::
#2
From Manchester to Liverpool
::
Caroline tak pernah berpikir akan begini jadinya. Bocah Sembilan tahun itu awalnya hanya berniat mengerjai bibinya yang suka menggerutu. Saat dia minta izin Hinata ke kamar mandi, mamanya meminta sang bibi, Hanabi, untuk menemaninya.
Caroline yang masih bocah langsung dialiri ide segar dari kepalanya untuk mengejai adik Hinata yang suka sekali mencerewetinya saat makan. Jangan makan ini. Jangan makan itu. Makan banyak sayur untuk kesehatanmu. Jangan memotong daging terlalu besar. Makan harus bersih. Jangan biarkan sisa makanan menempel di mulut. Blablablabla… dia lupa apa selanjutnya.
Tapi, ya begitu. Caroline yang masih anak-anak begitu cinta dengan kekebasan hingga Hanabi dia anggap sebagai seorang keturunan penyihir yang selain seram juga menyebalkan.
Jadi dia diam-diam keluar dari kamar mandi, mengendap-endap di belakang Hanabi yang lagi bicara sama temannya yang kebetulan juga ada di toilet, lalu bersembunyi. Dan karena ternyata halaman itu begitu rapi hingga si gadis kecil mengira tak ada tempat yang bagus untuk sembunyi, dia memutuskan untuk naik ke sebuah kereta penumpang yang baru saja menurunkan sepasang bangsawan lain yang berbusana mewah.
Dan di luar dugaannya, kereta itu mulai berjalan, membawanya jauh meninggalkan Hanabi juga mamanya.
::
"Jangan cengeng!"
Di atas kuda yang melaju kencang, ada Sai dan Hinata yang menangis.
Rumput liar sedikit bergoyang saat langkah kuda hitam milik Naruto, Trixy, menimbulkan aliran udara akibat gerakannya. Gaun biru muda yang dikenakan Hinata berkibar, membuat sang kuda sedikit takut dan justru memacu langkahnya lebih cepat.
Melewati ladang jagung yang cukup luas milik walikota Pendleton, Hinata sedikit ngeri karena suasanya gelap dan menakutkan. Seketika tangisnya berhenti, berganti isakan putus asa yang membuat pemuda di belakangnya mendengus.
"Dasar cengeng!" gerutu Sai, "Kenapa sih cewek cuma bisa nangis?" tambahnya.
Di sepanjang jalan, ada mawar liar yang tumbuh dan mulai berbunga. Kalau saja tidak ada insiden Caroline hilang, mungkin berkuda berdua di sini bisa menimbulkan kesan romantis yang menyenangkan.
"Caroline…" isak Hinata, "Aku ibu yang buruk."
"Berhentilah meratapi nasibmu," ujar Sai, kemudian dia menghentikan Trixy, lalu turun untuk memeriksa jalan yang mereka lalui. Sepertinya mereka berada pada jalur yang tepat. Sai memeriksa jejak kereta yang melintasi tanah, lalu kembali naik ke atas pelana.
"Dia ke pusat kota Manchester."
::
Sesampainya di Manchester, Hinata mendapati kota itu sepi. Hanya ada beberapa gelandangan yang tertidur di emperan perumahan yang menjulang tinggi. Hampir saja dia menangis lagi jika Sai tak menggenggam tangannya dan mengajaknya berjalan sambil menarik kuda mereka.
::
Di depan sebuah rumah kecil yang ada di sudut kota, Caroline tertidur di dalam kereta yang tertambat di halaman depan. Jejak air mata di wajahnya mulai mengering. Rambutnya yang disanggul telah kusut. Sambil terlelap dia mengigau, "Mama…"
::
Sebuah ruangan di kantor polisi kota Manchester yang biasanya sepi, kini ramai karena Hinata dan Sai yang mereka bawa karena menganggu ketertiban orang-orang bersikeras untuk keluar.
"Kau mengerti tidak, sih? Ada anak hilang di sana!"
"Tapi itu bukan berarti kau bebas menggedor setiap pintu semua orang di tengah malam begini," sahut sang opsir kalem. Dia memberikan dua mug coklat panas pada tamunya, lalu duduk di kursi utama yang jadi singasananya. "Aku jadi menerima banyak keluhan."
Di kursi kayu yang keras dan tak nyaman, Hinata hanya diam sambil melihat asap putih yang mengepul dari coklat hangat miliknya. Bibirnya bergetar. Sai tahu dia berusaha untuk tegar.
"Dengar, aku tahu bagaimana rasanya ada di kondisi sepertimu saat ini, tapi dia," katanya sambil menunjuk Hinata, "ibu yang kehilangan anaknya, telah lelah menangis dari tadi. Kenapa kau tak mengerti?" Sai mulai menaikkan nada bicaranya. Tensi yang kelewat tinggi menguras semua energi yang dia punya.
"Baiklah, baiklah. Sebagai temanmu, aku tak menyangka kau ini Sai yang dulu jadi teman sekamarku." Dia menghela nafas malas, "Kau terlalu emosian sekarang. Padahal dulu kau begitu acuh." Kemudian dia berdiri, memanggil beberapa anak buahnya dan memerintahkan mereka menyisir seluruh kota, lalu mengajak Sai dan Hinata bersama mencari Caroline juga.
::
Dini hari, Caroline terbangun. Menyingkap tirai jendela kereta yang berwarna kuning gading, dia melihat sinar mentari yang mulai keluar dari balik horizon. Berusaha untuk membuang rasa takutnya, gadis kecil yang diakui sebagai anak Hinata menghela nafas.
Selanjutnya, pintu kereta yang terbuka menandakan petualangan barunya dimulai.
::
Rumah keluarga Springfield yang kecil jadi pemberhentian Hinata selanjutnya. Hidan, sang opsir yang ternyata teman satu sekolah Sai dulunya, maju dan mengetuk pintu kayu berukir sederhana. "Permisi," katanya dengan nada sopan.
Pintu dibuka oleh seorang pria tua yang kelihatan bingung karena ada seorang opsir yang bertemu pagi-pagi buta. "Oh… ada apa?" tanyanya. Dia melirik wanita muda yang terisak dalam pelukan seorang pemuda berkulit pucat. Dari pakaiannya, mereka berdua pasti seorang bangsawan. Mungkin pasangan suami-isteri baru.
"Begini tuan Springfield," Hidan menarik nafas sebelum melanjutkan, "apakah tadi malam Anda ada mengantar orang ke pesta di rumah keluarga Uzumaki?"
Alis si pria tua berkerut, "Ya," jawabnya, "Ada apa?"
"Begini… sepertinya ada seorang anak yang terbawa kereta Anda saat pulang."
Raut wajah terkejut jelas terpampang di wajahnya. Kulit tua yang mulai kering jadi nampak lebih punya banyak kerutan. "Mustahil…" suaranya pelan, hampir berbisik.
Hidan memijat pelipisnya. Dia tahu ini akan menjadi lebih buruk. "Kami telah memeriksa kereta Anda," tunjuknya pada kereta hitam yang tertambat sekitar lima meter dari serambi rumah yang berlantai kayu, "dan keretanya kosong. Apakah Anda ada melihat seorang anak kecil berambut pirang dengan mata biru, berusia sekitar sembilan tahun, dan memakai gaun berenda berwarna merah muda?"
Springfield tua yang bekerja sebagai seorang kusir kereta menggeleng. Sang opsir mendecih kesal. Hinata mulai menangis, dan Sai terlihat gusar.
::
1829, siang hari di Manchester.
Aroma roti panggang menguar dari sebuah bakery besar yang cukup ramai. Dari emperan, Caroline kecil cuma bisa menelan ludah melihat roti panggang ukuran besar yang dipajang di etalase toko lengkap dengan hiasannya yang cantik.
"Lapar…" keluhnya.
::
"Makanlah."
Ratatouli, sebuah restaurant Prancis jadi tempat yang dipilih Sai untuk berhenti sejenak. Menghiraukan tatapan aneh dari orang lain yang melihat mereka, pemuda bangsawan yang hobi melukis itu mengambil piring Hinata dan menyendokkan makanan ke arahnya.
Hinata membuang pandangannya ke arah jendela. Wajahnya begitu sembab dan dia terus diam. Sai yang merasa diabaikan merenggut kesal. "Kau harus makan," katanya lagi, berusaha membujuk, "Kalau kau ingin segera menemukan anak itu, Caroline, isi tubuhmu dengan gizi yang cukup."
"Aku ingin segera mencarinya…" Hinata memohon, "… kita cari sekarang saja," tambahnya, "Bagaimana Sai?" Dia hampir menangis lagi saat mengatakannya.
"Makanlah, setelah itu aku akan menemanimu mencarinya." Sai kembali berniat menyuapi Hinata, "Kemana pun kau pergi ,aku akan ikut. Aku janji."
Hinata mengerjap. Sekali. Dua kali. Lalu menarik bangkunya mendekat ke arah meja, kemudian kepalanya terjulur maju, menyambut suapan Sai yang terkejut dan takjub.
"Kau seperti anak kecil," Sai tersenyum, "Bagaimana mungkin kau jadi ibu Caroline?" lalu dia tertawa. Suasananya benar-benar hangat.
::
Caroline berjalan mengikuti bau yang tercium begitu lezat dari arah dalam stasiun kereta. Dengan kaki mungilnya, dia yang kelaparan langsung berlari masuk, mengikuti satu troli berisi penuh bahan makanan untuk persediaan dapur dalam kereta.
Tanpa sadar, puteri angkat Hyuuga Hinata itu masuk ke dalam gerbong yang langsung tertutup dan mulai berjalan. Samar-samar, suara pemberitahuan yang menggema di koridor stasiun mengumumkan keberangkatan ke Liverpool.
Saat melihat ke jendela kecil dalam gerbong barang, sebuah liontin berbandul zambrud berbentuk prisma nampak tergeletak begitu saja di lantai koridor. "Oh! Kalungku!" pekiknya.
::
"Bagaimana?"
Kantor kepolisian kota Manchester jadi lebih sibuk dari biasanya. Para anggota kepolisian sibuk berlalu-lalang, mencari seorang gadis kecil yang hilang. Di sebuah ruangan berjendela lebar, Hidan yang baru menerima laporan dari bawahannya langsung masuk dan menghadap teman lamanya. Sekilas matanya melihat iba pada Hinata yang terlihat pucat, lalu menggeleng pada Sai.
Kabar buruk.
"Dia… kemungkinan besar tidak ada di kota ini."
::
Chapter 2 completed.
::
Trixy, saya ambil dari nama kuda milik Laura Wilder, dalam kisah empat tahun pertama. Haha, saya emang doyan baca buku lawas. XD
Ratatouli, dari kartun tentang seorang pramusaji, kalau gak salah namanya Luigi, yang dibantu oleh seekor tikus yang punya pemikiran luar biasa layaknya manusia.
Terus, nama Springfield untuk sang kakek tua, saya comot dari keluarga Springfield, sebuah keluarga detektif yang punya anak kembar, yang bekerja untuk Veritas Project. Novel misteri karya Frank Perreti.
Sebelum lupa, polisi yang didatangi Hanabi gak sama sama yang nangkap Hinata. Hidan ada di departemen kepolisian kota, sementara Hanabi datang di kantor polisi di kawasan pinggiran yang berada dekat dengan rumah keluarga bangsawan. Yah, semoga nggak bikin bingung.
Disclaimer ada di chapter 1. Saya males nulis… XD
Semoga hasilnya gak terlalu jelek untuk dibaca.
Saya sangat mengharapkan review.
Salam…
Marineblau12.
