Disclaimer :
Detektif Conan milik Gosho Aoyama.
Catatan Penulis :
Waktunya balas komen!
Airin-san : ShinShi dong! Yah, Akai kan udah pernah punya dua hubungan cinta dulu, jadi dia pasti akan baik-baik saja. XD
SherryHazel : Mereka pasti bisa. Kan mereka sahabatan. Kalau Fusae muncul di kasus yang ada daun gingko. Fusae janjian sama Agasa waktu mereka SD untuk ketemu 10 tahun sekali di tempat kenangan mereka soalnya Fusae harus pindah tapi Agasanya nggak bisa menebak tempat kenangan mereka sehingga dia nggak pernah ketemuan sampai dibantuin oleh DB buat nyari. Nah, Fusae itu yang punya butik tas dan dompet yang ciri khasnya adalah daun gingko dan dulu Ai pernah minta dibeliin dompet merek Fusae itu ke Conan. XD
Fujita-san : Yah, semoga aja nggak ada lagi kemalangan yang menimpa Shinchan. He he he.
kudo kun ran : Aku nggak suka pair ShinRan soalnya menurutku mereka berdua nggak cocok dan kalau mereka beneran jadi, mereka bakalan kayak Kogoro sama Eri kalau di dunia nyata. Bahkan mereka berdua ngaku sendiri kalau mereka saling tidak mengerti satu sama lain (Ran di kasus pesawat kertas yang dia ketemu Okiya di rumah Shinichi dan Shinichi di kasus London) padahal mereka udah kenal dari kecil. Kalau pendapatku tentang Ran biasa aja, suka nggak, nggak suka juga nggak. Ran itu tipikal heroin shonen manga, jadi banyak yang seperti itu. XD
Phantom : Mungkin itu karena Akai selalu kelihatan serem dan sayu makanya dia kelihatan beda dengan Okiya padahal sebenarnya mungkin Akai emang kayak itu. Soalnya kalau Akai nggak kayak gitu, gimana bisa Jodie ama Akemi jatuh cinta sama dia. Lagipula mereka juga sama-sama pendiam jadi nggak beda-beda amat. XD
Aiwha-san : Katanya sih perasaan wanita emang ribet. He he he.
moist fla : Memang, tapi dengan begitu dia bisa belajar agar tidak plin-plan. XD
Nachie-chan : Lho memang begitu. Kalau wanita dituntut agar kuat fisiknya, ntar para pria nggak ada kerjaan. He he he.
shiho Nakahara : Hmm, begitu ya. Di chapter ini aku jelaskan kenapa dia bisa lupa sama Akemi. XD
tina nha san : Maaf sepertinya Ran-nya nggak bakalan muncul. Dia cuma jadi cameo. XD
Jessica-san : Wah, iya gimana sih, jalan ceritanya sendiri lupa. He he he. Yah, jangan khawatir, begitu Shuichi-nya balik ke Amerika, ShinShi terus deh. XD
shihoCool'n : Oh, itu soalnya di mata Shinichi, Shiho sepertinya memihak Shuichi jadi dia mundur. Kalau Saguru x Shiho, aku juga nggak tahu soalnya aku nggak pernah baca MK jadi aku nggak begitu paham Saguru itu karakternya seperti apa. Jadi agak ragu kalau mau nulis tentang mereka. XD
Atin : Aku cewek 100% kok. Dan penname-ku itu pengucapan dari namaku. XD
Witthechavalery : Yah, inilah konflik dari cerita ini. He he he.
Poyo-chan : Maaf Ran-nya nggak bakalan muncul kayaknya. Dia cuma jadi cameo. XD
Waktunya curcol!
Chapter 6 berisi tentang renungan malam yang dilakukan oleh Akai, Shinichi dan Heiji serta obrolan Akai dengan Fusae dan Sera. Dan Shiho, sang tokoh utama wanita malah jadi cameo. Ck ck ck.
Penulis juga ingin mencantumkan beberapa teori-teori yang simpang siur di berbagai forum DC yang digunakan penulis untuk mendasari cerita ini. Teori-teori itu antara lain teori bahwa Akai masih hidup, teori bahwa Okiya = Akai, teori bahwa Sera adalah adik Akai dan teori bahwa Fusae punya hubungan saudara dengan Akai. Kalau ada yang kurang, bisa disebutkan di komen, ok?
Selamat membaca dan berkomentar!
Jangan Bilang Tidak
By Enji86
Chapter 6 – Apa Itu Mungkin?
Shuichi mengalihkan pandangannya pada bungkusan yang dia letakkan di atas meja. Bungkusan itu berisi oleh-oleh untuk Shiho yaitu selai kacang dan selai blueberry kesukaan Shiho yang dia beli di Amerika. Dia tersenyum kecil karena teringat saat-saat dia menjadi Subaru Okiya dan menjadi penguntit Shiho yang saat itu masih menjadi Ai Haibara untuk melindunginya. Dia bersyukur saat mengetahui adik Akemi masih hidup sehingga dia bisa membayar kesalahannya pada Akemi dengan melindungi Shiho. Itulah tujuannya pada awalnya. Namun dia tidak menyadari betapa berbahayanya melindungi seseorang secara diam-diam itu. Pikirannya yang selalu dipenuhi oleh Akemi lama-lama dipenuhi oleh orang lain, yaitu Shiho yang harus dilindunginya. Setelah mengamati dan menguntit Shiho selama beberapa waktu, dia mulai mengenal Shiho secara diam-diam. Pikirannya pun mulai berkembang dari yang hanya memikirkan tentang keselamatan Shiho menjadi berbagai macam hal aneh seperti bagaimana Shiho tersenyum dan apa saja hal-hal yang membuatnya tersenyum, bagaimana jika Shiho sedang kesal dan apa saja hal-hal yang membuatnya kesal, bagaimana caranya agar Shiho tidak takut lagi padanya, sampai pada akhirnya ketika Shiho kelihatan sedih atau murung, dia mulai berpikir bagaimana caranya membuat Shiho tidak murung dan tidak sedih lagi. Dan dia juga semakin merasa takut jika Shiho akan membencinya ketika Shiho tahu bahwa dialah yang sudah menyebabkan Akemi dibunuh.
Kadang-kadang dia merasa sangat aneh karena dia jatuh cinta pada Shiho dengan cara yang begitu rapi dan sederhana. Dia tidak pernah menyadarinya sampai Shiho kembali ke tubuh aslinya. Kalimat pertama yang muncul di benaknya ketika dia melihat Shiho yang sudah kembali ke tubuh aslinya untuk pertama kalinya adalah 'Dia adalah wanita paling cantik yang pernah kulihat' dan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya meskipun wajahnya tetap datar. Dan ketika dia menyadari bahwa tugasnya sudah selesai karena Organisasi Hitam sudah musnah, dia mencoba untuk mengingat Akemi kembali, tapi baru sebentar dia mengingat Akemi, pikirannya langsung teralih ke Shiho. Beberapa kali dia mencoba, tapi hasilnya tetap sama. Saat itulah dia tahu bahwa pikirannya tidak lagi dimiliki oleh Akemi, tapi dimiliki oleh Shiho, begitu juga hatinya.
Tiba-tiba ada yang menyentuh bahu Shuichi sehingga membuyarkan lamunannya. Dia pun menoleh dan menemukan Fusae sedang menatapnya.
"Apa dia sudah tidur?" tanya Fusae dengan suara pelan.
Shuichi mengalihkan pandangannya ke Shiho yang tertidur di pelukannya lalu kembali memandang Fusae.
"Sepertinya begitu. Aku akan membawanya ke kamarnya," jawab Shuichi dengan suara pelan juga.
Fusae pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Shuichi melepaskan tangan Shiho yang melingkar di pinggangnya kemudian menggendong Shiho ke kamarnya. Shuichi membaringkan Shiho di tempat tidurnya, menyelimutinya, mencium keningnya lalu keluar dari kamar dan kembali ke ruang tamu.
"Apa Bibi dan Profesor baik-baik saja?" tanya Shuichi setelah dia duduk kembali di sebelah Fusae.
"Yah, Hiroshi-kun sangat syok. Dia tidak bisa tenang meskipun dia sudah mendengarkan penjelasan Shiho-chan. Dia percaya Shiho-chan tidak melakukan apapun dengan Shinichi-kun, tapi meskipun begitu dia tidak suka. Dia meminta Shiho-chan berhenti berhubungan dengan Shinichi-kun tapi Shiho-chan masih kelihatan ragu untuk mengabulkannya. Dia juga memutuskan bahwa mulai sekarang dia akan mengawasi penelitian Shiho-chan agar Shiho-chan tidak membuat penemuan-penemuan yang berbahaya lagi. Dia juga merasa kesal pada orang tua Shinichi-kun yang tidak memberitahunya dan tidak berkonsultasi padanya meskipun mereka tahu apa yang terjadi. Dia bilang dia akan menelepon mereka besok pagi," jawab Fusae.
"Profesor memang sudah menganggap Sherry sebagai putrinya sendiri jadi wajar kalau dia bersikap begitu," komentar Shuichi.
Fusae kemudian tertawa kecil.
"Aku benar-benar heran, bagaimana bisa seseorang menciptakan obat seperti itu? Ini benar-benar tidak masuk akal," ucap Fusae sehingga Shuichi ikut tertawa kecil.
"Yah, karena aku tahu Sherry pernah membuat obat yang bisa mengubah seseorang yang berusia 17 tahun menjadi berusia 7 tahun, aku tidak begitu heran," ucap Shuichi.
"Ah, kau benar juga, Shuichi-kun," ucap Fusae sambil tertawa.
"Dia hanya terlalu jenius," ucap Shuichi sambil tersenyum.
"Lalu kau sendiri bagaimana? Apa kau baik-baik saja setelah melihat Sherry kesayanganmu tidur dalam pelukan laki-laki lain?" tanya Fusae dengan nada menggoda.
Shuichi pun tersenyum kecil mendengar pertanyaan Fusae.
"Entahlah, Bibi. Tapi aku akan baik-baik saja," jawab Shuichi.
"Hmm, kau ini. Jangan begitu. Kau harus kelihatan marah pada Shiho-chan dan melarangnya bertemu Shinichi-kun. Kalau tidak, bisa-bisa Shiho-chan direbut oleh Shinichi-kun," ucap Fusae.
"Aku tidak keberatan," ucap Shuichi.
"Shuichi-kun, apa maksudmu? Apa kau sudah tidak menyukai Shiho-chan lagi?" tanya Fusae dengan bingung.
"Bukan begitu, Bibi. Itu karena selain aku, dia juga ksatria berkuda putih Sherry sehingga kami berdua punya hak untuk mendapatkan Sherry. Dia melindungi Sherry dengan sepenuh hati ketika aku masih terjebak dalam kebodohanku. Jadi walaupun Sherry memilihnya, aku tidak keberatan karena aku tahu dia akan menjaga Sherry dengan baik dan membuat Sherry bahagia," jawab Shuichi.
"Shuichi-kun, kau benar-benar laki-laki yang baik," ucap Fusae sambil tersenyum.
"Tidak, Bibi. Aku bukan laki-laki yang baik. Aku sudah bersikap kejam dan egois pada dua wanita yang kucintai sebelum Sherry dan membuat mereka menderita. Karena itu, kali ini aku akan bersikap baik pada wanita yang sekarang kucintai dan membuatnya bahagia," ucap Shuichi.
"Kalau begitu kau memang benar-benar laki-laki yang baik, Shuichi-kun. Kau mau belajar dari kesalahanmu di masa lalu dan berubah menjadi lebih baik. Itulah arti orang baik yang sesungguhnya," ucap Fusae.
"Terima kasih, Bibi," ucap Shuichi sambil tersenyum. "Apa Bibi akan menginap di sini?" tanyanya.
"Tidak. Aku akan kembali ke hotel. Aku sudah menyuruh Hiroshi-kun tidur dan aku bilang padanya bahwa kau akan mengantarku pulang," jawab Fusae sambil tersenyum penuh arti.
"Baiklah, aku akan mengantar Bibi kembali ke hotel," ucap Shuichi sambil tertawa kecil.
XXX
Shinichi yang sudah pulang kembali ke rumahnya, masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan patah hati. Yang membuatnya paling sedih adalah Shiho membiarkan Shuichi mengusirnya. Shinichi menghempaskan tubuhnya ke tempat tidurnya lalu mulai merenung.
"Apa Shiho juga menyukai Akai-san? Ah, itu tidak mungkin. Akai-san kan pacar kakaknya dan orang yang sudah menyebabkan kakaknya dibunuh. Tapi tadi mereka bermesraan dan Akai-san kelihatannya sangat pandai merayu dan menyenangkan wanita. Shiho bisa saja jatuh cinta pada casanova itu...," pikiran Shinichi terputus karena tiba-tiba dia marah pada dirinya sendiri. "Apa sih yang kupikirkan? Aku seharusnya marah pada Shiho karena dia sudah bermesraan dengan laki-laki lain di depanku. Memang aku hanya kekasih gelapnya tapi setidaknya dia harus menjaga perasaanku," ucapnya dalam hati.
"Huh! Mulai sekarang aku tidak akan peduli lagi padamu, Shiho! Nikmati saja kebersamaanmu dengan casanova sialan itu! Kau pasti akan tahu rasa nanti kalau dia meninggalkanmu untuk wanita lain! Dan saat itu aku akan menertawakanmu! Kau dengar itu!" seru Shinichi di kamarnya yang sepi.
Shinichi menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya dan memeluk bantal gulingnya dengan erat lalu mencoba untuk tidur. Dia memejamkan matanya selama beberapa lama lalu kemudian membukanya lagi dan bangkit untuk duduk. Entah kenapa tiba-tiba dia merasa sangat kesepian dan dingin sehingga dia tidak bisa tidur. Selain itu, saat dia menutup mata, dia jadi mengingat adegan mesra Shuichi dan Shiho di sofa ruang tamu Profesor Agasa tadi. Dia tidak berani dan tidak mau membayangkan apa yang akan mereka lakukan malam ini.
"Apa yang harus kulakukan kalau mereka melakukannya? Apa yang harus kulakukan?" gumam Shinichi sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya, merasa sangat frustasi. "Lalu bagaimana kalau Shiho hamil? Dia akan menikah dengan casanova bodoh itu. Kalau itu terjadi, bagaimana denganku? Aku mencintai Shiho dan aku ingin dia jadi milikku," ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian dia kembali menegakkan wajahnya, seolah tiba-tiba mendapat ide. "Tidak. Shiho pasti tidak akan hamil. Dia kan masih kuliah. Pokoknya setelah casanova menyebalkan itu kembali ke Amerika, aku harus menunjukkan pada Shiho kalau aku lebih baik darinya. Ya, itu yang harus kulakukan. Lebih baik sekarang aku mulai belajar," gumamnya. Lalu dia bangkit dari tempat tidur dan duduk di depan laptopnya.
XXX
"Hei Hattori-kun, apa kita tidak keterlaluan pada Shiho?" tanya Sera saat mereka berjalan masuk ke dalam lobi apartemen mereka.
"Tapi dia tidur dengan Kudo padahal dia tahu Kudo sudah punya pacar," jawab Heiji.
"Yah memang. Tapi dia bilang tidak terjadi apa-apa. Kakakku bahkan mempercayainya. Kau tahu kan kalau kakakku adalah orang yang paling mengenal Shiho?" ucap Sera.
"Entahlah. Aku pikir aku memang butuh waktu untuk menenangkan diri dan memikirkannya, seperti kata kakakmu. Mungkin setelah itu, aku baru bisa bicara lagi pada Miyano," ucap Heiji.
"Kau benar. Aku juga akan melakukannya. Mungkin saja kita bisa menemukan solusi untuk masalah ini. Dan aku juga tidak mau kehilangan Shiho," ucap Sera.
"Aku juga begitu," ucap Heiji dalam hati.
XXX
"Nii-san, kenapa kau pulang selarut ini? Apa dari tadi kau menghabiskan waktu bersamanya?" tanya Sera dengan nada agak kesal ketika dia melihat Shuichi yang baru pulang.
"Aku tadi mengantar Bibi Fusae dulu ke hotel makanya pulangnya agak larut," jawab Shuichi kemudian dia duduk di sebelah Sera di ruang tengah apartemen milik Sera itu.
"Aku tidak habis pikir kenapa kau tidak marah sama sekali setelah melihatnya tidur dengan Kudo-kun dan tetap menghabiskan waktu bersamanya. Apa kau tidak merasa kalau kau kelihatan murahan?" ucap Sera masih dengan nada kesal.
Shuichi pun tersenyum.
"Apa kau benar-benar marah pada Sherry?" tanya Shuichi.
"Tentu saja," jawab Sera cepat.
"Apa menurutmu kau memang harus marah padanya?" tanya Shuichi lagi.
"Tentu saja. Dia sudah melakukan hal yang salah. Kudo-kun adalah pacar Mouri-san. Dia seharusnya tidak melakukan itu," jawab Sera tajam.
"Begitu? Tapi bukankah sebenarnya itu bukan urusanmu jika dia tidur dengan Kudo? Kudo bukanlah pacarmu atau suamimu, jadi kenapa kau harus marah?" tanya Shuichi.
"Itu memang benar, tapi aku ingin dia jadi milikmu," jawab Sera.
"Kalau begitu kau harus belajar berteman dengan tulus. Sherry berteman denganmu karena dia ingin berteman denganmu dan menerimamu apa adanya, tapi kau berteman dengannya karena kau ingin dia jadi kakak iparmu. Bukankah itu sangat buruk?" ucap Shuichi.
Sera hanya bisa terdiam sehingga Shuichi berdiri dari sofa.
"Pikirkanlah pembicaraan kita ini baik-baik. Aku mau tidur dulu," ucap Shuichi sambil mengacak rambut Sera lalu melangkah ke kamarnya.
Sera merapikan rambutnya kembali sambil menggerutu kemudian menghela nafas. Sebenarnya tanpa pembicaraan dengan kakaknya barusan pun, besok dia pasti sudah menemui dan bicara lagi dengan Shiho. Dia adalah seorang detektif wanita jadi sulit baginya mendapatkan teman sesama wanita yang bisa memahami apa yang dihadapinya sehari-hari, sampai dia berkenalan dengan Shiho. Hanya pada Shiho dia bisa bicara mengenai apapun, dari masalah kasus hingga masalah kewanitaan. Shiho seperti kakak perempuan baginya, makanya dia ingin Shiho jadi kakak iparnya.
"Aku rasa Nii-san benar. Aku terlalu egois. Memang apa salahnya kalau Shiho tidur dengan Kudo-kun. Kudo-kun adalah laki-laki yang baik. Jika nanti Shiho benar-benar dengan Kudo-kun, Kudo-kun pasti akan membahagiakan Shiho," pikir Sera lalu dia menghela nafas lagi. "Tapi aku benar-benar ingin dia jadi kakak iparku. Haah, ini sungguh membingungkan," ucapnya dalam hati. Lalu dia pun juga beranjak ke kamarnya.
XXX
Heiji sedang berbaring di tempat tidurnya sambil merenung.
"Kenapa ya Miyano melakukan itu? Apa dia menyukai Kudo? Memang dari dulu dia sangat peduli dan perhatian pada Kudo. Tapi Kudo juga begitu padanya dan Kudo tidak mencintainya melainkan mencintai Nee-chan dari kantor detektif. Jadi aku tidak pernah berpikir...," pikiran Heiji terputus karena dia tiba-tiba mendapat ide. Dia langsung bangkit untuk duduk.
"Jangan-jangan Kudo... Mungkin itu sebabnya reaksinya begitu... Tapi kenapa dia tidak pernah menyadarinya... Oh iya, bagaimana dia bisa menyadarinya sementara aku yang selalu memperhatikannya saja tidak bisa. Mungkin karena aku dan dia terlalu terpaku pada fakta padahal cinta bukanlah soal fakta. Tapi apakah itu mungkin?" gumam Heiji pada dirinya sendiri.
Lalu Heiji jadi ingat cerita Ran tentang kejadian saat hari pengumuman kelulusan SMA. Saat itu, Shinichi ingin mengajak Shiho berpesta bersama teman-teman yang lain tapi dia tidak bisa menemukan Shiho dimanapun dan Shiho juga tidak bisa dihubungi. Shinichi menjadi panik ketika ada temannya bilang bahwa Shiho tadi ditarik dan dibawa pergi oleh laki-laki bertampang seram di gerbang sekolah. Shinichi berlari kesana-kemari untuk mencari Shiho karena Shiho meninggalkan badge Detektif Cilik di kamarnya sehingga Shinichi tidak bisa melacaknya melalui kacamata pencari jejak. Ran berkata bahwa baru kali itu dia melihat Shinichi begitu cemas, bahkan Ran curiga bahwa Shinichi sebenarnya hampir menangis tapi Shinichi menahannya dengan sekuat tenaga.
Ketika hari sudah malam, Shinichi yang sudah putus asa menelepon Profesor Agasa yang sedang ada di Kyoto untuk mengikuti konferensi ilmiah. Dan Shinichi begitu terkejut ketika Profesor Agasa hanya menanggapinya sambil tertawa kecil. Lalu Profesor Agasa memberitahunya bahwa Shuichi-lah orang yang mengajak Shiho pergi untuk merayakan kelulusan Shiho. Profesor Agasa tahu karena Shuichi sudah meneleponnya untuk memberi tahu bahwa dia akan mengajak Shiho keluar. Shinichi pun menjadi lega sekaligus marah. Ran berkata bahwa Shinichi langsung pamit padanya dengan wajah marah. Dan Heiji masih ingat Ran menceritakannya dengan nada sedih serta cemburu walaupun Ran tetap tersenyum.
Ketika Heiji bertanya pada Shinichi apa yang terjadi setelah itu, Shinichi hanya berkata bahwa dia menunggu Shiho pulang. Setelah Shuichi yang mengantar Shiho pulang, dia bergegas menemui Shiho dan menumpahkan kemarahannya pada Shiho. Tentu saja Heiji tidak tahu bahwa menumpahkan kemarahan itu termasuk mencoba membunuh Shiho dengan cara memeluk Shiho dengan sangat erat sampai Shiho tidak bisa bernafas.
"Kudo memang selalu terlihat tidak suka ketika melihat Masumi menjodoh-jodohkan Miyano dengan kakaknya. Tapi dia juga tidak pernah kelihatan cemburu walaupun Miyano pergi bersama Akai-san. Aah, aku jadi bingung," ucap Heiji sambil mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.
Tiba-tiba Heiji berhenti mengacak-acak rambutnya karena dia ingat sesuatu. Suatu kali dia pernah berkomentar tentang Shuichi dan Shiho pada Shinichi. Dia berkata pada Shinichi dengan sinis bahwa Shuichi dan Shiho benar-benar pasangan yang serasi karena keduanya sama-sama punya mata setan yang bisa membuat orang merinding ketakutan. Dia ingat Shinichi menanggapinya dengan tertawa kecil lalu berkata padanya bahwa mereka berdua tidak mungkin menjadi pasangan karena Shiho tidak mungkin menyukai Shuichi. Shinichi memang tidak mau mengatakan alasannya tapi Shinichi kelihatan begitu yakin.
"Mungkin itu sebabnya dia tidak pernah cemburu. Karena dia yakin Miyano tidak akan pernah menyukai Akai-san secara romantis. Bahkan aku sendiri pun bisa melihat bahwa ada sesuatu yang menahan Miyano dari menyukai Akai-san," pikir Heiji.
"Tapi kalau itu benar, apa yang harus kulakukan?" tanya Heiji dengan bingung.
Bersambung...
