Disclaimer :

Detektif Conan milik Gosho Aoyama.

Catatan Penulis :

Waktunya bales komen!

Kongming-san : Siasat anak sapi emas? Kayak gimana tuh? Kalau siasat Shinichi di chapter ini siasat taman sepi dan remang-remang. He he he.

rin nara seasui : Namanya juga cerita romance. Kalau cerita romance nggak ada kamarnya malah aneh. He he he.

SherryHazel : Bingo. Wah, berarti suka ngikutin teori-teori seputar Detektif Conan juga ya?

moist fla : Aku juga suka baca fic-ku sendiri berulang-ulang loh. I love them so much. Kalau fic-ku bisa menghiburmu, aku juga ikut senang.

shiho Nakahara : Maklum, dia lagi di bawah pengaruh obat. Kalau dia nggak OOC, berarti obatnya kan nggak bekerja. Ntar kalau udah muncul, baru ketahuan deh siapa kakaknya Sera. Jadi tunggu saja! He he he.

Fujita-san : Hmm, kalau untuk sekarang, teori yang berlaku masih Shinichi di bawah pengaruh obat. Kalau dia udah minum penawarnya, baru kita bisa tahu bagaimana perasaan Shinichi yang sebenarnya. Shiho juga begitu, kita baru tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya setelah Shinichi minum penawarnya.

Nate River : Sepertinya konfliknya bakalan ringan-ringan aja karena aku nggak memasukkan cerita ini di kategori drama jadi tidak akan banyak drama yang terjadi. Kalau tentang Ran, aku sampai sekarang masih bingung, mau aku munculkan atau aku cameo-kan. Mungkin pas nulis chapter depan baru bisa kuputuskan.

tina nha san : Soalnya inspirasinya dari lagu berjudul sama. Lagu ini dinyanyikan oleh Raffi Ahmad dan Ayushita.

Death Emo : Wah, maaf karena aku memberimu spoiler. Yah, yang penting kan mereka nggak ngapa-ngapain. He he he.

Aiwha katsushika : Hmm, ada apa ya? Yah, kita baru bisa tahu kalau kakaknya Sera sudah muncul dan memang begitulah Shinichi.

kudo kun ran : Hello. Lama tak jumpa. Gimana? Jadi bikin akun atau nggak? Kalau Ran, aku masih bingung mau aku munculkan atau aku cameo-kan. Semoga aku bisa cepat memutuskan.

shihoCool'n : Kalau yang ini sepertinya lumayan panjang. 2400-an kalau nggak salah.

Witthechavalery : Ya udah, mulai sekarang jangan kemana-mana. Nongkrong aja di sini. He he he.

ohjack : Akhirnya kamu baca juga. XD

Poyo-chan : Jangan khawatir, cerita ini bakalan rate T sampai akhir kok. He he he. Rencananya sih di bawah 10 chapter, tapi kalau ceritanya molor di tengah-tengah ya, mungkin bakalan nambah.

Nachie-chan : Ha ha ha. Terima kasih.

Chapter ini masih seputar hubungan Shinichi dan Shiho sebelum penawarnya jadi. Di chapter ini aku memunculkan sandwich selai kacang dan blueberry kesukaan Ai yang muncul di OVA 11. Ini adalah makanan pertama yang dibuatkan Ai untuk Okiya, walaupun bukan khusus untuk Okiya tapi juga untuk Detektif Cilik. Setelah itu, di Episode 623, Okiya membuatkan kari untuk Ai dan Profesor Agasa walaupun Conan dan Detektif Cilik juga ikut makan. Selai yang digunakan untuk membuat sandwich ini merupakan selai impor yang tidak diproduksi di Jepang. Hmm, Ai bener-bener suka yang mahal-mahal ya?

Selamat membaca dan berkomentar!


Jangan Bilang Tidak

By Enji86

Chapter 4 – Kencan Pertama

"Kenapa kau mengajakku ke sini? Bukankah kalau kau mau beli buku, di sekitar kampus banyak toko buku?" tanya Heiji saat dia dan Shinichi sampai di mall.

"Itu karena aku tidak mau beli buku. Aku mau beli baju," jawab Shinichi sambil menarik Heiji masuk.

"Beli baju?" ucap Heiji heran.

"Ya, aku mau beli baju untuk kencan dengan Shiho," ucap Shinichi sehingga Heiji langsung menghela nafas.

Sesampainya di toko baju, Shinichi segera memilih beberapa setelan lalu mencobanya di kamar pas. Setelah mencoba suatu setelan, dia langsung keluar dari kamar pas untuk menanyakan pendapat Heiji. Heiji hanya menanggapi sekedarnya karena dia benar-benar merasa ini semua salah. Ingin sekali rasanya dia menyadarkan Shinichi dari kegilaan ini tapi dia tahu benar kalau itu tidak akan ada gunanya. Shinichi baru akan sadar setelah minum penawarnya.

"Oh, ini tidak ada gunanya," ucap Shinichi putus asa ketika mereka berdua duduk di foodcourt untuk makan.

"Tentu saja tidak ada gunanya. Kau sudah mencoba berpuluh-puluh baju tapi kau tidak membeli satupun," ucap Heiji kesal.

"Hei, ini semua salahmu makanya aku tidak membeli satupun," ucap Shinichi ikut kesal.

"Apa kau bilang? Salahku? Bagaimana bisa itu salahku?" seru Heiji.

"Karena baju-baju itu tidak ada yang bagus di matamu," ucap Shinichi.

"Lho, aku sudah bilang bagus kok, tapi kau tetap tidak membelinya," ucap Heiji.

"Iya, kau memang bilang bagus, tapi matamu dan ekspresi wajahmu berkata yang sebaliknya," ucap Shinichi.

Heiji kembali menghela nafas, tidak tahu harus berkata apa. Lalu mereka berdua melanjutkan acara makan mereka dalam diam.

"Padahal aku hanya ingin menarik perhatiannya karena dia selalu bersikap dingin padaku. Tapi mencari baju yang sesuai saja aku tidak bisa," gumam Shinichi setelah makanannya habis. Dia lalu menghela nafas dengan wajah muram dan kesedihan tampak jelas di matanya.

Heiji yang mendengar gumaman Shinichi dan melihat ekspresi wajah Shinichi tiba-tiba merasa simpati pada sahabatnya itu. Dia sadar kalau bukan Shinichi yang meminum obat itu, mungkin dirinyalah yang sekarang berada di posisi Shinichi jika Shiho benar-benar serius dengan perkataannya bahwa dia ingin mencoba obat itu padanya. Shiho memang benar-benar kejam kalau sisi ilmuwannya yaitu Sherry sedang muncul. Shiho bisa melakukan apapun untuk keberhasilan penelitiannya, sama seperti dirinya dan Shinichi yang bisa melakukan apapun untuk mengungkap suatu kasus. Tapi meskipun begitu, dia tidak bisa menjauh dari Shiho karena Shiho sudah seperti kakak perempuannya sendiri. Sejak dia merantau ke Tokyo, setiap dia sakit, Sera selalu menelepon Shiho sehingga Shiho selalu merawatnya bersama Sera. Begitu juga ketika Sera sakit, dia selalu menelepon Shiho sehingga Shiho selalu merawat Sera bersamanya. Mungkin itu sebabnya Sera ingin Shiho menjadi kakak iparnya.

"Salah ataupun tidak, aku tidak bisa melihat Kudo sedih seperti ini," pikir Heiji.

"Ayo kita cari lagi," ucap Heiji sambil berdiri dari tempat duduknya.

"Huh?" ucap Shinichi sambil mendongak untuk menatap Heiji.

"Baju untuk kencan. Katanya kau mau menarik perhatiannya. Kalau baru begini saja kau sudah putus asa, kau tidak akan bisa membuatnya tertarik sampai kapanpun," ucap Heiji.

Mendengar ucapan Heiji, senyum mulai merayapi bibir Shinichi dan dia pun segera berdiri.

"Ya, kau benar. Dia memang wanita yang sulit karena itu aku tidak boleh putus asa. Ayo kita berangkat sekarang," ucap Shinichi.

Mereka berdua pun bergegas keluar dari foodcourt dan mulai berburu baju lagi. Kali ini Heiji benar-benar serius membantu Shinichi memilih baju sehingga dalam waktu kurang dari satu jam, Shinichi sudah mendapatkan baju yang diinginkannya.

XXX

"Hei Hattori-kun, darimana saja kau seharian ini?" tanya Sera saat Heiji main ke apartemennya.

"Kudo memintaku menemaninya beli baju di mall," jawab Heiji.

"Benarkah?" komentar Sera sambil tertawa kecil. "Aku tidak menyangka ternyata laki-laki juga suka pergi belanja baju bersama," lanjutnya.

"Sebenarnya tidak juga. Aku juga heran kenapa Kudo tiba-tiba membutuhkan pendapatku tentang baju yang akan dipakainya untuk kencan bersama Miyano," ucap Heiji.

"Huh? Mereka berdua akan kencan?" tanya Sera.

"Sepertinya begitu. Yah, sebenarnya itu bukan masalah. Mereka kan memang sering pergi berdua sebelumnya. Kau tahu, nonton pertandingan sepakbola secara langsung di stadion atau pergi ke toko buku. Mereka berdua juga suka menemani Detektif Cilik pergi berkemah bersama Profesor," jawab Heiji.

"Kau benar juga. Tapi sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu," ucap Sera penuh selidik.

"Ya begitulah. Kudo benar-benar membuatku merinding tadi," ucap Heiji.

"Maksudmu?" tanya Sera penasaran.

"Kalau aku tidak tahu bahwa dia meminum obat buatan Miyano, aku pasti yakin bahwa Kudo mencintai Miyano, cinta yang besar sekali," jawab Heiji.

"Bagaimana kau bisa bilang begitu?" tanya Sera.

"Aku melihatnya dari ekspresi wajah Kudo, bagaimana dia terlihat begitu bersemangat mencari baju yang akan dipakainya untuk kencan bersama Miyano, bagaimana dia terlihat benar-benar sedih ketika dia belum mendapatkan baju yang diinginkannya, bagaimana gembiranya dia ketika dia mendapatkan baju yang diinginkannya, itu benar-benar membuatku takut. Aku takut pada apa yang akan terjadi ketika semua kekacauan ini berakhir," jawab Heiji.

"Kau tidak perlu takut. Sudah jelas Kudo-kun mencintai Mouri-san. Setelah semua kekacauan ini berakhir, Kudo-kun akan kembali seperti semula, hubungan Shiho dan Kudo-kun akan menjadi canggung selama beberapa lama. Tapi kemudian mereka berdua akan bisa mengatasinya karena mereka sahabat kental dan mereka akan menertawakan saat-saat Kudo-kun di bawah pengaruh obat," ucap Sera.

"Yah, aku harap kau benar," ucap Heiji.

"Tentu saja aku benar. Sudah, kau jangan terlalu khawatir. Oh ya, kakakku bilang dia akan datang ke sini dalam waktu dekat. Sepertinya dia tidak akan membiarkan Kudo-kun seenaknya dekat-dekat dengan Shiho setelah aku menceritakan semuanya padanya," ucap Sera sambil tersenyum licik.

"Kau ini, pasti kau mengarang semua ceritanya," ucap Heiji sambil facepalm.

"Yah, aku hanya menambahinya sedikit," ucap Sera sambil nyengir sehingga Heiji semakin yakin bahwa sebagian besar cerita Sera pada kakaknya berisi kebohongan.

"Haah, kekacauan ini pasti akan semakin besar jika kakakmu benar-benar datang," ucap Heiji.

"Hei, jangan bilang begitu. Kakakku pasti akan membuat keadaan menjadi lebih baik," ucap Sera.

"Huh, siapa yang mau percaya itu," ucap Heiji sinis.

"Apa katamu?" seru Sera.

Dan mereka terus berdebat sampai mereka lelah sendiri.

XXX

"Baju baru ya?" tanya Shiho setelah mengamati Shinichi saat membuka pintu sabtu sorenya.

"Begitulah. Aku beli khusus untuk kencan kita hari ini," jawab Shinichi.

"Kau ini berlebihan sekali. Kita kan cuma mau nonton pertandingan sepakbola seperti biasanya," ucap Shiho sambil masuk ke dalam rumah diikuti oleh Shinichi.

"Err, apa kau tidak suka?" tanya Shinichi dengan khawatir sehingga Shiho berbalik kembali untuk menatap Shinichi.

"Bukan begitu. Aku suka, cuma menurutku kau terlalu berlebihan. Itu saja," ucap Shiho sambil tersenyum sehingga Shinichi ikut tersenyum.

"Berangkat sekarang?" tanya Shinichi.

"Tunggu sebentar, aku ambil jaket dan tasku dulu di kamar," jawab Shiho.

Setelah Shiho keluar dari kamarnya dengan tas dan jaketnya, mereka berdua bergegas berangkat. Setelah menonton pertandingan sepakbola, mereka berdua berjalan-jalan di taman seperti biasanya.

"Kudo-kun, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu? Sepertinya sejak tadi kau kelihatan tidak begitu senang. Padahal kau sendiri yang menginginkan kencan ini," ucap Shiho sehingga Shinichi menghentikan langkahnya dan Shiho pun ikut berhenti.

"Aku baik-baik saja. Hanya saja...," ucap Shinichi menggantung.

"Hanya saja?" tanya Shiho sambil menaikkan alisnya.

"Shiho, ini tidak ada bedanya. Padahal aku sangat menantikan kencan pertama kita ini, tapi aku seperti pergi bersama temanku, bukan kekasihku. Aku jadi merasa kecewa," jawab Shinichi.

"Jadi kau kecewa pergi kencan denganku?" tanya Shiho sambil tersenyum.

"Bukan begitu. Hanya saja...," jawab Shinichi sehingga Shiho menggeleng-gelengkan kepalanya.

Shiho meraih tangan Shinichi dan menggenggamnya sehingga Shinichi menatapnya dengan terpana.

"Apa sekarang sudah ada bedanya?" tanya Shiho.

Bibir Shinichi segera membentuk senyuman dan dia mengangguk dengan senang sehingga Shiho tertawa kecil melihatnya. Shinichi pun menggenggam tangan Shiho dengan erat dan mereka berdua kembali melangkah.

"Mulai sekarang aku tidak mau melihatmu muram lagi. Lalu aku juga tidak mau kau banyak protes. Kalau kau masih seperti itu, aku akan meninggalkanmu, kau mengerti?" ucap Shiho.

"Iya, aku tahu," ucap Shinichi masih dengan senyum di bibirnya.

Setelah beberapa lama berjalan, Shinichi menghentikan langkahnya kemudian berdiri di depan Shiho dan memegang bahu Shiho sehingga Shiho menatapnya dengan bingung. Lalu Shiho menyadari bahwa mereka berdua berada di bagian taman yang sepi dan remang-remang sehingga dia segera mengerti maksud Shinichi. Dia melihat wajah Shinichi mulai mendekat ke wajahnya sehingga dia langsung berpikir keras untuk menghindar.

Shiho langsung berpura-pura menjerit dan kelihatan cemas sehingga Shinichi menghentikan niatnya dan memandang Shiho dengan khawatir.

"Ada apa?" tanya Shinichi.

"Sepertinya barusan ada sesuatu yang melewati kakiku. Kudo-kun, lebih baik kita pergi dari sini. Cuaca semakin dingin dan aku juga sudah lapar," jawab Shiho.

"Baiklah. Kita cari tempat untuk makan malam," ucap Shinichi kemudian mereka berdua bergegas keluar dari taman.

XXX

"Shiho," panggil Shinichi ketika mereka berdua sudah naik ke tempat tidur.

"Hmm?" sahut Shiho.

"Aku mencintaimu," ucap Shinichi.

"Yah, berhubung kau sudah mengatakannya ratusan kali, aku hanya bisa bilang padamu aku sudah tahu," ucap Shiho sinis.

"Kalau begitu kapan kau akan mengatakan padaku bahwa kau juga mencintaiku?" tanya Shinichi.

"Dalam mimpimu, mungkin," jawab Shiho.

"Hei, apa kau benar-benar tidak bisa mencintaiku?" tanya Shinichi.

"Mungkin aku bisa tapi aku tidak mau," jawab Shiho.

"Kenapa kau tidak mau?" tanya Shinichi.

"Yah, aku tidak bisa mengatakan alasannya padamu," jawab Shiho.

"Kenapa tidak bisa? Kalau aku tahu alasannya kan, aku bisa berusaha untuk mengubahnya," ucap Shinichi.

"Kudo-kun, kau terlalu banyak bicara. Aku mau tidur," ucap Shiho.

"Shiho," ucap Shinichi agak merajuk sehingga Shiho mendongak untuk menatap Shinichi.

"Kau ini sebenarnya kenapa sih? Bukankah tadi kita sudah kencan seperti yang kau inginkan? Kenapa kau masih saja berisik?" tanya Shiho agak kesal.

"Aku tidak berisik. Aku hanya ingin bicara denganmu," jawab Shinichi.

"Kudo-kun, dari tadi kita sudah bicara. Sekarang waktunya tidur," ucap Shiho.

"Baik, baik. Aku akan menutup mulutku. Tapi sebelum itu...," ucap Shinichi sambil mendekatkan bibirnya ke bibir Shiho.

Untungnya Shiho mempunyai refleks yang cepat sehingga bibir Shinichi hanya bertemu dengan rambut Shiho karena Shiho langsung menunduk.

Shinichi memandang kepala Shiho dengan bingung dan dia sudah akan membuka mulutnya lagi namun mengurungkannya ketika dia merasakan lengan Shiho di pinggangnya. Kemudian dia merasakan tangan Shiho membelai punggungnya.

"Aku ngantuk sekali jadi bagaimana kalau kita tidur sekarang?" tanya Shiho lembut sehingga Shinichi tidak bisa menjawab selain iya.

"Baiklah," jawab Shinichi.

Shiho terus membelai punggung Shinichi sampai Shinichi tertidur sehingga Shinichi tidak sadar bahwa Shiho sengaja menghindar ketika Shinichi ingin menciumnya hari ini.

XXX

Sore itu, Shiho duduk-duduk sendirian di sofa ruang tengah rumahnya sambil membaca buku kuliahnya karena dia akan menghadapi ujian. Dia sendirian di rumah karena Profesor Agasa sedang pergi liburan ke pemandian air panas bersama tunangannya yaitu Fusae sejak kemarin dan rencananya mereka akan kembali besok pagi.

Ketika Shiho bangkit dari tempat duduknya untuk mengambil minum di dapur, dia mendengar bunyi bel pintu depan yang menandakan ada tamu sehingga dia mengalihkan langkahnya ke pintu depan. Ketika dia membuka pintu, dia langsung disambut oleh pelukan erat sehingga dia agak sedikit terkejut.

"Kudo-kun, apa yang kau lakukan?" seru Shiho sambil berusaha melepaskan diri.

"Aku capek sekali," ucap Shinichi, tidak mau melepaskan Shiho.

"Baiklah. Lepaskan aku dan kita masuk ke dalam. Kalau di sini, nanti ada yang melihat," ucap Shiho.

Shinichi pun melepaskan Shiho dengan enggan kemudian mereka berdua berjalan menuju ruang tengah setelah Shiho menutup pintu. Shinichi menghempaskan tubuhnya ke sofa dan menarik Shiho untuk duduk di sebelahnya.

"Dua kasus pembunuhan dan satu kasus penculikan, bisakah kau bayangkan itu?" ucap Shinichi.

"Makanya kau harus berhenti menjadi magnet mayat," ucap Shiho sambil tertawa.

"Oi, oi! Aku bukan magnet mayat," ucap Shinichi kesal. "Yang paling merepotkan adalah kasus penculikan. Aku harus lari kesana kemari untuk memecahkan kode yang ditinggalkan korban agar aku bisa menemukannya. Dan Ran, aku harus mendengar jeritannya dua kali hari ini. Kau tahu, meskipun dia sudah sering melihat korban pembunuhan dan TKP, dia tetap saja tidak tahan dengan semua itu. Aku juga bisa melihat bahwa dia tidak senang ketika aku meninggalkannya untuk mengurus kasus penculikan itu walaupun dia berusaha menyembunyikannya," lanjutnya dengan nada mengeluh.

"Kudo-kun, kau ingat dulu kau bilang apa padaku? Kau bilang Ran-san yang selalu menjerit ketika melihat korban pembunuhan itu sangat manis. Itu menunjukkan bahwa dia adalah wanita yang berhati lembut dan sensitif, tidak sepertiku yang selalu berwajah datar dan sama sekali tidak manis serta berhati batu. Jadi kenapa sekarang kau mengeluh? Lagipula wajar kalau seorang wanita tidak suka jika pacarnya pergi meninggalkannya ketika mereka sedang pergi bersama. Bahkan Ran-san pun berusaha menyembunyikan rasa tidak sukanya darimu, itu berarti dia sangat pengertian padamu," ucap Shiho.

"Aku memang pernah bilang begitu. Tapi aku bilang begitu karena aku heran denganmu. Ran bersikap seperti para wanita pada umumnya, tapi kau tidak. Yah, tapi kau benar, Ran memang sangat pengertian padaku dan kadang-kadang itu sangat membebaniku walaupun egoku selalu bisa mengatasinya," ucap Shinichi.

"Karena itu berhentilah mengeluhkan pacarmu yang sangat pengertian itu dan berhenti berpikir untuk meninggalkannya karena aku. Kau akan menyesal kalau kau meninggalkannya dan memilih aku," ucap Shiho.

"Shiho, aku mencintaimu jadi aku tidak akan menyesal kalau aku meninggalkan Ran dan memilihmu. Jika kau mengijinkanku memutuskan Ran sekarang, aku pasti akan putus dengannya sekarang juga," ucap Shinichi sehingga Shiho facepalm.

"Aku lupa kalau ucapanku tidak akan mempan padanya," ucap Shiho dalam hati.

"Baiklah, terserah kau saja. Tapi aku tidak mau kau putus dengan Ran-san," ucap Shiho sambil berdiri karena dia ingin ke dapur untuk mengambil minum yang tadi tertunda, namun ketika dia akan melangkah, Shinichi memeluknya dari belakang.

"Shiho, jika suatu hari nanti kau benar-benar menjadi kekasihku, lalu aku meninggalkanmu di tengah-tengah kencan kita untuk menangani suatu kasus, apa kau juga akan mengerti seperti Ran?" tanya Shinichi.

"Aku rasa tidak ada gunanya aku menjawabnya karena itu tidak akan pernah terjadi. Sekarang lepaskan aku karena aku mau ke dapur untuk mengambil minum," jawab Shiho.

"Oh, ayolah, jawab saja. Lagipula setiap kemungkinan bisa terjadi. Kalau kau tidak mau menjawab, aku juga tidak mau melepaskanmu," ucap Shinichi sehingga Shiho menghela nafas.

"Baiklah. Hmm, aku rasa aku tidak akan sepengertian itu. Kalau aku sudah benar-benar kesal, aku akan menghukummu," ucap Shiho kemudian bibirnya membentuk senyum jahat. "Aku mengenalmu dengan baik jadi aku pasti bisa menemukan hukuman yang paling tidak kau harapkan dan paling tidak kau inginkan," lanjutnya dan senyumnya semakin lebar ketika dia merasakan Shinichi merinding lalu melepaskannya.

Shiho berbalik untuk menatap Shinichi sambil nyengir.

"Bagaimana? Apa sekarang kau akan menyesal kalau kau memilihku?" tanya Shiho.

"Err, itu...," ucapan Shinichi dipotong oleh suara perutnya yang keroncongan sehingga wajahnya memerah karena Shiho menatapnya dengan geli. "Aku tadi belum makan siang karena sibuk dengan kasus," gumamnya.

"Kalau begitu mandilah sekarang sementara aku membuatkanmu sandwich selai kacang dan blueberry," ucap Shiho.

"Oke. Aku akan segera kembali," ucap Shinichi dengan riang lalu dia memberi kecupan singkat di pipi Shiho dan bergegas pulang ke rumahnya untuk mandi.

Bersambung...