Disclaimer :

Detektif Conan milik Gosho Aoyama

Catatan Penulis :

Waktunya balas komen!

kudo kun ran : Sepertinya memang begitu. Tapi meskipun begitu aku tetap tidak akan bisa menyukai pairing ShinRan. Lagipula kita memang tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Lalu ada situs luar biasa yang bernama fanfiction yang bisa menampung imajinasiku dan AiCon army yang lain jadi tidak masalah kalau ending-nya DC adalah ShinRan. XD

Jessica-san : Begitu ya? Yah, kalau gitu coba baca fic karangan author brengsek lagi biar bisa terhibur baca chapter ini. He he he.

SherryHazel : Jawaban pertama : mungkin, jawaban kedua : yang tahu hanya Gosho, tapi teori bahwa Okiya = Akai itu punya bukti-bukti yang lumayan kuat jadi kalau ternyata teori itu salah, rasanya pasti bakalan aneh, jawaban ketiga : casanova = playboy, tapi playboy biasanya dipakai anak ABG jadi karena Akai udah dewasa, dipakai istilah casanova. Update-nya udah lebih cepat kan? XD

Kongming-san : Hotel bintang sepuluh kayaknya. Dia kan pengusaha sukses. He he he. Conan aja sweatdrop pas Ai minta dibelikan dompet merek Fusae.

Atin : Nama fesbuk sama dengan penname-ku, cuma angkanya ditulis dengan huruf. Kalau nggak ketemu, aku sudah nulis alamatnya di profilku. Kalau masalah adegan ShinShi kayaknya harus sabar dulu, soalnya sebelum itu, Shiho harus menyelesaikan masalahnya dengan dua sahabat baiknya yang marah. XD

moist fla : Yah, moga-moga aja minggu depan aku bisa update lebih cepat. Mungkin bisa dua kali seminggu. Soalnya menjelang lebaran ini, aku sibuk banget. XD

Witthechavalery : Kalau menurut teori yang aku baca, mereka marganya beda karena kemungkinan Sera ikut program perlindungan saksi FBI karena Akai harus menyusup ke Organisasi Hitam. Buktinya adalah James sepertinya mengenal Sera di beberapa chapter setelah kemunculan Sera walaupun Sera sepertinya nggak kenal sama James. Jadi begitulah. XD

Aiwha-san : Ya, memang nggak ada Shiho-nya. Tapi di chapter ini ada kok. XD

shiho Nakahara : Maklum, soalnya banyak yang care sama Shiho jadi ya banyak juga yang ikut campur. He he he.

grey chocolate : Coklat abu, nama yang unik. XD. Yah, jangan deh, ntar aku malah pusing sendiri kalau harus masukin Kaito juga. He he he.

Waktunya curcol!

Pertama-tama tentu saja penulis mau mengucapkan taqobbalallohu minna wa minkum, selamat Idul Fitri bagi para pembaca yang merayakan. Penulis mohon maaf kalau ada salah atau pernah membuat para pembaca kecewa. Semoga Ramadhan kita tahun ini sukses besar. Amin.

Chapter ini dan mungkin juga chapter depan masih berkutat pada penyelesaian masalah Shiho dengan Sera dan Heiji. Nanti setelah Shuichi pulang ke Amerika, baru Shinichi akan berkumpul kembali dengan Shiho, hopefully. Lalu sepertinya penulis tidak akan bisa menjaga fic ini under 10 chapter karena saat ini cerita ini sudah mencapai 7 chapter sementara konflik utamanya yaitu ketika penawarnya sudah jadi masih agak jauh. Jadi penulis mohon maaf kalau nanti ceritanya jadi panjang.

Terakhir, selamat membaca dan berkomentar!


Jangan Bilang Tidak

By Enji86

Chapter 7 – Dukungan Sera

"Kudo, ada apa denganmu?" tanya Heiji keesokan paginya ketika dia membukakan pintu untuk tamunya yang ternyata adalah Shinichi. Sebenarnya dia ingin marah pada Shinichi, tapi begitu melihat penampilan Shinichi yang kacau, dia jadi tidak tega.

"Aku baik-baik saja. Hanya kurang tidur," jawab Shinichi.

"Ooh," komentar Heiji kemudian suasana menjadi hening sampai Shinichi memecahnya.

"Boleh aku masuk?" tanya Shinichi.

"Oh, tentu saja," jawab Heiji kemudian dia berbalik masuk ke dalam apartemennya diikuti oleh Shinichi setelah Shinichi menutup pintu di belakangnya.

"Lalu kenapa kau kurang tidur? Apa kau sedang menangani kasus yang sulit?" tanya Heiji ketika dia dan Shinichi sudah duduk di ruang tengah apartemennya.

Shinichi menguap sebelum menjawab.

"Tidak. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu," jawab Shinichi.

"Memikirkan apa?" tanya Heiji lagi.

"Itu...," ucap Shinichi kemudian dia terdiam. "Shiho," lanjutnya setelah terdiam sejenak.

Heiji merasa kemarahannya muncul kembali sehingga dia berbicara dengan sinis.

"Memangnya apalagi yang harus kau pikirkan? Bukankah kau sudah berhasil tidur dengannya? Atau sekarang kau merasa menyesal setelah menidurinya?" tanya Heiji dengan sinis.

"Huh? Apa maksudmu? Aku memang tidur dengan Shiho tapi aku tidak pernah meniduri Shiho," jawab Shinichi yang tidak menyadari nada sinis dari perkataan Heiji.

"Benarkah?" sahut Heiji dengan nada yang menyatakan bahwa dia tidak percaya sama sekali namun Shinichi lagi-lagi tidak menyadarinya dan berkata dengan nada pahit.

"Kami bahkan belum pernah berciuman. Kau tahu, pada awalnya kupikir Shiho memang tidak tahu kalau aku akan menciumnya, makanya aku selalu gagal. Tapi akhir-akhir ini aku mulai curiga kalau Shiho memang sengaja menghindar ketika aku mau menciumnya," ucap Shinichi.

"Eh?" ucap Heiji.

"Apa dia bilang? Dia tidak pernah berciuman karena Miyano selalu menghindar? Apa itu benar?" batin Heiji ragu-ragu.

"Aku sudah melakukan semuanya tapi dia tetap bersikap dingin padaku," ucap Shinichi dengan suara yang semakin meninggi.

"Kudo...," ucapan Heiji langsung dipotong oleh Shinichi yang mulai histeris.

"Dan kemarin. Kau tahu apa yang terjadi kemarin? Aku melihatnya bermesraan dengan casanova sialan itu. Dan... dan dia membiarkanku diusir oleh casanova bodoh itu," ucap Shinichi.

"Casanova sialan? Mungkin Akai-san," pikir Heiji.

Tiba-tiba Shinichi memegang bahu Heiji dan mengguncang-guncangnya sambil bicara sehingga Heiji menjadi kaget.

"Kenapa dia melakukan itu padaku, Hattori? Kenapa dia begitu tega padaku? Apa dia tidak tahu kalau dia sudah menyakiti hatiku?" seru Shinichi.

"Kudo, tenangkan dirimu," ucap Heiji sambil memegang tangan Shinichi agar Shinichi berhenti mengguncang-guncangnya.

Shinichi akhirnya berhenti mengguncang-guncang Heiji dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Kemudian dia mendengar suara isakan dari Shinichi sehingga dia langsung merasa tidak nyaman.

"Aku tidak percaya ini! Dia benar-benar bukan Kudo yang biasanya. Kudo yang terisak-isak? Yang benar saja! Bagaimana aku harus menghadapinya?" pikir Heiji dengan putus asa. Lalu dia pun memutuskan untuk melarikan diri.

"Err... Kudo, apa kau sudah sarapan?" tanya Heiji.

Shinichi menjawabnya dengan gelengan kepala namun dia masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

"Kalau begitu, tunggulah di sini. Aku akan menyiapkan sarapan untukmu," ucap Heiji lalu dia bergegas ke dapur. Dia memang tidak begitu pandai menghadapi orang yang menangis, apalagi jika orang itu adalah Shinichi yang sedang menjadi abnormal karena obat.

Heiji menghela nafas lega sesampainya di dapur kemudian dia membuka kulkas dan mengambil dua butir telur dan satu pak sosis untuk digoreng. Saat awal-awal masuk kuliah dulu, dia selalu malas sarapan karena dia tidak begitu suka memasak dan malas kalau harus turun ke kantin apartemen untuk membeli makanan. Bahkan kadang-kadang dia seharian hanya makan mi instan saking malasnya. Setelah beberapa lama mengenal Shiho, Shiho menyadari kebiasaannya ini dan mengomelinya karena gaya hidupnya yang tidak sehat itu.

Heiji ingat dia membalas omelan Shiho dengan berkata bahwa kalau memang Shiho tidak mau melihatnya seperti itu, Shiho harus memasak dan membawakan makanan ke apartemennya setiap hari. Dan karena Shiho adalah Shiho, maka Shiho dengan dingin langsung menolaknya dan mengatakan bahwa lebih baik dia melihatnya mati karena gaya hidupnya yang buruk itu daripada melakukan hal bodoh seperti itu. Lalu Shiho memaksanya belanja bersamanya lalu mengajarinya menggoreng telur mata sapi, sosis dan membuat salad untuk sarapan. Shiho juga memaksanya membeli toaster.

Pada awalnya Heiji enggan melakukannya, namun setelah dia menyadari bahwa itu tidak begitu sulit dan tidak membutuhkan waktu lama, dia jadi mulai membiasakan diri. Ibunya bahkan sampai terkagum-kagum ketika melihat telur gorengnya yang berbentuk sempurna dan sangat enak sementara ayahnya hanya menaikkan alisnya, saat dia pulang ke Osaka dan membuat sarapan sendiri karena kebiasaan. Yah, kalau seseorang setiap hari menggoreng telur, tentu saja bentuknya semakin lama semakin bagus dan sempurna. Dan setelah dia kenal dekat dengan Sera, dia jadi tidak malas lagi turun ke kantin apartemen untuk makan malam karena dia mendapat teman untuk pergi ke sana bersamanya.

Heiji menghela nafas lagi ketika dia memanasi minyak goreng di wajan. Dia ingin sekali belajar membuat omelet dan kari pada Shiho karena dia iri pada Shuichi yang bisa membuat kedua makanan itu dengan rasa yang lezat. Namun belum sempat dia mengatakannya, timbul masalah Shinichi dan obat LOVE4869 sehingga dia harus menunda niatnya itu. Sebenarnya dia bisa saja minta diajari Ran, apalagi masakan Ran memang lebih enak daripada Shiho karena Ran sudah memasak sendiri sejak SMP sedangkan Shiho baru belajar memasak masakan Jepang sejak dia jadi Ai Haibara karena sebelumnya Shiho tidak punya waktu karena sibuk bekerja mengembangkan obat APTX4869 untuk Organisasi Hitam. Namun karena dia sungkan pada Ran yang kelihatannya selalu sabar dan selalu tersenyum, dia memilih untuk menunggu Shiho. Setidaknya Shiho tidak membuatnya sungkan untuk membanting sesuatu kalau dia lagi frustasi karena masakannya gagal dan karena dimarahi Shiho karena masakannya yang gagal itu. Walaupun Shiho selalu dengan teganya memaksanya memakan masakan gagalnya itu, dia lebih memilih belajar bersama Shiho.

"Haah, dia benar-benar wanita yang tega. Tapi meskipun begitu aku tidak bisa menjauhinya ," batin Heiji sambil tersenyum kecil. "Oh iya, kalau masalah Kudo sudah selesai, aku juga akan mengajak Masumi untuk belajar membuat omelet dan kari pada Miyano. Dia kan lebih parah dari aku kalau untuk urusan memasak. Dia pasti bakal cemberut terus karena dimarahi Miyano dan ekspresi wajahnya sangat lucu ketika Miyano memaksanya makan masakannya yang gagal itu. Oh, ini akan menyenangkan," ucapnya dalam hati sambil tertawa licik. "Tapi sebelum itu, aku harus minta maaf dulu pada Miyano seperti biasanya," pikirnya. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya mereka marahan seperti ini. Bahkan bisa dibilang sering karena kepribadian mereka yang agak aneh. Meskipun begitu marahan mereka biasanya tidak pernah bertahan lama.

Setelah sarapannya jadi, Heiji kembali ke ruang tengah sambil membawa sarapan yang sudah dibuatnya dan melihat bahwa Shinichi sudah tertidur. Dia menghampiri Shinichi dan menaruh sarapan yang dibuatnya untuk Shinichi di meja yang ada di situ kemudian memandang wajah Shinichi yang tertidur dengan simpati.

"Aku harus menemui Miyano nanti. Sekarang aku harus berangkat ke kampus," pikir Heiji. Kemudian dia bangkit dan melangkah ke kamarnya untuk mengambil selimut dan tas kuliahnya. Dia menyelimuti Shinichi kemudian dia keluar dari apartemennya untuk berangkat ke kampus.

XXX

"Shiho," panggil Sera saat dia melihat Shiho keluar dari kelasnya. Dia memang sudah biasa nongkrong di fakultas kedokteran bersama Shiho walaupun dia anak psikologi, jadi dia tidak pernah sungkan main ke sana.

"Sera? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Shiho sambil menghampiri Sera. Dia agak terkejut melihat Sera karena seingatnya Sera marah padanya kemarin malam. "Err, apa kau sudah tidak marah lagi padaku?" tanyanya lagi sesampainya di depan Sera.

"Dasar bodoh! Mana mungkin aku bisa marah padamu lebih dari semalam," jawab Sera sehingga Shiho tersenyum kepadanya. "Lagipula kau memang suka membuat orang marah jadi orang-orang sudah terbiasa, termasuk aku," lanjutnya sehingga senyuman Shiho berubah menjadi cengiran.

"Kau benar," komentar Shiho sehingga Sera pun tertawa. Kemudian mereka berdua berjalan menuju kantin untuk mencari snack dan mengobrol.

"Aku tidak tahu kenapa aku bisa berteman dengan wanita aneh sepertimu," ucap Sera saat mereka sudah duduk dengan snack mereka masing-masing. Shiho membeli es buah untuk mendinginkan kepalanya setelah ujian sementara Sera hanya membeli makanan ringan.

"Dan aku juga tidak tahu kenapa aku bisa berteman dengan wanita berdada rata sepertimu," balas Shiho sambil nyengir sehingga Sera langsung cemberut kepadanya.

"Hei, kita baru baikan dan kau sudah menyinggung-nyinggung masalah yang sensitif itu," ucap Sera kesal.

"Maaf, aku hanya bercanda. Tapi sejak tiga tahun lalu, kau selalu bilang bahwa dadamu akan tumbuh seperti ibumu yang berdada besar dan ternyata sampai sekarang tidak tumbuh-tumbuh juga," ucap Shiho sambil tertawa kecil.

"Yah, mungkin masih butuh beberapa lama lagi," ucap Sera dengan wajah sedikit memerah.

"Yaa, semoga saja. Kau tahu kan, Hattori-kun suka dengan wanita yang berdada besar dan kebetulan sainganmu punya dada yang besar," ucap Shiho sambil nyengir sehingga Sera tambah cemberut.

"Shiho, ini tidak adil! Aku kan hanya mengataimu aneh tapi kau menggodaku habis-habisan," seru Sera sambil merajuk.

"Tapi tadi kau juga mengataiku bodoh dan suka membuat orang marah," ucap Shiho.

"Terserah. Tapi ini tidak adil," ucap Sera masih sambil cemberut kemudian tiba-tiba dia menyipitkan matanya pada Shiho. "Hari ini kau kelihatan lebih segar daripada kemarin-kemarin dan mood-mu juga sepertinya sedang bagus. Apa Kudo-kun sehebat itu di tempat tidur?" tanyanya sehingga kali ini ganti Shiho yang jadi kesal.

"Sudah kubilang aku tidak melakukan apapun dengan Kudo-kun. Apa kau tidak bisa percaya padaku?" jawab Shiho.

"Tapi aku melihatmu tidur di pelukannya, jadi sulit rasanya untuk percaya kalau kalian tidak berbuat apa-apa," ucap Sera.

"Tapi aku dan Kudo-kun benar-benar tidak berbuat apa-apa," ucap Shiho.

"Kalau begitu kenapa kau kelihatan lebih segar dan mood-mu tiba-tiba jadi bagus hari ini?" tanya Sera dengan nada menuduh.

"Entahlah. Mungkin karena aku tidur nyenyak semalam setelah kakakmu bilang pada Kudo-kun agar tidak menggangguku selama dia ada di sini dan Kudo-kun sepertinya mematuhinya," jawab Shiho sehingga Sera langsung berniat akan menggoda kakaknya ketika dia bertemu dengan kakaknya di rumah nanti.

"Ternyata dia bisa cemburu juga," pikir Sera sambil tertawa dalam hati.

"Ketika aku membayangkan bahwa aku tidak perlu mendengarkan kata-kata cinta dari Kudo-kun selama beberapa hari, aku langsung merasa ringan," lanjut Shiho sambil tersenyum.

Mendengar hal ini, Sera langsung menatap Shiho dengan agak terkejut. Dia tidak pernah menyangka bahwa masalah ini ternyata sangat membebani Shiho. Pantas saja wajah Shiho kelihatan kusut belakangan ini. Dia selalu mengira Shiho lelah karena mengerjakan penawarnya. Dia jadi merasa bersalah karena dia marah pada Shiho kemarin malam dan dia juga tidak suka kalau Shiho harus merasa susah selama menyelesaikan penawar obat LOVE4869.

"Hei Shiho, kenapa kau tidak suka mendengarkan kata-kata cinta dari Kudo-kun? Bukankah lebih baik kau nikmati saja?" tanya Sera.

"Aku tidak bisa. Aku tidak mau mengambil dan menikmati apa yang bukan milikku," jawab Shiho.

"Tapi sekarang Kudo-kun adalah milikmu, yah, sampai penawarnya selesai," ucap Sera sambil mengangkat bahu.

"Huh? Bagaimana bisa?" tanya Shiho.

"Bukankah kau sudah menerimanya sebagai kekasih walaupun kekasih gelap. Jadi dia juga milikmu. Karena itu tidak ada alasan bagimu untuk tidak menikmatinya," jawab Sera.

"Tapi dia jadi kekasih gelapku karena salahku jadi tetap saja...," ucapan Shiho dipotong oleh Sera.

"Siapa bilang? Bukankah Kudo-kun yang seenaknya meminum penemuanmu itu? Jadi dia pun juga bersalah, sama sepertimu. Kau juga tidak perlu khawatir pada Mouri-san karena selama dia tidak tahu apa-apa, dia akan baik-baik saja. Lagipula setelah penawarnya selesai, Kudo-kun akan kembali seperti semula, jadi semuanya akan baik-baik saja. Bahkan kalau akhirnya kau dan Kudo-kun benar-benar menjadi sepasang kekasih, itu juga tidak apa-apa," ucap Sera.

"Sera...," ucap Shiho sambil menatap Sera dengan terpana.

"Jangan melihatku seperti itu. Aku memang ingin kau jadi kakak iparku. Tapi aku lebih tidak ingin melihatmu susah. Karena itu, bersenang-senanglah dengan Kudo-kun dan buat dirimu nyaman dengannya sampai penawarnya selesai. Itu adalah saranku sebagai sahabatmu," ucap Sera.

"Baiklah, aku akan memikirkannya. Terima kasih, Sera," ucap Shiho sambil tersenyum.

"Tidak usah dipikirkan," ucap Sera sambil tersenyum juga.

Setelah menghabiskan snack mereka masing-masing, mereka pun berpisah karena Sera harus kembali ke kampusnya sementara Shiho sudah ada janji dengan Shuichi.

Bersambung...