Disclaimer :
Detektif Conan milik Gosho Aoyama.
Catatan Penulis :
Waktunya balas komen!
ohjack-san : Gpp. Emang harus nangis, biar lega. He he he.
Aiwha-san : Pengin tahu reaksi Shinichi. Lihat saja di chapter ini. *LOL*
moist fla : Yah, namanya juga syok. Sepertinya Sera udah mau nabokin tuh, tapi berhubung ada Heiji, ya nggak jadi kayaknya. He he he.
kudo kun ran : Bukan begitu. Aku cuma pengin tahu aja kok penname-mu apa. Kalau konflik besarnya bukan itu, tapi yang ada di chapter ini. XD
Kongming-san : Nggak tahu ya apa maksudnya serigala. Namanya juga penulis cerita misteri, ngasih wawancara pun harus penuh misteri. Emang kura-kura ninja nongkrong di pinggir sungai? Bukannya di dalam selokan? XD. Kalau tebakan Heiji dan Sera salah, konsekuensinya ada di chapter depan. Kemungkinan ada hubungannya dengan mata setan dan ide obat baru.
Grey-san : Jangan khawatir! Aku paling nggak hobi bikin fic yang berakhir dengan Ai atau Shiho yang sedih dan aku cukup konsisten dengan pairing yang kutentukan di awal cerita. XD
tina nha san : Wah, gawat kalau begitu. Bagaimana kalau ending-nya DC nanti ShihoxAkai? He he he.
Witthecha Valery : Yah, harap maklum. Dia lagi syok. XD
airin-san : Shinichi teriak-teriak karena syok. Itu reaksi yang normal kok. He he he.
Atin : Iya deh, bukan salah pembaca. He he he. Heiji sama Sera itu emang parah kok. Maklum, mereka itu sangat naif jadi mereka nggak sadar kalau mereka sendiri yang mesum. Hi hi hi.
Nachie-chan : Nggak papa. Kalau sel telur nggak ketemu sama sperma ya nggak bisa hamil. Jadi kesimpulannya Shiho... (dijawab sendiri yah! XD). Jangan terlalu dipikirkan adegan sensornya, tapi kalau ingin penjelasan, bisa dibaca di curcol penulis di chapter 12. Kalau tentang Shiho yang selalu menderita di DC, sebenarnya aku paling nggak terima kalau endingnya nanti Shiho mati atau tetep jadi Ai Haibara (dan yang paling buruk dipasangin sama Mitsuhiko, ugh). Kalau tentang pasangannya Shiho, aku pengin dia jadian sama salah satu dari bodyguard-nya, Shinichi boleh, Akai boleh, soalnya mereka berdua yang paling berhak dan mereka berdua sama-sama tahu siapa Shiho yang sebenarnya.
Misyel : Wah, berat tuh untuk menyadarkan orang seperti Shinichi atas kesalahannya. He he he. Soalnya di fic-fic yang aku baca, selalu Ai yang mengaku bersalah karena Shinichi menjadi Conan, terus Conan dengan sok cool-nya ngomong kalau itu bukan salah Ai. Aku belum pernah lihat yang Conan bilang "Aku juga salah kok. Seandainya aku nggak membuntuti Gin waktu itu, pasti aku nggak bakal jadi Conan. Kalau aku nggak gagal menyelamatkan kakakmu, pasti kau nggak perlu minum APTX4869 dan menjadi Ai Haibara". Atau yang lebih ekstrim, "kalau dari dulu polisi nggak bodoh, pasti kau dan kakakmu tidak perlu tumbuh menjadi anggota organisasi kriminal macam BO." Makanya, menyadarkan Shinichi akan kesalahannya hampir tidak mungkin. XD
Waktunya curcol!
Setelah menangis ria di chapter kemarin, Shiho pun sudah mengambil keputusan di chapter ini. Kira-kira apa ya keputusannya? Terus bakal ada Shinichi yang salah paham dan flashback Shiho saat hari kelulusan SMA-nya bersama Shuichi. Bisa dibilang, chapter ini sebagian besar berisi tentang Shuichi dan Shiho.
Selamat membaca dan berkomentar!
Jangan Bilang Tidak
By Enji86
Chapter 14 – Salah Paham
"Sherry, kita sudah sampai," ucap Shuichi untuk membangunkan Shiho yang tertidur di bahunya.
Shuichi menggendong Shiho di punggungnya dari tepi sungai sampai rumah Profesor Agasa karena Shiho tertidur setelah menangis selama hampir tiga jam.
Shiho pun mulai terbangun dan tak lama kemudian dia sudah turun dari punggung Shuichi. Shuichi memberikan tas Shiho yang dipegangnya agar Shiho bisa mengambil kunci rumah sementara dia mengambil tas ranselnya yang dia taruh di bagian halaman rumah Profesor Agasa yang remang-remang sebelum mencari Shiho.
"Rye, mandilah dulu. Nanti kau masuk angin. Kau basah kuyup," ucap Shiho dengan suara lelah sesampainya di dalam rumah.
"Kau ini! Justru kau yang harus mandi dulu," ucap Shuichi dengan agak kesal karena Shiho selalu saja mengkhawatirkan orang lain sebelum dirinya sendiri.
"Tidak. Aku baik-baik saja. Jadi kau bisa mandi duluan," ucap Shiho sehingga Shuichi menghela nafas lalu dia menatap Shiho dengan tajam.
"Sherry, kalau kau terus memaksaku mandi duluan, aku akan memaksamu mandi bersamaku," ucap Shuichi.
Shiho terdiam dan menatap Shuichi selama beberapa saat.
"Aku akan mandi duluan," gumam Shiho lalu dia melangkah ke kamar mandi.
Setelah Shuichi mendengar suara pintu kamar mandi yang ditutup, dia menutupi wajahnya dengan salah satu tangannya dan mulai tertawa.
"Kenapa dia bisa begitu lucu?" pikir Shuichi.
XXX
Shiho sedang berbaring di tempat tidurnya sambil melamun ketika tiba-tiba ada yang membuka pintu kamarnya. Dia pun menoleh dan melihat Shuichi menutup pintu kamarnya lalu menghampiri tempat tidurnya.
"Ada apa, Rye?" tanya Shiho.
Shuichi tidak menjawab dan menjatuhkan tubuhnya ke atas tubuh Shiho sehingga Shiho langsung berusaha mendorongnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Shiho dengan kesal saat dia berhasil mendorong Shuichi dari atas tubuhnya sehingga Shuichi berbaring di sebelahnya.
"Apa? Aku hanya tidak ingin kau masuk angin," jawab Shuichi lalu dia menarik Shiho ke dalam dekapannya.
"Aku baik-baik saja jadi tidak usah repot-repot," ucap Shiho sambil berusaha melepaskan diri.
"Sherry, aku pernah menjadi penguntitmu selama beberapa bulan. Aku tahu kau selalu kena masuk angin setelah kehujanan. Karena itu jangan membantahku. Aku akan menghangatkanmu agar kau tidak masuk angin," ucap Shuichi sehingga Shiho akhirnya berhenti meronta.
Setelah itu, mereka berdua berdiam diri dan Shiho pun mulai merasa nyaman dalam pelukan Shuichi. Rasa lelahnya karena menangis dan kehujanan tadi pun mulai berkurang. Dia pun mulai kembali menjadi dirinya yang biasanya.
"Sherry, apa kau sudah tidur?" tanya Shuichi, memecah keheningan di kamar itu.
"Belum, kenapa?" jawab Shiho sambil balik bertanya.
"Tidak ada yang penting. Aku hanya sedang bertanya-tanya apakah kau merasa horny sekarang," jawab Shuichi sambil menyeringai.
Shiho pun langsung mendongak untuk menatap Shuichi sambil menyipitkan matanya.
"Rye, apa kau ingin mati sekarang?" tanya Shiho dengan tajam sehingga Shuichi tertawa kecil.
"Tentu saja tidak. Aku hanya ingin mengambil keuntungan darimu. Kau tahu kan, biasanya di film-film, kalau seorang laki-laki dan wanita hujan-hujanan bersama, mereka akan menjadi sangat horny sehingga mereka akan bercinta tanpa pikir panjang, lalu si wanita akan hamil sehingga mereka terpaksa menikah," jawab Shuichi.
"Wah, sayang sekali kalau begitu, karena aku tidak sebodoh wanita di film-film itu dan aku tidak akan hamil dalam semalam," komentar Shiho sinis.
"Yah, kau memang tidak bodoh, tapi aku bisa menembak dengan jitu target yang berjarak 700 yards dariku, jadi kenapa kau pikir aku tidak bisa membuatmu hamil dalam semalam?" tanya Shuichi dengan nada seduktif sambil menyeringai.
Jantung Shiho seolah berhenti berdetak dan wajahnya langsung memanas begitu mendengar ucapan Shuichi barusan. Shuichi yang menyadari semburat merah di pipi Shiho langsung tertawa penuh kemenangan.
"Oh, akhirnya, dirty talk-ku ada yang berhasil juga. Sepertinya kau memang sedang horny sekarang, jadi apa kau mau bercinta denganku, Sherry?" tanya Shuichi sambil nyengir lebar.
"Dalam mimpimu," seru Shiho dengan kesal dan wajah masih memerah.
"Oh, ayolah, aku akan membuktikan padamu kalau aku bisa membuatmu hamil dalam semalam," ucap Shuichi masih dengan cengiran lebarnya.
"Dasar sakit jiwa," gerutu Shiho sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan Shuichi tapi Shuichi malah mempererat pelukannya sehingga Shiho kembali membenamkan wajahnya yang entah kenapa masih merona di dada Shuichi dengan kesal dan berusaha tidak mempedulikan Shuichi.
Melihat tingkah Shiho, Shuichi pun tidak bisa menahan tawa.
"Dia benar-benar lucu. Dia selalu bisa membuatku tertawa," pikir Shuichi.
Shuichi sangat menikmati bagaimana tubuh Shiho yang lembut dan hangat menekan tubuhnya. Dia juga sudah merasa puas Shiho berada dalam dekapannya, meskipun hanya malam ini.
XXX
Shinichi duduk di tempat tidurnya dengan wajah putus asa. Dia sudah mencoba untuk tidur tapi dia tidak bisa padahal dia sangat membutuhkannya setelah histerianya tadi.
"Bagaimana bisa aku melakukan semua itu hanya karena obat bodoh buatan wanita bodoh itu?" gumam Shinichi dengan marah.
"Aku bahkan langsung melupakan Ran gara-gara obat bodoh itu padahal aku sangat yakin kalau aku sangat mencintai Ran dan tidak akan ada yang bisa mengubah perasaanku itu," omel Shinichi pada dirinya sendiri.
"Wanita itu benar-benar setan," seru Shinichi.
"Apa benar kau berpikir begitu?" tanya suara lain di kepalanya.
"Tentu saja, memangnya menurutmu dia apa kalau bukan setan?" seru Shinichi dengan marah.
"Haah, kau ini, selalu tidak jujur dengan perasaanmu sendiri kalau menyangkut Shiho," ucap suara itu lagi.
"Apa kau bilang? Aku tidak jujur? Ini adalah perasaanku yang paling jujur. Aku benci padanya karena dia selalu mengacaukan hidupku," seru Shinichi.
Kalau ada yang menyaksikan adegan ini, mereka pasti mengira Shinichi sudah gila karena dia bicara sendiri. Untunglah, malam sudah sangat larut dan Shinichi hanya sendirian di kamarnya sehingga tidak ada saksi mata yang menyaksikan adegan ini.
"Oh ya? Tapi bukankah kau sedang merindukannya sekarang?" tanya suara itu lagi dengan sinis.
"Apa kau sudah gila? Bagaimana mungkin aku merindukannya?" seru Shinichi hampir berteriak.
"Yah, aku ada di dalam kepalamu, jadi aku bisa melihat dengan jelas kalau kau ingin mendekapnya di tempat tidur seperti malam-malam sebelumnya," ucap suara itu dengan nada bosan.
"Aargh! Hentikan! Pergi kau dari kepalaku!" teriak Shinichi dengan frustasi.
"Dasar payah," ucap suara itu.
"Apa kau bilang?" seru Shinichi dengan marah tapi kemudian dia tersentak.
"Apa yang kulakukan? Aku bertingkah seperti orang gila," erang Shinichi setelah dia sadar kalau dari tadi dia berbicara sendiri.
"Oh, ini buruk. Kalau seperti ini terus aku bisa gila. Aku harus menemui Shiho. Dia harus bertanggungjawab. Aku harus menumpahkan kemarahanku padanya. Mungkin dengan begitu aku akan merasa lega," pikir Shinichi, dan dengan itu, dia pun kembali ke kebiasaannya menyelinap ke kamar Shiho pada malam hari. Sayangnya, dia memilih waktu yang tidak tepat untuk berkunjung.
Baru kali ini Shinichi merasa begitu marah. Bahkan kemarahannya kali ini jauh lebih besar daripada kemarahannya pada Gin dulu. Kalau dulu dia begitu marah pada Gin karena perbuatan jahat Gin padanya dan orang lain sehingga dia ingin Gin membusuk di penjara untuk selama-lamanya, sekarang dia begitu marah pada kedua orang yang sedang terlelap di tempat tidur Shiho sehingga dia ingin mereka berdua membusuk di neraka untuk selama-lamanya, terutama laki-laki yang sedang mendekap Shiho itu. Dengan 10% akal sehatnya yang masih tersisa, dia berhasil menahan dirinya untuk tidak menendang kepala laki-laki yang sedang tertidur itu dan segera pergi dari kamar Shiho.
Sementara itu, sebagai agen FBI yang terlatih, Shuichi bisa merasakan kehadiran orang lain di kamar Shiho. Namun dia tidak ambil pusing karena dia merasa begitu nyaman tidur dengan Shiho dalam pelukannya. Lagipula kehadiran orang lain itu tidak begitu lama sehingga dia mulai berpikir kalau dia hanya membayangkannya saja dan kembali tertidur.
XXX
Keesokan paginya, Shiho bangun lebih dulu dan melihat Shuichi masih tidur sehingga dia tidak beranjak bangun dan malah memandangi wajah Shuichi.
"Dia kelihatan tampan kalau sedang tidur, padahal kalau sedang bangun, dia sangat menyebalkan. Aku jadi bertanya-tanya kenapa kakakku dan Jodie-sensei bisa tergila-gila pada orang ini. Apa mungkin mereka jatuh cinta padanya saat dia sedang tidur?" pikir Shiho. Lalu dia tersenyum sendiri. "Apa sih yang sedang kupikirkan? Padahal aku juga suka padanya," pikirnya lagi.
Lalu pikiran Shiho melayang ke kenangannya dua tahun lalu, saat hari kelulusan SMA-nya. Shuichi tiba-tiba meneleponnya dan berkata bahwa dia sudah menunggu di depan gerbang sekolahnya. Shiho pun bergegas menuju gerbang sekolahnya karena Shuichi yang bosan bisa sangat mengganggu. Sesampainya di gerbang sekolah, Shuichi tanpa basa-basi langsung menariknya untuk ikut bersamanya.
Shuichi mengajaknya ke Tropical Land untuk merayakan kelulusannya dan dia sangat menikmatinya. Dia masih ingat wajah nelangsa para pemilik wahana menembak karena Shuichi berhasil membidik semua targetnya. Lalu Shuichi memberikan semua boneka hasil jarahannya itu kepadanya sebagai hadiah kelulusannya sehingga dia langsung sweatdrop. Mereka bahkan sampai menyewa jasa pindahan untuk membawa pulang semua boneka itu. Shiho hanya mengambil tiga boneka yaitu boneka panda, bebek dan ikan hiu, lalu memberikan masing-masing satu untuk Detektif Cilik dan yang lainnya dia bawa ke panti asuhan untuk disumbangkan. Sampai sekarang ketiga boneka itu masih terpajang dengan baik di atas lemari bajunya bersama boneka sapi yang dimenangkan Shinichi saat mereka berdua pergi ke festival musim panas setahun yang lalu dan boneka monyet oleh-oleh Heiji dari Osaka saat Heiji pulang kampung di liburan semester yang lalu.
Memori Shiho terhadap hari itu pun terus berjalan sampai malam harinya. Setelah makan malam, tanpa disadarinya, Shuichi membawanya ke bagian Tropical Land yang lumayan sepi dengan penerangan yang remang-remang. Shuichi memojokkannya ke dinding lalu membelai rambut dan pipinya. Dia benar-benar deg-degan waktu itu dan wajahnya terasa sangat panas. Apalagi saat Shuichi semakin menekan tubuhnya ke dinding dan salah satu lengan Shuichi melingkar di pinggangnya. Dia bahkan tidak berani menatap mata Shuichi sehingga Shuichi kemudian mengangkat dagunya sehingga matanya bertemu pandang dengan mata Shuichi, dan dengan bodohnya dia tersentak karena terkejut melihat mata Shuichi yang biasanya sangat dingin itu terlihat begitu hangat. Shuichi pun langsung tersenyum geli sehingga Shiho langsung mengomeli dirinya sendiri dalam hati.
Setelah bertatapan selama beberapa saat, akhirnya momen yang paling mendebarkan itu tiba juga. Shuichi dengan perlahan-lahan mendekatkan bibirnya ke bibir Shiho dan tidak butuh waktu lama sampai bibir mereka bertemu dalam suatu ciuman. Pada beberapa detik pertama, dia sangat menikmatinya, namun entah bagaimana, tiba-tiba dia teringat pada kakaknya dan fakta bahwa laki-laki yang sedang berciuman dengannya ini adalah laki-laki yang dicintai oleh kakaknya. Perasaannya menjadi kacau dan dia mulai menangis. Shuichi yang merasakan rasa asin di mulutnya segera mengakhiri ciumannya dan menatapnya dengan khawatir. Dan sekarang dia sadar bahwa selain rasa khawatir dan rasa bersalah, ada rasa terluka di mata Shuichi. Setelah menatapnya sejenak, Shuichi pun memeluknya dan membisikkan kata maaf berkali-kali di telinganya sampai dia berhenti menangis dan tenang kembali. Dan setelah kejadian itu, mereka berdua tidak pernah menyinggung-nyinggung masalah itu lagi.
"Sepertinya aku memang benar-benar jahat padanya, terutama waktu itu. Dia pasti berpikir kalau aku belum bisa memaafkannya, padahal aku sudah memaafkannya dengan sepenuh hatiku. Tapi aku benar-benar tidak bisa mengendalikan perasaanku saat itu. Sepertinya aku ini memang hanya wanita biasa seperti yang lain, huh?" pikir Shiho kemudian dia tersenyum kecil. "Dan sekarang aku mencoba bersandiwara menjadi wanita luar biasa yang berhati seluas samudera. Betapa bodohnya diriku ini?" pikirnya sambil tetap memandangi wajah Shuichi.
"Apa kau sudah menemukan bagian mana yang kau suka?" tanya Shuichi tiba-tiba untuk mengagetkan Shiho sambil menyeringai dengan mata masih terpejam.
Shiho sedikit terkejut tapi dia dengan cepat mengendalikan dirinya dan tersenyum.
"Hmm, aku suka pipimu yang merona ketika kau sadar bahwa aku sedang memandangimu," jawab Shiho sehingga Shuichi langsung membuka matanya dengan ekspresi terkejut.
Shiho pun langsung tertawa.
"Aku kan hanya bercanda. Masa' kau tidak bisa merasakan pipimu sendiri?" ucap Shiho.
Shuichi langsung menatap Shiho dengan tajam tapi tak lama kemudian seringaian kembali ke wajahnya. Dia mengubah posisinya sehingga Shiho ada di bawahnya lalu dia mendekatkan wajahnya ke wajah Shiho.
"Kau tahu, kalau kau tidak bisa menemukannya, aku dengan senang hati akan membantumu menemukannya," ucap Shuichi dengan nada seduktif sehingga Shiho menampilkan senyum palsunya yang paling manis.
"Terima kasih, Rye. Tapi tidak usah repot-repot karena aku sudah menentukan pilihanku," ucap Shiho.
"Benarkah? Kalau begitu apa kau bersedia mengatakan pilihanmu itu kepadaku?" tanya Shuichi.
"Baiklah, coba kita lihat, hmm, bagaimana dengan bibirmu yang seksi itu?" jawab Shiho sambil nyengir dan cengirannya semakin lebar ketika dia melihat Shuichi membeku di tempat dengan mata membesar, menatapnya dengan ngeri sekaligus cemas.
Lalu Shuichi pun sadar dari rasa terkejutnya dan mulai memeriksa kening Shiho karena dia pikir Shiho benar-benar terkena demam karena kehujanan kemarin. Ketika dia menemukan bahwa Shiho tidak demam, dia mulai memeriksa kepala Shiho untuk mencari luka memar karena siapa tahu kepala Shiho terbentur sesuatu kemarin malam. Shiho memandang tingkah Shuichi dengan geli dan mencoba menghentikan Shuichi.
"Rye, hentikan, kau membuat rambutku berantakan," ucap Shiho sambil berusaha menghalau tangan Shuichi dari kepalanya namun Shuichi tidak menghiraukannya dan tetap mengobrak-abrik rambutnya.
Shiho pun merasa tidak sabar sehingga dengan gerakan secepat kilat, dia mendorong Shuichi dan mengubah posisi mereka sehingga dia berada di atas lalu dia mencium bibir Shuichi.
Lagi-lagi Shuichi membeku di tempat, kali ini dengan mulut agak menganga sehingga Shiho bisa dengan mudah memasuki mulut Shuichi dan mencicipinya. Tak lama kemudian, Shuichi pun mulai membalas ciuman Shiho sehingga Shiho tersenyum.
Setelah merasa cukup, Shiho mengakhiri ciumannya kemudian dia menatap wajah Shuichi yang kelihatan linglung sambil tersenyum.
Melihat Shiho memandanginya seperti itu, Shuichi pun merasa dia harus mengatakan sesuatu, tapi karena pikirannya masih berkabut, dia hanya bisa mengatakan apa yang benar-benar dirasakannya.
"Itu sangat... menakjubkan," ucap Shuichi masih dengan wajah linglungnya sehingga Shiho tertawa kecil.
"Yah, melihatmu seperti ini, aku rasa itu benar," ucap Shiho kemudian dia kembali tersenyum lembut pada Shuichi. "Maafkan aku, Rye. Maaf karena aku sudah mengacaukan ciuman pertama kita dua tahun yang lalu dengan air mata bodohku," lanjutnya.
"Kau tidak perlu minta maaf," ucap Shuichi.
"Tidak, aku harus minta maaf, karena setelah kejadian itu, kau pasti tidak percaya diri lagi untuk mencium seorang wanita karena kau pikir ciumanmu begitu buruk sehingga aku sampai menangis. Yah, setidaknya sekarang kau bisa lega karena akhirnya kau tahu bahwa ciumanmu tidak buruk," ucap Shiho sambil nyengir.
Shuichi pun tertawa kecil mendengarnya kemudian dia menyeringai.
"Tidak buruk, huh?" ucap Shuichi sambil mengubah posisi mereka sehingga dia kembali berada di atas. "Mari kita lihat apa kau masih bisa bilang kalau ciumanku tidak buruk," ucapnya, dan dengan itu, dia langsung mencium bibir Shiho tanpa ampun.
Setelah merasa cukup, Shuichi dan Shiho pun memutuskan untuk berhenti dan mereka berdua kembali berbaring di tempat tidur dengan bibir merah dan agak bengkak. Lalu Shuichi kembali menarik Shiho ke dalam pelukannya dan membenamkan wajahnya di rambut Shiho.
"Hei Rye, kalau aku menjadi milikmu, aku ingin menjadi milikmu sepenuhnya," ucap Shiho sehingga Shuichi mengangkat wajahnya dari rambut Shiho dengan perasaan agak kesal.
"Sherry, kenapa kau suka sekali merusak kesenanganku? Setidaknya berpura-puralah menjadi milikku sampai jam 10 pagi," ucap Shuichi dengan nada mengeluh sehingga Shiho tertawa kecil.
Shiho kemudian mendongak untuk menatap wajah Shuichi kemudian dia menggerakkan tangannya untuk memegang pipi Shuichi.
"Aku sangat menyayangimu, karena itu aku tidak ingin memberimu harapan palsu. Aku memang menyukaimu, Rye. Dan rasa sukaku ini bisa berubah menjadi pohon cinta kapan saja.
"Tapi tadi malam aku menyadari bahwa pohon cinta lain yang sudah kusingkirkan tiga tahun lalu kembali tumbuh di hatiku. Dan itu juga membuatku sadar bahwa aku sudah melakukan kesalahan. Tiga tahun lalu, aku menyingkirkan pohon cinta itu, tapi aku tidak menyingkirkan akarnya. Akar pohon cinta itu menghalangi pohon cinta untukmu tumbuh dengan baik. Dan ketika akar pohon cinta itu terkena air dan pupuk selama hampir dua bulan belakangan ini, pohon cinta itu pun kembali tumbuh.
"Karena itu, sekarang, aku ingin memastikan apakah aku harus mempertahankan pohon cinta yang keras kepala itu atau tidak. Jika sang pemilik pohon cinta itu ingin mempertahankannya, aku akan mempertahankannya, kalau tidak, aku akan membabat habis pohon cinta itu dan memastikan kalau pohon cinta itu tidak akan pernah tumbuh lagi, lalu aku akan menanam pohon cinta yang baru, pohon cinta yang sudah pasti untukmu. Dan aku sadar bahwa aku sangat egois dan kejam padamu ketika memutuskan ini. Oleh karena itu, kau boleh pergi dari sisiku dan menemukan wanita lain kapan saja kau mau meskipun aku sedang menanam pohon cinta untukmu," ucap Shiho.
"Yah, sejujurnya aku lebih suka berharap si pemilik pohon cinta itu tidak menginginkan pohon cinta darimu daripada mencari wanita lain jadi aku akan tetap berada di sisimu apapun yang akan terjadi nanti. Dan menurutku, kau sudah memutuskan dengan benar karena kau mulai mempertimbangkan faktor dirimu saat membuat keputusan tentang dirimu. Itulah yang paling kuinginkan darimu sejak dulu, pikirkanlah dirimu sebelum kau memikirkan orang lain," ucap Shuichi sehingga Shiho tersenyum lembut kepadanya.
"Terima kasih, Rye, karena kau selalu ada untukku dan mendukungku," ucap Shiho.
"Tidak perlu. Kau bisa menciumku lagi nanti sebagai tanda terima kasih," ucap Shuichi sambil nyengir sehingga Shiho memutar bola matanya.
"Aku lapar sekali. Apa kau tidak merasa lapar?" tanya Shiho.
"Aku juga lapar, walaupun kelaparanku terhadap ciumanmu lebih parah daripada kelaparanku terhadap makanan," jawab Shuichi sambil nyengir sehingga Shiho meninju bahu Shuichi dengan main-main.
"Kalau begitu aku akan membuat sarapan sekarang," ucap Shiho sambil melepaskan diri dari dekapan Shuichi dan bangkit dari tempat tidur.
"Dan aku akan membuat sup," ucap Shuichi yang ikut bangkit dari tempat tidur.
"Kau bisa membuat sup sekarang? Sup apa?" tanya Shiho tanpa bisa menyembunyikan kekagumannya.
"Macam-macam, tergantung bahan makanan apa yang ada dalam kulkasmu," jawab Shuichi dan mereka berdua berjalan ke dapur sambil membicarakan masakan.
Bersambung...
