Hai hello, Ruru datang nih, chap ini saya ketik nyicil pas jam istirahat di tempat kerja hehehe, coz kompie-san belom pulang, jadi nebeng ngetik sambil makan siang ^_^

Ntar kalo kompie-san udah pulang, aq update semua deh utang-utang Ruru, tapi abis itu mungkin agak lama lagi updatenya, coz saya mau konsentrasi dulu ama proyek saya yang deadlinenya tinggal 2bulan lagi T.T

Seperti biasa, sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih pada reader-sama, yang udah bersedia mereview fic ini,

Airi Princess'darkness angel, Sukie 'Suu' Foxie, Agusthya, Yamanaka Chika, Akira 'rei-chan' himeko, El cierto, Lovely Orihime, Vaneela, Nyx guartz, Kara 'Luvia' Couleurs(aka:Shie Boz), Vipris, Winda wou zuki, Jee-zee Eunry, Uchiha Yuki-chan.

Arigato gozaimasu .

Dan untuk yang udah nge-fave, nge-alert sama yang udah baca tapi kagak ripiu ato istilah kerennya (silent reader) *puh lidah ane keseleo ngomong pake bs. Ingg* .

Saya ucapkan terima kasih banyak semuanya, berkat kalian saya masih bisa bersemangat untuk melanjutkan fic ini.

Saa minna...enjoy this chap ^_^v

Disclaimer: Saya yakin kalo misalnya hak cipta Naruto pindah ke saya, pasti banyak yang protes, makannya sampe saat ini pun Hak ciptanya tetep dipegang ama Om Kishimoto, mungkin sekarang lagi disembunyiin di suatu tempat biar saya nggak bisa nemuin (-.-)

Hate x Love

Last chapter

=When I Know The Thruth=

Miiiing...miiiing...miiing...

Suara serangga-serangga musim panas bersahutan di setiap penjuru kota, menambah suasana gerah di tempat itu semakin terasa, belum lagi dengan terik matahari yang selalu setia memancar di atas sana, tanpa sedikit pun memberi belas kasihan pada penduduk bumi dengan menurunkan sedikit kadar panasnya, yaah dan itu tidak mungkin terjadi kan? Mengingat pemanasan global yang semakin hari semakin parah.

"Astaga...apakah sekarang ini aku sedang berada di dalam sauna?" desah Ino yang saat ini sedang tiduran beralaskan lantai, dan menghadap kipas angin yang sudah dia setel dengan kecepatan tertinggi.

"Padahal sudah pakai baju setipis ini, dan sudah menghadap kipas angin, kenapa masih panas?" gerutu Ino sambil berguling-guling mencari posisi nyaman, saat ini dia memang hanya memakai tank top putih dan hotpants saja, tapi seperti yang dia bilang tadi, dia tetap merasakan panas luar biasa.

Ceklek!

Ino menoleh ke arah pintu yang terbuka dari luar, dan tampaklah Deidara yang telah berpakaian cukup rapi di depan pintu.

"Ino, aku mau ke perpustakaan, nanti kalau kau mau keluar jangan lupa mengunci pintu!" pamit Deidara pada adik perempuan satu-satunya itu.

"Tumben kau pergi ke perpustakaan Dei-nii?" Ino mendelik curiga pada kakaknya itu.

"Mau ngadem, di sana kan ada AC!" kata Deidara cuek yang kemudian langsung menutup kembali pintu kamar Ino.

"Ara...kupikir mau belajar atau mengerjakan PR musim panas, rupanya cuma mau ngadem toh?" gumam Ino maklum sambil kembali menghadapkan wajahnya di depan kipas angin.

"Ah bosan juga di rumah sendirian, apa aku main saja ya? Sakura ada di rumah nggak ya?" Ino pun mencari-cari ponselnya yang tadi dia letakkan di dekatnya, dan setelah ketemu, dia langsung mencari nomor ponsel Sakura di deretan phonebooknya, dan menekan tombol call.

Trrrrt...trrrrt...

Telepon sedang disambungkan, dan Ino menunggu Sakura mengangkatnya sambil masih berguling-guling mencari posisi yang cukup enak untuk rebahan.

"Halo? Ada apa Ino-pig?" suara dari seberang pun terdengar.

"Aku bosan forehead...main yuuuk...!" keluh Ino.

"Aduh Ino, aku sudah ada janji dengan Naruto-kun hari ini," kata Sakura, Ino mendelik kesal tapi juga penasaran akan sesuatu.

"Sejak kapan kau memanggil Uzumaki Senpai dengan nama depannya forehead? Sepertinya aku juga sudah melewatkan banyak hal ya?" goda Ino dengan seringai jahilnya, meskipun Sakura sendiri tidak melihatnya, tapi dia cukup tahu bagaimana ekspresi Ino saat menggodanya tadi.

"Ck, jangan menggodaku Ino-pig! Lebih baik kau main saja ke pantai, siapa tahu kau bisa bertemu dengan pangeranmu si lifeguard itu, atau kalau beruntung kau bisa bertemu dengan Uchiha Sensei!"

"Oi apa maksud ucapan terkahirmu tadi Fore...?" ucapan Ino terpotong karena sambungan telepon sudah diputus sepihak oleh Sakura.

"Sial! Dasar forehead, awas kau kalau ketemu nanti!" gerutu Ino sambil menjejak-jejakkan kakinya ke lantai, melampiaskan kekesalannya.

"Kheh, tapi kurasa sarannya oke juga, mendingan aku main ke pantai, siapa tahu ketemu sama Sasaki, tapi aku tidak berharap bertemu dengan Uchiha Sensei, bisa-bisa musim panas yang sudah panas ini semakin membara membakarku!" decak Ino, memungkiri apa yang dia pikirkan sebenarnya.

(Memangnya apa yang dia pikirkan sebenarnya?)

Yaah mungkin...ingin ketemu Uchiha Sensei kesayangannya itu

Ino: "URUSAI BAKA AUTHOR!" ngacung-acungin gunting rumput ke Ruru.

Ruru: kabur sambil bawa-bawa snack-nya Choji, nambah lagi deh yang ngejar-ngejar Ruru "Oh maaf hari ini nggak ada pembagian tanda tangan!" dadah-dadah ala Miss Unipres(?)

=oooooo=

Akhirnya Ino sampai juga di pantai, dan apa yang dia pikirkan sejak dari rumah tadi rupanya menjadi kenyataan.

Ino mendegus kesal saat melihat keberadaan sosok makhluk yang sempat dia pikirkan tadi.

"Dunia ini sempit sekali sampai-sampai aku bisa bertemu dengan anda di setiap tempat Sensei!" degus Ino saat dirinya menemukan sosok guru sejarahnya yang bernama Uchiha Sasuke, di antara kerumunan orang di pintu masuk menuju pantai.

Yaah sebenarnya sejak melihat keberadaan pria itu ada sesuatu yang berdesir di dada Ino, entah perasaan senang atau apa, tapi dadanya semakin berdesir saat melihat seorang wanita berambut merah yang berdiri di samping lelaki itu, kalau yang ini berdesir karena ingin melempar wanita itu ke tengah laut sebagai makanan hiu lapar.

"Wah, Ino-chan, kebetulan kita bertemu di sini ya?" kata wanita itu dengan nada centilnya sambil bergelayut manja di lengan Sasuke, padahal pria itu sudah berkali-kali menepiskan lengan wanita itu.

"Wah-wah, Karin Sensei sedang kencan dengan Uchiha Sensei ya?" tanya Ino dengan senyum yang amat sangat dipaksakan.

"Tidak, kami hanya kebetulan saja bertemu!" sangkal Sasuke sambil melepas tangan Karin yang masih memeluk lengannya.

"Ng? Sepertinya itu bukan urusanku!" kata Ino tanpa merubah ekspresinya.

"Kalau begitu aku pergi dulu ya, selamat bersenang-senang hahahaha..." Ino tertawa hambar sambil berlari meninggalkan kedua orang Senseinya itu.

"Hei tunggu!" Sasuke hendak mengejar Ino, namun lagi-lagi Karin menahan lenganya dengan menautkan kedua tanganya di sana.

"Ayo kita juga bersenang-senang Uchiha Sensei...ah tidak, kalau di luar sekolah kupanggil Sasuke saja ya!" kata Karin sambil menarik paksa Sasuke bersamanya.

"Aku tidak pernah mengijinkanmu memanggilku dengan nama kecilku!" bentak Sasuke sambil menyentakkan pegangan tangan Karin hingga kembali terlepas, tapi bukan Karin namanya kalau dia langsung kapok hanya karena dibentak seperti itu, maka dia hanya akan mengulangi perbuatannya hingga korbannya menyerah.

Sementara itu, Ino sedang berjalan ke pesisir pantai dengan menghentak-hentakkan kakinya, terkadang dia juga menendang-nendang pasir putih di bawah kakinya hingga berhamburan ke depan.

"Menyebalkan!" gerutunya sambil masih berjalan dengan perasaan kesal.

Tak berapa lama, dia pun berhenti untuk kemudian menatap laut, di tengah sana, terlihat beberapa pria yang tengah berselancar dengan gagahnya, dia pun menyadari sesuatu, tujuannya kemari adalah bersenang-senang sekaligus ingin bertemu dengan Sasaki, lalu kenapa dia bisa lupa akan hal itu hanya karena bertemu dengan Sasuke yang sedang bersama Karin?

"Cih, menyebalkan! Kenapa aku bisa terganggu hanya karena kedua guru abnormal itu?" decaknya kesal, kemudian dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru pantai, mencari-cari keberadaan pemuda yang beberapa hari yang lalu menemaninya.

"Sasaki di mana ya? Kok nggak keliatan?" gumam Ino sambil masih mengedarkan pandangannya, demi menemukan sosok pemuda berambut model pantat ayam dan berwajah mirip tokoh game favoritenya Noctis Lucis Caelum.

Tapi dia tak juga menemukan keberadaan pemuda itu.

(terang aja, orangnya kan baru aja dia tinggalin di pintu masuk)

"Loh, kau Ino Yamanaka dari kelas 1-3 kan?" seseorang menyentakkan Ino dari lamunannya, gadis itu pun menoleh ke arah si pemanggil.

"I...Inuzuka Senpai?" sebut Ino.

"Ya? Kau tahu aku?" tanya pemuda itu dengan tatapan berbinar, tidak menyangka kalau Kouhai-nya itu sampai mengenalnya.

Ino hanya mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Senpai-nya, gadis itu kemudian melirik ke belakang punggung pemuda di depannya, dan terlihatlah 3 orang pemuda lain di sana, orang-orang yang dia kenal sebagai Aburame Shino, Kankuro, dan Uzumaki Naruto, para Senpai-nya yang duduk di kelas 3.

Tunggu!

Uzumaki Naruto?

Bukannya tadi Sakura bilang dia ada kencan dengan pemuda itu? Lalu kenapa sekarang pemuda itu ada di sini?

Ino menyipitkan matanya, demi mempertajam penglihatannya, dia yakin betul kalau saat ini dia telah melihat warna pink menyembul di belakang punggung Senpainya yang berambut pirang jabrik.

Ino berseringai tipis, kemudian berjalan mendekati Naruto, dan setelah sampai di hadapan pemuda itu, Ino terdiam sejenak, kemudian dengan tiba-tiba melongok ke belakang punggung Naruto.

"BA!"

"KYAAAA!" Sakura terkejut luar biasa saat dengan tiba-tiba Ino berseru di depannya., bahkan dia sampai jatuh terjungkal saking kagetnya.

"Hahahaha...jadi kencanmu ke sini ya forehead?" tanya Ino dengan nada mengejek.

"Me...memangnya kenapa? Pantai itu kan tempat paling cocok untuk kencan di musim panas!" elak Sakura yang ini bangkit berdiri sambil menepuk-nepuk pantatnya yang kotor terkena pasir.

"Hohoho...sayang sekali kau bertemu denganku di tempat kencanmu ya?" Ino kembali mengejek Sakura, sementara kedua gadis itu sibuk bertengkar, keempat pria di belakang mereka dibuat cengo oleh tingkah keduanya.

"Hei hei, mumpung kita sedang berkumpul, bagaimana kalau kita main sama-sama?" usul Kiba, berusaha menghentikan pertengkaran kecil Ino dan Sakura, keduanya pun menghentikan aksi mereka, dan menatap Kiba dengan penuh tanya, begitu juga dengan ketiga pemuda yang lain.

"Mau main apa memangnya?" tanya Naruto yang kini sudah stad by di samping Sakura.

"Um..." pemuda bernama Kiba itu tampak berpikir, mata coklatnya bergulir ke arah lain, dan melihat sekumpulan orang yang sedang melakukan permainan yang sepertinya menyenangkan.

"Main itu saja yuk!" Kiba menunjuk sekumpulan orang yang dia lihat tadi, yang lain pun menengok ke arah yang ditunjuk Kiba, kemudian kembali menoleh ka arah pemuda berambut coklat itu.

"Boleh juga." jawab mereka serempak.

Dan di sini lah mereka sekarang, mengelilingi sebuah semangka berukuran besar yang mereka beli di salah satu pondok.

Rupanya yang Kiba tunjuk tadi adalah permainan memukul semangka?

"Baiklah kita Hompimpa untuk menentukan siapa yang pertama kali maju!" kata Kiba.

Keenamnya pun melakukan Jan Ken Pon dan hasilnya, Ino lah yang pertama mendapat giliran, Sakura memasangkan penutup mata pada Ino, dan Kiba memberikan kayu sebagai pemukul, kemudian tubuh Ino diputar beberapa kali sebelum memulai permainan.

Ino sudah mulai mengangkat kayu pemukulnya dan mulai melangkah, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara yang amat sangat tidak ingin dia dengar.

"Sasuke-ku~n jangan menghindar dariku terus dong~" telinga Ino berkedut sekilas, dan terasa panas saat mendengar suara itu.

"Sudah kubilang jangan memanggil dengan nama kecilku!" yang ini membuat jantung Ino berdebar.

"Iiii~h aku kan ingin dekat denganmu!" dan yang ini membuat darah Ino mendidih.

Ino pun mengalihkan arah langkahnya, dan berjalan tenang sambil menggenggam kayu pemukulnya erat-erat, seolah saat ini dia tidak sedang memakai penutup mata.

"Oi Ino, kau mau kenama?" seru Sakura yang kebingungan melihat Ino berbalik arah, dan berjalan menjauh, namun sama sekali tidak dihiraukan oleh yang bersangkutan.

"Hei Ino-chan, semangkanya di sini!" seru Kiba, lagi-lagi tidak dihiraukan.

"Hoi kau salah jalur!" kali ini Naruto yang berteriak, dan tentu saja tidak dihiraukan juga.

Sedangkan Ino masih berjalan ke sumber suara yang membuatnya sakit telinga.

"Kita ini kan sudah dewasa, jadi tidak usah malu-malu~" suara itu semakin membuat darah Ino mendidih hingga naik ke ubun-ubun.

DUAK!

Tanpa pikir panjang, Ino langsung menghantamkan kayu yang dia pegang ke tengah kedua orang yang sedang duduk membelakanginya, dan keduanya pun reflek menghindari serangan dadakan itu, untung saja respon mereka cepat, sehingga tidak ada yang terluka akibat pukulan Ino.

Ino membuka penutup matanya, kemudian menatap kedua orang yang sudah terpisah itu, Sasuke dan Karin masih terlihat shock karena serangan Ino tadi.

"Oh ternyata orang toh? Kupikir semangka." kata Ino santai, bahkan dia kini sedang berseringai lebar, dan kemudian melenggang pergi tanpa rasa bersalah sedikit pun, Sasuke masih bengong menatap punggung Ino yang perlahan menjauh, namun kemudian dia mendegus dan tersenyum tipis menyadari maksud tindakan sembrono Ino tadi.

"Aneh, perasaan tadi aku berjalan hanya beberapa langkah saja, tapi kenapa jadi sejauh ini?" pikir Ino saat dia melangkah kembali ke arah teman-temannya.

Jarak antara tempat duduk Sasuke dan arena bermain Ino ternyata cukup jauh, yaah sekitar 10 m, dan sungguh luar biasa, telinga Ino bisa menangkap percakapan seseorang dalam jarak sekian.

Dan sejak saat itu Ino jadi sering mendapati karin yang mengejar-ngejar Sasuke di sekitar arena bermainnya, dan Ino selalu saja menghancurkan aksi Karin yang terlalu centil pada Sasuke.

Dari mengguyur Karin dengan seember penuh air laut, dan dia hanya bilang...

"Wah maaf, kukira temanku hehehe..." dan Ino langsung kabur tanpa bertanggung jawab setelahnya.

Kemudian aksi selanjutnya adalah melempar kaleng soda tepat di jidat guru wanitanya itu saat Karin sedang menggoda Sasuke, dan lagi-lagi Ino hanya nyengir kuda kemudian kabur lagi, bahkan tanpa minta maaf.

Dan lagi, dia bahkan sempat menghantam wajah Karin dengan bola voly pantai, dan apa yang dia katakan?

"Wah maaf sensei, aku tidak sengaja!" ucap Ino sambil nyengir dan mengambil bolanya, Karin yang sudah tidak sabar kini berdiri menantang Ino.

"Kau sengaja kan Yamanaka?" tuding Karin tepat di muka Ino, sedangkan yang ditunjuk hanya memasang wajah datar mendengar tuduhan Karin padanya.

"Lho, tadi kan sudah kubilang tidak sengaja." jawab Ino santai.

"Bohong! Sejak tadi kau sengaja kan? Menyerangku setiap kali aku berduaan dengan Sasuke-kun?" seru Karin, Ino menyipitkan matanya, ekspresinya terlihat lebih serius saat ini.

"Dengar ya Karin Sensei!" Ino memberi jeda sejenak sebelum melanjutkan ucapannya, kemudian maju selangkah di depan guru wanitanya itu.

"Kalau anda berteriak-teriak dengan muka seperti itu, nanti tak ada pria yang melirik anda lho!" lanjut Ino dengan senyum manisnya yang dibuat sewajar mungkin.

"Eh?" Karin terkesiap dan reflek menyentuh wajahnya sendiri.

"Apa wajahku terlihat aneh?" tanya Karin pada Ino, entah kemana dia membuang kemarahannya tadi.

"Yaah sebaiknya anda membenahi penampilan anda dulu!" kata Ino meyakinkan, Karin pun mengangguk mengerti dan melesat pergi ke toilet (mungkin)

Ino melirik Sasuke saat Karin sudah lenyap (kayak jin aja maen lenyap-lenyapan)

"Seharusnya anda menolaknya jika memang tidak suka!" kata Ino.

"Kau tahu sendiri bagaimana sifatnya, Tunggu! Jangan-jangan kau..."

"Apa?" potong Ino yang merasa tidak akan suka dengan lanjutan kalimat Sasuke.

"Cemburu ya?" lanjut Sasuke, kedua mata aquamarine Ino terbelalak lebar demi didengarnya ucapan dengan tingkat ke PD-an yang tidak bisa dibilang rendah, made in Uchiha Sasuke.

"Demi apa aku sampai cemburu pada anda?" sentak Ino yang kemudian pergi meninggalkan Sasuke, pria itu terkikik pelan melihat reaksi Ino, apa lagi saat menemukan semburat merah samar di kedua pipi gadis itu.

=oooooo=

Saat ini Ino duduk beralaskan pasir putih di pinggir pantai, hari sudah menjelang sore, matahari sudah mulai tenggelam di depan sana, air laut pun sudah mulai meninggi, dan sesekali menyentuh lembut jemari kaki Ino yang terjulur ke arah pantai, namun tak dihiraukannya.

Gadis itu masih belum menemukan orang yang dia cari sejak siang tadi, entah kemana perginya Uchida Sasaki yang dia kenal sebagai lifeguard di pantai itu.

(padahal sejak tadi udah ketemu)

"Ino!" seseorang memanggil Ino dari kejauhan, dan gadis itu pun menoleh ke sumber suara, tapi bukannya senang tapi Ino malah cemberut saat melihat sosok yang dia cari sejak tadi siang tengah berlari ke arahnya.

"Maaf hosh...hosh...hari ini aku sibuk...jadi...tidak bisa...menemuimu...hosh...hosh..." Sasaki (aka: Sasuke) berkata dengan nafas tersenggal karena berlari tadi.

"Sibuk?" ulang Ino dengan nada sarkatis.

"Memangnya setiap menit ada orang tenggelam ya? Perasaan tadi nggak ada satu pun orang yang berteriak minta tolong karena tenggelam!" kata Ino ketus, kemudian mengalihkan wajahnya ke arah lain agar tidak bertemu dengan wajah pemuda yang kini duduk di sampingnya.

"Er...itu..." Sasuke terlihat bingung untuk mencari alasan.

"Aku tahu, kau pasti sibuk dengan para penggemarmu kan?" tanya Ino masih dengan nada ketus.

"Nggak kok!" sangkal sekaligus bohong Sasuke (Karin juga termasuk penggemarnya kan? Dan seharian ini dia sibuk menghindari wanita itu)

"Gara-gara kau tidak kutemukan, aku jadi bertemu dengan orang paling menyebalkan seumur hidupku!" kata Ino lagi, Sasuke tersentak saat mendengar ucapan Ino, dia sudah menebak kalau yang dimaksud adalah dirinya.

"Memangnya orang itu siapa?" Sasuke memberanikan diri untuk bertanya, meskipun dia sudah tahu jawabannya.

"Guru Sejarahku yang paling menyebalkan!"

JLEB!

Seolah ada pisau tak kasat mata yang menghujam jantung Sasuke kala itu.

"Ti...tidak boleh menjelekkan gurumu sendiri loh, bagaimanapun juga dia sudah mengajarimu banyak hal di sekolah," lirih Sasuke, berusaha mengendalikan diri.

"Mengajari apa? Dia itu senang sekali menghukumku tahu? Mencari-cari kesalahanku dan memberiku banyak tugas! Dan anehnya, hanya aku yang diperlakukan seperti itu!" sentak Ino kesal.

"Rupanya aku sudah kelewatan ya?" batin Sasuke miris dengan genangan air yang mengalir di pipinya, tentu saja tanpa sepengetahuan Ino.

"Udah gitu banyak penggemarnya lagi!" decak Ino, Sasuke mulai tersadar dari keterpurukannya.

"Apa menurutmu dia tampan?" tanya Sasuke.

"Ya!" jawab Ino tanpa sadar.

"Eh tidak-tidak! Dia itu jelek sekali!" ralat Ino ketika dia sudah menyadari apa yang dia katakan sebelumnya, yaah orang emosi kan biasanya malah berkata jujur.

Tapi Sasuke tidak bodoh, dia sudah terlanjur mendengar apa yang dikatakan Ino pertama kali, dan dia ingin memberinya beberapa pertanyaan lagi agar Ino membuka sendiri kedoknya (dasar licik)

"Apa kau benar-benar membencinya?" tanya Sasuke lagi, Ino terdiam sejenak, kemudian menjawab pertanyaan Sasuke.

"Te...tentu saja! Dia itu menyebalkan sekali tahu! Udah sombong, galak, kerasnya kayak batu! Makannya dia itu kusebut cowok bebatuan! Tch, bagusan Sai Sensei kemana-mana!" degus Ino.

JLEB! JLEB! JLEB!

Tidak tanggung-tanggung, kali ini tiga bilah pedang tak kasat mata menghujam jantung Sasuke dengan telak, aliran sungai air mata pun kembali nampak di pipi Sasuke.

"Sai Sensei itu lebih ramah, baik, murah senyum dan nggak galak, dia juga baik sama aku, nggak kayak guru sejarah itu!" lanjut Ino.

"Sialan kau Sai!" batin Sasuke penuh dendam pada kawan seprofesinya itu.

"Tapi dia memang tampan sih..." lirih Ino, dan Sasuke pun kembali berbinar.

"Tapi tetap saja menyebalkan!" decak Ino lagi, Sasuke kembali murung.

"Kau tahu? Kurasa kau tidak sepenuhnya membenci gurumu itu." kata Sasuke sebagai Sasaki.

Ino menoleh ke arah pemuda di sampingnya.

"K...kau ini bicara apa?" tanya Ino canggung.

"Apa kau menyukainya?" tanya Sasuke sambil menyempitkan jarak antara dirinya dan Ino.

"I...itu...iya...maksudku tidak!" jawab Ino tidak jelas.

"Aku lebih percaya dengan yang pertama kali kau ucapkan!" Sasuke mengerling jahil pada Ino.

"Ke...kenapa bisa begitu? Di mana-mana yang namanya ralat itu yang dianggap benar!" protes Ino, wajah gadis itu sudah sangat merah seperti tomat matang kesukaan Sasuke.

"Itu tidak berlaku pada pembicaraan seperti ini." Sasuke semakin gencar menggoda Ino, apa lagi sekarang dia malah beringsut mendekat lagi ke arah gadis itu, membuat Ino semakin salah tingkah.

Bagaimana tidak?

Wanita mana yang akan tahan jika didekati oleh pemuda super tampan model Sasuke?

"S...Sasaki? Ka...kau...terlalu dekat..." Ino sudah mati-matian menyembunyikan rona merah di wajahnya, namun gagal, wajahnya malah semakin merah tanpa sanggup dia sembunyikan.

"Apa kau benar-benar membenci gurumu itu?" tanya Sasuke sambil menyingkirkan poni panjang Ino yang menutupi sebagian wajahnya, hasilnya, gadis itu pun semakin salah tingkah.

"A...apa maksudmu?" tanya Ino gugup, Sasuke hanya tersenyum sekilas, kemudian langsung mencium bibir Ino tanpa peringatan, Ino pun terbelalak lebar saat merasakan sentuhan lembut Sasuke yang dia kenal sebagai Sasaki.

"A...apa? Apa? APAAAAA? SASAKI MENCIUMKUUU? ASTAGA DUNIA MAU KIAMAT!" jerit inner Ino, dia masih shock akan tindakan pemuda di depannya.

Sedangkan Inner Sasuke tentu berbeda dengan Ino.

"Mungkin aku ini adalah guru paling kurang ajar di dunia!" batin Sasuke, tapi meskipun dia berpikir seperti itu, pada kenyataannya dia sama sekali tidak memisahkan diri dari Ino, justru saat ini dia malah melumat bibir Ino yang dia rasa tidak melakukan perlawanan.

Ino pun memejamkan matanya, mencoba menikmati perlakuan pemuda di depannya.

"Jangan-jangan kau suka padaku ya?" Ino sedikit tersentak dan mengerutkan keningnya saat bayangan wajah Sasuke sebagai guru sejarah muncul di benaknya.

"Kenapa dia muncul seenaknya di saat seperti ini?" batin Ino kesal, dia malah memperdalam ciumannya dengan Sasaki, mencoba menepiskan bayangan Sasuke.

"Kau cemburu ya?" lagi-lagi bayangan Sasuke muncul di benaknya, kali ini Ino memilih untuk menghentikan ciumannya, sepertinya dia sadar akan sesuatu.

Ino menunduk dan menyandarkan kepalanya di dada Sasaki, tak berani menatap wajah pemuda yang telah menciumnya barusan.

"Ternyata aku...memang suka padanya..." lirih Ino.

Jantung Sasuke seolah berhenti berdetak untuk sesaat.

"Aku...menyukai...tidak! Aku mencintai Uchiha Sensei." lanjut Ino, Sasuke benar-benar tak bisa menghentikan detak jantungnya yang mulai berpacu lebih cepat, ditengadahkan wajahnya ke atas mengahadap lagit, matanya terpejam erat, bibirnya melengkungkan senyuman lega.

"Kali ini kau lebih percaya ralatnya kan?" tanya Ino.

"Hn!" jawab Sasuke singkat, Ino mendongak menatap wajah pemuda di depannya.

"Kau tidak apa-apa Sasaki?" tanya Ino saat melihat wajah pemuda itu memerah, Sasuke tersadar seketika, dia baru ingat kalau saat ini dia masih dalam penyamaran sebagai Sasaki.

"Apa ini saatnya aku mengakui penyamaranku?" batin Sasuke.

"Aku tidak apa-apa Ino," Sasuke menyentuh pipi Ino lembut.

"Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu," lanjutnya.

"Apa itu?" tanya Ino penasaran, Sasuke mengambil nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya, mencoba meyakinkan diri untuk sebuah pengakuan.

"Ino...sebenarnya aku..."

"Lho, Sasuke, sedang apa kau di sini?" ucapan Sasuke terpotong saat seseorang menyapanya, Ino dan Sasuke sontak menoleh ke sumber suara.

"S...Sai Sensei?" gumam Ino.

"Ino-chan? Kalian sedang apa di sini? Dan sejak kapan kalian akrab?" tanya Sai dengan senyumnya yang biasa, Ino mengerutkan keningnya, sedangkan Sasuke, wajahnya sudah mulai pucat.

"Oh ya Sasuke, tumben kau berpenampilan seperti ini? Kau terlihat lebih muda lho, tidak seperti kau yang biasa." imbuh Sai, yang entah sadar atau tidak, malah membuat suasana semakin kacau.

"Sa...suke?" ulang Ino sedikit ragu, gadis itu kini menatap pemuda yang dia kenal sebagai Sasaki, tatapannya tajam dan terlihat sebeslit kekecawaan di aquamarine Ino.

"Apa maksudnya ini?" tanya Ino dengan nada dingin, Sasuke tercekat saat mendengar nada suara Ino barusan.

"I...Ino, aku bisa jelaskan, sebenarnya..."

PLAK!

Sasuke tak mampu melanjutkan kata-katanya, karena Ino menamparnya dengan tiba-tiba, Sai pun ikut kaget dengan tindakan Ino barusan.

"A...apa aku salah bicara?" tanya Sai, namun perhatian Ino tak teralih padanya, kedua mata aquamarine gadis itu tetap terpaku pada Sasuke, dia tak berkata apapun, hanya menatap pemuda itu dengan penuh amarah dan kekecewaan yang dalam, bahkan dia tak sadar kalau air matanya sudah menetes begitu saja.

Sakit...sakit sekali rasanya hati Sasuke saat melihat Ino menangis, apa lagi karena dirinya, namun dia tak bisa apa-apa sekarang, Ino sudah berlari menjauh darinya tanpa bisa dicegah, gadis itu sudah pasti sangat marah padanya, dia sudah tak mempuanyai harapan lagi untuk meraih gadis itu.

Semuanya...sudah berakhir...

=oooooo=

Liburan musim panas telah berakhir, waktunya para siswa untuk kembali ke sekolah, begitu juga Ino, gadis itu kini tengah bersiap untuk berangkat ke sekolah, tapi dari air mukanya, terlihat sekali kalau dia sangat enggan pergi ke tempat sakral itu, apa lagi harus bertemu dengan guru sejarah 'brengsek' yang sudah mempermainkannya selama liburan, tapi bagaimanapun juga dia tetap harus sekolah kan? Apapun alasannya, karena ayahnya sudah bersusah payah membayar uang sekolah untuk dirinya.

Ino berjalan lesu menuju sekolah yang lumayan dekat dengan rumahnya, berkali-kali dia mendesah berat mengingat hari ini kemungkinan besar dia akan bertemu dengan Uchiha Sasuke.

"Pagi Ino-pig!" Tiba-tiba Sakura datang dari belakang Ino, dan menepuk pundaknya cukup keras.

"Apa sih forehead? Nggak tahu apa gue lagi suntuk?" decak Ino kesal.

"Maaf-maaf...aku tahu sih masalahmu, tapi yang semangat dong, kamu yang biasanya kan nggak kayak gini," keluh Sakura sambil mengerucutkan bibirnya, Ino memang sudah menceritakan semuanya pada Sakura tentang kebohongan Sasuke.

"Yang ini luar biasa forehead!" jawab Ino singkat.

DEG!

Ino tercengang saat dirinya kembali menatap ke depan, dan mendapati sosok guru sejarahnya yang juga kebetulan menatapnya, saat ini Ino sudah sampai di depan gerbang sekolah, dan rupanya Sasuke juga baru saja datang, Ino terdiam cukup lama, namun kemudian dia mengalihkan pandangannya dan melewati Sasuke begitu saja, seolah tak pernah melihat sosok itu sebelumnya, sedangkan Sasuke yang ditinggalkan hanya mampu tertunduk lesu, bagaimanapun ini semua adalah salahnya.

=oooooo=

Sudah 3 hari berlalu, dan Ino sama sekali tidak ingin bertemu dengan Sasuke, bahkan saat mata pelajaran sejarah pun Ino sengaja membolos agar tidak bertemu dengan Sasuke, setiap akan berpapasan, Ino selalu menghindar, atau langsung merubah arah agar tidak bertemu dengan pria itu, dan hal ini langsung membuat Sasuke merasa stres berat, bagaimanapun juga dia harus minta maaf pada Ino, tapi kalau begini caranya, bagaimana dia bisa minta maaf?

Dan akhirnya, sampai pada cara terakhir yang dapat dia pikirkan, ya itu membajak ruang siaran untuk acaranya sendiri, persetan jika dia harus dipecat karena ulahnya kali ini, yang penting dia harus menegaskan sesuatu pada Ino, dan Ino harus tahu.

Ngiiiiiiing...

Terdengar dengingan suara sound sistem di setiap ruangan, menandakan adanya seseorang yang akan memakai ruang siaran.

"Selamat siang teman-teman! Aku Tenten ketua klub surat kabar, sekaligus pengurus ruang siaran," terdengar suara Tenten dari sound sistem

"Nah untuk sesi curhat hari ini kita kedatangan tamu, seorang guru tertampan di sekolah kita, waw...siapa lagi kalau bukan Uchiha Sensei!" seru Tenten dan disambut dengan antusias oleh para siswi penggemar Sasuke.

Ino hanya berdecih kesal saat mendengar nama Sasuke disebut, dan kembali menatap keluar jendela, berusaha mengacuhkan suara sound sistem di depan kelasnya.

"Baiklah, tenang-tenang! Kalau kalian ribut nanti curhatnya Uchiha Sensei nggak kedengeran lho!" kata Tenten yang sepertinya tahu kalau saat ini seisi sekolah sedang ribut karena suara para fans Sasuke yang mengelu-elukan namanya.

"Okay, kita langsung saja, silakan Sensei untuk mulai bercerita!" Tenten mempersilahkan Sasuke untuk memulai ceritanya.

"Berawal dari pertama kali aku datang ke sekolah ini, hari pertama aku menjadi Sensei kalian," Sasuke memberi jeda sejenak untuk mengambil nafas.

"Saat itu aku melihat seorang...yah...katakan saja murid perempuan," Sasuke terdengar gugup saat mengatakan hal tadi, sedangkan Ino yang berada di dalam kelas hanya berdecih kesal mendengar suara dari sound sistem.

"Dia terlihat begitu bersinar di mataku, kurasa...aku tertarik padanya," dan seluruh isi sekolah pun gempar karena ucapan Sasuke barusan.

"Tidaaak Senseikuuuu!"

"Jangan! Jangan jatuh cinta! Uchiha Sensei milik kami bersamaaaaa!"

"Siapa? Siapa cewek itu? Biar kubunuh sekarang juga!"

Itu lah beberapa suara sumbang yang terdengar di antara para fans Sasuke, Ino sempat terkesiap saat mendengar ucapan Sasuke itu, tapi dia kembali bersikap biasa setelah berpikir, belum tentu dia lah yang sedang dibicarakan Sasuke saat ini.

"Aku sedikit terkejut saat tahu kalau dia berada di kelas yang kuampu, saat itu dia datang terlambat sekitar 1 menit, entah karena gugup atau apa, aku langsung menjatuhi hukuman padanya, dan mulai saat itu, kurasa dia malah membenciku setengah mati," terdengar desahan berat Sasuke dari seberang sound sistem.

Kali ini Ino mulai konsentrasi pada cerita Sasuke, sekarang dia yakin kalau yang dibicarakan memang dirinya, rupanya dia ingin mencari penjelasan akan tindakan Sasuke padanya selama liburan musim panas kemarin.

"Karena kurasa dia sudah membenciku, aku merasa dia akan menjauhiku, dan itu benar, jadi aku mencari berbagai cara agar aku bisa dekat dengannya, meskipun hanya sepihak, aku mulai mencari-cari kesalahannya setiap hari, dan memberinya hukuman, entah berdiri di belakang kelas, atau menbawakan buku catatan teman-temannya ke ruanganku, itu semua kulakukan agar aku bisa lebih lama menatapnya, kheh...kurasa aku sudah mulai gila sat itu, dan aku siap dipecat dari sini setelah ini," kata Sasuke yang terdengar mulai frustasi, semua yang mendengarkannya hanya diam, tak ada yang memprotes atau heboh seperti tadi.

"Pada liburan musim panas kemarin, aku melihatnya di pantai dengan temannya, dan kurasa hari itu aku semakin gila karena aku terpikir untuk merubah penampilanku sebelum bertemu dengannya, dan dia benar-benar tidak mengenaliku, aku bahkan memalsukan namaku agar dia tidak membenciku seperti saat di sekolah ketika aku menjadi Sasuke Uchiha, guru sejarah yang paling dia benci," Ino tercekat mendengar ucapan Sasuke barusan, dadanya terasa sesak saat mendengar suara Sasuke yang terdengar berat.

"Aku takut dia kecewa saat dia tahu identitas asliku saat itu,"

"Cih, kau pikir mengetahui semuanya lewat orang lain itu lebih baik apa?" decak Ino kesal, namun terlihat kesedihan di mata Ino.

"Saat aku akan membongkar jati diriku sebenarnya, ada orang lain yang menginterupsiku, sehingga kebohonganku terbongkar ditangan orang lain, dan aku tahu persis kalau dia sangat marah dan kecewa padaku," Ino mengepalkan tangannya erat-erat, menahan emosi saat mengingat kejadian di pantai saat semua kebohongan Sasuke terbongkar karena Sai.

"Dan beberapa hari sejak berakhirnya liburan musim panas, dia menghindariku, membuatku tak bisa meminta maaf padanya, dia mengacuhkanku seolah aku tak ada, aku benar-benar tidak tahu, harus dengan cara apa lagi supaya aku bisa menyampaikan maafku padanya, dan inilah cara terakhir yang kutahu," terdengar helaan nafas panjang dari Sasuke.

"Untuk seseorang yang merasa pernah mengalami kejadian itu, aku mohon maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu, aku hanya ingin dekat denganmu, karena aku...mencintaimu..."

Dan seluruh sekolah gempar karena pernyataan cinta Sasuke barusan, ruang kesehatan langsung penuh dengan para siswi yang pingsan, koridor sekolah menjadi tempat para siswi menangis berjamaah, seluruh ruang kelas menjadi seperti kapal pecah karena para siswi yang mengamuk.

Lalu bagaimana dengan Ino, tujuan pernyataan cinta itu?

Gadis itu langsung berlari keluar kelas begitu mendengar ucapan terakhir Sasuke, dia merasa harus bertemu dengan pria itu, sekuat tenaga dia berlari menuju ruang siaran yang terletak di lantai 3, melewati orang-orang yang tengah menangisi nasib mereka, melangkahi tubuh-tubuh yang bergelimpangan memenuhi koridor sekolah, dan setelah melewati perjalanan panjang, sampailah Ino di depan ruang siaran.

BRAK!

Ino langsung mendobrak pintu ruangan itu, dan apa yang dia lihat?

Di sana hanya ada Tenten yang menatapnya dengan muka bloonnya.

"Di mana dia? Di mana guru brengsek itu sekarang?" seru Ino tanpa tahu kalau saat ini Tenten masih on air, dan tentu saja teriakan Ino tadi terdengar ke seluruh penjuru sekolah.

"Er...maksudmu Uchiha Sensei?" tanya Tenten sedikit ragu.

"Memangnya siapa lagi guru brengsek di sekolah ini selain dia?" seru Ino.

JLEB!

Sasuke yang masih bisa mendengar ucapan Ino itu, terasa seperti tertusuk pedang super tajam tepat di jantungnya.

"Errrr dia bilang, kalau ada yang mencarinya, dia sekarang menunggu di tempat favoritennya, dia juga bilang kalau orang itu pasti tahu tempatnya." kata Tenten, menyampaikan pesan Sasuke sebelum pergi tadi.

"Cih! Sial!" Ino langsung pergi dari ruang siaran setelah mengumpat kesal.

Dia kembali berlarian di koridor sekolah untuk mencapai tempat yang disebutkan Tenten tadi.

"Tempat favorite? Kheh, kau benar-benar menyebalkan Sensei!" gerutu Ino, namun seulas senyum tak lepas dari bibir mungilnya.

BRAK!

Lagi-lagi sebuah daun pintu menjeplak terbuka, tapi bedanya, kali ini adalah pintu atap sekolah.

Ino langsung menemukan orang yang dia cari di sana, pria menyebalkan yang sudah membuatnya hampir gila karena suatu perasaan yang selama ini dia pungkiri.

Pria itu menghadap ke arah Ino yang kini mulai berjalan menghentak ke arahnya, kedua mata aquamarinenya menatap tajam sosok tegap di depan sana, dan dari semua itu Sasuke tahu kalau Ino pasti sangat marah padanya, mungkin akan ada tamparan kedua untuknya.

Ino mulai mengangkat tangannya dengan kasar, Sasuke hanya bisa memejamkan matanya erat-erat, menunggu tamparan dari Ino, tapi apa yang dia dapat?

Bukan tamparan, sama sekali bukan, mana ada tamparan yang selembut ini menyentuh bibirnya?

Tunggu!

Bibir?

Sasuke membuka matanya lebar-lebar saat merasakan hal ganjil namun nikmat di bibirnya, Ino...menciumnya? Setelah apa yang dia lakukan padanya?

Sasuke baru saja ingin membalas ciuman itu, tapi Ino telah lebih dulu melepasnya, terlihat gurat kekecewaan di wajah Sasuke saat itu.

"Pernyataan cintamu payah!" gerutu Ino, terlihat semburat merah tipis di kedua pipinya saat mengatakan itu.

"Maaf aku memang payah, aku juga bukan type romantis." kata Sasuke sambil mengalihkan perhatiannya ke arah lain untuk menutupi rona merah di wajahnya.

"Setidaknya...aku sedikit bersyukur saat tahu Sasaki itu ternyata kau," lirih Ino hampir tak terdengar, namun cukup dapat ditangkap telinga Sasuke.

"A...apa maksudmu?" tanya Sasuke.

Ino menyandarkan kepalanya di dada Sasuke, dan meremas kemeja yang dikenakan pria itu.

"Soalnya first kiss-ku kuberikan pada Sasaki." Ino langsung blushing parah saat mengatakan tentang first kiss.

"Owh, aku beruntung sekali ya?" komentar Sasuke dengan santainya, kini kedua lenganya melingkar di tubuh Ino, mendekap gadis itu ke dalam pelukannya, menjaga agar sang gadis tidak lari lagi dari hadapannya.

"Kau sudah tidak marah padaku?" tanya Sasuke, Ino langsung mendorong tubuh Sasuke menjauh darinya, membuat kedua onyx Sasuke menatapnya dengan bingung.

"Jangan salah ya! Aku masih marah padamu!" tuding Ino dengan ekspresi serius, tapi semburat merah masih setia menghiasi pipinya yang putih lembut, Sasuke malah tersenyum mencurigakan sambil mendekat ke arah Ino.

"Lalu aku harus bagaimana supaya kau bisa memaafkanku nona?" bisik Sasuke tepat di telinga Ino, membuat wajah Ino dua tingkat lebih merah.

"DASAR MESUM!" seru Ino yang kemudian mendorong dada Sasuke hingga jatuh terduduk di lantai, kemudian dia sendiri buru-buru kabur dari atap, meninggalkan Sasuke yang masih terbengong.

.

.

.

.

.

Omake

.

.

.

.

.

Sasuke benar-benar di pecat dari pekerjaannya sebagai guru, dan dengan berat hati dia harus kembali ke rumah induknya, dan menerima tawaran ayahnya untuk meneruskan perusahaan keluarga, bagaimanapun juga dia harus kerja kan? Apa lagi dia harus mempersiapkan diri untuk melamar Ino jika gadis itu sudah lulus nanti, meskipun masih lama juga sih.

Sedangkan keadaan sekolah saat ini, para fans Sasuke berpindah menjadi fans Sai, jadi sekarang Sai sedang jadi bulan-bulanan siswi-siswinya, dan senyum yang sejak dulu menjadi trade merk Sai pun lenyap, berubah menjadi ekspresi ketakutan setiap kali dirinya dikejar-kejar para fansnya yang baru, dia pun baru menyadari sulitnya menjadi Sasuke saat masih menjadi tenaga pengajar di sana.

"Sasuke, maafkan aku jika selama ini aku banyak dosa padamu!" batin Sai sambil berlarian menghindari kejaran fansnya.

Lalu ino?

Selama Sasuke tidak ada, dia menjadi pelarian Sai, setiap kali Sai dikejar fansnya, pria itu selalu berlindung di belakang Ino yang selalu siap membantunya untuk mengusir para fans sinting itu, tentu saja dengan death glare yang diajarkan oleh calon suaminya, siapa lagi kalau bukan Uchiha Sasuke.

"Dengar ya, Sai Sensei! Aku ini bukan pengasuhmu, jadi jangan lari ke sini kalau sedang dikejar fansmu!" degus Ino kesal.

"Er...maaf Ino-chan, soalnya yang bisa mengusir mereka cuma kamu." Sai mengelap peluh di dahinya, dan tersenyum seperti biasanya.

3 tahun kemudian

Ino resmi menjadi istri dari Sasuke Uchiha, dan otomatis namanya pun berganti menjadi Ino Uchiha.

Akhirnya kemunafikan terkalahkan oleh perasaan yang tersembunyi dibalik rasa benci.

Kata orang Benci dan Cinta itu bedanya tipiiiiiis sekali, dan itu terbukti pada pasangan SasuIno di Hate X Love.

By me, Yuzumi Haruka.

OWARI

Akhirnya selesai juga nih fic, saya mengetik ini di waktu senggang saya di tempat kerja, jadi ngetiknya nyicil, nggak bisa langsung jadi, untuk fic saya yang lain, saya usahakan jika kompie saya sudah kembali ke habitatnya semula, yaitu kamar saya, semoga kalian nggak kecewa (-.-)

Nah saya nggak bisa bercuap-cuap terlalu panjang untuk penutup, coz saya cuma nebeng ngetik di tempat kerja.

Saa...minna, mind to review?

Thank's before ^_^

*Salam Cute*