::
#3
I've Got Daddy
::
"Kami telah melakukan penyisiran di seluruh kota," Hidan berdiri dari kursinya, lalu berjalan menuju jendela, "bahkan di setiap rumah dan panti sosial," matanya bergerak mengikuti kumpulan manusia yang berlalu lalang melewati kantor polisi, "namun dia tidak ada."
"Mungkin dia ada di tempat lain." Hinata mengangkat wajahnya, "Dia tak mungkin pergi jauh," tambahnya lagi, kali ini dengan suara yang hampir tak terdengar.
Sang opsir menghela nafas lelah, lalu berbalik dan melemparkan sesuatu ke atas meja. "Kau kenal benda itu?" tanyanya yang lebih diarahkan pada Hinata.
Dengan ragu Hinata menjulurkan tangannya, meraih benda itu untuk ia lihat lebih dekat. Tak salah lagi. Ini… "Kalung Caroline?" tanyanya hampir tak percaya, lalu matanya langsung beralih pada satu-satunya pria berambut silver di ruangan itu, "Di mana kalian menemukannya?"
"Stasiun kereta. Dan seseorang melihat ciri-ciri bocah yang mirip dengan Caroline." Hidan menutup mata sejenak, mencoba menenangkan dirinya sendiri, "Dan bocah itu… menaiki kereta menuju Liverpool."
Liontin dalam genggaman Hinata jatuh ke lantai saat tangannya kehilangan tenaga dan terkulai lemah di sisi tubuhnya.
Sai, tak diragukan lagi, panik.
::
"Kakak!" Hanabi menghambur ke arah Hyuuga sulung yang nampak begitu berantakan, "Bagaimana? Mana Caroline?" tanyanya. Hinata yang menunduk lemah membuat Hanabi langsung beralih pada cowok pucat yang terus memapah Hinata yang terlihat tak bersemangat.
"Bawa kakakmu ke kamar," katanya pada Hanabi, "Istirahatlah Hinata. Biar aku yang ke Liverpool." Sai melepaskan pegangannya, tapi tangan Hinata meraihnya, "Jangan," suaranya serak, "izinkan aku ikut," pintanya hampir putus asa, "Aku tak akan menyusahkanmu. Aku janji," sambung Hinata, "Kau boleh meninggalkanku di tengah jalan jika pingsan atau sakit."
Ruang tamu yang megah di kediaman keluarga Hyuuga yang luas terasa begitu sempit saat Sai melihat lagi ekspresi menyedihkan milik Hinata. "Bukan itu yang ku maksud."
"Lantas apa?" Hinata menyahut.
Alis Sai berkerut, "Kau," katanya sambil menyentuhkan dahi gadis yang dia taksir dengan ujung telunjuknya, "selain bodoh, juga keras kepala."
Hinata diam, menanti lanjutan kata-kata Sai yang ia tahu belum selesai.
"Oke. Kau boleh ikut. Tapi ada satu syarat."
"Apa?"
Sai mengangkat tangannya, lalu menarik lengan kemeja untuk melihat jam tangan mahal yang begitu berkilau, "Kereta ke Liverpool akan berangkat sekitar satu jam lagi, selama itu, isilah perutmu. Makan yang kenyang, setelah itu kau baru boleh ikut. Bagaimana?"
Mata Hinata berbinar, perlahan senyumnya muncul untuk yang pertama dalam hari ini. "Terima kasih!" serunya bersemangat. Dan entah saking senangnya atau apa, dia refleks memeluk Sai dengan sangat erat.
Hanabi sukses menganga.
Sementara Sai sedikit merona.
::
"Katakan," suara Hanabi yang muncul akibat kombinasi rasa terkejut, haru, ingin tahu, dan jahil, membuat Sai menyunggingkan senyum palsu yang selalu jadi trade-mark-nya untuk menyembunyikan kegugupan yang mulai menguasai pikirannya. "Kau... naksir kakakku."
Binggo!
Hanabi pinter, deh!
"Aku benar, kan?"
"Menurutmu bagaimana?" tanya Sai kalem.
"Iya."
"Memang kelihatan, ya?"
"Tentu saja!" seru Hanabi kelewat keras. Beberapa maid yang berlalu-lalang di sekitar rumah jadi berhenti akibat suaranya yang super besar. "Kelihatan jelas," bisiknya kemudian.
"Begitu, ya?"
Hanabi mengangguk, "Tapi sayang," katanya kemudian, "Hinata itu cukup lemot untuk bisa ngelihat ada cowok keren yang naksir dia," raut wajah Hanabi berubah jadi iba, "Dia udah terlalu kepincut sama Naruto, sih."
"Oh…" sahut Sai sekenanya. "Kalau begitu…" dia mengambil secangkir teh yang ada di atas meja, lalu mulai menyesap isinya, "… bantu aku. Kau mau?"
Hanabi mengeluarkan pandangan sinisnya, "Biar ku pikir-pikir dulu, ya…" dia mengetuk-ngetukkan telunjuk di dagu, seolah berpikir, "Kau itu suka menghina kakakku," dia mulai berbicara, "ngatain dia bodoh."
"Kau juga sama. Bilang dia lemot." Mata hitam si cowok pucat tenggelam saat ia tersenyum lebar. Sepertinya, Hanabi lawan yang menyenangkan.
"Kau juga memotong perkataanku. Itu gak sopan, tahu!" kilatan api dari sepasang bola mata jernih nyaris tak berpupil muncul sebagai akibat dari rasa tersinggung Hanabi yang terusik. "Kau ini bangsawan bukan, sih?"
"Entahlah," sahut Sai, "Aku ini bangsawan bukan, ya?"
Hanabi mulai frustasi dan akhirnya malah menarik rambutnya sendiri, "Duh! Kau yang butuh pertolonganku, kok malah cari kesal. Gak mau ku bantu, nih?" ancamnya.
"…"
"Hentikan senyumanmu itu!" perintah adik Hinata yang mulai kehilangan kendali atas emosinya, "menyebalkan!"
"Restui aku bersama kakakmu, oke?"
Hyuuga yang punya gen mirip sekali dengan Hiashi sang ayah menelengkan sedikit kepalanya, menatap calon kakak iparnya dengan tatapan apa-kau-bilang-tadi?
"Restui aku jadi kakak iparmu," Sai mengulangi permintaannya.
"Hm?" Hanabi yang ngerasa jadi orang penting pura-pura gak dengar.
"Mau ya?"
"Oke!" sahutnya dengan cengiran yang kalau itu Hinata sangat mustahil untuk dilakukan.
Ya. Ya. Tak perlu dikatakan lagi, Hyuuga Hanabi memang aneh.
::
"Kami telah mengirim telegram ke Liverpool. Semoga kepolisian di sana menerimanya tepat waktu."
Pukul setengah satu siang, Hinata ditemani Sai dan Hidan berangkat dari Manchester menuju kota industri lainnya di daratan Inggris. Bergabung dengan belasan orang lain dalam gerbong VIP yang punya tempat duduk lebih nyaman dari gerbong lainnya, Hinata yang kelelahan akhirnya tertidur. Kepalanya terantuk ringan dengan kaca jendela, membuat Sai yang duduk di sebelahnya merelakan bahunya menjadi bantalan gadis yang terlelap.
Suara Hidan yang tertawa kecil membuat Sai mengalihkan perhatiannya dari wajah manis yang selalu dia suka. "Kenapa?" tanyanya acuh tak acuh.
"Well," Hidan mulai menyandarkan bahunya ke sofa empuk yang dipadu dengan kain beludru lembut yang memanjakan, "aku tak pernah mengira sebelumnya," tawanya menghilang, berganti senyum penuh misteri mirip seorang psikopat, "kau jatuh cinta pada wanita ini!" lalu dia tertawa lagi, kali ini lebih keras.
Sai facepalm menghadapi temannya yang hampir se-hiperaktif Naruto. "Diamlah, nanti kau membangunkannya."
Sementara itu, Hinata yang masih tertidur menggeliat kecil di sebelah Sai.
Wajah pucat sang tuan muda memerah.
Tawa Hidan semakin tak bisa dikendalikan.
::
Caroline yang kekenyangan keluar mengendap-endap dari gerbong yang telah berhenti. Dari pintu yang terbuka, dapat terlihat kalau kotak kayu yang berisi sosis terbuka dan beberapa terserak begitu saja. Saat hendak menutup pintu untuk mengaburkan aksinya, bahunya menerima beban lebih dari sebuah tangan yang menepuknya.
"Hei!"
Caroline refleks berbalik dan membeku.
Gawat! Ketahuan!
::
"Kita tiba."
Saat menginjakkan kakinya di kota yang diduga menjadi tempat Caroline singgah, Hinata disuguhi pemandangan yang tak jauh beda dengan Manchester, kota asalnya. Bangunan tinggi, mobilitas yang ramai, industri yang berkembang pesat, dan pekerja. Termasuk anak-anak.
"Ayo. Kita harus ke kantor polisi." Hidan yang menganggap dirinya sebagai ketua rombongan maju lebih dahulu, diikuti dua orang lainnya.
Ada alasan kenapa Sai menggenggam tangan Hinata erat saat itu. Jalanan di kota ini terlalu ramai, dan ia tak ingin mengambil resiko untuk terpisah. Tapi saat gadis yang mendapat perhatian ekstra darinya justru menggenggam balik tangannya, cowok keren yang selalu jadi idola diantara gadis-gadis kaya itu tersenyum sumringah. Rasa senang yang amat sangat pasti jadi pemicunya.
::
"Aku gak mencuri, kok. Tolong bebaskan aku, pak!" Caroline yang ketakutan dan panik terus menyangkal semua tuduhan yang tak pernah diberikan padanya.
Seorang pria muda berambut merah menatapnya dengan pandangan curiga, "Memang kapan aku bilang mencuri?" tanyanya, memancing si bocah lugu yang gak tahu kalau dia dijahili.
"Memang enggak, ya?" tanya balik Caroline.
Sasori tertawa. "Enggak. Tenang saja."
Caroline ikut tertawa.
.
.
.
"Caroline?"
Bocah kecil yang mulai bisa merasa tenang kembali lagi terkejut saat mendengar suara lembut yang selalu dia kenal. Lamat-lamat dia berbalik, dan melihat Hinata yang menangis di depan pintu. "Mama!" serunya, lalu berlari dan memeluk Hinata yang segera berjongkok untuk meraih puterinya.
"Kau tak apa?"
"Ya!" serunya riang.
Awalnya, Caroline sempat berpikir agar menunggu waktu natal untuk bisa meminta pada Tuhan agar mengirimkan kembali mama padanya. Tapi, sepertinya Tuhan mengabulkan doanya secepat ini. "Aku akan terus jadi anak baik," gumamnya. Caroline mengantuk, dan ia ingin tidur.
Perlahan, tubuhnya terasa lemas.
Hinata yang menyadari lengan anaknya tak lagi memeluk lehernya erat langsung panik. "Caroline!" teriaknya, mengguncang-guncangkan tubuh mungil yang tak sadarkan diri.
Sai langsung menyingkirkan Hidan lalu mengambil Caroline dari pelukan Hinata. "Di mana rumah sakit terdekat?"
"Sekitar satu blok dari sini," Sasori menyahut. Dengan segera dia membuka pintu, lalu berlari diikuti Sai yang menggendong Caroline.
::
"Hinata?"
Seorang dokter berjubah putih berjalan mendekati sepasang bangsawan dan dua orang polisi yang tengah membawa seorang anak kecil. Hinata yang merasa dipanggil menghentikan pembicaraannya sejenak pada sang resepsionis untuk menoleh.
"K-Kabuto?"
"Hai!" sapanya sambil tersenyum.
Senyum Hinata mengembang, lalu meraih tangan yang sedikit lebih besar dari miliknya. "Syukurlah," katanya sambil menghembuskan nafas lega, "Tolong, Caroline… anakku pingsan."
Sebagai dokter, Kabuto harus selalu mendahulukan kepentingan pasien. Dengan prinsip itu, dia menekan segala rasa penasaran dan kecewa yang bercampur dalam hati, lalu membawa mereka masuk ke ruang prakteknya.
::
Pintu kamar rawat terbuka, menampilkan sosok berambut platina yang sudah tiga tahun tak pernah dilihat Hinata. Kacamata bulat yang selalu tak pernah absen dari wajahnya berkilat saat terkena sinar matahari yang langsung masuk dari jendela yang dibelakangi Hinata.
Wanita itu masih saja duduk setia di samping ranjang puterinya. Tangannya menggenggam erat Caroline. Saat mendengar langkah seseorang mendekat, wajahnya yang sedari tadi tertunduk segera terangkat.
"Tenanglah, dia hanya kelelahan." Kabuto mengambil tempat di sebelah Hinata, tangannya naik menyentuh kepala gadis itu, "Kau pasti sangat menyayangi puterimu, ya?"
Hinata mengangguk mengiyakan.
"Beberapa tahun tak bertemu, dan kau sudah punya anak." Kabuto mulai mengaku, "Aku kecewa."
Hinata tersenyum maklum, "Maaf."
Kabuto mengalihkan pandangannya pada Caroline yang tertidur nyenyak, "Kau menyayanginya seperti anakmu sendiri. Padahal kau bukan ibu kandungnya."
"Tahu dari mana?"
"Kalian sama sekali tidak mirip, Hinata."
"Benarkah?"
"Tentu saja."
"…"
"Laki-laki tadi…" agak sedikit ragu Kabuto melanjutkan, "… ayah anak ini, ya?"
"Hah?"
.
.
.
"Kau bahkan menikah dengan orang yang sudah punya anak?" dokter muda yang sedang cemburu ini jelas sudah salah paham.
Hinata terdiam.
"Dalam surat kau tak pernah bilang tentang hal ini. Padahal aku sudah gembira sekali saat tahu Naruto bertunangan dengan orang lain. Aku bahkan berniat melamarmu Desember tahun ini." Tangannya bergerak, mendorong Hinata masuk ke dalam pelukannya yang erat.
Angin berhembus masuk dari jendela. Tirai tipis menari indah sambil berpegang pada kawat yang melintang di atas jendela. Suasana ruangan jadi sedikit menyenangkan.
Di balik dinding sebelah luar, di sebelah pintu kayu yang terbuka, Sai menyandarkan dirinya sambil mengamati langit-langit yang tak menarik. Raut wajahnya tak terbaca.
::
"Kau membuat semuanya khawatir."
Malam hari, di rumah sakit kota Liverpool. Jalanan kota sudah sepi. Sai masuk ke dalam kamar rawat Caroline. Berdiri di sebelah Hinata yang tengah tertidur sambil terus menjaga puteri angkatnya, tangannya mengelus kepala bocah kecil berambut pirang.
"Cepat sembuh." Suaranya yang ringan terbang terbawa angin. Dia melirik Hinata sebentar, sebelum menunduk dan mengangkat tubuh mungil sang heiress dengan lengan, kemudian membaringkannya di sofa panjang di pojok ruangan.
Senyum tulus muncul saat Sai menunduk, memberi kecupan ringan di dahi Hinata.
"Ayah baru," gumam Caroline pada dirinya sendiri yang ternyata terbangun. Dia menguap, lalu kembali tertidur. Kali ini, dengan perasaan lega. Karena dia tahu ada yang akan menjaganya dan Hinata.
::
Chapter 3 completed.
::
Yah… ada banyak kekurangan. Saya tahu. semoga masih cukup bagus untuk dibaca.
Review ya?
Salam…
Marinebalu12
