Chapter 2

Dua Keping Hati

Naruto and all of characters belong to Masashi Kishimoto's. Story and all of imagination is totally mine, i just borrow the characters.

If any related story like this, it wasn't intentionally create, i didn't mean to copy yours in case of copy right violations.

.

.

Happy reading, minna-san...

"Kau? Kenapa menamparku?" tanya lelaki itu tak mengerti.

"Karena kau, SASUKE UCHIHA!"

.

.

"Hei! Kenapa kau menampar dia, nona merah jambu~!"

Gasp! Pengawas! Kenapa aku menampar lelaki tengik ini saat pengawas ujian sudah tiba? Kapan pengawas datang? Aku tidak melihat dia datang. Gosh! Apa yang akan terjadi selanjutnya? Jangan biarkan pengawas ini mencabut nyawaku sekarang! Aku masih mau ikut ujian!

"Jangan mentang-mentang kau wanita sehingga bebas menindas laki-laki ya, nona!" pengawas itu makin membaritonkan suaranya /tunggu, dia wanita dan bersuara bariton(?)/. "Kalau kau menganggap dirimu lebih kuat dari laki-laki, pakai celana! Jangan pakai rok ke sekolah!"

Aku ingin menyanggah kata-katanya, tapi, oh, air mataku untuk lelaki tengik di sampingku sudah meluber. Sasuke... Kenapa kau diam saja melihat diriku diomeli. Dasar! Kau memang tengik! Kau pasti sedang tertawa dalam hatimu kan!

"Sekarang saja kau menangis! Dasar cengeng! Cepat minta maaf ke temanmu!"

Min-ta-ma-af-what-the-hell-?-!-!-!

Oh! Ya, aku memang salah main tampar Sasuke yang baru bertemu sejak sekian tahun, yang, ups! Belum tentu juga itu Sasuke! Sigh! Aku ingat! Review di chapter lalu! Ada reader yang mengatakan bahwa jika itu mungkin bukan Sa~su~ke, maka, maka, oh! Aku perlu gunting! Silet! Cutter! Untuk memotong urat maluku!

Dan lihat! Wajahku seketika merah padam! Aku sudah dirundung rasa malu. Kami-sama, apa yang harus kulakukan. Bantu aku. Aku butuh alat pengundur waktu agar bisa kembali 2 meniiittt saja~.

"Hey! Kenapa diam! Cepat minta maaf!" bentaknya lagi.

Aku pun dengan ogah-ogahan mengulurkan tanganku ke haribaan Sasuke yang belum pasti ini. Aku masih menundukan kepalaku untuk minta maaf padanya. Lalu, jika Sasuke tidak mau memaafkanku, apa yang akan dilakukan monster itu lagi! (baca: pengawas ujian) Aku tidak mau dia memakanku hidup-hidup!

"Aku tidak memaafkanmu," jawab Sasuke datar.

"Dan sekarang kau tidak boleh ikut ujian kecuali atas maaf Sasuke!"

Oh! Matilah awak~! Fakultas Kedokteran, tinggal mimpi!

Stop! Bersihkan otakmu dari pikiran negatif! Sasuke pasti akan menjabat tanganmu lalu mengguncang-guncangkannya dan berkata dengan nada hangat, 'Tak masalah Sakura', atau dengan datar, 'Hn'.

"Maaf, ya..." ujarku.

"Beritahu jawaban ujianmu ya," bisiknya seraya menyambut tanganku.

Kemudian aku berani mendangahkan wajahku dan menatapnya dengan tatapan berapi-api. Dan dia malah cengar-cengir seperti bocah yang dibelikan permen kapas!

"Jangan tampar aku lagi, cuma bercanda kok," jawabnya sambil tersenyum jenaka. Puas menatap diriku yang sudah kacau-balau di detik-detik menjelang ujian masuk universitas.

"Okay! Sekarang masalahnya sudah selesai. Kita mulai ujian 10 menit lagi. Kalian isi dulu data-data kalian. Jangan sampai salah," ujar pengawas itu seraya membagi-bagikan lembar jawaban komputer.

.

.

"Kakashi-kun! Aku sebal sekali hari ini. Huh!" aduku kepada Kakashi.

"Kenapa Sakura-chan? Tapi kau bisa mengerjakan soal-soal ujian tadi kan?"

"Ya, aku bisa. Soal-soalnya sudah out of brain semua. Aku kesal sekali Kakashi! Ayo hibur aku hari ini, ya?"

"Tentu saja. Ayo ke mobil," ajaknya seraya menggandeng tanganku.

Kami pun melaju meninggalkan lokasi ujian entah kemana, sesuai kehendak Kakashi saja. Tapi awas saja dia membawaku ke tempat yang membuat kepalaku makin berasap!

.

.

"Ka-kau serius, Sascakes? Eh, ups, Sasuke?" tanyaku salah tingkah.

"Ya, aku serius. Aku suka padamu, Sakura. Apa kau mau jadi, umm, pacarku?"

Tubuhku semakin melemas. Aku ingin pingsan dibuatnya. Lidahku sampai terasa membeku untuk menjawab, 'Ya, aku mau'. Meski kita masih 10 tahun, mengapa ya kita sudah bisa merasakan cinta, Sasuke?

"Sakura? Jawablah. Aku menunggumu."

"Sascakes, eh, Sasuke. Maaf-maaf-"

"Sascakes? Umm, kedengarannya bagus juga."

"Mulai sekarang aku memanggilmu, Sascakes ya?"

"Ya, aku suka panggilan itu. Dan apa aku boleh memanggilmu, Sakura-hime?"

"Boleh! Karena aku juga suka padamu, Sascakes!" jawabku seraya memeluknya, tak sanggup lagi kumembendung kebahagiaanku.

Dan hujan di luar sana perlahan mereda.

.

.

"Kakashi, memangnya ada apa di sini?" tanyaku padanya karena baru pertama kali kujejaki tempat rekreasi ini. "Paling cuma pohon-pohon saja. Aku tidak suka, Kakashi."

"Aku punya kejutan untukmu di dalam sana. Kau pasti suka," jawabnya dengan nada persuasif yang membuat semua wanita bertekuk lutut.

Aku pun mengikutinya. Tempat ini tak seburuk yang kukira. Ini hutan wisata yang tidak begitu ramai. Pohon-pohon beraneka varietas tertanam dengan rapi memberikan kesejukan yang tak kutemui di kota. Tempat ini berbeda sekali dengan kesan hutan yang ada di kepalaku. Ya, aku takut hutan belantara.

"Memangnya ada masalah apa Sakura?"

"Tadi aku menampar seorang pria," jawabku dengan nada melemah dan membuat Kakashi bingung dengan intonasiku.

"Memangnya kau diapakan? Kenapa kau seperti orang yang menyesal?"

"Pertama dia menabrakku sampai mata kakiku sakit-"

"Kakimu sudah sembuh?" tanyanya memotong. Ia sangat khawatir hingga sorot matanya berkata, 'Tak gendong, kemana-mana, tak gendong, kemana-mana'.

Stop! Kenapa lagu Mbah Surip!

"A sudah-sudah. Cuma nyeri sedikit kok," jawabku.

"Yakin?"

"Iya!" jawabku gemas sehingga menyubit pipinya.

"Adaaoouuwww..." iya merintih manja.

"Hey? 'Aduh'-nya biasa aja kali?"

"Ini kan 'jeritan cinta'. Hahaha..." sahutnya sambil tertawa lepas.

"Wooo... Mulai lagi deh gombalnya," aku lalu menyikut lengannya pelan dan ikut tertawa.

Ia pun menggandengku di pinggang dan dengan tangannya yang satu lagi, ia mejewer telingaku. "Pacar yang nakal," ujarnya.

"Iii~ kamu tuh pacar yang badung," sahutku.

"Eit, tadi sampai mana? Yang kedua?"

"Ya, yang kedua, dia meninggalkanku setelah menabrakku!"

"Ha! Yang benar?"

"Iya! Jahat sekali! Dasar laki-laki tengik!"

"Dasar tidak tahu malu! Meninggalkan wanita dalam kesulitan! Padahal dia yang telah membuat wanita itu sulit! Oh~ sungguh kasihan sekali wanita itu. Wanita yang malang..."

"Hey? Aku wanita yang kau maksud, Kakashi-kun," jawabku seraya menaikkan sebelah alis.

"Oh? Eh! Iya! Kau ya? Lupa~" ia menggaruk-garuk belakang kepalanya yang mungkin tak gatal. "Maksudku, pria bajingan! Perlu dibalas! Kau tahu dia siapa, Sakura?"

"Nah, itulah Kaka-kun inti masalahnya," jawabku lemas.

"Memangnya dia siapa?"

"Kau tak kan marah ya bila kuberi tahu siapa dia?"

"Iya! Suer!" jawabnya seraya menaikkan jari telunjuk dan tengah.

"Dia-dia, dia mantan pacarku."

"Lalu?"

"Setelah aku tahu dia siapa, aku refleks menampar wajahnya. Bukan karena dia telah menabrak sekaligus meninggalkanku, tapi-tapi, ummm, masa lalu kami, dan stop! Jangan tanya, 'Memangnya apa masa lalumu dengan dia?', stop! Aku tak ingin mengungkitnya, Kaka-kun..." jawabku penuh ekspresi dan bahasa tangan.

"Apa dia yang membuatmu tak bersemangat belajar minggu lalu?"

Gasp! Tebakan Kakashi benar! Dan, eh? Mantan pacarku cuma Sasuke doang kali~!

"I-iya!" entah mengapa wajahku menghangat. Pasti aku sudah merah padam.

"Lalu selanjutnya?"

"A-aku menamparnya saat petugas ujian sudah masuk ke dalam ruangan!"

"Ha! Berarti kau kena sembur dong, Sakura-chan?"

"Bukan sembur lagi! Itu sudah mengalahkan letusan Gunung Krakatau!"

"Wah! Terus?"

"Ya, aku diceramahi dengan suara bariton! Dan akhirnya aku dipaksa minta maaf kepada mantan pacarku itu."

"Lalu kau minta maaf?"

"Ya iya, mau bagaimana lagi?"

"Oh, bagus-bagus."

"Eh? Bagus apanya?"

"Berani minta maaf! Itu perbuatan mulia!"

"Iya sih~."

"Lalu, apa benar itu mantan pacarmu?"

"Ha! Iya! Kau sadar juga Kakashi! Setelah aku diceramahi oleh pengawas ujian, aku baru sadar kalau mungkin dia bukan mantan pacarku yang ku maksud. Aku hanya menatap wajahnya satu kali sebelum menamparnya dan wajahnya mirip sekali dengan mantan pacarku! Dan aku sudah tidak bertemu dengan dia bertahun-tahun! Aku ragu kalau mungkin itu memang bukan dia!"

"Wah! Parah sekali kau Sakura! Asas praduga tak bersalah!"

"Ah Kaka-kun! Aku tak berani lagi menatapnya. Aku malu kalau memang jika itu bukan dia. Emosiku terlalu tak terkendalikan pada pandangan pertama itu. Akhirnya saat ujian selesai, aku segera lari meninggalkan ruangan."

"Eh, Sakura! Itu! Itu kejutannya! Lihat!"

.

.

"Sakura, aku ingin memperlihatkan kau sesuatu," ujar Sasuke.

"Apa?"

"Ikut aku ya?" ia lalu menggandeng tanganku dan aku hanya mengangguk setuju.

Ia membawaku ke halaman rumahnya. Ada sebuah gazebo di sana dan beberapa ayunan. Aku duduk bersebelahan dengannya di bench berwarna hijau di dalam gazebo. Kami memandang langit yang masih meneteskan gerimis. Langit nampak kejinggaan dan ada sapuan-sapuan tipis awan hujan yang tersisa.

Perlahan, busur-busur warna tercipta. Semakin nyata dan indah. Membentang dan berakhir dari ujung-ujung yang tak kutahu. Sangat tentram dan membuatku kagum. Maha karya Tuhan yang selalu kudambakan, bianglala.

"Kau suka pelangi, Sakura?"

"Ya! Aku suka! Suka sekali! Terimakasih ya Sascakes!"

"Yap! Umm...Sakura, aku... sangat mencintaimu."

"Aku juga Sascakes," jawabku sambil merapat ke tubuhnya.

"Aku tak akan meninggalkanmu, Sakura..."

"Ah, kau gombal. Kita kan masih kecil," sahutku seraya tertawa renyah.

"Ih! Aku akan selalu berada di sisimu, aku berjanji!"

"Iya-iya, aku terima janjimu," aku tersenyum tulus dan dia memelukku.

Mulai dari saat ini, aku menyukai pelangi. Apalagi aku duduk menatap pelangi bersama Sasuke. Pemandangan yang begitu membuatku tenang. Oh, Kami-sama, terimakasih. Hari ini kau telah memberikan Sasuke untukku. Lalu kau menyuguhkan pelangi padaku. Dan terakhir kau membuat Sasuke berjanji tak akan meninggalkanku. Aku sangat bahagia. Terimakasih, Kami-sama...

.

.

"Sakura! Pelangi di air terjun itu, indah kan?"

Oh, Tuhan... Mengapa kau memberikanku imaji yang serupa? Mengapa kau tega menohokku?

Mengapa kau menyuguhkanku pelangi, Kakashi? Aku bahagia, tetapi mengapa kau mengingatkanku pada Sasuke? Hatiku sakit. Pilu. Aku ingin tersenyum tapi ku tak bisa, bahkan mataku mulai terasa panas lagi. Aku ingin menangis. Aku ingin lari, tapi kakiku terpaku. Aku ingin menutup mataku, tapi entah mengapa pelangi itu tak mampu membuat mataku berkedip sekali saja.

"Sakura? Kau kenapa?" tanya Kakashi. Aku hanya diam tak bisa lidah ini digerakkan.

Dan seketika aku roboh di pelukannya. Aku menangis terisak-isak dan membuat Kakashi bingung. Kupeluk ia sekuat-kuatku. Aku tak ingin kehilangannya.

Kurasakan Kakashi membalas pelukanku. Dia usap-usap punggungku mencoba menenangkan. Tapi aku terus menangis di dadanya.

.

.

Ini hari pertamaku menjadi pacar Sasuke. Aku sangat bahagia. Aku ingin memamerkannya pada sahabat-sahabatku tentang hubungan kami. Pasti mereka akan sangat iri. Maklumlah, Sasuke memang idaman siswi-siswi Konoha Elementary School.

Untuk itu, aku bahkan sudah memaksa Naruto bertukar tempat duduk denganku. Tujuan tidak lain agar aku bisa duduk di samping Sasuke dan Naruto duduk di samping Hinata. Ini adil kan?

Sampai bel masuk dibunyikan, hanya tinggal aku yang duduk sendiri. Sasuke belum juga tiba. Mengapa dia telat ya? Sasuke kan selalu jadi murid teladan. Apa yang terjadi ya? Mungkin dia sakit.

Pelajaran pertama pun di mulai. Aku terpaksa duduk sendiri. Andaikan aku tidak memaksa Naruto bertukar tempat duduk, pasti aku tetap di samping Hinata dan tidak sebosan ini. Guru pun mulai mengabsen kehadiran.

"Uchiha Sasuke? Uchiha Sasuke?"

"Tidak masuk bu. Mungkin sakit," jawabku.

Guru pun melanjutkan absensi kelas.

Dok-dok-dok. Pintu kelas kami tiba-tiba diketuk. Kepala sekolah lalu datang mendekati guru kami yang sekaligus wali kelas ini. Mereka saling bisik dan mengundang keingintahuan satu kelas. Setelah itu, wali kelas mulai berbicara pada kami dengan mimik yang sangat membuatku penasaran.

"Ada kabar mengejutkan dari kepala sekolah, anak-anak. Berita ini kurang baik tapi ibu harus menyampaikannya ke kalian karena kalian adalah teman satu kelasnya. Ini tentang Sasuke," wali kelas kami mengambil nafas yang lebih dalam dan memasang wajah yang semakin pucat.

Jantungku mulai berdebar makin kencang. Aku khawatir.

"Semoga kita semua bisa tabah dan mampu mengikhlaskan bahwa teman kalian, Sasuke Uchiha, semalam telah menghadap Yang Maha Kuasa. Ibu sangat berduka cita akan kepergian sahabat kalian itu-"

Aku tak memperhatikan lagi kata-kata wali kelasku. Dunia ini seketika serasa berputar di kepalaku. Tulang belulangku seakan meleleh. Kekuatanku terenggut seluruhnya. Tanganku bergetar. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhku tanpa terkecuali.

Sebuah belati telak menusuk di jantungku. Aku ikut tak bernyawa. Hanya tubuhku yang membeku, menatap nanar, bahkan sebutir air mata pun tak bisa jatuh. Kugigit bibir bawahku. Kurasakan darah mulai keluar tapi perihnya luka ini belum mampu mengembalikan kesadaranku.

Bayang-bayangnya lalu bermain di kepalaku. Seperti sebuah slide show. Senyumnya sekarang mengejek diriku yang terluka. Tak kutemui lagi dirinya yang membuatku nyaman, bayangnya justru membuatku tersiksa.

Kuputar lagi kisah bahagiaku yang belum genap 24 jam. Aku yang berada begitu dekat dengannya. Aku mengajarinya. Dia menyatakan cintanya padaku dan aku menerimanya. Dia lalu mengajaku menatap bianglala dan berjanji tak akan meninggalkanku. Dan kini semuanya sirna. Tenggelam dalam air mataku yang perlahan mulai menetes. Terbakar perasaan kehilanganku yang merajai hati. Janjimu memang seharusnya tak pernah kusimpan dalam hati, karena kini kau tengah menggerogoti diriku, membuat diriku sengsara dalam derita.

Kisah kecil yang baru sempat dibangun fondasinya, sudah lenyap begitu saja. Semuanya tandas. Bunga-bunga cintaku yang baru bermekaran, bersemi dengan semerbak keharuman, kini tercampakan tiap kuntumnya. Semuanya layu, tersayat, tertebang, dan akhirnya terpanggang mentari. Hingga asaku terputus nyalinya dan hanya tinggal kenangan yang telah mati di tengah-tengah ladang bunga yang telah porak-porandah.

Selamat tinggal, Sascakes...

.

.

"Kakashi, ja-jangan per-nah ting-galkan aku..." aku berbicara masih terisak-isak.

"Ya, aku berjanji. Aku pasti selalu ada untukmu," jawabnya seraya mengacak lembut rambutku dan mengecup keningku.

"Aku sangat mencintaimu, jangan buatku sakit lagi, ya Kaka-kun?"

"Ya, aku juga sangat mencintaimu, Saku-chan..."

Ia lalu memanggut daguku dan perlahan mengecup bibirku dengan lembut dan hangat hingga akhirnya aku tenang kembali.

.

.

Selama ini ku tak mampu menghapus dirinya. Aku hidup dalam lingkaran semu tentangnya. Aku tak bisa menerima kenyataan bahwa dia sudah tiada.

Aku ingin dia tetap hidup, meski hanya dalam benakku, meski hanya dalam imajinasiku. Hingga aku mencintai sesuatu yang tak ada. Hingga aku senantiasa tersiksa saat ku sadar ia tak kan kembali lagi.

Jiwaku selama ini terpenjara. Dan aku justru menikmati masa tahananku. Aku sadar aku bisa bebas kapan pun. Tetapi mengapa ku selalu tak mau.

Dan kini aku sadar bahwa aku butuh kebebasan. Aku lelah menderita. Aku masih memiliki sepasang sayap yang bisa kukepakkan, yang bisa membawaku terbang tinggi, yang bisa membuatku menikmati indahnya langit.

Aku terus mencari dirinya yang semu. Seperti terus mencoba mencari ujung bianglala. Aku bisa mengakhiri pencarianku dan tetap menikmati indah dirinya. Aku tak harus menggapai dirinya karena ia selalu ada di hatiku, tertanam meski hanya kisah kecil masa lalu.

Sekarang semuanya harus selesai. Dengan memenjarakan jiwaku, maka aku juga telah memasung rohnya dalam khayalku. Aku ingin kami bebas. Aku ingin dia bahagia di nirwana dan aku berhenti kecewa, menderita, dan sengsara. Aku berjanji tak akan melupakannya. Aku hanya ingin mengarungi jalan hidupku yang baru, bersama seseorang yang mencintaiku dan aku pun mencintai dirinya. Kakashi-kun..

Karena biar bagaimana pun dia memang tak 'kan pernah kembali, lalu mengapa 'ku tetap menanti?

.

.

Such Omake

.

.

Bel ujian telah berbunyi. Aku segera mengumpulkan lembar ujianku dan berlari meninggalkan ruang. Tetapi tiba-tiba ada yang menarik lenganku. Kucoba melawan dan menarik paksa tanganku tanpa menatapnya. Namun, dia terlalu kuat.

"Hey? Kau mau kemana?"

Ah! Ini suara si Sasuke palsu yang tadi kutampar. Mau apa dia? Dasar tengik!

"Aku belum memaafkanmu loh," ujarnya dengan nada meledek.

"Bodo! Emangnya gue pikirin!" jawabku ketus.

"Galak banget sih. Anyway, aku masih penasaran mengenai gerangan kau menamparku," ujarnya.

Dan, oh! Aku malas menjawab pertanyaan ini.

"Aku kan sudah minta maaf padamu karena sudah menabrak tadi, tapi kenapa kau masih menampar?"

"Ah berisik kau ah!" balasku. Aku tak berani menatapnya karena wajahnya terlalu mirip dengan Sasuke. Oh, Kami-sama, aku sekarang butuh alat pemercepat waktu sebelum jantung benar-benar copot!

"Ya sudah kalau kau tak mau memberi tahu. Tapi salam kenal! Namaku Sasule Uchiha! Kita bisa berteman kan?"

"WHAT! SA-SU-LE-!-!-!" teriakku sangat kaget sehingga seisi makhluk di koridor menatapku.

.

A/N

.

Selesai juga fic ini! Horray! Gimana Shiqie? Kau tertohok lagi kah? Sekedar mengingatkan Sasule di foto ultahmu... wkwkwk... *ketawaiblis*

Dan diingatkan lagi bahwa endingnya KakaSaku... Oh.. Percintaan guru dan murid! Unyu-unyu! /BLETAK!/

Kau senang kan Shiqie? Akhirnya bisa menyatu dengan guru matematika SMA kita... Meski sekarang kita sudah menginjak bangku kuliah?

*ketawanista*

Untuk Fath dan Kanarienvogel, bagaimana? Kau puas tidak? Semoga kau puas ya! /puas menertawakan Shiqie/

HUAAHHAAAHHAAAA...

Untuk readers, tahu ga Sasule itu apa? Kalo yang belum tahu, saya kasih tahu kalau Sasule itu ada wajah Sasuke yang diedit, diganti pake muka Sule!

Wkwkwkwkkkk

Selamat membayangkan~

Akhir kata, review-nya dinanti...

Flame juga ga papa,

Ga ngeripiu dan ngeplem juga boleh kalo baca aja...

Yang penting jangan sampe ada yg minta fic ini dibredel! Soalnya ini fic yang bikin saya senyum-senyum gaje ngebayangin Shiqie dan guru matematika saya...

Wkwkwkkkk