Yo~ chapter 3 update! (^o^)/ #semangat 9x5,

Gomen ya readers updatenya harus telat lagi soalnya Tha lagi sakit *readers: Gak nanya! (Tha pundug di pojokkan)* ! Hm... sepertinya chapter ini kurang menarik, soalnya otak Tha lagi buntu, hehehe oh ya mungkin di awalan chapter banyak SasuHina, tapi tenang aja buat penggemar SasuSaku, di akhir chapter nanti pasti ada kok! jadi sabar aja ya! OK langsung….

Happy reading!

DON'T LIKE DON'T READ OK !

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuSaku, SasuHina, Gaasaku

Genre : Romance, Friendship

Rated : T

Warning : OOC, Gaje, Typo, AU, etc

Summary : Persahabatan Sasuke dan Sakura hancur gara-gara Hinata? Bagaiamana hancurnya Sakura disaat Sasuke lebih percaya pada Hinata? (baca deh! gak terlalu bisa bikin summary)

Hari minggu, merupakan hari dimana saat yang tepat untuk bersantai atau liburan. Seperti hal nya dengan Sakura, saat ini Sakura terlihat sedang bersantai. Badannya yang langsing ditidurkan di sebuah sofa di ruang keluarga. Matanya tak henti-hentinya membaca pada sebuah komik yang dipegangnya.

Tangannya yang mulus mengambil sebuah minuman orange juice di atas meja. Lalu meminumnya dengan pelan. Dan di simpan kembali ke atas meja. Tak lama kemudian, ada seorang wanita yang menghampirinya, dan mengambil sebuah remote TV yang tergeletak sembarangan di atas meja itu.

"Sakura, Kaa-san lihat daritadi kau hanya membaca komik terus, apa tidak ada kerjaan lain?" tanya Kaa-san Sakura sambil menghidupkan TV dari remote yang ia pegang.

"Ya, Saku memang gak ada kerjaan Kaa-san, makanya Saku membaca komik saja. Daripada bosan," jawab Sakura santai.

Sedangkan Kaa-san Sakura hanya menggelengkan kepalanya saja melihat kelakuan anak satu-satunya ini.

"Oh ya Kaa-san, apakah Kaa-san masih ingat sahabat Saku yang waktu kecil dulu tidak?" tanya Sakura. Sekarang ia memutuskan untuk berbincang-bincang dengan Kaa-sannya saja. Dan tangannya mengambil beberapa cemilan yang disediakan di atas meja.

"Hm… yang mana ya? Sahabatmu waktu kecil kan banyak," ucap Kaa-sannya.

"Itu loh Sasuke, Kaa-san masih ingat kan? Waktu Saku lima tahun, Sasuke sama keluarganya pindah keluar kota. Kalau tidak salah sih Sasuke pindah ke Iwa."

"Ah iya, Sasuke dari kelurga Uchiha itu kan? Iya Kaa-san ingat. Memangnya kenapa? Saku kangen ya dengan Sasuke?" Kaa-san Sakura mencoba untuk menggoda Sakura, tapi Sakura hanya mengembungkan pipinya saja.

"Bukan begitu Kaa-san, maksud Saku Sasuke pindah lagi ke Konoha. Dan Kaa-san tahu? Sasuke sekolah di KSHS. Satu kelas dengan Saku juga."

"Oh ya? Hm… sejak kapan keluarga Uchiha pindah kembali ke Konoha?"

"Entahlah, tapi Sasuke menjadi murid baru sejak kemarin. Dan ia mengaku pindahan dari Oto."

"Dari Oto? Hm... Bukannya Iwa?"

"Sasuke bilang sih setelah enam tahun di Iwa, mereka pindah ke Oto."

"Oh.." Kaa-san Sakura hanya ber-oh ria saja.

"Hoamn… Kaa-san, aku mengantuk. Sepertinya aku butuh tidur siang." Tangan Sakura menutup mulutnya yang terbuka karena menguap.

"Baiklah…"

Sakura pun berdiri dari sofa yang telah menemaninya tadi. Setelah itu ia pergi meninggalkan Kaa-sannya yang sedang menonton TV, dan segera pergi ke kamar untuk tidur.

.

.

.

"Sakura gomen, aku harus pergi."

"Ke… kenapa?"

"Gomen, aku tidak bisa bersamamu."

"Ta… tapi…"

Bayangan Sasuke dengan perlahan mundur kebelakang, meninggalkan Sakura yang terduduk dengan kegelapan dan air mata. Dengan perlahan, bayangan Sasuke menghilang dengan cahaya yang sangat menyilaukan, sehingga Sakura harus menutup matanya dengan paksa.

"Sasuke? Sasuke? Kau dimana? SASUKE….."

"Hosh… hosh…ternyata hanya mimpi," kata Sakura. Ia terbangun dari mimpi tidur siangnya. Nafasnya masih belum normal semenjak terbangun tadi. Sakura memutuskan untuk mengambil air putih di meja samping tempat tidur, lalu meminumnya sampai habis.

"Kenapa akhir-akhir ini aku selalu bermimpi itu?" gumannya.

Sakura melirik jam yang bertengger di tembok kamar itu. Jam menunjukkan pukul tiga sore. Lalu Sakura segera turun dari ranjangnya dan mengambil handuk dari kamar mandinya.

'Sebaiknya aku mandi saja, mungkin pikiranku akan kembali segar,' batinnya.

Di kediaman Hyuuga.

Sore hari di salah satu kamar kediaman Hyuuga, terlihat Hinata yang sedang mengotak-atik HP-nya dengan bosan. Hinata duduk di kursi meja belajar dengan malas. Bagaimana tidak? Sore ini keadaan di luar sangat terik, walaupun hari sudah menjelang sore. Sebelumnya Hinata ingin pergi jala-jalan ke taman, namun di urungkannya karena cuaca di luar yang sangat terik.

Pintu kamar Hinata diketuk seseorang dari luar. Hinata sedikit terkejut dengan hal itu. Badannya yang sedang duduk di kursi terpaksa harus berdiri dan berjalan ke arah pintu, dan membukanya.

"Ada apa Paman?" tanya Hinata setelah membuka pintu. Dan ternyata yang mengetuk pintu adalah pamannya sendiri, Hizashi Hyuuga.

"Begini Hinata, paman sedang membereskan gudang. Tapi setelah melihat barangmu yang di gudang sepertinya banyak sekali. Jadi, jika ada barangmu yang sudah tak terpakai tolong buang saja, tapi jika masih terpakai kau simpan saja!" jawab Hizashi.

"Baiklah paman, sekarang aku akan membereskannya. Lagipula aku sedang tidak ada kerjaaan," ucap Hinata.

"Baguslah."

Tangan Hinata segera mengambil gagang pintu dan menutupnya secera perlahan. Lalu Ia pergi ke gudang bersama pamannya dengan mengikutinya dari belakang.

"Hinata itu barangmu," ujar Hizashi setelah sampai di gudang.

"Banyak sekali," keluh Hinata ketika melihat sebuah kardus besar yang terisi penuh.

"Ya, tapi kau harus membereskannnya! Supaya gudang ini tidak terlalu sempit."

"Baiklah paman, aku akan membereskannya di kamar," kata Hinata, lalu segera mengangkat kardus yang berat itu dengan perlahan.

"Hati-hati membawanya!" peringat Hizashi.

"Ya.."

Kardus yang besar itu sudah berada di pangkuan Hinata. Hinata mengangkat kardus itu secara perlahan setelah meninggalkan gudang. Ketika hampir sampai di dekat kamarnya, Hinata sedikit oleng karena beban yang di angkatnya sudah tidak kuat lagi. Dan akhirnya Hinata pun mengalah untuk jatuh karena tangannya benar-benar sudah tidak kuat lagi.

BRUUKK

"AAUUUWW…"

Merasa ada sesuatu yang terjatuh, Neji yang kebetulan sedang ada di kamar mendengar hal itu di depan pintu kamarnya. Ia segera berlari ke arah pintu untuk melihat apa yang terjadi di sana. Setelah membuka pintu, Neji sangat terkejut dengan apa yang sedang dipandanginya saat ini.

Hinata yang sedang mengelus-ngelus pantatnya yang sakit, menyadari ada seseorang di pinggirnya yang ternyata adalah Neji sepupunya. Neji segera mengulurkan tangan kananya untuk membantu Hinata berdiri, dan Hinata pun menerima uluran tangan Neji.

"Kau tidak apa-apa Hinata?" tanya Neji khawatir.

"Ya, aku tidak apa-apa kok nii-san," jawab Hinata, dan segera mengangkat kembali kardusnya. Untung saja kardusnya tertutup rapat oleh sebuah tali, kalau tidak entah bagaimana sekarang.

"Biar aku saja! Sepertinya berat sekali." Neji segera mengambil kardus itu dari pangkuan Hinata, lalu mengangkatnya dengan enteng.

"Arigatou nii-san."

"Hn sama-sama, mau di taruh kemana kardus ini?"

"Di kamarku."

Neji dan Hinata pun berjalan ke arah kamar Hinata yang hanya berjarak lima langkah saja dari tempat kejadian itu. Hinata membukakan pintu untuk Neji, lalu Neji pun masuk ke kamar dan menaruh kardus itu di pinggir meja belajar.

"Sekali lagi terimakasih ya nii-san."

"Ya, lain kali jika ada barang yang berat sebaiknya kau jangan memaksakan diri!"

"Ya."

Neji pun segera keluar dari kamar Hinata, dan tak lupa dengan menutup pintunya. Sedangkan Hinata, ia sedikit kebingungan dengan barang-barang yang ada di hadapannya ini. Hinata pun berjongkok dan membuka talinya.

"Mau ku apakan barang yang sebanyak ini?" tanyanya pada diri sendiri.

"Baiklah, mungkin aku harus mengeluarkannnya dulu, lalu memilihnya untuk disimpan atau dibuang."

Hinata mengeluarkan satu persatu barang-barang yang di dalam kardus itu. Banyak barang-barang masa kecilnya yang ia simpan. Seperti mainan perempuan, boneka, serta buku-buku diary yang ia tulis dulu.

Setelah mengeluarkan semua isi yang di dalam kardus, Hinata sedikit heran dengan sesuatu yang terselip di sebuah buku cerita Puteri Salju. Tangannya pun mengambil sesuatu yang terselip itu dan segera dilihatnya baik-baik.

'Surat apa ini? Sepertinya aku belum pernah melihatnya,' batinnya heran.

Hinata segera membuka surat itu dengan perlahan, karena surat itu kertasnya sudah usang tapi masih rapi, seperti belum pernah terbuka.

Dear Hinata,

Hinata, aku tidak tahu harus mulai darimana. Aku ingin berbicara padamu, tapi aku sudah tidak ada waktu lagi. Lalu ku goreskan saja tinta ini untuk mewakili hati ini yang ingin berbicara padamu.

Dari pertama aku bertemu denganmu, sebenarnya aku menyukaimu Hinata. Mata lavendermu yang indah memancarkan sebuah ketenangan dan ketentraman di hatiku. Lama sudah aku memendam perasaan suka padamu. Namun aku menyadarinya, perasaan suka ini bukan suka untuk seorang sahabat. Melainkan , sebuah cinta pada seseorang yang ku sukai, dan itu kaulah orangnya.

Aishiteru, Sasuke.

Hinata membelalakkan matanya. Hatinya terkejut dengan sebuah surat yang telah ia baca ini. Tangannya bergetar disaat sedang memegang secarik surat dari Sasuke, matanya mulai berkaca-kaca. Tak tahan membendungnya, air mata itu pun jatuh menetes pada lantai.

"Ya Tuhan, sejak kapan surat ini ada disini?" kata Hinata lirih.

FLASHBACK

TING TONG

Suara bel yang berbunyi di kediaman Hyuuga di Iwa, membuat Hinata terbangun dari mimpinya. Dengan terpaksa, Hinata bangun dari ranjangnya dan pergi berjalan ke arah pintu depan untuk membuka siapa yang bertamu pagi-pagi ini.

TING TONG

"Ya sebentar!" teriak Hinata saat mendekati pintu.

Hinata pun membuka satu pintu yang terdiri dari dua pintu itu. Setelah pintu dibuka, mata Hinata sedikit menyipit karena silau matahari yang menyorot mata Hinata.

"Hinata…"

Hinata sedikit terkejut mendengar suara yang ditujukan kepadanya. Dengan terpaksa, Hinata segera membuka matanya yang menyipit untuk melihat siapa yang memanggilnya. Setelah matanya terbuka, Hinata kembali terkejut saat melihat seseorang yang ada di hadapannya.

"Sa… suke?"

"Ya, aku ingin—"

"Mau apa kau kesini?" Hinata segera mengambil ancang-ancang untuk menutup pintu. Namun hal itu segera disadari Sasuke.

"Tunggu Hinata aku hanya ingin berpamitan denganmu."

Hinata buru-buru menutup pintunya dengan cepat, sehingga Sasuke terlambat menahan pintunya. Hinata berdiri di belakang pintu dengan terisak. Entah bagaimana, Hinata hari ini tidak ingin melihat Sasuke.

"Hinata, aku mohon buka pintunya sebentar!" teriak Sasuke.

"Hiks… aku… aku tidak ingin bertemu hiks… lagi denganmu."

"Tapi kumohon Hinata, berilah aku kesempatan sekali ini! Aku memang masih ingat dengan janjiku Hinata, aku akan bersamamu selamanya dan melindungimu sampai mati. Aku masih ingat itu Hinata, tapi aku harus benar-benar pergi. Ku mohon—"

"PEMBOHONG. AKU BENCI ORANG YANG PEMBOHONG!" teriak Hinata keras, sehingga Sasuke dapat mendengar teriakkan Hinata dari luar.

"Maafkan aku Hinata, maafkan aku!" teriak Sasuke kembali.

"KAU PEMBOHONG. AKU BENCI PADAMU." Hinata berteriak lagi, Sasuke pun kembali mendengar kata-kata menyakitkan itu. Hinata pun segera berlari ke kamarnya karena ia benar-benar tak ingin bertemu Sasuke.

1 menit

5 menit

10 menit

Sasuke masih menunggu di luar, menunggu Hinata membukakan pintu untuknya. Namun sepertinya sia-sia, sampai saat ini Sasuke tidak mendengar suara pintu terbuka. Tapi setelah itu, Sasuke sedikit terkejut pada pintu yang sepertinya akan terbuka.

"Hinata…" Guman Sasuke.

Tetapi setelah pintu terbuka, keluarlah sesosok perempuan yang berdiri di hadapan Sasuke. Sasuke segera melihat pada perempuan itu, sebelumnya Sasuke berharap Hinata memberi kesempatan padanya. Namun setelah melihat pada sesosok perempuan itu, harapan Sasuke buyar.

"Gomen, ada yang bisa saya bantu?" tanya perempuan itu. Sepertinya, perempuan itu adalah pelayan dari kediaman Hyuuga. Terlihat sekali pakaian yang dikenakan oleh perempuan itu. Pakaian yang dikhususkan untuk seorang pelayan. Serta rambut hitamnya yang diikat seperti ekor kuda. Mulutnya yang manis menyunggingkan senyuman ramah pada Sasuke.

"Err… aku ingin bertemu Hinata," jawab Sasuke dengan pelan, namun cukup terdengar oleh pelayan itu.

"Baiklah, silahkan masuk dulu! Saya akan memanggilnya."

"Ah… tunggu!" cegah Sasuke saat perempuan itu akan memanggil Hinata ke dalam.

"Ya?"

"Aku harus pergi, sampaikanlah surat ini padanya!" kata Sasuke sambil memberikan sepucuk surat pada pelayan itu. Pelayan itu pun menyunggingkan senyuman ramahnya lagi, serta mengambil sepucuk surat itu dari tangan Sasuke dengan hati-hati.

"Arigatou, aku harus pergi. Dan sampaikan salamku juga padanya!" kata Sasuke sambil pergi.

Pelayan pun menutup pintunya setelah Sasuke pergi, dan segera pergi ke kamar Hinata untuk menyampaikan titipan Sasuke. Setelah sudah sampai di depan kamar Hinata, pelayan segera mengetuk pintunya, namun tak ada jawaban dari dalam, sehingga pelayan itu memutuskan untuk masuk saja.

CEKLEK

'Tidak dikunci ternyata' batinnya. Dan segera masuk ke kamar.

Setelah berada di kamar, pelayan sedikit heran dengan keadaan kamar tersebut. Sepi, ya itulah yang ada di pikirannya saat ini. Namun, tak lama kemudian pelayan mendengarkan sura aliran sower dari dalam kamar mandi yang berada di kamar Hinata.

"Ternyata Nona Hinata sedang mandi," ucapnya di dalam hati.

"Sebaiknya ku selipkan saja suratnya di buku ini," gumannya, dan segera keluar dari kamar Hinata. Surat yang dititipkan Sasuke, diselipkan pada sebuah buku cerita anak-anak yang berada di atas meja belajar.

Tak lama kemudian, Hinata membuka pintu kamar mandi. Harum buah-buahan tercium segar di seluruh penjuru kamar Hinata. Termasuk Hinata, ia begitu menikmatinya. Ia baru saja selesai dari ritual mandinya sejak pertemuan Sasuke tadi.

Sekarang Hinata berjalan menuju balkon kamarnya untuk mengeringkan rambut pendeknya yang sedari tadi menetes pada lantai. Tapi sebelum sampai di balkon, matanya tak sengaja melirik pada sebuah buku cerita anak-anak yang tergeletak di atas meja. Ia sangat ingat sekali bahwa buku itu merupakan pemberian Sasuke dulu.

Tangannya yang sedikit basah mengambil buku itu, dan dilihatnya dengan tatapan sedih. Matanya yang berkaca-kaca mulai mengeluarkan air mata bening dan terjatuh pada pipinya yang putih mulus.

"Sepertinya aku sudah tak butuh buku ini Sasuke, aku akan melupakanmu. Aku tak ingin bersedih atas janjimu dulu," gumannya.

Buku itu segera dilemparkan pada sebuah kardus besar di kolong meja belajar. Tempat barang-barang Hinata yang sudah tak terpakai, namun masih disimpan. Tanpa ragu, Hinata segera berjalan ke arah balkon kamarnya, meninggalkan buku pemberian Sasuke yang dilempar tanpa mengetahui ada sesuatu di dalamnya.

END OF FLASHBACK

Suasana pagi di lorong sekolah KSHS, merupakan hal yang sangat ramai pagi ini. Bagaimana tidak? Banyak perempuan yang haha hihi karena bergosip ria. Sama hal-nya dengan laki-laki, kebanyakan dari mereka berkumpul dengan canda dan tawa yang menggelegar seisi gedung KSHS.

Begitu pula dengan tiga perempuan yang berjalan di sepanjang koridor ini. Sakura, Ino dan Hinata. Itulah tiga perempuan yang saat ini sedang bergosip ria di sepanjang koridor dengan berjalan menuju kelas. Tapi sepertinya yang berbicara hanya Ino saja, terlihat sekali Sakura yang hanya mendengarnya dengan bosan dan Hinata tidak mendengarnya sedikitpun.

"… waktu Sai memegang tanganku, Ia menatapku dalam-dalam dan dia… dia menciumku sesaat… bla… bla.."

"Ino, kau sudah menceritakannya dua kali di telpon tadi malam kan? Aku sudah bosan mendengarnya," ujar Sakura dengan muka yang sangat bosan.

"Tapi kan aku belum puas menceritakannya padamu…"

Sakura hanya memutarkan matanya bosan setelah mendengar alasan Ino. Mereka terus berjalan sepanjang koridor untuk menuju kelas, namun setelah sampai di belokkan…

BRUKK

Sorang lelaki menubruk Hinata hingga terjatuh, bahkan buku-buku Hinata yang sedari tadi di pegangnya terjatuh ke lantai. Hinata mengaduh kesakitan, sedangkan lelaki tadi segera membereskan buku-buku Hinata dengan di bantu oleh Sakura dan Ino yang tidak terjatuh.

"Gomen, aku tidak sengaja. Hinata?" Lelaki itu sedikit terkejut saat melihat ke arah Hinata.

"Ya tak apa…" Hinata segera menengok lelaki itu, dan Hinata pun terkejut juga saat melihat Sasuke yang ada di depannya. Ya, orang yang menubruk Hinata tadi adalah Sasuke, namun tak disadari Hinata, begitu pula dengan Sasuke.

'Sa…suke,' batin Hinata.

DEG

Jantung Hinata berdetak lebih cepat dari biasanya, mukanya yang putih sekarang sudah memerah saat melihat wajah Sasuke dari dekat. Apalagi sakarang Hinata teringat dengan surat cinta Sasuke yang dulu itu.

'Kenapa aku jadi deg-degan begini,' batin Hinata.

TBC

HUWAAA…. chapter ini gak seru ya! konfliknya belum mulai lagi, sebenarnya sih Tha lagi pusing buat mikirin chapter tiga ini karena gak ada ide #PLAKK

Tapi, karena Tha gak ingin ngecewain readers dan senpai-senpai yang udang review, akhirnya Tha buat aja ceritanya kayak gitu *nunjuk ke atas*, maaf ya kalau kurang seru dan masih ada banyak Typo yang bertebaan! Chapter depan Tha janji deh buat mulai konfliknya, tapi sedikit demi sedikit (^_^)V. Oh ya yang masalah surat cinta Sasuke itu terlalu to do point banget ya? soalnya Tha gak bisa bikin surat cinta T.T *readers:huuuuuuuuuuu*

Ok bales review

Uchiha Eky-chan: Ya, jawabanmu benar sekali, masalah Sasuke suka sama Hinata Tha cuma mau jawab perasaan Sasuke yang dulu, kalau yang sekarang masih RAHASIA #Plakk. Thank's udah review, review lagi ya :D

Nene Zura' no Uchikaze: Wahh… suka SasuHina ya? tapi sayang, SasuHina mungkin hanya slight saja :(, thank's udah review, reciew lagi ya :D

Just Ana: semangat dong! Di akhir chapter nanti juga jadi SasuSaku*bocoran*. Thank's udah review, review lagi ya :D.

REVIEW PLEASE ^_^

KRITIK DAN SARAN?