Disclaimer :

Detektif Conan milik Gosho Aoyama.

Catatan Penulis :

Waktunya balas komen!

Airin-san : Itu karena Shiho memang cepat belajar dari suatu kejadian. Makanya aku suka sekali sama kepribadiannya. XD

Kongming-san : Kalau mata setan yang itu mah cuma simbol. Kalau mata setan yang ini bener-bener bisa bikin orang-orang yang tinggal di dunia DC merinding. He he he. Yah, maksud Shuichi kan, dia orangnya selalu 'tepat sasaran'. Wah, iya juga ya, mungkin Shuichi memang bikin sup**mi. Kalau di kulkas adanya sawi jadi sup**mi plus sawi, kalau wortel sup**mi plus wortel. Hmm, dia benar-benar penipu.

Misyel-san : Pisah, tapi cuma sebentar kok. Soalnya yang namanya perasaan itu, nggak bisa diingkari terus. XD

Atin-san : Lho kenapa? Shinichi kan juga pacaran sama Ran, jadi sah-sah aja dong kalau Shiho melirik laki-laki lain. He he he. Roger that buat FB-nya. *bisik-bisik* Emang ada masalah apa sih? Kalau tentang pohon cinta, yah, berharap saja Shinichi tidak menolak ketika Shiho menyatakan cinta. XD

Aiwha-san : Memang. Tapi setelah Shiho menyadari perasaannya pada Shinichi, dia akan sesantai itu pada Shinichi jika waktunya tiba. XD

Jessica-san : Wah, kalau HP-ku masih payah. Buka FFn aja susah. Kalau rating, tentu saja itu tergantung imajinasi pembaca. He he he.

moist fla : Ya, bolehlah, kalau Shuichi-nya mau. XD

Waktunya curcol!

Tidak banyak yang bisa dikatakan. Karena konflik utama yang direncanakan penulis sudah terjadi, maka cerita ini mungkin akan berakhir dalam dua chapter ke depan. Kalau menurut pembaca, siapakah yang akan menyatakan cinta duluan? Shinichi atau Shiho?

Selamat membaca dan berkomentar!


Jangan Bilang Tidak

By Enji86

Chapter 15 – Semakin Salah Paham

"Rye, siapa tamu...," belum selesai Shiho bicara, ucapannya sudah dipotong oleh dua suara lain.

"Shiho, mengakulah sekarang juga! Apa kau hamil?" seru Heiji dan Sera bersamaan.

Shiho yang baru saja akan meletakkan piring berisi telur goreng ke meja langsung menatap Heiji dan Sera dengan terkejut dan bingung sambil masih memegang piring berisi telur goreng itu. Lalu Shiho mengalihkan pandangannya ke Shuichi sambil menyipitkan matanya tapi Shuichi hanya mengangkat bahu, tanda bahwa dia tidak tahu apa-apa, sehingga Shiho kembali menatap Heiji dan Sera dengan tatapan penuh tanda tanya.

XXX

"Darimana kalian berdua mendapat ide konyol seperti itu? Otak kalian benar-benar kotor," ucap Shiho setelah Heiji dan Sera menceritakan deduksi ngawur mereka tadi malam sambil sarapan.

"Hei, kami tidak seperti itu," seru Heiji.

"Iya benar," sahut Sera. "Lagipula reaksi Kudo-kun benar-benar mengerikan. Dia juga bilang dia benci padamu dan dia langsung marah pada kami begitu kami membelamu. Selain itu, kau kemarin dulu juga menolak tawaranku untuk menemanimu di rumah padahal kau hanya sendirian di rumah, jadi tentu saja aku langsung berpikir ke situ," lanjutnya.

Shiho sudah akan menyahut tapi Shuichi sudah membuka mulutnya duluan.

"Hoo, begitu ya? Dia payah sekali. Dia bahkan tidak bisa membuatmu hamil dalam tiga minggu," komentar Shuichi sambil menyeringai sehingga Shiho langsung memandangnya dengan tajam sementara Heiji dan Sera sweatdrop.

"Tutup mulutmu," ucap Shiho tajam kemudian dia mengalihkan pandangannya kembali ke Heiji dan Sera. "Guys, aku kan sudah bilang kalau aku tidak pernah melakukan apapun dengan Kudo-kun. Kami hanya tidur bersama, tidak ada yang terjadi. Kenapa kalian tidak bisa percaya padaku?" ucapnya.

"Iya, iya, maaf," ucap Heiji.

"Kalau begitu kenapa Kudo-kun begitu marah kemarin malam? Dan kenapa kau tidak seperti biasanya akhir-akhir ini?" tanya Sera.

"Kalau tentang Kudo-kun, mungkin dia sangat mencintai Ran-san, makanya dia begitu marah karena aku sudah membuatnya mengkhianati Ran-san. Kalau tentang aku, itu karena aku sedang bingung dengan perasaanku dan akhirnya kemarin malam aku menyadari perasaanku sehingga aku patah hati karena aku harus mengembalikan Kudo-kun ke pemiliknya," jawab Shiho.

Heiji dan Sera langsung merasa tidak enak mendengar ucapan Shiho.

"Shiho, ini semua salahku. Kalau saja aku tidak memberimu saran ngawur waktu itu...," ucap Sera dengan nada menggantung.

"Aku juga bersalah. Aku terlalu kasihan pada Kudo sehingga aku tidak menyadari akibatnya, tolong maafkan aku," ucap Heiji dengan nada bersalah.

Shiho pun tersenyum melihat mereka sementara Shuichi hanya geleng-geleng kepala.

"Apa yang kalian bicarakan? Aku tidak pernah menyalahkan kalian. Lagipula sekarang aku sudah baik-baik saja," ucap Shiho.

Heiji dan Sera hanya tersenyum kecil dengan terpaksa sehingga Shiho mulai berpikir untuk menciptakan obat yang bisa membuat kedua sahabatnya ini percaya pada kata-katanya.

"Oh ya, hari ini aku ingin sekali pergi main karena ini hari pertama liburan semester dan besok sepertinya kita akan mulai sibuk dengan persiapan pernikahan. Apa kalian mau pergi bersamaku?" tanya Shiho.

"Tentu saja. Kau mau ke mana?" sambar Sera sambil balik bertanya.

"Bagaimana kalau kita main ke Tokyo Bay Sea World? Hari ini sepertinya akan cerah," jawab Shiho.

"Oke," sahut ketiga orang yang lain.

Sesudah membuat bekal untuk piknik, mereka berempat pun berangkat menggunakan mobil Shiho tanpa menyadari bahwa tetangga sebelah rumah Shiho sedang terbaring di tempat tidurnya seperti mayat hidup karena patah hati, meskipun dia tidak akan mau mengakuinya.

XXX

Malamnya, Heiji, Sera dan Shuichi pun menginap di rumah Profesor Agasa untuk menemani Shiho. Sera pun tidur bersama Shiho dan sebelum tidur mereka mengobrol sambil berbaring di tempat tidur. Shiho pun menceritakan pembicaraannya dengan Shuichi pada Sera dan dia juga menceritakan keinginannya untuk menyatakan cinta pada Shinichi.

"Apa kau memang harus melakukannya?" tanya Sera.

"Ya, aku harus melakukannya," jawab Shiho.

"Tapi kalau dia menerima cintamu, berarti kau akan bersamanya kan? Haah, aku kesal sekali padamu sekarang. Kenapa kau tidak bisa mencintai kakakku?" ucap Sera dengan nada mengeluh.

"Yah, tapi aku tidak berharap banyak kok. Aku tahu dengan baik bahwa dia sangat mencintai Ran-san dan perjuangan mereka untuk kembali bersama," ucap Shiho.

"Maksudmu perjuanganmu agar mereka bisa kembali bersama kan?" tanya Sera dengan sinis. "Shiho, kau harus berhenti mengklaim hasil pekerjaanmu sebagai hasil pekerjaan orang lain. Kau yang membantu Kudo-kun menghancurkan Organisasi Hitam, kau yang membuat penawar agar Kudo-kun bisa kembali ke wujudnya semula dan kau juga yang berusaha keras mendamaikan mereka ketika Mouri-san marah pada Kudo-kun yang sudah membohonginya. Kalau mereka bisa bersama, itu semua karenamu, bukan karena kekuatan cinta mereka atau hal-hal bodoh semacam itu," lanjutnya dengan agak kesal.

Shiho pun tertawa kecil.

"Mana ada orang yang mengklaim hasil pekerjaannya sendiri sebagai hasil pekerjaan orang lain. Adanya orang yang mengklaim hasil pekerjaan orang lain sebagai hasil pekerjaannya sendiri. Kau ini aneh-aneh saja," ucap Shiho.

"Yang aneh itu bukan aku tapi kau, tahu!" ucap Sera sambil mencubit pipi Shiho dengan gemas.

"Aduh, sakit tahu!" ucap Shiho sambil mengelus pipinya.

"Makanya berhentilah jadi wanita aneh," ucap Sera.

"Baiklah, aku akan berhenti jadi wanita aneh, asal kau juga berhenti menjadi wanita dada rata, bagaimana?" ucap Shiho sambil nyengir.

"Shiho, kau ini!" ucap Sera dengan kesal dan berniat mencubit pipi Shiho lagi tapi Shiho segera melindungi pipinya dengan tangannya.

"Maaf, maaf, aku kan cuma bercanda. Kita damai, oke?" ucap Shiho.

"Huft, baiklah," ucap Sera masih dengan kesal. "Lalu bagaimana caranya kau akan menyatakan cinta pada Kudo-kun?" tanyanya.

"Entahlah, tapi aku yakin kesempatan itu akan datang dan saat itu aku akan menemukan cara yang tepat untuk menyatakan perasaanku. Sekarang yang paling penting adalah aku harus minta maaf padanya," jawab Shiho.

"Menurutku kau tidak perlu minta maaf. Dia sendiri yang meminum obat buatanmu dengan seenaknya dan dialah yang terus mendekatimu, meskipun dalam pengaruh obat," ucap Sera.

"Yah, meskipun begitu, aku juga bersalah karena aku yang membuat obat itu dan aku menerima pendekatannya," ucap Shiho.

"Tetap saja kau tidak bersalah sama sekali, kalau menurutku. Tapi terserah kau saja. Yang jelas aku akan selalu ada di pihakmu," ucap Sera.

"Terima kasih, Sera. Kau adalah sahabat terbaikku," ucap Shiho sambil tersenyum.

"Tidak perlu. Kau pun juga sahabat terbaikku, walaupun kadang-kadang kau sangat menyebalkan," ucap Sera dengan angkuh.

"Hei, aku tidak seperti itu. Sebagai sahabat, aku ini sangat manis," ucap Shiho sambil nyengir.

"Apa kau bilang? Manis apanya?" tanya Sera sambil pura-pura mencibir.

Lalu mereka berdua pun terus bercanda sampai mereka tertidur.

XXX

Keesokan paginya, Heiji dan Sera kembali ke apartemen mereka untuk mengambil baju bersama Shuichi yang harus menjadi sopir. Selama persiapan pernikahan, mereka akan tinggal di rumah Profesor Agasa. Mereka semua termasuk Shinichi dan Ran adalah panitia pernikahan Profesor Agasa dan Fusae dengan Shiho sebagai ketua panitianya karena Profesor Agasa tidak punya keluarga lain, sementara keluarga Fusae akan menjadi panitia pesta di Amerika. Mereka memang baru bisa bertugas setelah mereka memasuki liburan semester yaitu seminggu sebelum hari H sehingga pemesanan semua keperluan pernikahan sudah dilakukan oleh Profesor Agasa dan Fusae. Mereka nanti hanya bertugas untuk mengecek semua keperluan yang sudah dipesan lalu mengatur acara pada hari H.

Setelah mereka semua pergi, Shiho menyibukkan dirinya di dapur selama beberapa lama lalu dia pergi keluar menuju rumah Shinichi di sebelah sambil membawa kotak makanan. Setelah menekan bel, Shiho harus menunggu agak lama sampai Shinichi membukakan pintu. Dia langsung merasa khawatir begitu melihat Shinichi yang kelihatan kacau. Dia melihat Shinichi menatapnya dengan terkejut tapi kemudian menatapnya dengan tatapan membunuh.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Shinichi dengan nada sedingin es.

"Aku hanya ingin minta maaf. Maaf karena aku sudah...," ucapan Shiho langsung dipotong oleh Shinichi.

"Tidak perlu minta maaf. Aku benci padamu," ucap Shinichi tajam.

"Aku tahu, tapi...," ucapan Shiho lagi-lagi dipotong oleh Shinichi.

"Jangan bilang kau tahu. Kau tidak tahu apa-apa. Jadi pergilah dari sini sekarang juga dan menjauhlah dariku," seru Shinichi dengan marah. Entah kenapa kata-kata 'aku tahu'-nya Shiho membuatnya sangat emosi.

Melihat Shinichi yang kelihatannya begitu marah, Shiho pun memutuskan untuk mundur kali ini.

"Baiklah, aku akan pergi. Tapi terimalah ini," ucap Shiho sambil menyodorkan kotak makanan ke arah Shinichi.

Shinichi menatap kotak makanan itu kemudian dia mengayunkan tangannya untuk menyingkirkan kotak makanan itu dari hadapannya sehingga kotak makanan itu jatuh ke tanah. Shiho menatap sebagian isi kotak makanan yang berserakan di tanah dalam diam.

"Aku tidak memerlukan apapun darimu. Pergilah dari sini," ucap Shinichi dengan angkuh sambil membuang muka. Dia sebenarnya merasa kalau dia sudah berlebihan tapi karena kemarahannya lebih menguasainya saat ini, dia pun menekan perasaan itu.

Tiba-tiba Shinichi merasa bulu kuduknya meremang sehingga dia pun menoleh ke sumber arus kengerian yang menerpanya, yaitu Shiho. Dia melihat Shiho menatapnya dengan tatapan membunuh sehingga dia menjadi gugup.

"Kudo-kun, aku tahu kau marah padaku tapi apakah kau harus melakukan ini?" tanya Shiho dengan dingin sehingga Shinichi hampir saja kehilangan kontrol atas dirinya dan bersujud pada Shiho agar nyawanya diampuni.

Tanpa menunggu jawaban Shinichi, Shiho memunguti isi kotak makanan itu, yaitu udang goreng tepung kesukaan Shinichi, yang berserakan di tanah sambil membersihkannya seperlunya dan memasukkannya kembali ke dalam kotaknya. Setelah selesai, Shiho berdiri kembali dan menyodorkan kotak itu kembali ke Shinichi.

"Ini, cepat makan atau kau akan menyesal," perintah Shiho dengan nada penuh ancaman.

Shinichi menelan ludah dan mengerang pelan, kemudian mengambil kotak makanan itu dari tangan Shiho dengan tangan agak gemetar dan mulai makan. Tak lama kemudian kotak makanan itu pun menjadi kosong.

"Baiklah, aku akan pergi sekarang," ucap Shiho sambil mengambil kotak makanan yang sudah kosong dari tangan Shinichi. "Oh ya, jangan lupa kalau kau juga panitia pernikahan Profesor dan Bibi Fusae. Jadi kalau aku mengundangmu untuk rapat, kau harus datang, kau mengerti?" lanjutnya dengan galak. Kemudian dia berbalik dan melangkah pergi.

Shinichi hanya terdiam di tempat sambil menatap Shiho yang melangkah pergi.

"Apa-apaan itu tadi? Bukankah seharusnya aku yang marah? Tapi kenapa aku yang harus dihukum dengan udang goreng tepung plus tanah dan aku sama sekali tidak bisa membantahnya?" erang Shinichi dalam hati setelah Shiho menghilang dari pandangannya. "Tapi udang goreng tepungnya tetap enak seperti biasanya sih," pikirnya. Bibirnya hampir membentuk senyuman tapi kemudian dia sadar dan mengerutkan keningnya. "Ugh, apa sih yang kupikirkan. Aku kan sedang marah. Aku benar-benar bodoh."

XXX

Keesokan harinya, Profesor Agasa dan Fusae kembali dari Amerika. Para panitia pun sudah mulai sibuk dari hari kemarin. Mereka membagi tugas untuk mengecek ke berbagai macam toko tentang kesiapan barang yang sudah mereka pesan untuk pernikahan dan malam harinya biasanya dihabiskan untuk rapat, membicarakan persiapan dan jadwal acara serta deskripsinya pada hari H.

Selama kesibukan panitia itu, Shinichi selalu ingin kelihatan mesra dengan Ran. Dia juga tidak habis pikir kenapa dia ingin sekali menunjukkan pada Shiho kemesraannya dengan Ran. Tapi itulah yang diinginkannya jadi dia pun melakukannya. Dan dia pun juga tidak mengerti kenapa dia menjadi begitu kesal karena Shiho tidak memperhatikannya sama sekali dan selalu sibuk bicara dengan Shuichi, Heiji atau Sera setiap kali dia mencoba memperlihatkan kemesraannya dengan Ran. Dia terutama merasa sangat kesal ketika dia melihat Shiho bicara dengan Shuichi atau duduk terlalu dekat dengan Shuichi.

Pikiran Shiho memang sudah dipenuhi dengan urusan pernikahan Profesor Agasa dan Fusae, makanya dia tidak punya ruang untuk memikirkan hal-hal yang lain. Selain itu, Shinichi juga tidak tahu bahwa Shiho menyukainya dan bahwa Shuichi, Heiji dan Sera mengetahui hal itu. Makanya dia tidak curiga, padahal mereka bertiga memang sengaja mengalihkan perhatian Shiho setiap kali dia mencoba kelihatan mesra dengan Ran.

Shuichi yang dari dulu selalu curiga bahwa Shinichi juga tertarik pada Shiho langsung bisa melihat bahwa Shinichi sedang mencoba untuk membuat Shiho cemburu, sama seperti sikap laki-laki angkuh pada umumnya terhadap wanita yang mereka sukai tapi belum menunjukkan tanda-tanda suka pada mereka. Dia pun sudah menyiapkan rencana 'jahat' untuk 'menyiksa' Shinichi yang sudah merebut 'calon istrinya' dan sekarang sedang mencoba membuat 'mantan calon istrinya' itu terluka dengan tindakan bodoh.

XXX

Saat Yusaku dan Yukiko tiba di Jepang, Shiho langsung menemui mereka dan menceritakan bahwa dia sudah berhasil membuat penawarnya dan bahwa Shinichi sangat marah padanya setelah Shinichi kembali seperti semula sehingga mereka masih dalam kondisi bermusuhan sampai sekarang.

Yusaku dan Yukiko pun heran mendengar hal ini, karena sama seperti Shuichi, mereka juga berpikir bahwa Shinichi mempunyai perasaan yang tersembunyi untuk Shiho. Dan saking tersembunyinya, si empunya perasaan tidak menyadarinya. Namun mereka tidak mengatakan apapun pada Shiho dan hanya berjanji pada Shiho bahwa mereka akan 'menyadarkan' anak mereka yang bodoh itu. Shiho pun berterima kasih pada mereka lalu kembali pada kesibukannya menyiapkan pernikahan di rumah Profesor Agasa.

"Sayang, apa selama ini kita salah duga ya? Mungkinkah kita hanya membayangkan hal itu, padahal sebenarnya hal itu tidak ada?" tanya Yukiko dengan ragu.

"Jadi kau meragukan penilaian kita terhadap anak kita sendiri?" Yusaku balik bertanya.

"Bukan begitu. Aku selalu mengira bahwa setelah kejadian itu hubungan mereka berdua akan jadi canggung dan Shin-chan perlahan-lahan akan menyadari sesuatu. Tapi yang terjadi malah Shin-chan marah pada Shiho-chan dan mereka bermusuhan sampai sekarang," jawab Yukiko.

"Kalau begitu pasti ada alasan kenapa dia marah pada Shiho," ucap Yusaku.

"Alasan apa? Alasan yang paling masuk akal menurutku adalah Shin-chan marah karena dia sangat mencintai Ran-chan dan Shiho-chan sudah membuatnya mengkhianati Ran-chan," ucap Yukiko.

"Mungkin memang begitu. Tapi aku yakin ada alasan masuk akal lain yang membuatnya seperti itu," ucap Yusaku.

Yukiko hanya menanggapi perkataan suaminya dengan helaan nafas.

Bersambung...