Disclaimer :

Detektif Conan milik Gosho Aoyama.

Catatan Penulis :

Waktunya balas komen!

Aiwha-san : Iya, bakalan ada Shuichi lagi dan Shiho/Ai adalah gadis paling tabah dan kuat yang pernah aku lihat. Meskipun hidupnya penuh tragedi dan sudah mencoba bunuh diri beberapa kali, dia masih bisa berdiri tegak dan masih waras sampai sekarang. XD

Airin-san : Huh? Emang biasanya Shinichi nggak normal? XD

Kongming-san : Hmm, berarti gampang-gampang susah ya, nulis yang kayak gitu. Kalau diceritain, bakal pindah rating, kalau disensor, pembaca jadi berfantasi yang macam-macam, jadinya harus pindah rating juga. Tapi tenang aja, setelah ini nggak ada yang begituan lagi kayaknya, paling cuma ciuman dan imajinasi Shinichi yang juga disensor. Jadi ntar ceritanya cuma Shinichi membayangkan sesuatu sehingga dia jadi begini. Tapi nggak tahu lagi kalau nanti yang satu itu juga membuat pembaca berimajinasi macam-macam. He he he. Kalau cinta Shinichi bertepuk sebelah tangan atau nggak, ada di chapter ini, dan taruhan Heiji dan Sera juga ada di chapter ini. Tapi karena tebakan mereka sama, mungkin nggak bisa disebut taruhan. XD

kudo kun ran : Nggak apa. Kalau HP-ku malah nggak bisa dipake buat buka ffn, jadi akhir-akhir ini berusaha narget ortu mbeliin HP yang enak buat internetan, dengan alasan sebagai hadiah kelulusan, walaupun sampai sekarang belum dibeliin juga. He he he. Kalau kesalahan Heiji dan Sera mungkin baru akan dijelaskan di chapter depan atau depannya lagi. XD. Btw, namamu di ffn apa?

Misyel : Mengenai tebak-tebakan tentang Shiho, jawabannya ada di chapter ini. Kalau Sera beneran adiknya Shuichi itu cuma teori yang sedang populer saat ini. Cuma Gosho yang tahu itu bener atau nggak. Dalam interview Gosho cuma bilang Sera dan Ai itu sama-sama wolves alias serigala, nggak tahu apa maksudnya.

Atin : Udah, nggak usah terlalu dipikirkan. Biarkan Shinichi dan Shiho mendapatkan privasi untuk melakukan apa yang mereka ingin lakukan. He he he. Kalau rencana Shiho, ada di chapter ini. XD

Witthechavalery : Nggak apa. Kalau yang itu, tidak perlu terlalu di-mudeng-kan. Shinichi dan Shiho kan juga butuh privasi. He he he.

Waktunya curcol!

Tentang omongannya Sera, di komiknya, Sera memang pernah ngomong kalau Ran itu gadis yang kuat karena nungguin Shinichi yang ternyata selalu ada di sampingnya dan banyak tokoh DC yang berpikiran sama. Waktu baca itu, penulis langsung mbatin "Coba kalau mereka tahu bahwa Ai juga suka sama Conan tapi Ai tetep berusaha keras bikin penawar yang pasti sulit dibuat itu untuk Conan agar Conan bisa kembali jadi Shinichi lagi dan kembali ke sisi Ran. Kalau mereka mikir yang kayak Ran itu kuat, lha yang kayak Ai itu namanya apa?". Makanya penulis agak heran kalau Ran itu dibilang kuat hatinya karena menurut penulis dia nggak seperti itu. Lha wong dia nangis terus begitu setiap kangen sama Shinichi. Bahkan Conan pun sepertinya juga beranggapan begitu dan dia malah menganggap Ai itu lemah karena dia pernah bilang sama Profesor Agasa kalau Ai itu memang selalu kelihatan kuat padahal Ai nggak sekuat itu (waktu itu Ai juga nguping) sehingga penulis kembali mbatin "Ni orang bener-bener buta ya kalau menyangkut masalah cewek". XD

Terus di chapter ini, ada adegan hujannya, soalnya di komiknya, katanya sih, kalau ada momen antara Conan atau Shinichi dengan Ran yang bikin Ai patah hati, biasanya ada adegan hujannya. Contohnya di Desperate Revival waktu Conan balik jadi Shinichi terus dia main drama jadi ksatria hitam dan Ran jadi putri, terus mereka pelukan, dan Ai melihatnya karena dia nyamar jadi Conan, saat itu hari sedang hujan. Jadi begitulah. XD

Selamat membaca dan berkomentar!


Jangan Bilang Tidak

By Enji86

Chapter 13 – Hadiah Terakhir

Shinichi masuk ke dalam rumahnya dengan merasa sangat bersemangat sambil mengira-ngira apa hadiah kedua Shiho untuknya. Dia melihat Shiho duduk di sofa sambil membaca majalah fashion saat dia masuk ke ruang tamu rumahnya. Dia segera menghampiri Shiho lalu duduk di sebelah Shiho dan mencium pipi Shiho. Shiho hanya tersenyum sekilas kepadanya lalu menyuruhnya mandi sebelum makan malam. Dia pun langsung menurutinya dan pergi ke kamarnya.

"Kami jadi seperti suami-istri," pikir Shinichi dengan senyum lebar di bibirnya saat dalam perjalanan ke kamarnya. "Kalau begitu malam ini aku harus lebih agresif. Aku akan terus terang dan berkata dengan tegas pada Shiho bahwa aku ingin putus dengan Ran dan menjadikannya kekasihku, atau bahkan tunanganku. Dengan begitu casanova jelek itu tidak akan mengganggu kami lagi jika dia datang ke Jepang," batin Shinichi saat dia masuk ke dalam kamar mandi.

Setelah Shinichi selesai mandi, dia memilih kemejanya yang paling bagus untuk dipakai karena Shiho memakai gaun selutut yang modelnya sederhana tapi kelihatan begitu cantik kalau Shiho yang mengenakannya. Setelah berpakaian, dia segera kembali ke ruang tamu dan Shiho kemudian mengajaknya ke ruang makan.

Mata Shinichi terbelalak karena terkejut sekaligus terpesona ketika melihat meja makannya yang biasanya sepi dan suram berubah menjadi meja makan yang romantis dengan lilin-lilin cantik sebagai penerangan.

"Inilah hadiah keduaku, candle light dinner untuk kita berdua," ucap Shiho sambil tersenyum puas pada hasil karyanya.

Shinichi menatap wajah Shiho dengan tatapan tidak percaya. Ingin rasanya dia mencium bibir Shiho saat itu juga karena dia begitu senang. Tapi karena dia sudah punya kesepakatan dengan Shiho, dia pun hanya memeluk Shiho dengan erat.

"Ini sungguh menakjubkan, Sayang. Aku benar-benar mencintaimu," ucap Shinichi.

"Ya, ya. Aku tahu. Ayo kita makan sebelum makanannya menjadi dingin," ucap Shiho sambil melepaskan diri dari pelukan Shinichi dengan tertawa kecil.

Shinichi pun mengerutkan keningnya pada Shiho tapi detik berikutnya dia kembali tersenyum. Dia menarik kursi untuk Shiho lalu dia menarik kursi untuk dirinya sendiri. Mereka pun mulai makan malam sambil mengobrol tentang berbagai hal seperti bola, politik, film dan kenangan mereka saat masih menjadi anak SD serta perjuangan mereka mengalahkan Organisasi Hitam.

Sementara itu, Heiji dan Sera sudah bersiap di rumah Profesor Agasa, menunggu pesan dari Shiho untuk melakukan tugas mereka.

"Makan malamnya sungguh nikmat, Sayang," ucap Shinichi setelah dia kenyang sehingga Shiho memutar bola matanya.

"Aku sudah tahu walau kau tidak bilang. Kau bahkan sampai habis tiga piring nasi," ucap Shiho.

"Memang apa salahnya kalau aku sampai habis tiga piring nasi? Bukannya itu berarti aku orang yang sehat?" tanya Shinichi sambil tersenyum.

"Yah, aku hanya khawatir kau akan seperti Profesor Agasa dan Kojima-kun," ucap Shiho.

"Kalau begitu kau harus mulai mengawasiku kalau kau memasak untukku setiap hari, karena kalau tidak, aku benar-benar akan seperti mereka," ucap Shinichi dengan senyum playboy di bibirnya sehingga Shiho menatapnya dengan geli.

"Wah, wah, Kudo-kun. Sepertinya kau akan menyaingi Rye kalau ada kontes rayuan gombal," ucap Shiho sambil nyengir sehingga Shinichi langsung cemberut.

"Sayang, kenapa kau harus menyebut-nyebut namanya di candle light dinner kita?" tanya Shinichi dengan kesal.

"Huh? Memang apa salahnya?" tanya Shiho dengan bingung. "Lagipula rayuanmu tadi benar-benar mengingatkanku padanya," lanjutnya.

"Terserah. Pokoknya aku tidak mau mendengar namanya saat kita sedang bersama," ucap Shinichi yang masih kesal.

"Padahal dia selalu bilang kalau aku tidak peka, tapi dia sendiri sepertinya lebih parah dariku untuk urusan tidak peka," gerutu Shinichi dalam hati.

"Ya sudah. Tidak usah cemberut begitu. Lagipula aku masih punya satu hadiah lagi untukmu," ucap Shiho sambil tersenyum kemudian dia bangkit dari tempat duduknya.

Shinichi dengan otak mesumnya segera berpikir tentang tempat tidur sehingga dia juga bangkit namun Shiho segera menyuruhnya duduk kembali.

"Kau tidak perlu ikut jadi kau tunggu di sini saja," ucap Shiho sehingga Shinichi duduk kembali dengan agak kecewa karena hadiah ketiga yang merupakan hadiah terakhir Shiho tidak sesuai dengan harapannya.

"Padahal kukira kami akan segera bersenang-senang," pikir Shinichi.

Beberapa saat kemudian Shiho kembali dengan segelas minuman. Dia berdiri di samping Shinichi dan meletakkan gelas itu di hadapan Shinichi.

"Jus stroberi?" tanya Shinichi sambil menaikkan alisnya setelah dia mencium aroma yang keluar dari minuman yang ada di dalam gelas di hadapannya itu.

"Ini adalah hadiahku yang ketiga. Aku membuatnya dengan sepenuh hati jadi aku harap kau meminumnya sampai habis," ucap Shiho sambil tersenyum.

Shinichi merasa ada yang aneh dengan senyuman Shiho dan ada yang aneh dengan minuman yang ada di depannya. Perasaannya benar-benar tidak enak terhadap minuman yang ada di depannya ini. Namun begitu dia mengingat tempat tidur dan betapa inginnya dia membawa Shiho ke sana saat ini juga, dia segera membuang rasa tidak enaknya itu dan meminum isi gelas itu sampai habis. Kemudian dia berdiri dan langsung merangkul Shiho.

"Sekarang, saatnya melakukan hal yang paling menyenangkan dalam kencan makan malam kita ini," ucap Shinichi sambil menyeringai. Namun belum sempat dia melangkah, tiba-tiba dia merasa pusing dan merasakan rasa kantuk yang hebat.

"Kudo-kun, kau baik-baik saja?" tanya Shiho dengan khawatir sambil menopang tubuh Shinichi yang mulai sempoyongan.

"Kepalaku pusing," jawab Shinichi.

"Kalau begitu, aku akan membawamu ke ruang tamu agar kau bisa istirahat di sofa," ucap Shiho.

Shiho dengan susah payah membawa Shinichi ke ruang tamu dan ketika dia berhasil membaringkan Shinichi di sofa, Shinichi langsung jatuh tertidur.

Shiho menghela nafas sambil menatap wajah Shinichi lalu dia mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya yang ada di atas meja ruang tamu dan mengirim pesan pada Sera. Tak lama kemudian Sera dan Heiji sudah berdiri di ruang tamu Shinichi.

"Sekarang aku percayakan Kudo-kun pada kalian. Aku pergi dulu," ucap Shiho tapi Sera segera meraih tangan Shiho untuk menahannya.

"Shiho, bagaimana kalau Heiji-kun saja yang menemani Kudo-kun? Aku ingin menemanimu karena kau pasti kesepian kalau sendirian di rumah," ucap Sera.

"Iya, Sera benar, Shiho. Biarkanlah dia menemanimu," bujuk Heiji.

Shiho pun tersenyum pada mereka berdua.

"Aku tahu kalian khawatir padaku. Tapi aku baik-baik saja. Lagipula Hattori-kun tidak akan bisa menangani ini sendiri jadi kalian berdua di sini saja dan aku juga ingin menghirup udara segar jadi aku akan berjalan-jalan sebentar," ucap Shiho sambil melepaskan tangannya dari genggaman Sera. "Aku pergi," ucapnya sambil berbalik lalu melambaikan tangan.

"Shiho," pikir Heiji dan Sera sambil menatap punggung Shiho yang menjauh lalu menghilang di balik pintu.

"Apa kakakmu sudah sampai?" tanya Heiji setelah Shiho pergi.

"Dia akan meneleponku kalau sudah sampai. Dan sampai sekarang dia belum meneleponku jadi dia pasti belum sampai," jawab Sera.

"Aku benar-benar khawatir pada Shiho," ucap Heiji dengan cemas.

"Aku juga," ucap Sera dengan kecemasan yang sama.

Heiji mengajak Sera untuk duduk di sofa yang ada di seberang sofa yang ditiduri Shinichi kemudian dia menatap Shinichi sambil berpikir. Selain khawatir pada Shiho, dia pun juga mengkhawatirkan reaksi Shinichi karena dia tidak bisa menebak reaksi Shinichi saat Shinichi bangun nanti. Karena itu dia setengah bersyukur ketika Shiho menolak tawaran Sera tadi. Shiho memang benar bahwa dia tidak akan bisa menghadapi Shinichi sendirian sehingga dia sadar bahwa selain karena ingin sendiri, Shiho juga memikirkan dirinya, makanya Shiho menempatkan Sera bersamanya untuk menghadapi Shinichi. Hal ini membuatnya semakin menyayangi Shiho dan kalau dia harus bergantung pada seseorang, dia akan bergantung kepada Shiho.

Beberapa saat kemudian hujan mulai turun sehingga kedua detektif itu bertambah cemas. Sera terus memandangi ponselnya, berharap kakaknya segera menelepon. Mereka langsung terlonjak kaget begitu ponsel Sera berbunyi dan Sera segera mengangkatnya.

"Halo, Nii-san, kau harus mencari Shiho... Aku tidak bisa menjelaskannya tapi Shiho sangat membutuhkanmu sekarang... Baiklah, segera hubungi aku kalau kau sudah bertemu dengan Shiho," ucap Sera di telepon lalu dia memutuskan hubungan telepon dengan kakaknya dan menghela nafas lega.

"Apa katanya?" tanya Heiji.

"Dia baru sampai di bandara dan dia akan segera mencari Shiho. Dia akan mengabari kita begitu dia menemukan Shiho," jawab Sera.

"Syukurlah," ucap Heiji dengan lega.

Tiba-tiba mereka menyadari bahwa Shinichi mulai terbangun sehingga mereka berdua segera menghampiri Shinichi.

Tak lama kemudian Shinichi membuka matanya dan memandang Heiji dan Sera dengan bingung.

"Hattori, Masumi-san, apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Shinichi dengan heran.

Heiji dan Sera hanya saling berpandangan, tidak tahu harus menjawab apa. Saat mereka mengalihkan pandangan mereka kembali ke Shinichi, mereka melihat Shinichi tidak lagi memandang mereka dan mata Shinichi membesar dan diselimuti kengerian. Dan tak lama kemudian terdengar teriakan histeris yang keluar dari mulut Shinichi.

XXX

Shiho duduk di bangku yang ada di tepi sungai yang membelah Kota Beika di tengah hujan. Entah sudah berapa lama dia duduk di situ. Yang jelas dia sudah duduk di sana sebelum hujan turun, menatap permukaan air sungai dengan pandangan kosong. Bajunya sudah benar-benar basah kuyup tapi sepertinya dia tidak menyadarinya. Bahkan dia pun kelihatannya tidak menyadari bahwa tubuhnya menggigil kedinginan. Dia hanya duduk di situ sambil menatap permukaan air sungai dengan pandangan kosong.

Tiba-tiba Shiho merasa ada seseorang berdiri di sampingnya. Dia merasa heran karena dia tidak mendengar suara langkah kaki mendekatinya sehingga dia segera menoleh sambil mendongak. Dia langsung bertemu pandang dengan Shuichi yang sama basah kuyupnya dengan dirinya. Mereka bertatapan selama beberapa saat dan entah kenapa air mata mulai mengalir dari matanya tanpa bisa dia bendung. Dan seperti menyadari air matanya, walaupun tersamarkan oleh hujan yang turun dengan deras, Shuichi langsung duduk di sebelahnya dan memeluknya.

Shiho pun tidak kuasa menahan diri lagi dan menangis terisak-isak di dada Shuichi.

"Padahal aku sudah melakukan hal yang benar. Tapi kenapa hatiku terasa sakit? Rasanya seperti ditusuk-tusuk pisau. Hatiku sakit sekali. Sakit sekali," isak Shiho sambil meremas baju Shuichi.

Shuichi tidak menyahut dan hanya membelai rambut Shiho.

Shiho pun terus terisak di dada Shuichi di tengah hujan sampai dia merasa lega.

XXX

Heiji dan Sera berlari-lari kecil menuju bangunan apartemen mereka di tengah gerimis dan udara malam yang dingin karena hujan deras yang turun tadi. Mereka berdua baru saja kembali dari rumah Shinichi. Begitu sampai di lobi apartemen, mereka bergegas menuju lift untuk menuju apartemen mereka yang hangat. Sesampainya di depan kamar mereka masing-masing, Heiji menawari Sera minum teh dan Sera dengan senang hati menerimanya karena dia juga ingin membicarakan kejadian malam ini dengan Heiji. Sera segera masuk ke apartemennya untuk ganti baju lalu pergi ke apartemen Heiji.

"Kudo-kun benar-benar keterlaluan. Dia dengan seenaknya hanya menyalahkan Shiho padahal dia juga sama bersalahnya. Dia bahkan mengusir kita padahal kita hanya mencoba membantunya agar dia merasa lebih baik," omel Sera saat dia dan Heiji sudah duduk di ruang tengah apartemen Heiji untuk menikmati teh.

"Yah, dia hanya sedang syok," ucap Heiji sehingga Sera langsung menatapnya dengan kesal.

"Heiji-kun, kenapa kau masih mencoba membelanya?" seru Sera dengan kesal.

"Bukan begitu. Kau lihat sendiri kan tadi dia berteriak-teriak histeris, mungkin karena teringat pada apa yang sudah dilakukannya selama hampir dua bulan belakangan dalam pengaruh obat. Dan itu membuatku bertanya-tanya, sudah sejauh apa hubungannya dengan Shiho," ucap Heiji.

"Jadi menurutmu mereka sudah melakukannya," ucap Sera.

"Yah, kalau melihat reaksi Kudo, kemungkinan besar begitu. Makanya Kudo sangat marah pada Shiho karena nantinya dia harus bertanggungjawab pada Shiho jika Shiho hamil padahal dia mencintai nee-chan dari kantor detektif," ucap Heiji.

"Itu masuk akal. Apalagi Shiho sendirian di rumah selama hampir tiga minggu karena Profesor Agasa pergi ke Amerika dan dia juga tidak mau kutemani. Mereka pasti berduaan setiap malam," ucap Sera lalu wajahnya memerah sebelum dia melanjutkan ucapannya. "Jangan-jangan mereka melakukannya setiap malam, OMG!"

Mendengar hal itu, wajah Heiji pun ikut memerah.

"Oh, mereka berdua benar-benar dewasa dan liar," erang Heiji.

Lalu mereka berdua saling bertatapan dan entah kenapa wajah mereka berdua jadi tambah memanas sehingga mereka berdua langsung mengalihkan pandangannya dari yang lain. Suasana di ruangan itu menjadi canggung sehingga mereka berdua berusaha mengendalikan diri dan mengusir imajinasi-imajinasi mesum tentang Shinichi dan Shiho dari kepala mereka.

Sera tiba-tiba tersentak sehingga Heiji kembali menatapnya.

"Jangan-jangan Shiho memang sudah hamil dan dia tahu itu, makanya dia bertingkah aneh belakangan ini," ucap Sera dengan ngeri.

"Kalau dipikir-pikir, itu kelihatannya juga masuk akal," ucap Heiji sambil berpikir kemudian dia pun juga tersentak. "Oh, jangan-jangan dia sudah menceritakannya pada kakakmu kalau dia hamil, makanya kakakmu tadi menyuruh kita langsung pulang dan tidak mengijinkan kita menemui Shiho sampai besok pagi di telepon," ucapnya.

"Iya, kau benar juga," ucap Sera.

"Pokoknya besok pagi, kita harus menginterogasi Shiho dan kalau memang benar dia hamil oleh Kudo, kita akan menuntut Kudo untuk bertanggungjawab," ucap Heiji.

"Ya, aku setuju," ucap Sera sambil mengangguk.

"Karena malam sudah larut, lebih baik kita tidur sekarang," ucap Heiji dan detik berikutnya wajahnya dan wajah Sera kembali memerah. "T-tentu saja maksudku kita tidur di apartemen kita masing-masing," lanjutnya dengan gugup.

"I-iya. Aku tahu kok," ucap Sera dengan gugup juga lalu dia bangkit untuk berdiri. "Selamat malam," ucapnya dan dia hampir seperti berlari ketika dia bergegas meninggalkan apartemen Heiji dan kembali ke apartemennya.

"Mereka berdua itu benar-benar keterlaluan. Mereka bahkan berhasil membuatku dan Sera menjadi canggung tanpa sebab hanya gara-gara membicarakan keliaran mereka," gerutu Heiji sambil membereskan cangkir tehnya dan Sera.

Setelah Heiji selesai mencuci piring, dia ke kamar mandi untuk menyikat gigi. Lalu setelah itu dia pergi ke kamarnya untuk tidur.

Bersambung...