Disclaimer :

Detektif Conan milik Gosho Aoyama.

Catatan Penulis :

Waktunya balas komen!

Airin-san : Aku tidak tahu chapter ini romantis atau tidak tapi inilah chapter 10. Semoga kamu menikmatinya.

Tanpa nama : Terima kasih. Salam manis juga buatmu.

SherryHazel : Hmm, kalau kudo kun ran sudah putus asa jadi dia bikin akun baru dan bisa. Jadi kalau kamu udah putus asa juga, mungkin lebih baik bikin lagi dengan email yang berbeda. Kalau log in lewat HP biasanya tergantung HP-nya.

Aiwha-san : Shiho emang tega jadi nggak ada cium buat Shinichi. He he he.

Atin : Wah, aku juga mau. XD. Yah, karena Ran cuma cameo jadi meskipun dia suka cowok lain pun, nggak bakalan ada ceritanya. He he he.

shihoCool'n : Hmm, dateng-dateng langsung minta-minta. He he he. Yah, panjangnya seperti biasa aja deh.

kudo kun ran : Ya kalau flamer nggak kayak gitu, dia bukan flamer dong. He he he. Flamer kan emang dibenci para penulis jadi kalau kamu benci dan nggak sabar sama dia ya wajar aja. Yang nggak bagus itu, kalau penulis berhenti nulis gara-gara flamer soalnya itu menandakan kalau penulis itu lebih peduli pada flamer daripada pembaca. Jadi jangan berhenti nulis ya! Ciumannya pasti ada, tunggu aja tanggal mainnya, yang jelas nggak akan selama Ran nungguin Shinichi. XD

shiho Nakahara : Hubungan Shiho sama Shuichi mirip dengan hubungan Shiho dan Shinichi sebelum Shinichi meminum LOVE4869 yaitu 'more than friend, less than lover'. Jadi tergantung mereka berdua mau melangkah maju menjadi lover atau melangkah mundur menjadi friend. Untuk saat ini mereka masih berada dalam wilayah yang abu-abu tersebut.

Kongming-san : Iya wuoi. Akemi belum nikah sama Akai dan Shiho juga bukan pacar Akai. XD

cheeky n' hyuu-su : Yah, sedikit spoiler bolehlah, Shiho akan menemukan penawarnya, Shinichi akan meminumnya dan Shinichi akan tetap ingat semua memorinya bersama Shiho selama dia dalam pengaruh obat. Disitulah konflik akan terjadi. Bagaimana konfliknya? Tunggu tanggal mainnya! XD

grey chocolate : Lho, bukannya sudah jelas kalau Shinichi adalah pacar Ran jadi kenapa masih penasaran? XD. Semoga chapter ini full romance sesuai harapanmu.

moist fla : Terima kasih banyak. Semoga chapter ini sesuai harapanmu.

tina nha san : Gimana? Udah nggak mencak-mencak lagi kan? XD

Waktunya curcol!

Chapter ini isinya adegan Shinichi dan Shiho semua (OMG!). Penulis sangat menikmati menulis chapter ini, terutama bagian ketiga dimana Shinichi mengusili Shiho. Shiho kan suka sekali mengusili dan menggoda orang lain jadi penulis senang sekali melihatnya diusili dan digoda orang lain, terutama Shinichi. He he he.

Selamat membaca dan berkomentar!


Jangan Bilang Tidak

By Enji86

Chapter 10 – Hubungan Abnormal

Malam itu, Shinichi menyelinap ke kamar Shiho dengan wajah berseri-seri dan ketika Shiho mengangkat kepalanya dari buku di tangannya untuk memandangnya, dia tersenyum lebar pada Shiho.

Shiho mengalihkan pandangannya kembali ke bukunya tanpa membalas senyuman Shinichi sehingga senyum Shinichi agak menyusut.

"Kenapa kau datang dengan wajah bodoh begitu? Apa ada hal bagus yang terjadi hari ini?" tanya Shiho dengan nada bosan tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang dibacanya saat Shinichi naik ke tempat tidur.

Shinichi langsung memasang wajah cemberutnya dan ingin mengomeli Shiho namun dia mengurungkan niatnya itu karena dia sedang senang hari ini jadi dia tidak ingin berdebat dengan Shiho malam ini. Dia langsung memasang wajahnya yang paling manis dan menatap Shiho sambil tersenyum.

"Yang, besok jangan bawa mobil ya," ucap Shinichi sehingga Shiho menoleh kepadanya.

"Kenapa memangnya?" tanya Shiho.

"Soalnya besok aku ingin mengantarmu berangkat ke kampus lalu mengajakmu kencan sepulangnya dari kampus," jawab Shinichi.

"Terus Ran-san bagaimana?" tanya Shiho.

"Jangan khawatir. Mulai besok Ran ikut studi eksekursi selama seminggu di luar kota jadi aku tidak perlu mengantar dan menjemputnya," jawab Shinichi.

"Ooh begitu. Terus kenapa kau memasang wajah bodoh tadi? Tentu bukan hanya karena Ran-san ikut studi eksekursi kan?" tanya Shiho lagi.

Shinichi langsung sweatdrop karena Shiho masih saja menyebut-nyebut wajah bodohnya.

"Sayang, bisakah kau berhenti mengatakan hal-hal seperti itu? Sekarang aku kan sudah menjadi kekasihmu," ucap Shinichi setengah merengek.

"Apa maksudmu? Memangnya ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Shiho dengan wajah tanpa dosa.

Shinichi tidak menjawab dan hanya menatap Shiho selama beberapa saat.

"Aku pasti sudah gila karena aku jatuh cinta pada wanita ini," batin Shinichi.

"Oh, sudahlah," ucap Shinichi sambil merebut buku yang ada di tangan Shiho lalu menaruhnya di meja yang ada di samping tempat tidur.

"Hei, apa yang kau lakukan? Aku masih ingin membaca," protes Shiho sambil mencoba mengambil bukunya kembali.

Shinichi mempergunakan kesempatan ini untuk memeluk pinggang Shiho lalu dia berbaring di tempat tidur tanpa melepaskan pelukannya di pinggang Shiho sehingga tubuh Shiho menindih tubuhnya dan wajah Shiho hanya beberapa senti dari wajahnya.

"Tidak. Waktumu membaca sudah habis. Sekarang giliranku untuk memonopolimu," ucap Shinichi sambil menyeringai.

Shiho menatap Shinichi dengan tajam sehingga Shinichi merinding tapi dia bersikeras dalam hati tidak akan melepaskan Shiho. Beberapa saat kemudian, Shiho pun menghela nafas kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Shinichi.

"Aku tidak tahu kalau punya kekasih bisa begitu menyebalkan," gumam Shiho.

"Yah, kalau kekasihmu itu bukan aku, pasti akan sangat menyebalkan," sahut Shinichi sehingga Shiho tertawa kecil.

"Baiklah, Tantei-san. Kurasa aku sudah siap mendengarkan ocehanmu sekarang," ucap Shiho sambil tersenyum.

"Kau ini selalu saja...," Shinichi mulai mengomel tapi kemudian menghentikannya di tengah jalan. Sebenarnya dia sedang berusaha keras untuk membuat hubungannya dengan Shiho menjadi hubungan yang romantis namun sampai sekarang usahanya masih jauh dari sukses karena Shiho adalah Shiho meskipun Shiho sudah jadi kekasihnya. Jadi mereka berdua lebih sering berdebat daripada beradegan lovey dovey. Dia berdehem sebelum membuka mulutnya lagi dengan nada suara yang ceria. "Kau tahu, hari ini aku berhasil memecahkan kasus pembunuhan berantai yang menghebohkan itu," ucapnya sambil tersenyum bangga.

"Benarkah? Entah kenapa aku tidak terkejut mendengarnya," komentar Shiho dengan nada sinis.

Shinichi berusaha keras untuk bersabar dan tidak mengomel lalu dia melanjutkan ceritanya tentang kasusnya. Setelah dia selesai bercerita, dia merasa bingung karena dari tadi Shiho hanya diam saja dan tidak menanggapinya. Dia pun mengangkat kepalanya sedikit untuk melihat Shiho dan menemukan bahwa Shiho sudah tertidur.

"Dasar wanita ini! Memangnya ceritaku barusan dongeng sebelum tidur! Kenapa sih aku bisa jatuh cinta padanya?" gerutu Shinichi dalam hati.

Shinichi mengubah posisi mereka sehingga dia dan Shiho berbaring menyamping dan saling berhadapan. Dia menghela nafas kemudian menatap wajah Shiho yang sudah tertidur selama beberapa saat. Setelah puas memandangi Shiho, dia mengecup kening Shiho lalu mendekap Shiho dengan erat.

"Bagaimana ya caranya supaya Shiho menginginkan aku?" Shinichi bertanya-tanya dalam hati. Lalu dia teringat sesuatu sehingga dia mendapat ide. "Sepertinya memang harus pakai cara itu. Kalau begitu aku akan memintanya saat Profesor Agasa pergi ke Amerika," ucapnya dalam hati.

XXX

Keesokan harinya, setelah mengarang berbagai macam alasan, akhirnya Shiho diijinkan berangkat bersama Shinichi oleh Profesor Agasa walaupun Profesor Agasa masih menatap mereka berdua dengan curiga.

Sepanjang perjalanan berangkat ke kampus, Shiho menyadari bahwa Shinichi tidak banyak bicara dan wajah Shinichi terlihat agak lesu padahal kemarin malam dia kelihatan senang sekali. Shiho jadi bertanya-tanya kenapa Shinichi bertingkah seperti itu. Apakah tadi malam dia membuat Shinichi begitu kesal atau karena Ran pergi ke luar kota, makanya alam bawah sadar Shinichi yang mencintai Ran membuat Shinichi menjadi lesu. Setelah Shiho berpisah dengan Shinichi di kampus, dia memutuskan untuk menanyakannya pada Shinichi saat Shinichi menjemputnya nanti.

Sore harinya, Shinichi datang untuk menjemputnya, masih dengan wajah lesunya, sehingga Shiho memutuskan untuk bertanya di tempat kencan mereka.

"Kita mau kemana?" tanya Shiho saat mobil Shinichi sampai di gerbang kampus.

"Yah, sebenarnya aku juga tidak punya ide bagus," jawab Shinichi.

Sebenarnya dari tadi Shinichi sudah berpikir keras untuk mencari tempat kencan yang bagus agar dia bisa kencan romantis dengan Shiho. Namun dalam imajinasinya, Shiho selalu bisa mengubah kencan romantis mereka menjadi tidak romantis sama sekali dimanapun mereka berkencan sehingga Shinichi akhirnya putus asa dan tidak tahu harus kencan dimana.

"Mungkin lebih baik kita nonton film saja seperti kencan biasa," lanjut Shinichi.

"Tapi aku sedang tidak ingin nonton film," ucap Shiho.

"Ooh begitu," sahut Shinichi.

Lalu mereka terdiam selama beberapa saat.

"Karena hari sudah sore, aku jadi ingin melihat matahari tenggelam, bagaimana kalau kita ke pantai?" tawar Shiho.

"Baiklah," ucap Shinichi setuju lalu dia mengarahkan mobilnya ke pantai terdekat dimana mereka bisa melihat matahari tenggelam.

Sebenarnya Shinichi tadi juga sempat membayangkan melihat matahari tenggelam bersama Shiho dalam suasana romantis tapi kemudian Shiho dalam imajinasinya mulai mengeluarkan komentar-komentar sinis sehingga dia dan Shiho malah berdebat tanpa mempedulikan pemandangan matahari tenggelam yang indah itu.

Shinichi pun menghela nafas dan tidak berharap terlalu banyak dari kencan mereka yang kedua ini. Karena itu matanya terbelalak menatap Shiho dengan tatapan tidak percaya ketika Shiho menggenggam tangannya saat mereka berdiri bersebelahan sambil melihat pemandangan matahari tenggelam.

Shiho pun menoleh padanya.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Shiho.

"Uh, tidak ada apa-apa," jawab Shinichi kemudian dia mengalihkan pandangannya kembali ke matahari yang sedang tenggelam sambil balas menggenggam tangan Shiho. Tanpa disadarinya senyum kecil menghiasi bibirnya.

Shinichi pun mulai berharap bahwa kencan kali ini akan menjadi kencan romantisnya bersama Shiho. Namun harapan Shinichi langsung menyusut begitu dia mendengar ucapan Shiho.

"Kau tahu, dari tadi aku bertanya-tanya, kenapa wajah bodohmu kemarin malam berganti menjadi wajah menyedihkan hari ini," ucap Shiho datar sehingga Shinichi langsung facepalm. Kemudian Shiho menoleh ke Shinichi. "Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanyanya.

Shinichi pun menoleh ke Shiho dan menatap mata Shiho sejenak. Lalu dia sadar bahwa dia tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak mengeluh pada Shiho.

"Kau ingin tahu apa yang menggangguku? Yang menggangguku itu adalah sikapmu. Apa kau tidak tahu kalau aku ingin menjalani hubungan yang lovey dovey denganmu, hubungan yang romantis denganmu. Tapi kau selalu saja bisa membuat kita berdua bertengkar dan berdebat. Apa kau tidak tahu kalau aku pun juga ingin kau puji seperti laki-laki lain yang merasa senang jika dipuji oleh kekasihnya. Tapi kau selalu saja mengejekku dan berkomentar sinis. Kau bahkan tidak mendengarkan ceritaku kemarin malam dan malah tidur. Aku kesal sekali padamu, kesal sekali," sembur Shinichi sehingga Shiho menatap Shinichi dengan agak kaget tapi kemudian Shiho tertawa.

"Kudo-kun, aku rasa kau sudah memilih wanita yang salah untuk jadi kekasihmu," ucap Shiho masih sambil tertawa.

"Shiho!" seru Shinichi dengan frustasi. Dia pun menyentakkan tangan Shiho yang menggenggam tangannya dan berbalik untuk membelakangi Shiho. Dia benar-benar merasa marah, frustasi dan putus asa sampai-sampai dia ingin menangis. Dia mengutuk dirinya sendiri yang sudah jatuh cinta pada wanita jahat di belakangnya itu.

"Mungkin aku memang sudah keterlaluan," pikir Shiho sambil menatap punggung Shinichi. Lalu Shiho pun mendekati Shinichi dan memeluk Shinichi dari belakang.

Shinichi langsung berusaha menyentakkan tangan Shiho yang melingkar di pinggangnya sebagai tanda kalau dia benar-benar marah tapi dia begitu terkejut karena pelukan Shiho ternyata begitu kuat sampai dia tidak bisa melepaskan diri sehingga akhirnya dia menyerah dan hanya berdiri diam.

"Kudo-kun, maaf kalau aku membuatmu kesal, tapi apa kau tidak tahu kalau aku memang bukan wanita impianmu?" tanya Shiho.

Shinichi tidak menjawab dan hanya diam saja.

Beberapa saat kemudian, Shiho melepaskan pelukannya dan membalik badan Shinichi. Shinichi masih menatap Shiho dengan pandangan marah tapi Shiho hanya tersenyum kepadanya kemudian Shiho mengulurkan salah satu tangannya untuk membelai pipi Shinichi dengan ibu jarinya.

"Karena itu jangan berharap terlalu banyak kepadaku," ucap Shiho kemudian dia berjinjit dan mengecup pipi Shinichi yang baru dibelainya sehingga wajah Shinichi memerah. Setelah itu dia kembali memeluk Shinichi. "Kalau tidak kau akan menyesal," lanjutnya.

Shinichi menatap puncak kepala Shiho dengan bingung. Dia bertanya-tanya dalam hati, apakah benar dia meminta terlalu banyak dan apakah meminta terlalu banyak itu salah. Dia tidak tahu. Yang jelas sekarang Shiho sedang memeluknya dan dia juga ingin memeluk Shiho jadi dia melingkarkan lengannya pada tubuh Shiho dan menikmati momen itu.

"Shiho," panggil Shinichi.

"Hmm?" sahut Shiho.

"Aku mencintaimu," ucap Shinichi sehingga Shiho tertawa kecil.

"Aku tahu," ucap Shiho sehingga Shinichi mengerutkan keningnya pada Shiho sekaligus mempererat pelukannya di tubuh Shiho.

Saat Shinichi berjalan kembali ke mobilnya sambil menggandeng tangan Shiho, dia melirik Shiho sekilas kemudian tiba-tiba dia sadar bahwa sejak pertama kali berkenalan sampai sekarang, Shiho selalu menjadi wanita misterius dan aneh baginya. Bahkan mungkin Holmes pun tidak akan bisa memecahkan puzzle yang bernama Shiho ini, meskipun Holmes tidak mencintai Shiho. Jadi mengharapkan Shiho menjadi kekasih yang 'normal' tentu merupakan harapan yang terlalu berlebihan. Shinichi pun memutuskan untuk tidak lagi mengharapkan hubungan yang romantis dengan Shiho. Dia memutuskan untuk menikmati hubungan 'abnormal' mereka sambil berharap dia akan lebih menikmatinya.

XXX

"Sayang, apa aku pindah ke sini saja ya selama Profesor Agasa pergi ke Amerika? Jadi kau tidak kesepian," ucap Shinichi saat dia makan malam di rumah Profesor Agasa.

Malam itu adalah malam pertama Shiho sendirian di rumah karena Profesor Agasa dan Fusae pergi ke Amerika untuk persiapan pesta pernikahan. Sebenarnya Sera sudah menawari Shiho untuk menemaninya selama dia sendirian di rumah. Tapi karena akan ada seseorang yang mencak-mencak jika dia menerima tawaran Sera itu, dia terpaksa menolaknya sehingga Sera menatapnya dengan curiga saat itu.

"Kudo-kun, apa kau sudah gila? Apa kata orang nanti kalau kau tinggal berdua denganku di rumah ini?" Shiho balik bertanya dengan agak kesal.

"Oh iya, kau benar juga," sahut Shinichi sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Kita akan melakukannya seperti biasa. Kau akan pulang ke rumahmu lalu kau akan menyelinap kembali ke sini menjelang tengah malam, kau mengerti?" ucap Shiho.

"Ya, ya, aku tahu. Tapi ini sungguh merepotkan. Padahal kau hanya sendirian di rumah tapi aku harus tetap menyelinap menjelang tengah malam," ucap Shinichi.

"Ya sudah begini saja, kau boleh menyelinap kapan pun kau mau asal kau terlihat sudah pulang ke rumahmu dan tidur di rumahmu, bagaimana?" tanya Shiho.

Shinichi langsung tersenyum.

"Oh, itu ide yang bagus. Aku setuju. Setelah makan malam, aku akan pulang. Lalu aku akan menyelinap kembali ke sini secepatnya. Dengan begitu aku bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu," ucap Shinichi.

"Terserah kau saja. Tapi kau tidak boleh menggangguku sebelum aku menyelesaikan tugas kuliahku," ucap Shiho memperingatkan.

"Iya, aku tahu. Aku kan juga harus mengerjakan tugas kuliahku," ucap Shinichi dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.

Setelah makan malam, Shinichi segera pulang ke rumahnya untuk mandi. Lalu dia memasukkan laptopnya ke dalam tasnya serta beberapa buku yang dibutuhkannya. Setengah jam kemudian dia sudah menyelinap kembali ke rumah Profesor Agasa. Dia menemukan Shiho duduk di depan TV dengan laptop di depannya, sepertinya sibuk mengerjakan tugas kuliahnya. Dia pun bergabung dengan Shiho dan mulai mengerjakan tugas kuliahnya sendiri.

Setelah menyelesaikan tugasnya, Shinichi mematikan laptopnya lalu mengalihkan pandangannya ke Shiho yang sepertinya belum selesai dengan tugas kuliahnya. Melihat Shiho yang berkonsentrasi mengerjakan tugas kuliahnya membuat Shinichi ingin memandangi Shiho.

"Wah, dia bahkan terlihat sangat cantik saat penuh konsentrasi seperti itu," batin Shinichi.

Setelah beberapa lama dipandangi oleh Shinichi, Shiho pun tidak tahan sehingga dia balas memandang Shinichi.

"Kudo-kun, bisakah kau berhenti memandangiku? Kau menggangguku," ucap Shiho.

"Huh? Dia bilang dia merasa terganggu saat kupandangi? Apa mungkin dia sudah mulai suka padaku?" pikir Shinichi sambil tetap memandangi Shiho.

"Kudo-kun, kau tidak dengar ucapanku ya?" tanya Shiho dengan kesal.

Shinichi hanya tersenyum dan memutuskan untuk menggoda Shiho. Dia bergerak mendekati Shiho sehingga Shiho otomatis bergerak menjauh darinya. Melihat hal ini, senyum Shinichi pun makin lebar.

"Kenapa kau merasa terganggu? Aku kan hanya memandangimu?" tanya Shinichi sambil terus bergerak mendekati Shiho.

"Aku tidak tahu. Yang jelas itu menggangguku. Bukankah aku sudah bilang kau tidak boleh menggangguku selama aku mengerjakan tugas kuliahku. Jadi berhenti memandangiku dan menjauhlah dariku," sahut Shiho sambil terus bergerak menjauhi Shinichi.

Lalu dengan tiba-tiba Shinichi menerkam Shiho sehingga Shiho terbaring di lantai dengan Shinichi di atasnya.

"Dan sejak kapan aku mau mendengarkan kata-katamu?" tanya Shinichi lagi sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Shiho.

"Kudo-kun, lepaskan aku, sekarang," ucap Shiho, memberi penekanan pada kata sekarang.

"Kenapa aku harus melakukannya, Sayang?" tanya Shinichi dengan nada menggoda.

"Karena aku harus menyelesaikan tugas kuliahku yang harus kukumpulkan besok pagi," jawab Shiho dengan nada tidak sabar.

Shinichi terdiam sejenak sebelum tertawa terbahak-bahak. Dia pun melepaskan Shiho yang memandangnya dengan kesal.

"Ya ampun, Shiho, kenapa kau bisa begitu lucu?" tanya Shinichi di sela-sela tawanya.

Shiho hanya memberi Shinichi tatapan tajam sekilas lalu dia mendorong Shinichi agar dia bisa kembali ke tempatnya semula dan kembali sibuk dengan laptopnya.

Setelah tawanya reda, Shinichi pun juga kembali ke tempatnya semula dan kembali memandangi Shiho sehingga Shiho kembali menatapnya dengan kesal.

"Kudo-kun, apa kau benar-benar ingin aku dimarahi dosenku besok pagi?" tanya Shiho dengan kesal.

"Ya, ya, baiklah. Aku akan berhenti memandangimu," ucap Shinichi kemudian dia meraih tasnya dan mengeluarkan salah satu buku Sherlock Holmes dari dalam tasnya.

Shiho langsung mencibir begitu melihat buku yang dipegang Shinichi sehingga Shinichi menatapnya sambil nyengir.

"Kenapa? Apa kau lebih suka aku memandangimu?" tanya Shinichi.

Mendengar pertanyaan Shinichi, Shiho langsung memperlihatkan senyum palsunya yang paling manis.

"Tidak, Sayang. Aku lebih suka kau memandangi buku bodohmu itu," jawab Shiho lalu wajahnya kembali cemberut saat dia mengalihkan pandangannya ke laptopnya.

Shinichi pun kembali tertawa melihat tingkah Shiho barusan walaupun Shiho mengatai buku Sherlock Holmes-nya bodoh. Memang setelah beberapa lama, Shinichi mulai merasa bahwa sikap Shiho yang dulu dia anggap menyebalkan berubah menjadi sesuatu yang lucu dan bahkan bisa dikatakan manis walaupun manis yang agak aneh. Dia pun juga mulai berani menggoda dan menjahili Shiho, dan dia sangat menikmatinya. Dia kadang-kadang bertanya-tanya dalam hati kenapa beberapa waktu lalu dia menginginkan hubungan romantis dengan Shiho padahal hubungan 'abnormal' mereka jauh lebih menyenangkan.

"Aku jadi tidak sabar untuk membawanya ke tempat tidur. Mungkin aku bisa membuatnya kesal lagi di sana sehingga aku bisa memandangi wajah kesalnya yang manis itu," pikir Shinichi.

Shinichi lalu naik ke sofa, membaringkan tubuhnya di sana dan mulai membaca.

Bersambung...