", kata Tifa sambil duduk di meja riasnya.
"Tapi Tifa, kau serius mau merias sendiri? Kau tidak mau pakai perias?", tanya Yuffie.
"Tidak ah, aku lebih suka sendiri", kata Tifa sambil memakai lipstiknya.
"Tak usah sepelit itu Tifa, sampai kau tak mau pakai jasa perias", kata Yuffie.
"Bukan begitu, aku memang lebih suka merias sendiri kok. Memang jelek ya?", tanya Tifa sambil meletakkan kembali lipstiknya, dan kemudian ia mengambil kotak bedaknya.
"Tidak sih", kata Yuffie, "Ya sudahlah kalau itu memang maumu."
"Hei Yuffie, bantu aku membetulkan tiara ini dong", kata Tifa.
"Yosh! Tunggu sebentar! Marlene, kau juga ikut bantu!", kata Yuffie.
"Oke!", kata Marlene.
Sementara itu keadaan Cloud,
"Hei! Si tampan sudah selesai!", teriak Barret yang mengenakan jas resmi berwarna biru dengan celana hitam.
"Kau apa-apaan sih?", kata Cloud yang sudah mengenakan jas pengantinnya. Semuanya serba putih, mulai dari jas, kemeja, celana, sarung tangan, dan juga sepatu, hanya dasinya saja yang berbeda warna, yaitu silver.
"Haaaaah, tak kusangka boss kita ini akan segera menikah", kata Cid yang memakai tuxedo berwarna silver.
"Iya, waktu berjalan begitu cepat", kata Barret lagi.
"Hei Cloud! Nanti berikan pose terbaik ya!", kata Caith Sith, yang ceritanya menjadi juru kamera untuk pernikahan Cloud dan Tifa.
"Pose terbaik?", tanya Cloud terheran-heran.
"Maksudku ciuman...", kata Caith Sith.
"Hei, itu sih sudah pasti akan dia lakukan, kau lebih baik bersiap-siap saja", kata RED.
"Iya juga ya, hehehe", kata Caith Sith sambil memegang kepalanya.
"...", Vincent hanya terdiam melihat itu. Vincent saat itu mengenakan jas berwarna merah, sementara dalaman kemejanya berwarna hitam. Celananya? Dia memakai celana berwarna hitam, begitu juga dengan sepatunya. Dan kali ini dia juga tidak memakai bandananya serta sarung tangan berwarna emasnya itu, khusus hanya untuk hari ini.
"Tapi, entah apakah aku bisa terus membahagiakannya", kata Cloud, tiba-tiba.
"Hei, kau bicara apa?", tanya Cid.
"Jangan bicara seperti itu Cloud, kau sendiri kan sudah memutuskan untuk menikahinya", kata Barret.
"Aku tahu, tapi...", kata Cloud.
"Hei Cloud", tiba-tiba Vincent angkat bicara.
"Vincent?", kata Cloud yang terheran.
"Apakah kau mencintai Tifa?", tanya Vincent.
"Apa?", tanya Cloud yang lagi-lagi terheran.
"Kutanyakan, apa kau benar-benar mencintai Tifa?", tanya Vincent lagi.
"Tentu saja aku mencintainya! Aku sudah berjuang untuk mendapatkan hatinya dan...", kata Cloud yang belum selesai bicara.
"Lalu kenapa kau masih ragu-ragu?", tanya Vincent, Cloud pun kaget mendengarnya.
"Aku...", Cloud pun tak bisa menjawab.
"Kalau kau benar-benar mencintainya, kalau kau mengakui akan perjuanganmu mendapatkan hatinya, dan dia menerimanya, kenapa kau masih ragu-ragu?", tanya Vincent, yang membuat Cloud tak bisa berkata apa-apa.
"Cloud, percayalah pada dirimu sendiri. Percayalah kalau kau bisa membahagiakan Tifa seumur hidupmu", kata Vincent sambil tersenyum kecil.
"Itu benar Cloud!", teriak Caith Sith.
"Iya Cloud, jangan menjadi seorang pengecut dihadapan wanita yang kau cintai", kata RED.
Meski tidak semuanya berkata-kata, namun dari tatapannya saja, Cloud tahu bahwa mereka mendukungnya. Dan kemudian terdengarlah suara Denzel dari luar, "Cloud! Tifa sudah keluar nih! Kau sudah siap belum?"
"Cloud, saatnya menjemput tuan putrimu", kata Barret.
"Jangan kecewakan kami ya", kata Cid.
"Berikan yang terbaik ya Cloud", kata Caith Sith.
"Berjuang ya...", kata RED.
"Cloud, pergilah", kata Vincent.
Sesaat Cloud pun memejamkan matanya, dan akhirnya ia pun memantapkan hatinya sambil berkata, "Ya!"
Kemudian Cloud pun keluar dari kamarnya dan menuruni tangga, saat di bawah, terlihatlah sosok Tifa yang sedang menunggu dirinya, sambil memegang buket bunga pemberian Cloud.
"Kau sudah lama menunggu?", tanya Cloud yang menghampiri Tifa.
"Ah, kau sudah selesai ternyata", kata Tifa.
"Iya, apakah aku lama?", tanya Cloud.
"Tidak, aku baru saja selesai", kata Tifa.
"Begitu... Tifa...", kata Cloud.
"Ya?", tanya Tifa.
"Kau... kau sungguh cantik...", kata Cloud.
"Kau juga sangat tampan, sangat dan sangat tampan", kata Tifa sambil memegang wajah Cloud.
"Tifa...", kata Cloud.
"Hei hei hei! Sudahan dulu momen romantisnya! Ayo cepat naik ke mobil! Yang lain sudah naik tahu!", kata Yuffie sambil bertolak pinggang.
"Oh, maaf", kata Cloud dan Tifa.
"Sudah sudah, ayo naik", kata Yuffie.
Kali ini tentu saja Cloud dan Tifa tidak menaiki fenrir, mereka sengaja menaiki mobil berukuran besar untuk pergi ke resepsi pernikahan, dengan Cid sebagai supirnya (:p).
"Huh, kenapa harus aku yang menjadi supir?", gerutu Cid.
"Sudah, jangan protes", kata Yuffie.
"Iya, Sherra sudah nungguin loh", kata Caith Sith.
"Lagipula kan hanya kau yang bisa menyetir, Barret ngebut sih, kalau Tifa sih tidak mungkin", kata Yuffie.
"Iya iya, aku mengerti", kata Cid.
"Ayo, kita harus cepat nih, takutnya para tamu sudah menunggu", kata Barret.
"Hei Tifa, kudengar kau mengundang Turks ya?", tanya RED.
"Iya, kau tahu darimana?", tanya Tifa.
"Waktu itu, aku tak sengaja melihat namanya", kata RED.
"Apa? Kau mengundang mereka?", tanya Barret.
"Iya, tak apa-apa lah Barret, mereka takkan berbuat jahat kok", kata Tifa.
"Uh, tetap saja", kata Barret yang menggerutu.
"Sudahlah Barret, lagipula Tifa berteman cukup baik dengan Reno", kata Cloud.
"Sejak kapan coba kau berteman baik dengan Turks?", tanya Barret lagi.
"Hei hei hei! Sudah sampai loh! Ayo kita turun! Ayo, yang pengapit turun duluan!", kata Yuffie. Yang dimaksud dengan pengapit disini adalah yang selain Cloud, dan Tifa.
Saat dilihat, ternyata tempat resepsi sudah ramai sekali dengan para tamu undangan. Ternyata yang diundang cukup banyak, mulai dari tetangga, pedagang sayur langganan Tifa, pelanggan langganan Tifa, langganan Cloud, dan juga anggota Turks seperti Reno, Rude, Elena, Tseng, bahkan Rufus juga sampai datang loh!
"Tifa, hati-hati ya", kata Cloud sambil memegang tangan Tifa.
"Oke, tenang saja", kata Tifa.
Urutan orang yang turun dimulai dari Marlene-Denzel, Barret-Cid, Yuffie-Vincent, RED-Caith Sith, dan yang terakhir barulah Cloud dan Tifa. Mereka semua berjalan sampai ke tempat pastur yang ada di ujung depan, tempat mereka akan mengikat janji setia sebagai suami istri. Dan para tamu undangan pun langsung respons berdiri melihat kedatangan mereka.
"Tifa, kau gugup?", tanya Cloud.
"Tidak, aku malah senang sekali", kata Tifa.
"Kau memang hebat, aku malah sedikit gugup", kata Cloud.
"Itu reaksi yang wajar kok, tapi tenang saja, aku kan ada di sampingmu", kata Tifa sambil memegang tangan Cloud.
"Iya, aku tahu", kata Cloud sambil tersenyum.
Lalu tibalah Cloud dan Tifa di depan pastur, sementara para pengapit lain(?) sudah pergi berjalan ke samping. Perasaan Cloud menjadi tambah gugup, sementara Tifa tampak lebih santai.
"Pertama, saya ucapkan selamat datang kepada tamu undangan ke resepsi pernikahan dua mempelai, yaitu Cloud Strife dan Tifa Lockheart. Dimana mereka juga akan mengikat janji setia mereka sebagai suami istri, dan akan terus bersama untuk selamanya", kata pastur itu, "para tamu undangan dipersilahkan duduk."
Suasana pun hening sejenak, terlihat di samping pastor itu ada seorang yang membawakan cincin.
"Cloud Strife, apakah kau bersedia, untuk menerima Tifa Lockheart sebagai istrimu? Dan akan selalu bersamanya hingga akhir hayat nanti?", tanya pastor itu.
"... ya, saya bersedia", jawab Cloud.
"Tifa Lockheart, apakah kau bersedia, untuk menerima Cloud Strife sebagai suamimu? Dan akan selalu bersamanya hingga akhir hayat nanti?", tanya pastor itu lagi.
"Ya, saya bersedia", jawab Tifa.
"Dengan demikian, mulai hari ini, kalian adalah suami istri", kata pastor itu dengan suara keras, yang disambut tepuk tangan para tamu dan sorak sorai.
"Silahkan anda berdua saling memakaikan cincin", kata pastor itu lagi.
Setelah itu, Cloud memakaikan cincin ke jari manis Tifa, dan Tifa pun melakukan hal yang sama untuk Cloud, dan mereka berdua pun akhirnya berciuman, membuat para tamu pun semakin berteriak histeris melihatnya. Memang, hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagi Cloud dan Tifa, setelah menunggu menantian selama 7 tahun, akhirnya Cloud dan Tifa pun bisa bersatu juga. Dari cerita ini bisa kita simpulkan, bahwa cinta memang tidak akan pernah salah dalam memilih.
THE END
Akhirnya cerita ini selesai juga, maaf banget ya kalau updatenya lama, abis ulum sih hehe. Oh ya, cincin yang dipakai buat Cloud dan Tifa itu simpel kok, Cuma cincin silver yang di tengahnya itu ada emas putih. Terus, gaun dan atribut yang dipakai Tifa itu sama persis dengan yang dipakai Yuna waktu upacara pernikahan sama Seymour. Kalau untuk Cloud kan udah dijelaskan, jadi gak usah ya hehehe. Please Read n Review!
