Disclaimer :

Detektif Conan milik Gosho Aoyama

Catatan Penulis :

Waktunya balas komen!

Kongming-san : Siapa lagi? XD. Udah, jangan diramal aja, direalisasikan dong. He he he.

moist fla : Memang harus begitu. Kalau nggak, ntar Shinichi dikira nggak minum obat. He he he.

Jessica-san : Kalau soal pairing, aku biasanya konsisten kok, jadi tenang aja. He he he. Kalau begitu di-PM aja author-nya biar cepat update. XD

Witthechavalery : Ya, karena Sera sampai sekarang belum balik marga di manga-nya, di fic ini dia juga belum balik marga soalnya aku nggak tahu nama aslinya Sera, yang tahu cuma Gosho. He he he. Kalau Shuichi, kayaknya chapter depan dia udah pulang. XD

Atin : Silahkan, kuterima dengan senang hati. Kalau soal dada rata Sera, itu memang dari manga-nya. Sejak pertama muncul, orang-orang selalu ngira Sera itu cowok karena dadanya rata (bahkan Genta juga ikut-ikutan mengejeknya XD) dan Sera selalu bilang kalau dadanya bakal tumbuh kayak ibunya yang berdada besar. Wah, aku jadi ngasih spoiler nih. He he he.

poyo-chan : Ah, masa' iya? He he he. Tapi kalau masalah dada rata itu Gosho yang nulis lho. XD

grey chocolate : Aku biasanya konsisten kok kalau soal pairing. ShinShi-nya kayaknya baru muncul chapter depan. Chapter ini masih tentang approvement dari sahabat-sahabatnya Shiho. XD

ohjack : Yah, selamat berjuang dengan HP barunya dan semoga bisa komen terus. XD

Aiwha-san : Shiho memang nge-date sama Shuichi tapi nggak kuceritain di sini soalnya ada hal lain yang harus kuceritain yaitu saat Shiho pulang dari date-nya bersama Shuichi dan melihat Heiji duduk di depan pintu rumahnya. Kalau ShinShi-nya mungkin chapter depan. XD

Nachie-chan : ShinShi dong. Kan tokoh utamanya Shinichi dan Shiho. XD

SherryHazel : Wah, masalahmu sama dengan kudo kun ran. Kamu dikasih tahu nggak, error-nya kenapa? Atau kalau nggak bisa-bisa, coba daftar lagi dengan e-mail yang sama.

cheeky n' hyuu-su : Iya, sudah lama. Apa kabar? Kemana aja nih? Kalau Sera dan Heiji, mungkin aku nggak akan terlalu banyak meng-eksplor perkembangan hubungan mereka dan lebih fokus ke Shinichi dan Shiho. Jadi jangan kaget kalau di epilog nanti tiba-tiba terjadi sesuatu (itu juga kalau ada epilog, he he he). Kalau masalah Shinichi, itu masih misteri. XD

Misyel : Terima kasih banyak atas pujiannya dan salam kenal. Semoga kita bisa berteman baik. XD

Waktunya curcol!

Bisa dibilang chapter ini seluruhnya berisi tentang Heiji dan Shiho. Dengan begitu, mulai chapter depan, penulis bisa fokus pada hubungan Shinichi dan Shiho setelah hubungan mereka di-approve sama sahabat-sahabat mereka.

Oh ya, ngomong-ngomong, dada rata Sera dan ucapan Sera bahwa dadanya akan tumbuh seperti ibunya yang berdada besar itu murni ditulis oleh Gosho, bukan penulis yang mengarangnya. Dan Gosho sampai membahas masalah ini selama beberapa chapter! XD. Maaf sebelumnya kalau penulis memberi spoiler pada pembaca yang belum membaca DC sampai kemunculan Sera.

Selamat membaca dan berkomentar!


Jangan Bilang Tidak

By Enji86

Chapter 8 – Dukungan Heiji

"Hattori-kun? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Shiho ketika dia masuk ke dalam pagar rumah Profesor Agasa dan melihat Heiji duduk di tangga yang menuju pintu depan. Saat itu hari sudah mulai gelap. Heiji segera berdiri sementara Shiho melangkah menghampirinya.

"Aku hanya mampir," jawab Heiji.

"Apa itu artinya kau sudah tidak marah lagi padaku?" tanya Shiho.

"Aku pikir begitu," jawab Heiji sehingga Shiho tersenyum kepadanya.

"Terima kasih. Aku sudah pusing dengan masalah Kudo-kun, jadi kalau aku harus mendapat masalah lagi denganmu atau Sera, mungkin aku akan bunuh diri dalam waktu dekat," ucap Shiho setengah bercanda.

Heiji tidak tahu kenapa dia melakukannya, tapi begitu dia mendengar kata bunuh diri keluar dari mulut Shiho, dia langsung memeluk Shiho. Dia pernah mendengar dari Shinichi kalau Shiho dulu pernah beberapa kali mencoba bunuh diri saat Organisasi Hitam masih eksis.

"Maafkan aku. Tolong jangan bilang tentang bunuh diri. Itu perbuatan bodoh," ucap Heiji sambil bertanya-tanya dalam hati kenapa tubuh Shiho terasa begitu lembut dan hangat dan kenapa memeluk Shiho terasa begitu menyenangkan.

"Hei, aku kan hanya bercanda. Aku tahu itu perbuatan bodoh," ucap Shiho sambil tertawa kecil. Dia lalu melepaskan diri dari pelukan Heiji. "Ayo masuk. Aku akan membuat teh," ucap Shiho kemudian dia membuka pintu rumah Profesor Agasa dan masuk ke dalam diikuti Heiji.

Shiho meletakkan tasnya di sofa ruang tamu lalu pergi ke dapur sementara Heiji mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu.

"Oh ya, Profesor Agasa mana?" tanya Heiji saat Shiho kembali ke ruang tamu dengan teh dan kue.

"Profesor pergi bersama Bibi Fusae untuk belanja kebutuhan pernikahan. Kau tahu kan, dua bulan lagi mereka berdua akan menikah. Lalu bulan depan, Profesor dan Bibi Fusae akan pergi ke Amerika untuk mempersiapkan pesta pernikahan di sana," jawab Shiho.

"Apa kau akan ikut mereka?" tanya Heiji.

"Tidak. Aku baru akan berangkat ke Amerika bersama Profesor Agasa dan Bibi Fusae setelah pesta pernikahan mereka di Jepang selesai. Saat ini, banyak hal yang harus kulakukan di sini, terutama menyelesaikan penawar untuk Kudo-kun. Sebenarnya aku merasa tidak enak karena tidak bisa membantu banyak untuk mempersiapkan pernikahan mereka tapi aku pikir membiarkan mereka berduaan juga hal yang bagus jadi ya sudahlah," jawab Shiho.

"Oh, begitu," komentar Heiji.

"Oh ya, apa kau sudah mengurus paspor?" tanya Shiho.

"Huh? Paspor? Untuk apa?" Heiji balik bertanya dengan bingung.

"Lho, kau tidak ikut ke Amerika? Kudo-kun dan Sera kan ikut? Atau kau lebih suka tinggal di Jepang sementara aku, Sera dan Kudo-kun bersenang-senang di Amerika?" Shiho juga balik bertanya.

"Tentu saja aku tidak suka kalau hanya aku yang tertinggal," jawab Heiji. "Tapi apa aku juga diundang?" tanya Heiji dengan ragu.

"Tentu saja. Aku sudah bilang pada Bibi Fusae. Bahkan tiket pesawatmu pun sudah disiapkan. Kau hanya perlu mengurus paspormu," jawab Shiho.

"Benarkah? Kalau begitu aku akan segera mengurusnya," ucap Heiji dengan wajah berseri-seri. Dia senang sekali karena dia bisa pergi keluar negeri dengan gratis.

"Kau nanti bisa berangkat bersama Kudo-kun dan Ran-san sementara Sera akan berangkat bersamaku," ucap Shiho.

"Baiklah. Oh ya, ngomong-ngomong, kenapa hari ini kau kelihatan lebih ceria dan lebih fresh daripada biasanya? Apa ada hal bagus yang terjadi?" tanya Heiji sehingga Shiho tertawa.

"Hattori-kun, kau dan Sera benar-benar kompak ya? Tadi pagi Sera juga baikan denganku dan menanyakan pertanyaan yang hampir sama denganmu. Aku jadi bertanya-tanya kapan kalian akan jadian," ucap Shiho untuk menggoda Heiji.

"Apa yang kau bicarakan? Masumi memang teman yang menyenangkan tapi jadian dengannya tidak pernah terlintas di benakku," ucap Heiji.

"Benarkah? Kalau begitu kau harus mulai memikirkannya. Kau tadi bilang sendiri kan kalau Sera teman yang menyenangkan. Bukankah akan menyenangkan kalau kau punya teman yang menyenangkan yang akan menemanimu sepanjang hidupmu?" ucap Shiho.

"Mungkin kau benar," ucap Heiji sambil mengangkat bahu.

"Atau kau sudah punya seseorang di hatimu?" tanya Shiho menyelidik.

"Tidak ada," jawab Heiji.

"Benarkah? Hmm, kau sudah hampir 21 tahun tapi kau tidak menyukai seorang wanita pun. Laki-laki yang sudah berusia hampir 21 tahun tapi tidak tertarik pada wanita. Itu membuatku berpikir...," ucap Shiho menggantung sehingga wajah Heiji berubah menjadi kesal.

"Hei! Hei! Kita baru baikan dan kau sudah mencoba membuatku marah?" ucap Heiji dengan kesal sehingga Shiho kembali tertawa.

"Hattori-kun, kau tahu, kau benar-benar kompak dengan Sera," ucap Shiho sambil tertawa. "Baiklah, begini saja, cobalah tes sederhana ini, tutuplah matamu dan letakkan tanganmu di dadamu lalu bayangkanlah wanita-wanita yang ada di sekitarmu satu persatu. Ketika kau merasakan detak jantungmu lebih cepat dari biasanya ketika membayangkan seseorang, maka dia adalah orang yang kau sukai. Tapi kalau tidak ada yang membuat jantungmu bereaksi, mungkin kau memang benar-benar tidak normal," ucapnya sambil nyengir setelah tawanya reda.

"Aku laki-laki normal dan aku tidak akan mencoba tes aho itu," ucap Heiji yang masih kesal.

"Haah, ya sudahlah. Terserah kau saja," ucap Shiho sambil mengangkat bahu.

"Jadi kenapa mood-mu tiba-tiba menjadi bagus? Kalau kau menggodaku seperti tadi, berarti mood-mu sedang bagus kan?" tanya Heiji.

"Sebenarnya tidak ada yang spesial. Aku hanya merasa bebanku sedikit berkurang karena aku tidak perlu bertemu Kudo-kun selama beberapa hari," jawab Shiho.

"Tapi Kudo kelihatannya tidak senang," gumam Heiji.

"Apa maksudmu?" tanya Shiho.

"Tadi pagi dia datang ke apartemenku dan penampilannya sangat kacau. Kelihatannya dia tidak tidur semalam. Dia menceritakan semuanya kepadaku, termasuk kejadian tadi malam dengan Akai-san. Dia bahkan cerita bahwa kalian berdua tidak pernah berciuman dan dia curiga kalau kau sengaja menghindar ketika dia mau menciummu," ucap Heiji kemudian dia menatap mata Shiho.

"Benarkah?" komentar Shiho. Dia berusaha terdengar biasa saja tapi nada khawatir tetap muncul dalam suaranya.

"Lalu dia menangis sehingga membuatku panik. Kau tahu kan, apapun yang terjadi, dia tidak akan pernah menangis di depan orang lain. Setelah itu, dia tertidur di apartemenku. Aku tidak tahu apa sekarang dia sudah pulang ke rumahnya atau belum," lanjut Heiji.

"Kau tidak membohongiku kan, Hattori-kun?" tanya Shiho dengan curiga.

"Tentu saja tidak. Untuk apa aku membohongimu," jawab Heiji agak kesal.

"Yah, aku harap dia baik-baik saja," ucap Shiho sambil menundukkan kepalanya.

Heiji pun bangkit dari tempat duduknya kemudian duduk di samping Shiho. Dia memegang kedua bahu Shiho sehingga Shiho menatap wajahnya.

"Kau peduli padanya kan?" tanya Heiji.

"Tentu saja, dia kan sahabatku," jawab Shiho mencoba bersikap biasa. Dia mencoba mengalihkan pandangannya dari Heiji tapi Heiji menahan bahunya.

"Kalau begitu bersikap baiklah padanya, setidaknya sampai penawarnya selesai," ucap Heiji.

"Hattori-kun...," ucap Shiho sambil menatap Heiji dengan terpana. Heiji benar-benar membuatnya terkejut dan bingung. Apa Heiji sedang menyuruhnya untuk benar-benar menjadi kekasih Shinichi, sama seperti Sera tadi pagi?

"Aku tahu ini salah dan ini sama artinya dengan mengkhianati nee-chan dari kantor detektif. Tapi melihat Kudo seperti itu, aku pun tidak tahan. Dan aku yakin kau pun tidak akan tahan karena dari dulu aku tahu kau sangat perhatian pada Kudo. Kau bahkan bersedia berkorban nyawa untuknya sama seperti Kudo yang bersedia berkorban nyawa untukmu. Karena itu, sampai penawarnya selesai, aku harap kau bisa bersikap baik padanya," ucap Heiji.

Shiho terdiam sejenak kemudian dia menatap wajah Heiji sambil tersenyum lembut.

"Aku akan memikirkannya. Terima kasih, Hattori-kun," ucap Shiho.

"Baiklah. Aku harap kau bisa memutuskan dengan bijak," ucap Heiji sambil tersenyum juga lalu dia melepaskan pegangannya di bahu Shiho dan menepuk-nepuk bahu Shiho dengan lembut.

"Oh ya, apa kau mau makan malam di sini?" tanya Shiho.

Heiji terdiam sejenak untuk berpikir.

"Baiklah, tapi ada syaratnya," jawab Heiji.

"Huh? Aku menawarimu makan malam dan kau bukannya berterima kasih, malah memberiku syarat?" ucap Shiho sambil menaikkan alisnya.

"Ya begitulah. Lagipula kalau aku tidak menemanimu makan malam, kau akan makan malam sendirian. Bukankah itu terasa sangat sepi?" ucap Heiji sambil nyengir.

"Memang apa syaratnya?" tanya Shiho dengan wajah tidak tertarik.

"Mulai sekarang aku ingin memanggilmu Shiho," jawab Heiji.

Shiho langsung memandang Heiji dengan wajah tertarik dan penasaran.

"Kenapa tiba-tiba kau ingin memanggilku dengan nama depanku?" tanya Shiho.

Entah kenapa Heiji tiba-tiba merasa gugup.

"Err, yah, itu karena Kudo dan Masumi memanggilmu dengan nama depanmu, jadi kadang-kadang aku merasa aneh karena memanggilmu dengan nama belakangmu," ucap Heiji sambil menatap Shiho yang kembali menaikkan alisnya padanya, pertanda bahwa Shiho tahu bahwa dia masih punya alasan yang lain. "Lagipula kau sudah seperti kakak perempuanku sendiri," gumamnya melanjutkan dengan wajah memerah.

Tawa Shiho langsung meledak sementara wajah Heiji berubah menjadi kesal. Dia mengutuk dirinya sendiri karena mulutnya bicara sendiri cuma gara-gara Shiho menaikkan alisnya padanya. Dia tahu Shiho akan menggodanya habis-habisan setelah ini jika ada kesempatan.

"Aku pulang saja," ucap Heiji dengan kesal sambil bangkit dari sofa.

Shiho pun segera mengendalikan dirinya dan bangkit dari sofa sambil meraih lengan Heiji yang sudah mulai melangkah pergi.

"Kemana kau pikir kau akan pergi? Adik laki-laki yang baik itu tidak akan membiarkan kakak perempuannya makan malam sendirian," ucap Shiho sambil nyengir.

Heiji pun mengerang putus asa. Dia tahu dia tidak akan bisa melarikan diri dari Shiho jika Shiho ingin menggodanya habis-habisan. Dia pun membiarkan dirinya ditarik Shiho ke dapur.

"Lebih baik dia menggodaku sekarang daripada nanti. Lagipula kami hanya berdua saja di sini," pikir Heiji.

Setelah Heiji pulang, Shiho langsung menelepon Sera.

"Aku punya kabar bagus untukmu," ucap Shiho.

"Apa?" tanya Sera.

"Tadi Hattori-kun bilang padaku kalau mulai sekarang dia ingin memanggilku dengan nama depanku," jawab Shiho.

Sera langsung merasa cemburu.

"Benarkah? Tapi kenapa kau bilang itu kabar bagus untukku?" tanya Sera mencoba berbicara wajar tapi ternyata menyembunyikan kecemburuan itu sangat sulit.

Shiho langsung tertawa kecil.

"Jangan cemburu dulu. Dia bilang dia ingin memanggilku Shiho karena kau dan Kudo-kun memanggilku Shiho sehingga dia merasa tidak enak kalau terus memanggilku Miyano," jawab Shiho.

"Ooh begitu," ucap Sera namun nada cemburu masih tampak dalam nada bicaranya.

"Lalu dia juga bilang bahwa aku sudah seperti kakak perempuannya sendiri," ucap Shiho.

"Apa?" seru Sera. Kemudian dia tertawa sementara hatinya merasa lega. "Dia pasti ada di neraka tadi selama bersamamu setelah dia mengatakan itu," ucap Sera masih sambil tertawa.

"Eh, kata siapa? Mana mungkin dia ada di neraka sementara dia bersama dengan kakak perempuannya yang tersayang," ucap Shiho sambil nyengir.

"Oh, Shiho, kau jahat sekali," ucap Sera sambil tertawa geli.

"Kembali ke topik kita semula yaitu tentang kabar baik untukmu. Kau harus meminta Hattori-kun memanggilmu dengan nama depanmu begitu kau mendengarnya memanggilku Shiho. Dengan begitu kalian akan saling memanggil dengan nama depan dan dengan begitu kalian akan lebih dekat," ucap Shiho.

"Lalu kalau dia tanya kenapa, aku harus jawab apa?" tanya Sera.

"Yah, bilang saja itu tidak adil kalau dia memanggilku dengan nama depanku sementara dia tidak memanggilmu dengan nama depanmu padahal aku dan kau adalah sahabatnya, atau yang seperti itulah. Aku tahu kau pasti bisa menemukan alasannya dengan otakmu yang cerdas itu. Bukankah kau juga detektif hebat sama seperti Kudo-kun dan Hattori-kun?" jawab Shiho.

"Kalau begitu kau juga tahu kan masalah para detektif hebat kalau menyangkut urusan cinta," ucap Sera dengan sinis karena dia pikir Shiho sedang menyindirnya.

"Oh iya, benar juga," ucap Shiho sambil nyengir. "Kalau begitu pakai saja alasanku yang tadi," lanjutnya.

"Baiklah, aku akan melakukannya," ucap Sera.

"Semoga berhasil. Sampai jumpa," ucap Shiho.

"Sampai jumpa. Err, Shiho, terima kasih," ucap Sera dengan tulus.

"Tidak masalah," ucap Shiho.

XXX

Begitu sampai di apartemennya, Heiji langsung masuk ke kamarnya dan berbaring di tempat tidurnya. Shinichi sepertinya sudah pergi tapi dia tidak mau memikirkannya karena dia sangat lelah. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa dia bisa menganggap wanita bermata setan itu seperti kakak perempuannya sendiri. Ingin rasanya dia menenggelamkan dirinya ke dalam tanah karena malu ketika Shiho menggodanya habis-habisan tadi gara-gara mulutnya yang dengan seenaknya bicara hal-hal yang tidak perlu pada Shiho hanya karena Shiho menaikkan alisnya.

Tak lama kemudian, Heiji pun tertidur.

Keesokan paginya, Heiji bangun dengan perasaan segar karena dia tidur nyenyak semalam. Dia duduk di tepi tempat tidurnya sambil tersenyum kecil karena gara-gara dia kelelahan setelah digoda habis-habisan oleh Shiho, dia jadi bisa tidur nyenyak.

"Ini tidak begitu buruk," pikir Heiji.

Lalu dia ingat perkataan Shiho kemarin sehingga dia jadi bertanya-tanya dalam hati.

"Apa benar laki-laki yang hampir berusia 21 tahun tapi tidak tertarik pada seorang wanita pun berarti dia tidak normal? Tapi aku kan hanya merasa kalau belum saatnya bagiku untuk jatuh cinta pada seseorang. Aku hanya masih merasa nyaman menjadi jomblo," ucap Heiji pada dirinya sendiri.

"Apa aku harus mencoba tes aho itu ya?" gumam Heiji. Kemudian dia berdebat dengan dirinya sendiri selama beberapa saat sampai akhirnya dia mengambil keputusan.

Heiji menutup matanya dan meletakkan tangannya di dadanya. Dia diam dalam posisi itu selama beberapa saat kemudian dia membuka matanya dan mengerjap-ngerjapkan matanya selama beberapa saat dengan ekspresi wajah bingung. Tapi kemudian dia tertawa kecil.

"Sudah kuduga, tes itu benar-benar aho. Bagaimana mungkin aku menyukai wanita yang sudah kuanggap sebagai kakak perempuanku sendiri?" ucap Heiji.

Heiji pun bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah ke kamar mandi.

Bersambung...