::
#4
Jealous
::
"Om! Om!" Caroline kecil menarik-narik lengan kemeja Sai yang jauh lebih tinggi darinya. Si cowok pucat yang ngerasa dipanggil berhenti, "Apa?" tanyanya sambil tersenyum.
"Om itu… papaku, bukan?"
Kota Liverpool yang selalu ramai hampir tak punya celah yang lengang, termasuk di stasiun keretanya. Sai yang berdiri menunggu kereta menggenggam erat tangan anak kecil yang mengira dia ayahnya. Caroline yang pendek memaksa Sai untuk menunduk setara dengannya, "Bagaimana menurutmu?"
Caroline tersenyum sumringah, "Kalau aku tentu saja mau!" serunya riang, "Aku panggil Papa, boleh ya?"
Sai nyengir lebar.
Artinya, dia setuju.
"Oh, syukurlah aku tak ketinggalan." Dari balik kerumunan manusia yang tak saling kenal, Hinata muncul dengan nafas terengah-engah. Sai kembali menegakkan tubuhnya.
"Dasar bego." Gerutunya pelan, tapi Hinata yang selalu rajin merawat kebersihan telinganya gak mungkin salah dengar.
Duh, baru aja akur, Sai udah ngajak musuhan aja.
"Mama dari mana?"
Syukurlah ada Caroline yang meskipun gak sadar dia udah bawa kedamaian di hati Hinata yang sering gak nyaman. Dengan senyum lembut laksana bidadari di khayangan, dia mengelus kepala Caroline lembut, "Tadi, mama berpamitan pada paman Yakushi."
Twitch!
Wajah mengkilat bebas kerutan milik Sai langsung retak.
"Ngapain pamitan sama si kakek dokter?" ada nada tersinggung, juga kesal, dan yang paling dominan, kebencian. Ketiga-tiganya elemen dari rasa tak rela yang menimbulkan dengki dan amarah, bahasa kerennya sih Jealous atau jeles, atau cemburu, banyak juga yang bilang cembokur.
Si gadis kecil yang seharusnya belum ngerti peristiwa gini-ginian, manggut-manggut sambil nampilin muka berpikir kayak yang dimiliki professor ubanan yang kepalanya hampir botak. 'Papa lagi cemburu sama Mama!' pekiknya dalam hati.
::
Minggu pagi jadi hari yang menyenangkan buat OC tercinta kita yang langsung dapat peran utama. Jalan-jalan di sudut kota Manchester dengan papa dan mama yang menggandengnya erat membuat wajahnya berbinar bahagia. Senyum manis terus menempel di wajahnya yang memancarkan aura positif.
Hinata cuma seorang gadis biasa yang sering diejek bego atau bodoh oleh Sai. Dia awalnya gak terima, tapi hari ini kok rasanya julukkan itu cocok sekali karena dia sama sekali gak bisa ngerti alasan cowok pucat yang doyan senyum ini datang ke rumahnya pagi-pagi lalu mengajak anaknya Caroline ke Katedral di pusat kota.
Dan yang paling membuat Hinata frustasi adalah…
"Papa! Aku mau beli itu dulu!" tunjuk anggota termuda dari mereka bertiga.
Sejak kapan puteri kesayangannya manggil Sai dengan sebutan 'Papa'?
Mengerikan?
Iya. Sangat mengerikan.
"Boleh. Ayo!"
Lalu mereka berdua pergi, meninggalkan Hinata yang masih terbengong di tengah jalan.
Dari balik kerumunan yang ramai dan sumpek itu, Hinata bisa melihat Sai yang tertawa bahagia bersama anaknya. Mau tak mau, si Hyuuga bernafas lega.
Sepertinya mereka berdua cocok.
Mungkin Sai bisa jadi ayah yang baik.
.
.
.
?
Sai jadi ayah? Yang baik?
Ayah siapa?
Bukan Caroline, kan?
"Mama! Ayo sini!" Caroline berteriak sambil melambai.
"Ayo, Ma! Kemari!" Sai juga ikut-ikutan.
Hinata segera mengangguk, "I-iya," lalu segera menyeberang.
Mungkin… kalau Sai jadi ayah Caroline… gak akan ada masalah.
Iya, kan?
::
"Sakura, suapin aku!"
Nada manja dari putera tunggal keluarga Namikaze membuahkan benjolan dari tunangannya tercinta. Melihat sepasang orang dewasa di depannya, Caroline tertawa. Sementara itu, Hinata terus menunduk sambil menyembunyikan kedua tangannya yang saling tergenggam di bawah meja.
Selesai acara kebaktian dari Katedral, ternyata Naruto yang juga ikut, mengajak mereka bertiga bergabung untuk makan di restaurant milik pamannya.
"Jangan manja!" gerutu sang tunangan. Meski nada bicaranya terkesan marah, nyatanya dia tersenyum.
Hinata yang sedang berusaha untuk tak menangis semakin sulit membendung air matanya saat telapak tangan bukan miliknya membungkus genggamannya. Sai menggerakkan ibu jarinya, mengelus punggung tangan Hinata yang lebih kecil, seolah bilang "Tegarlah."
Dia yang awalnya bersedih, kini jadi terharu.
Jangan. Jangan di sini. Hatinya bilang begitu. Tapi Hinata tahu ini batasnya. Jadi dia berdiri, lalu tanpa menunjukkan wajahnya dia bicara dengan suara yang sedikit bergetar, "M-maaf, kami harus pergi." Kemudian pergi begitu saja, menarik Caroline yang kebingungan. Langkahnya dia pacu cepat-cepat. Gaun terusan panjang membuatnya hampir terjatuh berkali-kali, tapi Hinata tetap tak melambat. Berkali-kali kata maaf keluar karena menabrak orang lain.
Sai langsung berdiri dan mengejar.
Dua orang yang tersisa masih tertegun tak percaya.
::
"Hyuuga, tunggu!" Sai berlari. Jas hitamnya berkibar karena angin. Derap pantofelnya hilang tertelan keramaian jalanan kota Manchester yang selalu penuh. "Hinata, tunggu!"
Si Hyuuga yang dipanggil telah sampai di seberang jalan. Sai ingin mengejar, tapi terhalangi rombongan kereta kuda yang lewat.
"Sial!"
.
.
.
"Mama…." Caroline menarik-narik tangan Hinata, "… papa masih ketinggalan."
Hinata tak menyahut. Langkahnya tetap dan teratur. Caroline masih berusaha membuatnya berhenti, tapi mamanya tak peduli. sampai akhirnya…
"Hinata!"
Hinata berhenti.
"Apa apa denganmu?"
Caroline berbalik, lalu tersenyum riang saat tahu papanya datang.
Bahu Hinata bergetar, setengah mati dia menahan, namun gagal. Air matanya mulai turun. Beberapa jatuh ke atas kepala Caroline. Si bocah mendongak, terkejut melihat mamanya yang bersedih.
Sai langsung mengambil langkah maju dan menarik tangan Hinata. Gadis itu berbalik. "Kau terluka? Masih menyukainya?" tanyanya. Kedua tangannya menekan sisi wajah sang Heiress.
Hinata mengangguk.
Tangan Sai terlepas, beralih memeluk tubuhnya yang kecil.
"Sangat menyukainya?"
Hinata mengangguk.
"Sangat, sangat menyukainya?"
"Ya."
"Seperti apa?"
Hinata berjinjit, lalu berbisik, "Seperti diriku sendiri," katanya, lalu melingkarkan lengannya, menangis lagi.
"Tak masalah," Sai menenangkan, "Kau punya Caroline yang sayang padamu," lalu mengelus lembut kepala gadisnya, "Kalau mau, aku juga akan ada untukmu."
"Janji?"
"Ya."
Hinata mencengkram punggung Sai, merengkuhnya erat.
Caroline datang dan memeluk kedua orang tuanya. "Aku sama Papa sayang Mama. Mama jangan sedih lagi, ya?"
::
Chapter 4 Completed
::
Chapter depan episode terakhir. Semoga masih mau membaca.
Siang ini, saya jadi rindu sama kelompok vocal group saat SMA dulu yang sekarang udah gak eksis karena anggotanya yang terpencar-pencar. Salahkan synopsis drama Dream-High yang saya baca. Ceritanya bener-bener nyentuh dan kena banget sama saya. Yah, meskipun romansanya gak pernah ada di kehidupan nyata saya. T.T… #malah curhat.
Salam…
Marineblau12
