Disclaimer :
Detektif Conan milik Gosho Aoyama.
Catatan Penulis :
Waktunya balas komen!
Poyo-chan : Semoga chapter ini sesuai harapan. Shinichi kan sukanya pakai baju formal sementara Heiji sukanya pakai baju casual makanya Shinichi minta pendapat Heiji untuk beli baju casual. Kalau bajunya kayak gimana, ya seperti biasa, celana jeans, t-shirt dan jaket serta topi sebagai pelengkap. Silahkan dibayangkan sendiri. He he he.
Fujita-san : Sera itu cewek. Dia nggak tinggal dengan Heiji. Dia tinggal di bangunan apartemen yang sama dengan Heiji dan pintu apartemennya berhadapan dengan pintu apartemen Heiji. Jadi tempat tinggal mereka berhadapan dan mereka kuliah di jurusan yang sama, makanya mereka deket. Poor Shinichi sepertinya masih akan berlanjut. He he he.
Kongming-san : Ooo, Samiri dan Nabi Musa. Nggak ada yang lewat di kakinya Shiho. Dia cuma akting.
SherryHazel : Bukan Shiho yang akan bikin Shinichi cemberut tapi kakaknya Sera yang akan melakukannya. He he he. Cameo itu maksudnya dia cuma muncul sekilas di cerita atau dia cuma disebut-sebut oleh tokoh-tokoh dalam cerita tapi nggak pernah muncul.
kawaii. Minami : Bukannya nggak suka. Lebih tepatnya Ai adalah tokoh cewek di DC yang paling aku suka. Makanya aku suka nulis cerita tentang dia. He he he.
moist fla : Aku belum ada gambaran pasti. Menurut perkiraanku sih under 10 chapter. Tapi kalau molor, ya nggak tahu juga. He he he. Hmm, kalau 'Pengertian' menurutku sudah oke seperti itu saja. Mungkin kapan-kapan aku akan nulis rumah tangga mereka kalau ada ide.
Aiwha-san : Sepertinya aku harus membuatmu kecewa karena Ran kemungkinan besar hanya akan jadi cameo di cerita ini.
Airin-san : Yah, apa boleh buat. Shiho emang kayak gitu. Tapi tenang saja, di chapter ini akan ada orang yang memberinya pencerahan.
Nachie-chan : He he he. Lagi puasa ya?
Jessica-san : Wah, lagi ngerjain novel? Ya harus, kalau nggak Shinichi bakalan seenaknya. He he he.
Witthechavalery : Iih serem. He he he. Semoga kamu tambah penasaran setelah membaca chapter ini.
shiho Nakahara : Sepertinya sih nggak bakalan muncul soalnya aku nggak mau cerita ini tambah rumit. He he he.
shihoCool'n : Sepertinya chapter ini tambah panjang. XD
kudo kun ran : Hmm, memang ceritanya tentang apa? Kalau tentang ShinRan, aku nggak bisa janji akan baca. He he he.
Atin : Terima kasih banyak. Wah, aku nggak punya. Adanya cuma fesbuk.
ShinYi : Roger that!
Chapter 5 sudah datang! Kira-kira siapa ya yang tertangkap basah dan siapa yang menangkap basah? Temukan di bawah ini!
Selamat membaca dan berkomentar!
Jangan Bilang Tidak
By Enji86
Chapter 5 – Tertangkap Basah
"Setelah makan, aku jadi mengantuk. Aku tidur di sini ya?" ucap Shinichi setelah menguap.
"Terserah. Kau bisa tidur di kamar belakang kalau kau mau," ucap Shiho kemudian dia bangkit dari meja makan untuk kembali belajar di ruang tengah. Namun belum sempat dia melangkah, Shinichi meraih pergelangan tangannya.
"Kemana kau pikir kau akan pergi?" tanya Shinichi dengan senyum penuh arti sehingga Shiho menaikkan alisnya.
"Lupakan saja. Aku harus belajar. Besok aku ada ujian," jawab Shiho sambil berusaha melepaskan pergelangan tangannya tapi Shinichi mencengkeram pergelangan tangannya dengan erat.
"Tidak. Aku ingin kau menemaniku. Aku hanya mau tidur sebentar kok. Kau bisa belajar lagi nanti," ucap Shinichi sambil menarik Shiho ke kamar belakang.
"Aku tidak mau. Aku mau belajar sekarang," protes Shiho sambil berusaha melepaskan diri meskipun tanpa hasil karena Shinichi memang jauh lebih kuat daripada dirinya.
Shinichi mendorong Shiho ke tempat tidur lalu mendekap Shiho dengan erat. Dia nyengir lebar pada Shiho yang memandangnya dengan kesal.
"Kau sungguh menyebalkan," ucap Shiho sehingga Shinichi tertawa kecil.
"Apa boleh buat. Tidurku lebih nyenyak jika kau ada di pelukanku. Lagipula kau terlihat sangat manis kalau sedang kesal," ucap Shinichi sambil nyengir.
"Apa kau pikir aku akan merasa lebih baik setelah mendengar rayuan gombalmu itu?" ucap Shiho sinis.
"Aku tidak merayumu. Aku serius. Aku mencintaimu, kau ingat?" ucap Shinichi sambil tersenyum sehingga Shiho terdiam.
Shiho tiba-tiba merasa sangat lelah. Shinichi sungguh membuatnya lelah. Entah sampai kapan dia sanggup bertahan. Dia bahkan berharap Shinichi tidak muncul di hadapannya sehari saja supaya dia bisa beristirahat. Tapi tidak, Shinichi selalu datang setiap malam, mendekapnya dan merayunya, mengatakan padanya kata-kata cinta, membuatnya tidak nyaman dan membuatnya kelelahan. Namun dia juga tahu, sekali saja dia membiarkan pertahanannya goyah, dia akan menyesalinya nanti. Karena itu, apapun yang terjadi, dia harus kuat.
"Aku berubah pikiran. Aku rasa aku ingin tidur sekarang," ucap Shiho kemudian dia membenamkan wajahnya di dada Shinichi.
Shinichi menatap kepala Shiho dengan bingung namun kemudian dia tersenyum. Dia membelai rambut Shiho dengan salah satu tangannya.
"Untunglah kau tidak punya kemampuan bela diri seperti Ran, Toyama-san dan Masumi-san. Kalau kau punya, aku pasti akan kesulitan membawamu ke tempat tidur," ucap Shinichi.
"Terserah," komentar Shiho.
"Hei Shiho, apa kau tidak pernah terpikir untuk belajar bela diri seperti mereka?" tanya Shinichi.
"Untuk apa?" Shiho balik bertanya.
"Ya untuk perlindungan diri," jawab Shinichi.
"Itu tidak perlu karena menurutku wanita akan selalu mempunyai laki-laki yang akan melindunginya," gumam Shiho dengan suara mengantuk.
"Eh?" ucap Shinichi.
"Yang penting bagi wanita bukan kekuatan fisiknya, tapi kecerdasan pikirannya dan kekuatan hatinya sehingga dia bisa menghadapi semua masalah yang muncul dalam kehidupannya," gumam Shiho dengan suara semakin pelan.
"Shiho, kau...," ucap Shinichi sambil menatap kepala Shiho dengan pandangan tidak percaya.
Shiho tidak menanggapinya karena dia sudah tertidur.
Setelah menatap kepala Shiho selama beberapa saat, Shinichi memandang ke depan dengan pandangan menerawang. Dia baru tahu kalau Shiho benar-benar sempurna untuknya. Sifatnya yang selalu ingin menjadi pelindung orang lain dan kebutuhannya akan seseorang yang bisa dia percaya sekaligus tempatnya bergantung jika dia merasa lelah atau putus asa benar-benar pas dengan Shiho. Dia mengalihkan pandangannya kembali ke Shiho.
"Shiho, kau benar-benar sempurna untukku. Sepertinya kau memang diciptakan untukku. Tapi kenapa kau tidak mau mencintaiku? Padahal aku sangat mencintaimu," ucap Shinichi dalam hati. Lalu dia mencium kening Shiho kemudian menutup matanya dan segera tertidur.
XXX
"Aku tidak sabar untuk memberi kejutan pada Ai-kun kalau kita pulang lebih cepat dengan banyak oleh-oleh," ucap Profesor Agasa sambil memasukkan mobilnya ke dalam pagar rumahnya malam harinya.
Fusae yang ada di sebelahnya pun tersenyum mendengarnya.
"Kau ini benar-benar sayang pada Shiho-chan ya? Aku jadi agak cemburu," ucap Fusae.
"Benarkah?" sahut Profesor Agasa sambil tertawa kecil. "Yah, Ai-kun itu sudah kuanggap sebagai putriku sendiri. Makanya aku selalu khawatir jika harus meninggalkannya sendirian di rumah. Aku tahu dia bisa menjaga dirinya sendiri tapi tetap saja aku khawatir," lanjutnya.
"Ya, aku tahu kok. Aku hanya bercanda. Nanti setelah kita menikah, Shiho-chan juga akan menjadi putriku. Menurutmu apakah kita bisa meminta Shiho-chan memanggil kita dengan ayah dan ibu setelah kita menikah?" ucap Fusae.
"Kita tanyakan saja nanti padanya. Kalau dia mau memanggil kita dengan ayah dan ibu, aku akan sangat senang," ucap Profesor Agasa sambil tersenyum.
Setelah mobil masuk ke dalam pagar, mereka berdua keluar dari mobil dan melangkah menuju pintu depan. Ketika Profesor Agasa sedang membuka kunci pintu depan rumahnya, Heiji, Sera dan Shuichi muncul di depan rumah Profesor Agasa kemudian memasuki pagar. Mereka bertiga langsung menghampiri Profesor Agasa dan Fusae.
"Lho, kenapa kalian ada di sini? Shuichi-kun, kau sedang cuti?" tanya Fusae ketika dia menyadari kehadiran mereka bertiga.
"Begitulah, Bibi," jawab Shuichi.
"Karena kupikir Shiho sendirian di rumah dan kebetulan Nii-san juga baru datang dari Amerika, jadi kami ingin mengunjungi Shiho. Kata Shiho, Bibi dan Profesor baru pulang besok? Kok sekarang sudah ada di sini?" ucap Sera.
"Hiroshi-kun katanya khawatir meninggalkan Shiho-chan sendirian di rumah, makanya kami pulang lebih cepat," ucap Fusae.
"Kalau begitu ayo kita masuk. Kami membawa oleh-oleh yang banyak, kalian pasti suka," ucap Profesor Agasa sambil membuka pintu lalu dia melangkah ke dalam diikuti oleh yang lain.
"Huh? Sepi sekali?" tanya Fusae sesampainya di dalam rumah.
"Mungkin dia sedang mengerjakan sesuatu di ruang bawah tanah atau sudah tidur di kamarnya makanya dia tidak mendengar kita datang. Aku akan melihatnya," jawab Profesor Agasa.
"Kalau begitu aku ikut denganmu," ucap Fusae.
Mereka berdua melangkah menuju ruang bawah tanah sementara ketiga orang yang lain tetap tinggal di ruang tamu dan mendudukkan diri mereka di sofa.
"Hmm, Shiho akan menerima banyak kejutan malam ini. Profesor dan Bibi Fusae pulang lebih cepat dan Nii-san datang ke Jepang untuk mengunjunginya," ucap Sera sambil tersenyum.
"Aku jadi tidak sabar ingin bertemu dengannya," ucap Shuichi sambil tersenyum misterius sehingga membuat Heiji merasa tidak nyaman.
Heiji bisa melihat bahwa Shuichi sudah menyusun rencana jahat di kepalanya. Yah, mungkin jahat adalah kata yang berlebihan. Tapi kalau dibilang rencana iseng, sepertinya juga kurang memadai. Heiji tahu bahwa Shuichi menyukai Shiho, tapi rasa sukanya tidak pernah menghalanginya untuk menggoda dan mengusili Shiho.
Heiji juga pernah beberapa kali menguntit dan menguping pembicaraan Shuichi dan Shiho ketika mereka sedang bersama karena Sera memaksanya menemaninya. Dan beberapa kali dia mendengar Shuichi melakukan dirty talk kepada Shiho yang membuatnya merasa malu dan wajahnya memerah walau hanya mendengarnya saja. Dia pun bisa melihat Sera juga merasa begitu. Jadi dia tidak pernah mengerti kenapa Shiho bisa bertahan dengan Shuichi dan hanya tertawa kecil sambil memarahi Shuichi karena mulutnya yang kotor itu. Sampai suatu hari dia mendengar Shiho membalas dirty talk yang dilancarkan Shuichi dengan dirty talk juga yang membuat celananya menjadi tidak nyaman. Dia tidak bisa membayangkan apa jadinya jika dia yang berada di posisi Shuichi dan dia tidak mau membayangkannya. Sejak saat itu, dia sadar bahwa mereka berdua adalah alien dan manusia biasa sepertinya ataupun Sera tidak perlu mencoba memahami mereka berdua dan hubungan mereka berdua. Dia pun bersepakat dengan Sera, tidak akan pernah lagi menguntit atau menguping pembicaraan mereka berdua.
Beberapa saat kemudian Profesor Agasa dan Fusae muncul kembali di ruang tamu dengan wajah bingung.
"Lho? Shiho mana?" tanya Sera sambil celingukan.
"Kami tidak bisa menemukannya di ruang bawah tanah maupun di kamarnya. Di kamar mandi juga tidak ada," jawab Profesor Agasa.
"Mungkin dia sedang pergi keluar sebentar," ucap Heiji.
"Mungkin juga," sahut Fusae.
"Benarkah? Tapi sepertinya tadi aku melihat dompetnya di atas meja di kamarnya. Kalau dia mau pergi keluar kan seharusnya dia bawa dompet," ucap Profesor Agasa lalu wajahnya menjadi cemas. "Jangan-jangan dia diculik? Aduh, bagaimana ini?" serunya sehingga Fusae memegang bahunya untuk menenangkannya.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak," ucap Fusae kemudian seperti mendapat ide, dia menepukkan tangannya. "Oh ya, kita belum memeriksa ke kamar belakang. Mungkin saja dia tidur di sana," ucap Fusae.
"Tapi kenapa dia tidur di sana?" tanya Profesor Agasa dengan ragu.
"Lebih baik kita lihat dulu," ucap Sera sambil berdiri. "Kalau pun dia tidak ada di sana, Profesor tidak perlu khawatir karena di sini ada tiga orang detektif hebat yang pasti bisa menemukannya," lanjutnya sambil tersenyum.
"Iya, kau benar, Sera-kun," ucap Profesor Agasa.
Lalu mereka berlima pun melangkah menuju kamar belakang. Sesampainya di sana, mereka berlima yang pada awalnya ingin memberi kejutan pada Shiho malah diberi kejutan oleh Shiho. Setelah berdiri membatu di tempat selama beberapa detik, Profesor Agasa jatuh pingsan sehingga Fusae dan Sera berseru terkejut. Untunglah Shuichi dan Heiji dengan sigap menangkap tubuh Profesor Agasa sehingga tidak jatuh ke lantai. Seruan Fusae dan Sera pun membangunkan dua sosok yang sedang tidur pulas di tempat tidur dengan posisi mencurigakan.
Begitu pandangannya fokus kembali, Shiho langsung tersentak dan bangun untuk duduk dengan lengan Shinichi masih melingkar di pinggangnya. Dia memandang dengan horor kerumunan yang melangkah pergi sambil menggotong tubuh Profesor Agasa yang pingsan.
"Oh, tidak," erang Shiho dalam hati.
XXX
Setelah Profesor Agasa sadar dari pingsannya, Shiho duduk berhadapan dengan Profesor Agasa dan Fusae untuk memberi mereka berdua penjelasan di kamar Profesor Agasa. Shuichi, Heiji dan Sera kembali duduk di ruang tamu sementara Shinichi pulang ke rumahnya sendiri karena Shiho langsung menyuruhnya pulang agar masalahnya tidak semakin rumit.
"Padahal kupikir kau membohongiku," ucap Shuichi memecah keheningan di ruang tamu.
"Kupikir juga begitu. Aku tidak tahu kalau kebohonganku akan menjadi kenyataan. Oh, seharusnya aku tidak membohongimu," ucap Sera dengan nada frustasi.
Lalu ruang tamu itu menjadi hening lagi sampai Shiho keluar dari kamar Profesor Agasa. Heiji yang pertama berdiri lalu melangkah menghampiri Shiho diikuti oleh Sera.
"Aku benar-benar kecewa padamu, Miyano," ucap Heiji dengan dingin, pertanda bahwa dia sangat marah.
"Hattori-kun, aku bisa jelaskan...," ucapan Shiho dipotong oleh Sera.
"Apa kau tidak ingat kalau Kudo-kun sudah ada yang punya? Bagaimana bisa kau melakukan itu?" seru Sera.
"Melakukan apa? Kami tidak melakukan apa-apa," jawab Shiho.
"Tidak melakukan apa-apa? Kalian tidur bersama. Kau tidur dalam pelukannya," seru Heiji dengan nada menuduh.
"Aku memang tidur dalam pelukannya. Tapi hanya tidur. Kami tidak pernah melakukan apapun," seru Shiho.
"Terserah kau saja, Shiho. Lebih baik kami pulang sekarang. Ayo, Hattori-kun, Nii-san, kita pulang," ucap Sera.
Heiji mengangguk kemudian mereka berdua melangkah ke pintu depan, meninggalkan Shiho yang memandang mereka dengan putus asa. Saat Sera membuka pintu, dia melihat kakaknya masih duduk dengan tenang di ruang tamu.
"Nii-san, kenapa kau masih duduk di situ? Bukankah aku sudah mengajakmu pulang?" tanya Sera dengan agak kesal.
"Kalian pulanglah dulu. Aku akan menyusul nanti," jawab Shuichi.
"Apa kau masih ingin bicara dengan wanita itu setelah apa yang dia lakukan?" tanya Sera dengan marah.
"Tentu saja. Aku percaya padanya. Jika Sherry bilang dia tidak melakukan apapun, itu artinya dia memang tidak melakukan apapun. Kalau kalian tidak bisa percaya padanya, pulanglah dan tenangkanlah diri kalian. Mungkin nanti kalian akan sadar bahwa dia adalah wanita yang bisa dipercaya," jawab Shuichi.
"Baiklah, terserah kau saja," ucap Sera tajam kemudian dia melangkah keluar dari rumah Profesor Agasa dengan Heiji.
Shiho menghela nafas kemudian menghampiri Shuichi dan duduk di sebelahnya setelah Sera menutup pintu.
Kau kelihatan sangat lelah walaupun baru bangun tidur. Aku jadi bertanya-tanya apa yang sudah terjadi selama kau tidur," ucap Shuichi dengan nada menggoda.
"Tidak ada. Kalau kau tidak percaya padaku kenapa tadi kau bilang pada Sera dan Hattori-kun kalau kau percaya padaku?" ucap Shiho dengan kesal.
"Karena aku sangat rindu padamu," ucap Shuichi sambil nyengir.
Shiho langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena frustasi.
"Oh, kalian berdua benar-benar membuatku lelah," erang Shiho.
"Hei, siapa bilang? Mungkin dia sudah pernah membuatmu lelah di tempat tidur, tapi aku belum pernah," ucap Shuichi sambil menyeringai.
Shiho kembali menoleh untuk menatap wajah Shuichi.
"Rye, kau tidak membantuku sama sekali," erang Shiho dengan wajah putus asa.
"Baiklah, aku akan membantumu," ucap Shuichi sambil mendorong Shiho sehingga Shiho terbaring di sofa dengan dia di atasnya.
"Rye, apa yang kau lakukan?" seru Shiho dengan suara pelan sambil mendorong Shuichi dan mencoba bangkit kembali. Dia mengecilkan suaranya agar Profesor Agasa dan Fusae tidak memergokinya lagi dalam posisi yang mencurigakan dengan seorang laki-laki.
"Ssh. Tenanglah. Aku sedang membantumu," ucap Shuichi dengan suara pelan juga.
Shuichi membenamkan wajahnya di leher Shiho dan menciuminya sehingga membuat Shiho merinding. Namun belum sempat dia menyuruh Shuichi untuk berhenti, dia mendengar suara yang penuh dengan kemarahan.
"Oh, jadi ini sebabnya kau bersikeras menyuruhku pulang? Karena kau ingin bermesraan dengannya setelah aku pergi?" seru Shinichi dengan marah.
Shiho langsung mengarahkan pandangannya ke asal suara dan memandang Shinichi dengan terkejut sementara Shuichi bangkit dari atas tubuh Shiho lalu menatap Shinichi.
"Memangnya kenapa kalau iya? Kau ada masalah?" tanya Shuichi.
"Apa kau bilang?" seru Shinichi sambil menatap Shuichi dengan marah.
"Rye, hentikan. Kudo-kun, aku bisa jelaskan...," ucapan Shiho dipotong oleh Shuichi.
"Kau yang harus berhenti, Sherry," ucap Shuichi sambil menoleh ke Shiho kemudian dia mengalihkan pandangannya kembali ke Shinichi. "Bukankah selain Sherry, kau juga mengencani wanita lain? Jadi tidak ada salahnya kan kalau Sherry juga mengencani laki-laki lain selain kau?" lanjutnya.
"A-apa? T-tapi itu...," ucap Shinichi terbata-bata sehingga Shuichi menyeringai.
"Aku pikir kau sudah mengerti. Selama aku ada di sini, Sherry adalah milikku jadi pulanglah," ucap Shuichi.
Shinichi hanya bisa terdiam karena dia tidak tahu harus berkata apa, kemudian dia berbalik dan melangkah ke pintu dengan lesu untuk pulang. Shiho hanya memandangnya dengan kasihan. Shuichi menoleh ke Shiho dan menyadari pandangan kasihan Shiho untuk Shinichi sehingga dia menarik Shiho untuk duduk di sebelahnya, melingkarkan lengannya di bahu Shiho dan menyandarkan kepala Shiho di dadanya.
"Kau selalu saja begini. Selalu ragu-ragu, makanya urusanmu tidak ada yang beres dan kau menjadi kelelahan," ucap Shuichi.
"Aku tidak tahu kenapa kau bisa bilang begitu tapi aku tidak seperti itu," ucap Shiho.
"Kau seperti itu, Sherry. Kau tidak pernah bisa fokus karena kau selalu mempertimbangkan hal lain yang tidak perlu kau pertimbangkan," ucap Shuichi.
"Benarkah? Kalau begitu jika kau tidak keberatan, bisakah kau memberiku pencerahan tentang itu?" tanya Shiho sinis sehingga Shuichi tersenyum.
"Baiklah, aku tidak keberatan. Contoh yang paling sederhana dan paling sensitif adalah hubungan kita. Kau tidak pernah bisa mencintaiku sepenuhnya karena kau selalu mempertimbangkan seseorang yang sudah tiada," ucap Shuichi.
"Rye, aku tidak mau membicarakan itu sekarang," ucap Sherry sambil mencoba bangkit tapi Shuichi memeganginya dengan erat.
"Kita memang tidak akan membicarakan itu sekarang. Aku hanya memberimu contoh. Kalau saja kau tidak ragu-ragu mencintaiku, mungkin kita sudah menjadi pasangan yang bahagia sejak dua tahun lalu. Tapi kau selalu ragu-ragu, makanya hubungan kita jadi tidak jelas seperti ini," ucap Shuichi.
"Maafkan aku, Rye," ucap Shiho.
"Tidak perlu, karena jika deadlinenya tiba, kau akan menjadi milikku karena kau tidak akan punya pilihan lain," ucap Shuichi.
Shiho tidak mengerti apa maksud Shuichi tapi dia hanya diam saja.
"Nah, contoh berikutnya adalah kasus obat buatanmu yang tidak sengaja diminum oleh Kudo. Kau kembali ragu-ragu antara menolak atau menerima cintanya sehingga kau menjadi lelah karena harus menerimanya sekaligus menolaknya," ucap Shuichi.
"Tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak bisa melihatnya sedih dan aku tidak bisa membiarkannya putus dengan pacarnya," ucap Shiho.
"Dan lagi-lagi kau mempertimbangkan hal yang tidak perlu dan membuat dirimu sendiri kelelahan," ucap Shuichi.
"Itu bukan hal yang tidak perlu," bantah Shiho.
"Kau salah. Itu hal yang tidak perlu dipertimbangkan jika dibandingkan dengan dirimu sendiri. Seharusnya kau mempertimbangkan dirimu dulu sebelum mempertimbangkan hal lain. Kau harus memilih, Sherry. Menerimanya sepenuhnya atau menolaknya sepenuhnya. Jangan pikirkan orang lain dan jangan pikirkan akibat yang belum pasti terjadi. Pikirkan saja apa yang hatimu ingin lakukan," ucap Shuichi.
"Tapi kenapa kau memberiku pilihan untuk menerimanya. Jika aku menerimanya sepenuhnya, bagaimana denganmu?" ucap Shiho dengan heran.
"Lihat kan? Lagi-lagi kau memikirkan orang lain. Sudah kubilang jangan pikirkan orang lain. Apa kau tidak mengerti yang kukatakan?" ucap Shuichi.
"Entahlah, Rye. Mungkin aku memang akan selamanya seperti ini dan aku tidak akan bisa mengubahnya," ucap Shiho.
"Itu omong kosong. Pikirkan saja dulu. Kau punya waktu sampai besok lusa untuk memutuskannya. Dia tidak akan mengganggumu selama aku ada di sini," ucap Shuichi.
"Baiklah, aku akan memikirkannya," ucap Shiho kemudian dia melingkarkan lengannya di pinggang Shuichi dan mempernyaman posisinya lalu menutup matanya.
Shuichi pun menggerakkan tangannya untuk membelai rambut Shiho.
"Kau wanita yang kejam, Sherry. Kau menutup matamu dari perasaanku, perasaannya dan perasaanmu sendiri karena obsesimu pada kakakmu. Aku janji aku akan membuatmu melupakan kakakmu seperti kau membuatku melupakan kakakmu, apapun caranya. Dengan begitu kau bisa lepas dari bayang-bayang kakakmu dan hidup bahagia," ucap Shuichi dalam hati.
Bersambung...
