Disclaimer :

Detektif Conan milik Gosho Aoyama.

Catatan Penulis :

Waktunya balas komen!

moist fla : Mengakhiri DC dengan ShinShi akan cukup sulit kalau menurutku, setelah semua penantian Ran yang terlalu dilebih-lebihkan itu. Karena itu, biasanya aku mengambil seting waktu beberapa lama setelah ending-nya DC. Jadi aku belum tahu, apa aku bisa menulis ending-nya DC dengan ShinShi. XD

Aiwha-san : Tentang apa yang Shiho lakukan, aku akan menjelaskannya di curcol untuk semua pembaca. XD

Kongming-san : Ya jelas ngarang dong. Soalnya mana mau Gosho nyeritain masa lalunya Shiho. XD. Tapi Gin bener-bener bilang kalau Shiho itu wanita liar (wanton woman dan scarlet woman) saat Haido City Hotel Arc. Yah, walaupun kita memang tidak boleh terlalu percaya pada pervert macam Gin (bukti bahwa Gin pervert seperti Conan adalah dia membayangkan Shiho yang nggak pakai baju dengan senyum maniak menghiasi wajahnya), tapi sepertinya masih relevan untuk dijadikan referensi. Tapi karena tidak ada organ 'bersangkutan' yang terlibat, aku jadi bertanya-tanya kenapa menurutmu fic ini harus pindah rating?

Atin : Wah, sepertinya aku sudah membuatmu salah paham. XD. Kamu harus baca curcolku lagi nih. He he he.

shiho Nakahara : Rate-nya nggak berubah kok, menurutku. He he he. Kalau masalah cemburu, bukan HeijixShiho yang akan membuat Shinichi cemburu nanti, tapi pasangan yang lain. XD

Witthechavalery : Wah, iya nih. Kemana aja? Yah, ini kan masih konflik kecil-kecilan. Nanti bakalan ada konflik besarnya, hopefully. XD

Airin-san : Konfliknya memang masih ringan-ringan sebagai persiapan untuk konflik yang lebih berat. XD

Portgas D Zorbin : Iya, Shiho memang ganas. Karena itu waspadalah kalau mau berurusan dengannya! XD

Waktunya curcol!

Wah, penulis tidak menyangka kalau pembaca bisa mempunyai 'imajinasi' yang macam-macam terhadap adegan yang disensor oleh penulis. XD. Tapi perlu penulis jelaskan di sini bahwa apapun yang dilakukan oleh Shiho tidak ada hubungannya dengan cairan, jadi Shiho tidak pernah melakukan apapun kepada apapun yang ada di dalam celana Shinichi. Dan karena Organisasi Hitam bukan organisasi mesum tapi organisasi kriminal, maka keahlian yang dimaksud adalah keahlian untuk mencari dan menemukan sweet spot dari lawannya kemudian mengeksploitasinya agar lawan menjadi lemah sehingga gampang dihabisi. Dan lawan bisa menjadi lemah itu karena eksploitasi terhadap sweet spot itu bisa membuatnya merasakan kenikmatan sehingga otak menjadi lumpuh dan tertutup kabut sehingga dia tidak bisa lagi berpikir jernih. Artinya membuat lawan merasa senang sebelum menghabisinya dengan dingin dan seseorang tidak akan bisa membuat orang lain senang kalau dia sendiri tidak menikmatinya, karena itu untuk menguasai kemampuan ini dibutuhkan tingkat kesadisan yang sangat tinggi.

Di chapter ini, penulis sudah mulai mempersiapkan konflik yang akan terjadi di antara pasangan favorit kita ini. Dan itu semua disebabkan oleh salah paham yang tidak sepenuhnya salah paham. XD

Selamat membaca dan berkomentar!


Jangan Bilang Tidak

By Enji86

Chapter 12 – Hadiah Pertama

Hari ini Shiho menerima sebuket bunga mawar merah sebanyak tiga kali seperti jadwal makan dalam sehari dari Shinichi. Lalu malam harinya, Shinichi mengajaknya atau bisa dikatakan memaksanya pergi makan malam di restoran yang mewah dan romantis. Sebagai wanita, Shiho pun juga sangat menyukai hal-hal yang romantis. Oleh karena itu, setelah makan malamnya dengan Shinichi, disinilah dia sekarang, di atas tempat tidurnya atau lebih tepatnya di atas tubuh Shinichi, sedang menyenangkan Shinichi.

Shiho merasa puas melihat reaksi tubuh Shinichi dan sangat menikmati suara yang dihasilkan mulut Shinichi terhadap sentuhannya. Dia tahu Shinichi sangat menikmati apapun kesenangan yang sedang diberikannya dan itu membuatnya takjub karena dia tidak pernah tahu bahwa seseorang bisa merasa sesenang itu karena pengaruh obat. Dia jadi bertanya-tanya, kenapa setiap kali dia menghasilkan penemuan yang menakjubkan dan tidak masuk akal, Shinichi selalu ada di sana untuk menjadi korbannya. Kalau suatu kebetulan sudah terjadi dua kali, apakah masih bisa dibilang kebetulan?

Shiho kemudian memikirkan kemungkinan lain sementara tangannya dan bibirnya terus bekerja. Dia berpikir mungkin saja ini adalah ujian cinta untuk Shinichi dan Ran, sama seperti APTX4869-nya dulu. Orang bilang, kalau seseorang bisa melewati ujian dalam hidupnya, mereka akan menjadi lebih kuat. Begitu juga dengan cinta, jika bisa melewati ujian, cinta akan jadi lebih kuat. Tapi itu juga membuatnya bertanya-tanya, kenapa ujiannya harus selalu melewati tangannya. Apakah dia memang pilihan favorit Tuhan saat memberi ujian pada cinta Shinichi dan Ran?

Ketika Shiho merasa Shinichi sudah cukup bersenang-senang, dia menghentikan semua kegiatannya dan mulai bergerak untuk mengancingkan kemeja Shinichi kembali. Tapi tiba-tiba Shinichi memeluknya dengan posesif.

"Mmmh, Shiho sayangku," desah Shinichi dengan nafas berat. "Kau adalah milikku selamanya," lanjutnya masih dengan suara mendesah.

Shiho langsung merasakan dejavu kejadian pada hari kelulusan SMA, yaitu ketika Shinichi mencoba membunuhnya dengan pelukan. Dia pun kembali bertanya-tanya kenapa semua laki-laki yang pernah disukainya sejauh ini selalu mencoba membunuhnya. Dengan susah payah, dia menggerakkan tangannya untuk mencubit pinggang Shinichi sebelum orang yang beberapa kali menyelamatkan nyawanya ini dengan ironis membunuhnya.

Shinichi pun mengaduh kesakitan dan langsung melepaskan pelukannya.

"Apa... yang... kau... lakukan...?" seru Shinichi dengan suara putus-putus karena nafasnya masih terasa berat sambil menatap Shiho yang sudah menegakkan diri dan mulai mengancingkan kemejanya kembali.

"Apa? Aku hanya tidak ingin kejadian saat hari kelulusan SMA terulang," sahut Shiho dengan tenang.

Shinichi langsung mengalihkan pandangannya dari Shiho, merasa agak sungkan ketika dia mengingat kejadian itu. Dia menjadi sangat panik begitu menyadari bahwa Shiho pingsan dalam pelukannya saat itu. Untunglah, Shiho ternyata baik-baik saja setelah tak sadarkan diri selama beberapa menit.

"Maaf, aku sama sekali tidak bermaksud... begitu," gumam Shinichi.

"Aku tahu," sahut Shiho sambil bangkit dari pinggang Shinichi karena dia sudah selesai mengancingkan kembali kemeja Shinichi lalu dia berbaring di sebelah Shinichi.

Shinichi langsung mendekap Shiho namun tidak terlalu erat karena dia takut dia kembali melampaui batas. Lalu mereka berdua berdiam diri, larut dalam pikirannya masing-masing sampai Shiho membuka mulutnya.

"Kudo-kun, mulai sekarang aku tidak akan membiarkanmu bersenang-senang sendiri," ucap Shiho.

"Huh? Apa maksudmu?" tanya Shinichi.

Shiho memegang pipi Shinichi sambil menatap mata Shinichi.

"Mulai sekarang, aku benar-benar akan mengajarimu cara menyenangkan wanita karena sepertinya kau tidak belajar apapun jika aku hanya memberikanmu contoh," jawab Shiho.

"Baiklah, Sayang. Aku pun sebenarnya juga ingin menyenangkanmu jadi aku sama sekali tidak keberatan," ucap Shinichi sambil tersenyum.

"Masalahnya adalah kau itu orang yang sangat egois, angkuh, tidak sabaran dan mesum. Jadi pasti akan sulit sekali mengajarimu," ucap Shiho sambil nyengir.

"Oi! Oi! Sebenarnya kau ingin mengajariku atau hanya ingin mengejekku sih?" tanya Shinichi dengan kesal.

"Karena itu kalau kau belajar dengan baik, aku akan mengirimmu kembali ke surga," ucap Shiho tanpa mempedulikan ucapan Shinichi barusan.

Shinichi langsung tersenyum lebar dan berniat menyahuti ucapan Shiho dengan sombong seperti biasanya tapi Shiho sudah memotongnya sebelum dia sempat bicara.

"Tapi kalau kau tidak bisa melakukannya dengan baik, aku akan menendangmu keluar dari kamarku," ucap Shiho.

Senyum Shinichi langsung lenyap dan dia mengerutkan keningnya pada Shiho. Dalam hati dia bertanya-tanya dengan khawatir, apakah ini salah satu rencana Shiho untuk menyingkirkannya. Shiho sangat mengenalnya dengan baik, makanya dia jadi khawatir.

"Err, Shiho, apa kau tidak bisa mempertimbangkan kembali tentang 'menendangku keluar dari kamarmu'?" tanya Shinichi dengan cemas sehingga Shiho merasa geli.

"Wah, wah, rupanya meitantei dari timur bisa merasa tidak percaya diri juga ya?" goda Shiho sehingga Shinichi menjadi cemberut.

"Kalau berhadapan dengan wanita licik sepertimu, bahkan Holmes pun pasti merasa tidak percaya diri juga," gumam Shinichi menggerutu.

"Apa kau bilang?" tanya Shiho sambil menyipitkan matanya.

"Uh, tidak ada, Sayang. Aku tidak bilang apa-apa," jawab Shinichi sambil tersenyum gugup.

Shiho masih memandang Shinichi dengan tajam selama beberapa saat sebelum tatapan matanya kembali seperti biasanya.

"Aku tidak akan mempertimbangkannya, Sayang. Jadi berusahalah agar aku tidak menendangmu keluar dari kamarku," ucap Shiho sambil menyeringai. "Dan sekarang waktunya tidur," ucapnya sambil membenamkan wajahnya di dada Shinichi.

Shinichi hanya diam sambil menatap kepala Shiho.

"Oh, sial! Seharusnya aku tahu Shiho tidak akan tunduk padaku semudah itu," pikir Shinichi. "Pokoknya aku tidak boleh kalah. Lihat saja Shiho, aku pasti bisa mengirimmu ke surga juga lalu kau pasti akan menempel terus padaku dan menjadi milikku selamanya," ucapnya dalam hati dengan penuh determinasi.

Sementara itu, pemikiran lain sedang melintas di benak Shiho.

"Mungkin Tuhan ingin Kudo-kun belajar menjadi laki-laki karena sudah jelas detektif bodoh ini tidak pernah melakukan apapun dengan Ran-san. Kalau dulu dengan APTX4869, Kudo-kun belajar menjadi lebih perhatian terhadap orang lain, terutama Ran-san, sekarang dengan LOVE4869, aku akan mengajarinya menjadi suami idaman para wanita. Aku harap ini bisa membayar kesalahanku pada mereka berdua," pikir Shiho.

Lalu setelah itu, mereka berdua pun terlelap dengan pikiran mereka masing-masing.

XXX

Malam-malam selanjutnya, Shinichi berusaha keras untuk belajar. Sebenarnya prinsipnya sangat mudah yaitu mencari, mengamati, menemukan dan menikmati. Tapi aplikasi di lapangan sangat sulit. Apalagi jika yang menjadi pasangannya adalah Shiho. Hal ini selain disebabkan karena reaksi Shiho yang sangat minim, juga disebabkan karena ketika Shiho bereaksi, dia juga ikut bereaksi. Artinya dia sudah menginjak tahap keempat padahal dia belum menyelesaikan tahap pertama. Dia pun mulai setuju dengan Shiho bahwa dia memang egois, angkuh, tidak sabaran dan mesum, meskipun dia tidak akan mau mengakuinya.

Namun Shinichi tidak putus asa karena keinginannya yang sangat besar untuk memiliki Shiho dan Shiho yang terus menyemangatinya seperti seorang guru, memujinya jika dia melakukannya dengan benar dan mengomelinya jika dia melakukannya dengan salah. Akhirnya setelah beberapa malam, Shinichi pun mulai ada kemajuan. Shinichi begitu gembira karena pada suatu malam dia akhirnya bisa melihat Shiho menikmati apa yang dilakukannya dan tidak mengomelinya sama sekali. Shiho pun berkata padanya bahwa dia akan memberi Shinichi tiga hadiah karena kerja kerasnya dan untuk itu Shiho ingin meminjam kunci rumahnya. Shinichi dengan senang hati meminjamkan kunci rumahnya dan bertanya-tanya apa kira-kira hadiah yang akan diberikan Shiho padanya.

XXX

Malam itu, Shinichi mandi dengan senyum lebar di bibirnya. Dia baru saja makan malam dengan Ran dan dia merasa sangat bosan ketika makan malam tadi, makanya sekarang dia begitu senang karena dia sudah lepas dari Ran dan dia akan segera bertemu dengan Shiho-nya yang tersayang. Kemarin malam dia sudah berhasil membuat Shiho bersenang-senang dan Shiho juga menjanjikannya hadiah jadi dia tidak sabar untuk bertemu Shiho. Dia pun bertekad dalam hati untuk membujuk Shiho agar mengijinkannya putus dengan Ran dalam waktu dekat. Dia merasa dia benar-benar tidak mampu jika harus backstreet terus dengan Shiho karena dia ingin sekali bisa kencan dengan Shiho setiap dia mau, mengantar jemput Shiho setiap hari dan memeluk serta mencium Shiho setiap dia mau, tanpa peduli mereka akan ketahuan atau tidak.

Begitu keluar dari kamar mandi, Shinichi begitu terkejut mendapati Shiho sedang duduk di tempat tidurnya. Lalu dia sadar bahwa dia hanya memakai selembar handuk ketika keluar dari kamar mandi sehingga dia langsung menyambar pakaian yang sudah dia siapkan di atas meja yang ada di dekat pintu kamar mandi dan langsung masuk kembali ke kamar mandi dan membanting pintu kamar mandinya dengan keras saat menutupnya.

"Apa-apaan itu tadi? Apa yang dilakukannya di sini?" gumam Shinichi yang menyandarkan punggungnya di pintu kamar mandi yang baru dibantingnya. Jantungnya berdebar kencang dan wajah, atau bahkan mungkin seluruh tubuhnya mulai memanas. Tapi dia segera mengendalikan dirinya kembali dan memakai bajunya lalu keluar dari kamar mandi. Dia menghampiri Shiho yang duduk di atas tempat tidurnya dan rasa gugup mulai menghinggapinya.

"Err, Sayang, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Shinichi yang entah kenapa tidak berani duduk di tempat tidurnya sendiri jadi dia hanya berdiri di samping tempat tidurnya. Shiho tidak menjawab pertanyaannya tapi malah menariknya sehingga dia duduk di hadapan Shiho di atas tempat tidur lalu Shiho memeluknya dengan erat sehingga rona merah segera muncul di pipi Shinichi. Namun Shinichi juga merasa bingung kenapa Shiho tiba-tiba bertingkah seperti ini, bahkan sebenarnya dia pun menyadari bahwa belakangan ini Shiho agak lain dari biasanya. Namun dia tidak bisa melanjutkan kebingungannya setelah Shiho membuka mulutnya.

"Haah, kau ini. Padahal handuk yang tadi juga tidak masalah, tapi kau lebih memilih memberiku pekerjaan tambahan," ucap Shiho sehingga mata Shinichi terbelalak karena kaget.

Shiho pun melepaskan pelukannya dan mulai membuka kancing kemeja Shinichi sementara Shinichi membeku di tempat dan hanya menatap Shiho dengan tatapan tidak percaya. Namun itu tidak berlangsung lama karena Shinichi segera mendapatkan gairahnya sehingga dia mendorong Shiho ke tempat tidur dan mulai bermesraan dengan Shiho. Pada awalnya Shinichi berpikir bahwa Shiho ingin bercinta dengannya, namun ternyata dugaannya salah karena Shiho menahannya ketika dia akan membuka celananya.

"Kau belum lupa pada kesepakatan kita kan, Sayang?" tanya Shiho dengan nafas agak berat sehingga Shinichi mengerang kecewa. Tapi Shiho hanya tersenyum kepadanya lalu melanjutkan perkataannya. "Aku rasa kita harus berhenti sekarang, karena kalau dilanjutkan, sepertinya kau tidak akan bisa menahan diri."

Shinichi pun bertambah kecewa tapi dia mengangguk setuju karena Shiho memang benar. Dia memang benar-benar sudah tidak tahan. Apalagi baru kali ini dia bermesraan dengan Shiho di kamarnya sendiri sehingga dia menjadi lebih horny daripada biasanya.

Shinichi bangkit dari atas tubuh Shiho lalu berbaring di sebelah Shiho. Dia mengancingkan kemejanya kembali sementara Shiho merapikan T-shirt yang dipakainya. Setelah sistem pernafasannya kembali normal, dia menarik Shiho ke dalam dekapannya, merasa sangat senang dan puas meskipun harapannya untuk bercinta dengan Shiho tidak terwujud.

"Sayang, apakah ini salah satu hadiah yang kau janjikan?" tanya Shinichi dengan senyum di bibirnya sementara tangannya sibuk membelai rambut Shiho.

"Begitulah. Aku sudah bilang kan, aku akan mengirimmu kembali ke surga kalau kau belajar dengan baik," jawab Shiho dengan lembut.

"Aku mencintaimu, Shiho," ucap Shinichi masih sambil tersenyum.

"Aku tahu," sahut Shiho sehingga Shinichi mengerutkan keningnya pada Shiho. Dia benar-benar sudah tidak sabar mendengar Shiho mengganti kata-kata 'aku tahu' dengan kata-kata 'aku juga'.

Lalu Shiho mendongak dan mengecup bibir Shinichi singkat seperti saat pertama mereka bermesraan di kamar Shiho. Shinichi pun merasa senang tapi entah kenapa dia juga merasakan hal lain dari kecupan Shiho dan itu membuat perasaannya tidak enak walaupun dia tidak tahu apa hal lain yang dirasakannya itu.

Keesokan paginya, Shinichi menggapai-gapai dengan tangannya, mencari kehangatan yang menghilang dari dekapannya. Setelah beberapa lama menggapai-gapai, Shinichi pun mengerang dan membuka matanya karena dia tidak bisa menemukan apa yang dicarinya.

"Huh? Sayang, kau dimana?" tanya Shinichi sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tidurnya saat dia tidak menemukan Shiho di tempat tidurnya.

Tidak ada jawaban.

Shinichi pun bangkit untuk duduk dengan muram.

"Sepertinya dia sudah pergi," gumam Shinichi. Lalu dia menoleh ke meja di samping tempat tidur untuk melihat ponselnya dan dia melihat secarik memo di atas ponselnya. Dia pun mengambil memo itu dan membaca isinya.

"Kudo-kun, kalau kau ingin hadiahku yang kedua, pulanglah ke rumahmu sebelum jam makan malam," gumam Shinichi, membaca memo tersebut.

Wajah Shinichi langsung kembali cerah dan dia tersenyum senang.

"Aku jadi tidak sabar menunggu waktu makan malam," ucap Shinichi.

XXX

"Terima kasih ya karena kalian bersedia membantuku," ucap Shiho sambil tersenyum pada kedua temannya. Saat ini dia sedang berada di apartemen Sera bersama Sera dan Heiji karena dia memang meminta kedua temannya untuk berkumpul di apartemen Sera.

"Apa yang kau bicarakan? Kita kan teman. Tentu saja kami akan membantumu," ucap Sera.

"Ya, itu benar. Apalagi kau sudah membuatkan makan siang untuk kami," sahut Heiji yang sudah bersiap untuk memakan sepiring nasi kare ketiganya siang itu.

"Hoo, jadi maksudmu kau mau membantuku karena nasi kare?" tanya Shiho.

"Memang apa salahnya?" Heiji balik bertanya dengan polos.

"Tidak ada. Hanya saja Sera sepertinya harus mulai belajar membuat nasi kare," jawab Shiho sambil menatap Sera dengan tatapan penuh arti sementara Sera menatapnya dengan kesal.

Heiji menatap Shiho dengan bingung tapi kemudian dia mengangkat bahu.

"Aku tidak tahu dengan Sera. Tapi sebenarnya sudah lama aku ingin belajar membuat nasi kare padamu. Namun karena masalahmu dengan Kudo, aku jadi membatalkan niatku itu. Dan aku pun ingin mengajak Sera belajar bersama," ucap Heiji.

"Begitu ya? Baiklah, kalau begitu ayo kita lakukan setelah pernikahan Profesor Agasa dan Bibi Fusae selesai, bagaimana?" tanya Shiho.

"Oke," jawab Heiji.

"Sera?" tanya Shiho.

"Yah, sebenarnya aku tidak begitu suka memasak tapi karena kalian berdua memaksa, aku akan ikut," jawab Sera sehingga kedua temannya tersenyum lebar dengan alasan yang berbeda.

"Kalau begitu aku pulang dulu karena aku harus membuat persiapan," ucap Shiho sambil bangkit untuk berdiri. "Sampai jumpa nanti malam," ucapnya lalu dia melangkah ke pintu.

Heiji dan Sera langsung menghela nafas begitu Shiho keluar dari apartemen Sera.

"Akhirnya sekarang kita tahu kenapa dia bersikap aneh dan suka sekali melamun belakangan ini," ucap Sera.

"Apa itu artinya kau juga berpikir...," ucapan Heiji dipotong oleh Sera.

"Aku tidak mau memikirkan hal itu, Heiji-kun. Aku benar-benar tidak mau. Karena kalau itu benar, itu adalah salahku," ucap Sera.

"Tidak. Itu bukan hanya salahmu. Aku pun juga ikut bersalah dalam masalah ini," ucap Heiji.

"Untunglah, kakakku akan datang ke Jepang hari ini jadi kita bisa mengandalkannya karena Shiho mengkondisikan kita supaya tidak bersamanya setelah dia mengakhiri semuanya," ucap Sera sehingga Heiji menghela nafas.

Kemudian suasana menjadi hening.

"Kalau dugaan kita benar, itu berarti Shiho benar-benar wanita yang kuat dan entah kenapa itu membuatku merinding," ucap Heiji sehingga Sera tertawa kecil.

"Heiji-kun, kalau dia bukan wanita yang kuat, bagaimana mungkin dia sanggup berurusan denganku, denganmu, dengan kakakku dan dengan Kudo-kun sekaligus tanpa menjadi gila?" ucap Sera sehingga Heiji ikut tertawa.

"Kau benar," ucap Heiji.

"Kau tahu, dulu aku pernah berpikir bahwa Mouri-san itu sangat kuat karena dia mampu bertahan menunggu Kudo-kun yang tidak jelas keberadaannya walaupun hatinya sangat sedih padahal Kudo-kun selalu ada di sampingnya. Tapi kalau dugaan kita benar, aku tidak akan bisa menemukan wanita sekuat Shiho di dunia ini," ucap Sera.

Bersambung...